Pernahkah kamu mendengar seorang lelaki merintih karena tersakiti oleh perasaannya sendiri, kemudian menuliskannya ke dalam sebuah cerita? Sebaiknya simak saja cerita ini.
Kelak, seorang anak kecil ini akan menjadi wanita paling cantik di desa ini. Begitu bisik lelaki ini demi melihat raut dan gurat cantik tersurat di wajah seorang wanita berumur 12 tahun. Nunuy… Ya demikianlah orang-orang menyebut.
Kamu bisa menyebut lelaki ini sebagai seorang kurang ajar, phedopilia, pengagum cinta anak kecil di usia 19 tahun. Sebutan itu memang laik disematkan kepada seorang guru yang mengajar wanita kecil ini beretika. Namun, tidak perlulah kamu berlebihan memandang ketidak wajaran lelaki ini. Lelaki ini toh lebih normal dibanding kaum gay dan lesbi di luar sana.
Setiap gerak wanita kecil ini kuawasi, detil, tidak terlepas dari mata lelaki ini. Dan terus terang, cinta telah bersemi dalam diri, walaupun tidak terbersit untuk merambah kepada tindakan asusila. Dalam kondisi ketika seorang guru berusaha menghindari bahkan membunuh rasa cinta ini kepada seorang wanita kecil, tidak mungkinlah wanita kecil mengerti apa itu cinta?
Lelaki ini semakin digerogoti oleh rasa sesak akan sebuah pengakuan. Jika kejujuran itu terbuka, sudah pasti rmailah sekolah, sewot juga bukan hanya orangtua si wanita, bisa jadi orangtua lelaki ini pun akan dibuat cemas. Akhirnya bisa diterka, lelaki ini akan dibawa ke ahli jiwa, dites kejiwaannya, dan isu yang akan berkelanjutan adalah: seorang pedhopilia mengajar di sebuah sekolah dasar di kampung ‘B’. Begitu mengerikan. Maka, biarlah perasaan ini ditahan oleh lelaki ini.
enam tahun berlalu, lelaki ini tetap pada keteguhan hatinya. Masih tetap pada keyakinan cintanya kepada wanita itu. Dia telah tumbuh besar, menjadi wanita sempurna, kecantikannya ada dalam sikap sahaja dan kesederhanaan bertutur sapa. Sama sekali belum juga lelaki ini membongkar perasaannya.
Sampai pada akhirnya, lelaki ini, meskipun dengan ragu dan gamang akan sikapnya. mengungkapkan juga rasa cintanya. Tentang ketulusannya, mengajak makan malam si wanita.
Ya, benar kata seorang teman, kadangkala kejjujuran itu begitu dan sangat menyakitkan. Lelaki ini telah terlambat mengungkapkan cinta kepada wanita itu. Dia telah menggenapkan cintanya kepada lelaki lain, dan kelak tidak akan pernah untuk menyintai siapa pun kecuali terhadap si lelaki iti.
Kamu tentu tidak akan bisa membedakan mana airmata mana air hujan karena lelaki ini sedang menangis di tengah guyuran hujan. Kini lelaki ini berjalan, hampa, tanpa rasa meskipun beban untuk tetap mencintai wanita itu semakin berat dirasakan.
Lihatlah, lelaki ini sekarang telah menjadi manusia melankolis yang hanya mampu menggugurkan rasa lewat tulisan-tulisannya. Setiap pukul 13.00, di lesehan yang tidak jauh dari kampung ”B”, lelaki ini sering duduk sambil menulis dalam kesendirian… Kelak kamu akan menemuinya…





0 Tanggapan ke “Cerpen: Rintihan Lelaki ini”