Arsip untuk Juli, 2009

30
Jul
09

Cerpen: Lastri…

Profesinya sebagai tukang bubur ayam memang ia jalani sejak menikah dengan Lastri. Ayah lastrilah yang mengajari Mang Didih cara membuat bubur ayam agar disukai oleh orang-orang. Maklumlah, karena hidup di kampung, orang pada memiliki anggapan jika bapak Lastri, mertua Mang Didih mempunyai ilmu penajem. Lantaran mereka melihat ramai sekali gerobak bubur ayam itu dikerubuti pembeli.

Di hari-hari tertentu, beberapa tamu datang ke rumah bapak Lastri, rata-rata mereka adalah pengusaha dari kota. Bahkan penduduk setempat pernah melihat beberapa pegawai pemerintah datang ke sana. Mereka begitu percaya kepada jampi penajem, orang jomblo tiba-tiba bisa membawa pasangan hidup, warung yang hampir bangkrut besoknya tiba-tiba dipenuhi pembeli, dan semua itu diyakini, bapak Lastri lah penyebabnya.

Melejitnya nama bapak Lastri sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir. Selama itu pula banyak orang berdatangan ke rumahnya.

Bubur ayam Mang Didih hari ke hari makin laku, penajem dari mertuanya memang hebat. Begitu diyakini oleh orang-orang, meskipun mang Didih pernah mengatakan, tidak ada penajem-penajeman, jelasnya bubur ayamnya saja yang enak. Apa lacur, orang lebih percaya pada penajem, ya penajem itulah yang menyebabkan bubur ayam Mang Didih begitu enak. Lagi pula jika memang bukan karena penajem kenapa pula banyak orang kota datang ke rumah mertuanya.

Lalu datanglah seorang pemuda dari kota. Arif namanya. Berpikiran modern, tidak percaya kalau dunia ini digerakkan oleh hal-hal magis. Kata orang kota dia adalah orang modern. Dikatakan modern memang pantas, di kampung orang belum memiliki hp , sementara Arif sudah punya. Maka ketika Arif berkumpul dengan mereka- meskipun pada mulanya orang kampung biasa curiga berlebihan, namun karena Arif dinilai baik oleh mereka- orang-orang kampung itu terlihat bahagian. Arif pun menjelaskan jika tugasnya di kampung itu hanya akan berlangsung selama dua atau tiga bulan saja. Penelitian yang disponsori oleh sebuah perguruan tinggi ternama di Ibu Kota.

Tiap pagi Arif mengamati, Mang Didih si Tukang Bubur, kok laris benar dagangannya. Namun jelas sekali, yang dia amati bukan hanya sosok tukang bubur itu, kecuali sosok di sampingnya, Lastri yang sedang membantu suaminya melayani para pembeli. Dalam benak Arif mungkin muncul satu pemikiran dan ini memang tanpa alasan karena di luar jangkauan logika yang selama ini menjadi Tuhannya, Kok bisa ya, tukang bubur seperti Mang Didih berperawakan pendek, bulat, gendut, mendapatpan seorang Lastri, gadis muda, mungil, cantil, sintal, dan gesit. Maka demi melihat hal-hal mengenai diri Lastri, sebagai seorang lelaki, dalam benak Arif pun satu keinginan besar untuk mendekati wanita kampung yang cantik itu.

Tanpa disengaja pada suatu siang berpapasanlah Arif dengan Lastri. Di pinggiran sawah, waktu itu Lastri pulang dari kebun setelah usai memetik beberapa sayur mayur. Lastri dilihat dari dekat oleh Arif merupakan wanita dengan seribu misteri karena dari raut wajahnya bisa dilihat ada seribu masalah yang sedang dihadapi olehnya.

” Siang, ceu…!” Sapa Arif

Lastri memang telah mengenal Arif karena hampir setiap pagi dia membeli bubur suaminya. Senyum menyeruak dari bibir tipisnya. Semakin cantik saja raut mukanya.

” Bisa, kita berbicara sebentar, ceu?” Pinta Arif sambil tersenyum. Bisa jadi hanya wanita bodohlah yang menolak ajakan lelaki kota berparas tampan. Seorang nenek pun barangkali akan menerima ajakan dari Arif.

Malu Lastri duduk di dekat Arif. Raut muka Arif juga berubah. Matahari telah condong ke arah Barat, setelah beberapa saat adzan dhuhur berkumandang. Padi-padi menguning siap dipanen, pohon pisang memanjang sepanjang sungai, beberapa pohon kelapa tampak bersikap sederhana terlihat dari kejauhan hanya melambai-lambaikan daunnya, alam begitu tenang hari ini.

Tanpa disuruh oleh siapa pun dibawah rindangnya pohon mangga, Lastri dengan linang air mata menyandarkan kepalanya di bahu Arif.

” Jadi begitu ya ceritanya. ceu?” Bisik Arif. Ada rasa takut menghinggapi diri Arif, kenapa dia harus sayang kepada seorang wanita yang telah memiliki suami. namun, penganut logika seperti dirinya pun sulit menjelaskan semua ini.

” Iya… orang-orang menuduh bapakku lah sebagai pemberi penajem kenapa bubur suamiku laku keras, hinggal kami dalam waktu dekat bisa membuat rumah bagus segala.” Bisiknya mengenang. ” Pernikahan kami sudah berlangsung selama tiga tahun.. semua orang yakin orangtua ku bisa membuat segala sesuatu menjadi terbalik dalam seketika, jika ada orangtua memiliki anak perawan dan tidak laku dengan datang kepada bapak besoknya tiba-tiba sudah ada yang meminang dan siap menikahinya..padahal bapakku sama sekali tidak memiliki kesaktian seperti yang disangkakan oleh orang-orang.

” Kerja bapakku hanya satu, dia memiliki keyakinan Tuhan yang menjadi penentu segalanya, keyakinan inilah yang menjadikan bapakku menjadi dikenal. Bapak sering berkata kepada para pendatang, jangan percaya kepada saya, percayalah kepada Tuhan.”

” Lalu?”

” Laku kerasnya bubur suamiku itu, lantaran Aku… Aku telah melakukan satu perbuatan hina tiga tahun ke belakang, hidup kami sukar, suamiku memaksa mengajak kami datang ke orang pintar, dan di sanalah suamiku mendapatkan penajem, kamu tahu… untuk mendapatkan penajem itu apa bayarannya?” Diam sejenak” Tubuhku….” Katanya sambil menggigit bibir.

” suamimu?”

” Dia diam… ya cinta kami cinta imitasi karena keinginan orangtua lah kami menjadi pasangan suami istri. Aku padahal hampir dinikahi oleh lelaki yang paling kucintai. Pada satu hari sebelum aku menikah dia datang dan mengucapkan satu kalimat yang tidak akan aku lupa: AKU TIDAK AKAN SAKIT HATI WALAUPUN KAMU MENIKAH DENGAN LELAKI LAIN, KARENA CINTAKU KEPADA KAMU BENAR-BENAR TANPA ALASAN APAPUN… sekarang dia entah ke mana…”

Segalanya telah jelas.

###

Malam begitu dingin. Menusuk. Kemarau lama menerjang.

” Besok aku akan menceraikan kamu!” Kata Mang Didih..

Lastri diam.

” Orang-orang sudah pada tahu… mereka sering melihat kamu duduk berdua dengan si Arif itu!!! ” Ucap Mang Didih tanpa sedikitpun amarah.

” Iya… kamu mau menceraikan aku hanya karena aku sering duduk dengan lelaki itu. Sementara ketika tubuhku ditindih oleh dukun cabul tiga tahun lalu, kau hanya diam..diam… !”

” Sudah, besok aku akan menceraikan kamu. Lakunya buburku bukan karena penajem dari dukun itu, kecuali karena buburku memang enak titik…”

Esoknya tanpa kondisi dan karakter yang kosong, di kampung itu telah terjadi perceraian, Mang Didih dengan Lastri. Orang tidak ramai membicarakan ini karena semua telah tahu tentang tumbal dari sebuah penajem adalah kehormatan wanita. Walaupun tukang bubur itu sama sekali tidak meyakini penajemlah yang telah menjadikan buburnya laku kecuali karena buburnya saja yang enak.

Pemuda bernama Arif pun pergi tanpa sepengetahuan orang-orang, kembali ke kota, melanjutkan rutinitasnya. Lastri diam tanpa kata di hadapan bapaknya.

” Mafkan bapak, lastri…” Bapaknya memeluk anaknya. ” Ini kesalahan bapak menjodoh-jodohkan kamu dengan anak teman dekat bapak….”

Wajah Lastri dingin. Hingga pada akhirnya memutuskan, akan menggenapkan seluruh hidupnya hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Hari ini kau akan menemui, di kampung itu ada seorang wanita cantik, berjilbab, sering duduk berlama-lama di atas hamparan sajadah dengan wajah dingin tanpa prasangka apa pun. ketika kau tanya, dia hanya akan diam.. dan dia telah memasrahkan dirinya hanya untuk Tuhan saja, begitu janjinya.

30
Jul
09

Di Depan Beranda Rumah

Harus kuawali tulisan ini dengan satu kalimat: pagi ini cerah dan begitu memesona. Sambil duduk di depan beranda rumah, aku menyaksikan keunikan alam, lukisan dari Yang Maha Sempurna. Sinar mentari menghangatkan pun membangunkan hamparan padi, pelataran pesawahan menghijau ranau, menara mesjid membentuk silhuet hitam.

Tiba-tiba saja, imajiku melompat begitu jauh ke belakang, ke masa ketika aku kecil dulu. Ketika keceriaan tidak perlu dipertanyakan lagi. Ya, di depan beranda rumah ini dulu tumbuh sebuah pohon pepaya. Ranum sekali buahnya. ayah selalu memanjat pohon itu ketika ada pepaya yang telah matang. Kadang jika nasib sedang tidak memihak kepada kami, buah-buah pepaya itu sudah didahului digerogoti oleh kelelawar.

Kakek pernah berdiri di depan beranda rumah. Ya, beliau membuatkan layangan untukku. Padahal waktu itu, aku sama sekali belum mampu menerbangkan layangan. Barangkali, hanya sebagai pelampiasan seorang kakek kepada cucunya lah sampai beliau membuatkan layangan untukku, sebelum beliau berangkat ke sawah.

Air selokan di depan beranda rumah, di waktu pagi karena penuh airnya dan jernih pula, tersinari oleh cahaya matahari memantulkan cahaya bergerak-gerak dan menempel di dinding rumah. Akal kecilku menangkap seolah cahaya itu merupakan hiburan bagiku. Dalam suasana seperti itu, nenek datang, sehabis mengikuti pengajian di mesjid. Nenek biasa mengajak teman-temannya, ya mereka terlihat begitu ceria, hampir aku tidak menemukan keluhan keluar dari mulut mereka. Hidup diberi arti satu keniscayaan yang harus dijalani, dalam kondisi apapun. Mengeluh bukan satu upaya untuk keluar dari persoalan hidup.

Nenek selalu menghidangkan kapur sirih untuk teman-temannya. Aku mendengar obrolan mereka, aku ada di pangkuan nenek. Obrolan mereka begitu tulus, tidak ada yang membesar-besarkan keinginan , tidak ada yang mempertontonkan duniawi, tidak ada emas, tidak ada gosip, tidak ada pembicaraan yang menyudutkan siapa pun. Mereka asyik dan khusu mengbrol di depan beranda rumah.

Pagi ini, segala cerita di atas memang telah hilang. Yang ada hanyalah riuh suara mesin sepeda motor, obrolan tukang gosip, pembicaraan politik dari para bapak. Ya.. Aku beranggapan, kakek akan marah jika sebuah gubug di depan beranda rumah ini dijadikan tempat seperti itu. Namun, sama sekali aku tidak bisa melampiaskan kemarahan kakekku, kemarahan itu lebur hanya karena indahnya hamparan pesawahan di pagi ini. Terimakasih ya Allah, meskipun di zaman ini banyak sekali kebusukan dan kekotoran namun Engkau sama sekali tidak pernah mau jera menghadiahkan keindahan kepada kami… Patutkah aku menjadi musuhMu?

27
Jul
09

Aku Akan….

Ketahuilah…
Bagiku kau tetap seperti dulu
Wanita yang menghadirkan kedamaian
Seperti gemercik air, memanjakan pendengaran
maka kujanjikan satu untai kata-kata
Aku akan tetap ada disaat kau membutuhkan aku
Dan aku akan tetap mencintai kamu di saat hidup terasa semakin berat sekalipun
Aku akan…
Dan janjiku telah kutulis dalam lembaran hidup ini
Jangan sia-siakan aku
Karena aku akan terus memahamimu di saat hidup dirasakan semakin sukar
Aku akan…

26
Jul
09

Cerpen: Topeng

Kehebatan Mamat dalam membuat topeng tidak perlu dipertanyakan lagi. Meskipun hanya lulusan bahkan menurut cerita sekolah dasar pun tidak tamat, namun dia mampu memindahkan mimik raut sebuah tokoh ke dalam topeng yang ia buat.

Topeng-topeng wajah itu seolah begitu hidup jika dipakai oleh orang. Seorang penari pernah memakai topeng buatan Mamat dalam pentasnya. Konon orang-orang terkagum-kagum demi melihat si penari seolah dia sedang tidak memakai topeng.

Intinya begini, apa pun yang dipesan, karakter wajah apa saja bisalah Mamat melukiskannya ke dalam topeng. Hanya dengan melihat dan berkomunikasi dengan wajah seseorang, sebuah topeng bisa langsung tercipta.

Hanya, ketika ada seorang pejabat dari kota datang dan dibuatkan topeng oleh Mamat, terlihat Mamat harus benar-benar menatap wajah si pejabat, lama. Pertama menorehkan pisau ke sebuah kayu yang akan dijadikan topeng, tangannya bergetar tiada ampun. Keringat keluar, panas dingin.

Tentu saja, pembuatan topeng si pejabat itu disaksikan oleh hampir setengahnya penduduk setempat, karena sebuah stasiun televisi lokal menayangkan acara itu secara langsung.

Setelah tiga jam, topeng telah selesai dibuat. Waktu yang cukup lama. Karena bagi Mamat, biasanya untuk menuntaskan sebuah topeng hanya butuh waktu satu sama.

” Ini, pak,,,!” kata Mamat memberikan topeng si pejabat.

Wajah si pejabat serius menatap topeng wajah dirinya, ada tanda tanya besar memang. Topeng itu sama sekali jauh berbeda dengan dirinya. Wajah topeng diwarnai dengan beberapa warna, bertaring, hidung berlobang kesar kecil, letak dan komposisi mata tidak simetris, alis tampak tebal semua.

” Inilah wajah, bapak!” kata Mamat tiba- tiba.

” ini hanya topeng!!!” si pejabat berteriak demi mendengar hinaan dari Mamat. ” bubar semuaaaa….!” lanjutnya sambil mengibaskan tangan kepada beberapa orang.
****

Di hadapan cermin, si pejabat menimbang-nimbang topeng ini. Perlahan ia kenakan… Tiba-tiba dia terbahak-bahak sambil berkata.

” hahaha… Inilah wajahku… Ya ya inilah wajahku…!”

Topeng dibuka kembali. Lalu diinjak-injaknya, sambil bergumam.

” Awas kamu, tukang pembuat topeng bedebah!”

Esoknya, kedai tempat Mamat si pembuat topeng terkena gusur dengan alasan di tempat itu akan segera didirikan sebuah swalayan dan tempat hiburan serta permainan.

22
Jul
09

Sketsa: Hidup di Zaman Ayah Saya

Orang kampung kalau berbicara dan bertindak selalu ceplas-ceplos, tidak perlu ada isitilah pragmatik, gramatik, majas, konotatif, atau istilah-istilah lain yang membusa dan memusingkan mulut. Bahasa orang kampung sederhana juga mudah dilafalkan. Kalau orang kampung berkata nasi maka terjemahannya sudah jelas, nasi ya nasi. Jika pada suatu ketika orang kampung menyampaikan pujian kepada temannya, itu memang asli pujian, keluar dari lubuk hati yang terdalam. Atau… suatu hari orang kampung memberi hadiah kepada Anda, itu asli pemberian… tanpa ada tujuan apa pun. Ya bahasa dan tindakan orang kampung memang lugas!

Bandingkan dengan bahasa dan tindakan orang-orang politik. Manuvernya masya-Allah, o My God… bicara kesana ke mari seperti kupu-kupu linglung, A sama dengan Z, B sama dengan U. Makanya ketika pada suatu hari ada orang politik mengatakan nasi, jangan diterjemahkan nasi.. itu bisa diterjemahkan semen! Aspal atau Batu Koral. Kalau orang politik berjanji mau membetulkan jalan umum, terjemahkan sebagai perbaikan kerongkongan, pembesaran lambung, dan perbaikan villa. Janji-janji orang politik tidak perlu diterjemahkan a la kampung, tapi acapkali penuh dengan bahasa-bahasa konotatif, bahasa kiasan bahkan terkesan hiasan melulu. Memang nyatanya demikian, suatu hari ada orang politik mengumbar syahwat janji manis, katanya kalau dia terpilih menjadi anggota dewan apapun bisa dicipta. Sekarang? Bukan apapun bisa dicipta, melainkan apa pun bisa dipermainkan dan direkayasa.

Zaman ayah ayah ayah ayah ayah ayah saya masih hidup sama sekali tidak ada istilah janji politis. Dulu… kata ayah ayah, kalau ada seorang warga ingin membuat rumah, seseorang yang dijadikan pimpinan di tempat itu tinggal mengedipkan mata, maka jadilah rumah. Bukan disulap melainkan dikerjakan secara bersama-sama. Kalau ada perselisihan antara si A dengan si B cukuplah sipimpinan mengibaskan tangan, maka mereka pun berhenti berkelahi dan diganti dengan saling rangkul. Benar… zaman ayah ayah ayah ayah ayah ayah  saya masih hidup, menurut penuturan ayah ayah rumah pun tidak perlu digembok, pintu terbuka di malam hari tidak jadi masalah!

Nah, di zaman ayah saya… orang sudah pada mengenal benar janji politis, politisi busuk. Segala permasalahan seolah hanya bisa dituntaskan dengan uang. Mari kita buat sebuah contoh : Si Panjul tidak bisa mengikuti ujian akhir di sekolahnya karena belum melunasi iuran sekolah.. ya ya… iuran sekolah memang harus dilunasi dengan daun pisang khan? Membuat KTP, SIM, dan apapun selalu lebih besar dari patokan harga.

Dan yang lebih membuat hati miris adalah ketidak tahuan  kita tentang sesuatu… Mari renungkan cerita ini : Kaspari, seorang tukang becak, kulit wajah kereng, garang, kekar, namun bukan main baiknya. Dia dianggap sebagai dewa penolong oleh anak dan istrinya. Lagi pula apapun bisa dilakukan oleh dia jika ada orang lain meminta pertolongan kepadanya. Sebagai tukang becak, penghasilannya sudah bisa diterka, tidak akan sebanding dengan seorang mahasiswa sekalipun. Mengaku saja lah.jangan pura-pura!

Sudah satu bulan, penghasilan turun drastis, dimana-mana tukang ojeg mangkal rupanya. Sepeda motor, akhir-akhir ini memang mudah dimiliki, punya uang muka lima ratus ribu sudah bisa kredit motor merek dunia. Sudah satu bulan ini juga keluarga kaspari makan tidak menentu, makan pagi kadang-kadang dilakukan jika matahari sudah berada di atas kepala, makan siang dilewatkan begitu saja. Makan malam hanya menunggu kiriman makanan dari wak Haji Damsyik.

Suatu sore, karena kesal, sejak pagi hanya menghasilkan uang sejumlah lima ribu rupiah, Kaspari memutuskan untuk istirahat di bawah sebuah pohon besar dekat rumah sakit. Dia menyandarkan punggung ke pohon besar itu. Dibukanya tudung penutup kepala dan dijadikannya sebagai kipas.

Tanpa sengaja, mata Kaspari menatap sebuah bungkusan… tepat berada di sampingnya. Di amati kantong plastik belang itu, ya… padat berisi. Tangannya mulai gatal, mencoba membuka kantong plastik. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat isi kantong plastik itu, namun tiba-tiba ada sekulum senyum.

“ Lumayannnnn… cihuyyyyy….daging… ya ampun isi plastik ini daging!” Gumamnya sambil mengangkat tangan tanda bersyukur pada Allah. Tanpa ragu, entah daging milik siapa ini, dia bergegas mengayuh becakknya pulang.

Tentu saja cerita tidak berakhir sampai di sana.

Sepuluh menit setelah Kaspari meninggalkan tempat itu, dua orang petugas rumah sakit berjalan menuju ke tempat di mana Kaspari tadi duduk dan menemukan satu kantung plastik berisi daging.

“ Betul… saya buang di sini kantong plastik ini, kok!

“ Ya, tapi mana? Kamu sembarangan betul sich membuang sesuatu itu!”

“ Habis dibungkus pake kantong plastik sich, dikira aku sampah biasa aja makanya aku buang ke sini…!”

“ Waduh bisa marah lho, pak Dokter!”

“ Emang apa sich isi kantong plastik itu!?”

“ Hhhh… tadi pagi ada pasien yang memiliki tumor di lehernya, kemudian dioperasi, dan tumor itu oleh pak Dokter dimasukkan ke dalam kantong plastik… itu isinya…!”

“ O…daging tumor tho… !”

“ Ya sudah, tak apa… barangkali plastik itu digusur anjing atau kucing!”

Malam itu kaspari dan keluarga bukan main bahagianya, karena mereka bisa makan besar seperti orang-orang kaya. Di atas meja makan ada tiga jenis makanan, sop daging, sate daging, dan gulai daging. Bahkan.. karena dirasakan oleh istri Kaspari, masakannya terlalu banyak, dibagikanlah masakan itu kepada tetangga-tetangga terdekatnya.

Mereka menikmati makanan besar malam itu. Kaspari sampai memejamkan matanya, demi menikmati masakan istrinya.

“ Enak sekali masakanmu, Bu!”

“ Ya iyalah… namanya juga daging, dimasak dengan cara apa pun sudah pasti enak. Besok juga kalau bisa bawa lagi ya daging seperti ini, pak… disatenya kok renyah bangettt gitu!”

“ Iya mudah-mudahan ada rezekinya, bu!”

Bisa jadi pada saatnya nanti, si tukang becak akan tahu kalau daging yang dimasak istrinya itu adalah daging tumor!

Nah hidup di zaman ayah saya ibaratnya begitu, orang-orang kecil hanya kebagian parasit dari penyakit orang-orang besar! Tidak lebih dari itu…

21
Jul
09

Cerpen: Rheine

Untuk: Rahayu Suwandari…

Matahari baru saja mencium puncak gunung di sebelah Barat Tanah Merah. Pepohonan ibarat kepingan emas dedaunnya, hamparan padi memberi gambar jika suasana alam sore itu sama sekali tidak layak dicaci dan dimaki, gemercik air dengan aroma bening sama sekali tidak mencerminkan sebuah tanda jika Tuhan sungguh layak untuk diacungi kepalan tangan. Emprit sama sekali tidak perlu ditanya kemanakah perginya, segalanya telah jelas, tercatat dengan rapi dalam keunikan alam, mereka terbang ke arah pepohonan lebat dimana sarang-sarang hinggap disana, tidak merasa terusik sama sekali meskipun lelawa telah siap keluar dari gelantungannya di pohon-pohon nyiur. Apapun terlukis serba sempurna.

Rheine, wanita berkulit putih, masih terpaku menatap wajah Hamzah. Mata biru, rambut pirang, pipi licin bersih, barisan gigi rapat sempurna, bibir kecil juga tipis merekah, segalanya tertampar kemilau emas matahari sore. Ada keraguan namun bisa disembunyikan dengan sekulum senyum. Anak Van Jensen- seorang Jendral Kompeni- itu benar-benar telah terpukau sejak pertama bertemu dengan Hamzah, seorang pribumi namun bersikap dan bisa memosisikan diri kalau pribumi pun memiliki kemuliaan dan kehormatan untuk hidup, meskipun pada saat itu, wajah pribumi selalu berwarna kelam dan berdiri di belakang bayang-bayang keagungan aristrokrat kelas satu.

Rheine memiliki anggapan, hanya Hamzah seorang pribumi yang berani menegakkan kepalanya ketika berhadapan dengan dia dan orang-orang yang sebanding dengan dirinya, para aristokrat Belanda. Lebih dari itu, Hamzah lah yang bisa mengerti dirinya, orang-orang memang telah mengecap – siapa pun dia, kalau dia orang Belanda dia adalah setan, penjajah, kompeni, musuh utama Negara dan Agama!

Rheine ingin sekali membenamkan kepalanya di dada Hamzah, namun dia masyguul, mengerti kalau dada Hamzah akan menolak kepalanya. Dia segan. Segan karena Hanya Hamzah lelaki yang dia anggap suci. Di Belanda, kaum lelaki memperlakukan dirinya ibarat objek pemotretan. Kecantikan dirinya dijadikan alasan kalau mata-mata kaum lelaki itu bisa dengan mudah menelanjangi dirinya. Dagu mulusnya pernah dengan sikap nyinyir dijamah oleh seorang lelaki bernama Heinric, ya… Heinric seorang lelaki Belanda keturunan bangsawan dengan glamour kemewahan. Sebuah tamparan mendarat di pipi Heinric, hal itulah yang menjadi awal pertengkaran keluarga Heinric dengan Keluarga Rheine. Di Belanda, memang tidak semua kaum wanita diposisikan sebagai pelengkap hidup kaum lelaki, hanya wanita-wanita mulia saja yang bisa menangkis keculasan kaum lelaki, sementara di pinggir-pinggir jalan bertebaran wanita dengan kedip genit siap dielus dada dan hatinya tentu saja oleh mereka, kaum lelaki keparat!

Hamzah sadar memang, Rheine ingin sekali membenamkan kepala di dadanya. Hanya, ya… keyakinan itulah yang telah memberi kesepakatan jika kepala seorang wanita sungguh teramat berat meskipun dibandingkan dengan sebuah gunung, dan.. tentu saja tidak terkecuali seorang wanita yang paling dicintai seperti Rheine ini. Mata Hamzah terpaku pada kecantikan alam meskipun ingin sekali dia mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya. “ Rheine… benamkan kepalamu di dadaku…!” Seolah kecantikan paras wajah Rheine kalah oleh suasana alam nan menantang.

Hening sesaat, lalu keluarlah sebuah kalimat dari mulut Rheine.

“ Eik… mau bicara sama ye!” Hampir terkalahkan suara lembut itu dengan semilir angin sore.

Hamzah dengan wajah tampannya melihat paras Rheine. Wajah putih bersih itu dirasakan Hamzah begitu berat untuk berterus terang. Hamzah hanya mengangguk dan sedikit mengernyitkan kening, tanda mempersilahkan.

“ Berat bagi eik untuk meninggalkan ye…!” Rheine menarik nafas dalam, “ Karena cinta eik sama ye begitu dalam…!”

Hamzah memberi isyarat mempersilahkan Rheine melanjutkan.

“ Papi telah memilih lelaki lain untuk menjadi suamiku..!”

Demi mendengar itu Hamzah terlihat tetap tenang, sama sekali tidak tergoda oleh ucapan Rheine. Tegar

“ Eik… cinta sama ye!”

Alam terlihat lebih tenang meskipun angin berhembus mulai kencang. Beberapa menit mereka hanya duduk menatap pematang sawah yang tiba-tiba berubah semakin kelam. Hamzah mengenang kembali, lamunannya ke masa kecil ketika pertama kali bertemu dengan seorang anak kecil bernama Rheine di ujung pematang itu. Tanpa perlu menunggu waktu lama, sejak pertemuan dengan Rheine kecil mereka begitu cepat akrab. Bayangan itu bergerak, Rheine kecil berlari di atas pematang mengejar dirinya.

“ Aku juga sangat cinta kepada kamu. Dan… terus terang, sama sekali aku tidak ingin kehilangan wanita seperti dirimu!” Kata Hamzah tegas. “ Aku lelaki… dan aku akan siap menerima akibat dari segala yang kelak menimpa diriku… juga kita!”

Rheine menunduk. Ada airmata menganak sungai di pipinya.

“ Maukah kau jadi istriku?!” Setengah berbisik Hamzah mengucapkannya.

Rheine menatap.

“ Maukah kau jadi istriku, Rhe!?” Tegasnya sekali lagi.

Rheine menutup mata.

“ Papih…!” Ucapnya berat.

“ Tatap aku Rhe… tatap aku!?” Tangan Hamzah tanpa sadar memegang kedua pundak Rheine. Rheine perlahan mengangkat wajah. Menatap lekat mata Hamzah.

“ Kau mencintaiku!?”

“ Ya..!”

“ Jadilah istriku?!” Pintanya penuh harap.

Kembali Rheine diam.

“ Rhe… jadilah istriku! ” Hamzah terus memburu, “ Kamu berhak menentukan, Rhe… Kamu berhak!”

Rheine tetap diam sementara Hamzah mulai merasakan sesak di dadanya. Alam terasa semakin suram ketika jawaban sama sekali tidak keluar dari mulut Rheine, sebuah kepastian, meskipun kepala Rheine sekarang telah berani membenam ke dada Hamzah, tidak dirasakan apa-apa oleh Hamzah, keyakinan dan kepastian itu runtuh di indahnya alam sore…yang semakin kelam…

Di balik pepohonan, seorang dengan perawakan tinggi besar menarik nafas dalam. Hidung mancung itu persis sama dengan hidung Rheine.

“ Rheine… Papih menyesal sekali… maafkan papih!” Gumam lelaki itu. Lalu mengendap di balik semak-semak.

####

Pemberontak itu kini telah tertangkap oleh pemerintah Hindia Belanda. Hamzah!

Tiang gantungan telah disiapkan.  Seorang panglima bengis, Cryuff berdiri dengan angkuh menatap lekat si pemberontak. Orang berdesakkan.

Wajah si pemberontak tetap tegar , pandangan lurus ke depan. Kerumunan orang menciptakan debu beterbangan ke angkasa, angin berhembus sangat kencang hari itu. Pelataran tanah merah riuh, irama bisik-bisik terdengar kurang jelas. Semua mata menatap wajah bersih si pemberontak, tanpa prasangka kebaikan terlihat dari mimik para serdadu Belanda. Bau bawang busuk menyengat, keringat tumpah ruah keluar dari pori para kelas tiga. Baju-baju kumal dekil tidak sepadan dengan pakaian para pembesar pemerintah kolonial Belanda yang berderet berbaris di belalang panggung pementasan tiang gantungan. Iga-iga inlander tertata rapi seperti tuts piano bukan karena lapar kecuali karena menahan derita siksa karena musim panen bagi mereka adalah petaka, musim tanam bagi mereka adalah keterpaksaan. Padi tidak lagi dipanen untuk memenuhi lumbung dan lambung, namun hanya untuk memenuhi selera penguasa, penjajah.

Hamzah memberontak karena semua itu. Harkat kemanusiaan diinjak bukan hanya oleh kaum penjajah, pun dilemparkan ke kerendahan hingga sama dengan derajat binatang oleh kaum pribumi yang melakukan persekongkolan dengan kompeni hanya karena untuk mendapatkan sebongkah roti tengik kehidupan. Pemberontakan tehadap penguasa dia lakukan bukan untuk menyengsarakan rakyat meskipun banyak sekali rakyat yang disiksa dan didera oleh cambuk penguasa karena diduga menyembunykan dan merahasiaakn keberadaannya, tapi untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa telinga pribumi masih bisa menyimak, mata pribumi masih bisa mendengar, kepala pribumi masih bisa mengepal dan tangan pribumi masih bisa berpikir, meskipun dengan posisi rikuh. Tidak pantas menundukkan kepala ketika segerombolan serdadu Belanda lewat di hadapan pribumi. Tanah, air, sungai, pepohonan, hamparan sawah, dan nyawa adalah milik kaum pribumi…Ya, tapi sedikit sekali orang berpikiran seperti itu. Di Tanah Merah, orang lebih suka makan bubur jagung dan daun pisang daripada harus berurusan dengan pemerintah Kolonial. Tulang yang dilempar pun akan diserbu tiada ampun daripada harus menginjak diri sendiri. Di Tanah Merah, jangankan mencium tangan para pembesar kolonial, menginjak bayangannya pun harus dibayar dengan tiang gantungan. Ketakutan mengalahkan keberanian.

“ Gantung…!!!!” Teriak Cryuuf.

Di dalam ruangan seorang wanita cantik namun wajah pucat sedang memangku anaknya, dari balik kaca jendela, matanya menatap lekat prosesi hukuman mati atas seorang pemberontak bernama Hamzah. Wajah berat itu tiba-tiba meledak dengan urai air mata ketika melihat si pemberontak tubuhnya telah mmenggelantung di tiang gantungan. Tangis tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

“ Ham…zah!” Lirih sekali bisiknya.

Suasana hening… Rheine menatap anaknya… tanpa menunggu perintah dari siapa pun ketika orang-orang saling menatap satu sama lain, dia berlari sambil memangku anaknya, menuju ke tiang gantungan. Tubuh dengan wajah putih namun pucat itu berlari dan menubruk mayat seorang pemberonmtak yang menggantung di tiang gantungan.

Suasana pecah! Cryuff si panglima bengis memejam sambil menarik nafas dalam…

“ Hamzah…..!” Isak tangis Rheine mengheningkan suasana. Wajahnya semakin memuccat seperti bulan kesiangan. Erat merangkul mayat si pemberontak.

“ Kuburkan mayat ini di dekat makam Jenderal Van Jensen!!!!” Bentak panglima Cryuff lantas berbegas pergi.

###

Sore hari, langit cerah. Rheine berdiri memangku anaknya. Dua onggok tanah merah, pusara baru. Bapaknya dan Hamzah. Airmata terus mengalir tiada henti.

“ Papih…. Hamzah…!” Rheine bersimpuh.

Dan alampun semakin sunyi ketika dia telah yakin untuk mengakhiri hidupnya. Digenggamnya sebuah pistol peninggalan Van Jensen dengan gemetar.

Sebuah letusan sore itu membuyarkan orang-orang, berlari menuju ke arah selatan Tanah Merah. Mereka menemukan, seorang anak kecil menangis di pangkuan Rheine yang telah tergeletak di atas makam Hamzah, kepalanya bocor, darah membasahi pusara merah itu. Ada isak tangis dari beberapa orang diantara mereka. Mentari perlahan mencium puncak gunung di belahan Barat Tanah Merah…Pedih dan sedih larut bersama angin yang berhembus membelai dedaunan…

SELESAI

16
Jul
09

Pararelisme Waktu…Semuanya Sulit Terpahami

Sementara di bawah bayangan kegelisahan telah terselip satu untai kalimat; Jika Kau Berjanji untuk ditemui, maka aku akan datang.

Waktu sama sekali tidak pernah mau menunggu, seperti angin yang menghempaskan dedauan kering hingga jatuh ke pelataran.

Waktu sama sekali tidak mau berkompromi, seperti gelombang yang meluluh lantahkan bangunan kecil dari pasir laut berwarna keperakan..

Mereka pernah mengatakan jika aku lelaki lugu, senyum manis namun bau anyir, maka aku akan tetap diam tak bergeming, karena bukan itu maksud mereka… aku tetap kukuh pada pendirian, bahwa hadirnya cinta bukan hanya sebatas semangkuk rujak apalagi es krim..

Waktu terus membersamai hidup, tak pernah mau lari darinya… ketika mereka telah mengenal bahkan mengecap kalau aku adalah lelaki kurang ajar, tapi aku akan bilang… ya demikianlah aku… sulit untuk kalian pahami!

Aku dihujat , aku dicaci dengan untaian kalimat sarkastik… sementara korban darinya adalah kamu… kamu telah masih ke arena yang sama sekali tidak pernah dibayangkan… tangismu meledak bahkan bisa jadi meledek diriku…

Mereka menghargaiku dengan satu simpul nyinyir, aku pengkhianat bagi mereka, kamu yang jadi korbannya…

Maka, aku sampaikan, pararelisme waktu semuanya sulit dipahami..

Penekanannya, jika kamu minta…. aku akan datang dan berusahan memperbaikinya…bukan berdebat dengan mereka, tapi aku akan menjelaskan dengan air dengan tanah dengan angin dengan pasir, bahwa aku memang begini…

Permintaan maaf aku sampaikan kepada mereka meskipun mereka telah menutup hidupmu

Kamu merasa terkucilkan…. ya, demikianlah pararelisme waktu… semuanya sulit terpahami!

15
Jul
09

Orang Kampung dan Erotesis

KEHIDUPAN  orang kampung, jika dicermati lebih dalam dan nampak wajar, akan terlihat sebuah sikap, erotesis kerap mewarnai kehidupan mereka. Saya tekankan secara gamblang, erotesis sama sekali tidak ada hubungannya dengan Mak Erot, ya… kadang ketika seseorang mengaku berasal dari Sukabumi apalagi dari pelabuhan Ratu akan diberondong dengan satu pertanyaan..” Kenal dengan Mak Erot?”  Weleh..weleh… rupanya hanya Mak Erot yang tersohor bisa membesarkan ” Mohon Maaf, demi alasan sopan santun tidak saya tulis” saja dikenal oleh orang-orang, bukan hanya di Indonesia saja, suatu waktu saya ketika berada di Malaysia tanpa sengaja membeli Media Ternama, News Strait Times, ya di sana terpampang sebuah iklan, di dalamnya Mak Erot terlihat wajar mengenakan kerudung a la orang kampung.

Erotesis, sekali lagi tidak ada hubungannya dengan Mak Erot!

Mari kita dalami kehidupan orang-orang kampung, erotesis yang wajar dalam kehidupan mereka adalah pertanyaan-pertanyaan retoris , pertanyaan dengan penekanan wajar dan sama sekali tidak membutuhkan sebuah jawaban, hanya pemahaman.

Pada suatu ketika saya mengobrol dengan salah seorang tetangga. Biasa, permasalahan yang sedang dihadapi anaknya. Sudah empat bulan belum melunasi uang iuran bulanan. Mana- dalam pandangan orang kampung tentu saja- iuran sekolah di era reformasi ini mahalnya bukan alang kepalang. Konon, untuk masuk ke Sekolah Lanjutan Pertama saja orangtua harus mengeruk celengannya, atau ada juga yang pinjam sana pinjam sini. Hhhh… itula sekolah di zaman ini, saudara! Ngobrol panjang pun diakhiri dengan sebuah erotesis yang keluar dari nurani si tetangga, ” Katanya Sekolah Gratis?”

Sementara, beberapa hari ke belakang, saya mendengar seorang teman berkata demi menyikapi debat calon pilpres yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta, sebuah erotesis keluar dari mulutnya: ” Apa benar ya, janji-janji mereka?”

Mohon maaf, dalam tulisan ini saya sering menggunakan istilah orang kampung, maaf, bukan mau berlitotes ria kecuali ini dilatarbelakangi oleh sebuah kenyataan, saya memang tinggal di kampung, tidak lebih dari itu.

Dan, saya pun begitu yakin, dalam kehidupan saudara kerap kali terjadi adegan-adegan erotesis ini. Tukang becak misalkan pernah bertanya, ” Kenapa ya.. kehidupan sekarang ini semakin tidak wajar saja!?” bahkan, seorang pelacur pun sering mengungkapkan perasaan erotesis: ” Apakah kalian menganggap saya sebagai manusia tidak bermoral, sampah masyarakat?”

Pada akhirnya, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah erotesis, ” Apakah bisa dinamai sebuah kesejahteraan ketika kita sedang asyik menyantap makanan mewah dan renyah pada suatu malam, sementara di emper swalayan sana ada seorang anak kecil sedang menahan lapar dan dingin karena harus tidur di atas hamparan kertas koran?!”

14
Jul
09

Sebuah Simploke Untuk Kehidupan

Sahabatku, seorang guru ngaji pernah bertutur padaku di sela-sela istirahatnya setelah mengajari santrinya. Katanya, kehidupan ini semakin seru saja. Ibaratnya, sebuah pementasan drama yang sedang menjulang ke klimaks, dan pada akhirnya drama ini akan ditutup pada satu pementasan pemenggalan kepala manusia di atas ranjangnya. Itu bagi manusia-manusia normal, sementara akan ada juga orang yang dipenggal kepalanya di dalam jeruji besi dan bisa jadi ketika sedang terombang-ambing gelombang di laut lepas.

Dunia saat ini, khususnya kehidupan manusia bisa jadi sedang ber-simploke ria, bolehlah dunia semakin seru dan kejam, tapi kehidupan berbisik terserah aku,  kita mengatakan kehidupan semakin sulit, tapi dengarlah dengan telinga bathin, dunia berbisik, inilah mauku! Ya sebuah simploke saat ini sedang dibisikkan oleh kehidupan kita kepada diri kita.

Orang berkata, dunia semakin panas, sementara kehidupan kita berbisik, terserah aku! Hmm.. pada dasarnya kehidupan ini memamng semakin seru karena antara dunia dan kehidupan kita sering tampak mau menang sendiri… dunia pernah mengguncang kehidupan kita dengan beberapa bencana baik alam maupun kemanusiaan, ya dunia menuding hidung kita sebagai biang dari bencana tersebut, tapi kehidupan kita berkata… terserah! Lha dalah.. sudah sedemikian egoisnya kah antara dunia dengan kehidupan kita sekarang ini.

Mari kita selidiki kehidupan yang semakin seru ini. Misal, seorang pemimpin negara bisa saja mengajak kepada warga negara untuk menghemat BBM, tapi pada saaat yang sama, warga negara lebih nyaman kesana -ke mari , jalan-jalan dengan mengendarai motor dan mobil pribadi, telunjuk pun ditujukan pada hidung para elit negeri ini… wong mereka pun melakukan hal yang sama! Wajarlah kalau rakyatnya naik motor jika elit negeri ini naik mobil mewah. Hayah….! Ketika diusut dengan sebuah teguran, berkatalah warga negara: Terserah…kami… ya ya ya… saat ini kehidupan memang semakin seru, simploke di mana-mana..

Aku pernah berkata seperti ini: Kau bilang aku ini memang jarang mandi, aku bilang terserah aku. Kau bilang aku ini dekil, aku bilang terserah aku… begitulah ibaratnya antara kita dengan kehidupan dan dunia kita saat ini. Yang satu menuding satu lagi egois karena merasa nyaman dengan kehidupannya sendiri. Hhhh… kesannya memang masing-masing saja hidup ini. Masih jauh lebih beradab orang-orang primitif sepertinya!

06
Jul
09

Nanny Mcphee

Manusia cenderung menilai orang lain dari penampilannya. Seolah dunia hanya dipenuhi oleh orang-orang perlente, kelimis, cantik, tampan, pemilik mobil. Sementara; buruh tani, orang jelek, pengemis, tukang becak, dianggap sama sekali tidak ada kehadirannya. Bisa jadi dalam pandangan kekinian keberadaan seorang guru pun dipertanyakan.

Ini sekedar pandangan kurang berisi bahkan seperti sedang menghasud rasanya jika tidak dibumbui dengan kenyataan. Ya, teori-teori apapun tentang perbaikan sikap adalah non-sense jika kita banding luruskan dengan apa yang sedang kita lihat. Dalam pandangan kekinian, meskipun sentimen petani, pedagang kecil, dan buruh menjadi nilai jual paling tinggi bagi elit politik dalam kampanyanya, namun adakah salah satu dari anak kita mengacungkan tangan ketika kita tanya ingin jadi apa. ” saya ingin jadi petani!” adakah kalimat seperti ini keluar dari hati anak kita?

Nanny Mcphee memberi satu pelajaran pada kita, apa yang kita lihat dan kita dengar belum tentu kita ketahui dengan benar. Penampilan luar hanya sebagai hiasan dan topeng semata, ketika dibuka topengnya, cantik atau jelekkah diri kita? hati nurani sampai saat ini saya pikir masih bisa menjawabnya.

02
Jul
09

Sketsa: Nunuy…

Pantaskah aku berterus terang? Ketika lembayung di ufuk Barat telah berkibar dan cahaya kemilau itu menempel di pipi merahnya. Hangat merekah, pohonan serta rumputan terpukul angin senja. Namun geriap rambutnya lebih menantang untuk aku lukis- Aku semakin cinta kepadanya, Nuy…

Izinkan… Kujilat hatimu, jika kamu tidak keberatan. Kecantikannya bukan karena tidak ada yang lebih cantik. Sikap sederhana itulah yang telah memukul alam bawah sadarku hingga memar-karena jatuh cinta padanya. Kesederhanaan dalam tutur tidak akan sebanding dengan siapa pun. Nuy…




Hubungi Saya

0853-10-116936 (Telkomsel)

0266-9-116936 (Esia)

warsaway@gmail.com

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • Antara Bottom-Up dan Spesifik-Grant
    Oleh: Warsa Satu tahun terakhir memang mencuat konsep spesifik-grant, walaupun hanya orang-orang dari kelompok yang tidak terabaikan secara informasi yang bisa menyerap wacana ini. Dalam iklim apriori seperti sekarang, orang sepertinya lebih senang menyimak kasus-kasus besar daripada sekedar memikirkan konsep-konsep absurd dalam pandangan mereka, meskipun ka […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 70,787 hits

 

Juli 2009
M S S R K J S
« Jun   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay