Arsip untuk Maret, 2009

30
Mar
09

Cerpen: L u k a

DI PERBAWATIMulanya orang-orang kampung menganggap sederhana tentang sebuah luka yang terdapat di betis Damiski. Dengan alasan tidak dibuat-buat pun bisa saja orang pernah terlukai, tergores pecahan kaca bisa saja orang terluka, menginjak sembilu orang bisa saja terluka, atau ketika sedang membersihkan halaman dari rumputan kemudian tersayat sabit juga orang bisa saja terluka. Bukankah luka merupakan hal wajar dan biasa-biasa saja, tidak perlu diperdebatkan hingga ke tingkat musyawarah kampung? Begitu mulanya orang-orang menanggapi luka di betis Damiski.

Masalah mendalam sebenarnya bukan lantaran itu. Bisa jadi ini disebabkan Damiski hanya orang biasa, tukang pikul Wak Haji Kusmin, tukang ngibul punya ini-itu, sering menghabiskan malam dengan duduk-duduk di jembatan, sukai usil kepada beberapa gadis kampung, bahkan mengenai tidur pun sama sekali tidak mengenal aturan harus cuci kaki segala.

Adanya rumah dan istana, malah ketika orang rame-rame membicarakan siapa calon pimpinan mereka, dia sama sekali tidak terpengaruh. Alur hidupnya sama sekali tidak melukiskan bahwa dia akan berubah dalam hidup. Itu-itu saja, sederhananya dia sama sekali ttidak mempermasalahkan apakah orang dibolehkan berbeda pendapat, apakah orang bisa membicarakan masalah skandal. Sama sekali tidak pernah tersirat dalam hidupnya. Lanjutkan membaca ‘Cerpen: L u k a’

23
Mar
09

Cerpen: Aku Akan Menghapus Bekas Pegangan Tangannya di Tanganmu Dengan Sentuhan Tanganku di Tanganmu

PERBAWATIDari jalan kecil menuju ke Dinas Kesehatan itulah dia muncul. Cara jalan, kedipan mata, dan ayunan tangannya sungguh telah memberi kabar kepada tentang keanggunan dan keindahan mahluk ciptaan Tuhan ini. Apa boleh dikata, dia sungguh cantik, bukan pandanganku semata, orang di sekitar pun menyebutnya demikian.

Baju sopan yang dipakainya menambah satu nilai lebih tersendiri tentang kesahajaan seorang wanita. Cara menghias wajahnya pun sama sekali tidak memberi kesan lebih dan ingin dinilai oleh orang lain, alakadarnya. Padahal, di Kota T ini sedang mewabah rebounding, wanita-wanita pada ke salon, tidak peduli uang keluar ratusan ribu asal penampilan bisa semodis selebritis yang mereka saksikan di acara-acara televisi. Seorang teman wanita pernah berbisik, kesannya hidup ini harus serba dipoles, kalau tidak… yang seorang wanita tidak akan bisa memperlihatkan bahwa dirinya memang cantik.

Bukan hanya wanita, aku pun pernah diajak oleh seorang teman untuk datang ke salon. Katanya , tidak apalah cuma membersihkan jenggot dan kumis ini di salon, kan laki-laki harus tampil kelimis. Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Aku Akan Menghapus Bekas Pegangan Tangannya di Tanganmu Dengan Sentuhan Tanganku di Tanganmu’

17
Mar
09

Cerpen: Bulan Masih Menggantung di Langit Tasikmalaya…

Untuk Annisa Rahmawati...

PONDOK HALIMUNPematang sawah terlukis begitu kuat sore ini. Bayangan pepohonan jatuh di pinggir sawah yang siap di panen. Gunung sama sekali tidak memberikan kesan angkuh ketika matahari memang sudah tidak sesangar tadi siang. Langit nyaris tanpa awan. Kecuali burung-burung walet , meramaikan juga capung-capung Jawa di angkasa. Anak-anak ikut meramaikan suasan sore itu, mereka menangkap capung-capung Jawa. Maklum anak-anak, cara mereka menangkap capung sama sekali tidak seperti orang dewasa. mereka mengejar ke mana capung itu terbang, bukan mengendap=endap. Ya, maklum lah anak kecil.

Kehadiranku di Tasikmalaya ini tentu menjadi pusat perhatian orang-orang. Apalagi, sore ini aku mengajak Nisa berjalan-jalan ke sawah. Alasan sederhana, mengapa aku mengajak dia jalan-jalan ke sawah, tidak ke alun-alun dan ruang-ruang publik seperti laiknya pasangan muda-mudi lainnya, adalah untuk memperlihatkan betapa alam selalu diliputi  oleh suasana cinta dalam keadaan apapun. Kami menuju dimana matahari akan terbenam.

Bisa dikatakan, beberapa petani merasa iri dengan kehadiran kami di sana. Padahal sebentar lagi mereka akan memanen padi, sebuah keuntungan besar telah ada di depan mata, sebab di musim kemarau ini harga gabah bisa menjulang tinggi. Ya, sudah bisa diterka, seperti yang diceritakan oleh Nisa kepadaku, jika pada musim panen ini petani meraup keuntungan mereka biasa mengadakan sukuran dengan kenduri. Siangnya, mereka akan belanja VCD dan keperluan rumah tangga ke Kota dan pasar-pasar. Mang Ahmadi, seorang tukang kredit di Kampung Nisa adalah orang yang paling diuntungkan dalam kondisi seperti itu. Barang dagangannya bisa terjual keras hanya dalam hitungan jam. Untungnya bisa dua kali lipat dari modal.

Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Bulan Masih Menggantung di Langit Tasikmalaya…’

11
Mar
09

Cerpen: Caca Naira

Dia pernah berbicara kepadaku tentang cerita masa lalunya. Kira-kira seperti ini:

” Sore hari di ujung Desember. Tanpa sengaja aku diajak makan malam ke kedai Warno oleh seorang lelaki, masih satu kampung denganku. Sebut saja namanya, Isro. Orang kampung pada mafhum, dia adalah lelaki fanatik. Pernah berbicara, bagi dia ketika ada seorang wanita yang membuka kudungnya adalah merupakan suatu aib. Barangkali tidak pantas dijadikan pendamping hidup. Apalagi jika ada seorang wanita yang secara terang-terangan mengaku dengan terus-terang pernah berciuman dengan lelaki lain tak pantas lah dia dijadikan istri. Begitulah kira-kira ucapannya… Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Caca Naira’

03
Mar
09

Cerpen: Mat Doblang Pilihan Kami

2007“Jangan remehken orang-orang kecil seperti tukang sapu. Seperti apa wajah Kota Kita jika mereka sudah nekat untuk tidak menunaikan tugasnya. Jangan remehken para petani, mau apa kita jika mereka satu musim saja tidak menanam padi atau palawija. Jangan remehken para pembantu rumah tangga, mau apa para wanita karier  jika mereka tidak mau menjadi pembantu lagi. Pokonya… aku titip pesan kepada kamu, jangan remehkan orang-orang kecil!”

Kalimat itu masih terngiang di telinga Yudha, untaian kata yang keluar dari lubuk hati kakek tercintanya sebelum beliau meninggal dunia. Memang, jika dicerna dengan kacamata bathin, ucapan kakek sederhana, bahkan tidak mencicipi manisnya bangku perguruan tinggi Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Mat Doblang Pilihan Kami’




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,674 hits

 

Maret 2009
M S S R K J S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay