Arsip untuk Oktober, 2009

28
Okt
09

Sumpah Pemuda Dan Karakteristik Pemuda Kekinian

Delapan Puluh Satu (81) tahun lalu, para pemuda tanah air mengumandangkan sebuah sumpah, sejarah telah member nama SUMPAH PEMUDA. Bisa dikatakan sumpah ini sebanding nilai baik magis ataupun historisnya dengan Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada. Ada perbedaaan mencolok memang antara kedua sumpah tersebut. Hanya , disini penulis tidak akan menjelaskan perbedaan mencolok antara Sumpah Palapa Gajah Mada dengan Sumpah Pemuda para Pemuda Nusantara. Yang akan  dielaborasi adalah karakteristik dan sifat-sifat pemuda saat itu, di tahun 1928, kemudian kita komparasikan dengan Karakteristik dan sifat-sifat Pemuda Nusantara saat ini.

Pemuda di era awal abad ke-20 adalah mereka yang dilahirkan dari rahim masa Penjajahan. Ada tiga sifat atau mentalitas pemuda saat itu, pertama mereka para pemuda apriori, kondisinya pasrah dan mengikuti apa keinginan kaum colonial, mereka cenderung menjadi salah satu objek kolonialisme, dijadikan para pekerja kontrak, rodi, bahkan dibawa ke tempat-tempat yang jauh dari tanah kelahiran mereka. Kedua, adalah kelompok pemuda yang bersikap kompromi dengan kaum colonial dengan maksud ingin dijadikan partner akrab dalam pengelolaan sumber daya alam di Hindia Belanda waktu itu. Acap kali kelompok pemuda ini melacurkan diri demi sesuap nasi, menjadi pangreh praja, asal bapak senang, tanpa mengindahkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotism. Daripada harus mengedepankan nilai-bilai tersebut mereka lebih senang dengan kondisi terjajah karena darinya ada semacam simbiosis yang saling menguntungkan. Mentalitas menjadi hamba bagi tuannya ini telah melahirkan sikap feodalis, mereka pun ingin dihargai, dihormati oleh orang-orang sekitar seperti mereka menyembah induk semangnya- kaum colonial-.
Lanjutkan membaca ‘Sumpah Pemuda Dan Karakteristik Pemuda Kekinian’

27
Okt
09

Cerpen: Efarin

Tujuh belas tahun lalu, istriku melahirkan bayi mungil. Wajahnya manis bagai nektar mawar yang dikitari lebah-lebah. Badannya montok, putih , kenyal, seperti ibunya. Tangisnya memecah hening malam, waktu itu purnama, orang ramai di luar setelah menunaikan sholat tarawih. menjelang idul-fitri, tiga hari lagi. Anak-anak ramai pula. Dan, kumandang kebahagiaan terdengar di dalam rumahku.

Kami, orang kampung. Ketika ada bayi lahir memang ada kebiasaan turun-temurun, menunggu sampai bayi lahir. Lalu, orangtua jabang bayi mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri. Aku pun demikian. ayah ibuku mesem-mesem menerima kehadiran bayiku yang manis. Istriku bahagia, keringat yang mengguyur tubuhnya. Setelah dukun beranak memandikan bayiku, bayiku masih terisak. Namun telah diselimuti oleh kain kebat neneknya. Sesaat kemudian ia tersenyum, bayiku seorang wanita.
Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Efarin’

12
Okt
09

Cerpen: Rost, Maukah Kau Menjadi…

Setelah sehari penuh, setelah menunaikan sholat ied, saya mengunjungi beberapa sanak keluarga, akhirnya saya kembali juga ke rumah. Hari telah sore, musim kemarau menerjang kampung kami sejak satu bulan terakhir. Selama Ramadhan bisa dikatakan hujan hanya turun satu kali saja, itu juga hamper tidak bisa dikatakan sebagai hujan, karena memang hanya gerimis sesaat. Orang-orang yang saya temui  sering mengucapkan kata-kata senada, bisa dibilang kesal , karena harus berhadapan dengan panasnya udara selama sebulan ini.

Musim panen, bisa dipastikan seminggu ke depan. Seperti sore ini, para petani telah meramaikan sawah. Bukan tanpa alas an, kecuali mereka melihat-lihat dengan binary harapan, hasil panen musim ini akan melimpah. Pokok-pokok padi berbulir sangat ranum. Kunig dedauan padi akan mengingatkan kau akan cerita yang biasa dibacakan atau diceritakan oleh ibu kalian menjelang tidur di masa kecil dulu. Sepanjang parit, pohon-pohon pisang berjajar rapat, dan ini sulit dicerna oleh akal sehat sekalipun, karena tanpa ditanam oleh orang pohon-pohon ini dengan sendirinya tumbuh subur di sana. Ada angin bertiup lembur membelai daun-daun pisang, hingga seolah melambai kea rah saya. Sejalan dengan openuturan keindahan alam di sore ini, matahari telah membentuk bulatan penuh di ufuk Barat serta suasana Ramadhan yang baru saja meninggalkan kita masih begitu terasa, sampai di telinga saya, di mulut saya, dan di dalam diri saya Ramadhan tahun ini masih membekas.

Saya hanya berdecak kagum atas suasana seperti ini. Sampai segalanya membuka kembali tarian memori yang pernah saya alami beberapa bulan ke belakang. Tepatnya sebelas bulan lalu, di sebuah pantai di Daerah Kota P.

Patut saya ceritakan dengan obrolan singkat penggalan kehidupan sebelas tahun lalu itu.

Nopember Tahun 2008,

Pantai akan mengingatkan kalian pada keMaha Besaran Sang Khalik. Debur Ombak  menjilat pantai berpasir putih di Selatan Kota P. Sore hari telah melukiskan keindahan tak ternilai. Lempengan emas meramaikan laut lepas. Camar mulai menggila, menggelikan pendengaran dengan suara nyaringnya. Orang-orang masih bersikukuh pada pendiriannya, tidak akan meninggalkan pantai sebelum melihat matahari benar-benar tenggelam di ujung laut sebelah Barat.

Cerita cinta bisa menjadi wakil dalam suasana pantai yang menantang seperti ini. Tentu saja tanpa harus dibalut oleh rangkaian kemesuman, karena konon, orang-orang bisa menjadikan alas an jika di pantai orang dibolehkan bertelanjang atau minimal menggunakan bikini, padahal ada aturan dan etika manusiawi yang mengharuskan mereka menjaga martabat kemanusiaannya tanpa harus mengorbankan semua itu hanya demi alas an di pantai. Orang seperti saya bisa jadi hanya akan dikatakan manusia moralis yang sudah tidak akan dihargai di zaman ini. Nyatanya memang demikian, orang lebih cenderung beralasan demi nilai-nilai kemanusiaan untuk memuluskan keinginan mereka, padahal nilai-nilai lain yang terbilang cukup agunglah yang sebaiknya kita kedepankan. Untuk kea rah sana rasanya memang sukar.

Rost, seorang wanita telah menambatkan cintanya kepada saya. Padahal, terus terang kami belum pernah berjumpa sekalipun. Kami saling mengenal satu sama lain tidak melalui apa-apa, kecuali melalui sebuah percakapan-percakapan dan dialog singkat saja di dalam telpon atau melalui SMS. Sukar menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada diri Rost dan saya. Saya mengakui, wanita seperti Rost hanya akan tercipta satu abad sekali karena melihat sisi-sisi kesetian dan kesederhanaannya dalam berkata. Rost mewakili wanita di zaman ini, wanita yang memang harus tangguh, bukan wanita gampangan penjual cinta imitasi meneriakkan kesombongan bahwa dirinya harus dihargai dimulyakan namun dengan cara-cara kurang berwibawa. Kalian tentu tahu, pinggul wanita diobral di televise-televisi, mereka para mucikari berseragam dan berkedok hiburan tidak mau mengakui kalau itu adalah satu penurunan moral, kepentingan mereka adalah rating sebuah pertunjukan. Dan bayaran atas segala yang dilakukan oleh para pengumbar pinggul adalah ketenaran, mereka bisa mencicipi kue kehidupan sekehendak mereka. Lupakah, wanita tetaplah wanita, mereka tidak akan pernah bisa berubah menjadi lelaki, kecuali mereka kaum wanita harus dimulyakan dengan cara meningkatkan kapasitas dan kualitas ilmunya serta harus berakhlak sholehah.

Di pantai inilah kami berjumpa. Obrolan singkat, tanpa ada saling tatap, saling pegang tangan, hanya satu Tanya dan satu jawab.

Saya bertanya kepada wanita mulia ini,

“ Rost, maukan kau menjadi….?”

Sambil menatap laut yang mulai menguning dia menjawab

“ Ya..!”

Begitulah kisahnya.

Hinggal segalanya berakhir seolah kehidupan ini memang disulam dari benang-benang berwarna-warni, namun di dominasi oleh benang berlapis emas. Semua orang memang akan mengalami hal yang sama ketika hidup ini telah menemukan pasangan sejati.

Sukabumi , Oktober 2009

10
Okt
09

para penuai padi

Setelah kumandang adzan subuh
Kabut turun meskipun tiipis
Namun mendinginkan suasana
Mereka dengan memakai caping bambu
Telah turun ke sawah menuai padi

Sambil duduk menatap pekat
Aku sering berpikir
Satirkah hidup ini?
Tahukan mereka, jika di luar sana jerih payah mereka sama sekali tidak dihormati
Bahkan oleh anak-anak mereka sendiri
Hentakan tangan mengayun pokok padi
Esok harinya hanya dihargai oleh rengekan anak-anak mereka yang memohon dibelikan sepeda motor
Hp

Atau terbalikkan dunia ini?
Ketika bayaran bagi para tukang menguap di atas kursi, kita yang sering bermain lidah, membuat tarian angka dan tulisan keuangan
Lebih besar mencicipi kue kehidupan
Daripada mereka yang telah mengobarkan semangat, menguras keringat sepagi ini?

Para penuai padi tidak mau tahu rupanya
Mereka hanya pejuang yang sama sekali jerihnya terhargai satu harapan
Kelak musim panen ini akan dan harus lebih baik dari kemarin
Agar padi yang dituai melimpah ruah dan pada akhirnya memang masuk ke dalam perut kita

03
Okt
09

manusia bebal

Penting aku tuliskan tentang manusia bebal
Dan pada saat ini cukup kutunjuk saja batang hidung pesekku
Saat kulihat: tanah menggeliat, reruntuhan gedung, manusia yang tertimbun, tiang listrik patah, jerit tangis bayi
Dan saat ini aku hanya bisa meratapinya, duduk di bangku sambil menikmati segelas susu hangat, nyanyi pipit
Hamparan padi
Segala keindahan
Dan aku memang bebal
Hanya saja, di sana pun ada sekelompok orang
Mengemudikan mobil megah berbalut baju besi
Bahkan gajihpun menggunakan uang kita dan tetapi mereka lebih bebal dalam gelak tawa
Mengantuk dan menguap pun dibayar jutaan rupiah.
Maka pantaslah alam pun sudah tidak menghormati kita lagi.




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,674 hits

 

Oktober 2009
M S S R K J S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay