19
Jun
09

Cerpen: Hansip Obet

Kalau ditanya siapa orang paling lucu di Kampung Panghegar Manah? Semua orang akan mengarahkan telunjuknya kepada lelaki berwajah licin seperti lilin, hidung mancung seperti bule, kepala cepak seperti tentara, postur tubuh jangkung kecil seperti tiang telepon, dialah Hansip Obet. Semua orang di Kampung Panghegar Manah mengenal benar sosok lelaki jangkung ini.

Aktivitas kesehariannya hanya duduk-duduk di pos ronda, membawa alat pemukul berwarna hitam, pastilah kalian tahu alat seperti ini sering dipakai oleh satpam-satpam itu, apalagi kalau di rumah kalian memiliki satpam penjaga. Orang kadang tidak mengerti, kok bisa ya seorang manusia duduk dari pukul delapan hingga menjelang dhuhur di pos ronda tanpa beridir-beridiri? Bahkan tanpa aktivitas rahang sedikitpun, maksudku tidak berbicara. Mengenai kopi dan rokok? Syukurlah di dekat pos ronda itu tinggal Haji Dulhamid, keperluan apa pun yang dibutuhkan Hansip Obet disediakan olehnya. Ya, kalian memang sudah bisa menyimpulkan, rumah Haji Dulhamid yang dipinggir jalan itu besarnya bukan kepalang, namun karena orang kampung tidak perlu lah memelihara anjing Herder ataupun satpam penjaga rumah. Setidaknya, adanya Hansip Obet bisa mengganti posisi anjing dan satpam.

Pernah ada seorang pemuda bertanya kepada hansip Obet

” Akang kenapa sih mau jadi hansip, khan kata orang-orang hansip itu tentara kutukan?”

Hansip Obet menyelidik, menatap -dalam pandangan dia- seorang bocah ingusan yang belum mengerti kehidupan.

” Mau tahu?”

Pemuda itu mengangguk.

” Ini…!” Teriak Hansip Obet sambil mengangkat alat pentungan itu tinggi-tinggi…

Tanpa disuruh oleh siapa pun, pemuda itu bergegas meninggalkan pos ronda. Ya.. kalian pun tidak akan bisa memaksa Hansip Obet untuk membongkar alasan kenapa dia mau jadi hansip.

Dahulu, sekitar tahun delapan puluhan , di Kampung Panghegar Manah ini pernah ada penduduk bernama Dulkemedun, istrinya Siti Sumirah. Orang separuh baya ini membuka warung kecil-kecilan di pojok selatan kampung. Mulanya orang mencibir, kok buka warung di pojok kampung, tidak di tengah kampung, mana akan laku jualan di tempat seperti itu. Namun, lama-lama orang mulai mengernyitkan kening dengan seribu tanya, lho… kok dagang di pojok kampung bisa laku keras juga ya. Ada pula orang yang iri dengan usaha Dulkemedun itu. Karena dalam waktu tiga bulan Dulkemedun telah merenovasi rumahnya.

Dihembuskanlah sebuah angin fitnah, Dulkemedun sebenarnya bukan hanya jualan saja atau buka warung, ada usaha lain yang tidak bisa diterima dengan akal sehat. Beberapa penduduk pernah kehilangan uang, dan beberapa petugas ronda pun sempat melihat di kegelapan malam ada seekor babi melintas di gang sempit kampung Panghegar Manah. Ditariklah kesimpulan sederhana, Dulkemedun adalah Babi Ngepet!

Pak Kadus, mengerahkan warganya untuk menjaga kampung. Dibuatlah jadwal Ronda Malam, tapi karena memang demikianlah hidup di kampung, paguyuban masih kuat, hampir tiap malam orang-orang bertugas ronda, yang tidak kebagian tugas pun ikut-ikutan ronda malam.

Selama sebulan tidak ada hasil. Obrolan tentang babi ngepet tidak ada apa-apanya kecuali isapan jempol belaka. Dalam suasana seperti itu orang-orang kampung tidak sadar kalau istri DulKemedun sedang mengandung, sembilan bulan. Dalam tradisi orang kampung masa kehamilan sembilan bulan ini biasa disebut ” Bulan Alaeun..”

Mereka baru sadar setelah ada bisik-bisik dari tetangga, sebentar lagi Siti akan melahirkan. Insyaflah mereka, kalau fitnah telah menutup mata bathin mereka akan kebenaran seperti menghormati tetangga, memuliakan seorang ibu yang sedang hamil dan akan melahirkan. Sampai ramailah, siang malam orang berkumpul di rumah Dulkemedun. Hingga Siti melahirkanseorang bayi lelaki berkulit licin dibantu oleh seorang Paraji atau dukun beranak bernama Mak Munah, kata ayah aku pun lahir karena dibantu oleh Mak Munah. Meskipun tua namun masih cekatan..

Orangpun ramai-ramai membicarakan nama paling tepat untuk si jabang bayi. Sederhana memang cara orang kampung memberi nama, ada yang mengusulkan ‘Atip, Atok, Urip, dan lainnya. Setelah dikumandangkan adzan oleh pak Ustad, barulahDulkemedun sebagai  ayah dari bayi tersebut memberi nama.. ” Obet..” Hanya itu, tanpa ada nama belakang. Cukup Obet.

Sejak lahirnya obet, Usaha Dulkemedun semakin maju, warung semakin laris, rumah diperbesar, bahkan dia telah membuat sebuah gudang penyimpanan barang jualan. Di kampung tetangga dia membuat sebuah penggilingan padi, di kampung lain dia membuka pabrik gula aren. Majunya bukan maju biasa. Hingga orang-orang kampung menjadi berdecak kagum dan memuji-muji dia. Hampir tiap malam orang berkumpul di rumah Dulkemedun. Di Balik kesuksesan seseorang memang akan selalu ada orang dengki yang menghendaki kejatuhan orang sukses tersebut.

Dulkemedun pun lambat laun tergelincir juga. Ketika Obet menginjak Usia tiga tahun, di masa keemasan DUlkemedun sebagai pengusaha sukses, datanglah seorang wanita lain ke dalam kehidupan Dulkemedun, sampai berujung pada sebuah pernikahan siri. Mulanya Siti tidak tahu menahu dan masa bodoh akan hal ini. Tapi karena dia seorang wanita, lambat-laun tahulah kalau suaminya itu menikah lagi dengan wanita lain. Maka, dibawalah Obet oleh Siti pulang ke rumah orangtuanya. Demi melihat itu Dulkemedun tidak mau ambil pusing, membiarkan saja Siti dan Obet minggat dari rumah. Toh dia sudah punya istri baru, pikirnya.

Istri baru Dulkemedun semakin asyik saja hidup dalam gelimang emas, harta, dan uang. Hampir tiap malam dia pergi ke pusat Kota berbelanja keperluan- tentu untuk dirinya sendiri- Entah kenapa, Dulkemedun tidak bisa berkutik di depan istri mudanya itu. Sampai pada akhirnya, Dulkemedun melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika istrinya adalah wanita keparat.

Dulkemedun jatuh…ya..dia jatuh.. Perlahan namun pasti perusahaan-perusahaannya yang telah dia bangun tersungkur ke jurang pailit. Harta dan dunia telah meninggalkannya perlahan demi perlahan. Menurut cerita dari ayah, beberapa bulan setelah kebangkrutan itu Jasad Dulkemedun terapung di sungai. Ya, semua orang hanya menerka-nerka apakah dia mati bunuh diri atau mati karena jatuh ke sungai, namun tetap saja semua menyimpulkan… sungguh kematian yang tidak wajar!

Siti menangis. Obet masih kecil dan tidak tahu harus menangis karena apa.

Siti punya keyakinan, Obet sesuai dengan cita-cita suaminya dulu, haarus jadi seorang tentara. Dan dia yakin, Obet akan jadi seorang tentara. Keyakinan itu bukan tanpa alasan, tubuh Obet jangkung, bahkan waktu kecil pun jangkungnya melebihi Siti. Ayahku bertutur, ketika Obet duduk di bangku SMP-lah siti Meninggal dunia karena terserang penyakit paru-paru.

Obet dijadikan anak angkat oleh Mastura, seorang lelaki miskin, seorang petani, duda tanpa anak. Hidup Obet waktu itu masih wajar seperti anak-anak SMP pada umumnya. Martura masih bisa menyekolahkan Obet sampai tamat SMP. Hingga pada akhirnya, keluarlah sebuah ucapan dari Mastura, kalau dirinya tidak bisa membiayai Obet melanjutkan sekolah. Sebagai seorang anak kampung Obet pun memutuskan untuk ikut saja dengan ayah angkatnya, pagi-pagi pergi ke sawah atau ke ladang, dan seminggu sekali pergi ke hutan mencari kayu bakar.

Pada suatu waktu, ada pengumuman dari Balai Desa, Pak Kades katanya membutuhkan seorang kemanan, sudah barang tentu orang-orang pada enggan menjadi hansip, kalau sekedar ikut-ikutan ronda malam sih mau-mau saja, namun kalau jadi hansip harus dipikir delapan pulh ribu kami mungkin. Atas saran dari ayah angkatnya, Obet pun memberanikan diri juga datang ke Balai Desa menemui pak Kades.

” Kamu masih muda, mau jadi Hansip, Obet?”

” Mau…!”

” Hmm… baguslah.. aku beritahu saja kamu, tidak sembarangan orang lho yang mau jadi hansip, buktinya orang lain pada menolak..”

” Iya..”

” Nah, mulai besok kamu akan mulai bertugas, jangan takut, aku akan buatkan seragam untukmu. Bahkan setiap bulan puasa ada tunjangan lho untuk para hansip dari bapak Bupati…”

” Siap, pak!”

Sejak saat itu, orang pun mulai mengenal Hansip Obet. Semua cerita di dunia ini memang terkesan melodramatik, empat bulan bertugas Hansip Obet telah berhasil menangkap seorang maling. Semakin kukuh saja kedudukannya di mata orang-orang, Hansip Obet memang Hansip Sejati, bukan Hansip Gadungan. Sejak saat itu pula, Seragam tidak mau lepas dari tubuhnya. Ke mana pun dia pergi sudah pasti akan memakai seragam Hansip itu. Nama Hansip Obet terkenal bukan hanya di sekitar Kampung Panghegar Manah, juga terkenal di kampung-kampung tetangga. Kalau ada acara hajatan, kenduri, atau apa pun di sanalah Hansip Obet ada. Jika ada orang yang membutuhkan bantuan, ingin menjemput paraji, Hansip Obet hadir di sana, dan terus terang meskipun pada waktu malam, bahkan dia sama sekali tidak perlu diupah oleh orang yang ditolongnya.

Tapi… perlu aku bicarakan pula, meskipun kemuliaan Hansip Obet itu terdengar ke mana-mana, namun jarang sekali anak-anak, pemuda, atau siapa pun yang memiliki cita-cita mejadi seorang Hansip seperti Hansip Obet. Yang sering terdengar adalah, akhir-akhir ini orang ramai-ramai ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil..Terus terang penghargaan kepada Hansip Obet hanya berupa ucapan-ucapan berupa keihklasannya semata.  Orang kurang mengerti, mungkin kecuali Haji Dulhamid, kalau Hansip Obet pun seorang manusia, membuthkan nasi, lauk-pauk, bahkan uang. Namun.. percayalah, Hansip Obet tidak akan berani meminta semua itu kepada kalian, karena dia bukan seorang pengemis atau peminta-minta, dia hanya seorang Hansip..

Catatan : Aku Tulis Cerita Ini ketika Orang-orang di Kampungku telah mulai kehilangan selera untuk menghargai posisi orang lain…


0 Tanggapan ke “Cerpen: Hansip Obet”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 67,114 hits

 

Juni 2009
M S S R K J S
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay