Bukan main sibuknya siang itu. Jalan-jalan disesakkan oleh orang-orang , berjejal menuju Lapangan Mahardika. Ada memang, tukang sopir yang nyeletuk, ungkapan yang keluar dari lubuk hati terdalam…! ” Halah… ada acara apa lagi ini, jalur dialihkan ke sebelah-menyebelah yang bertolak belakang dengan jalur semula. Jalanan macet……!”
Orang ,sebetulnya sibuk dengan urusan sepele. Sekitar kesenangan dalam hidup. Nah, justru untuk mendapatkan kesenangan inilah yang sulit…sulitnya bukan sulit biasa, memang sulit di atas sulit.
Menurut cerita dari seorang sahabat. Siang ini akan ada pertunjukkan KAMPANYE. Seorang calon walikota-tunggal akan memaparkan program-programnya di hadapan halayak. Sudah tentu, dengan semangat berkobar tahun 45-an. Hhh..padahal kita hidup di tahun 2007, tapi…selalu saja semangat 45 yang didengung-dengungkan. Ada kaitannya memang dengan sikap rela berkorban dan tanpa pamrih.” Emang..masih ada pahala-wan di zaman pragmatis ini?” Sitir sorang teman dengan suara nyinyir…” Ada!!!” Jawab aku. ” Mana, biar dia menghadap kepadaku!?” Susul temanku. ” Yang jelas..ada!” Aku bersikukuh. ” Ada..ada..ada… muannnnnaaaa! Buktinya, dodol!” Semakin kereng wajahnya. ” Di belakangmu!” Kataku. Tanpa disuruh pun dia menoleh ke belakang. ” Muannnnaaaaaaa!??? Tak ada siapa-siapa lagiii!” Dia monyong..manyun bukan main. ” Nah, itulah masalahnya… melihat pahlawan..harus dengan kacamata pahlawan juga, bukan dengan kacamata si kuat-rahang!”
Kita kembali ke soal awal, tentang kampanye. ( Sttt..jangan bilang siapa-siapa, ini hanya kisah fiktif…Ok!)
Cuaca panasssss. Bukan main. Nah, itu dia calon walikota bersama para jurkamnya. Kacamata hitam, kaos hitam, celanan hitam, pada bagian depan kaos ada tulisan : MAS’UD DAN WAWAN, PASANGAN IDEAL, PILIHAN DI HATI SEMUA ORANG, PILIHLAH SEBAGAI WALIKOTA DAN WAKILNYA..!” Ya..ammmmiiirrrrr, itu kaos apa spanduk? Mungkin begitu pikir kita.
Belum di bagian belakang kaos, ada tulisan kecil-kecil, tak terbaca. Intinya…kampanye, Mennn!
Panggung dihias bukan dengan janur kuning, kecuali oleh…spanduk-spanduk dengan aneka ragam poto calon pasangan. Ada tulisannya juga, lebih jelas, gede, terbaca oleh umum, dipahami dengan jelas, bahasa sederhana, singkat, pada, tidak bertele-tele, DLL! : AYO KITA BANGKIT BERSAMA MAS-UD DAN WAWAN. Glekkk!
Jurkam maju
” Hidup Mas’ud!!!!!!!!!!!!”
” Hidupppppppppp!” Sambut para simpatisan.
” Wawan juga lhoooo!” Lanjut Jurkam.
” Hidupppppp!’ Teriak simpatisan.
” Mau pendidikan gratis, mau pelayanan kepada publik prima, mau segala beres???”
” Mauuuuuu!”
” Tahu jawabannya?”
” Tahuuuuuuu!”
” Apa..apa..apa..apa, coba!?”
” Pilih Mas’ud dan Wawan!”
” Iiiiiiiyyyyyyyyessssssssssssssssssssss!” Jurkam menyikutkan sikutnya ke bawah, sambil sedikit memicingkan matanya.
” Mau hiburan!???”
” Mauuu…!”
” Tapi…ini ..dengar dulu, sambutan dari yang sangat terhormat, hebat, kuat, sehat, terpuji, ter..ter..ter. Calon walikota kita, sambutlah dengan meruahhhh, Mas’ud!”
Gerrrrrrrrrrrrrrr, tepuk tangan.
” Mau kesejahteran? Bla..bla..bla…!”
Bukan main panjang lebar kampanye Saudara Mas’ud ini. Bla..bla..la..
Sekitar pukul 02 siang acara selesai. Ada pawai kendaraan bermotor. Suara mesin meraung-raung melawan panas cuaca. Pak Polisi tersenyum, semua bahagia menikmati masa-masa kampanye..
Prittttttttttttttt! Suara peluit ditiup. Tangan kanan Pak Polisi melambai,
” Selamat siang, Pak!” Sapa pak polisi. ” Silahkan ke pinggirkan sepeda motornya. Mohon maaf, kok bapak tidak memakai helm ya!?”
” Ini khan lagi kampanye.., Pak!”
” Tapi tetap saja..bapak melanggar hukum…coba..mohon diperlihatan kepada saya, SIM, dan STNK!” Pinta pak Polisi.
” ini, Pak!”
” Lho. ini kok STNK nya ada masalah, SIM nya juga sudah habis. Kesalahan bapak berlipat beberapa kali dan ganda. Tilang ya , pak!??”
” Khan lagi kampanye, Pak!”
” Iya juga sihhh..cuman saya juga sedang tugas, Pak! Ini surat tilangnya, Pak. Ke kantor saja besok !”
” Gak sidang di tempat, Pak!”
” Sorryyyyy..banget, pak!”
” Ya udah!”
Di rumah.
” Motor mana, Pak !?” Tanya istri.
” Kena tilang!”
” Sukurinnnnnnnnnnnn..rasainnnnnnnnnnn…!”
Glekkkkkk!!!!
Malamnya.
” Anak kita dipanggil bagian Tata Usaha di sekolahnya! Pak!”
” Kenapa?”
” Belum lunas, SPP empat bulan , Pak!”
” La..dalah…mana uangnya besok akan aku pakai untuk menebus motor, Bu!”
” Ini…jual saja kalung ibu!”
” Gak usah…berlebihan gituu, bu..Aku akan meminta kepada calon walikota itu, agar anak kita bisa dibebaskan SPP nya. Khan janjinya pendidkan gratisssss!”
Glekkkkkk!
Komentar