Profesinya sebagai tukang bubur ayam memang ia jalani sejak menikah dengan Lastri. Ayah lastrilah yang mengajari Mang Didih cara membuat bubur ayam agar disukai oleh orang-orang. Maklumlah, karena hidup di kampung, orang pada memiliki anggapan jika bapak Lastri, mertua Mang Didih mempunyai ilmu penajem. Lantaran mereka melihat ramai sekali gerobak bubur ayam itu dikerubuti pembeli.
Di hari-hari tertentu, beberapa tamu datang ke rumah bapak Lastri, rata-rata mereka adalah pengusaha dari kota. Bahkan penduduk setempat pernah melihat beberapa pegawai pemerintah datang ke sana. Mereka begitu percaya kepada jampi penajem, orang jomblo tiba-tiba bisa membawa pasangan hidup, warung yang hampir bangkrut besoknya tiba-tiba dipenuhi pembeli, dan semua itu diyakini, bapak Lastri lah penyebabnya.
Melejitnya nama bapak Lastri sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir. Selama itu pula banyak orang berdatangan ke rumahnya.
Bubur ayam Mang Didih hari ke hari makin laku, penajem dari mertuanya memang hebat. Begitu diyakini oleh orang-orang, meskipun mang Didih pernah mengatakan, tidak ada penajem-penajeman, jelasnya bubur ayamnya saja yang enak. Apa lacur, orang lebih percaya pada penajem, ya penajem itulah yang menyebabkan bubur ayam Mang Didih begitu enak. Lagi pula jika memang bukan karena penajem kenapa pula banyak orang kota datang ke rumah mertuanya.
Lalu datanglah seorang pemuda dari kota. Arif namanya. Berpikiran modern, tidak percaya kalau dunia ini digerakkan oleh hal-hal magis. Kata orang kota dia adalah orang modern. Dikatakan modern memang pantas, di kampung orang belum memiliki hp , sementara Arif sudah punya. Maka ketika Arif berkumpul dengan mereka- meskipun pada mulanya orang kampung biasa curiga berlebihan, namun karena Arif dinilai baik oleh mereka- orang-orang kampung itu terlihat bahagian. Arif pun menjelaskan jika tugasnya di kampung itu hanya akan berlangsung selama dua atau tiga bulan saja. Penelitian yang disponsori oleh sebuah perguruan tinggi ternama di Ibu Kota.
Tiap pagi Arif mengamati, Mang Didih si Tukang Bubur, kok laris benar dagangannya. Namun jelas sekali, yang dia amati bukan hanya sosok tukang bubur itu, kecuali sosok di sampingnya, Lastri yang sedang membantu suaminya melayani para pembeli. Dalam benak Arif mungkin muncul satu pemikiran dan ini memang tanpa alasan karena di luar jangkauan logika yang selama ini menjadi Tuhannya, Kok bisa ya, tukang bubur seperti Mang Didih berperawakan pendek, bulat, gendut, mendapatpan seorang Lastri, gadis muda, mungil, cantil, sintal, dan gesit. Maka demi melihat hal-hal mengenai diri Lastri, sebagai seorang lelaki, dalam benak Arif pun satu keinginan besar untuk mendekati wanita kampung yang cantik itu.
Tanpa disengaja pada suatu siang berpapasanlah Arif dengan Lastri. Di pinggiran sawah, waktu itu Lastri pulang dari kebun setelah usai memetik beberapa sayur mayur. Lastri dilihat dari dekat oleh Arif merupakan wanita dengan seribu misteri karena dari raut wajahnya bisa dilihat ada seribu masalah yang sedang dihadapi olehnya.
” Siang, ceu…!” Sapa Arif
Lastri memang telah mengenal Arif karena hampir setiap pagi dia membeli bubur suaminya. Senyum menyeruak dari bibir tipisnya. Semakin cantik saja raut mukanya.
” Bisa, kita berbicara sebentar, ceu?” Pinta Arif sambil tersenyum. Bisa jadi hanya wanita bodohlah yang menolak ajakan lelaki kota berparas tampan. Seorang nenek pun barangkali akan menerima ajakan dari Arif.
Malu Lastri duduk di dekat Arif. Raut muka Arif juga berubah. Matahari telah condong ke arah Barat, setelah beberapa saat adzan dhuhur berkumandang. Padi-padi menguning siap dipanen, pohon pisang memanjang sepanjang sungai, beberapa pohon kelapa tampak bersikap sederhana terlihat dari kejauhan hanya melambai-lambaikan daunnya, alam begitu tenang hari ini.
Tanpa disuruh oleh siapa pun dibawah rindangnya pohon mangga, Lastri dengan linang air mata menyandarkan kepalanya di bahu Arif.
” Jadi begitu ya ceritanya. ceu?” Bisik Arif. Ada rasa takut menghinggapi diri Arif, kenapa dia harus sayang kepada seorang wanita yang telah memiliki suami. namun, penganut logika seperti dirinya pun sulit menjelaskan semua ini.
” Iya… orang-orang menuduh bapakku lah sebagai pemberi penajem kenapa bubur suamiku laku keras, hinggal kami dalam waktu dekat bisa membuat rumah bagus segala.” Bisiknya mengenang. ” Pernikahan kami sudah berlangsung selama tiga tahun.. semua orang yakin orangtua ku bisa membuat segala sesuatu menjadi terbalik dalam seketika, jika ada orangtua memiliki anak perawan dan tidak laku dengan datang kepada bapak besoknya tiba-tiba sudah ada yang meminang dan siap menikahinya..padahal bapakku sama sekali tidak memiliki kesaktian seperti yang disangkakan oleh orang-orang.
” Kerja bapakku hanya satu, dia memiliki keyakinan Tuhan yang menjadi penentu segalanya, keyakinan inilah yang menjadikan bapakku menjadi dikenal. Bapak sering berkata kepada para pendatang, jangan percaya kepada saya, percayalah kepada Tuhan.”
” Lalu?”
” Laku kerasnya bubur suamiku itu, lantaran Aku… Aku telah melakukan satu perbuatan hina tiga tahun ke belakang, hidup kami sukar, suamiku memaksa mengajak kami datang ke orang pintar, dan di sanalah suamiku mendapatkan penajem, kamu tahu… untuk mendapatkan penajem itu apa bayarannya?” Diam sejenak” Tubuhku….” Katanya sambil menggigit bibir.
” suamimu?”
” Dia diam… ya cinta kami cinta imitasi karena keinginan orangtua lah kami menjadi pasangan suami istri. Aku padahal hampir dinikahi oleh lelaki yang paling kucintai. Pada satu hari sebelum aku menikah dia datang dan mengucapkan satu kalimat yang tidak akan aku lupa: AKU TIDAK AKAN SAKIT HATI WALAUPUN KAMU MENIKAH DENGAN LELAKI LAIN, KARENA CINTAKU KEPADA KAMU BENAR-BENAR TANPA ALASAN APAPUN… sekarang dia entah ke mana…”
Segalanya telah jelas.
###
Malam begitu dingin. Menusuk. Kemarau lama menerjang.
” Besok aku akan menceraikan kamu!” Kata Mang Didih..
Lastri diam.
” Orang-orang sudah pada tahu… mereka sering melihat kamu duduk berdua dengan si Arif itu!!! ” Ucap Mang Didih tanpa sedikitpun amarah.
” Iya… kamu mau menceraikan aku hanya karena aku sering duduk dengan lelaki itu. Sementara ketika tubuhku ditindih oleh dukun cabul tiga tahun lalu, kau hanya diam..diam… !”
” Sudah, besok aku akan menceraikan kamu. Lakunya buburku bukan karena penajem dari dukun itu, kecuali karena buburku memang enak titik…”
Esoknya tanpa kondisi dan karakter yang kosong, di kampung itu telah terjadi perceraian, Mang Didih dengan Lastri. Orang tidak ramai membicarakan ini karena semua telah tahu tentang tumbal dari sebuah penajem adalah kehormatan wanita. Walaupun tukang bubur itu sama sekali tidak meyakini penajemlah yang telah menjadikan buburnya laku kecuali karena buburnya saja yang enak.
Pemuda bernama Arif pun pergi tanpa sepengetahuan orang-orang, kembali ke kota, melanjutkan rutinitasnya. Lastri diam tanpa kata di hadapan bapaknya.
” Mafkan bapak, lastri…” Bapaknya memeluk anaknya. ” Ini kesalahan bapak menjodoh-jodohkan kamu dengan anak teman dekat bapak….”
Wajah Lastri dingin. Hingga pada akhirnya memutuskan, akan menggenapkan seluruh hidupnya hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Hari ini kau akan menemui, di kampung itu ada seorang wanita cantik, berjilbab, sering duduk berlama-lama di atas hamparan sajadah dengan wajah dingin tanpa prasangka apa pun. ketika kau tanya, dia hanya akan diam.. dan dia telah memasrahkan dirinya hanya untuk Tuhan saja, begitu janjinya.





Komentar