Dari tahun 2005-2007

Dari tahun 2005-2007

BULAN NOVEMBER 2007

Dipublikasikan oleh: Telecenter RW 05 Kelurahan Sudajayahilir
Kecamatan Baros Kota Sukabumi 43167 Phone 0266 7087513
Tempat dulu kau berdiri
Kini sunyi dari geriap rambutmu
Bebatuan
Bunga kertas
Lampion
Hinggap pada senjakala
Akankah kau berdiri lagi
2
Malam satu lampion
Bulan berlayar di kaki langit
Orang-orang masih menghitung kasih
Tanpa bentuk dan tetapi bertepi
Koko dan cici berkejar kelebat rembulan
Pada malam satu lampion
3
Di tepi yang-tze bayangmu jatuh
ada riak air
Melambat sunyi pada sore yang mengaduh
Serbuk bunga sugi memandikanmu
Dan turunlah ke kali, kasih!
4
Jalan setapak menuju shin-jian
Petani mengingatkanku
Pada seutas senyum
Hawa hangat
Membelai gadis Mei-lan
Dan ada yang tersisa di sana
Candamu..
Sukabumi, November 2007
Sebagian besar orang baik itu masyarakat ataupun pejabat masih memiliki pemahaman dan pemikiran keliru mengenai peran dan fungsi Posyandu. Mereka masih memiliki anggapan bahwa posyandu hanya berfungsi sebagai penimbangan bulanan bagi Balita dan pemeriksaan ibu hamil.
Padahal, jauh-jauh hari telah disebutkan peran dan fungsi posyandu yang holistik tidak terbatas pada penimbangan dan pemeriksaan ibu hamil saja. Lebih dari itu, posyandu merupakan media pendidikan, sosial, budaya, dan seni. Posyandu Flamboyan 5 telah mengupayakan semaksimal mungkin, meskipun baru pada tahap permulaan untuk menjadikan posyandu sebagai; media diskusi, media informasi, media edukasi, dan media fasilitasi( pembimbingan).
Untuk meretas sampai ke arah sana, para kader posyandu Flamboyan 5 telah membuat time-schedule, berupa perencanaan fase demi fase untuk menjadikan posyandu sebagai media-media tersebut di atas.
Cerita yang tersebar luas sekarang ini hampir menyita pemikiran semua orang. Pekerjaan kantor secara berangsur mulai ditinggalkan, para pegawai pemerintah pun mengerutkan kening tidak terfokus lagi pada monitor komputer, para tukang gali tanah pun meletakkan linggis dan cangkulnya di setiap lekerjaannya. Para wartawan, tidak pusing-pusing memburu berita tentang korupsi, aliran sesat, bus-way, penggusuran tanah, artis yang bercerai! Koran-koran yang terbit pagi memberitakan Sumirah, lebih tepatnya bangkai Sumirah, koran-koran sore pun menceritakan ulang bangkai Sumirah yang mengapung di Kali Dekil, yang ditemukan kemarin oleh seorang pemulung puntung rokok.
Di Pinggir Kali Dekil, dekat lembaga pemasyarakatan Masyarakat itu pernah berdiri sebuah rumah tua. Pemiliknya, Sungkur, seorang lelaki kerempeng, tulang iga bergelombang, kulit kereng terbakar matahari, mata cekung menandakan bahwa dia memang seorang yang mengarungi kehidupan dengan kepayahan, badan tinggi jangkung, kadang rambutnya dicepak seperti tentara, ciri yang sampai saat ini dikenal oleh orang-orang adalah batuk berdahak, orang -orang harus minggir beberapa meter ketika suara oek-oek itu terdengar dari mulutnya, disusul dengan ludah kental berbaur dengan kumah penyakit menyembur keluar dari mulutnya.
Dia hidup sendiri. Tidak diketahui di mana sanak saudaranya. Konon menurut kabar dia datang dari seberang dua puluh tahun yang lalu. Dan dua puluh tahun yang lalu di wilayah itu belum berdiri lembaga pemasyarakatan masyarakat seperti sekarang ini. Kali Dekil dulu bernama Kali Jernih, beberapa tahun terakhir ini dinamakan demikian karena pekatnya air sudah tidak bisa dibandingkan lagi dengan segelas air hangat yang kita minum hampir di setiap pagi. Di pinggir Kali Dekil inilah, Sungkur si orang seberang mendirikan gubuk reyot.
Setahap demi setahap gubuk reyot itu dimodifikasi hingga menjadi sebuah bangunan , walau terbilang tidak cukup mewah, namun nyawan untuk ditinggali bagi orang seperti Sungkur. Masalah ibadah, dalam pandangan orang-orang , Sungkur dikenal sebagai abangan , ada pula yang mencap dia anti tuhan, komunis laten. Judi memang pekerjaannya, hampir setiap malam dia nongkrong di kedai Masud, sambil menenteng botol, pulang hampir larut malam, kadang bernyanyi tak karuan, mungkin dalam bahasa seberang.
Sampai pada akhirnya, di wilayah itu akan dibangun sebuah lembaga pemasyarakatan masyarakat. Masyarakat wilayah itu rata-rata memang acuh dan tak [perduli, apa pun yang akan dibangun silahkan asal tidak merugikan diri mereka. Sungkur yang geram. Apa pun alasannya, pembangunan LP hanya akan mencabut keberadaan tempat tinggalnya saja. Mau ada ganti rugi berapa pun tidak akan dia mau meninggalkan rumah kusutnya.
negara memang dewa bagi orang-orang kecil. LP didirikan, dan rumah Sungkur pun dibiarkan berdiri di dekat nya. Memang, pada awalnya ada perang mulut antara pemborong dengan Sungkur, karena selama pembangunan Sungkur sering ketahuan mengambil bahan-bahan bangunan, seperti; bata merah, semen, besi, dan kayu-kayu batangan. Orang tahu, dia menjualnya untuk berjudi, tapi siapa peduli!!!?
” Mau saya usir kamu dari tempat ini?” Bentak Pemborong, sambil menimang-nimang sebuah palu kecil.
” Alasannya!!?” Bau alkohol masih tercium keluar dari mulut Sungkur.
” Dasar pencuri, keparat!” Si Pemborong melengos sambil mengelap palu erat sekali.
Pada malam harinya, Sungkur dipukuli oleh beberapa orang berbadan tegap. Wajahnya habis, seperti telur busuk. Bisa jadi orang-orang berbadan tegap itu sewaan si pemborong. Beberapa hari lamanya, Sungkur tidak muncul-muncul. Diam di rumah, orang sebenarnya bertanya-tanya, namun…hhh…apa pedulinya dengan dia, sampah!!!
Seminggu kemudian, Sungkur muncul lagi. Di depan rumahnya, pagi sekali dia duduk nikmat, kopi mengepul, rokok sigaret seperti asap kereta api tak mau berhenti keluar dari mulutnya. Pemborong menatap Sungkur dengan sungging nyinyir!
Dan pada malamnya, beberapa bahan bangunan hilang lagi.
Sampai…kini berdiri bangunan LP.
Setahun yang lalu, Sungkur hilang. Rumah dibiarkan kosong. Terawang orang-orang menyebutkan, Sungkur pulang kampung, menemui sanak saudaranya di seberang. Ada juga yang ngomong mungkin dia mati tergusur arus air sungai, karena pada musim penghujan air melupa dengan aliran begitu kuat, bisa menarik batang pohon berukuran besar, seekor kerbau pun pernah terbawa arus. Hanya….apa pedulinya!!!
LP yang didirikan semakin ramai dengan penghuni. Orang-orang hampir setiap hari melihat beberapa narapidana masuk, namun jarang sekali mereka melihat satu pun narapidana yang keluar dari LP itu. Kalau malam, terdengar lolongan orang yang dipukul, atau tiba-tiba terdengar riuh gemuruh. Pada dasarnya orang -orang memang kebisngan, namun lambat laun tokh jadi biasa. Dan hidup memang harus terus dijalani alakadarnya.
Sore hari, air kali pekat hitam bau menyebar. LP itu membuang kotoran para narapidana ke Kali Dekil. Penduduk pun selalu membuang sampah ke sana. Rumah Sungkur semakin kumuh tanpa penghuni. Kadang disinggahi oleh para pemulung puntung,orang- orang gila pun pernah berteduh dan tidur di terasnya.
Seorang pemulung puntung, sore itu tanpa sengaja menemukan sesosok tubuh kaku mengaoung di dalam sungai berbaur dengan aneka ragam sampah. Ketika diangkat, tubuh kaku itu tidak lain adalah mayat seorang wanita. {para penduduk berjejal ingin melihat mayat itu, semakin heran saja, ketika mereka tahu, mayat itu adalah Sumirah, seorang penjual makanan ringan yang biasa masuk ke dalam LP ketikamenjajakan dagangannya. Tidak ada tanda-tanda pemukulan atau penganiayaan ditemukan pada bangkai Sumirah. Sumirah pedagang demplon, begitu gurau orang-orang ketika dirinya masih hidup.
Sampai saat ini kematian Sumirah memang masih menjadi misteri. Hanya saja sejak kejadian itu, LP yang dulunya selalu ramai dengan teriakan-teriakan secara beringsrut mulai sepi, seperti matahari sore yang berangsur menguning dan menyusup ke balik gunung di ufuk Barat.
====
” Jangan bilang siapa-siapa jika kamu tidak mau seperti kawan-kawanmu itu, hah!” Bentak kepala sipir kepada seorang narapidana yang berbadan kerempeng. ” Malam nanti, seperti biasa…. layani aku sebisa mungkin..Dan status mu aman!!!”
Malam adalah kepedihan bagi orang-orang yang hidupnya berada di kolong jembatan. Namun malam adalah surga bagi orang-orang yang hidupnya berada di loteng-loteng bertingkat. Namun..malam memang selalu dan akan tetap berakhir. LP sepi….Orang-orang hanya mendengar alunan musik dangdut, lagu patah hati dari radio-radio dan vcd player mereka…hingga segalanya memang menjadi sepi. Di dalam rumah Sungkur…terdengar sepi ada orang batuk-batuk….namun…kembali segalanya sepi..
Komentar