KONON menurut penuturan dari kakek, di kampungku pernah hidup seorang jago silat bernama Mang Bubun. Jika ditarik garis keturunan ke atas, antara aku dengan mang Bubun katanya masih ada ikatan keluarga. Ayah Ayah Kakek masih satu kakek dengannya. Pantas jika beliau aku sebut sebagai karuhun. Ya, orang Sunda menyebut leluhurnya demikian. Adakalanya di wilayah peri-peri seperti kampungku ini orang memang masih suka menyulut kemenyan di malam Jum’at, katanya untuk memberi sesuguh kepada karuhun mereka.
Dalam penuturan siapa pun, terutama orang-orang tua, orang-orang dulu sakti-sakti, ada yang bisa terbang hanya dengan menginjakkan kakinya di daun kelapa kemudian menghenntakkna kaki ke tanah lalu terbanglah pohon kelapa kemana dia suka. Ada pula cerita tentang orang yang bisa berubah wujud jadi harimau di setiap malam bulan purnama. Ya, bagi orang-orang logis seperti aku mungkin cerita ini hanya obrolan kecil di kedai kopi saja sebagai pelengkap getirnya kehidupan saat ini.
Dikatakan sakti, mang Bubun memang pandai bersilat, kecuali kebal terhadap senjata tajam, ucapannya pun setajam belati. Bagaimana tidak- meskipun tidak aku saksikan dengan mata kepala sendiri- pernah ada kejadian seorang maling nakal mencuri kambingnya, lalu tertangkaplah maling tersebut dengan tidak mau mengaku kalau dirinya memang telah mencuri kambing mang Bubun. Karuhunku, mang Bubun tidak ambil pusing, dia langsung menyembur orang itu dengan air mentah tepat mengena di wajahnya, dan aneh… orang itu tiba-tiba mengucapkan kata-kata sederhana meluncur deras ,dia mengaku kalau dirinya memang telah mencuri kambing mang Bubun. Maka, dengan sikap bijak orang-orang dulu, nang Bubun menampar pipi si maling hingga- kata cerita- maling tersebut bergulingan tiada ampun.
Di kedai Ujang, akhir-akhir ini orang sedang sibuk membicarakan siapakah yang akan jadi presiden, mana yang harus dipilih, dan terus terang sambil menyeruput kopi hangat dengan menghisap rokok kretek mereka begitu asyik sekali membicarakannya. Kedai Ujang memang strategis letaknya, berada di ujung jalan dimana para tukang ojeg dan para sopir truk mangkal di sana. Lebih dari itu pelayan di Kedai Ujang adalah Murni, seorang gadis sintal lulusan sekolah menengah pertama. Sempat ditawari oleh pak RW untuk melanjutkan sekolah ke kota, namun dengan bahasa sederhana dia menjawab, saya hanya orang kampung, sebentar lagi juga dinikahkan oleh ayah dengan Kang Daman. Titik.
Mengenai meninggalnya mang Bubun beberapa puluh tahun ke belakang pernah dibicarakan oleh orang-orang di kedai Ujang. Ada yang memiliki anggapan, mang Bubun -sebagai orang sakti- tidak meninggal, melainkan dibawa ke alam kayangan, ada juga yang mengatakan mang Bubun dikerjakan di alam sana oleh dedemit penghuni gunung Arca. Beragam memang orang membicarakan mang Bubun. Rupanya lembaran yang telah hilang itu kini ramai kembali dibicarakan menyelingi ramainya orang membicarakan siapa calon presiden?
Di selatan kampungku tertata dengan rapi hamparan pesawahan. Musim tanam sedang berlangsung, bukan main indahnya. Seorang penulis atau pembaca amatir seperti saya dan kamu pun sudah pasti bisa menuliskan atau melukiskannya molek dan cantiknya kampungku di waktu pagi dan sore. Beberapa petani membuat gubuk sederhana di pinggir sawahnya, dan yang akan membuat kamu iri adalah, di pinggir kampungku, di jalan sempit menuju indahnya hamparan pesawahan ada sebuah lumbung padi di sana. Konon lumbung itu dibuat oleh mang Bubun.
Lumbung padi berupa bangunan sederhana ini dijadikan tempat penyimpanan padi massal, sekali lagi meskipun sederhana tapi ukurannya sangat besar, bisa menyimpan tiga sampai lima ton padi. Terbuat dari bilik, dan atapnya berupa rumbia. Jika malam telah tiba, orang segan untuk lewat apalagi berteduh di depan lumbung padi itu. Katanya suka merinding. Ya, pernah menurut riwayat dari kakek, tiga tahun lalu seorang pemuda mencoba mabuk-mabukkan di sana, lalu meninggal tanpa sebab, padahal mabuknya tidak terlalu berat. Seorang anak kecil misalkan balita, jika lewat lumbung padi itu pasti akan menunjuk sesuatu seolah di depan lumbung atau di atapnya ada seseorang yang sedang duduk sambil tersenyum ke arah anak itu.
Orang-orang kampung, di musim tanam atau di musim panen akan menyulut kemenyan di depan lumbung padi. Bukan hanya itu, ada juga yang menaruh nasi tumpeng, lengkap dengan lalawuh (aneka penganan pelengkap)-nya. Mang Kardi malah sering membuat rujak asam jawa. Beberapa pohon hanjuang ditanam disana.
Pernah ada seseorang, sekitar sepuluh tahun ke belakang, tepat ketika aku duduk di bangku SMA, mau menghantam prilaku orang-orang kampung dengan alasan bertolak belakang denganajaran Murni Islam. Demi menyikapi niat -menurut orang kampung niat jahat- orang itu, orang-orang kampung berkeluh kesah, katanya janganlah usik-usik ajaran Islam dengan ajaran baru yang dibawa oleh orang itu. Mereka menafsirkan, justru ajaran ISlam murni lah yang dianut oleh mereka, ajaran yang disebarkan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati. Dengan sendirinya orang dengan janggut panjang dan lebat itupun bergegas meninggalkan kampung halaman.
Dalam acara kenduri, selalu saja disebut nama mang Bubun. Kalau ada acara tahlilan pun orang sering menyebut-namanya, mudah-mudahan amal baiknya diterima oleh Allah. Ya, mang Bubun karuhun kami itu selalu disebut-sebut namanya.
Hingga pada suatu hari, ada sekelompok orang datang ke kampungku. Konon mereka akan mebuat sebuah petilasan dimana di sana akan di bangun sebuah gedung dan akan ditulusi, Makam Karamat Mang Bubun. Pak Dusun hanya manggut-manggut saja demi mendengar hasrat dan keinginan kelompok orang itu. Hanya pak kyai saja yang sempat mengernyitkan keningnya dengan satu alasan jangan sakiti arwah mang Bubun.
Meskipun dengan perdebatan serius, waktu berlalu begitu saja, namun bangunan itupun didirikan. Tepat dipinggir lumbung padi. Orang ramailah ke sana, mengunjungi bangunan baru, hinggal lumbung padi usang itupun mulai kurang teramawat dan terabaikan. Untuk masuk ke gedung bertulisakan makan Mang Bubun ini orang dikenakan biaya masuk. Yang berdatangan bukan hanya penduduk asli juga datang dari beberapa daerah. Juru kuncinya adalah orang berjanggut putih dengan baju serba hitam.
Hingga datanglah suatu saat, kemarau datang menerjang, air kering, pohon-pohon padi seperti terbakar, orang menanam sayuran pun jelek hasilnya. Semuanya mulai sadar, lumbung padi itu kini telah kosong dari padi karena setiap musim panen tidak diisi oleh bulir-bulir padi. Pageblug tiba, anak-anak tersrang mencret tidak berkesudahan, pagi sakit siangnya meninggal, malam sakit, paginya meninggal. Suami-suami banyak yang cerai dengan istrinya, minggat begitu saja, ternak-ternak di belakang rumah banyak yang tewas.
” Kita telah menyakiti hati leluhur kita…” Begitu bisik kakek di telingaku.
Benar, yang aku saksikan sekarang adalah, bukan lagi hamparan pesawahan, melainkan hamparan rumputan kering, tanah belah, dan kegersangan. Lebih menyakitkan lagi, orang-orang pada lari ke kota-kota besar meninggalkan lahan garapan untuk mencari pekerjaan, sekolah agama pun diabaikan karena anak-anak kecil lebih senang menjadi peminta-minta di lampu merah dan terminal. Kedai Ujang sepi, hampir tidak ada pengunjung di sana. Murni, pelayan kedai Ujang kini lebih sering duduk di pinggir terminal bersama beberapa wanita lain , rambutnya telah dicat warna coklat, di genggamannya terselip sebuah ponsel mewah, dan dia jarang pulang ke rumah.





kehidupan di desa memang sedrhana tapi juga rumit!