Mata semua orang terbelalak, demi melihat pohon beringin besar yang tumbuh di utara kampung kami itu kini tumbang. Pohonnya menyilang di jalan, sudah tentu menjadi penghalang lalu-lalang kendaraan. Pohon beringin tumbang itu dibiarkan begitu saja , tidak ada seorang pun berani mengusik-usiknya. Konon, kata cerita ketika masih tumbuh pohon beringin besar ini dihuni oleh sebangsa dedemit atau jin. Orang sering melihat di atas pohon ini ada sosok bergelantungan kadang kaki di atas dan kepala ke bawah, jika malam telah larut.
Basuki , seseorang yang dianggap paling tahu terhadap masalah pepohonan pun tidak berani mengusik-usiknya. Dia hanya berdiri melongo melihat pemandangan mengerikan itu di pinggir jalan dekat kedai Romlah di mana beberapa pengunjung telah meramaikan kedai sambil berbisik-bisik membicarakan tentang runtuhnya ppohon beringin besar. Sebelumnya orang mengira, pohon besar ini tak mungkinlah tumbang, karena dia telah tumbuh sejak negara ini digonjang-ganjing oleh perpecahan antara kelompok, ketika gerombolan menggasab apa-apa yang ada di dalam rumah penduduk. Basuki pun, seorang ahli pepohonan mengira demikian, dugaannya, pohon besar ini akan tumbuh sekitar tiga puluh tahunlagi jika tidak ada orang yang menebangnya.
Pak kades memang orang berwenang di kampung kami. Kedatangan beliau disambut orang-orang sambil manggut-manggut, kesopanan penduduk kampung terhadap atasannya memang menjadi nilai lebih yang dimiliki oleh kampung kami. Ditemani oleh pak sekdes, beliau pun hanya bisa mengernyitkan kening sambil berpikir keras dan pada mafhumlah orang sudah bisa menerka sudah pasti pak kades memikirkan, lantaran apa pohon besar ini tumbang.
Jelasnya, ketika malam telah menggelayut dan langit ibarat payung raksasa itulah beberapa penduduk sempat mendengar suara gaduh daun-daun beradu batang terdengar. Orang tidak berani keluar malam itu karena dalam adat kami, malam seperti hantu menakutkan, belum ada penerangan memadai di kampung yang jauh dari keramaian ini. Pohon-pohon diumpamakan seperti sarang hantu. Maka tidak heran jika pada malam jumat dibawah beberapa pohon besar itu berderet sesaji lengkap dengan pedupaan yang telah diisi dengan kemenyan hitam.
” Pak Bas…!” Bisik pak kades, jarak Basuki dengan pak kades sangat berdekatan. ” Harus dibagaimanakan pohon beringin yang telah tumbang?”
” Kita jangan bertindak gegabah. orang-orang kadung teramat percaya bahwa pohon ini begitu keramat bagi mereka. Harus ada penjelasan supranatural supaya pohon ini bisa dipindahkan, bila perlu dipotong-potong lah dijadikan kayu bakar!”
Ya, sebagai lulusan sekolah tinggi pak kades dan Basuki memang sudah tidak menganut keyakinan ilaharnya orang-orang kampung.
Sampai datanglah pak kyai berbaju serba putih itu. Tanpa disuruh oleh siapa pun dia langsung duduk di dekat beringin tumbang, lalu bersila dan membaca jampi-jampi sambil memejamkan mata. Khusuk. Orang-orang diam, tidak ada seorang pun berani membuka mulut, bahkan bisik-bisik pun hampir tidak terdengar. Jika terdengar sebuah bisik maka orang di sampingnya akan memberi isyarat dengan memelototkan matanya. Kendaraan tidak diperkenankan lewat ke sana, kecuali karena jalanan terhadang beringin tumbang juga sedang ada acara sakral, konon untuk memindahkan dedemit penghuni pohon beringin ke tempat lain.
” Potong-potong pohon ini lalu bakar!” Kata kyai berbaju serba putih itu.
Orang-orang pun ramai memotong pohon beringin. Rasa takut untuk menyentuhnya telah hilang karena merasa yakin dedemit penunggu pohon itu telah dipindahkan oleh pak kyai ke tempat lain. Tidak ada satu batang dan daunpun tersisa di jalanan. Pak kades dan Basuki juga terampil memberishkan jalan bersama orang-orang kampung.
========
Lima tahun sebelumnya sempat ada kabar, pohon-pohon besar yang tumbuh di kamppungku ini harus ditebang dan diganti oleh pohon-pohon kecil yang lebih pantas. Satu alasan, mempersembahkan sesaji kepada mahluk halus yang diduga sebagai penunggu pohon-pohon adalah perbuatan syirik. Orang yang lantang mengomandoi penebangan pohon-pohon dan akan menggantinya dengan pepohona yang lebih pantas adalah Durahim, seorang lulusan Universitas dari Timur Tengah.
Hanya saja, orang-orang banyak tidak setuju terhadap keinginan Durahim, mereka mengecap durahim pembawa ajaran sesat, bukan ajaran yang dibawa oleh kanjeng sunan Kalijaga. Pada akhirnya Durahim pun pindah kampung karena terlalu keras dalm memberikan ceramah kepada orang-orang kampung. Dalam ceramahnya Durahim sempat menyebutkan orang-orang kampung telah keluar dari ajaran yang benar. Harus segera bertobat, sementara pada saat yang bersamaan mereka sangat percaya keyakinan yang mereka anut adalah keyakinan yang pernah di ajarkan oleh kanjeng Sunan Kalijaga kepada moyang mereka yang bernama Kyai Mardika. Rupanya Durahim tidak kuat dengan keyakinan mereka.
Sempat pula ada berita, Pemerintah akan mengganti pohon-pohon besar itu dengan pohon cengkih yang lebih berproduktif, apalagi harga cengkih begitu menggiurkan waktu itu. Namun, Basuki menolak usulan itu, dia meyakinkan kepada pemerintah, tidak baiklah mengganti pohon-pohon besar dengan cengkih, akan ada akibatnya di kemudian hari nanti. Basuki tidak yakin adanya dedemit atau penunggu pohon-pohon, kecuali karena akhr-akhir ini kemarau belum juga berakhir. Tidak tepat menebang pohon di musin kemarau kemudian menggantikannya dengan pohon-pohon kecil semisal pohon cengkih.
=====
Pembaca budiman…. tumbangnya pohon beringin besar itu terjadi beberapa tahun lalu. Hari ini anda akan melihat seperti apa wajah kampung kami. Semuanya disulap, serba dipoles. Di sebelah utara dimana pohon-pohon besar itu tumbuh kini berdiri beberapa villa dan pondok, setiap minggu orang-orang yang tidak kami kenal meramaiakan kampung kami. Si sebelah Selatan ada sebuah mini market, kedai Romlah telah tiada sejalan dengan kepergian Romlah entah ke mana. Lalu-lalang kendaraan bukan pemandangan aneh lagi, jalanan telah diperlebar… Kampung kami kini telah dikepung oleh gedung-gedung sebagai pengganti pepohonan. Yang aku takutkan adalah anak-anak kami… sekarang anak-anak kami sudah tidak mengenal surau lagi. Tadi malam Nuril, seorang gadis kecil namun cantik- dibawa oleh seorang tukang ojeg ke sebuah pondok dimana beberapa lelaki setengah baya ramai di sana…





ironis, bukan orang kampung saja yang terimbas keserakahan manusia, orangutan yang tidak tahu menahu juga kena imbasnya