Masyarakat Apatis

Standar

Sama dengan warga negara lain, saya pun cenderung apatis di dalam melihat kondisi negeri ini. Seorang kawan sering bertutur; optimislah dalam memandang sesuatu, bahwa kita bisa keluar sebagai manusia merdeka, kelak! Pikiran seperti itu memang penuh dengan semangat kepahlawanan. Namun di zaman ini, kebobrokan dan keruntuhan tatanan sosial yang disebabkan oleh para elit, intelektual, pengusaha, dan agamawan telah menjadi sebab utama runruhnya optimisme masyarakat . Wajar jika masyarakat apatis.

Masyarakat apatis muncul di sebuah mileu dimana mereka sebagai warga negara sudah tidak peduli lagi terhadap negaranya. Mau maju atau runtuh negaranya masa bodoh! Sebab apa? mereka sudah tidak percaya lagi terhadap kebijakan para elit karena justru para elite lah yang melanggar kebijakan tersebut. Sebagai studi kasus; negara ini mengatakan; ”bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa, maka kewajiban negara adalah mendukung tersedianya pendidikan bagi warganya dengan cuma-cuma, gratis. Namun, seorang petani harus menjual sepetak sawahnya untuk menyekolahkan anaknya karena biaya untuk memasuki sebuah SLTA sebanding dengan penghasilan pertahun si petani. Kebijakan seperti apa ini jika pada akhirnya malah menyakiti seorang petani sebagai salah satu warga negara.

Elite politik, elite pemerintahan sudah tidak mengindahkan jiwa-jiwa kepahlawanan. Nurani seperti apa pun akan miris mendengarnya ketika mereka sedang larut dalam gelak tawa, kumpul di sebuah ruangan megah, mendapat tunjangan dari negara, memeras keringat rayat, studi banding ke luar negeri, sementara masih ada rakyat dan jelata yang kelaparan!!!

Lalu bagaimana masyarakat bisa optimis ketika mereka dihadapkan pada kondisi centang-perenang seperti ini?

Di satu sisi memang lahir manusia-manusia dengan optimismenya, mereka begitu bersemangat untuk menapaki kehidupan, hanya saja patut dipertanyakan juga, apa yang akan kita pertanggungjawabkan di masa depan? Adalah kita harus memunculkan generasi pembaharu, generasi yang tidak hanya dilabur dengan optimisme verbal melainkan diselimuti sikap-sikap kepahlawanan.

Bagi saya, negara mau maju atau terperosok lebih jauh ke jurang kehancuran pun, masa bodoh, meminjam ungkapan para ABG; ” emang gue pikirin!”. Walaupun sampai saat ini, Saya masih berusaha mengingatkan mereka agar kebijakan , pe aturan, dan diundang-undang dibuat bukan untuk dilanggar kecuali untuk diikuti!

About these ads

Saran

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s