Mau jadi Walikota? Sebaiknya dengar dulu cerita ini.
Di dekat pemakaman umum, rumah sederhana itu menghadap arah Timur. Susunan bilik bambu, daun jendela hampir lepas- Aku membayangkan, daun jendela itu terbang ke angkasa sekalipun tertiup angin sederhana. Persis di bagian depannya, sepasang kursi usang bersandar pada dinding, lengkap dengan mejanya. Setiap pagi, ketika para petani mulai menggarap sawah dan ladang mereka, Mak Ijah sudah mengelap kursi meja itu. Kandang ayam tepat berdiri di samping rumahnya. Memang demikianlah orang-orang kampung membuat kandang baik itu kambing , ayam, atau pun apalah.
Mak Ijah, nama aslinya Khodijah. Tapi, karena orang kampung, biasanya selalu disebut macam-macam, Omod, Karnud, Udin atau apa pun, masalah nama, bagi orang kampung rupanya tidak memiliki arti. Dan memang demikianlah, sikap orang kampung, diapanggil apa saja mau, asal tidak menyinggung orang lain katanya. mak Ijah punya tiga anak lali-laki semua, tapi ketiganya hidup berjauhan. Ada yang di Jakarta, bandung, dan Kalimantan. Biasa ngumpul setahun sekali, itu pun terlalu cukup, di hari lebaran lah mereka ngumpul sambil ziarah ke makam almarhum Ahmad, suami Mak Ijah.
Orang bisa menerka, usia kam Ijah sekitar 60 tahunan. Hanya saja, tangannya masih terlalu lincah bagi ukuran orangtua seumur dia. pagi sampai sore, hingga larut malam tangannya masih terampil mengayam bambu menjadi kipas bambu. Konon, menurut penuturan orang yang tinggal dekat dengannya, sejak meninggal suaminya, Mak Ijah tidak pernah tidur. Malamnya, ketika kipas bambu selesai, ia masuk ke tempat ibadah, di atas hamparan sajadah dia bisa menangis sejadinya. Petugas ronda memang sering mendengar isak tangisnya.
Jangan membicarakan soal pengabdian kepada negara. Orang seperti dia, sejak suaminya meninggal, seminggu tiga kali berangkat ke hutan dekat kampung, sambil membawa biji-biji palawija. jagung pun ditanam olehnya di lahan-lahan gundul bekas para penebang liar menggasab pepohonan. Nah, jika panen palawija tiba, anak- anak diajak ke hutan oleh Mak Ijah untuk mengambil hasil panen. jagung pun dibakar di kampung itu, semua kebagian jatah, tak ada rebutan.
Tiga puluh tahun lalu, suami mak Ijah difitnah, dituduh aktiv dan menjadi anggota partai terlarang. Ahmad diusir dari kampungnya. Mak Ijah bersama ketiga anaknya yang masih kecil-kecil itu mengungsi dan kembali ke kampung halaman orangtuanya. Yang masih teringat oleh Mak Ijah sampai sekarang adalah, teriakan orang-orang yang lantang melontarkan kata-kata caci dan hujatan kepada Dia dan suaminya.
” Pengkhianat Negara harus di bunuh!!!”
Orang-orang berkerumun mengelilingi rumah Mak Ijah, pintu digedor-gedor beberapa kali. Obor mencipta lukisan bayangan orang-orang, bergerak-gerak seperti tarian sang penari latar. Anak-anak tersudutkan, menggigil, takut campur tidak mengerti, itu sudah pasti. Mak Ijah menangis, suaminya mengernyitkan kening.
Pintu terbuka secara paksa, beberapa orang berseragam masuk, tanpa sepatah kata, menggusur Ahmad. Mak Ijah meronta-ronta. Suaminya, dibuka bajunya, diseret keluar, sementara orang-orang asyik berbusa-busa dengan nada nyinyir, mencibir Ahmad.
” Dasar..pengkhianat Negara!!!” Teriak orang-orang.
Malam memang menjadi gila sekaligus menyedihkan. Ahmad di ikatkan pada sebuah pohon, deru cambuk pun susul menyusul. Dan mak Ijah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Anak-anak pun demikian adanya. Haji Sodik, diam membisu, orang-orang ramai antara setuju dan tidak. Dan pada akhirnya, ahmad meninggal dengan cara terikat di pohon.
Aku mendengar mak Ijah bercerita tentang peristiwa itu. Kuperhatikan mimik wajahnya yang ikhlas, tanpa rekayasa. Lalu kubandingkan cerita mak Ijah dengan ucapan para calon walikota yang mengungkapkan tentang pendidikan gratis, kesejahtraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa!
Lalu ada berita dari Kota, pak Harto sudah krisis. Kayaknya memang sulit untuk ditolong lagi. Mak Ijah mengurut dada demi mendengar berita dari kota itu, entah apa maksudnya.
Nah, masihkah kamu mau jadi walikota sambil mengobral janji perbaikan? Sementara, di sekelilingmu masih bergelimpangan orang-orang kurang beruntung?
Untuk Para Calon Walikota dan Wakil Walikota SUKABUMI….











Komentar