Arsip untuk September, 2007

30
Sep
07

Perjalanan Kehidupan: Ramadhan di Kampung Halaman ( Nuansa Ketika Kecil)

Ini kisah perjalanan kehidupan waktu aku masih kecil. Menjelang bulan Ramadhan segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan matang. Ketika itu aku baru menginjak umur 7 tahun, SD kelas satu. Anak-anak seusiaku sudah ngomong ngalor ngidul, saling menguatkan rahangnya masing-masing, katanya akan shaum sampai sebulan penuh. Ya..termasuk aku, tidak mau kalau unjuk kebolehan…

Orang kampung seperti kami, memang hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan fasilitas waktu itu, segalanya biasa dan memang bisa dikerjakan dengan tangan. Membajak sawah dengan cangkul yang diayunkan oleh para petani, menggiling padi dengan lesung alu, menanak nasi dengan beliung… de el el..pokonya.

Memasuki hari pertama sebelum ramadhan, kami biasanya melakukan Kuramas..mandi besar kata orang dewasa mah, pake sampo…masih aku ingat..waktu itu yang kami pakai adalah shampo sunsilk hitam dengan kemasan ukuran kecil mungil. Kami mandi di cubluk ( wc umum).

Yang menjadi ciri khas awal masuknya bulan Ramadhan adalah…suara riuh petasan menggema di sana-sini. Bahkan para orang tua telah membuat bedil lodong siap ditembakkan ke angkasa…Aku..anak yang paling tidak suka pada petasan waktu itu, kecuali karena takut karena memang demikianlah aku diajari oleh kakek untuk rtidak menghambur-hamburkan uang.

Fenomena yang biasa kami lakukan di awal ramadhan selalin hal tersebut di atas tadi adalah bersalaman dengan tetangga dan ziarah ke kuburan, membersihkan makam leluhur.

Nah, setelah memasuki bulan Ramadhan inilah rahang anak-anak seusia kami terbukti lemah adanya. Aku sendiri waktu itu hanya mampu berpuasa sampai menjelang matahari tepat di tengah kepala.

Bersambung..

27
Sep
07

Obrolan di Kedai Kopi…!

Orang 1   : Weleh…weleh…hujan belum juga turun, sawah aku kering kerontang, padi baru ditanam sepertinya mati lagi tuh!

Orang 2    : Panasnya bukan main..apalagi sedang puasa, weleh..weleh…. debu dan tanah galian di pinggir jalan beterbangan, sesak rasanya hidup ini…

Orang a3    : Ini malam dinginnnya bukan main… sumsum ngilu, tulang kaku, …

Orang 4    : Aku sih tak punya masalah apa-apa dengan musim kemarau ini..

Orang 5    : Ya jelas..masalahmu khan dengan sekolah ya?

Orang 4    : Sekolah katanya gratis tahun ini, nyatanya..?

Orang 6    : Pretttttt…! Mana ada yang gratis di negeri ini. Kencing saja bayar gope!!!

Orang 7    : Itulah INDONESIA…Indonesia Tanah airku….aku berjanji padamu….

21
Sep
07

FRAGMEN: Di Pinggir Desa…

Pernahkah anda, sebagai orang Kota menengok kami. Melihat potret orang desa dari dekat. Kami bangun sejak pagi, dini hari sudah mengambil air wudlu, sembahyang menghadap Tuhan, menimba air di sumur memasukkannya ke dalam bak berukuran kecil. Ibu-ibu kami bangun lebih awal kemudian menyalakan tungku perapian, siap memasak nasi. Setelah subuh kami tidak diam, di surau orang-orang ramai membaca Qur an, di dapur para ibu asyik menanak nasi, menggoreng telur yang diambil dari kandang langsung. Menjelang matahari naik satu tombak, ayah-ayah kami memikul cangkul, menggiring kerbau, ke ladang ke sawah siap berjuang mempertahankan keyakinan kami, sebagai petani.

Siang, setelah matahari lewat satu tombak ke arah barat, kami istirahat di bawah pohon-pohon rindang, anak-anak kami bermain gobak sodor , main kelereng, di bawah pohon beringin besar pinggir desa. Nenek-nenek kami duduk simpuh di atas kursi bambu memanjang, adakalanya dalam suasana seperti itu terdengar lesung beradu dengan alu. Tidak kah ANDA iri mendengar ini?

Memasuki malam, orang-orang ramai menuju surau memakai sarung, baju-baju rapi, kopiah dan peci hitam. Gema adzan hampir melumatkan perasaan kami ketika di sebelah barat lembayung berkibar meramaikan angkasa, kepak kelelawar diterjemahkan oleh kami sebagai alur hidup yang terus bergerak.

Kami, mendengarkan dongeng dari ayah-ibu menjelang tidur. Anda akan iri ketika mendengar suara jengkrik mengiris hati, ramai suara kodok di pesawahan, dan bunyi binatang malam lainnya mengiba pada alam.

Di pinggir desa kami, dulu hidup seorang petani miskin, namanya memang sudah dilupakan orang. Hanya kemiskinan dalam hidupnya bukan menjadi sebuah alasan bahwa dia harus berhenti menjadi petani tangguh.

Namun…itu dulu….dulu sekali…….!

Aku pernah mendengar dari cucunya salah satu penggalan dialog dirinya dengan sang kakek, si petani miskin itu.

Petani    : Beberapa tahun ke depan, kau tidak akan melihat tanah ini sebagai lahan garapan, cucuku!

Cucu    : Aku tidak mengerti, kek!

Petani    : Akan tiba masa ketika sawah-sawah dibuat jalan, didirikan di atasnya bangunan menjulang tinggi, atau dibuat arena hiburan…uang dari hasil semua itu akan mengalir dan memenuhi gudang-gudang manusia-manusia pelit dan serakah… kau dan anak cucumu hanya akan menikmati debunya saja….

Cucu    : Seperti itukah masa depan, kami…Kek!?

Petani    : Hanya pradugaku saja, mudah-mudahan tidak terbukti…

###

Kemarin, ke desa kami datang orang kota, memakai mobil mewah entah apa mereknya… pokoknya mewah. Ia datang ke rumah pak Kades.. Omong punya omong, orang itu akan membeli satu hektar tanah milik pak Kades yang ada di pinggiran  desa.

Orang Kota    : Selamat siang, pak!

Pak Kades    : Siang..siang…ayo ayo silahkan duduk, wuihhh mohon maaf, maklum orang kampung kursinya sudah pada lepek…

Orang Kota    : Bapak ini, bisa aja deh….besok lusa kursi lepek itu akan berubah empuk lho pak!

Pak KAdes    : Maunya sih begitu, pak. O..ya…ngomong-ngomong, mau apa ya, bapak menemui dan berkunjung ke rumah butut ini?

Orang Kota    : Begini…saya sudah jenuh dengan kebisingan Kota, pak….istri saya mengusulkan untuk membeli tanah di kampung…kabarnya bapak punya tanah seluas ssatu hektar lebih…

Pak Kades    : Kira-kira begitu lah…

Orang Kota    : Andai tanah itu mau dijual…bapak berani berapa menjualnya…

Pak Kades    : Wah…kalau saya jual, masalahnya….para penggarap lahan itu mau diapakan…

Orang Kota    : Itu masalah gampang, pak…saya punya perusahaan di kota, mereka khan bisa dikerjakan di sana oleh saya…gampang pak,, segala sesuatunya bisa diatur…tinggal klik…selesai..

Pak Kades    : Wahhh bingung nin saya…

Orang kota itu mengeluarlkan beberapa gepok uang dari tas kulitnya.

Orang Kota    : ini sekedar uang muka saja, pak…lima puluh juta…!

Pak KAdes    : Yup..yup.. ckk..ckkk..ckkk…( Sambil menerima uang itu)

=====

Memang ,segalanya berjalan lancar. Konon…seminggu kemudian, pak Kades membangun rumah baru, memberi perabotan rumah tangga baru, kursi lepek jadi empuk, istrinya beli perhiasan segala, televisi pun diganti menjadi warna, anaknya membeli sepeda motor merek YAMAHA…

Para penggarap sawah, konon bekerja juga ke kota, dipekerjakan oleh orang kota di perusahaannya sebagai tukang panggul…

Di atas lahan satu hektar itu kini berdiri ruko, swalayan, dan bangunan mewah…

Pohon beringin tempat kami bermain ditebang tiada ampun…jelas, kami apalagi anak-anak kami harus bermain ke swalayan-swalayan yang baru di bangun…dengan biaya tentu saja….

Pernahkan Anda berpikir ke arah sana, wahai Orang Kota?

20
Sep
07

FRAGMEN : Pesta Orang-orang Desa…

Hhhh..Bukan main ramainya malam ini. Orang-orang Desa ngobrol ngalor ngidul di kedai Sarnakim. Pisang goreng, kopi tubruk, teh hangat, asap rokok, ketela rebus, jagung rebus, deblo, keripik singkong meramaikan suasana. Suara-suara keripik dikunyak mengalahkan perkusi jazz, bisa jadi.

Ini mungkin semacam pertunjukkan, konser. Pesta orang-orang desa, setelah seharian mencangkul sawah, mengurus ladang, menguras keringat, menggali ketidak pastian, berjibaku melawan arus hidup , menghamtam kepayahan, melawan terik memanggang panas matahari.

Orang Desa 1 : Siapa bisa mengira, tahun depan kita akan mengadakan demokrasi langsung, memilih walikota, pilkadaaa!?

Orang Desa 1 : Jago-jago sudah pada muncul belum?

Orang Desa 3 : Kabarnya sih walikota sekarang mau nyalon lagi. He.he.he… Andai aku punya modal milyaran, aku berani nyalon kok… bosan aku hidup seret..

Orang Desa 4 : Aku akan golput..

Orang Desa 5 : Ah.. masa..alasannya apa?

Orang Desa 4 : Tidak ada alasan..aku ingin nyoba saja golput, boleh kan..pliiiisssssss!!!

Orang Desa 1 : Orang golput itu artinya orang bingung….mbok ya kita harus punya pilihannnn….lah. Mau kamu dipersulit bikin KTP nanti oleh pak Lurah…

Orang Desa 4 : Tapi aku pengen golputttt…plissssss dech!

Orang Desa 6 : Apa untungnya bagi kita memilih atau golput??? Daripada ngomong politik-politkkan udah lah kita makan ketela rebus ini!!!

Orang Desa 7 : urusan politik…itu urusan tingkat tinggi…emang nya siapa dan apa kita? Kita cuman petani….petani kere kecil kucel dekil kumal gtooooooo!

Orang Desa 3 : Nah…justru itu kita harus berani ngomongin politik, agar nasib kita diperhatikan…

Orang Desa 7 : nasib? kau belum membayar uang sekolah anakmu, khan. Ayo terus bicara politik mungkin besok iuran sekolah anakmu akan terlunasi olehnya…!

Orang Desa 3 : Ya…anakku selalu dipanggil oleh TATA USAHA sekolahnya. sudah 2 bulan ini belum membayar iuran sekolah….bingung juga aku…

Orang Desa 6 : makanya kalau kerja itu yang benar…contoh tuh Haji Idik, karena bekerja keras ulat dan tidak putus asa jadilah dia orang kaya…

Orang Desa 5 : Lantas kamu sendiri…

malam larut, pesta usai…

Anak    : Pak, gimana nih…uang iuran sekolah sudah ada belum. Aku malu pak..dipanggil tiap hari oleh  TATA USAHA…

Orang Desa 3 :  Nak… malam tadi bapak dan ibu sudah memutuskan…untuk menjual sawah yang terletak di sebelah selatan desa ini…untuk kamu sekolah, nak!

Anak    : Pakkkk….jangan berlebihan begitu….!

Si anak mencium lutut ayahnya. Terisak nangis.

Anak   : Pak, biar aku putus sekolah saja. Aku akan mencari pekerjaan ke Jakarta….

Orang Desa 3 diam membisu demi mendengar keputusan anaknya.

Konon, tiga bulan kemudian, Orang Desa 3 mendapat wesel dari anaknya. Uang sebsar 5 juta. Di kedai ramai membicarakan ini. Pesta semakin meriah. Orang Desa 3 mentraktir semua..makanan gratisssss!!

###

Jakarta memang tetap semakin mengganas. Di Antara gemebyarnya lampu merkuri, seorang wanita belia dipeluk oleh omm Bromosusuno, lelaki tua berbadan gembrotttt!

Bromosuseno    : Ayo naik!

Tanpa sungkan, wanita belia itu naik mobil mewah, tersenyum hambar, teringat ayah dan ibunya di desa……

18
Sep
07

FRAGMEN :Penyuluhan SRI di Kelurahan Anu…Pa..yah…!

Konon, siang itu di Kelurahan ANU sedang diadakan penyuluhan SRI ( System Of Rice Intensivication). Para petani dihadirkan, biasanya akses mereka hanya terbatas pada sawah, ladang, dan cangkul kini mulai merambah ke buku-buku, ballpoint dan alat-alat peraga lainnya.

PEMATERI    : Jadi, begini ya bapak-bapak…mulai tahun depan, tepatnya musim panen yang akan datang, hasil panen kita harus melimpah ruah..wah..! Mau khan?

PETANI    : Ya ..mau..mau…agar uang kita bertambah, si Ninuk minta dibelikan henpon…anak -anak minta dibelikan mainan dan sepeda baru…!

PEMATERI    : Nah, agar hasil panen kita melimpah ruah, maka harus ada upaya khan, tahu tidak bapak-bapak, apa upayanya?

PETANI     : Belum tahun, pak Mantri!

PEMATERI    : Bapak-bapak tahu, atau pernah denger SRI?

PETANI    : Belum…

PEMATERI     : kesimpulannya, SRI itu sistem pertanian baru, yang akan mendongkrak hasil panen kita nantinya, sistem yang akan kita pakai seklarang ini, jauh berbeda dengan sistem pertanian sebelum-sebelumnya….bla..bla..bla..

PETANI    : Lha, saya khan biasa bercocok tanam seperti zaman nenek moiyang kami, pak mantri! Ga ada SRI SRI begituan segala..

PEMATERI    : Nah, makanya….hasil panen bapak-bapak dari tahun ke tahun tidak meningkat!

PETANI    : Tapi..pak mantri, bukan hanya itu masalahnya, kami tidak punya lahan, lahan yang kami garap bukan milik kami, kami hanya sekedar sebagai penggarap sawah saja….kebagiannya juga kecil, lho Pak Mantri!

PEMATERI    : Ya udah sabar saja dulu, yang penting kita aterapkan dulu SRI ini biar penghasilan bapak-bapak bertambah…Mau khan jadi petani yang kaya raya?

PETANI    : ( Diam)

Nah, pada akhirnya, sembilan puluh hari setelah rapat di Kelurahan ANU itu, di lahan pertanian Kelurahan ANU ada pembangunan Perumahan Elite….

Para petani yang sudah dibekali ilmu SRI gulung tikar dan menjadi tenaga suka rela sebagai kaum URBAN di pinggiran ibu Kota. jadi kuli bangunan..

Pak Lurah enak juga ya, hidupnya dari mobil ke mobil, terus membangun rumah baru, istrinya punya bantyak perhiasan di tangan, anak-anaknya sekolah di sekolah favorit. Pak camat juga enak benar, gajih bulanan tetap malah semakin naik.

Sementara , pak Kirun..petani desa yang menjadi kaum URBAN kini hidup dari kolong jembatan ke kolong jembatan. bekerja sebagai pemulung sampah di bantar Gebang… melawan terik matahari. Katanya sih, anak gadisnya, si Meni yang dulu ketika kecilnya cantik bak bidadari sering terlihat berdiri di p[inggir jalan, setiap malam selepas isya.

Kampung ANU memang telah disulap menjadi KOTA. Orang-orang, apalagi pemuda segan turun ke sawah, daripada turun ke sawah lebih baik naik ranjang!!! Masa ampunnnn…

Si Komeng, teman ku, sudah bisa menerka…di kampung ANU… tiga tahun lagi akan ada SWALAYAN , dan PASAR BEBAS…………Saya tanya, lantas..gimana dengan KEBEBASAN!

Emang, di dinding sebelah Utara Kantor Kelurahan ada corat-coret yang berbunyi: Kami Butuh Kebebasan bukan Pasar Bebas!…. Siapa yang baca? Siapa yang Dengar? Toh…dinding tersebut ada di sebuah gang sempit penguk bau apek, dan banyak orang kalau malam-malam buang air kecil di sana!

Teman saya bilang, Pa….Yah…

11
Sep
07

Fragmen : Kampanye? Atau…….!?

Bukan main sibuknya siang itu. Jalan-jalan disesakkan oleh orang-orang , berjejal menuju Lapangan Mahardika. Ada memang, tukang sopir yang nyeletuk, ungkapan yang keluar dari lubuk hati terdalam…! ” Halah… ada acara apa lagi ini, jalur dialihkan ke sebelah-menyebelah yang bertolak belakang dengan jalur semula. Jalanan macet……!”

Orang ,sebetulnya sibuk dengan urusan sepele. Sekitar kesenangan dalam hidup. Nah, justru untuk  mendapatkan kesenangan inilah yang sulit…sulitnya bukan sulit biasa, memang sulit di atas sulit.

Menurut cerita dari seorang sahabat. Siang ini akan ada pertunjukkan KAMPANYE. Seorang calon walikota-tunggal akan memaparkan program-programnya di hadapan halayak. Sudah tentu, dengan semangat berkobar tahun 45-an. Hhh..padahal kita hidup di tahun 2007, tapi…selalu saja semangat 45 yang didengung-dengungkan. Ada kaitannya memang dengan sikap rela berkorban dan tanpa pamrih.” Emang..masih ada pahala-wan di zaman pragmatis ini?” Sitir sorang teman dengan suara nyinyir…” Ada!!!” Jawab aku.  ” Mana, biar dia menghadap kepadaku!?” Susul temanku. ” Yang jelas..ada!” Aku bersikukuh. ” Ada..ada..ada… muannnnnaaaa! Buktinya, dodol!” Semakin kereng wajahnya. ” Di belakangmu!” Kataku. Tanpa disuruh pun dia menoleh ke belakang. ” Muannnnaaaaaaa!??? Tak ada siapa-siapa lagiii!” Dia monyong..manyun bukan main. ” Nah, itulah masalahnya… melihat pahlawan..harus dengan kacamata pahlawan juga, bukan dengan kacamata si kuat-rahang!”

Kita kembali ke soal awal, tentang kampanye. ( Sttt..jangan bilang siapa-siapa, ini hanya kisah fiktif…Ok!)

Cuaca panasssss. Bukan main. Nah, itu dia calon walikota bersama para jurkamnya. Kacamata hitam, kaos hitam, celanan hitam, pada bagian depan kaos ada tulisan : MAS’UD DAN WAWAN, PASANGAN IDEAL, PILIHAN DI HATI SEMUA ORANG, PILIHLAH SEBAGAI WALIKOTA DAN WAKILNYA..!” Ya..ammmmiiirrrrr, itu kaos apa spanduk? Mungkin begitu pikir kita.

Belum di bagian belakang kaos, ada tulisan kecil-kecil, tak terbaca. Intinya…kampanye, Mennn!

Panggung dihias bukan dengan janur kuning, kecuali oleh…spanduk-spanduk dengan aneka ragam poto calon pasangan. Ada tulisannya juga, lebih jelas, gede, terbaca oleh umum, dipahami dengan jelas, bahasa sederhana, singkat, pada, tidak bertele-tele, DLL! : AYO KITA BANGKIT BERSAMA MAS-UD DAN WAWAN.     Glekkk!

Jurkam maju

” Hidup Mas’ud!!!!!!!!!!!!”

” Hidupppppppppp!” Sambut para simpatisan.

” Wawan juga lhoooo!” Lanjut Jurkam.

” Hidupppppp!’ Teriak simpatisan.

” Mau pendidikan gratis, mau pelayanan kepada publik prima, mau segala beres???”

” Mauuuuuu!”

” Tahu jawabannya?”

” Tahuuuuuuu!”

” Apa..apa..apa..apa, coba!?”

” Pilih  Mas’ud dan Wawan!”

” Iiiiiiiyyyyyyyyessssssssssssssssssssss!” Jurkam menyikutkan sikutnya ke bawah, sambil sedikit memicingkan matanya.

” Mau hiburan!???”

” Mauuu…!”

” Tapi…ini ..dengar dulu, sambutan dari yang sangat terhormat, hebat, kuat, sehat, terpuji, ter..ter..ter. Calon walikota kita, sambutlah dengan meruahhhh, Mas’ud!”

Gerrrrrrrrrrrrrrr, tepuk tangan.

” Mau kesejahteran? Bla..bla..bla…!”

Bukan main panjang lebar kampanye Saudara Mas’ud ini. Bla..bla..la..

Sekitar pukul 02 siang acara selesai. Ada pawai kendaraan bermotor. Suara mesin meraung-raung melawan panas cuaca. Pak Polisi tersenyum, semua bahagia menikmati masa-masa kampanye..

Prittttttttttttttt! Suara peluit ditiup. Tangan kanan Pak Polisi melambai,

” Selamat siang, Pak!” Sapa pak polisi.  ” Silahkan ke pinggirkan sepeda motornya. Mohon maaf, kok bapak tidak memakai helm ya!?”

” Ini khan lagi kampanye.., Pak!”

” Tapi tetap saja..bapak melanggar hukum…coba..mohon diperlihatan kepada saya, SIM, dan STNK!” Pinta pak Polisi.

” ini, Pak!”

” Lho. ini kok STNK nya ada masalah, SIM nya juga sudah habis. Kesalahan bapak berlipat beberapa kali dan ganda. Tilang ya , pak!??”

” Khan lagi kampanye, Pak!”

” Iya juga sihhh..cuman saya juga sedang tugas, Pak! Ini surat tilangnya, Pak. Ke kantor saja besok !”

” Gak sidang di tempat, Pak!”

” Sorryyyyy..banget, pak!”

” Ya udah!”

Di rumah.

” Motor mana, Pak !?” Tanya istri.

” Kena tilang!”

” Sukurinnnnnnnnnnnn..rasainnnnnnnnnnn…!”

Glekkkkkk!!!!

Malamnya.

” Anak kita dipanggil bagian Tata Usaha di sekolahnya! Pak!”

” Kenapa?”

” Belum lunas, SPP empat bulan , Pak!”

” La..dalah…mana uangnya besok akan aku pakai untuk menebus motor, Bu!”

” Ini…jual saja kalung ibu!”

” Gak usah…berlebihan gituu, bu..Aku akan meminta kepada  calon walikota itu, agar anak kita bisa dibebaskan SPP nya. Khan janjinya pendidkan gratisssss!”

Glekkkkkk!

09
Sep
07

Fragmen : Ini..Demi Kepentingan Umum, Bung!

Ada kabar, dari Sebelah selatan Kota Berewekekek, seorang petani adu mulut dengan seorang pejabat teras Kota. Hanya masalah sepele, sepetak tanah yang tidak mau diganggu untuk pelebaran jalan, dengan alasan tanah itu telah menjadi warisan leluhur.

” Ini, demi kepentingan umum, pak!” kata Pejabat Teras Kota Berewekekek. ” Pak Harja saja, pemilik lahan sejuta hektar di wilayah ini menyilahkan lahannya digunakan, malah dijamin oleh kami dengan harga tinggi!”

” Ini demi kepentingan leluhur! Tanah ini tak akan saya jual, sampai titik darah penghabisan….!”

” masalahnya khan sederhana, bapak relakan tanah ini untuk dijadikan jalan, jalan harus dilebarkan, mobil dan motor semakin sesak, polusi…bapak tidak ingin khan ketika sedang tidur siang terganggu hanya karena raungan mesin kendaraan!”

” Tentu..tapi, tidur siang saya hari ini terganggu dengan perdebatan payah ini!”

Ketika cuacan semakin memanas, datang lah Pejabat Teras Paling tinggi di Kota itu.

” Ada apa ini, ramai-ramai!?” Katanya dengan nada tertekan, menimbulkan suara parau.

” Bapak ini, tidak mau merelakan tanahnya untuk menyukseskan proyek pelebaran jalan ini, Pak!”

Pak Tani mencibir.

” Masalahnya khan sederhana….!” Kata Pejabat Teras Paling Tinggi, sambil mengeluarkan sebuah bungkusan. Lalu membuka bungkusan itu. Isinya? Beratus-ratus lembar uang seratus-ribuan, Kami..tidak pernah melihat uang sebanyak itu tentu saja.

Pak Tani melihat sepintas, sambil tetap mencibir!

” Masalah ini akan segera selesai. Biar aku yang ngurus.” Lanjut pejabat Teras Paling Tinggi. ” Kamu… urus saja, pembuatan MCK dan Proyek pembuatan Gang di RW 212 sana!”

” Baik, pak!”

” Ini uang.. 10 juta!”

” Untuk saya, pak!?” Tanya Pak Tani.

” Ya, untuk siapa lagi memang?” Kata Pejabat Teras Paling Tinggi.” Besok…datanglah ke Kantor , sudah lama aku ingin mengundangmu dan mengajakmu makan siang bersama pak Walikota… oke!?”

” Wooooowww.., yang bener, Pak….Makasih..makasih….!” Katanya sambil mencium tangan Pejabat Teras Paling Tinggi beberapa, tangannya merogoh saku memasukkan uang itu.

###

” Nah, apa masalahnya.. ini khan demi kepentingan umum, Pak!”

” Jika demikian caranya, saya sih oke-oke saja, pak. Segalanya never mind lah!”

” Lha dalah… ini petani kok bisa ngomong BULE,ya!?” Kata Pak Walikota sambil melihat Pejabat Teras Paling Tinggi di Kota itu.

” Ya..emang warga kita sudah pada cerdas, Pak!” Bisiknya pelan.

###

Siang itu, Pak Tani bersama keluarga sedang pesra pora makan siang di restoran ternama di kota itu. Pejabat Teras Paling Tinggi pun, menurut cerita, ditraktirnya tiada ampun.

” Ayo..ayo..kita makan sepuasnya, hari ini milik kita…!” Kata Pak Tani..  ” Enak juga ya, jika dekat dengan orang-orang penting di Kota ini!” Matanya melirik Pejabat Teras Paling Tinggi.

” Ini khan demi kepentingan umum, Pak!”

Lalu…segalanya berlanjut secara wajar. Jalan pun diperlebar, Pak Tani bersama keluarga, membeli lahan sempit di pinggir kota, katanya..sebulan lagi, di tempat itu akan dibangun rumah susun!

” Bulan depan Bereskan proyek Pembangunan rumah susun itu ya!” Kata Pak Wali kepada pejabat Teras Paling Tinggi.

” Oke..hanya saja di lahan sempit itu si Petani yang tempo hari kita undang makan siang itu , sekarang tinggal, pak!”

” Ya, ajak..makan siang lagi lah..Khan beres!”

” Oke…pak. Ini khan demi kepentingan umum, ya Gak!?”

” Ya iyaaaa..lah!”

Selesai!

01
Sep
07

FRAGMEN : PETANI DAN MENTERI PERTANIAN DI REPUBLIK INIHDIA

Menteri : Anda mau ketemuan dengan saya?

Rakyat : Bukan..saya mau ketemu sama ,
sampean!

Menteri : Siapa Sampean itu!?

Rakyat : Sampean itu orangnya
bodoh..suka ngibul, dan ada tahi lalat
di pipi sebelah kirinya!

Menteri : Hmm…saya juga punya tahi
lalat di pipi kiri saya! …jadi siapa
sampean itu sebenarnya..

Rakyat : Ada satu lagi… sampean itu
orangnya cerewet, banyak nanya…

Menteri : Ya..ya..sekarang memang
banyak orang seperti si Sampean itu..
Sebentar..saya panggil dulu assisten
saya, ya?

Assisten datang, manggut.
Menteri : Tolong cari di daftar
pegawai orang yang memiliki nama sampean!

Assisten : Sampean itu Anda, pak Menteri!

Menteri : Bukannn goblokkkk…sampean
itu bodoh dan cep[at naik pitam!

Assisten : Hyyya…sampean itu khan
Anda, Pak!

Menteri : GOBLOGGGGG…..mana orang
kerempeng tadi..? Pasti dia tukang
Pikul, atau tukang dagang Tape!!! Kamu
tahu siapa dia Ass?

Assisten : Dia…dia… Petani, pak!

Menteri : Pantas kurang asem begitu
sama menterinya!…. Begini saja, tolong
ini rahasiakan ya..bila perlu panmggil
kembali si petani itu, akan saya angkat
dia jadi kepala Dinas
Perhubungan..eh.Dinas Pertanian mungkin..

Assisten : Okeh, Pak!

01
Sep
07

Feature: Tanyakan Kepada Sang Saka!

Sebetulnya tulisan ini sedikit terlambat aku publikasikan… Aku tuis untuk Almarhum Buyutku yang telah berani menantang BELANDA!

Malam tanggal 17 Agustus yang lalu, saya berbincang-bincang dengan beberapa pemuda. Kebetulan, malam itu ada acara final kejuaraan tenis meja. Obrolan terfokus pada kegiatan agustusan tahun ini. Pada dasarnya, hampir semua wilayah merayakan agustusan tahun ini dengan kegiatan-kegiatan yang lebih sederhana. Di kampung saya, hampir tidak ada kemeriahan berarti. Mungkin disebabkan oleh rasa jenuhnya masyarakat dalam memikirkan urusan-urusan seputar perut , dan mahalnya biaya kehidupan saat ini.

Temanku berbisik, ” Pak RW, kok di wilayah kita kegiatannya tidak semeriah tahun lalu!?”

Saya membenarkan pertanyaan barusan.

” Yang penting, maknanya, jang!”

Lantas kami berbincang ini-itu. Intinya, bendera-bendera meskipun layu tetap akan menancap pada tiang-tiang, akan menunggu datangnya angin, kemudian siap berkibar kembali.

Orang harus mulai memahami, apa sebetulnya yang harus kita lakukan di hari kemerdekaan ini? Apa hanya dengan memamerkan dan memasang umbul-umbul? Mari kita tanya pada nurani, apa cukup dengan acara dangdutan semalam suntuk. lantas kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan perasan keringat, gelimang darah akan terisi dengan benar?

Kita harus memandang jauh ke belakang, jangan terlalu berharap pada hari ini saja. Seperti apa, dan akan bagaimana para pahlawan jika mereka mengetahui, hampir setiap tahun di hari kemerdekaan ini kita bergelimpangan dalam hiburan-hiburan.

Maka, saya memiliki pandangan, hari kemerdekaan atau hari-hari apa pun itu namanya, cobalah kita isi dengan nurani yang jujur dan pantas. masalahnya sederhana, ada hiburan atau ttidak ada pun kita tetap dililit beberapa tumpuk masalah, memasang umbul-umbul atau tidak pun kita harus tetap berjuang melawan ketidak adilan di begeri ini, apa dengan mengibarkan bendera yang telah latu, menancapkannya pada tiang-tiang bercat putih lantas kita telah merdeka? Siapa Berani mengatakan belum?

Kemerdekaan…bukan akhir, tapi sebuah proses berkelanjutan. Lihat di atas tortoar kita, lihat di jalan-jalan , lihat di pasar-pasar! Deretan pengemis berjajar smakin meriah hampir sebanding dengan ratapan kita yang selalu digerayangi oleh keluh-kesah!

Sedangkan, di saat yang hampir bersamaan, di saat ketidak-menentuan menghinggapi orang-orang dekil… di atas meja makan, di rumah makan, di restoran megah, di ISTANA NEGARA, di MESJID AGUNG, di rumah dinas, kita merayakan kemerdekaan dengan gelak tawa….dengan aneka hiburan… dengan aneka sajian konsumsi megah…mewah…mahal…renyah…enak…

Pernahkah kita berpikir ke arah sana? Pernahkah kita bertanya kepada BENDERA LAYU, SANG SAKA YANG MENUNDUK..: Kapan kita merdeka!!?…

Sukabumi, 01 September 2007




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,674 hits

 

September 2007
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay