Walau mata berat, kepala pening, hati berantakan aku tulis juga aporisma sableng ini. Biar orang tahu, kalau matahari telah tenggelam, segalanya kelam, peswahan pun berangsur menjadi suram, apalagi seorang wanita yang benar-benar aku cintai memberi tahu kalau besok lelakinya akan datang.
Jujur, aku memang terlambat mengungkapkan perasaan ini kepada wanita itu. Bukan terlambat karena sengaja, kecuali karena memang lelaki ini sedang menunggu waktu yang tepat untuk membeberkan perasaannya. Pada akhirnya, lelaki ini patah juga! Obat apa yang bisa menyembuhkan dan menyambungkannya kembali. Suasananya terus menjadi penguk.
Maaf, demi kebaikan wanita itu dan hubungannya dengan lelaki itu telah kubulatkan tekad, menjauhinya…. Selamanya. Tak akan kusapa lagi dia dengan kata-kata cengeng seperti dulu…
Ingatkan jika aku salah! amarah sedang merenggut akal sehatku, lalu apapun kutendang sambil bersarkasme ria: KEPARAT, JAHANNAM, BULLSHIT, tentu… Tentu saja telunjuk ini aku jentikkan pada batang hidung lelaki ini…





0 Tanggapan ke “Aporisma Lelaki Patah”