Sore hari, langit nyaris tertutup awan seluruhnya. Pemandangan kasat mata seperti ini bukan hal aneh di bulan Oktober, bulan ketika matahari dan awan sudah seperti teman akrab lagi, bulan ketika rerumputan di halaman rumah tumbuh seperti jamur dan cendawan, bulan ketika para pengusaha kerupuk bersumpah serapah karena lamanya proses penjemuran krupuk mentah. Anak-anak kecil masih bermain-main saja, seolah tidak menghiraukan suasana, padahal rintik hujan mulai turun membasahi pelataran tanah Tuhan. Dan, layang-layang pun mulai diturunkan, ada juga sebagian mereka yang acuh seolah hujan bukan menjadi satu alasan kalau mereka harus menurunkan layangannya.
Aku dan Yadi bergegas, menaiki angkutan perkotaan, gerak dalam angkot cukup leluasa, memang, akhir-akhir ini para sopir di kampung halamanku sering mengaduh, dari hari ke hari penumpang semakin berkurang, dulu setor kepada pemilik mobil bisa sampai 75 ribu perhari, sekarang bisa setor 40 ribu pun bisa dianggap sebuah kesuksesan seorang sopir. Bukan hanya segi persaingan , sebab akhir-akhir ini sepanjang jalan, para tukang ojeg hampir memadati setiap gang, juga disebabakan oleh naiknya harga bensin. Aku dan Yadi hanya tersenyum kecil ketika sopir yang sudah kami kenal itu mengaduh ini itu tentang hasil tangkapannya hari ini. Apalagi jika hujan turun seperti ini, katanya mana ada penumpang di sore seperti ini!! Walah, waduh, dan wa wa yang lainnya… Aku dan Yadi mungkin dipandang sebagai dedemit apa??
Lanjutkan membaca ‘Perjalanan Kehidupan: A Road to Pajajaran’






Komentar