Saudzan mengenal Berinha satu bulan lalu.
Mulanya Berinha tidak mood mengikuti acara Pelatihan Pembentukan Karakter bagi Remaja di Kota S. Hanya,setelah Ali, tetangganya, meyakinkan dirinya, tentang pentingnya kegiatan itu bagi remaja seusianya, dia mulai tertarik. Sejak lahir, Berinha dibesarkan dalam lingkungan asuhan orangtuanya yang kurang longgar. Orangtua kadang terlalu berlebihan dalam menafsirkan rasa ketakutan ketika hal itu berbenturan dengan masa depan anaknya. Dalam diri Nha- panggilan akrabnya- terbentuk pula sikap manja, dan ini memang wajar dan lumrah dimiliki oleh anak remaja yang telah menginjak tujuh belas tahun itu. Kadang, rambut lurusnya masih harus disisir ulang kembali oleh mama-nya,dan itu atas permintaan dirinya sendiri. Pernah, Nha belanja ke swalayan menjelang Iedul-Fitri, karena letak rumah dengan swalayan itu cukup jauh, ditempuh dengan jalan kaki menghabiskan waktu 20 menit, mama-nya harus mengantarkan Nha berbelanja ke swalayan itu.
Lapang basah. Hujan turun tak mau berhenti malam tadi. Dingin menggigit, rumputan basah kuyup- kontras dengan lapangan yang dibalut tembok. mendung mulai mengggelayut kembali sepagi itu. Para peserta pelatihan masih memperlihatkan rasa ngantuk, sebab, di hari-hari biasa, di saat yang sama persis seperti itu mereka masih asyik mengulat di tempat tidurnya sambil memeluk bantal guling. Atau, sebagian yang lain masih asyik mengisap rokok ,jongkok di pinggir jalan, menyeruput segelas kopi susu, menghadap kearah timur menantang cahaya matahari pagi. Namun… untuk pagi itu, mereka harus membuang anggapan bahwa hidup selalu dibumbui oleh sikap manja. Harus membuangnya- meskipun untuk sesaat.
Di hari-hari tertentu, seperti di bulan Agustus, lapangan – tepatnya halaman gedung Gede Pangrango biasa dipakai untuk acara-acara besar dan peringatan akbar. pertandingan bola Voli pernah digelar di sana. Ada kekacauan memang, baku hantam antara pendukung kedua tim. Atau, di sana juga biasa digelar dangdutan , para biduan sering menyanyikan lagu-lagu patah hati. Hari itu, lapangan diinjak oleh kaki-kaki para peserta pelatihan.
Saudzan tak berkedip menatap Nha. Kecantikan hanya sebagian alasan bagi dirinya untuk tidak bisa membohongi hatinya. Alasan terbesar mengapa Saudzan harus menatap Nha adalah pancaran aura yang membalut diri wanita itu. Semua peserta,baik itu laki-laki atau wanita sama saja memakai seragam serba biru muda, celana panjang sopan, namun pandangan terhadap Nha sungguh lain. Meskipun ada beberapa wanita , jika dinilai dari kecantikannya memang sebanding dengan dirinya. Tetap saja mata Saudzan melahap Nha dengan renyah. Jangan memiliki pandangan mata keranjang dalam suasana seperti ini, mata keranjang hanya berlaku di luar sana!!!! Pikir Saudzan.
Para pelatih membariskan mereka. Tiga hari lamanya,mereka akan mendapat pendidikan: Betapa mahal dan pentingnya sebuah kedisiplinan. Dan terus terang, sangat sulit! Disiplin, disiplin,disiplin, itulah yang akan mereka dengar dari beberapa pelatih dan pembina! Makan saja harus berbaris terlebih dahulu, duduk berjajar menghadap piring telungkup, nasi, lauk pauk alakadarnya, sayur mayur, segelas air dingin, berdoa sebelum makan, tidak boleh ada suara sendok-garpu beradu piring, tidak boleh ada lenguh yang keluar dari mulut ketika makan apalagi mendengus dan berbincang-bincang, tidak boleh berdiri ketika mengambil makanan, makan diwaktu sampai 15 menit, serta tidak boleh ada makanan yang tersisa di atas meja!
Orang- apalagi remaja- biasa berbipikir, makan tidak perlu diatur macam-macam. melahap Nasi goreng tanpa perlu dibariskan terlebih dahulu. Ammmm-blemmm…. selesai, mau ngomong sambil makan,mau melenguh,mau berdiri seperti embek, mau sambil nyanyi, mau sambil menonoton sinetron atau nonton DVD, mau di terminal,mau di atas meja makan… sama saja… intinya menghilangkan lapar! Hanyasaja, untuk saat itu tidak boleh begitu! Semua harus seragam, disiplin!
Ada lengkingan SIAPPPPPP GRAKKKKK! ISTIRAHAAATTTT DITEMPATTTT GRAKK, MAJUUUUUUT JALANNNN, HORMATTTTT GRAKKKK, HADAP KIRI-KANAAAANNNN GRAKKKK, BUBARRRRR JALANNN, BALIKKK KANANNNN GRAKKKKK!!!!! memang ada peserta yang mengomel: Capeee dech!!! Sebagian terdengar mendesis SUNGGUH TERLALUUUU! Para peserta berjajar rapi, belok atau melengkung sedikit..straffff!!! Push-up tiga puluh kali, bending lima puluh kali, atau nyanyi sambil joget di depan peserta lainnya. Seperti nerakaaaaaaaaa!!!! Bisik Nha… Televisi!???? Hahahahaha….. aliens itu hampir tidak ada di tempat itu.
Para peserta memasuki Gedung Gede Pangrango. Berjajar satu demi satu…Bangku-bangku pun diletakkan disiplin. Podium menantang nyinyir, mikropon pongah bukan main. Meja pembina dilihat oleh para peserta adalah raksasa angkuh yang siap menghantam mereka dan menendang mereka satu persatu!!! Saudzan duduk di samping Nha, bukan kebetulan, melainkan telah direncanakan dengan matang. Dia harus duduk disamping Nha.
” utusan dari mana!?” Itulah kata pembuka dari Saudzan, melirik sepintas ke arah Nha. Ballpoint bergerak menuliskan sesuatu entah apa. Alisnya lebat, perawakannya sedang. meskipun pendiam namun sering keluar kelekar dari mulutnya samar-samar memang.
” Brawijaya…!” Bisik Nha tegas.
” Oooo….!”
====== PELATIHAN MEMBOSANKANNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!====
====== TAK ADA SINETRONNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN======
====== TANPA GOSIPPP SELEBRITISSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS!!!!!!!=======
====== TIDAK ADA MP3 , FRIENDSTER, CHATINGGGGGGGGG!!!!!!!!! =========
====== BEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE TEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!! ========
Namun pada akhirnya selesai juga. Saudzan mendapatkan nomor hp Nha… 0266-703xxxx! Ucapan perpisahannya, Selamat jalan. Para peserta meninggalkan komplek Secapa Polri… Selamatttt Tinggalll Aturan! Selamat Tinggalllll Disiplin!!!! Sambil mengukur langkah, jalanan kering dedaunan akasia membersihkan bahu dan trotoar jalan, guyuran daun-daun kering mengingatkan kita pada musim gugur di pinggir Rhein! Atau sedap bunga Sugi di lembah Shin-jian! Saudzan berat melangkah. Nha dijemput oleh mama pake AVP. Peserta lain lebih dewasa, jalan kaki sajaaaa!!! Ngobrol ngalor ngidul sambil lalu. Di gerbang masuk, mereka pun berpisah!
##############
Satu bulan berlalu. Saudzan telah banyak berbicara dengan Nha melalui telepon. SMS ribuan karakter mungkin telah dia terima dan kirim. Zaman ini, orng tidak perlu cape memikirkan dan menulis surat cinta seperti surat-surat Da Vinci atau Shakespeare, kata-kata ,kalimat-kalimat sudah bisa disingkatkan dan dipadatkan, sepdat penghuni bumi saat ini. ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ! Tak perlu direka-reka dengan tulisan indah, halus, tinta cair atau spidol warna. Pinjit tombol ABCDEFGHI…, send messege, deliveried!!!!! Selesai, ngomong tidakperlu pake comblang, pijit angka 1234567890 byarrrrrrrrr dunia terbuka luas, dan terasa menjadi meliki berdua!! Di mana saja, bercinta tidak perlu di tengah sawah,berlari-lari seperti di film-film bollywood, tidak perlu saling pegang tangan seperti kisah Rojali dan Julaeha ( Orang Batak Bilang Rajauliii!), tidak perlu sambil nyanyi seperti dalam film BERKELANAN 1 DAN 2 Bung Rhoma….cukup mojok dikamar! atau dimana saja,sambil buang hajatpun jadi lah!!!!
INTINYA: Kutunggu kamu di Brawijaya!!!!
Begitu sms dari Nha diterima oleh Saudzan.
KAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN???
Sumringah… sudah barang tentu.
===== mINGuuuu InI aA……….!!!!!====
Cihuyyyyyyyyyyyyyyyyyy. Akhirnya musik Jazz, Blues, Metamorfosis Kafka, Nietczhe, Gibran, pun ditinggalkan untuk sementara. Sampul buku bertuliskan Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas pun ditutup dengan kertas kosong. Pretttttttttttt! Yang terdengar di kamar Saudzan bukan terompet jazz Dave Kozz, namun…irama dangdut Caca Handika!!!! Bantal digoyang-gyang sambil joget ke sana kemari. Gila???? Emanggggg! Seperti orang miskin mendapatkan undian ? Hooh… Atau seperti tukang gali pasir menemukan sebongkah berlian? Yoi!!!
Minggu sore. Melati menebar. Brawijaya ramai, hujan tidak jadi turun. Udara hangat. Angin sepoi menggraikan rambut panjang para pejalan kaki. kemilau kuning terlukis di ufuk Barat. Sepanjang Brawijaya, Kursi-kursi besi di pinggir jalan diduduki pengunjung, sambil menghadap arah barat, ada telaga dan taman bunga di sana. Sampan-sampan kecil bergerak ke bawah ke atas sangat manja. Anak-anak kecil berlarian saling mengejar. tetap saja, dedaunan kering mengguyur mereka. Saudzan duduk dibawah pohon beringin besar. Dalam pikirnya: apakah ada pelukis yang mampu menggoreskan keindahan alam seperti senjakala di Brawijaya saat ini?
Saudzan duduk menanti Nha. Nha…Nha…Nha….sudah dua puluh menit, Nha!?? Saudzan melihat arloji…Tetap sabar menanti. Awan tetap bersih di langit cerah. Ufuk Barat semakin kuning keemasan. Cuaca tetap hangat. Melati masih menebar wangi.
Nha..Nha..Nha……!!! Satu jam telah berlalu. Saudzan mulai menggeser duduknya, membalikkan badan menatap jalan aspal. Orang tidak mau menghentikan aktivitasnya. Malah ada pembaca puisi di seberang jalan sambil berteriak antusias. Nha belum muncul.
Saudzan mengeluarkan HP, menghubungi Nha, tak ada jawaban. SMS dikirim…. Message…Not Sent…. Whatttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt…..????? Whyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy????? Howwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww???
Saudzan mulai gusar. Nafas tak teratur. Ketidak sabaran menghinggapi dirinya.
Nha..Nha… Nha…!!!! Melati dipegang erat…erat hinggay padat! ” Apa aku harus melangkah… pulang?” Bisik Saudzan.
Pandangan membentur APV. Hhhhhh….. Dari dalam api keluar seorang wanita, kira-kira 21 tahunan . Melangkah terburu memburu arah dimana Saudzan masih duduk, melotot. Mama…Nha??? Terka Saudzan, mengira-ngira.
” Kamu….Saudzan???” Tanya orang itu.
Saudzan terus menyelidik. Mengangguk.
” Boleh aku duduk, di sampingmu…?” Kata orang itu, wanita dengan parfum mawar. Baju sederhana, rok sepaha, rambut lurus jatuh pada bahunya. Gurat-gurat pada wajahnya cantik. Wanita itu mendengus kecil…” Aku Berinha……!”
Kontan saja saudzan melotot. Menatap lekat pada wanita yang menyebut dirinya Berinha…SALAHHHHHHH!!!
” Benar aku Berinha….!” Wanita itu menatap Saudzan lurus. ” Berinha yang hampir tiap malam kamu hubungi yang tiap hari kamu kirimi sms, yang selalu mengeluh dan mengadu segala masalah padamu, yang biasa curhat dan berbagi denganmu… kamu masih ingat dengan suara ini khan?”
” Bbbbb…..!”
” Berinha yang akan menerima cinta siapa saja yang tulus, tanpa alasan, Berinha yang akan kamu kasihi sebisa mungkin….Masih ingat???”
” Bbbbb…!”
” Bagaimana… kamu kecewa dengan pertemuan ini. ?”
” Nha…mana Nha?”
” Aku…ini aku Nha, Saudzan…!”
” Lalu…?”
” Dia adikku… yang ikut Pelatihan Bulan Lalu adikku…. dia Ratu Berinha….aku, Selvia Berinha Nerlianti…..maaf….jika aku telah mengecewakanmu….!” pandangannya mengarah ke jalan aspal. Cuaca hangat.
” Aku…kecewa kepadamu….namun…!” Saudzan memberikan segenggam Melati itu kepada orang yang mengaku Berinha, ” Tolong berikan ini kepada Nha…. adikmu!” Dan dia bergegas , melangkah pergi.
langkahnya berat….
Dari dalam Avp, seorang wanita cantik sembab matanya dengan linangan air mata… tersembul dari bangku belakang. ” Maaf!!!”
Bunga melati pun dilempar ke tepi telaga.
” Terima kasih, Kak….!” Bisik Berinha pada kakanya yang tampak puas tersenyum nyinyir. Lalu, mobil pun bergerak lurus…..meninggalkan Brawijaya ketika langit masih tetap berwarna keemasan… dan, suasana mulai mereda…..sepi!
Komentar