waktu kecil, ayah selalu mengajak saya ke kebun binatang, setiap hari raya Idul Fitri atau liburan panjang sekolah. Di kebun binatang, saya diperkenalkan ayah pada singa, monyet, gajah, dan binatang lainnya.Ayah selalu cas-cis-cus menerangkan binatang kepada saya ketika bertanya ini-itu. Jika saya bertanya ” Apa ini… Mengapa demikian…Bagaimana jika…!” Ayah akan menjawabnya dengan penjelasan teramat panjang lebar yang sebetulnya tidak perlu bagi anak seusia saya waktu itu.
Bayangkan! untuk menjelaskan seekor singa saja, ayah sering mengutip ucapan beberapa ahli dan pakar sosial, dibumbui dengan pendapat para filsuf. Padahal, waktu itu, saya sama sekali tidak tertarik dengan hal demikian, saya lebih senang melihat-lihat binatangnya saja.
Suatu ketika ayah menyebutkan dan menjelaskan berulang-ulang kepada saya tentang setan yang menjadi ular untuk menggoda nabi Adam di surga. Di lain waktu beliau menceritakan kisah nabi Yunus yang ditelan ikan besar. Pada saat yang sama, ayah mengisahkan orang-orang Yahudi yang dikutuk oleh Allah menjadi kera hina karena lebih memilih mengail ikan daripada menyucikan hari Sabath. Ayah pun pernah menjelaskan Achiles, mahluk setengah manusia setengah binatang, pahlawan dalam perang Troya. Juga menjelaskan Machiavelli dengan Il Prince-nya, dan Thomas Hobbes dengan Homo homini lupus belum omniumcontra omnes-nya. Semua itu dilakukan ayah, tentu saja, di kebun binatang.
Sepertinya, kebiasaan ayah menular juga pada diri saya. Saya memang sependapat dengan Lippman, kebiasaan tidak diwariskan secara genetika dari satu generasi ke generasi lain. Mungkin saja, kebiasaan mengunjungi kebun binatang ini menular kepada saya karena saking cintanya saya sebagai seorang anak kepada orangtua. Menurut hemat saya, tidak salah jika saya melanjutkan kebiasaan ini.
Saya selalu mengajak Ade, anak saya, ke kebun binatang di setiap liburan sekolah. Kacuali karena rumah saya tidak jauh letaknya dengan kebun binatang, juga dengan kegiatan ini , saya memiliki keyakinan, akan mendekatkan anak pada sebuah pemahaman holistik tentang pentingnya manusia mencintai lingkungan, salah satunya binatang.
” Ayah, kenapa singa disebut raja hutan?” Tanya Ade kepada saya, persis seperti saya bertanya kepada ayah .
” Ade , belum tahu?”
Dia menggelengkan kepala.
” Singa disebut raja hutan karena kuat , gagah, dan buas. Menurut cerita, seorang pemimpin itu harus memiliki sifat-sifat singa untuk mempertahankan kekuasaannya dari serangan para perongrong. Ade tahu apa arti kekuasaan? artinya… kemampuan seseorang untuk melakukan bahkan menyuruh orang lain. Coba, angkat batu ini.. Ade!”
Ade melakukan perintah saya.
” Nah.. itulah kekuasaan, ayah berkuasa atas Ade untuk memerintahkan mengangkat batu ini. Ade pun memiliki kekuasaan untuk mengangkatnya. Ade… kekuasaan itu adalah mata rantai sambung menyambung, ujung-ujungnya akan bermuara pada satu kekuasaan tertinggi yaitu kekuasaan Allah. Jika berhenti? maka akan terjadi kedzaliman, kerakusan, dan otoriterianisme. Jika kekuasaan mandeg, sudah tidak menggambarkan lagi mata rantai kekuasaan, tetapi akan membentuk siklus ketakutan. coba Ade dengar puisi ini: MAHASISWA TAKUT PADA DOSEN. DOSEN TAKUT PADA REKTOR. REKTOR TAKUT PADA MENTERI. MENTERI TAKUT PADA PRESIDEN. DAN PRESIDEN TAKUT PADA MAHASISWA. Ade mengerti??”
Sudah barang tentu anak saya tidak mengerti apa-apa. istri saya hanya geleng-kepala dan tersenyum, dia memahami saya. Hhh..saya memang telah menjadi duplikat ayah rupanya.
Setelah merasa cukup melihat-lihat binatang, saya bersama istri dan anak istirahat di warung makan sederhana. letaknya masih berada di dalam lingkungan kebun binatang. Persis seperti ayah mengajak saya ketika masih kecil. memang ada yang hilang di warung sederhana ini. Berbagai makanan sederhana seperti comro, katimus, dan bajigur telah diganti oleh makanan modern.
” Hamburger tiga, isi daging sapi tambah saos tomat, ya!” Pesan istriku sudah pasih betul.
” capucino dinginnya dua gelas!” Tambah saya. ” Ade mau minum apa?”
” Orange juice, yah!”
” Orange juice nya satu gelas!”
###
” Setiap libur kamu selalu mengajak keluargamu ke kebun binatang, apa tidak salah itu?” Kata salah seorang teman sepekerjaan kepadaku di sela-sela istirahat.
” Ya, kenapa?”
” Coba cari suasana lain.Orang-orang pada ke Bali, Hongkong, Singapure. Eh… kamu ke kebun binatang terus. Apa tidak bosan?”
” Kenapa?”
” Ya harus lain lah. Sesekali ajak anak istrimu ke puncak, ke gunung, atau ke pantai lah!”
” Hmm… memang harus demikian. Oke usulmu saya tampung!”
” Kamu ini seperti dalam sidang majlis saja ah!”
” Aku punya pertanyaan untukmu.”
” Pati tebak-tebakan lagi kan?”
Aku mengangguk.
” Boleh lah.. ada hadiahnya kan?”
” Tentu..tentu…satu gelas capucinno dingin, oke!”
” Siiipp!”
” Coba jawab, bagaimana cara memasukkan singa ke dalam lemari es!?”
” Ya..masukkan saja!”
” Harus jelas dong, mesti runtut!”
” Birokratis benar ya?”
” Memang demikian, bagaimana?”
Dia berpikir .
” Menyerah ah!” Katanya sambil mengangkat kedua tangannya.
” Memasukkan singa ke dalam lemari es itu begini: tangkap singanya, ikat , kemudian buka pintu lemari es masukkan singanya, tutup lagi pintu lemari esnya, selesai!”
” Ooo..!”
” Mau lagi?”
” Oke!”
” Sekarang, bagaimana caranya memasukkan kambing ke dalam lemari es!”
” Ya, sama seperti tadi!” Jawabnya tanpa pikir panjang.
” Kurang tepat. Yang tepat adalah, tangkap kambingnya lalu ikat, buka pintu lemari esnya, keluarkan singa dari lemari es, masukkan kambing ke dalam lemari es, tutup pintu lemari esnya. selesai!”
” Wuiihhhh….! Ada lagi pertanyaanya?”
” Ada. Singa kan raja hutan. Pada suatu hari singa mengun dang bebrrapa , bahkan semua binatanfg diundang untuk mengikuti rapat akbar, pada hari yang telah ditentukan berbondong-bondonglah semua binatang menghadiri rapat akbar itu. Hanya saja ada seekor bintang yang tidak hadir di sana, siapa dia?”
” Binatng sakit!”
” Salah, yang benar adalah, kambing!”
” Kok kambing!”
” Ya jelas dong, kambing kan sedang ada di dalam lemari es!”
” O alaaaa..kamu ini!”
###
Orang sudah tahu, rumah saya telah disesaki oleh berbagai binatang. Lebih mirip dengan kebun binatang mini. Sampai pada suatu hari seorang teman menasehati saya.
” Pak, tahu tidak, apa inti dari kebahagiaan hidup!”
” Tidak!”
” Kebahagiaan hidup terletak dari kebebasan dan kemerdekaan hati, tanpa tekanan…”
” Oo..begitu..”
” Untuksemua mahluk hiodup tentu saja, termasuk binatang!”
” Ya..aku sudah mengerti jalan pikiranmu!”
” Oke, bapak harus melepas semua binatang di rumah bapak. Biarkan mereka bebas.!”
Tentu saja usul yang sangat berat bagiku. Karena binatang-binatang itu sudah menjadi teman baik bagiku, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai anak-anak angkatku sendiri. Tapi…pada akhirnya kulepas juga mereka.
” Bapak hebat!” kata temanku pada keesokan harinya.
” Apanya yang hebat!”
” Nih baca!”
O.. rupanya, tindakanku melepas binatang itu dimuat oleh salah satu koran ya?
###
Masya Allah, apa tidak salah? Bathinku. Beberapa kali saya mengucek-ucek mata, tidak percaya pada pemadangan yang ada di depan mata. Berbagai binatang meramaikan jalanan, ada monyet, buaya, babi, dan binatang lainnya. Hanya segelintir saja manusia yang benar-benar manusia, selebihnya adalah binatang.
saya pulang kerja lebih cepat, karena di kantor pun, hampir semua binatang menempati tempat duduk yang ada di tempat kerjaku.
” Sudah lah pak!” Hibur istri saya, ” barang kali itu hanya ilusi, bapak kan baru saja melepas binatang-binatang yang sangat bapak cintai!”
” Tidak bu, ini bukan ilusi ini betul-betul nyata,!”
Istriku tersenyum simpul.
Tiba-tiba Ade berteriak, menjerit.
” Ada apa ade…?” Kataku bersama istriku setengah berlari menuju ruang tamu.
” Di jalan banyak binatang, Ma!”
Istriku menengok dari tirai, ” Benar, Pak!!!” Katanya sambil melirikku.
” Benar kan, bu!?”
###
Malamnya. Seperti biasa kami selalu menonton acara kesukaan, Dunia Binatang. Namun baru saja acara itu berlangsung lima menit, rasa gelisah menjalar di dalam diriku.
” Bagaimana jika salurannya dipindah, Ma..Ade?”
” Boleh pak!”
Saya memindahkan saluran.
” Lho, kok dunia binatang lagi!?”
” Pindah lagi pak!”
” Elho..kok masih sama!”
” Ganti lagi, Pak!”
” Binatang lagi!!!?”
” Matikan saja televisinya, Pak!
Saya mematikan televisi, lalu kami pun tidur.
Sukabumi Juni 2005
Komentar