Perbawati, Pondok Halimun ibarat sebuah ampiteater raksasa. Dari tempat kami menginjakkan kaki di atas rumputan ini sampai ke lereng sebelah selatan menghampar pohon-pohon teh, sepertinya indah jika kami berjalan di atasnya sambil memainkan satu adegan drama kehidupan bernama kasih-sayang. Di belakang kami, kecuali karena cerah, Gunung Gede berdiri dengan puncaknya seperti menyentuh langit. Dan, kesempurnaan dari ampiteater raksasa ini adalah obrolan para ibu pemerik teh, kecepatan tangan mereka dalam memetik daun-daun teh muda, wadah-wadah di punggung mereka padat oleh daun teh hasil petikan. Kaliam tidak belum tahun, sering sekali kami datang ke sini sambil sesekali jepret sana sini dengan tustel sederhana, dan hasilnya sudah bisa diterka… sebuah gambar meskipun bisa dibilang sketsa namun pantas disebut karya agung sang maestro alam… TUHAN.
Lanjutkan membaca ‘Lembayung Terlukis di Wajah Lara’
Arsip untuk Mei, 2009
29
Mei
09





Komentar