Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah buku Budi Darma berjudul Orang-orang Bloomington. jelas sekali, jika aku hendak membandingkan dengan tulisan beliau alangkah jauh berbeda terlebih dari segi kekuatan tema. Tapi, biar kucoba untuk menyuguhkan sebuah tulisan berbentuk sketsa, hanya gambaran-gambaran pendek, padat, dan umum dari drama kehidupan ini.
Sengaja, sketsa ini aku ambil dari kehidupan orang-orang di kampung halamanku sendiri. Niatnya bukan ingin melakukan manuver gosip, kecuali ingin menghadirkan sisi kehidupan yang memang pantas kita potret dengan tulisan sekalipun.
Tetanggaku bernama Dapen. Seorang pekerja serabutan namun ulet. Aku tidak pernah melihat secuilpun sikap malas darinya. Pagi-pagi sudah pergi ke sawah, kadang ke tempat kerjanya, sebuah penggilingan padi. Ya, sejak mekanisasi masuk ke kampungku, lesung dan alu posisinya mulai dikalahkan oleh mesin-mesin penggilingan.
Dapen punya anak lima dari dua istri. Hanya saja, meskipun demikian, sejak lima bulan ke belakang. Ke-dua istrinya tidak ada di rumah. Satu memang sudah cerai, satu lagi menjadi TKW di Saudi Arabia sana.
Mengenai kehidupan orang kampung, jangan ditanya masalah komputer, hp Blackberry, Facebook, atau apalah yang berbau teknologi. Setiap pagi hanya diisi oleh nonton televisi, tapi jujur saja, orang kampung pun tontonannya sudah debat politik. Sarapan dengan ikan asin. Dan anak-anaknya, walau masih kecil, tidak pernah meminta lebih kepada ayahnya. Mari coba bandingkan dengan anak kalian, bukan kah minggu lalu anak kalian sempat meminta dibelikan sebuah ponsel bermerek Sony Ericsson tipe K?
Dapen tidak pernah mengeluh dalam hidupnya. Suatu hari aku tanya dia, hal apa yang menjadi lantaran tidak pernah ada kelihan dalam hidupnya? Jawabnya ringan dan sederhana.
” Merasa cukup!”
Hhh… Sketsa aku akhiri sampai disini. Besok atau lusa akan aku tulis lagi tentang orang-orang di kampungku. Hal lain yang perlu kalian ketahui, nama dari mereka adalah nama julukan kesehariannya. Hmmm…





0 Tanggapan ke “Sketsa: Dapen”