Puasa ibarat cermin rasa. Lapar dan dahaga kita akan mengingatkan kita kepada jerit perut dan teriakkan kerongkongan orang yang terabaikan haknya, orang kurang mampu yang mengais rezeki lewat ratapan hidup karena terzalimi oleh sekepal nasi yang kita buang dan sia-siakan.
Puasa ibarat cermin diri. Kelesuan kita akan mengingatkan pada nasib jutaan orang yang mengarungi kehidupan dengan langkah ringkih karena hak mereka kita renggut dengan nyamannya kita telentang di atas kasur empuk. keletihan dan kelesuan kita saat berpuasa akan membawa kita untuk berempati secara total terhadap nasib jutaan umat manusia yang sedang dikuliti harapannya oleh mesin raksasa keserakahan dan kesenangan kita yang senang bermain-main dengan hidup kita.
Puasa ibarat cermin. Tentang kepedulian. Ketika kita melihat tanpa nurani, seorang bapak memindahkan pasir dan batu dari kali ke darat melalui beberapa tanjakan licin sementara kita asyik duduk dengan angkuh mendengarkan musik, menonton tayangan, dan membaca koran serta majalah.
Ya, jika kita tidak menjadikan puasa ibarat cermin, maka kembali… Puasa kita hanya merupakan rutinitas tanpa bekas apalagi akan memperbaiki dan merubah kehidupan sosial.
Karena, puasa bukan sebuah kebanggaan melainkan sebuah cermin yang bisa membandingkan diri kita dengan lingkungan.
Dan saat berbuka atau sahur, ketika puasa diawali dan diakhir, saat aneka makanan siap kita bantai… Pernah terbersit cermin yang melukiskan segerombol anak dengan tulang-tulang iga terlihat jelas, mereka berlari menyerbu sebongkah roti tengik…
Puasa bukan hiburan… Melainkan sebuah cermin kehidupan. Saat hari-hari dan malam Ramadhan kita dihibur oleh sajian tayangan televisi, film, ceramah penyambut buka puasa, dan kuis dengan hadiah milyaran rupiah. Ketika, seorang ibu menenteng jualan, mengedarkannya dari rumah ke rumah dengan telapak kaki pecah, dan langkah gemetar…
Bisakah kita menjadikan puasa sebagai cermin?
( Fasting is like a mirror sense. Hunger and thirst we will remind us to scream and shout abdominal esophagus who neglected their rights, those less able to earn a livelihood through the wailing of life for battered by a fistful of rice that we waste and squander.
Fasting is like a mirror yourself. Lethargy we will remind the fate of millions of people who move through life with fragile because we are robbed of their rights with our comfortable flat on the mattress soft. fatigue and lethargy as fast we will bring our total to empathize to the fate of millions of human beings who were flayed his hopes by a giant machine of greed and we are happy fun to play with our lives.
Fasting is like a mirror. Of concern. When we see without conscience, a father moved the sand and stones from time to ground through a slippery slope while we are preoccupied with proud sat listening to music, watching shows, and read newspapers and magazines.
Yes, if we do not make fast like a mirror, then again … we just Fasting is routine without a trace let alone to improve and transform social life.
Because, fasting is not a pride but a mirror that can compare ourselves with the environment.
And when sunset or dawn, when the fast begins and end, as various prepared foods … Once we slaughter occurred a bunch of mirrors that described children with rib bones clearly visible, they ran a loaf of stale bread invaded …
Fasting is not entertainment … It was a mirror of life. As the days and nights of Ramadan we were entertained by the television presentation, films, lectures iftar greeter, and quizzes with prizes billions of rupiah. When, a mother carrying a sale, passing it around from house to house with a broken foot, and shaking steps …
Can we make fasting as a mirror? )
Komentar