Perbawati, Pondok Halimun ibarat sebuah ampiteater raksasa. Dari tempat kami menginjakkan kaki di atas rumputan ini sampai ke lereng sebelah selatan menghampar pohon-pohon teh, sepertinya indah jika kami berjalan di atasnya sambil memainkan satu adegan drama kehidupan bernama kasih-sayang. Di belakang kami, kecuali karena cerah, Gunung Gede berdiri dengan puncaknya seperti menyentuh langit. Dan, kesempurnaan dari ampiteater raksasa ini adalah obrolan para ibu pemerik teh, kecepatan tangan mereka dalam memetik daun-daun teh muda, wadah-wadah di punggung mereka padat oleh daun teh hasil petikan. Kaliam tidak belum tahun, sering sekali kami datang ke sini sambil sesekali jepret sana sini dengan tustel sederhana, dan hasilnya sudah bisa diterka… sebuah gambar meskipun bisa dibilang sketsa namun pantas disebut karya agung sang maestro alam… TUHAN.
Saat ini di sampingku berdiri seorang wanita, cantik dengan kerudung merah jambu, terus terang dan tolong sampaikan ini kepada siapa pun… aku adalah lelaki pemuja warna merah jambu, penikmat kecantikan seorang wanita, bahkan dengan menatap seorang wanita cantik seperti wanita di sampingku ini pun… dan tanpa memilikinya juga sudah merupakan kenikmatan terbesar bagiku. Inilah pertama kalinya aku mengajak dia ke tempat ini, setelah sekian tahun dalam penantian, setelah sekian ajakan kutuliskan dalam puisi-puisi satire yang menyinggung kalau kami suatu saaat akan dan bisa menikmati indahnya tempat ini.. tentu saja sambil menyulam keyakinan, sambil mengayam dan merencanakan langkah yang pantas ditempuh. Dan, tanpa kusadari, betapa wanita ini begitu cantik dan anggun. Tanpa harus berkata-kata pun aku telah berbisik, aku akan dan memang harus memiliki dia…
Beberapa bulan sebelum kami ke tempat ini. Adalah sebuah kejadian, dan ini merupakan kejadian paling berharga dalam hidupku, kalian boleh iri kepadaku, meskipun hidup ini dipenuhi dengan aneka masalah dan hal-hal berbau remeh temeh, namun di malam itulah kebahagiaanku memuncak. Ya, saat ini orang-orang sedang enak dan renyahnya membahasakan hati mereka di facebook. Seorang bidadari menyanpaikan sebuah pesan, sapaan hangat dan akrab… nama yang begitu sedap dibaca, nama yang begitu pantas dipasang dalam kertas apa pun; Lara… ya cukup singkat namun bisa dan telah menghipnotis diriku hingga ke alam –yang menurut penuturan seorang teman- satu juta tahun yang lalu.
Senyum di fotonya itulah yang telah menghipnotisku dan telah mengubah diriku menjadi mahluk aneh seperti orang gila dan sering meracau dalam tulisan-tulisan di facebook ini. Ketahuilah oleh kalian… aku sama sekali tidak gila, tulisan-tulisanku di facebook yang kadang seperti tidak sepadan dengan cita-cita tertinggiku ingin mengalahkan Hemmingway dan Kafka bukan karena aku gila layaknya seorang psikopat, namun kegilaan ini disebabkan oleh senyum dia di foto itu dengan kerudung merah jambunya.
Benarkah seorang wanita cantik harus selalu kecut? Bahkan pahit untuk disapa dan ditanya? Sejauh ini pandangan ini rasanya kurang tepat bagiku, sebab… beberapa wanita seperti Aila, Nunuy, Putri Kyanisan, Rismala, dan E’a adalah wanita-wanita cantik, juga ibarat capucino hangat dengan granula coklat yang enak dinikmati. Sapaan mereka kepadaku di setiap bangunku adalah begitu akrab seperti; Pagi Aa!, atau Aa, Sudah Makan belum?!, atau Aa bisa datang ga ke rumah E’a?!, atau sesekali keluar dari hati mereka sebuah puisi usang tak berkesudahan; Aa, Aila sayang aa. Itulah wanita dalam pandanganku.
Lara menyapaku; Kang…!
Sapaan itulah yang telah membunuh perasaan cintaku kepada wanita lain kecuali kepada ibuku. Kalian bisa jadi heran mendengarnya… kok ada lelaki dengan mudah sekali terperdaya oleh hanya sebuah sapaan seperti itu saja. Perlu kalian ketahui, ada hal lain yang tidak bisa dijelaskan dengan berbagai teori di hingar bingarnya kebisingan drama kehidupan ini. Bisa disebut, lelaki ini memang terlalu dini untuk menafsirkan jika Lara adalah seorang wanita yang selama ini aku inginkan kehadirannya di sampingku, membunuh rasa rindu dendamku terhadap kehadiran seorang wanita yang bisa menghilangkan kepentan dalam hidup selama ini.
Pada awalnya penafsiran tentang diri Lara hanya tersibak bahwa aku hanya memandang dirinya sebagai seorang kekasih di dunia maya saja. Perlu kalian ketahui, perkenalan saya dengan Lara bukan kali ini saja, tapi… pahamilah kami sudah saling mengenalnya sejak jutaan tahun lalu … di alam ketika manusia memang selalu patuh dan tunduk kepada Tuhannya, di masa ketika kami dan kalian berkumpul bersama para malaikat dan bidadari. Maka perlu saya bahasakan, Lara yang tiba-tiba menyapaku itu seolah sosok yang sama sekali tidak asing dalam pandanganku.
Sebulan, sampai tiga bulan kami selalu saling sapa meskipun alakadarnya. Ya, patut aku acungi jempol selain wajahnya cantik dalam balutan luka namun ada nilai tersendiri dalam diri Lara, tahukan kalian kecintaanku kepada dirinya bukan sekedar basa-basi dan isapan jempol belaka atau hanya sebatas pada sebuah dongeng anak-anak ilahrnya pertentangan antara kancil dan buaya, dia juga pandai menyulam kata dengan syarat gizi dan makna. Pesan-pesannya jelas, ringkas, seperti sebilah pisau tajam yang bisa melukai siapa pun terlebih aku. Catatan-catatannya memang penuh dengan tetesan darah, kegetiran hidup, dan keabsurdan dalam merangkai cita-cita dirinya, dan inilah yuang menjadi sebuah alasan tersendiri mengapa aku semakin suka, cinta, bahkan sayang pada dirinya. Sebuah puncak tertinggi dari sayang sudah barang tentu… aku tidak ingin kehilangan dirinya.
Suatu hari saya memohon kepada dirinya, supaya saya bisa menceritakan sebuah dongeng di malam hari menjelang tidur seperti pintanya dulu ketika jutaan tahun lalu kami saling bercerita A sampai Z. Saya memberanikan diri untuk meminta nomer telepon yang bisa dihubungi agar saya bisa bercerita lagi seperti dulu, terus terang saya adalah lelaki cengeng yang sering merengek-rengek apalagi di depan bidadari bernama Lara in , memohon seolah dia telah kuanggap sebagai Tuan dan saya sebagai jongosnya.
“ Sabar…!” Begitu katanya.
Sampai datanglah kebahagiaan itu, tidak akan saya menukarnya dengan barang apa pun di dunia ini, emas, permata, apalagi sebongkah tembaga tidak akan bisa mengganti kebahagiaanku ketika ada sebuah pesan, “ Kapan Mau bercerita untuk Lara…!”
Sejak diterimanya pesan itulah saya semakin dekat dan tidak ingin kehilangannya meskipun satu detik saja. Namanya, cerita hidupnya, alur dan perjalanan cita-citanya tertancap rapi di setiap pori-pori hidupku. Tidak apa, meskipun rasa ini hanya terjadi pada diriku saja, Lara telah menjadi bagian besar dalam hidupku. Kalian tidak akan percaya, bahkan seorang teman sempat mengekspresikan ; ckkckkckk-nya ketika saya ceritakan kalau setiap malam wajahnya hadir dalam mimpi-mimpi pendekku, mimpi yang kurang diterima dengan akal sehat, nalar apa pun akan mengecap saya sebagai lelaki gampangan, masa hanya dengan kenal di dunia maya bisa seperti itu? Aku selalu menjadi pahlawan bagi dirinya di setiap mimpi-mimpi pendek itu.
Sejak aku dekat dengan Lara di dunia maya, perasaan-perasaan pun bercampur aduk, dan yang tidak bisa aku hindari adalah rasa sesak dan perih jika dalam tulisannya dia menyebut sosok seorang lelaki bukan diriku, tanpa tedeng aling-aling aku pun memberitahukan kepadanya kalau aku sedang sakit, panas, dan perih jika dia menulis tentang orang lain. Penilaian ini memang mencerminkan kalau saya memang seorang pencemburu. Tapi perlu kalian ketahui, rasa cembru ini datang bukan karena saya hendak dan ingin mengekang Lara supaya tidak berkomunikasi dengan orang lain. Ini lantaran saya tidak ingin ditinggalkan olehnya.
===
DAN disinilah, di Jalan Lingkar Selatan kami bertemu, bertatap wajah, saling menilai satu sama lain, penilaianku hanya satu; Lara memesona dengan balutan kerudung merah jambunya. Alasan yang bisa mempertemukan saya dengan Lara hanya satu, sebuah tugas! Ya, Lara adalah seorang pengajar, namun tidak mau disebut guru- sederhana memang, dia tidak mau mengambil posisi para sarjana pendidikan. Lara diberi tugas oleh sekolah dimana dia mengajar untuk menghadiri pertemuan para pengajar berbasis masyarakat yang diselenggarakan di Kota “S” ini. Kabar itu memang telah saya ketahui karena dia mengirimkan pesan, pertemuan kita akan menjadi nyata.
Berapa nilai sebuah pertemuan? Tidak… saya bukan lelaki yang sering menghargakan sesuatu dengan materi apalagi membanding-banding namun ini saya tanyaklan hanya untuk memberi penegasan jika pertemuan ini teramat mahal, tidak bisa ditukar-tukar apalagi digadaikan begitu saja.
“ Quiasimodo!” Kata saya sambil mengulurkan tangan.
Lara tersenyum, ya bagaimana saya bisa tahu kalau dia Lara… dengan alasan tertentu saya langsung bisa mengerti, ini masalah hati bukan sekedar masalah dari mata ke mata!
“ Lara…!” Katanya menyambut suluran tanganku.
Maka dari situlah seolah segalanya berawal hingga kami ada di pelataran kebun teh ini. Kami duduk berjam-jam di bawah sebuah pohon, lembayung telah terlukis di ufuk barat. Kebun teh mulai terlihat kemilau keemasan.
“ Besok aku pulang…!” Bisiknya sambil meletakkan kepala di bahuku. Kulihat pipinya, tidak kusentuh, aku tidak ingin membuat kulit wajahnya menjadi basi dan kusamakan dengan barang dagangan yang bisa seenaknya saja disentuh-sentuh, kulit wajahnya terlalu mahal untuk kusentuh.
“ Ya…!” Kataku pelan.
“ Masih ingat cita-cita terbesarku selama ini?”
“ Melanjutkan sekolah ke Belanda…!”
Dia mengangguk.
“ tiga ,empat, bahkan sampai lima tahun… lamanya!”
“ Bukankah aku telah sekian lama menunggu kamu. Bukankah sudah jutaan tahun lamanya sejak kita berpisah di alam kayangan dulu aku menanti kamu…”
“ Jika aku tidak bisa?”
“ Aku akan tetap menunggu… sampai kita bersatu kembali, meskipun kamu tidak bisa…!”
“ Jangan terlalu dipaksakan! Nanti kamu jadi korban ,Quasimodo!”
“ Biarlah… lebih baik aku menjadi korban karena ketololan ini daripada harus hidup tanpa kamu…!”
“ Quasimodo….!” Lirihnya… yang kutatap kali ini adalah sebuah anak sungai kecil mengalir di pipi Lara, dan lembayung pun terlukis begitu kuat di wajahnya.
Ingin sekali aku membenamkan wajah ini di anak sungai yang mengalir di pipinya. Namun yang kulakukan hanyalah.. membiarkan dirinya tetap meletakkan kepala di bahuku, tidak lebih dari itu. Dan akupun menitikkan airmata…





ehm lara is…..
Lara is duka… huekkk
dalem banget..
not duka but luka,weks