” Mau makan dengan apa ,nanti..kamu, Sella!” Kata Mama setengah berteriak. Tanpa memperhatikan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Padahal di televisi sedang ada acara berharga, sebuah pertunjukkan sulap dan goyang penari ular.
” Papa….!” Sella melirik kepada Papanya yang sedang asyik membuka-buka majalah bulan lalu, seputar proverti melulu.
” Papa pikir.. Mamamu lebih tahu dengan jelas segalanya tentang kamu, Sell!” Itu yang keluar dari mulut Papa.
” Mama tahu…Andi adalah seorang aktivis , sungguh pekerjaan yang teramat mulia, jika boleh Mama akan menyebutnya perbuatan agung. ” Sesaat mama menarik nafas. ” Tapi…Ziggy, Sella…Ziggy…. dia anak seorang konglomerat di Kota ini…Semua orang mengenal orangtuanya, Sella!”
” Hh..semua orang mengenal mereka memang!Sampai tukang pungut sampah pun!”
” Ya…kami sudah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Ziggy….bukan dengan aktivis anak-anak itu, Sell!”
###
Sebuah mobil berhenti di depan sebuah Yayasan Anak. Dari dalamnya keluar seorang wanita, setengah baya, kernyitan pada keninggnya menandakan kerapuhan jiwa dan rikuh dalam menjalani hidup. Cara jalannya tidak mencirikan bahwa orang itu bahagia. Tukang becak bisa menerima sebungkus nasi rames dari siapa saja, itu sudah cukup baginya untuk menyimpulkan bahwa hidup disesaki oleh orang-orang baik. Hanya saja, cerita tukang becak tadi tidak sama sekali memengaruhi orang yang sedang berjalan menuju gedung Yayasan Anak itu.
Tanpa sungkan , dia memasuki sebuah ruangan, tentu saja di atas pintu ruangan itu tertulis dengan kokoh: Andi Akbar, Pimpinan! Dia masuk, seseorang dengan kepala setengah pelontos terlihat sedang membuka-buka buku. Serius. Dari roman wajahnya tidak ada tanda-tanda bahwa dia senang berdebat, bisa jadi rangkaian hidupnya hanya sekitar kemandirian anak, pembelaan terhadap hak-hak anak. Pada saat yang tidak diperkirakan sebelumnya, saya pernah mendengar dia berkata kepadaku: ” Betapa enaknya hidup kamu, alakadarnya, menjalankan hidup tanpa rutinitas, kecuali melakukannya satu persatu….entah kapan aku bisa begitu!”
Andi Akbar, berdiri menyambut kedatangan ibu setengah baya itu.
” Silahkan duduk, Bu!” Dari cara bicarnyanya sudah bisa diterka, girang berbaur bahagia.
Tanpa disuruh dua kali..ibu itu duduk.
” Bagaimana, kabar Sella, bu!?”
” Sella baik-baik saja…” Ibu setengah baya itu berhenti sesaat. ” Nak Andi…ada hal yang perlu ibu bicarakan kepada, Nak Andi!”
” O..ya?”
” Nak Andi…ibu mengerti, kamu bahkan Sella sendiri mengharapkan satu sama lain, hanya saja… mengertilah, Sella telah saya tetapkan…jodohnya adalah Ziggy, anak Pak Bowo. Nak Andi kenal kan pada Pak Bowo, penyumbang dana terbesar pada Yayasan ini. Ingat lho, Nak Andi..tidak mau khan..jika Yayasan ini kehilangan penyokong dana terbesarnya?”
Andi diam, kepalanya sejenak terasa pegal.
” Bu, mohon maaf… saya sedang tidak bisa diganggu hari iini.” Wajahya tiba-tiba berubah.
###
Suatu malam di akhir bulan dua. Sella bersama keluarga sedang menyaksikan acara televisi. Papa setengah berteriak:” Mamaaa…….. coba lihat berita di koran ini….!”
Mama dan uput menengok ke arah Papa. Papa sendiri yang bergerak mendekati mereka berdua.
” Coba baca ini: UNICEF MEMBERI PENGHARGAAN KEPADA ANDI AKBAR, SEORANG AKTIVIS KEMANUSIAAN YANG SELAMA INI MENGABDIKAN HIDUPNYA UNTUK KEMANDIRIAN DAN MEMBELA HAK-HAK ANAK.” Papa menarik nafas. ” Dan baca lagi ini, UNICEF memberi lencana , dan….uang sebesar….SATU MILYAR RUPIAH.. atas jasa-jasanya selama ini….. SATU MILYAR, MA……SATU MILYAR……!”
Demi mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri berita di koran itu, Mama merangkul Sella, sambil mencubit-cubit pipi anaknya, Manja sekali.
” Dari dulu sudah mama katakan, Nak Andi itu orang hebat, Sella….. pilihan mu memang tidak pernah salah..kamu dan Andi memang pasangan yang pas dan cocok. Kemarin malam..mama melihat Ziggy sedang berjalan dengan wanita lain, malah pake bergandengan tangan segala lagi! “
” Tapi ,Ma….Sella sudah amemutuskan!”
” Nah…itu baru anak Mama….kamu memang harus memutuskan dengan hati kamu sendiri. Andilah pilihanmu…bukan Ziggy..atau siapa-siapa!”
” Ssssaya telah memutuskan untuk memilih orang lain, bukan Andi juga bukan Ziggy, ma!”
” Siapa????”
” Warsa, Ma….!”
” Apa?!!!!! ” Mama setengah melotot! ” Kamu lebih memilih lelaki yang tidak jelas juntrungannya itu. Seorang penulis kacangan yang hidupnya bukan kepalang amburadul. Dengar ya….penulis kacangan itu tidak bisa apa, tidak punya kontribusi terhadap kehidupan ini, hanya pandai membual..apa kamu mau makan bualan dia, Sell…” Mama membantingkan badannya. ” Sella…Mama mohon jangan sakiti mama untuk ke sekian kalinya….Andilah yang pantas untukmu….!”
Sukabumi ,Hampir di penghujung Juli 2007














Komentar