Halaman Arsip 2

08
Sep
09

Kereta Yang Tak Pernah Kembali

Sebuah Kereta Yang Tak Pernah Kembali…
Dan itu memang tidak akan pernah kembali…
Tapi kenapa, malam ini Aku ingin membelai rambutmu
Menyentuh hatimu

Apakah obrolan akan mengembalikan kita ke masa-masa dimana langit tampak Seperti atap warna-warni..
dimana aku menghitung daun-daun akasia yang menguning, jatuh, menghujani kita,
dan kau menemaniku hingga senjakala menggurat di ufuk barat..

Aku rindu kamu

A Train That Never Back …
And it’s not going to ever go back …
But why, tonight I want to stroke your hair
Touching hearts

Is the chat will return us to the days where the sky looks like a colorful roof ..
where I counted the leaves yellow acacia, fell, showering us,
and you stayed with me until the twilight of scratch on the western horizon ..

I miss you

07
Sep
09

kau tentu tahu bedanya

kau tentu tahu bedanya
Pesawahan bukan ladang golf
Pematang bukan rel kereta api
Lapangan bola bukan terminal
Beranda rumah bukan halaman mall
Gemercik air bukan air mancur di tengah kota
Kentongan bambu bukan radio atau televisi

Namun kau masih juga menganggapnya sama
Padahal kita tak bisa berlari di atas rel kereta api
Seperti kita berlari di atas pematang sambil menyentuh ujung-ujung daun padi

Itulah bedanya…

03
Sep
09

Cerpen: Pengemis

Di kampungku ada seorang lelaki. Perawakan kecil, kurus, dan selalu melankolis. Kepalanya seolah lebih besar ukurannya daripada tubuhnya. Tangannya, tepatnya pergelangan tangannya tampak menonjol karena tulang. Wajahnya kereng, hitam, dan nampak lebih tua dari usia sebenarnya. Orang-orang akan mengangkat bahu ketika melihat lelaki ini. Selain jijik, juga merasa gusar akan kehadirannya.

Short stories: Beggars

In my village there was a man. Small stature, thin, and always melancholy. His head seemed larger in size than the body. Hands, wrists exactly stand out because of bone. His face was stern, black, and appears older than actual age. The people have shrugged when he saw this man. In addition to contempt, also was upset his presence.


Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Pengemis’

02
Sep
09

Cerpen: Di Perbatasan

I

Seketika tubuh kokohku terkulai. Lemas, letih, payah, berbaur menjadi padu menerjang sindi-sendi, melumpuhkannya. Aku seperti batang kayu keropos, tersandar di antara dedaunan pekat dan lebat. Seperti pohon gersang, meranggas , berkelejatan. Tulang-tulangku seakan remuk tertubruk batu karang, pecah berantakan, luruh. Dagingku tercabik, nyeri. Tertusuk ngilu. Kulitku tersayat sembilu bambu, getir, pedih. Nafasku bergemuruh seperti seokor kuda binal, sedang berlari. Lalu sesak, pengap, tercekik sebuah tangan kasar. Aku ingin melengking seperti ranting, terpelanting, terbanting ke atas hamparan gurun pasir. Detak jantungku tak beraturan, kencang, lambat, kencang lagi, kemudian semakin lambat, mendekati untuk berhenti. Pandanganku kabur, warna-warni duniawi tampak kurang jelas, samar, putih menghilang berganti gelap. Pekatnya hitam begitu kuat meradang,menghadang.

Mungkinkah Aku berada di gerbang kematian? Di perbatasan antara hidup dan mati? Di sakaratul maut yang sering diberitakan oleh para nabi dan para ustadz? Bathinku terus bertanya… ya, bisa jadi! Aku merasakan kehadiran maut. Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Di Perbatasan’

01
Sep
09

Cerpen: Jalan Yang Membelah

Cerpen Ini Pernah Dimuat Oleh Salah Satu Majalah..Tahun 2006

Jalan besar. Bernama ‘ Jalur Lingkar Selatan’ membelah  kampung Gampor menjadi dua bagian, Gampor Utara dan Gampor Selatan. Usianya baru tiga bulan. Jalan dengan aspal hotmik , citarasanya modern, hitam mengkilap. Sepanjang pinggir jalan berdiri kokoh menembus angkasa tiang-tiang lampu, di malam hari cahayanya semburat kuning menembus pekat malam yang merayap bak tirai hitam dan luas. Trotoar selalu dipadati oleh orang-orang di sore hari jika cuaca cerah, tidak hujan.

Ada jembatan panjang di atas sungai yang melewati ‘ Jalur Lingkar Selatan’. Airnya selalu keruh coklat, aromanya khas; sampah-sampah, kotoran manusia, sesekali lewat bangkai binatang , plastik terapung, disempurnakan dengan bulu-bulu ayam berasal dari rumah potong ayam yang terletak di sebelah utara sungai itu. Di sore hari coklatnya air berbaur dengan warna hijau berasal dari peternakan sapi dan babi. Kototran binatang. Tak terdengar beriaknya karena irama air selalu terkalahkan oleh deru mesin-mesin kendaraan bermotor yang selalu memburu, entah apa!

‘ Jalur Lingkar Selatan’ dibuat bukan tanpa alasan. Sederhana sekali, jalan besar itu akan menghubungkan pusat kota Kampung Gampor dengan ibu kota provinsi, Bandung.

Sejak ‘ Jalur Lingkar Selatan’ ada, aktivitas orang-orang Kampung Gampor menjadi lebih hidup. Di pinggir jalan berdiri beberapa warung –warung kecil, selalu ramai di malam minggu oleh para pendatang yang tidak dikenal oleh mereka. Para pedagang asongan terdiri dari para remaja dan anak-anak bermunculan bagai jamur di musim hujan.  Kampung Gampor selama tiga bulan itu sudah tidak pas disebut lagi sebagai sebuah kampung, ia telah menjelma menjadi semi-kota, rural-urban.
Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Jalan Yang Membelah’

01
Sep
09

puisi : kangen

Aku kangen,
Seperti tungku yang merindukan kayu
Atau dedaunan yang merindukan embun

Aku kangen
Pada harum sikapmu yang menghiasi pagi
Seperti udara dalam nafas nyanyi emprit di dahan bulir waktu

Aku kangen
Seperti gemercik air yang dirindukan penglihatan
Atau arak-arakan awan putih yang dirinduka pendengaran
Atau sungai yang merindukan pelangi

Aku kangen
Ingin bercumbu dalam balutan kabut
Ingin memeluk suara
Ingin membenamkan rasa
Bersamamu…

(I miss you,
As a long stove firewood
Or leaves a longing for moisture

I miss
At that decorated the way you smell in the morning
Like a breath of air in the song sparrow on the branch fascicle time

I miss
Like water splashing missed vision
Or the procession of white clouds that missed hearing
Or miss the rainbow river

I miss
Want to flirt in her fog
Wanted to hold votes
Want to immerse taste
With you)

28
Agu
09

geliat kampungku

Lihatlah oleh kalian, kawan
Geliat kampungku:
Lesung dan alu tergantikan mesin penggilingan padi
Bajak dan kerbau tergantikan mesin traktor sawah
Tungku dan kayu bakar tergantikan kompor dan gas
Lumbung padi tergantikan penyimpanan beras bermerek ”cosmos”

Lihatlah oleh kalian, kawan
Geliat kampungku:
Jalan berbatu tergantikan aspal
Pesawahan tergantikan perumahan
Pematang sawah tergantikan lorong-lorong gang
Lapangan tempat dulu kita bermain tergantikan toko kelontong

Lihatlah oleh kalian, kawan
Geliat kampungku:
Gobak sodor tergantikan play-station
Pisang goreng tergantikan hamburger
Ketela tergantikan pizza

Lihatlah oleh kalian kawan
Geliat kampungku
Azizah memoles wajah dengan make up
Badu memamerkan facebook
Seni membawa ponsel
Risman asik chating dan browsing

Namun
Kalian hanya melihat
Geliat hanya polesan
Menutup kemanjaan dan kemalasan
Dan kalian akan tetap mengakui masa lalu sebagai kejayaan
Yang membekas pada geliat kampungku

27
Agu
09

Cerpen: Istri Teroris

Muthamainnah, seorang ibu berumur 30 tahun. Memiliki paras muka elok, wajah bulat dengan hiasan pipi putih. Selalu berjilbab rapi tanpa pernah melepasnya ketika ke luar dari rumah. Anaknya baru satu satu, Salsabila biasa dipanggil Caca oleh beberapa teman sepermainannya, sudah duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 3. Muthmainnah, seorang ibu dengan gurat kebahagiaan yang tiada pernah berujung. Dikenal sosok ramah dan tidak pernah mengobral ucapan laiknya tukang gosip.

Tinggal di sebuah rumah, warisan dari orangtuanya. Sederhana dan masih menyisakan arsitektur bangunan masa lalu. Pernah ada orang kota melirik rumah tersebut. Karena unik dan berbeda dengan bangunan-bangunan yang ada di kampung itu. Beberapa tahun ke belakang, ketika orangtuanya masih hidup, rumah ini pernah dijadikan lokasi syuting sebuah film kolosal. Ramai bukan main orang-orang waktu itu, selama seminggu rumah model lama ini dilihat oleh orang-orang meskipun pada dasarnya mereka berniat untuk melihat beberapa artis saja yang menjadi pemeran dalam film kolosal tersebut. Di depan rumah berdiri beberapa pohon  nangka sirsak, halaman luas ditumbuhi rumput halus, beberapa anak biasa bermain bergulingan di atasnya, keceriaan mereka ibarat sebuh potret masa lalu yang tidak bisa hilang sampai kapanpun.

Enam tahun lalu, di Kampung ini ada seorang kepala desa, setengah baya, kulit wajah kereng, kasar, dan hitam. Perawakan pendek, namun cara bicara kurang menghargai orang lain. Kata beberapa teman dekatnya terutama pegawai-pegawainya dia tidak menyukai ikan-ikan kecil. Di kampungku, pemimpin yang terpilih adalah mereka yang memiliki sawah dan ladang luas, tidak peduli dia bisa membaca atau menulis, jelasnya dalam setiap pemilihan kepala desa hanya orang-orang berduit dan memiliki taring lah akan terpilih menjadi pemimpin kami.

Kepala desa itu bernama Fa’at. Apapun alasannya orang-orang sering menyebut dia Ampu, entah apa maknanya. Menurut penuturan dari Bahar, seorang petugas desa, Ampu pernah berujar akan menikahi anak pak Dulhamid, Muthmainnah. Obrolan di warung Kang Harta pun keluar dengan cepat, menyebar, tentang keinginan kepala desa. Tanpa kecuali Muthmainnah pun mendengarnya pula. Seorang gadis seperti dia hanya tersenyum ramah tanpa prasangka apa pun, dia membiarkan saja isue itu berhembus di kampung.

Dulhamid, bapaknya pun hanya mesem-mesem. Mungkin saja Ampu hanya main-main, masa kepala desa beristri dua dan beranak sembilan itu ingin juga menikahi anaknya. Lagi pula ayah Ampu dengan dirinya khan sering mengobrol ini itu di ladang.

Tapi pada satu malam, dia memanggil Muthmainnah.

” Tadi, bapak dipanggil si Ampu ke balai desa……”

(Bersambung)

27
Agu
09

puasa dan cermin

Puasa ibarat cermin rasa. Lapar dan dahaga kita akan mengingatkan kita kepada jerit perut dan teriakkan kerongkongan orang yang terabaikan haknya, orang kurang mampu yang mengais rezeki lewat ratapan hidup karena terzalimi oleh sekepal nasi yang kita buang dan sia-siakan.

Puasa ibarat cermin diri. Kelesuan kita akan mengingatkan pada nasib jutaan orang yang mengarungi kehidupan dengan langkah ringkih karena hak mereka kita renggut dengan nyamannya kita telentang di atas kasur empuk. keletihan dan kelesuan kita saat berpuasa akan membawa kita untuk berempati secara total terhadap nasib jutaan umat manusia yang sedang dikuliti harapannya oleh mesin raksasa keserakahan dan kesenangan kita yang senang bermain-main dengan hidup kita.

Puasa ibarat cermin. Tentang kepedulian. Ketika kita melihat tanpa nurani, seorang bapak memindahkan pasir dan batu dari kali ke darat melalui beberapa tanjakan licin sementara kita asyik duduk dengan angkuh mendengarkan musik, menonton tayangan, dan membaca koran serta majalah.

Ya, jika kita tidak menjadikan puasa ibarat cermin, maka kembali… Puasa kita hanya merupakan rutinitas tanpa bekas apalagi akan memperbaiki dan merubah kehidupan sosial.

Karena, puasa bukan sebuah kebanggaan melainkan sebuah cermin yang bisa membandingkan diri kita dengan lingkungan.

Dan saat berbuka atau sahur, ketika puasa diawali dan diakhir, saat aneka makanan siap kita bantai… Pernah terbersit cermin yang melukiskan segerombol anak dengan tulang-tulang iga terlihat jelas, mereka berlari menyerbu sebongkah roti tengik…

Puasa bukan hiburan… Melainkan sebuah cermin kehidupan. Saat hari-hari dan malam Ramadhan kita dihibur oleh sajian tayangan televisi, film, ceramah penyambut buka puasa, dan kuis dengan hadiah milyaran rupiah. Ketika, seorang ibu menenteng jualan, mengedarkannya dari rumah ke rumah dengan telapak kaki pecah, dan langkah gemetar…

Bisakah kita menjadikan puasa sebagai cermin?

( Fasting is like a mirror sense. Hunger and thirst we will remind us to scream and shout abdominal esophagus who neglected their rights, those less able to earn a livelihood through the wailing of life for battered by a fistful of rice that we waste and squander.

Fasting is like a mirror yourself. Lethargy we will remind the fate of millions of people who move through life with fragile because we are robbed of their rights with our comfortable flat on the mattress soft. fatigue and lethargy as fast we will bring our total to empathize to the fate of millions of human beings who were flayed his hopes by a giant machine of greed and we are happy fun to play with our lives.

Fasting is like a mirror. Of concern. When we see without conscience, a father moved the sand and stones from time to ground through a slippery slope while we are preoccupied with proud sat listening to music, watching shows, and read newspapers and magazines.

Yes, if we do not make fast like a mirror, then again … we just Fasting is routine without a trace let alone to improve and transform social life.

Because, fasting is not a pride but a mirror that can compare ourselves with the environment.

And when sunset or dawn, when the fast begins and end, as various prepared foods … Once we slaughter occurred a bunch of mirrors that described children with rib bones clearly visible, they ran a loaf of stale bread invaded …

Fasting is not entertainment … It was a mirror of life. As the days and nights of Ramadan we were entertained by the television presentation, films, lectures iftar greeter, and quizzes with prizes billions of rupiah. When, a mother carrying a sale, passing it around from house to house with a broken foot, and shaking steps …

Can we make fasting as a mirror? )

26
Agu
09

hampir subuh di kampung

Langkah kereta malam telah membekas
Pada dedaunan yang menyisakan tasbih suci
Hinggap di cakrawala, pada malaikat suci
Bernyanyi: Subhanallah
Surau menghapus ingatan jazz, dangdut, dan blues
Segalanya kembali pada kejernihan pandangan
Dan kasur dan selimut terguyur wudhu..

The Translate is..

Step night train has made an impression
On the left leaves the holy rosary
Perched on the horizon, the holy angels
Singing: Subhanallah
Mosque delete memories jazz, dangdut, and blues
Everything was back to the clarity of vision
And mattresses and blankets washed ablution ..
25
Agu
09

Sebuah Puisi untuk WS Rendra

Puisi ini telah saya publikasikan di Facebook, ini saya dedikasikan untuk seorang almarhumah Penyair/ Pujangga masyhur, WS Rendra… Saya Tulis secara spontan demi mendengar beliau wafat


Aku telah membaca
Bagimu kesendirian adalah tungku tanpa api
Aku telah mengerti
Bagimu berkenalan dengan sepi adalah arti hidup
Aku telah mengawasi
Bagimu sebuah langkah adalah kenangan

Kau bukan mereka…
Kau adalah manusia sepi, luka, racun dalam darah
Namun bedanya kau dengan mereka adalah
Ketika kata sudah tidak bisa diucap
Ketika tulis tak bisa dibaca
Kau tetap diam sambil memberikan cermin
Bahwa hidup terlalu manis untuk dihina
Bahwa hidup terlalu pahit untuk dikenang..

Aku mulai mengenang..
Puisimu kupasang dalam hidup
Meskipun mereka member arti puisi adalah kesombongan
Ucapmu aku sulam dalam rasa
Ketika mereka mengecap ucapmu adalah hampa..

Aku tahu…
Mereka pun tahu
Bagimu… hidup adalah burung tak tergenggam
Dan kau… telah tertikam

( Semoga Kesederhanaan hidupmu ABADI di sana, Semoga Kesederhanaan sikapmu KEKAL)

Dan Aku Yakin…

Sukabumi, 07 Agustus 2009

The Translate

I’ve read
For you alone are no fire brazier
I have understood
You acquainted with the meaning of life is slow
I’ve watched
Step is for you a memory

You’re not them …
You are a lonely man, wounds, poisons in the blood
But the difference is you’re with them
When words are not spoken
When writing could not be read
You remain silent while providing a mirror
That life is too sweet to be insulted
That life is too painful to remember ..

I began to remember ..
I put your poem in my life
Although they give meaning to the poem is a conceit
your words embroidered in a sense I
When they taste your words are empty ..

I know …
They knew
For you … life is a bird not grasped
And you … have been pierced

(May the simplicity of eternal life there, I hope you are being conserved Simplicity)

And I’m sure …

Sukabumi, August 07, 2009

23
Agu
09

kemudian

Kemudian:
Orang-orang berkumpul di bawah siraman mentari senja
Layangan diterbangkan di hamparan aroma lahan bakal terminal
Pinggiran parit memanjang berderet tubuh-tubuh bernyawa namun mendendangkan nyanyi gelisah
Padahal burung bersarang pada awan dan bergembita

Kemudian:
Sepeda motor meraung menghadirkan emisi
Ribuan sepanjang jalan menempuh perjalanan ketidak pastian
Gadis-gadis meletakkan dagu pada bahu jejaka-jejaka
Di atas gelinding ban sesuka arah, bbm habis
Meriah ibarat pabrik sedang mengolah barang tak jelas
Hidup dirasa hanya membunut penat padahal gelisah

Kemudian:
Di suraulah kebahagiaan itu menyentuh
Barjanzi dan sholawat badar diperhalus lembut nyanyi seorang santri
Menantang rasa
Menggugah misteri cakrawala senja
Hakikat puasa menyata, ketakpastian tersibak memintal raung mesin sepeda motor dan kegelisahan tak tentu arah
Kemudian adzan pun dikumandangkan
Satu bahagia tercipta ceria
Walau hanya satu mangkuk kasih ibu dalam bentuk penganan pembuka shaum

Kemudian:
Malam menutup hari
Ada suara petasan meletup kecil
Dan tawa renyah dari kami

Ditulis ketika ”ngabuburit”

The Translate is

Then:
The people gathered in the spray setting sun
Kites flown in the stretch of land would smell terminal
Outskirts of long ditch lined with dead bodies but hummed song restless
And birds nesting in the clouds and have fun

Then:
Motorcycle roared present emissions
Thousands of travel along the road of uncertainty
The girls put her chin on her shoulder bachelor, bachelor
On top of the tire rolling direction at will, kerosene out
Busy like a factory to process the goods are not clearly
Life just feels tired but anxious to kill

Then:
In the mosque touched happiness
Sholawat full moon Barjanzi and singing a gentle refined students
Challenging taste
Arouse mystery twilight horizon
The essence of fasting states, uncertainty parted spinning bike engines roared and anxiety aimlessly
Then adzan also voiced
One happy to create cheerful
Although only one bowl in the form of a mother’s love opening confectionary shaum

Then:
Night closed the day
There was a small burst firecrackers sound
And laughter from us

20
Agu
09

Suami aneh

Apa tindakan pembaca ketika saya beritakan jika di kampung saya ada seorang suami aneh. Suatu hari dia membuka kedai, warung sederhana, menjula makanan-makanan ringan dan layangan pun ada. Istrinya mengasuk empat anaknya, masih kecil mereka. maklum di kampung, hidup masih nebeng di mertuanya tepatnya ibu si istri.

Keanehan suami ini bermula ketika ada sedikit percekcokan. Percekcokan dilatar belakangi ketika si suami mengetahui si istri meminjam uang kepada lintah darat dan tetangga-tetangganya. Suaminya marah besar, bahkan memberi putusan tidak akan melunasi utang-utang istrinya.

Mertuanya, menangis demi melihat sikap bebal menantunya itu. Maka alasan pun bocor, kenapa anaknya harus meminjam uang kepada lintah darat dan tetangga-tetangganya jika nafkah dan kebutuhan sehari-hari dicukupkan oleh si suami? Konon anaknya hanya diberi uang lima ribu rupiah perharinya, dan itu sudah termasuk uang jajan keempat anaknya.

Kedai si suami suatu ketika dia tinggal. Sebagai seorang istri maka mencobalah dia mau menjaga kedai sederhana. Namun alangkah tercengangnya semua orang ketika orangtua si suami, mertua si istri, mengusir si istri dengan alasan kedai jika dijaga oleh tukang utang akan rugi melulu. Demi mendengar itu, menangis kembalilah orangtua si istri.

Sebenarnya tentang keanehan suami aneh ini masih banyak dan tidak mungkin saya ceritakan semua, yang jelas, siapapun engkau, wahai para calon dan yang telah menjadi suami jangan abaikan kewajiban kalian menafkahi anak-istri. Keperkasaan kalian bukan terletak dari ketebalan kumis dan kekarrnya otot kecuali ditentukan oleh satu hal; memperlakukan wanita sebagai mahluk mulia dan patut dihormati..

Cerita ini memang menohok mataku dan ini benar-benar terjadi di kampungku..

The Translate

What action the reader when I preach in the village if I have a strange husband. One day she opened the store, a simple shop, selling food, snacks and even a kite. Mengasuk wife four children, their young. understood in the village, life is still common-law wife’s mother exactly.

This husband weirdness started when there was little dispute. Dispute started when the husband knows the wife to borrow money to loan-sharking and its neighbors. Her husband was furious, and even gave the verdict will not pay off her debts.

In-law, weeping for the sake of seeing his son’s ignorant attitude. So why was leaked, why her daughter had to borrow money to loan-sharking and its neighbors if the maintenance and daily needs satisfied by the husband? It is said that children were given only five thousand rupiah per day, and that’s including four children pocket money.

Husband,s store at one time he lived. As a wife so she would keep try simple tavern. But how everybody surprissed when the parents of the husband, the wife-in-law, drove the wife on the grounds maintained by the store if it will lose workers solely debt. For the sake of hearing it, cried the wife’s parents return.

Actually about the oddity of this strange man was still a lot and I could not tell all, a clear, whoever you are, O the candidates and who have become husbands do not neglect your duty to provide for their wives and children. Might you not lie from the thickness of the muscle thick mustache and unless specified by one thing; treat women as being noble and worthy of respect ..

This story was stabbing my eyes and this really happened in my village ..

19
Agu
09

menyoal dramatisasi densus 88 selama 18 jam

Pengepungan sarang teroris sama artinya dengan mengepung kandang Singa Lapar. Ya, dari pembicaraan para ahli intelejen hampir semua menuding, ada adegan drama yang dilakukan oleh tim Detasemen Khusus 88 anti teroris. Bayangkan untuk melumpuhkan beberapa kepala memerlukan waktu 18 jam. Dan celakanya drama seperti tayangan sinetron ini disantap publik lewat beberapa stasiun televisi. Dan menurut para ahli juga ini adalah bentuk komedi paling lucu yang disutradarai oleh elit dan petinggi negeri ini.

Maka, bersorak-sorailah para penonton demi melihat drama satu babak ini. Di facebook saja, ramai orang memberi ucapan selamat akan keberhasilan Densus 88 dalam melumpuhkan beberapa kepala teroris. Ya, bagi saya ini memang sebuah cerpen lucu, bahkan bisa dikatakan cerpen yang ditulis oleh maestro sastrawan lah. Pantas ditulis.

Namun soal drama yang ditayangkan oleh stasiun televisi saya katakan ini terlalu ”lebay”. Orang-orang pada akhirnya akan menilai, tak ada bedanya drama ini dengan sebuah film Hollywood, SWAT. Celakanya film Hollywood malah lebih enak ditonton daripada drama tersebut.

Memang, segalanya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor psikologi misalnya, bangsa kita sampai saat ini masih belum bisa bersikap ikhlas, pupujieun, apa yang dilakukan selalu saja harus diamati dan dinilai orang. Dan kasus-kasus seperti ini hampir terjadi di setiap aktivitas kita. Menjelang pileg tidak sedikit calon-calon legislatif tampil ibarat dewa amor.

Imbasnya, orang ahli bisa saja menarik satu simpulan sederhana. Bahwa drama ini hanya satu permainan klasik dari para elit negeri ini untuk mengalihkan perhatian publik. Tiba-tiba ramailah orang menatap satu babak drama ini, padahal mereka sedang diancam oleh moncong senapan para koruptor dan manusia oportunis yang akan melenggang ke gedung perwakilan rakyat…

Saya sendiri merasa lega lah, Densus 88 masih bisa beraksi meskipun sebetulnya tidak penting aksi dibuat seperti drama. Karena keberhasilan kita toh pada akhirnya akan dinilai baik oleh publik juga.

Sementara, pandangan saya kepada para teroris, mungkin berupa ajakan dan himbauan: ” JIKA KALIAN SERING BERSUJUD DAN MENANGIS DI HADAPAN TUHAN, AKU YAKIN BUKAN BOM YANG KALIAN LEDAKKAN MELAINKAN SIFAT-SIFAT TUHAN YANG SENANTIASA MENGASIHI MAKHLUKNYA. JIKA KALIAN MEMANG PEMBURU SYURGA, AKU YAKIN… TIDAK AKAN KALIAN MENCIPTAKAN NERAKA BAGI ORANG LAIN DI BUMI INI… AKSI KALIAN MEMBUAT TEROR DENGAN PELEDAKAN BOM TELAH CUKUP BAGI SAYA UNTUK MENILAI, BAHWA KALIAN BUKAN HAMBA TUHAN MELAINKAN IBLIS BERMUKA KESALEHAN… SAMA SAJA DENGAN NEGARA YANG KALIAN MUSUHI. MAKA, BERFIKIRLAH SECARA SAMAWI NAMUN BERSIKAPLAH MEMBUMI”

18
Agu
09

mengobrol di gubuk

Kemarin bertepatan dengan HUT KEMERDEKAAN R.I ke- 64 saya bersama seorang sahabat pergi ke tengah-tengah hamparan padi menguning. Saya dan dia memburu sebuah gubuk kecil dan sederhana di sawah garapannya.

Biasalah, kaum lelaki,, yang kami obrolkan bukan kalung dan gelang emas tetangga, melainkan hal remeh-temeh dalam hidup, seperti harga tanah, sebentar lagi panen, dsb. Tidak ada dalam obrolan kami menyoal tentang kemerdekaan. Karena apapun alasannya semua akan menduga bahwa kemerdekaan hanya ada di dalam omongan dan teriakkan saja. Konsep tanpa bentuk yang jelas.

Sederhananya, merdeka kita hanya diartikan bebas dari belenggu penjajah. Lantas apakah kita bisa disebut merdeka ketika seseorang menulis sesuatu harus diawasi dan disensor? Apakah kita merasa merdeka ketika kita melihat perbedaan dalam kehidupan teramat mencolok antara kita yang berdiri gagah di mall dengan si gelandangan yang berjuang melawan serangan nyamuk?

Ya, di gubuk itu kami sama sekali tidah mengobrolkan ” kemerdekaan”, sama sekali tidak. Dan obrolan kami disempurnakan dengan dua gelas capucino…




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 65,923 hits

 

November 2009
M S S R K J S
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay