Sebait syair- bahkan setengah bait- lagu Bimbo benar-benar menusuk ingatanku. ” Setiap Akhir Ramadhan, Hamba Rindu Ramadhan Lagi…” Ya, padahal Ramadhan baru beberapa bulan ke depan lagi, tapi entah kenapa kerinduanku kepada bulan suci ini melebihi rinduku kepada seorang bidadari sekalipun. Aku bisa jadi malah akan melengos begitu saja terhadap kecantikan seorang wanita jika hendak dibandingkannya dengan kerinduanku terhadap bulan Ramadhan ini.
Ya, aku harus jujur kepada kalian, kerinduanku sebenarnya kepada masa kecil di bulan Ramadhan. Orang kampung di awal Ramadhan biasa menyembelih ayam, membuat opor, bahkan ada beberapa tetanggaku yang membuat ketupat. Karena ikatan paguyuban masih kental dan teramat kuat, masing-masing orang saling memberi penganan buatan mereka kepada tetangga-tetangganya. Nenek, biasa membuat logana dari beras ketan. Perlu kalian ketahui, aku -sejak kecil- tinggal bersama kakek dan nenek. Penting kalian ketahui juga, entah berapa puluh atau ribu bahkan juta kasih sayang yang telah di berikan oleh mendiang kakek dan nenekku kepada manusia pecinta dongeng ini.
Sorenya, setelah aku dan teman-teman membunuh siang dengan main kucing-kucingan di depan mesjid besar dekat sekolah agama, aku dan teman-teman bergegas memburu ke arah Timur. Di sebelah Timur kampungku ada sebuah selokan cukup besar dengan air jernih, ada banyak udang dan ikan-ikan kecil di sana, julung beriring juga ada. Kalian sudah tentu mengenal remis, ya di sanalah gudangnya. Entah mengapa Tuhan menganugrahkan segenggam mutiara dari surga ini ke kampung tercintaku. Tanpa malu, kami membuka baju, telanjang bulat. Sayang sekali, kamera digital ataupun hape belum ada waktu itu. Orang yang memiliki tustel seperti kodak saja bisa dikatakan orang paling kaya di kampungku.
Hampir tidak ditemukan kotoran manusia, atau limbah rumah tangga di sana. Tahun 80-an, orang-orang masih memuliakan alam, masih menghormati air, dan masih segan kepada tanah yang mereka injak. Kami mandi di sana dalam rangka KURAMAS ( Keramas), ya dalam tradisi Sunda sebelum memasuki Bulan Suci Ramadhan, orang biasanya mandi dulu sambil keramas dengan shampo.. wahhh… waktu shampo yang paling kami gemari adalah shampo merek ”SWAN” cap angsa. Bentuknya serbuk, harganya hanya 10 rupiah saja satu sachet.
Setelah mandi? biasanya aku langsung pulang dan sudah pasti akan diberondong oleh pertanyaan dari mendiang kakek. Sudah sholat ashar? Sudah makan? Kenapa bajumu basah? Mandi di selokan lagi ya? Jangan ikut-ikutan main dengan anak nakal seperti si Atok atau si Atip! Dan bla..bla..bla… Jika aku amati sekarang, jarang sekali orang tua yang bertanya kepada anaknya; Sudah Sholat Belum??? Padahal dulu sekali orangtua meskipun bisa kalian sebut kampungan, tapi pola pikirnya mendalam dan perhatiannya kepada dalam jiwa seorang anak. Beda sekali dengan orang sekarang, orangtua akan malu jika anaknya belum memiliki sebuah ponsel teranyar dengan alasan kasihan sama anak.. ya, memang tuntutan zaman permasalahannya.
Malamnya, di malam pertama Ramadhan, aku diajak kakek ke mesjid untuk mengikuti sholat tarawih. Biasa, mesjid penuh sampai emper, teman-teman sepermainan telah menunggu di sana; Jajat, Andri, Wawan, Iwan, Fikri, Elan, Sofyan, Agus, Wahyu, Peot, dan Dirja. Lain kali akan aku ceritakan tentang mereka kepada kalian.
Rupanya perjalanan kehidupan harus aku akhiri sampai di sini saja..
Komentar