Arsip untuk Juni, 2009

26
Jun
09

Aporisma Lelaki Patah

Walau mata berat, kepala pening, hati berantakan aku tulis juga aporisma sableng ini. Biar orang tahu, kalau matahari telah tenggelam, segalanya kelam, peswahan pun berangsur menjadi suram, apalagi seorang wanita yang benar-benar aku cintai memberi tahu kalau besok lelakinya akan datang.

Jujur, aku memang terlambat mengungkapkan perasaan ini kepada wanita itu. Bukan terlambat karena sengaja, kecuali karena memang lelaki ini sedang menunggu waktu yang tepat untuk membeberkan perasaannya. Pada akhirnya, lelaki ini patah juga! Obat apa yang bisa menyembuhkan dan menyambungkannya kembali. Suasananya terus menjadi penguk.

Maaf, demi kebaikan wanita itu dan hubungannya dengan lelaki itu telah kubulatkan tekad, menjauhinya…. Selamanya. Tak akan kusapa lagi dia dengan kata-kata cengeng seperti dulu…

Ingatkan jika aku salah! amarah sedang merenggut akal sehatku, lalu apapun kutendang sambil bersarkasme ria: KEPARAT, JAHANNAM, BULLSHIT, tentu… Tentu saja telunjuk ini aku jentikkan pada batang hidung lelaki ini…

25
Jun
09

Sahabat-sahabat…

Tiba-tiba ingatanku kembali ke masa kecil dulu. Kehidupan memang nyaris tanpa keluh- kesah. Juga, di luar sana orang tidak terdengar menggerutu karena naiknya harga, bisa kamu kenang juga dengan tenang sambil menikmati secangkir teh hangat kalau dulu uang receh 5 rupiah, 10 rupiah, 25 rupiah, dan 50 rupiah masih sanggup membeli kerupuk, bubur ayam, shampo, bahkan sebatang rokok.

Kehidupan semasa kecil dulu, jelas tidak bisa dihapus ketika mengenang kembali arti hadirnya beberapa sahabat dalam kehidupan kitu. Mereka hadir ketika kebahagiaan menerjang dan tampil sebagai teman, mereka ada ketika hidup sedang di jejali oleh segudang kesedihan dan hadir sebagai motivator hidup..

Sahabatku, Wahyu, Wawan, Agus, Emen, Dll sudah delapan tahun ini tidak pernah bertemu kembali. Kerinduanku sudah tentu adalah terhadap permainan gobak sodor selepas sekolah agama, atau perang-perangan sehabis mengikuti pengajian di mesjid. Ya… Entah kapan mereka akan kembali ke kampung halaman..

24
Jun
09

Sono Ka Anjeun…

Ilaharna rumaja kampung, dina wanci harieun beungeut, saba’da ngalakonan Sholat Maghrib sok arulin ka mana mendi. Nya kuring ge teu eleh deet ku rumaja nu sejenna. Saba’da sholat terus cuh-cih hibut teu pantes.

Dina manah geus pancuh. Duh panutan manah bangbaluh kalbu. Kuring teh sono ka anjeun. Da jigana, lamun mah manehna teh diibaratkeun hiji kadaharan nu aya hareupeun kuring, geus pasti… Didahar kalayan ponyo bari kerep. Nu lian moal ka bagean. Da dunya teh diciptakeun keur urang duaan, anjeun jeung kuring…

24
Jun
09

Cerpen: Rintihan Lelaki ini

Pernahkah kamu mendengar seorang lelaki merintih karena tersakiti oleh perasaannya sendiri, kemudian menuliskannya ke dalam sebuah cerita? Sebaiknya simak saja cerita ini.

Kelak, seorang anak kecil ini akan menjadi wanita paling cantik di desa ini. Begitu bisik lelaki ini demi melihat raut dan gurat cantik tersurat di wajah seorang wanita berumur 12 tahun. Nunuy… Ya demikianlah orang-orang menyebut.

Kamu bisa menyebut lelaki ini sebagai seorang kurang ajar, phedopilia, pengagum cinta anak kecil di usia 19 tahun. Sebutan itu memang laik disematkan kepada seorang guru yang mengajar wanita kecil ini beretika. Namun, tidak perlulah kamu berlebihan memandang ketidak wajaran lelaki ini. Lelaki ini toh lebih normal dibanding kaum gay dan lesbi di luar sana.

Setiap gerak wanita kecil ini kuawasi, detil, tidak terlepas dari mata lelaki ini. Dan terus terang, cinta telah bersemi dalam diri, walaupun tidak terbersit untuk merambah kepada tindakan asusila. Dalam kondisi ketika seorang guru berusaha menghindari bahkan membunuh rasa cinta ini kepada seorang wanita kecil, tidak mungkinlah wanita kecil mengerti apa itu cinta?

Lelaki ini semakin digerogoti oleh rasa sesak akan sebuah pengakuan. Jika kejujuran itu terbuka, sudah pasti rmailah sekolah, sewot juga bukan hanya orangtua si wanita, bisa jadi orangtua lelaki ini pun akan dibuat cemas. Akhirnya bisa diterka, lelaki ini akan dibawa ke ahli jiwa, dites kejiwaannya, dan isu yang akan berkelanjutan adalah: seorang pedhopilia mengajar di sebuah sekolah dasar di kampung ‘B’. Begitu mengerikan. Maka, biarlah perasaan ini ditahan oleh lelaki ini.

enam tahun berlalu, lelaki ini tetap pada keteguhan hatinya. Masih tetap pada keyakinan cintanya kepada wanita itu. Dia telah tumbuh besar, menjadi wanita sempurna, kecantikannya ada dalam sikap sahaja dan kesederhanaan bertutur sapa. Sama sekali belum juga lelaki ini membongkar perasaannya.

Sampai pada akhirnya, lelaki ini, meskipun dengan ragu dan gamang akan sikapnya. mengungkapkan juga rasa cintanya. Tentang ketulusannya, mengajak makan malam si wanita.

Ya, benar kata seorang teman, kadangkala kejjujuran itu begitu dan sangat menyakitkan. Lelaki ini telah terlambat mengungkapkan cinta kepada wanita itu. Dia telah menggenapkan cintanya kepada lelaki lain, dan kelak tidak akan pernah untuk menyintai siapa pun kecuali terhadap si lelaki iti.

Kamu tentu tidak akan bisa membedakan mana airmata mana air hujan karena lelaki ini sedang menangis di tengah guyuran hujan. Kini lelaki ini berjalan, hampa, tanpa rasa meskipun beban untuk tetap mencintai wanita itu semakin berat dirasakan.

Lihatlah, lelaki ini sekarang telah menjadi manusia melankolis yang hanya mampu menggugurkan rasa lewat tulisan-tulisannya. Setiap pukul 13.00, di lesehan yang tidak jauh dari kampung ”B”, lelaki ini sering duduk sambil menulis dalam kesendirian… Kelak kamu akan menemuinya…

24
Jun
09

Ketika Lelaki Ini Menjadi Pengemis

Temanku mungkin lebih parah dari nasib yang aku alami saat ini. Dia sering mendendangkan sebait syair :” aku selalu berusaha mencari cinta di antara rapat dan wanginya bunga-bunga, tapi selalu saja kutemui cinta di antara derasnya air hujan…”

Kembali, lelaki ini telah menjadi seonggok tanah kering dan pengemis tolol, merengek-rengek di depan seorang wanita, mengharap cintanya kepada seorang wanita yang telah menggenapkan cintanya kepada orang lain.

Ya, lelaki ini memang berusaha untuk tampil dewasa, mencoba untuk mengerti, namun terkadang kedewasaan bukan dewa penolong ketika lelaki ini sedang melebur dalam kepedihan dan dalam rasa sakitnya karena teriris cinta. Pecah dan berantakan sebuah perasaan…

Kesadaran lelaki ini selalu terarah pada sebuah suasana, ketika terbangun… Lelaki ini mulai sadar, sudah lima kali tertusuk oleh tajamnya luka cinta.

Maka, lelaki ini pun tellah menyimpulkan, sampai kapanpun… Lelaki ini akan tetap menjadi pengemis… Mengiba dalam igauan, mengharap dalam lamunan. Kalau wanita yang telah menggenapkan cintanya kepada orang lain, kelak akan menyintai lelaki ini.

Andai hal itu tidak terjadi? Tidak apa… Lelaki ini melenggang dengan rikuh di derasnya guyuran air hukan sambil menahan luka di sekujur tubuhnya… Dengan satu alasan, lelaki ini memang telah berusaha menggenapkan seluruh cintanya kepada wanita itu.

Tidakkah kamu mendengarnya?

24
Jun
09

Nuy, Pagi Ini Kau Cantik Sekali

Hujan deras semalam mengguyur pelataran.
Di antara riiuhnya semilir angin dan cicit emprit, kau lebih kemilau, Nuy…
Pagi ini…
Wajah cantikmu ibarat bidadari terlihat manja di antara hamparan pesawahan basah.
Kuberdiri di seberang parit kecil ini sambil mengamati…
Betapa, pagi ini kau begitu cantik, Nuy..

20
Jun
09

Perjalanan Kehidupan: Padahal Bulan Ramadlan Masih Beberapa Bulan Ke Depan

Sebait syair- bahkan setengah bait- lagu Bimbo benar-benar menusuk ingatanku. ” Setiap Akhir Ramadhan, Hamba Rindu Ramadhan Lagi…” Ya, padahal Ramadhan baru beberapa bulan ke depan lagi, tapi entah kenapa kerinduanku kepada bulan suci ini melebihi rinduku kepada seorang bidadari sekalipun. Aku bisa jadi malah akan melengos begitu saja terhadap kecantikan seorang wanita jika hendak dibandingkannya dengan kerinduanku terhadap bulan Ramadhan ini.

Ya, aku harus jujur kepada kalian, kerinduanku sebenarnya kepada masa kecil di bulan Ramadhan. Orang kampung di awal Ramadhan biasa menyembelih ayam, membuat opor, bahkan ada beberapa tetanggaku yang membuat ketupat. Karena ikatan paguyuban masih kental dan teramat kuat, masing-masing orang saling memberi penganan buatan mereka kepada tetangga-tetangganya. Nenek, biasa membuat logana dari beras ketan. Perlu kalian ketahui, aku -sejak kecil- tinggal bersama kakek dan nenek. Penting kalian ketahui juga, entah berapa puluh atau ribu bahkan juta kasih sayang yang telah di berikan oleh mendiang kakek dan nenekku kepada manusia pecinta dongeng ini.

Sorenya, setelah aku dan teman-teman membunuh siang dengan main kucing-kucingan di depan mesjid besar dekat sekolah agama, aku dan teman-teman bergegas memburu ke arah Timur. Di sebelah Timur kampungku ada sebuah selokan cukup besar dengan air jernih, ada banyak udang dan ikan-ikan kecil di sana, julung beriring juga ada. Kalian sudah tentu mengenal remis, ya di sanalah gudangnya. Entah mengapa Tuhan menganugrahkan segenggam mutiara dari surga ini ke kampung tercintaku. Tanpa malu, kami membuka baju, telanjang bulat. Sayang sekali, kamera digital ataupun hape belum ada waktu itu. Orang yang memiliki tustel seperti kodak saja bisa dikatakan orang paling kaya di kampungku.

Hampir tidak ditemukan kotoran manusia, atau limbah rumah tangga di sana. Tahun 80-an, orang-orang masih memuliakan alam, masih menghormati air, dan masih segan kepada tanah yang mereka injak. Kami mandi di sana dalam rangka KURAMAS ( Keramas), ya dalam tradisi Sunda sebelum memasuki Bulan Suci Ramadhan, orang biasanya mandi dulu sambil keramas dengan shampo.. wahhh… waktu shampo yang paling kami gemari adalah shampo merek ”SWAN” cap angsa. Bentuknya serbuk, harganya hanya 10 rupiah saja satu sachet.

Setelah mandi? biasanya aku langsung pulang dan sudah pasti akan diberondong oleh pertanyaan dari mendiang kakek. Sudah sholat ashar? Sudah makan? Kenapa bajumu basah? Mandi di selokan lagi ya? Jangan ikut-ikutan main dengan anak nakal seperti si Atok atau si Atip! Dan bla..bla..bla… Jika aku amati sekarang, jarang sekali orang tua yang bertanya kepada anaknya; Sudah Sholat Belum??? Padahal dulu sekali orangtua meskipun bisa kalian sebut kampungan, tapi pola pikirnya mendalam dan perhatiannya kepada dalam jiwa seorang anak. Beda sekali dengan orang sekarang, orangtua akan malu jika anaknya belum memiliki sebuah ponsel teranyar dengan alasan kasihan sama anak.. ya, memang tuntutan zaman permasalahannya.

Malamnya, di malam pertama Ramadhan, aku diajak kakek ke mesjid untuk mengikuti sholat tarawih. Biasa, mesjid penuh sampai emper, teman-teman sepermainan telah menunggu di sana; Jajat, Andri, Wawan, Iwan, Fikri, Elan, Sofyan, Agus, Wahyu, Peot, dan Dirja. Lain kali akan aku ceritakan tentang mereka kepada kalian.

Rupanya perjalanan kehidupan harus aku akhiri sampai di sini saja..

20
Jun
09

Sketsa: Dapen

Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah buku Budi Darma berjudul Orang-orang Bloomington. jelas sekali, jika aku hendak membandingkan dengan tulisan beliau alangkah jauh berbeda terlebih dari segi kekuatan tema. Tapi, biar kucoba untuk menyuguhkan sebuah tulisan berbentuk sketsa, hanya gambaran-gambaran pendek, padat, dan umum dari drama kehidupan ini.

Sengaja, sketsa ini aku ambil dari kehidupan orang-orang di kampung halamanku sendiri. Niatnya bukan ingin melakukan manuver gosip, kecuali ingin menghadirkan sisi kehidupan yang memang pantas kita potret dengan tulisan sekalipun.

Tetanggaku bernama Dapen. Seorang pekerja serabutan namun ulet. Aku tidak pernah melihat secuilpun sikap malas darinya. Pagi-pagi sudah pergi ke sawah, kadang ke tempat kerjanya, sebuah penggilingan padi. Ya, sejak mekanisasi masuk ke kampungku, lesung dan alu posisinya mulai dikalahkan oleh mesin-mesin penggilingan.

Dapen punya anak lima dari dua istri. Hanya saja, meskipun demikian, sejak lima bulan ke belakang. Ke-dua istrinya tidak ada di rumah. Satu memang sudah cerai, satu lagi menjadi TKW di Saudi Arabia sana.

Mengenai kehidupan orang kampung, jangan ditanya masalah komputer, hp Blackberry, Facebook, atau apalah yang berbau teknologi. Setiap pagi hanya diisi oleh nonton televisi, tapi jujur saja, orang kampung pun tontonannya sudah debat politik. Sarapan dengan ikan asin. Dan anak-anaknya, walau masih kecil, tidak pernah meminta lebih kepada ayahnya. Mari coba bandingkan dengan anak kalian, bukan kah minggu lalu anak kalian sempat meminta dibelikan sebuah ponsel bermerek Sony Ericsson tipe K?

Dapen tidak pernah mengeluh dalam hidupnya. Suatu hari aku tanya dia, hal apa yang menjadi lantaran tidak pernah ada kelihan dalam hidupnya? Jawabnya ringan dan sederhana.

” Merasa cukup!”

Hhh… Sketsa aku akhiri sampai disini. Besok atau lusa akan aku tulis lagi tentang orang-orang di kampungku. Hal lain yang perlu kalian ketahui, nama dari mereka adalah nama julukan kesehariannya. Hmmm…

19
Jun
09

Cerpen: Hansip Obet

Kalau ditanya siapa orang paling lucu di Kampung Panghegar Manah? Semua orang akan mengarahkan telunjuknya kepada lelaki berwajah licin seperti lilin, hidung mancung seperti bule, kepala cepak seperti tentara, postur tubuh jangkung kecil seperti tiang telepon, dialah Hansip Obet. Semua orang di Kampung Panghegar Manah mengenal benar sosok lelaki jangkung ini.

Aktivitas kesehariannya hanya duduk-duduk di pos ronda, membawa alat pemukul berwarna hitam, pastilah kalian tahu alat seperti ini sering dipakai oleh satpam-satpam itu, apalagi kalau di rumah kalian memiliki satpam penjaga. Orang kadang tidak mengerti, kok bisa ya seorang manusia duduk dari pukul delapan hingga menjelang dhuhur di pos ronda tanpa beridir-beridiri? Bahkan tanpa aktivitas rahang sedikitpun, maksudku tidak berbicara. Mengenai kopi dan rokok? Syukurlah di dekat pos ronda itu tinggal Haji Dulhamid, keperluan apa pun yang dibutuhkan Hansip Obet disediakan olehnya. Ya, kalian memang sudah bisa menyimpulkan, rumah Haji Dulhamid yang dipinggir jalan itu besarnya bukan kepalang, namun karena orang kampung tidak perlu lah memelihara anjing Herder ataupun satpam penjaga rumah. Setidaknya, adanya Hansip Obet bisa mengganti posisi anjing dan satpam.
Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Hansip Obet’

16
Jun
09

Cerpen: Mang Bubun

KONON menurut penuturan dari kakek, di kampungku pernah hidup seorang jago silat bernama Mang Bubun. Jika ditarik garis keturunan ke atas, antara aku dengan mang Bubun katanya masih ada ikatan keluarga. Ayah Ayah Kakek masih  satu kakek dengannya. Pantas jika beliau aku sebut sebagai karuhun. Ya, orang Sunda menyebut leluhurnya demikian. Adakalanya di wilayah peri-peri seperti kampungku ini orang memang masih suka menyulut kemenyan di malam Jum’at, katanya untuk memberi sesuguh kepada karuhun mereka.

Dalam penuturan siapa pun, terutama orang-orang tua, orang-orang dulu sakti-sakti, ada yang bisa terbang hanya dengan menginjakkan kakinya di daun kelapa kemudian menghenntakkna kaki ke tanah lalu terbanglah pohon kelapa kemana dia suka. Ada pula cerita tentang orang yang bisa berubah wujud jadi harimau di setiap malam bulan purnama. Ya, bagi orang-orang logis seperti aku mungkin cerita ini hanya obrolan kecil di kedai kopi saja sebagai pelengkap getirnya kehidupan saat ini.
Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Mang Bubun’

12
Jun
09

Cerpen : Lelaki Ini…

Sudut-sudut kampung ketika senjakala terasa lebih akrab denganku. Tepatnya kehadiranku disambut oleh udara hangat, semilir angin senja, dan obrolan serta celoteh emprit di sawah. Penat terasa hidup ini setelah seharian dijejali dengan aneka persoalan hidup. Dan yang paling berat- ya, bisa saya jelaskan kepada Kamu- adalah ketika di meja kerjaku tergeletak sebuah undangan pernikahan. Kamu sudah tentu tahu, manusia bukan sendal jepit, diinjak dan dijepit pun diam tanpa perlawanan, ya.. karena memang dia telah tahu tugas dan kewajibannya.

Lalu,ketika yang tergeletak di meja kerjaku itu adalah sebuah undangan pernikahan seorang wanita yang pernah memenuhi hatiku, akan seperti apa sikap kamu dalam memandang diriku ketika sebuah gelas kupecahkan ke lantai? Dan kulemparkan tubuku ke atas kasur dengan keras? Kamu tentu akan mengecap duriku sebagai seorang lelaki cengeng yang tidak bisa menghadapi persoalan kecil dalam hidup ini. Tapi dengarlah rintihanku kawan, ini bukan masalah sebuah gelas yang pecah tapi ini adalah sebuah cinta yang kandas… Hati yang telah terbelahkan dengan sebuahharapan yang terkesan dibuat-buat. Kamu telah kuberi tahu sebelumnya, dia telah memberi kabar kepadaku jika dia memang belum pernah terjamah hatinya oleh seorang lelaki pun. Kamu juga telah tahu, empat bulan ke belakang kutemui dia meskipun dengan tubuh basah kuyup karena terjangan hujan hanya untuk menemui dirinya.

Maka, sebuah undangan yang tergeletak di meja kerjaku yang telah kusikapi dengan gelas pecah adalah sebuah isyarat…jika kepalsuan, kebohongan memang bisa diciptakan oleh siapa pun tidak terkecuali seorang bidadari sekalipun. Ya.. biadadari pun ternyata bisa berdusta, bahkan menyakiti seorang lelaki…

Kini, kamu bisa melihat… Setiap senjakala, di pojok kampung ” B “, di bawah rindangnya pohon akasia pinggir sawah, seorang lelaki asyik menatap hamparan pesawahan sambil menyimak mentari senja dengan linang air mata yang menganak sungai di pipinya. Kamu tentu tahu….ya..sudah pasti kamu tahu. Lelaki ini telah kering…entah untuk sampai kapan?

01
Jun
09

Cerpen: Di Kota Pelabuhan, Muthia Menangis dan Membenamkan Kepalanya di Dadaku

Akhirnya sampai juga saya di Kota Pelabuan ini. Setelah dua jam melewati jalan panjang dan berliku di sela-sela bebukitan dan lembah berlatarkan pohon-pohon ketela, sudah barang tentu menghasilkan satu simpulan yang mudah dimengerti orang tolol sekalipun. Lelah!

Kota pelabuan ini masih sama seperti dulu, sebuah dermaga dimana para nelayan ketika sore tiba telah meramaikannya, pasar ikan dimana begitu akrab dengan kita bau kurang sedap, tapi saya lihat orang-orang di sana nyaman saja makan, minum, menyeruput kopi panas, merokok dan mengobrol seolah tidak ada bau amis dan bau bangkai ikan. Jalan dari jembatan sampai ke dermaga memang lurus masih sama seperti tiga tahun lalu, hanya saja karena telah terjadi pergantian pimpinan daerah , kondisinya sudah agak dibenahi dimana di tengah-tengah jalan dua jalur ini ditanami beberapa tanaman seperti bunga-bunga, pohon palem, dan dipasang juga tiang-tiang lampu warna-warni.

Sore menyambut kedatanganku di kota pelabuan ini. Mendung menjadi salah satu alasan bahwa saya perlu kecewa. Di ufuk barat rupanya tidak akan terlihat lagi pemadangan seperti tiga tahun ke belakang, sudah tidak disangsikan saya tidak akan melihat lagi lembayung merah dan beberapa [erahu nelayan berlayar dilatari oleh matahari tenggelam seperti tiga tahun lalu.

Kamu tentu tidak tahu, tiga tahun lalu , Muthia dan saya saling berpegangan tangan di kota pelabuan ini, menyusuri pinggir-pinggir jalan tepat pukul 05.00 sore. Para pedagang kaki lima menjadi salah satu latar tersendiri berbaur dengan lalu-lalang orang-orang. Saya, bahkan kamu sudah tentu tidak akan bisa memahami dengan benar dan tepat, kenapa orang-orang suka sekali dengan suasana keramaian di kota pelabuan ini. Tidak akan tahu dan memang tidak perlu tahu. Muthia memegang erat tanganku, ketika kami tiba di dermaga. Perahu-perahu kecil bergoyang karena terpaan ombak, terdengar teriakkan para nelayan, bisa dikatakan cukup ramah dengan harapan, karena alam memberi pesan kalau tangkapan ikan mereka malam ini bisa lebih. Lembayung mulai terlukis di ufuk barat… tiga tahun lalu ketika tangan Muthia menggenggam erat tanganku, seperti tidak ingin melepaskan. Kamu tidak tahu, tiga tahun lalu!
Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Di Kota Pelabuhan, Muthia Menangis dan Membenamkan Kepalanya di Dadaku’




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,674 hits

 

Juni 2009
M S S R K J S
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay