Temanku pernah bercerita:
Di sudut emper sebuah toko kelontong, di antara luapan sinar putih lampu neon, di bawah siraman dan guyuran kemilau kuning lampu merkuri, di sela-sela kelebat menyilaukan lampu-lampu kendaraan yang hilir-mudik menerjang gelapnya malam, seorang ibu mengiba menidurkan seorang anak kecil, anaknya. Sosok ibu itu memiliki garis kecantikan di masa lalu kendatipun tertutup oleh tebalnya debu zaman yang telah ia lalui. Angin malam adalah selimut dingin yang mampu menggeraikan rambut gimbalnya, kotor dan kumal. Tangannya telah menelusuri jeruji cobaan hidup membelai lembut kepala anak kecil itu. Sisa pakaian yang melekat di tubuhnya akan mengingatkanmu kepada perasaan sebagai manusia. Benar, perasaan antara manusia dengan bukan manusia. Sobekan pada pakaian lusuhnya menciptakan luka-luka yang ia alami selama hidupnya. Kekotorannya melukiskan gambar kering tanpa air bening kehidupan yang dinikmati oleh manusia secara wajar. Puluhan tahun ia telah melewati masa, menuruni lembah, mendaki bukit, dan hasilnya adalah sebuah harapan yang sirna. Ia duduk bersimpuh di atas lantai dekil toko kelomtong milik Engko Chen. Dingin. Ia seorang ibu muda gelandangan bersama anaknya.
Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Cerita Dari Teman’





Komentar