Arsip untuk Agustus, 2007

30
Agu
07

MEMUPUK SIKAP KRITIS MASYARAKAT

Iklim kritis merupakan tanda masyarakat yang telah maju dan tercerahkan. Sebaliknya, ketika dalam masyarakat masih tersimpan sikap apriori, masa bodoh, dan acuh tak acuh , hal itu masih mencerminkan bahwa masyarakat tersebut masih dikekang oleh belenggu ketidak-ajegan dalam berpikir.  Memang, karena latar belakang masyarakat kita adalah atomis dan tepa selira, maka pemupukan sikap kritis pun agak menghadapi kesulitan.

Selama satu dekade ini, kita memang telah mengecap pahit dan getirnya alam reformasi, kebebasan memang telah mendapat tempat yang layak, sampai partisipasi masyarakat pun telah nampak kental dalam kehidupan kita sehari-hari. Hanya saja, mesti ada alur yang tepat, agar kebebasan yang kita kemukakan itu meginjak pada landasan yang benar dan tepat, hingga tidak serampangan semau gue.

Pada masyarakat yang dulunya hidup dalam iklim pedesaan yang agraris kemudian selama satu dasa warsa ini mulai memasuki masyarakat kota, ada semacam kultur lama yang akan terus mengikat erat pola pikir mereka. Masyarakat rural-urban yang tercipta dan lahir dari kebijakan pemerintah karena adanya pemekaran dan perluasan wilayah akan tetap mencirikan masyarakat rural – agraris yang kental dengan iklim masa lalu.

Masyarakat rural bercirikan selalu manut pada atasan , sebenarnya mentalitas seperti ini diwariskan oleh Kaum Kolonial, dan bukan merupakan watak asli masyarakat kita. Kalau mau jujur, salah satu mentalitas para pendahulu kita adalah sikap kritis dan tidak kompromi pada setiap kejahatan. Hanya saja, ketika kaum kolonial menginjakkan cakar-cakar kaki dan menelurkan mentalitas tepa-selira, sumuhun dawuh, manut seolah baik padahal membiarkan kejahatan dengan mengatasnamakan manut dan patuh sama dengan membunuh diri sendiri.

Iklim seperti ini, sampai sekarang memang masih kental di masyarakat. Masih selalu saya ingat, banyak beberapa masyarakat yang takut pada polisi, pamonh desa, dan lain sebagianya. Bukankah masyarakat itu- apalagi kita telah menjadi masyarakat urban- harus membuang jauh-jauh sikap seperti itu.

Maka, pemupukan terhadap sikap kritis harus menjadi salah satu agenda kita semua. Sebab bagaimana pun juga ,seperti di depan telah saya jelaskan, ciri masyarakat maju dan mau maju adalah masyarakat yang di dalamnya mencerminkan sikap kritis, tidak mau kompromi dengan kejahatan!

Sukabumi, 30 Agustus 2007

24
Agu
07

IDE CERDAS REMAJA

Oleh : Warsa S ( Ketua FRESH ( Forum Remaja Sehat) Kota Sukabumi)

Hari ini, Jum’at, saya sebagai Ketua FRESH Kota Sukabumi mengadakan kegiatan penyuluhan kesehatan REemaja Kota Sukabumi. Dalam sambutan, saya mengajak kepada para remaja untuk mengemukakan ide-ide cerdas demi kemajuan Kota Sukabumi ini.

Sebab faktanya, di saat menjelang PILKADA 2008, tidak sedikit beberapa kelompok dengan mengatasnamakan perkumpulan atau paguyuban yang secara tiba-tiba menjamur , tanpa diberitahu pun akan terlihat, hal itu tentu saja karena ada maksud tertentu dan kepentingan sesaat.

FRESH harus berbeda dengan perkumpulan-perkumpulan lainnya, meskipun usianya baru 1 tahun, namun diharapkan ke depannya mampu menjadi partner pemerintah Kota dalam melaksanakan tujuan-tujuannya. FRESH tida akan seperti paguyuban-paguyuban uniformalitas dan hanya menampilkan kekuatan fisik semata, juga harus tampil dalam bentuk intelektual faktual, mengedepankan kepala dingin dan menjaga nilai-nilai , serta tentu saja menyodorkan konsep-konsep yang dipahami oleh masyarakat Kota terutama oleh para remajanya!

Maka, anggota-anggota FRESH harus memasuki dunia-dunia keilmuan, media-media, dan ranah-ranah sosial lainnya. FRESH tidak dibatasi oleh perbedaan latar belakang, yang jelas harus berani mengemukakan ide-ide cerdas demi kemandirian remaja itu sendiri.

Mudah-mudahan, dengan adanya FRESH yang pembentukannya didanai oleh Satlak PPK IPM 80 Kota Sukabumi ini bisa menjadi partner dan rekan Pemerintah Kota dalam menuntaskan tujuan-tujuannya. Dan, mudah-mudahan bisa menjadi resistor ketika disana-sini muncul organisasi-organisasi yang pada hakikatnya hanya mementingkan kepentingan sesaat serta menggunting dalam lipatan dengan makna kasar hanya menjadi perongrong masyarakat dan pemerintah semata!

Sukabumi , 24 Agustus 2007

23
Agu
07

Penimbangan Balita di Posyandu Flamboyan 5

Balandongan (23/8). Hari Rabu kemarin( 22/8) penimbangan balita dan Pemeriksaan Ibu Hamil dilakukan oleh kader Posyandu RW 05 di gedung Posyandu baru. Meskipun pembangunan gedung itu sendiri masih menyisakan beberapa hal yang belum terselesaikan, salah satunya adalah belum lengkapnya beberapa fasilitas pendukung seperti: Ranjang Pemeriksaan, Meja dan Kursi, namun tidak mengurangi semangat para kader dan para ibu untuk melakukan penimbangan balita mereka.

Penimbangan terhadap balita dan pemeriksaan Bumil biasa dilakukan oleh para kader posyandu pada minggu ke-tiga setiap bulannya. Hal ini memang telah menjadi rutinitas bulanan. Pada penimbangan balita kali ini selain menimbang dan memeriksa bumil juga dilakukan pemberian vitamin A kepada setiap balita. Hal ini tentu saja dilakukan dengan satu alasan, bahwa kesehatan masyarakat memang penting diperhatikan oleh siapa pun, terlebih oleh pemerintah sebagai pemegang kepentingan tertinggi di Kota Sukabumi ini.

penimbangan yang biasanya dilakukan di rumah Ibu Susi(Salah Satu Kader Posyandu Flamboyan 5) , sejak Kelurahan Sudajayahilir resmi tergabung dengan Kota Sukabumi, beberapa Posyandu di Kelurahan Sudajayahilir memang belum memiliki gedung posyandu permanent. Gedung Posyandu Flamboyan 5 ini dibangun dengan memakai dana block-grant tahun 2007.

Adanya supra-struktur pendukung kesehatan ibu anak ini diharapkan akan mampu mendorong semangat para ibu rumah tangga di wilayah RW 05 untuk terus meningkatkan pola hidup sehat sesuai dengan salah satu tujuan Kota Sukabumi.

Lebih dari itu, ada secercah harapan yang terlintas dengan terealisasinya gedung Posyandu baru ini, yaitu: Membangun kesadaran pemerintah akan pentingnya merencanakan pembangunan kesehatan di Kota Sukabumi ini.  Kesehatan masyarakat merupakan infra-struktur terpenting di samping pendidikan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya untuk memajukan peradaban Kota Sukabumi. Sebab bagaimana pun juga, pembangunan tidak melulu hanya berkutat pada sekitar pembangunan fisik semata, terlebih pemerintah bersama masyarakat harus sadar akan pentingnya membangun jatidiri mereka dan kesadaran mereka terhadap bagaimana cara agar mereka tetap sehat.

Untuk ke depan, mungkin ada semacam harapan, pemerintah Daerah, harus lebih intens untuk melakukan investigasi secara langsung dan bertanggungjawab demi kemajuan masyarakatnya. Apa lacur jika pemerintah daerah sudah kurang peduli terhadap kebutuhan masyarakatnya? Tentu akan menimbulkan gap dan jurang yang teramat dalam perbedaan antara siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah.

Kesehatan ibu dan bayi merupakan tolak ukur keberhasilan pembangunan di Kota Sukabumi ini. Terencananya hingga terciptanya kesehatan ibu dan bayi merupakan dambaan setiap lapisan, baik itu kelompok pemilik kepentingan maupun kelompok masyarakat bawah yang menduduki hierarki akar rumput namun kurang memiliki akses dalam lumbung-lumbung strategis perencanaan Kota Sukabumi.

Jangan sampai ada anggapan, pembangunan terfokus melulu untuk menyediakan supra struktur-an sich! Adakalanya pembangunan ini memerlukan perencanaan yang matang dan seimbang agar pembangunan yang diharapkan sesuai dengan ide dan cita-cita masyarakat. Apalagi jika kita menyimak definisi dari otonomi daerah, peran dan partisipasi masyarakat secara langsung merupakan faktor determinan terhadap maju mundurnya kota Sukabumi ini.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa menggugah kita untuk lebih mawas diri terhadap langkah-langkah- yang kita anggap strategis- nyatanya masih tragis dan masih menjadi konsep mengawang bagi lapisan bawah. Kesehatan dan sarana pendukungnya harus tetap menjadi pilihan tetap pemerintah Kota untuk membangun peradaban basyarakat Kota ke depan. Realisasinya? memang perlu waktu, namun kita awali saja dulu dari diri kita, bukankah bola salju yang menggelinding dan membesar juga berasal dari bongkahan salju yang lebih kecil!? Dan Dialah yang Maha Tahu

22
Agu
07

PENCERAHAN POLITIK BAGI MASYARAKAT MENJELANG PILKADA 2008 DI KOTA SUKABUMI

Oleh : Warsa Suwarsa ( Ketua RW 05 Kelurahan Sudajayahilir, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi)

Satu semester ke depan, masyarakat Kota Sukabumi akan menghadapi pesta demokrasi lokal yakni untuk memilih orang pilihan yang akan menjadi pemimpinnya kelak. Persiapan, jauh-jauh hari tentu saja telah dilakukan , terutama oleh beberapa partai dominan yang akan mengusung orang yang akan dicalonkan pada pemilihan Kepala Daerah mendatang. Pembicaraan dan obrolan di warung, kedai, pinggir jalan, dan ruang-ruang publik perkotaan- meskipun dengan intensitas minim- sering membahas dan mengarah kepada PIlkada 2008 ini. Terlebih lagi pertanyaan seputar, siapa orang yang akan menjadi calon walikota di Kota Sukabumi ini? Ada sinyalemen kuat, salah satu kandidat yang akan dicalonkan menjadi Walikota adalah orang nomor satu di Kota Sukabumi saat ini ( M Muslich Abdusysyukur). Sementara, kendatipun konsep calon independen telah dan masih disosialisasikan kepada masyarakat , namun belum tampak akan muncul calon independen yang akan diusung langsung oleh masyarakat.

Hal penting yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah bersama beberapa partai politik dominan menjelang Pilkada 2008 adalah melakukan pencerahan politik dengan memberi pendidikan politik badi masyarakat. Hal ini kurang lebih dan paling tidak akan mengurangi kekaburan masyarakat dalam memahami makna demokrasi pada Pilkada yang akan datang, juga akan mengubah pola pikir masyarakat yang masih tabu dengan perbedaan dan semua harus selalu diseragamkan, sebab bagaimana pun juga, perubahan sosial yang sifatnya progressif ini masih belum mengubah paradigma masa lalu sentralisme. Juga, pencerahan politik akan akan berdampak pada ketelitian masyarakat dalam memilih calon pimpinannya kelak.

Seolah, ada hubungan sebab akibat antara pencerahan politik terhadap masyarakat dengan partisipasi masyarakat Kota Sukabumi pada Pilkada 2008 mendatang. Ketika masyarakat masih meraba-raba dan atau mengambang dalam arti belum tercerahkan secara holistik dalam politik maka akan menutup keran kebebasan dalam memilih calon pimpinannya, dalam suasana seperti ini, politik uang ( Money Politic) masih berlaku , dan kejahilan-kejahilan serta kelicikan-kelicikan ( salah satunya adalah intilah Serangan Fajar a la Orde Baru ) akan mewarnai Pilkada 2008. Kejadian seperti ini, jika terjadi, memiliki arti masih gagalnya masyarakat dalam memahami demokrasi yang sebenarnya. Dengan kata lain, pencerahan politik akan menjadi kerangka acuan bagi masyarakat untuk menyeleksi , memilah dan memilih siapa orang yang pantas menjadi pemimpinnya. Sebaliknya, jika masyarakat telah tercerahkan secara utuh, partisipasi politik mereka akan mengalir apa adanya, kebebasan berpolitik akan memiliki kerangka yang jelas, keinginan untuk golput pun akan memudar, sebab munculnya polemik Golput dalam setiap Pilkada di mana pun disebabkan oleh ketidak percayaan masyarakat terhadap masa lalu yang memble, hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap masa lalu karena melihat sepak terjang yang kurang populis dari pemerintah ( Meskipun arti sebenarnya pemerintah adalah Pemimpin itu sendiri). Hal lain yang akan muncul dari sikap pencerahan politik ini adalah akan menelurkan bibit unggul yang akan tumbuh dengan baik selama lima tahun ke depan.

Iklim politik di Kota Sukabumi, sebenarnya kurang jelas jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Kenapa? Sebab partisipasi politik masyarakat hanya – seolah-olah – berlaku di masa Pemilu saja. Sedangkan di saat-saat selain Pemilu atau demokrasi langsung lainnya, masyarakat bingung harus berpartisipasi politik seperti apa? Bagaimana cara menyalurkan partisipasi politik mereka dengan baik? Juga, banyak masyarakat yang memiliki sikap apatis dan skeptis terhadap peran politik mereka, masa lalu mungkin menyebut kelompok masyarakat ini sebagai floating-mass ( Massa mengambang).

Beberapa tahun ini, partisipasi politik hanya dimiliki oleh beberapa kelompok pemilik kepentingan, belum tersebar secara luas di masyarakat, bahkan masyarakat pun tidak menahu soal, siapa sebenarnya kelompok pemilik kepentingan di Kota Sukabumi ini? Bisa dikatakan, partisipasi politik hanya berlangsung di kelompok atas, orang-orang yang menduduki jabatan tertinggi di Kota ini. Alasan sederhana, mengapa mereka bisa berperan partisipasif mungkin karena memang demikianlah partisipasi politik harus dan hanya berlaku bagi kelompok-kelompok formal saja.

Kelompok-kelompok kepentingan tentu hampir bersamaan dengan partai-partai politik dalam berpartisipasi aktiv di Kota Sukabumi untuk mengisi gudang-gudang kekuasaan strategis. partai politik bisa saja mengklaim, dukungan dari masyarakat lah yang mengharuskan mereka mengisi gudang- gudang kekuasaan di Kota ini. Hanya saja, tidak semua bahkan rata-rata partai politik mengajari masyarakat yang mereka klaim sebagai pendukungnya / simpatisannya dengan pencerahan-pencerahan politik yang sebenarnya.

Jika saja, partisipasi politik ini dilakukan juga oleh hierarki paling bawah- yaitu masyarakat, maka akan membuka peluang terhadap kota Sukabumi ini sebagai kota yang benar-benar telah mengerti dan harus bertindak bagaimana masyarakat, pemerintah, dan partai politik dalam mengelola Kota ini dengan baik.

Calon Walikota- kecuali calon independen- jelas akan dicalonkan oleh partai politik. Hanya saja, ketika di lapisan hierarki bawah, muncul sikap apati-pilitik, maka akan hilang semangat kegiatan sosial masyarakat di Kota ini, karena aktivitas-aktivitas sosial hanya bisa dilakukan oleh kelompok kepentingan ( Pemerintah dan Partai Politik) formal semata. apati-politik ini akan memudahkan masyarakat untuk mencap bahwa tidak penting bagi masyarakat untuk memilih orang yang akan dipimpinnya, biarkan mengalir begitu saja, lebih parah lagi akan memunculkan alienasi politis badi masyarakat yang tidak tercerahkan. Memang, di Pilkada yang akan datang mereka memberikan haknya dengan memilih langsung, namun mereka tidak memiliki kerangka yang jelas calon yang bagaimana dan seperti apa yang mereka pilih, ini mencerminkan lagi sikap apati-skeptik politik. Akibat yang lebih fatal adalah, masyarakat sudah tidak akan peduli lagi terhadap kotanya, mau dibagaimanapun kotanya, mau diapa pun kotanya oleh para kelompok kepentingan terserah?

Dalam masyarakat yang tidak tercerahkan secara utuh akan mucul beberapa sikap, seperti menurut penuturan, Althoff, apatis, anomi, alienasi, dan sinis. Masyarakat apatis mencerminkan kelompok yang kehilangan minat untuk berpartisipasi aktiv terhadap masalah-masalah ( bukan hanya politik semata) yang dihadapi oleh Kota Sukabumi ini. Bahkan, jika kelompok apatis ini telah mengakar dengan kuat akan memunculkan sikap-sikap kurang simpati dari kelompok ini kepada kelompok hierarki atas, kebijakan-kebijakan pemerintah akan dilempar jauh dan dimasabodohkan dalam arti kasar akan dicampakkan ke keranjang sampah. Kelompok sinis juga akan lahir secara bersamaan, apa-apa yang datang dari kelompok hierarki atas dan kelompok kepentingan akan ditafsirkan sebagai konsep-perang yang hanya akan menyengsarakan mereka. Jelas sekali, fenomena seperti ini akan memunculkan masyarakat terasing dan anomi, aturan-aturan yang dibuat akan dilanggar dengan mudah tanpa pertimbangan etika sekalipun, bisa jadi dalam masyarakat anomi ini karena keran partisipasi mereka tertutup yang akan mucul adalah kebebasan tanpa keranga, aturan-aturan bisa dipermainkan, hingga pada Pilkada 2008 yang akan datangpun aturan-aturan yang telah ditentukan oleh KPUD bisa dilanggar tanpa batas.

Sejauh ini, sudah sampai mana kelompok-kelompok pemilik kepentingan ( Pemerintah dan Partai Politik)  di Kota Sukabumi ini telah memberi pencerahan politik kepada masyarakat? Hal inilah yang patut dipertanyakan menjelang PILKADA 2008 nanti. Wallahu a’lam

Sukabumi, 22 Agustus 200

21
Agu
07

Sastra Politik dan Politik Sastra

Oleh: Warsa Suwarsa  ( Ketua RW 05 Kelurahan Sudajayahilir )

Kehidupn sudah jelas, antara baik dan buruk. Namun, ada seorang teman yang mengatakan ketika dunia sudah dikuasai oleh orang-orang politis maka kejelasan kehidupan itu akan memudar dan bias, bisa menjadi antara baik samar buruk samar. Memang terlalu menganga jarak antara praktik politik dengan teori politik itu sendiri. Orang politis bisa saja menyebut, bahwa dalam politik dan kehidupan berpolitik kita harus siap menembak dan ditembak, konsep perang dan strugle for life seolah menjadi pemicu bahwa politik dan kehidulpan berpolitik memang harus seperti itu.

Kadang, bisa tidak wajar, ketika ada orang politis yang merasa sungkan untuk membobol kas saingannya. Kewajaran-kewajaran yang ada dalam teori-teori politik sementara ini sedang mengalami pengelupasan hingga keropos sampai ke akar-akarnya.

Lantas, bagaimana dengan sastra? Sementara ini anggapan orang tentang sastra adalah hal yang suci seperti agama, namun tetap saja tidak bebas nilai, karena bagaimana pun juga sulit bagi kita untuk menyebutkan beberapa hal yang bebas nilai di zaman ini.  Sastra memang diarahkan untuk membetulkan kejanggalan-kejanggalan dalam kehidupan ini. Sastra ibarat perang memang, hanya saja perang dengan menembakkan ide-ide cerdas dan cerdik serta penuh dengan perasaan yang terpikirkan. Istilah sastra politik sebenarnya belum ditemukan oleh para kritikus sastra sekalipun, namun adalah wajar istilah ini mengemuka ketika memang dunia sastra tidak bisa dipisahkan dengan dunia politik.

Politik sastra pun belum mengemuka di zaman ini, karena orang-orang sastra kadang bersebrangan dengan dunia politik, dan sebenarnya memang haris demikian. Karena..kemurnian sastra harus tetap terjaga jangan sampai diambil alih oleh orang-orang yang hanya akan memanfaatlan sastra sebagai alat untuk meluluskan kepentingan-kepentingan sesaat mereka.

Sepertinya, sampai saat ini harus ada upaya keras dari berbagai pihak untuk memaknai dengan cerdas seperti apa politik sastra dan sastra politik. Seperti Kuntowijoyo misalkan, pernah memuat beberapa kritik-kritik politiknya dalam Novel Mantra Pejinak Ular, meskipun dengan ilustrasi-ilustrasi satire.

Kita harus terus mencoba, apalagi, di Sukabumi ini belum ada gerakan-gerakan para budayawan yang membumi apalagi melangit.

Pondok Hijau Permai, Bekasi, Pada 22 Agustus 2007

19
Agu
07

Posyandu Flamboyan 05 Sebagai Tolok Ukur : Prototife Kesehatan Masyarakat Kota

TULISAN OLEH : WARSA SUWARSA ( KETUA RW 05 KELURAHAN SUDAJAYAHILIT)

Kesehatan dalam pandangan umum selalu tertuju pada konsep kesehatan yang disodorkan oleh para ahli, yakni sehat Jasmani dan Rohani. Anggapan seperti itu memang tidak perlu dipersalahkan karena pada dasarnya memang demikianlah sebuah anggapan. Hanya saja anggapan demikian akan menghadapi tantangan terbesar dari kelompok yang mengusung konsep general dan global dalam memandang kesehatan.

Dalam konsep Higienis, kesehatan- paling utama adalah kesehatan masyarakat- dalam dilihat dari berbagai sudut. Pemandangan terhadap sudut-sudut ini penting agar masyarakat bisa memilah dan memilih, ranah kesehatan mana saja yang perlu mereka ketahui, mereka cerna, dan mereka alami. Hal penting- misalnya kesehatan masyarakat di bidang pelayanan terhadap ibu dan anak. Memang sejauh ini, sesuai dengan Program Gerbang Mapak, Kota Sukabumi telah sejak dini dan jauh-jauh hari mengedepankan konsep pelayanan kesehatan terhadap ibu dan anak. Fasilitas tentu saja merupakan hal terdepan untuk mengejawantahkan rencana gerbang mapak ini.

Ada hal penting lagi yang perlu kita ajukan dalam konsep higienisasi ini, yakni perhatian pemerintah kepada kesehatan ibu dan anak perlu di tingkatkan kembali. Untuk menjawab hal itu, maka RW 05 telah membangun salah satu fasilitas kesehatan masyarakat, yakni pembangunan Posyandu Flamboyan 05 sebagai prototife kesehatan masyarakat kota.

Memang, sejak tujuh tahun yang lalu, Kelurahan Sudajayahilir Kecamatan BAros telah resmi tergabung dengan Kota Sukabumi, namun tentu saja pola hidup dan iklim sosial masyarakatnya masih mencerminkan kehidupan agraris pedesaan yang lebih mendahulukan norma-norma tak tertulis ketika berhadapan dengan aturan-aturan positif yang sebetulnya tidak berbenturan dengan norma-norma tidak tertulis itu.

Anggapan masyarakat yang tabu terhadap masalah kesehatan, bisa dicounter dengan- salah satunya adalah pembenahan dan pembangunan fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Tak akan ada yang menangkal atura-aturan itu, bahwa kesehatan masyarakat perlu dan sangat penting.

Kiranya, pembangunan Posyandu Flamboyan 05 di RW 05 Kelurahan Sudajayahilir ini mendapat respon positif dari Pemerintah Kota Sukabumi yang memiliki rencana ke depan untuk maju dan mengusung kesehatan kota di tahun 2008 melalui program-programnya. Dengan demikian, kekaburan pemahaman terhadap kesehatan dari masyarakat akan bisa terkelupas satu persatu menjadi pencerahan terhadap bagaimana memaknai kesehatan yang sebenarnya.

Meskipun, bukan menjadi penilaian finas, bahwa dengan berbondong-bondongnya para ibu membawa anak-anak mereka ke posyandu, namun setidaknya telah menjadi point awal bagi masyarakat untuk memahami arti penting kesehatan secara universal, bukan dipandang dari kesehatan jasmani dan rohani melulu. Insya Allah…

Sukabumi, 19 Agustus 2007

Ditulis sebagai laporan kepada Pemerintah Kota Sukabumi

###

10
Agu
07

Pembangunan Posyandu Flamboyan 05

Balandongan.(01 Agustus 2007). Pada tanggal 01 Agustus 2007, RW 05 mulai membangun POSYANDU Flamboyan 05.




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,567 hits

 

Agustus 2007
M S S R K J S
« Jul   Sep »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Klik Tertinggi

  • Tidak ada

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay