Arsip untuk Juli, 2007

26
Jul
07

Cerpen : Pilihan

” Mau makan dengan apa ,nanti..kamu, Sella!” Kata Mama setengah berteriak. Tanpa memperhatikan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Padahal di televisi sedang ada acara berharga, sebuah pertunjukkan sulap dan goyang penari ular.

” Papa….!” Sella melirik kepada Papanya yang sedang asyik membuka-buka majalah bulan lalu, seputar proverti melulu.

” Papa pikir.. Mamamu lebih tahu dengan jelas segalanya tentang kamu, Sell!” Itu yang keluar dari mulut Papa.

” Mama tahu…Andi adalah seorang aktivis , sungguh pekerjaan yang teramat mulia, jika boleh Mama akan menyebutnya perbuatan agung. ” Sesaat mama menarik nafas. ” Tapi…Ziggy, Sella…Ziggy…. dia anak seorang konglomerat di Kota ini…Semua orang mengenal orangtuanya, Sella!”

” Hh..semua orang mengenal mereka memang!Sampai tukang pungut sampah pun!”

” Ya…kami sudah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Ziggy….bukan dengan aktivis anak-anak itu, Sell!”

###

Sebuah mobil berhenti di depan sebuah Yayasan Anak. Dari dalamnya keluar seorang wanita, setengah baya, kernyitan pada keninggnya menandakan kerapuhan jiwa dan rikuh dalam menjalani hidup. Cara jalannya tidak mencirikan bahwa orang itu bahagia. Tukang becak bisa menerima sebungkus nasi rames dari siapa saja, itu sudah cukup baginya untuk menyimpulkan bahwa hidup disesaki oleh orang-orang baik. Hanya saja, cerita tukang becak tadi tidak sama sekali memengaruhi orang yang sedang berjalan menuju gedung Yayasan Anak itu.

Tanpa sungkan , dia memasuki sebuah ruangan, tentu saja di atas pintu ruangan itu tertulis dengan kokoh: Andi Akbar, Pimpinan! Dia masuk, seseorang dengan kepala setengah pelontos terlihat sedang membuka-buka buku. Serius. Dari roman wajahnya tidak ada tanda-tanda bahwa dia senang berdebat, bisa jadi rangkaian hidupnya hanya sekitar kemandirian anak, pembelaan terhadap hak-hak anak. Pada saat yang tidak diperkirakan sebelumnya, saya pernah mendengar dia berkata kepadaku: ” Betapa enaknya hidup kamu, alakadarnya, menjalankan hidup tanpa rutinitas, kecuali melakukannya satu persatu….entah kapan aku bisa begitu!”

Andi Akbar, berdiri menyambut kedatangan ibu setengah baya itu.

” Silahkan duduk, Bu!” Dari cara bicarnyanya sudah bisa diterka, girang berbaur bahagia.

Tanpa disuruh dua kali..ibu itu duduk.

” Bagaimana, kabar Sella, bu!?”

” Sella baik-baik saja…” Ibu setengah baya itu berhenti sesaat. ” Nak Andi…ada hal yang perlu ibu bicarakan kepada, Nak Andi!”

” O..ya?”

” Nak Andi…ibu mengerti, kamu bahkan Sella sendiri mengharapkan satu sama lain, hanya saja… mengertilah, Sella telah saya tetapkan…jodohnya adalah Ziggy, anak Pak Bowo. Nak Andi kenal kan pada Pak Bowo, penyumbang dana terbesar pada Yayasan ini. Ingat lho, Nak Andi..tidak mau khan..jika Yayasan ini kehilangan penyokong dana terbesarnya?”

Andi diam, kepalanya sejenak terasa pegal.

” Bu, mohon maaf… saya sedang tidak bisa diganggu hari iini.” Wajahya tiba-tiba berubah.

###

Suatu malam di akhir bulan dua. Sella bersama keluarga sedang menyaksikan acara televisi. Papa setengah berteriak:” Mamaaa…….. coba lihat berita di koran ini….!”

Mama dan uput menengok ke arah Papa. Papa sendiri yang bergerak mendekati mereka berdua.

” Coba baca ini: UNICEF MEMBERI PENGHARGAAN KEPADA ANDI AKBAR, SEORANG AKTIVIS KEMANUSIAAN YANG SELAMA INI MENGABDIKAN HIDUPNYA UNTUK KEMANDIRIAN DAN MEMBELA HAK-HAK ANAK.” Papa menarik nafas. ” Dan baca lagi ini, UNICEF memberi lencana , dan….uang sebesar….SATU MILYAR RUPIAH.. atas jasa-jasanya selama ini….. SATU MILYAR, MA……SATU MILYAR……!”

Demi mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri berita di koran itu, Mama merangkul Sella, sambil mencubit-cubit pipi anaknya, Manja sekali.

” Dari dulu sudah mama katakan, Nak Andi itu orang hebat, Sella….. pilihan mu memang tidak pernah salah..kamu dan Andi memang pasangan yang pas dan cocok. Kemarin malam..mama melihat Ziggy sedang berjalan dengan wanita lain, malah pake bergandengan tangan segala lagi! “

” Tapi ,Ma….Sella sudah amemutuskan!”

” Nah…itu baru anak Mama….kamu memang harus memutuskan dengan hati kamu sendiri. Andilah pilihanmu…bukan Ziggy..atau siapa-siapa!”

” Ssssaya telah memutuskan untuk memilih orang lain, bukan Andi juga bukan Ziggy, ma!”

” Siapa????”

” Warsa, Ma….!”

” Apa?!!!!! ” Mama setengah melotot! ” Kamu lebih memilih lelaki yang tidak jelas juntrungannya itu. Seorang penulis kacangan yang hidupnya bukan kepalang amburadul. Dengar ya….penulis kacangan itu tidak bisa apa, tidak punya kontribusi terhadap kehidupan ini, hanya pandai membual..apa kamu mau makan bualan dia, Sell…” Mama membantingkan badannya. ” Sella…Mama mohon jangan sakiti mama untuk ke sekian kalinya….Andilah yang pantas untukmu….!”

Sukabumi ,Hampir di penghujung Juli 2007

24
Jul
07

Cerpen: Panyanyi Opera

Malam minggu. Orang bilang malam panjang. Jalan raya sesak ramai. Di trotoar berjalan lambat beribu-ribu orang , berbaur laki perempuan, tua muda, kecil besar. Tengah jalan, mobil, motor, merayap lambat tercegah langkah orang-orang yang menyebrangi jalan dengan cara memotong tanpa pertimbangan, aturan? Semuanya hanya masuk ke dalam keranjang sampah! Namun, bukan itu yang ingin saya katakan, tak ada artinya bagi orang seperti Anda!

Dengan langkai panjang, bersemangat, saya berjalan memburu gedung opera. Orang seperti anda akan mengernyitkan kening sejenak, kok aneh di kota S yang kecil namun meriah ini ada sebuah gedung opera? Perlu saya jelaskan, gedung ini dibangun bukan secara mendadak kecuali karena memang gedung ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Hanya saja karena orang telah disibukkan dengan bioskop, tayangan televisi, dan hiburan malam lainnya, gedung ini sempat terbengkalai. Sekarang, tepatnya sejak dua bulan yang lalu gedung ini dihidupkan kembali. Setiap malam minggu selalu digelar pertunjukkan opera, ya..tentu..tentu saja pengunjung yang datang itu berasal dari kelompok menengah ke atas. Lupakan itu! Orang macam apa pun bisa menikmati pertunjukan seni, tanpa perlu memandang dia dari mana asalnya.

Gedung telah ramai. Kursi padat. Omong punya omong, malam ini akan kedatangan pak Walikota bersama keluarga. Entah dengan alasan apa mereka akan mengunjungi gedung opera ini. Tentu saja panitia penyelenggaran sibuk bukan main. Orang-orang tidak boleh duduk dideretan bangku paling depan, semua itu dikhususkan untuk pak Walikota dan keluarga, terlebih lagi , tadi sore saya mendengar berita dari salah satu radio, para kepala bidang dan kepala dinas kora S pun akan hadir pula. Dari sumber yang bisa dipercaya, mereka telah menyumbang kepada panitia , dana sebesar dua ratus juta rupiah untuk biaya opersional pertunjukkan opera malam ini.

Perlu anda ketahui, pertunjukkan malam ini bukansekedar pertunjukan, melainkan akan dilakukan sebuah kontes. Akan memilih siapa penyanyi opera paling bagus di kota S ini. Saya hanya seorang penikmat seni, namun… dengan alasan yang kurang masuk akal- sebenarnya- saya dipilih oleh pengelola gedung ini sebagai salah seorang juri yang akan memberi penilaian kepada setiap kontestan, jangan percaya pada kemampuan, di zaman ini orang lebih memadang kepada kekerabatan atau apa pun itu dalam memilih seseorang untuk menjadi dan menjalani tugas tertentu.

Saya duduk diantara dua juri lainnya. Masing-masing antara kami tidak saling mengenal. Orang yang duduk di sebelah kanan saya penampilannya bukan main bahagia, selalu melihat HP miliknya hampir lima menit sekali, kurang peduli pada kertas dan pencil. Teman yang satu lagi sibuk dengan keseriusannya. Menulis ini itu di atas kertas nilai, bahkan sempat menawarkan diri untuk kengisi kertasa nilai yang ada di depanku.

Seorang lelaki setengah baya, kecil ukuran badannya tapi jangkung menghampiri kami.

” Bagaimana , bapak-bapak?” Katanya sambil membungkuk, ” Apa segala sesuatunya telah siap?”

” Kita tunggu saja instruksi dari ketua panitia, pak!” Kataku sambil tidak menghiraukan kehadirannya.

Orang itu segera meninggalkan kami. Dingin.

” Hussshh, kamu tidak tahu ya?” Kata salah seorang juri di sebelah kanan saya, ” Beliau..yang barusan bertanya itu adalah kepala Dinas pariwisata yang baru di kota S ini..!”

Peduli iblis!

Lalu datang lagi seorang wanita. Halahh… ini kan istri pak Walikota. Menghampiri kami, meminta salah kepada salah seorang pengunjung diambilkan sebuah kursi, kursi datang, si pengunjung membungkuk, kami pin melakukan hal yang sama, malah sambil berusaha memunculkan sebuah senyuman.

” Ibu telah berbicara dengan Bapak, nak War!” Katanya kepadaku, beliau mengenal saya sejak lima tahun lalu. ” Bapak siap mendanai segala tetek -bengek dan keperluan pertunjukkan opera yang digelar setiap malam minggu ini. Sebagai hadiah pertama dari kami, Susi anak sulung kami akan menjadi salah satu kontestan dalam acara kontes penyanyi opera malam ini, gimana nak War!?”

Susi? Teman satu kuliahku. Dibesarkan dengan cara manja, segala keperluannya terpenuhi dan terlengkapi. Apa hari memang telah dekat kiamat, hingga dia mau mengikuti kontes penyanyi opera malam ini? Seingat saya…dia khan tidak bisa melafalkan do-re-mi-fa-sol-la-si-do- dengan benar? Tidak tahu sopran, mezzo sopran, dan alto.

” Nak War, tidak usah bingung…” Ibu wali menepuk bahu saya, lantas dari tas jinjingnya beliau mengeluarkan tiga amplof…. hingga segalanya berlangsung begitu cepat, sebuah amplof telah nyasar di saku baju saya!

Pada kontes penyanyi opera ini segalanya memang serba kiamat! Sebagian kontestan secara mendadak tidak bisa hadir dengan alasan sakit dan ada kepentingan mendadak. Yang hadir pun tiba-tiba mengundurkan diri dengan alasan kurang layak menjadi penyanyi opera, sementara Susi- anak pak Walikota tetap merangsek maju. Segalanya terasa begitu cepat mengalir.

Susi naik ke atas panggung pementasan. Lalu menyanyikan sebuah lagu wajib Hallo.. Hallo Bandung. tentu saja dengan suara sumbang meskipun diiringi oleh orkestra merdu. Ingin sekali malam ini kubantingkan balpoint dan kurobek saja kertas nilai ini jika saya tidak ingat kepada isi saku baju ini!

Aneh memang, habis Susi menyanyi, orang-orang berteriak girang dan gembira, bertepuk tangan tak henti-hentinya. Bahkan pak Walikota dan para kepala dinas dan kepala bidang sambil berdiri segala!

Pagi hari kunikmati segelas kopi sambil menyulut sebatang rokok. Kuperiksa isi amplof yang diberikan oleh Ibu Wali malam tadi. Hhhh..isinya uang, hanya seratus ribu rupiah, sementara anak saya meminta uang iuran sekolah sebesar 250 ribu rupiah ,istri meminta dibelikan pakaian baru, sedangkan di koran…Susi anak pak Walikota dielu-elukan sebagai sang juara dan akan diikutsertakan dalam kontes penyanyi opera di Kota Bandung , minggu depan!

Cerita tolol! Memang!

Sukabumi, 24 Juli 2007 

23
Jul
07

PNPM P2KP Diterima Oleh Seluruh Warga Kelurahan Sudajayahilir

BALANDONGAN (22/07) Prpogram Nasional Pembangunan Manusia Pengentasan Kemiskinan Perkotaan pada akhirnya diterima oleh seluruh warga Mayarakat Kelurahan Sudjayahilir.  Setelah melalui tahap sosialisasi, kini PNPM P2KP di kelurahan Sudajayahilir telah memasuki Rembug Kesiapan Masyarakat ( RKM).

Memang, sebelum-sebelumnya telah bertebaran berbagai program pemerintah yang memiliki tujuan sama dengan PNPM P2KP ini, hanya saja menurut penuturan Iwan Wahyudin, salah seorang fasilitator PNPM P2KP , program ini murni memberdayakan masyarakat, segala sesuatunya dikerjakan oleh masyarakat, inisiatif dari masyarakat, dan partisipasi aktif masyarakat.

Kita tunggu saja, karena dalam program kali ini masih banyak langkah yang harus dilalui oleh masyarakat untuk sampai kepada tujuan akhirnya. Meskipun, sebenarnya, tujuan akhir dari program ini adalah untuk memunculkan beberapa masyarakat yang berwawasn ke depan, jujur, berdedikasi tinggi, dan tidak berat sebelah/ adil. Semoga lekas terwujud meskipun dengan langkah yang tertatih-tatih.

Karena bagaimana pun juga, masyarakat bukan hanya sekedar membutuhkan janji terlebih dari itu membutuhkan bukti. (Jurnal O5, laporan oleh Warsa S) 

21
Jul
07

Cerpen :Alangkah Enaknya…

Rembulan ibarat layangan malam, menggantung di langit cerah. Gemintang bias. Pelataran tanah keperakan. Rumah-rumah rapuh. Memasuki lorong gang sempit di kota S akan mengingatkan anda pada tempat penampungan sampah, kotor, comberan, pot-pot bunga terbalik, tiang listrik dipenuhi karat kecoklatan.

Di teras rumah, Pak Karim, seorang pensiunan militer, penghasilan tiga perempat dari gajih pokok. Tinggi kekar fisiknya tidak sepadan dengan dirinya yang ringkih. Meskipun asap rokok keluar masuk dari mulutnya namun apakah keceriaan terpancar di wajahnya? Makanya.. kamu tidak akan mengenal dengan benar siapa dia? Mungkin bagi kamu pak Karim tidak memiliki arti apa-apa: nol besar. Namun bagi kami, orng-orang yang tinggal di pemukiman kumuh ini, dia harta!

Pernah menangkap seorang maling. digebuknya sampai pingsan oleh tangan kekar pak Karim. Bagi kami, pak Karim sungguh agung, permata di keruhnya kampung kami.

Di tangannya dia memegang sebuah buku kecil- semacam buku rekening tabungan. Dibolak-balik, direnungkan jumlahnya. Dalam pikirnya, uang sebanyak lima juta rupiah yang tersimpan dalam tabungannya teramat kecil dengan keinginannya membeli perabotan rumah tangga di usia pensiunan seperti sekarang. Barang-barang lama, kemarin dibawa oleh anak-anaknya, kasarnya mungkin dirampok.

” Hhh..betapa enaknya menjadi pak Nandang, bekerja sebagai pedagang, memiliki toko kelontong, bisa menghasilkan uang banyak tiap harinya…!” Pikirnya lesu sambil menatap toko kelontong milik pak Nandang, di samping rumahnya.

###

Pagi sekali, toko kelontong pak Nandang sudah buka, selain menyediakan alat-alat rumahtangga juga menjual keperluan sehari-hari seperti lauk-pauk. Pak Nandang membuka toko sejak tahun 70-an. Mulanya, toko itu kecil, namun karena jerih opayahnya selama ini pak Nandang bisa menjadi seperti saat ini. Memiliki toko kelontong, memiliki istri baik, dikarunia 3 orang anak, sudah barang tentu mapan!

Tiap ada kegiatan, pak Nandang pasti mendanai kegiatan kampung comberan itu. Menjadi rahasia umum. Kekayaannya memang sebanding dengan orang paling kaya di kampung itu, pak Haji Juned.

Hampir saja, senyuman tidak pernah lepas dari mulutnya. Kepada siapa pun dia akan menyapa. Sopan santunnya tidak bisa disembunyikan lagi. Sampai toko kelontong itu laku berat. Selalu sesak dari hari ke hari. Buka ketika matahari mulai terbit, dan tutup menjelang isya.

Di kamarnya, pak Nandang sedang menghitung seberapa besar keuntungannya hari ini. Tagihan-tagihan dipisahkan dengan pendapatan dalam buku kas. Utang-utang dikalkulasikan. Dari keningnya muncul beberapa kerutan-kerutan kecil, biasanya setelah itu akan disusul dengan dengus kecil dari hidungnya.

Istrinya menghampiri, membawa segelas air putih. Suasana seperti inilah yang selalu dinanti oleh kepala rumah tangga. Ketika kepenatan dan kelelhan telah memuncak, datang dewi Angin-angin memberi angin segar.

” Pak, besok…aku mau membeli berlian!” Bisik bu Nandang lirih. ” Hanya saja..uangnya masih kurang, kira-kira sepuluh juta lagi, Pak!”

” Hhh..!’ Pak Nandang hanya mendengus, melirik istrinya sepintas. Pergelangan tangan istrinya sebetulnya telah dipenuhi oleh rantai emas. ” Besok saya usahain , Bu!” Bisik pak Nandang, ” Tapi ga janji, lho!”

Istrinya segera berbaring di atas kasur, manjanya bukan main!

Setelah segala sesuatunya dirasa cukup, pak Nandang membuka jendela kamarnya. Udara bukan main gersangnya, panas, hujan tidak jadi turun rupanya. Kepalanya menjulur keluar, sambil menatap rumah pak Diran tetangganya, tukang pungut sampah itu.

” Hhh..alangkah enaknya menjadi , pak Diran! Istrinya tidak pernah meminta ini-itu!” Bisik pak Nandang dalam hati.

###

Pak diran pernah bekerja di perusahaan besar. namun karena tersapu amukan badai kerisis, perusahaan itu gulung tikar, sampai melakukan rasionalisasi dengan mempehakan beberapa pekerjanya, termasuk Pak Diran. Sampai pada akhirnya pak Diran memutuskan untuk menjadi tukang pungut sampah dan puntung rokok saja.

Rumah sederhana bukan pertimbangan yang matang jika pemiliknya pun memiliki sikap sederhana. Anak pak Diran, Si Kumin selalu merengek ingin dibelikan sepeda motor karena panas melihat anak-anak sebayanya selalu berkeliling memamakai sepeda motor setia sore. Di rumah sederhana itu telah ada Tape recorder yang selalu dinyalakan dengan suara keras setiap malamnya. Konon, seorang tetangga pernah mendamprat pak Diran karena musik dangdut dan irama patah hati itu memukul telinganya!

Pak Diran sendiri selalu merokok jisamsu. Kopi susu. Makan dengan daging ayam. Paling kecil dengan tahu goreng. Anak wanitanya Mbak Jumiah dikabarkan melacurkan diri ke lembah hitam. Sering terlihat mangkal di alun-alun kota. pak Diran sebetulnya tidak mau ambil pusing dengan keadaan anak-anaknya, hanya saja sebagai orangtua…?

Sambil menikmati alunan lagu patah hati dari tape recorder, jisamsu dan segelas kopi susu, pak diran menatap rumahku! Rumah paling kucel milik seorang sastrawan penguk sepertiku.

” Hmm.. alangkah enak menjadi si W, tidak kerja tapi selalu terlihat tidak murung…!”

###

Saudara, tahukah kamu, seperti apa diriku. Sebetulnya saya mau saja mengakhiri kisah ini sampai disini, namun perlu ada kejelasan yang pasti. agar segalanya menjadi jelas.

Saya mengarang memiliki cita-cita ingin menjadi sastrawan besar seperti Chekov, Kafka, dan Kuntowijoyo bukan karena iri dengan keberhasilan mereka, kecuali karena saya ingin menulis untuk manusia. Namun percayalah…dalam diri ini selalu ada kegersangan, meskipun sebanding dengan kebahagiaan.

Kebahagiaan manusia terbukti seperti seorang pengemis yang diberi segenggam mutiara, sedangkan kesenggsaraan orang tercipta seperti seorang presiden yang dipenggal karirnya oleh pengadilan rakyat.

Setiap malam, saya selalu berbisik: ” ooo..alangkah enaknya menjadi si Andi, dicintai oleh seorang wanita mulia berbudi luhur, agung, dan serba mungkin!”

Nah, pembaca, kisah ini rupanya harus berakhir di sini, saya sudah tidak tahu lagi, seperti apa Andi, apa dia mau menjadi seekor burung, dan seperti apa Sella ,wanita yang dianggap berbudi luhur- mau jadi apa dia?.

Entah,

Sukabumi, Juli 2007

Mengenang hari jadi Andi Akbar dan Sella Putri Anjani…!

19
Jul
07

Ngaji Ka Pa Odang

Wanci tunggang gunung barudak geus siap-siap rék indit ka pangajian. Lampu obor mah geus pada nyekel séwang-séwangan. Baju kamprét ngélébét katebak angin, kopéah jideung mani ngaréngkénék nyongclo dina sirah. Méh tiap budak maraké kopéah. Ari samping disorénkeun kana tak-tak. Teu lila geus ngagimung mah, brul barudak téh riab seja muru ka pangajian.

Waktu mimiti ngaji ka Pa Idang mah, akang teu weléh sok dijajapkeun kunu jadi aki pituin, ari lila-lila mah geus teu kudu dijajap deui geuning. Ngan anu matak salempang keur barudak, pon nya deui keur akang nyaéta lamun ngaliwat ka kebon anu dipinuhan ku rungkun kibeling. Kaieun téh leuwih gedé alabatan kahayang diri sorangan. Da, ampir barudak atuh sok cing beretek lumpat lamun liwat ka éta dapuran kibeling téh. Ongkoh jalan masih kénéh batu deui, da can diaspal apanan, sakapeung mah mun pareng keur sué , sendal anu dipaké sok pegat talina, maklum sendal capit.

Komo lamun, geus wanci harieum beungeut, sok sanajan mawa lampu obor, ngan tara waka disundut, da kagok , sabab rék langsung ngaberetek lumpat. Sok kacaritakeun, dina dapuran kibeling téh unggal malem salasa jeung jumaah sok aya awéwé nu ceueik ngabangingik. Akang mah percaya wé, da ceuk kolot ogé kitu ceunah.

Atuh nepi ka pangajian téh sok lukut-lékét ku késang bari amekan ngahégak, empés-empésan. Ngan sok sanajan kitu, teu weléh wé ari kana ngaji mah mani segut. Ari anu kahijina mah éta meureun, apan néangan élmu pangaweruh téh wajib, anu kaduana mah sieun dicarékan kunu jadi kolot, da galakna lain orokaya!

Balik ngaji masih kénéh sarua, kudu ngaliwatan kana dapuran kibeling. Lampu obor geus disundut, sat-sut séwabf-séwangan bari haté mah angger seseblakan, jajantung ratug, pinuh ku kasieun jeung ka gimir. Geus pasti, barudak jeung akang cing beretek lumpat bari tara nolih kana tincakeun.

Kitu tah, pangalaman akang keur leutik nalika ngaji ka Pa Odang. Lampu listrik can asup ka kampung akang mah, ngaji ogé sok didamaran ku centir atawa ajug. Kacida béda jeung alam kiwari, listrik geus cing kariceup ngebur di mana-mana, barudak teu kudu hideung deui liang irung alatan nyesep lampu ajug atawa minyak tanah, malah teu kudu cing beretek deui lalumpat nalika ngaliwat kana dapuran kibeling, da puguh geus euweuh dapuranna ogé. Di dinya, palebah dapuran kibeling téa ayena mah geus jlug-jleg imah milik Pa Idim, kang Iiw, jeung Mas Bambang. Sok sanajan masih kénéh kacaritakeun, ceunah di éta tempat téh sok masih aya awéwé anu ceurik ngabangingik, baraya percaya?

Ngan… aya hanjakalna, dina alam kiwari mah barudak téh geus teu segut deui indit ka pangajian, malah akang sok nénjo barudak téh ayeuna mah ngumpulna di warungna kang Emud bari maén PS! geus puguh ari di imahna séwang-séwangan mah, da sagala aya; TV, VCD,DVD. Mun malem minggu ngahaja leuleumpangan ka dayeuh Sukabumi mah, barudak ngora anu saentragan ngarumpulna téh di mall-mall, atawa di sisi jalan Raya, cari cing cikikik!

18
Jul
07

Kartun Deui

Mick And Max                            By: Warsa

18
Jul
07

Katun 2

Mick And Max                    By : Warsa

18
Jul
07

Kartun

Mick And Max                          By : Warsa

18
Jul
07

Karikatur 11

Mick and Max By: Warsa

18
Jul
07

Karikatur 8

Mick And Max By: Warsa

18
Jul
07

Karikatur 7

Mick And Max By : Warsa

18
Jul
07

Karikatur 6

Mick And Max By : Warsa

18
Jul
07

Karikatur 5

Mick And Max By : Warsa

18
Jul
07

Karikatur 4

Mick And Max

By : Warsa

18
Jul
07

Karikatur 3

Mick And Max

By: Warsa




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,674 hits

 

Juli 2007
M S S R K J S
« Jun   Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay