Kemarau mulai datang. Posisi air hujan akan diambil alih oleh debu rupanya. Gemintang tersebar rapi di langit luas , udara dingin, kulit mencucuk, daging seperti dimasukkan ke dalam lemari es, pohon segar. Orang pasti banyak yang keluyuran kalau cuaca seperti ini. mantel mantel menjadi benda berharga, jaket kembali dilirik, baju-baju tebal pun di pakai kembali. Nah, di pingigir-pinggir jalan orang suka membakar kayu, membuat perapian untuk membunuh suasana dingin seperti ini.
Di dalam angkot, sesak para penumpang, lagi pula malam Minggu. Sopirnya si Panjul. Semua orang tahu, si Panjul adalah manusia sengsara, tidak suka kerumunan orang-orang, anti keramaian, hidupnya tidak disesaki oleh komentar, tidak suka membicarakan masalah-masalah besar seperti politik, dan takut pada terang benderang. Siang hari, kalau membawa mobil tidak pernah berbincang dengan orang-orang, meskipun penumpangnya sendiri. Alakadarnya memang hidup dia itu. Penampilan fisik, kering, kurus, hampir meninggal terka orang-orang.
Lanjutkan membaca ‘Cerpen : Panjul’







Komentar