Arsip untuk Februari, 2008

18
Feb
08

Homo-Animalus

monet.jpgDalam ramalan seorang sufi, binatang buas di akhir zaman akan mengalami kepunahan. Namun, sifat-sifat binatang tersebut akan tetap utuh, bahkan akan melekat pada diri manusia. Ramalan ini memang terbukti dengan- salah satu contohnya- bagaimana gemarnya manusia modern mengembel-embeli setiap kalimat dalam berujar sapa dengan nama-nama binatang. Sepertinya sudah tidak asing di telinga, ada orangyang berkata: ” Babi, Kamu!”, Monyet Kamu!”

Penilaian kaum sofis terhadap sikap manusia seperti tersebut di atas adalah: Manusia -kapan, siapa, dan di manapun- akan mencitrakan apa yang diucapkannya. Ucapan memang bisa direkayasa semudah membuat telur dadar dalam wajan, namun.. rekayasa ucapan tidak berlaku ketika manusia berada dalam keadaan responsibilitas yang tinggi. Apa pun yang diucapkan oleh manusia merupakan refleksi jiwa manusia itu sendiri.

Jika ucapan sudah menebar kebinatangan, maka akan memengaruhi tingkah manusia. Di zaman kita , sudah menjadi rahasia umum tingkah-tingkah binatang menebar dan menyebar hampir memenuhi setiap relung dan sudut ruang. Tidak tahu malu, menyelesaikan setiap masalah dengan perang dan adu jotos, bebal, sulit diatur, egosentris, tidak sopan, biadab, main hakin sendiri, menipu, mengelabui musuh, kepura-puraan/mimikri, dan potensi-potensi kebinatangan lainnya.

Seorang Thomas Aquinass pernah berpendapat, sikap dan prilaku manusia tidak diturunkan secara genetika, melainkan ditransformasikan secara sosio-kultural. Animalisasi dalam kehidupan tidak diturunkan dari generasi satu ke generasi selanjutnya secara faktor turunan atau genetis melainkan diajarkan secara intensif dalam kehidupan sosial manusia.

Ada satu alasan mengapa sifat bianatang teraflikasi dalam tingkah manusia. Secara  biologis, memang ada kemiripan antara  manusia dengan binatang, manusia makan binatang pun makan, manusia membutuhkan seks binatang juga sama. Bahkan, para penganut darwinis-sosialis telah mencap secara gmblang, manusia memang binatang karena maniusia memang memiliki nenek moyang binatang. Hanya evolusi lah yang telah membawa manusia pada sebuah peradaban, maka tidak heran jika sifat-sifat binatang teraflikasi dalam diri manusia. Jelas sekali, teori para penganut evolusi dan darwinis bertolak belakang dengan teori Thomas Aquinass yang mewakili kaum relijius. Alasan ini – mengapa manusia mirip binatang- mungkin hanya berlaku bagi para penganut teori evolusi.

Thomas Hobbes pernah berpendapat, dalam lingkungan yang tercabik-cabik, pertikaian, perang, dan kekacauan berlaku di sana hukum binatang. Hukum binatang adalah hukum tanpa aturan. Wabah yang diakibatkan oleh hukum tanpa aturan ini terus dan akan selalu menyebar dengan varian-varian baru. Dalam kondisi perang dan pertikaian yang mengedepankan hukum tanpa aturan membunuh pun dihalalkan. Homo Homini Lupus Bellum Omnium contra omnes. Hobbes memang dilahirkan dalam lingkungan di mana kondisi perang sedang berkecamuk, maka tidak salah jika pendapatnya dibenarkan oleh sebagian orang, apresiasi Hobbes terhadap kondisi di mana dia berada tidak perlu disalahkan oleh kita. Toh, kita pun yang hidup di zaman modern ini masih disuguhi oleh atraksi-atraksi tpeng monyet dalam segala bidang kehidupan.

Pandangan kebinatang yang melekat pada manusia memang telah tertanam sejak dulu, dalam Illiad kita membaca, seorang pahlawan memang harus memiliki dua sifat, dewa dan binatang. Bentuk utuh manusia tangguh dan pinilih adalah memang manusia yang harus bisa memadukan dua sifat itu. Hanya saja, kurang sempurna jika dua sifat itu tidak dibatasi dan diimbangi oleh nurani. Dewa memang tangguh dan baik serta diluputi oleh potensi kebaikan, namun… bukankah dewa-dewa zaman Yunani kuno itu, seperti yang dilukiskan oleh Plato ibarat para anak kecil yang cengeng, suka meributkan masalah remeh-temeh, sesekali para dewa pun berperang dan saling hujat satu sama lain. Artinya, toh tetap saja dewa pun masih memiliki sifat binatang. Dalam kondisi teori ini, maka kebinatangan akan mengendalikan kedewaan. tetap saja yang paling memengaruhi dalam kehidupan manusia adalah kebinatangan tanpa nurani.

Agak pantas rasanya, jika sifat-sifat bianatgn telah teraflikasi dalam kehidupan manusia kita menyebut zaman ini sebagai zaman kemenangan binatang! Mayoritas manusia boleh saja menghujat habis-habisan darwinisme sosial namun, tidak kah kita melihat, paham tersebut telah menjadi pemenang di zaman kita? Manusia setengah dewa setengah binatang bukan hal baru lagi di zaman kita. para pemimpin ibarat srigala-srigala lapar sementara rakyat yang dipimpinnya tak ada bedanya dengan kambing-kambing conge.

Hedonisme, paham yang sebetulnya menekankan pada kebahagiaan bathin/ ataraxia telah dikonversikan dengan cara-cara binatang. Paham ini telah menjadi hedonisme jasmaniaha, mencari kesenangan dan kepuasan tanpa batas dalam masalah lahiriah semata. Epikuros mungkin akan marah besar jika melihat hedonismenya telah beralih fungsi dari bathiniah ke jasmaniah.  Penghalalan segala cara adalah ciri dari hedonisme -badaniah ini. Pantas jika Jeremy Bentham menyebut paham ini hanya berlaku bagi BABI.

Nah, apakah kita binatang?

Sukabumi Tengah Februari 2008…

04
Feb
08

Cerpen: Anak Petani

Dulu pernah tersiar kabar, seorang petani memiliki anak wanita. Wajah anak si petani cantik bukan main, datanglah orang berduyun-duyun, terutama para lajang hendak meminang anak si petani. Si petani memang santun, semua pinangan kepada anaknya ia tolak secara halus.

Padahal, tidak sedikit harta yang ditawarkan oleh setiap lelaki yang hendak meminang anaknya. Dengan alasan…tidak layak anakku menerima pinangan dari tuan-tuan itulah si petani menolak mereka satu persatu. Hidup si petani dan keluarganya bisa dikatakan hina, miskin, papa, makan alakadarnya. Kadang dalam sehari makan cuman satu kali. Memang, di kampungku dulu orang-orang hidup dalam paguyuban yang sulit dicerna dengan nilai pragmatis; saling tolong adalah kebiasaan, harga mati bisa jadi lah. Meskipun hidupnya seret juga menjelang surut, namun orang-orang terbiasa memberi bantuan kepada keluarga si petani.

Hingga pada suatu hari, datanglah orang kota, memakai baju bersih, mobil mewah, kelimis, dan tampan. Meminang anak petani yang cantik itu. Sang ayah tertarik atas pinangan lelaki kota ini, entah kenapa, katanya sih bisikan hatinya mengatakan demikian.Omong punya omong, lelaki kota yang meminang anaknya itu adalah anggota parlemen dari sebuah partai besar di negeri ini.

Pernikahan pun digelar. Ada pementasan wayang golek, pokoknya meriah.

Yang jelas setelah pernikahan, lekai dari kota itu membawa anak si petani ke kota, anak si petani pun lama-lama membawa orangtuanya ke kota pula, orang tuanya membawa seluruh keluarganya ke kota pula, pamannya pun membawa anak-anaknya ke kota pula. Satu keluarga itu kini menjadi sejahtera… Begitu menurut berita. Keluarga petani itu kini telah hidup dalam gelimang harta, minggu lalu baru saja dia bersama keluarganya membeli sepuluh petak sawah di kampungku.

Sukabumi, Februari 2008

02
Feb
08

Menemukan Seorang Pemimpin

Dalam Republic, Plato menyebutkan; sebuah negara atau Kota akan mencapai edaumonia (kesejahteraan lahir bathin) apabila dipimpin oleh seorang filsuf. Idealisme Plato merupakan konsep aposteriori bukan apriori, artinya, idealisme negara filsuf atau negara ideal bukan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Malah, sampai saat ini bisa dikatakan negara/ kota ideal yang dikumandangkan Plato sama sekali belum terwujud secara utuh.

Harus diakui, idealisme Plato tercetus karena dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi Yunani waktu itu, khususnya Athena, sebuah negara kota yang sedang mengalami krisis politik, mengarah kepada tirani karena memang dikuasai oleh para tiran yang jauh dari nurani sebagai manusia. Konsep idealisme Plato menyeruak, melawan kondisi politik waktu itu. Adalah alamiah, ketika kekacauan, pembunuhan terhadap pesaing politik, pemberangusan suara rakyat, dan munculnya potensi kejahatan lain ditafsirkan oleh para cendikiawan sebagai dunia iblis yang lahir di permukaan bumi.

Plato berpendapat, hanya seorang filsuf yang menjadi raja atau penguasa yang akan bisa mengembalikan kembali kondisi sebuah negara/ kota kepada keadaan ideal yang selalu dicita-citakan. Sebab, dalam diri filsuf tertanam sikap bijaksana, tidak mengedepankan ambisi pribadi, toleran, mendahulukan nurani dan akal, tidak terseret ke dalam nafsu binatang, dan dilengkapi oleh berbagai potensi kebaikan.

Sebaliknya, jika negara atau kota dipimpin oleh seseorang selain filsuf, maka kemungkinan besar akan lahir pula negara atau kota jahat, di mana penghuninya tidak lebih dari kumpulan manusia tanpa bentuk, kerangka yang berjalan tanpa arah, atau kumpulan/ gerombolan iblis yang menjelma menjadi manusia. Kejahatan terjadi hampir di setiap pelosok negeri, undang-undang dibuat bukan untuk ditaati melainkan untuk dipermainkan dan dilanggar. Negara / kota tentu saja akan mengarah kepada kebokbrokan moral. Prestasi tertinggi dalam kondisi seperti ini adalah perang!

Apakah, idealisme Plato benar-benar merupakan idealisme murni, konsep yang hanya ada dalam tataran wacana? Ada dua kemungkinan, benar atau salah. Benar, karena sampai saat ini kita belum menemukan negara ideal seperti yang diharapkan oleh Plato, menskipun, di zaman Nabi dan Kholifah konsep negara ideal ini sudah pernah mewujud, namun tetap saja masih belum sesuai dengan idealisme Plato. Dikatakan tidak, karena kita memang belum menemukan harapan Plato, ketika belum menemukan artinya, masih terbuka bagi kita untuk mendapatkan kembali sesuatu yang hilang itu. Adalah takdir Tuhan, sesuatu yang hilang memang harus kita temukan kembali.

Konsep demokrasi bukanlah sesuatu yang bersifat final. Adalah salah besar, ketika Amerika menyebutkan demokrasi merupakan hasil akhir dari bentuk pemerintahan. Demokrasi hanya merupakan salah satu silklus dari bentuk pemerintahan, pada dasarnya hanya untuk mencari siapa sebenarnya manusia pinilih yang akan menjadi dan bisa memimpin negara/ kota ini? Salah besar jika kita mengatakan demokrasi sebagai harga mati. Bahkan, bisa jadi di sana masih terdapat beberapa lobang dan celah kekurangan, seperti; kebebabasan tanpa kerangka, dalam iklim demokrasi yang kurang sehat, akan muncul para calon pemimpin yang lahir dari rahim AMBISI PRIBADI, mengatasnamakan rakyat, tentu saja akan memunculkan juga rasa pronoid kelompok , menyepelekan kelompok lain, demokrasi tanpa kerangka ini memang lahir dari ketidak mengertian semua golongan terhadap siklus bentuk pemerintahan ini/

Penulis memberi komentar, PILKADA merupakan upaya manusia untuk menemukan seorang pemimpin dengan cara penyeleksian yang ketat juga longgar tentu saja. Namun, ketika muncul para calon yang nampaknya diliputi oleh sikap ambisi pribadi, selalu ingin menjadi pemenang, tidak mau menerima kekalahan meskipun sudah bermain sesuai dengan aturan main yang jelas, penyeleksian untuk memunculkan seorang pemimpin ideal seperti idealisme Plato bisa dikatakan tidak akan optimal mewujud.

Terlebih di kelompok akar rumput. Kondisi seperti sekarang ini , kelompok akar rumput belum dikerjakan secara maksimal potensi mereka sebagai subjek-politik, bukankah sampai sekarang mereka hanya dikenal sebagai obyek politik semata? Sementara para pemain yang memiliki kepentingan-kepentingan besar, sama sekali tidak tersentuh oleh kelompok akar rumput kecuali dalam situasi-situasi tertentu saja .

Bisa jadi, dalam PILKADA kali ini, masih kecil peluang akan munculnya pemimpin ideal yang selama ini kita harapkan. Hanya saja, pemimpin ideal harus dan harus selalu kita temukan. Sekali lagi.. adalah telah menjadi Takdir TUHAN ; kita harus menemukan kembali sesuatu yang hilang. Mudah-mudahan.

Sukabumi, 02 Februari 2008
Menjelang PILKADA KOTA SUKABUMI




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,674 hits

 

Februari 2008
M S S R K J S
« Jan   Mar »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
242526272829  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay