Malam ini cuaca kurang mendukung hampir semua orang. Para tukang ojeg sempat mengeluh, katanya malam ini penghasilan bisa dibawah standar, tukang sayur pun yang sudah memadati pasar mengomel, ” Bukan saya tidak yakin kepada Tuhan, tapi ini nich… kalau hujan seperti ini terus menerus , pasar bukan main becek, baunya…welehh.. bau sekali…!” Dan semua memang menganggap malam ini kurang beruntung, padahal dari sudut-sudut pertokoan berkumpul orang-orang menonton televisi, rupanya ada dangdutan!
Yang merasa paling tidak beruntung adalah Sonia, seorang pekerja wanita di klab malam. Dia tidak masuk kerja malam itu, bukan lantaran malas, karena bagi wanita yang telah ditinggal oleh kedua orangtua nya itu bekerja adalah sebuah keharusan, bagaimana adik-adiknya bisa sekolah jika dia tidak bekerja, atau mengikuti ajakan si Nay, jalan-jalan pake motor semalaman. Dia sedang payah malam ini, giginya sakit tiada ampun. Boleh dikata, musik sederhana semisal jazz Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Dokter Sis’
Hujan , di tengah awal Pebruari ini menjadi pusat serapah orang-orang. Juragan Karma, pengusaha kerupuk di Kampungku melampiaskan serapahnya kepada para pekerja, tidak berani dia mengomel di depan istrinya. Bagi Karma, istrinya seperti hantu bertaring panjang. Dan apa pun permasalahan hidup bahkan hidup dirinya pun seolah ada di genggaman istrinya, Nyonya Jamilah. Para kuli pembuat kerupuk harus menyebut istrinya Nyai..
Mau jadi anggota Dewan? Sebaiknya dengar dulu cerita ini…




Komentar