Hujan , di tengah awal Pebruari ini menjadi pusat serapah orang-orang. Juragan Karma, pengusaha kerupuk di Kampungku melampiaskan serapahnya kepada para pekerja, tidak berani dia mengomel di depan istrinya. Bagi Karma, istrinya seperti hantu bertaring panjang. Dan apa pun permasalahan hidup bahkan hidup dirinya pun seolah ada di genggaman istrinya, Nyonya Jamilah. Para kuli pembuat kerupuk harus menyebut istrinya Nyai..
Ya, semua tampak sepi di jalanan. Hujan terus mengguyur pelataran tanah tuhan tiada ampun. Berhenti hanya beberapa jam saja, lantas dari pagi hingga sore dan sore sampai pagi lagi hujan menyerang dan memburu rerumputan di muka bumi.
Jalan besar di kampungku jangan ditanya lagi, seperti apa kondisinya jika hujan menyerang tiada henti. Sampah-sampah plastik dan sampai cangkang buah-buahan terjajar di jalan, juga memadati hingga ke tengah jalan. Orang bukan tidak mau membersihkan jalanan, padahal tepat di depan rumahnya. Tapi dengan alasan sederhana saja mereka membuat alasan, yang membuang sampah ke jalan tuh yang harus di salahkan. Pak Darma sering kenah omelan orang-orang, selain memiliki kebiasaan kurang baik , sering terlihat melemparkan bungkusan plastik berisi sampah ke pinggir jalan, juga karena letak rumahnya tepat di pinggir jalan, menjadikan selokan kecil di pinggir jalan itu sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga. Orang-orang di sebelah hilir tentu saja merasa jijik dengan tingkahnya. Tapi bukan Pak Darma jika mengindahkan omelan orang-orang.
Di kampungku, orang-orang pada dasarnya tidak jahat semua. Ada seorang nenek bernama Nanya, orang boleh menerka dia keturunan Soviet, walhasil, di era orde baru si Nenek sering diawasi oleh antek-antek rezim Soeharto hanya karena namanya itu yang dipersoalkan. Padahal dari raut wajah saja dia hanya nenek kampung, telapak kaki pun belah-belah, betis tidak beda dengan kayu tua, kecuali hitam juga bersisik. Ya, kecuali sifat-sifat fisik tadi yang aku ceritakan, dari dalam dirinya tersimpan mutiara. Dan terus terang mutiara itu tinggal di kampungku, tepat di sebelah rumahku.
Nenek Nanya tinggal sendiri. Rumah sederhana itu sama sekali tidak memiliki perabotan laiknya orang-orang kampung. Tapi, di dalam rumah bambu sederhana inilah mesin pembersih jalan ini tinggal. Coba kalian pikir, ketika orang-orang di waktu pagi ini sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, nenek Nanya telah membawa sapu lidi ke jalan, lantas tanpa menunggu perintah dari siapa pun. Dan menjelang matahari naik beberapa tombak di atas kepada, jalan besar di kampungku sudah enak dilihat, karena bersih. Tapi, orang-orang seolah tidak menghargai jerih payah Nenek Nanya, siangnya… anak-anak sekolah kembali mebuang sampah-sampah plastik ke jalan. Pak Darma pun melempar bungkusan plastik ke jalan. Anak istrinya membuang limbah rumah tangga ke selokan kecil di pinggir jalan.
Nenek Nanya tetap pada pendiriannya, terus membersihkan jalanan setiap hari, tidak disuruh apalagi menyuruh orang lain.
Sampai datanglah peristiwa itu. Seorang anak pada suatu hari meninggal karena demam berdarah. Orang mulai sibuk dengan urusan basmi-membasmi nyamuk, obat nyamuk bakar laris tiada ampun, malam penuh dengan kepulan asap, bak-bak di kuras airnya, dibersihkan kotorannya, tanaman-tanaman disemprot, sampah-sampah dibuang ke tempatnya setelah dibungkus terlebih dahulu oleh kantong plastik. Dan orang-orang akan membelalakkan matanya, menajamkan pendengarannya jika tiba-tiba di kamar atau rumah mereka terdengar suara ngiung…ngiung… semalaman mereka bisa berjaga-jaga.
Orang menyalahkan pak Darma karena kejorokannya. Tapi sama sekali tidak memuji nenek Nanya karena perjuangannya untuk embersihkan lingkungan. Kepala Desa juga turun tangan, menasehati pak Darma agar mempraktikan prilaku hidup bersih dan sehat. Para RW dan RT tiap malam ceramah di mesjid-mesjid agar membersihkan lingkungan. Pun para kyai tidak ketinggalam dalam santapan rohaninya sudah pasti membekali pendengar dengan ceramah seputar kebersihan sebagian dari iman.
Dan, segalanya berlalu seperti biasa saja, seolah tidak pernah ada nenek Nanya, tidak ada Pak Darma, tidak ada anak yang meninggal karena demam berdarah setelah empat bulan berlalu.
Maka datanglah ke kampungku orang tua berjanggut tebal dan putih itu. Datang ke rumah nenek Nanya, orang-orang tidak memusatkan perhatian kepada lelaki tua itu. Hanya saja, ketika dari dalam rumah nenek Nanya terdengar isak tangis maka berkejaran lah orang-orang memburu rumah si nenek.
Konon, lelaki tua berjanggut putih itu adalah seorang jin yang menjelma menjadi seorang kakek, hendak memberi penghargaan kepada nenek Nanya, begitu alasannya mengapa nenek Nanya menangis.
Orang-orang celingak-celinguk melihat-lihat ke mana perginya lelaki tua itu, namun tetap saja tidak diketemukan. Memang, orang-orang sama sekali tidak percaya kepada apa yang dikatakan oleh Nenek Nanya, tapi digenggamannya si nenek memegang sebuah benda seperti piala terbuat dari emas murni, katanya pemberian atau semacam hadiah dari jin itu.
Orang -orang pada keluar dan geleng-geleng kepala. Perumpamaannya adalah… jin saja memberi penghargaan kepada seoran nenek yang gemar bersih-bersih, bagaimana dengan kita… manusia. Jangan sia-siakan orang seperti Nanya, jika dia sudah bersahabat dengan jin maka apa pun bisa dia lakukan… sekalipun membantai orang-orang jorok….
TAMAT





hmm… orang indonesia memang suka nyampah. thanks mas
keren kang. peka lingkungan. awak cakap juga nulis kayak ginian
hmmm… lintang..lintang…