Tanah. Orang bisa saja saling bunuh karena soal rebutan tanah. Ini cerita di kampungku. sbagai ketua RW tentu saja aku akan mengajukan hal-hal yang menyangkut kepentingan umum kepada pemerintah yang lebih tinggi. Termasuk meminta agar dibangunkan kantor RW dan Poskamling. Wajarlah, orang seperti aku dan para ketua RW lainnya masih berharap pada pimpinan kami. Lagi pula uangnnya adalah uang kami, rakyat.
Konon, dikabulkanlah permohonan aku itu. Pemerintah daerah mengalokasikan uang sebesar tujuh juta lebih untuk membangun gedung RW dan Poskamling dimaksud. Melihat besarnya dana, tentu saja orang waras dan sehat akal akan bertanya-tanya, cukupkah uang sebesar itu untuk membangun dua gedung sekaligus atau satu gedung tapi dua lantai? Apalagi jika dikenversikan dengan harga-harga bahan bangunan dan material yang semakin melambung tinggi sejak kenaikan BBM tempo hari?
Bukan itu masalahnya. Persoalan yang muncul kemudian adalah di atas tanah itu telah didirkan tenda dagang. Yang menjadi leader pendiriannya adalah Haji Idih, temanku, mulanya iseng jualan dengan menjadikan anak-anak santri sebagai para pelayannya. Tentu secara ekonomis ini menambah penghasilan para santri lah. Dan aku harus mendukung itu. Orang mulai berani bertaruh saat ini, usaha dagang yang dilakukan oleh anak-anak santri tentu akan semakin berkembang pesat.
Lanjutkan membaca ‘Soal Tanah yang Menjadi Bahan Perdebatan’





Komentar