Akhirnya sampai juga saya di Kota Pelabuan ini. Setelah dua jam melewati jalan panjang dan berliku di sela-sela bebukitan dan lembah berlatarkan pohon-pohon ketela, sudah barang tentu menghasilkan satu simpulan yang mudah dimengerti orang tolol sekalipun. Lelah!
Kota pelabuan ini masih sama seperti dulu, sebuah dermaga dimana para nelayan ketika sore tiba telah meramaikannya, pasar ikan dimana begitu akrab dengan kita bau kurang sedap, tapi saya lihat orang-orang di sana nyaman saja makan, minum, menyeruput kopi panas, merokok dan mengobrol seolah tidak ada bau amis dan bau bangkai ikan. Jalan dari jembatan sampai ke dermaga memang lurus masih sama seperti tiga tahun lalu, hanya saja karena telah terjadi pergantian pimpinan daerah , kondisinya sudah agak dibenahi dimana di tengah-tengah jalan dua jalur ini ditanami beberapa tanaman seperti bunga-bunga, pohon palem, dan dipasang juga tiang-tiang lampu warna-warni.
Sore menyambut kedatanganku di kota pelabuan ini. Mendung menjadi salah satu alasan bahwa saya perlu kecewa. Di ufuk barat rupanya tidak akan terlihat lagi pemadangan seperti tiga tahun ke belakang, sudah tidak disangsikan saya tidak akan melihat lagi lembayung merah dan beberapa [erahu nelayan berlayar dilatari oleh matahari tenggelam seperti tiga tahun lalu.
Kamu tentu tidak tahu, tiga tahun lalu , Muthia dan saya saling berpegangan tangan di kota pelabuan ini, menyusuri pinggir-pinggir jalan tepat pukul 05.00 sore. Para pedagang kaki lima menjadi salah satu latar tersendiri berbaur dengan lalu-lalang orang-orang. Saya, bahkan kamu sudah tentu tidak akan bisa memahami dengan benar dan tepat, kenapa orang-orang suka sekali dengan suasana keramaian di kota pelabuan ini. Tidak akan tahu dan memang tidak perlu tahu. Muthia memegang erat tanganku, ketika kami tiba di dermaga. Perahu-perahu kecil bergoyang karena terpaan ombak, terdengar teriakkan para nelayan, bisa dikatakan cukup ramah dengan harapan, karena alam memberi pesan kalau tangkapan ikan mereka malam ini bisa lebih. Lembayung mulai terlukis di ufuk barat… tiga tahun lalu ketika tangan Muthia menggenggam erat tanganku, seperti tidak ingin melepaskan. Kamu tidak tahu, tiga tahun lalu!
Sore ini, dengan bahasa sederhana bisa saya simpulkan: Perjalanan panjang dan berliku ini berakhir pada kesendirian…
“ Datanglah ke kota pelabuhan hari Sabtu..” Begitu pesan singkat yang saya terima di facebook. Pengirimnya adalah seorang wanita yang pernah mempecundangi saya dari berbagai arah.. Muthia. Logika seorang lelaki terkapar begitu saja ketika pesan singkat dengan pengirim seorang wanita yang pernah menggenggam erat tanganku tiga tahun lalu itu. Kamu cemburu?
Padahal, bukankah Muthia hari ini telah bersuami? Sudah tidak pantas lagi dimiliki? Sudah tidak pantas lagi mengirimkan pesan dan harapan pertemuan? Sudah tidak pantas lagi melakukan kepantasan? Kamu sebagai seorang wanita sudah pasti mengerti, terlebih di hati kamu pun ada seorang lelaki yang paling kamu sayangi khan?
Perlahan kupulihkan kembali logikaku. Maka intinya dalam hidup ini harus tetap dipenuhi dengan baik sangka, saya baca saja pesan itu sebagai sebuah simbol kemanusiaan. Manusia sudah pasti membutuhkan pertemuan, membutuhkan kehadiran, dan membutuhkan masa lalu.
Di pantai pasir panjang kulihat tapak-tapak kaki berserakan sebanding dengan banyaknya sampah-sampah plastik. Kesendirian menyelimutiku padahal sore ini saya akan menemui seorang wanita yang pernah membenamkan kepalanya di dadaku. Ya, kamu tidak tahu… di pantai pasir panjang ini kami pernah saling kejar, perang pasir laut, terjun menerjang besarnya ombak dengan tetap saling berpegang erat… kamu tidak tahu itu. Muthia dan saya pernah saling berbisik; KAMU BAIK HATI!.
Saya ikuti saja tapak-tapak kaki berserakan itu dengan langkah mengikitu helaan nafas. Lelaki cengeng ini tidak pernah melukiskan keindahan dengan bahasa-bahasa puitis, terus terang perlu kamu pahami, saya kurang senang dengan bahasa-bahasa membusa, puitis dan hiperbolik. Kecintaan saya hanya tehadap bahasa-bahasa sederhana saja yang bisa dengan mudah dicerna oleh siapa pun.
Saya lihat di bibir pantai, seorang wanita berdiri memesona menatap laut, ya… saya sudah mengenal sosok dan cara berdiri wanita berjilbab putih ini. Bukan… saya yakin dia bukan kamu, kamu bukan siapa-siapa di mata saya karena saya pun tahu persis kamu menganggap saya bukan apa-apa di mata kamu.
“ Muthia….!” Kamu tidak perlu iri, saya memang selalu memanggil nama itu.
Jarak semakin dekat. Semakin yakin pula saya. Dia Memang Muthia.
“ Muth…!” Canggung saya memanggil nama itu.
Menengok, dan terciptalah satu senyum dipaksakan, mata berkaca-kaca, saya tahu itu… saya tahu itu… tidak kah kamu mengerti?! Dia sedang sedih campur bahagia? Deru ombak berbaur dengan sura angin. Orang-orang mulai meninggalkan pantai karena cuaca memang agak kurang bersahabat.
“ Kang…!” Setengah berbisik.
Rasanya pantas sekali kamu marah kepada saya untuk hal yang satu ini. Seorang lelaki kembali berpegangan tangan begitu erat , duduk di bibir pantai, dengan seorang wanita yang telah bersuami hanya karena tersangkut di kenangan masa lalu. Dan dia , Muthia cantikku, membenamkan kepala di dadaku. Lama sekali… dan hangat karena air mata.
Satu penjelasan perlu di ketahui. Sebulan ini ada perselisihan antara Muthia dan suamianya. Sebuah alasan yang terlalu sederhana memang, Muthia tahu jika suaminya selalu menyembunyikan masa lalunya ketika diminta; apakah punya Muthia lain sebelum menikah dengannya ketika Muthia selalu menceritakan kecintaannya terhadap saya tidak akan tergantikan oleh siapa pun. Klise!!! Kamu bisa saja mengatakan demikian, tapi tidakkah itu terjadi pada dirimu? Bukankah malam tadi kamu menceritakan itu kepadaku, kalau “cintaku kepada kekasih pertamaku tidak dan sulit untuk tergantikan…!?”
Seorang suami memang pencemburu. Hal itu bisa saja tejadi pada diriku.
Muthia menceritakan semuanya kepadaku tanpa rahasia. Sama halnya seperti kamu menceritakan masa lalu kamu kepadaku tanpa rahasia, tapi jelas sekali berbeda… sungguh berbeda. Muthia menceritakan semua itu demi aku, sementara kamu menceritakannya demi diri kamu sendiri.. saya pahami itu. Dan tidak ada yang perlu diperdebatkan karena kasihan sekali saya pada Muthia.
Tolonglah pahami saya… Maafkan saya…cinta saya memang telah terkucurkan untuk Muthia.. selamanya… meskipun saya tidak mungkin memilikinya lagi.
Muthia membenamkan kepalanya di dadaku, hangat dengan linang air mata. Ketika debur ombak sudah tidak lagi diterjang oleh anak-anak pantai.





cerpennya yahud-yahuud
knp gak dibukukan saja atuh?
saya punya kenalan penerbit
Insya Allah pada akhirnya nanti…