Temanku mungkin lebih parah dari nasib yang aku alami saat ini. Dia sering mendendangkan sebait syair :” aku selalu berusaha mencari cinta di antara rapat dan wanginya bunga-bunga, tapi selalu saja kutemui cinta di antara derasnya air hujan…”
Kembali, lelaki ini telah menjadi seonggok tanah kering dan pengemis tolol, merengek-rengek di depan seorang wanita, mengharap cintanya kepada seorang wanita yang telah menggenapkan cintanya kepada orang lain.
Ya, lelaki ini memang berusaha untuk tampil dewasa, mencoba untuk mengerti, namun terkadang kedewasaan bukan dewa penolong ketika lelaki ini sedang melebur dalam kepedihan dan dalam rasa sakitnya karena teriris cinta. Pecah dan berantakan sebuah perasaan…
Kesadaran lelaki ini selalu terarah pada sebuah suasana, ketika terbangun… Lelaki ini mulai sadar, sudah lima kali tertusuk oleh tajamnya luka cinta.
Maka, lelaki ini pun tellah menyimpulkan, sampai kapanpun… Lelaki ini akan tetap menjadi pengemis… Mengiba dalam igauan, mengharap dalam lamunan. Kalau wanita yang telah menggenapkan cintanya kepada orang lain, kelak akan menyintai lelaki ini.
Andai hal itu tidak terjadi? Tidak apa… Lelaki ini melenggang dengan rikuh di derasnya guyuran air hukan sambil menahan luka di sekujur tubuhnya… Dengan satu alasan, lelaki ini memang telah berusaha menggenapkan seluruh cintanya kepada wanita itu.
Tidakkah kamu mendengarnya?





0 Tanggapan ke “Ketika Lelaki Ini Menjadi Pengemis”