Puisi: Di Jalan Menuju Kampungku

Ya, di persimpangan jalan menuju kampungku, kutemui dia
Seorang wanita setengah baya berdiri mematung sambil melambai-lambai tangan
Penutup kepala warna cokelat
Baju yang dipakainya mengingatkan aku pada seorang Polisi Wanita
Yang Aku tahu dari bisik-bisik pengguna jalan , dia hanya seorang gila

Ya, tidak jauh darinya, kau akan melihat satu tumpuk sampah membusuk menebar
Jalanan licin, bagus pula, rumputan liar, pesawahan sebagian telah disulap menjadi warung-warung kecil
Sebuah lahan kelak akan dijadikan terminal sEdang mengulum senyum namun menatap durja karena pada saatnya nanti, di hari yang sudah Biasa anak-anak kami akan tertelan roda peradaban, terlindas gelinding budaya
Saat bayi mengoa, dia akan lebih dulu mendengar gemuruh mesin kendaraan atau ucapan sarkastik yang ditafsirkan sebagai kumandang adzan
Di jalan menuju kampungku segalanya telah berbeda
Randu menjadi tiang-tiang lampu
Lapang tempat dulu kami bermain bola telah menjadi gedung-gedung
Dan orang-orang selalu berbisik dengan rona wajah yang belum bisa aku tafsirkan
Seperti seorang ibu setengah baya di pagi ini yang bersikap seperti seorang polisi wanita

Buram..

Komentar tulisan or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.