Mulanya orang-orang kampung menganggap sederhana tentang sebuah luka yang terdapat di betis Damiski. Dengan alasan tidak dibuat-buat pun bisa saja orang pernah terlukai, tergores pecahan kaca bisa saja orang terluka, menginjak sembilu orang bisa saja terluka, atau ketika sedang membersihkan halaman dari rumputan kemudian tersayat sabit juga orang bisa saja terluka. Bukankah luka merupakan hal wajar dan biasa-biasa saja, tidak perlu diperdebatkan hingga ke tingkat musyawarah kampung? Begitu mulanya orang-orang menanggapi luka di betis Damiski.
Masalah mendalam sebenarnya bukan lantaran itu. Bisa jadi ini disebabkan Damiski hanya orang biasa, tukang pikul Wak Haji Kusmin, tukang ngibul punya ini-itu, sering menghabiskan malam dengan duduk-duduk di jembatan, sukai usil kepada beberapa gadis kampung, bahkan mengenai tidur pun sama sekali tidak mengenal aturan harus cuci kaki segala.
Adanya rumah dan istana, malah ketika orang rame-rame membicarakan siapa calon pimpinan mereka, dia sama sekali tidak terpengaruh. Alur hidupnya sama sekali tidak melukiskan bahwa dia akan berubah dalam hidup. Itu-itu saja, sederhananya dia sama sekali ttidak mempermasalahkan apakah orang dibolehkan berbeda pendapat, apakah orang bisa membicarakan masalah skandal. Sama sekali tidak pernah tersirat dalam hidupnya. Lanjutkan membaca ‘Cerpen: L u k a’
Dari jalan kecil menuju ke Dinas Kesehatan itulah dia muncul. Cara jalan, kedipan mata, dan ayunan tangannya sungguh telah memberi kabar kepada tentang keanggunan dan keindahan mahluk ciptaan Tuhan ini. Apa boleh dikata, dia sungguh cantik, bukan pandanganku semata, orang di sekitar pun menyebutnya demikian.
Pematang sawah terlukis begitu kuat sore ini. Bayangan pepohonan jatuh di pinggir sawah yang siap di panen. Gunung sama sekali tidak memberikan kesan angkuh ketika matahari memang sudah tidak sesangar tadi siang. Langit nyaris tanpa awan. Kecuali burung-burung walet , meramaikan juga capung-capung Jawa di angkasa. Anak-anak ikut meramaikan suasan sore itu, mereka menangkap capung-capung Jawa. Maklum anak-anak, cara mereka menangkap capung sama sekali tidak seperti orang dewasa. mereka mengejar ke mana capung itu terbang, bukan mengendap=endap. Ya, maklum lah anak kecil.
“Jangan remehken orang-orang kecil seperti tukang sapu. Seperti apa wajah Kota Kita jika mereka sudah nekat untuk tidak menunaikan tugasnya. Jangan remehken para petani, mau apa kita jika mereka satu musim saja tidak menanam padi atau palawija. Jangan remehken para pembantu rumah tangga, mau apa para wanita karier jika mereka tidak mau menjadi pembantu lagi. Pokonya… aku titip pesan kepada kamu, jangan remehkan orang-orang kecil!”




Komentar