Yang tersisa dari keluargaku hingga hari ini adalah semangat yang sering diceritakan oleh ayah ayah ayah kakek , segalanya hampir telah sirna, sekedar untuk memikirkan sebutir biji jagung pun otak telah terperas habis, mungkin pesimis. Sementara, jika dipikir lebih mendalam tentang keadilan, apakah benar adanya keadilan itu? Masalahnya kemarin malam, Kusmin dipenjara hanya karena membuat tulisan di dinding dan merangkai beberapa kain lepek, botol-botol plastik, serta menyusun beberapa aneka sampah, yang saya maksudkan mungkin seni instalasi. Bertepatan dengan dipenjarakannya Kusmin, saya melihat beberapa orang pemakan bendera merah putih berkeliaran di jalan, dan ditonton oleh anak-anak kampung di televisi.
Pemakan bendera? Bisa jadi hanya bualan dan ungkapan dungu belaka! Tentu ada korelasinya dengan semangat yang sering diceritakan oleh ayah ayah ayah ayah kakek. Membawa, apalagi mengibarkan sang saka merah putih di zaman kolonial sama beratnya dengan memikul sebuah bukit. Bukan beban sebenarnya, kecuali tanggungjawabnya harus pasti. Jika saja keadilan itu adanya pasti, sudah barang tentu bendera tidak usah ditakuti oleh siapa pun. Kalau saja kebijaksanaan itu benar adanya, dan tercecer di ranah kehidupan sosial, sudah barang tentu lagi bisa dipastikan merah putih akan berkibar secara leluasa.
Ayah ayah ayah kakek harus membawa , tepatnya mengamankan bendera dari rampasan kaum kolonial. Di jalan ada barikade tentara kompeni, medan yang harus dilaluinya dari Bojongkokosan hingga Sukabumi adalah hamparan pesawahan , hutan. Pengamanan sangat ketat, inlander ekstrimist yang mencurigakan akan ditangkap dan dibawa ke kontrak perkebunan teh. Tidak sedikit para tua renta dijadikan rodi untuk membuat rel-rel kereta api.
Ya, ayah ayah ayah kakek berhasil menyelamatkan bendera kemudian mengibarkannya di pusat Sukabumi. Hanya saja tidak semua orang tahu. Orang zaman sekarang mungkin mulai melupakan kehebatan nenek moyangnya sebagai para pejuang.
” Apa yang ditulis Kusmin?” Tanya seorang pengunjung warung Mud kepada beberapa orang yang sedang asyik mengunyah pisang goreng.
” Dia tidak menulis apa-apa, hanya menyampaikan keadilan lewat seni..!” Ucao yang lain.
” Sebaiknya jadi orang itu jangan sok tahu. Obyektif memang dibutuhkan tapi harus lihat-lihat situasi lha! Jangan meminta susu kepada kerbau..” Kata seseorang yang memaki peci hitam. ” Itu perumpamaan, susu itu ibaratnya keadilan kerbau itu ibaratnya mereka yang memiliki muka tembok tebal kulit muka..!”
” Tapi… di mata saya, Kusmin itu adalah sosok seorang pejuang.!”
” Hhh..setidaknya, saya harus menyetujui ucapanmu. Masalahnya sederhana, Kusmin hanya mengotori dinding dengan coretan-coretan..”
” Sedangkan tempo hari , jalanan digenangi air , lumpur , sampah. tanah galian…!”
” Hhh.. tapi itu demi kepentingan umum, bung! Sedang Kusmin hanya melampiaskan hasrat pribadinya.!”
Kemudian obrolan kami berhenti ketika hansip Ika datang. Siapa tak kenal Hansip Ika, orang kepercayaan pak Lurah, mana galaknya bukan main!
Di jalanan, orang-orang mulai ramai beres-beres, dan bersih-bersih. Persiapan untuk menghadapi tujuh belas agustusan telah dimulai rupanya. Pagar-pagar dicat, segala sesuatunya dibuar baru. Gapura pun direka-reka, digambar, dinding yang dicoret-coret Kusmin sudah dilabur dengan kapur putih.Dalam kondisi yang dipahami hampir oleh seluruh orang sebagai pesta rakyat itu, orang-orang mulai melupakan ladang, bulir padi. palawija, dan kesusahan. Kemerdekaan adalah segalanya. Kusmin, bisa jadi… pikirannya berbeda dengan kebanyakan orang, mungkin, baginya, kemerdekaan itu hampir tidak ada.
Dan hampir di setiap penjuru. kemerdekaan itu tidak pernah ada. Ribuan, bahkan jutaan bendera yang dikibarkan oleh anak bangsa, sejalan dengan itu kesempatan untuk para pemakan bendera bendera semakin terbuka lebar. Sugiono salah satunya. Seorang lurah di kampungku, semua orang tahu itu. Tapi sudah menjadi rahasia umum, Lurah Sugiono sering menyakiti rakyat yang dipimpinnya dengan keluhan-keluhan tidak berarti. Pada mulanya, tentang kegemarannya memakan bendera hanya diketahui oleh istrinya. Namun istri bukan jaminan bahwa rahasia pribadi bisa aman dan tidak bocor. Istrinya menceritakan rahasia itu kepada tetangga tetangga tetangga, dan tetangganya. Semua tahu, lurah Sugiono si pemakan bendera.
Orang bisa saja menerka dan mereka-reka, perut buncit dan muka tebal disebabkan sudah terlalu seringnya Lurah Sugiono melahap bendera. Memang terlalu banyak di zaman sekarang ini, orang menganut paham skeptisisime, masa bodoh, bukan urusan kita! Sebagian besar tidak percaya dan meragukan segala sesuatu. Hakikatnya kemustahilan, tapi anehnya, mereka larut juga dalam pikiran-pikiran sedemikian rupa, apakah dengan berpikir demikian mereka ragu? Sedangkan ketika ragu, orang sudah membuang kemustahilan untuk mengakhiri sikap ragunya.
kemudian, orang-orang yang tahu tentang kebiasaan lurah Sugiono menurunkan kembali bendera-bendera yang telah mereka pasang di tiang-tiang, dengan alasan takut bendera itu dilumat oleh sang lurah si pemakan bendera. Jalanan lengang, bendera tidak berkibar-kibar lagi.
Lanjutannya, lurah Sugiono dikarantina oleh masyarakat di kantor kelurahan. Gelagat dan gerak-geriknya diawasi oleh orang-orang. Tentu saja masyarakat tidak mau memiliki pemimpin rakus sampai benrdera saja harus dilahapnya. Genderang keadilan meskipun ditabuh terlalu pelan tapi pada akhirnya berbunyi juga.
Dua minggu berselang. Kusmin telah dilepas. Dua orang saksi mata menggugurkan tuduhan terhadapnya. Yang kutemui pada diri Kusmin ketika bertatap wajah adalah sikap penyesalan. Ia merasa sangat menyesal, dua orang saksi itu telah melakukan adegan fiksi meskipun untuk kebebasan dirinya. Kusmin lebih baik mendekam dalam jeruji besi saja daripada harus lepas dan bergabung di dalam kehidupan yang sudah menganggap tulisan bukan sebagai senjata!
Berita tentang lepasnya Kusmin masuk ke dalam beberapa media cetak. Ada ucapan Kusmin yang ditulis besar-besar: SAYA AKAN MENCORET-CORET KEMBALI DINDING. SAYA AKAN MEMBUKTIKAN KEPADA KALIAN, BAHWA KEMERDEKAAN ITU HAMPIR TIDAK PERNAH ADA…
Esoknya, lurah Sugiono memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara membenturkan kepada ke jeruji besi karena keinginannya untuk melahap bendera tidak dikabulkan oleh seluruh masyarakat. Kepala lurah Sugiono pecah memancarkan darah kental, otak putih keluar, terberai. Ya….dia mati mengenaskan. Hanya saja, dia mengancam seblum membenturkan kepalanya..
” Kalian bodoh…bisa saja aku mati, tapi…besok..besok..besok..kalian akan melihat betapa banyaknya para pemakan bendera berkeliaran di negeri ini!” kata lurah Sugiono sambil melotot. Ah…orang-orang tidak peduli.
Kusmin berdiri menghadap dinding, kemudian mulai membuat coretan: SAYA HANYA INGIN MERDEKA!!! Dan … Kusmin ditangkap lagi ketika orang-orang merayakan kemerdekaan negeri ini. Orang-orang lupa, bahwa bendera-bendera mereka sedang diintai dan diawasi oleh para pemakan bendera. Sebaiknya… jaga baik-baik bendera anda, jangan sampai dimakan oleh mereka, meskipun itu sangat tidak mungkin!
Sukabumi, Juni 2006






Komentar