” Lalu… mereka tidur dengan cara bagaimana, Papa!?” Tanya sang anak, Susi namanya, baru duduk di kelas dua sekolah dasar. Sambil berbaring dia memeluk boneka kecil mirip beruang.
” Ya..kadang mereka tidur dengan cara telungkup di bawah siraman bintang, tanpa kasur bantal seperti layaknya kita…” Kata Papa sambil membenarkan cara duduknya. Kacamata berkilauan tertimpa cahaya lampu neon. Surat kabar dan majalah mulai dirasakan sesuatu yang menjenuhkan malam ini. Televisi dan dvd player pun mulai dianggap sesuatu yang menertawai dirinya.
” Kasihan mereka, papa!”
###
Sasongko, seorang pegawai eselon, pejabat teras di Kota S. Wajah bersih, menandakan bahwa dirinya memang aristokrat. berangkat kerja memakai mobil dinas, sedan volvo diantara oleh sopir pribadinya, Bang Memed. Cara , ketika dia memandang sesuatu selalu sederhana, bahwa segala yang ada di dunia ini tercipta menga;lir begitu saja tanpa harus dibahasakan kembali dengan penafsiran yang berlebihan.
Istrinya, seorang dokter spesialis kulit. Cantik bukan kepalang. Untuk mendapatkan wanita secantik dia, Sasongko harus mengeruk dan mengetuk pintu orang tuanya. Pernikahan pun dihargai dengan nominal cukup tinggi, kata berita menghabiskan uang sebanyak seratus jutaan. Istrinya, kadang pulang larut Malam.
Anaknya, Susi. Cerewet, tidak sepadan dengan keyakinan Sasongko yang selalu menganggap segala sesuatu harus mengalir lurus. Pertanyaan kadang seputar pekerjaan papanya, atau orang-orang miskin yang Susi lihat semakin bergerombol saja di Kota S ini. Juga pernah menanyakan , mengapa gelandangan mencari makan di tempat sampah, bukankah lebih baik kita beri saja, supaya lebih enak?
Malam itu, Susi mengajak, mungkin sebuah permohonan kepada Sasongko untuk sekedar jalan-jalan ke pinggir Kota, melihat perkampungan kumuh. Jelas sekali, Sasongko terperangah dengan permintaan ganjil itu. Hanya, jika tidak disanggupi, kasihan anaknya.
” Baiklah Susi…kita jalan-jalan, tapi jangan terlalu lama..ini kan malam, sayang!”
” Asyikkk!!!” Susi bangkit dari kasurnya, berdiri lalu berlari keluar kamar.
Sepanjang jalan bersih dengan aneka sampah. Di pinggir kota S berderet para gelandangan tidur tanpa atap. Susi asyik sekali melihat-lihat mereka. Seorang kakek tua menatap Sasongko dengan kerling nyinyir. Mencemooh, lalu…crotttt! Ludah kental keluar dari mulutnya.
###
” Ini Baca!!!” Kata Istrinya.
Dalam surat kabar ada berita seorang pejabat Eselon tertangkap basah sedang jalan-jalan bersama anaknya di pinggiran Kota S.
” Mama pesan, jangan sampai berita ini memengaruhi diri Papa untuk membatalkan proyek megal mall yang akan didirikan di pinggir Kota S ini!”
Sasongko keluar dari kamar.
Sukabumi, 31 Oktober 2007





Komentar