Arsip untuk Maret, 2007

31
Mar
07

Cerpen : Di Tanah Pekuburan

KuburanMenghampar kesunyian yang senyap di antara deretan kubur-kubur tua. Berserakan, seperti harmoni merdu bersimfoni syahdu onggokan tanah merah yang telah dibatasi oleh dinding-dinding pendek tak beratap. Bisik-bisik barzah terdengar meringis mengiris menyeruak keluar melalui nisan-nisan kokoh yang berukirkan nama-nama, tetapi diam tanpa kata dan ujar. Kebodohan terungkap, kesombongan terhapus, oleh jasad-jasad kaku di dalam kubur, makanan rayap.cacing, dan ulat tanah.Mana si bangsawan yang selalu bangga dengan darah birunya? Diam tak menyahut karena mulut terkunci rapat oleh sempalan tanah asal -muasal bermula. masih adakah rasa bangga yang tersisa, harta, tahta, jabatan, dan kekuasaan? Sepi, karena tubuh kaku kelu terhimpit tanah sempit dalam kapan lapuk membusuk dibalut debu-debu kusut. Masih adakah gelak tawa, kepongahan, senyum sinis, di atas derita orang lain, dalam kesengsaraan orang-orang lemah? Sunyi, karena diri telah hina serendah-rendahnya, membujur di bawah tumpukan semak belukar yang semakin mengakar dalam. Atau… masih adakah baju kebesaran yang tersisa? Tetap hening, karena tubuh sudah tanpa kulit, hanya menyisakan rongsokan belulang yang berserak dalam timbunan tanah lusuh.

Sementara, di atas tanah pekuburan ini kami berdiri membisu diserbu pesan-pesan ilahi: KEMATIAN ADALAH ABADI!

Kami, para penggali kubur telah selesai menggali tanah. Tepatnya sepetak lubang yang kelak akan menjadi istana megah atau semacam ruang penyiksaan bagi siapa saja yang menempatinya. Onggokan tanah merah basah selalu hadir ketika kami diberi tugas menggali kuburan. Kami, para penggali kubur akan selalu siap menggali tanah kapan pun. Siang malam tidak terlalu penting bagi kami, jelasnya, jika ada orang menionggal dunia di situlah kami bertugas. Di situlah kami hadir menggali.

” Kerap sekali, kematian pada bulan ini ya, kang?” Ujar Sukri. Ia memicingkan matanya. ” Tiga orang dalam seminggu..!” Lanjutnya lagi.

Para penggali kubur lainnya, Jahe, Cingok, dan Cemong seperti kurang tertarik dengan ucapan Sukri. Mereka lebih asyik memangkas rumputan liar dan ilalang yang telah meninggi di aats beberapa kuburan. Hanya aku yang sedikit menanggapi ucapannya. Tapi… akhirnya kuurangkan juga untuk menanggapinya. Karena bagi setiap orang,kematian adalah suatu keniscayaan bukan kehinaan. Jarang atau tidaknya yang meninggal, itu bukan urusan manusia, itu urusan Yang Maha Kuasa. Ya, kematian dalam kondisi apa pun adalah sebuah penantian terakhir. Lagipula, bukankah mayat-mayat dalam kuburan ini telah terbebas dari kekang duniawi!?

” Jomblang, Bu Sum, Si Gondo, Si Muksin, dan sekarang si Boang!” Sukri bersikeras untuk membahasnya. Kemudian, dia terlihat merenung, menyempitkan keningnya. Bintik-bintik tanah merah meramaikan wajah legamnya. ” Besok atau lusa entah siapa lagi!?” Katanya, sambil memandang kami satu persatu. Pandangannya serasa menuding kepadaku. ” Semua orang takut dihampiri oleh malaikat maut!”

” Tidak semua orang, Kri!”

” Buktinya, tak ada orang yang mencintai kematian!”

Kami tidak berkata-kata lagi karena para pengusung keranda bersama para pengantar jenazah telah tiba. Hari menjelang sore, matahari masih menyisakan semburat panasnya, menyinari dedaunan flamboyan sampai terlukis lempengan kuning keemasan. Kami berdiri menyambut mereka. Para pengantar jenazah itu terisak pilu, menangis dan merintih sendu. Keranda dengan tutup kain berwarna hijau yerlihat bergerak ke atas ke bawah ibarat sebuah mobil yang berjalan di atas hamparan bebatuan. Debu menyeruah ternjak kaki yang berderap melangkah beraroma kepedihan dan kesedihan yang menyayat rasa.

” bagaimana, sudah siap belum, Kang!?” Tanya Kyai Syarqowi kepada kami.

Aku mengangguk.

Kemudian kami menguburkan mayat si Boang. Hingga prosesi pemakaman berjalan lancar. Lalu para pengantar jenazah pun bergegas pulang secara teratur. Mereka meninggalkan jejaklangkah hitungan mundur yang suatu waktu akan mereka ambil kembali. Kami menatap iring-iringan itu, dalam benak kami berbisik, ” kelak mereka akan mendatangi tanah pekuburan ini lagi, suatu saat nanti!” Namun mereka tidak menyadarinya.

Ketika para pengantar jenazah telah meninggalkan tanah pekuburan, kami masih duduk berkumpul melingkar di pinggir onggokan tanah merah kuburan baru. Kami menunggu sesuatu.

Di atas tanah kuburan baru, pohon falamboyan dengan dedaunan bintik kuning dan percikan hijau pinggirnya memberi kesan keabadian. Dua ekor kupu-kupu hinggap didedaunan. Selalu kami temui dua ekor kupu-kupu itu setiap kami selesai mengubur jenazah. Mereka, entah pasangan suami istri atau apalah! Sayapnya terlihat semakin melesu dari hari ke hari, namun kami tidak mau mengganggu mereka, melemparnya juga sangat segan. Mungkin mereka datang dari surga?

Kemudian, segerombol kawanan burung gagak terbang mengelilingi tanah pekuburan sambil berkoak-koak. Mereka semakin bergerombol di atas kepala kami membentuk atap hitam hingga tercipta payung kelam. Beberapa dari mereka mengerlingkan pandangannya ke arah kami. Kami tidak tahu persis dari mana mereka datang.

Mereka mendarat serempak, menyelimuti hamparan rumputan pekuburan. Bulu-bulu mereka lebih pekat jika dibandingkan dengan rambut kami yang selalu terbakar matahari. Kerlingan mata mereka setajam belati yang menusuk sanubari. Sampai kedua kupu-kupu yang hinggap di daun flamboyan itu tidak kami ketahui ke mana perginya.

Burung-burung gagak tidak bisa berbicara, kami juga bukan nabi Sulaeman yang mampu menerjemahkan bahasa binatang. Tapi… mengapa kami ingin menjadi burung-burung gagak itu? Dan kami pun memahami, mereka juga ingin menjadi kami, para penggali kubur. Kesepahama melahirkan kesepakatan. Kami sepakat untuk bertukar tubuh, kami melepaskan pakaian dan tubuh kami, mereka pun keluar dari tubuhnya, kami pun bertukar tubuh sempurna. Mereka telah menjadi para penggali kubur, ketika kami telah menjadi burung gagak.

” Apa benar dengan menjadi burung gagak kita menjadi merdeka?”

” Setidaknya, kita bisa terbang!”

” Hmm..!”

Penciuman kami menjadi sangat tajam.

” Mari kita terbang!”

” Siapa takut?!”

Kami melompat bersama, mengepakkan sayap kemudian kami pun terbang meninggi. Mengitar berkeliling di atas tanah pekuburan, di atas kepala para gagak yang telah menjadi para penggali kubur yang diam memmbisu, namun mereka menatap kami dengan puas. Kami terbang semakin jauh meninggi, menembus mega, menerobos awan, menyisir celah langit, menerjang angkasa, menukit berkelit, sambil bernyanyi, koak…koak!

###Begitulah. Setelah menjadi burung gagak, kami selalu terbang berkeliling dari teras bangsa ke serambi negeri, melihat panorama keindahan alam, merambah hutan luas, mengelilingi zamrud oermadani tanah air, melihat permata nusantara. Bukankah kami tampak merdeka ,kawan?

Nyatanya tidak demikian! Aroma kematian selalu hadir menebar. bahkanselalu menguntit dan mengancam jiwa kami. Setiap kami mendarat di mana saja selalu terusi. mendarat di jalanan kami takut tergilas ban kendaraan. Mendarat di perkotaan, kami diincar senapan, mendarat di padang golf kami selalu dikejar-kejar. Bahkan untuk mendarat di hutan pun ,kami harus menghadapi kebinalan para pemburu liar dan penebang hutan.

Hingga, dalam pandangan kami hanya ada satu tempat yang cukup aman untuk mendarat dan beristirahat, yaitu tanah pekuburan. Sekian lama kami menembus waktu menjelajah ruang sekian puluh tanah p[ekuburan kami jumpai. Sekian ratus rintihan barzah kami dengar. Melihat orang-orang menoinggal tertabrak, tertembak, dibakar, dicekik, bahkan minum racun pun ada.

Akhirnya kami tiba di Meulaboh. Tanah pekuburan luas terhampar. Ketika kami hinggap di atasnya. Air mata kami menitik melihat gelimpangan mayat tertubruk air, karena hanyut oleh tusnami. Orang-orang di luar Meulaboih berteriak-teriak ketika kami mendengar nyanyi merdu berpuluh-bahkan beratus anak kecil di surga. Kami merasa heran mengapa kami menangis dan orang-orang di luar Meulaboh itu menangis ketika orang-orang menari bahagia di surga sana!

DITULIS KETIKA TSUNAMI MENGGERIAPKAN BULU KUDUKKU!

Kota Pelabuhan 2007

24
Mar
07

Cerpen: 1090 ( Pierre Benoit)

Cerpen ini dimuat ANNIDA Edisi 15 Januari- 15 Februari 2006

Lurus saja Anda berjalan melintasi jalan berdebu di Cavlier Galant. Anda tidak perlu takut pada orang-orangnya, pada umumnya mereka ramah-ramah. Yang perlu Anda waspadai adalah serbuan binatang seperti serangga yang dengan tiba-tiba bisa menyerang dan mempecundangi Anda dari berbagai sudut. Atau, serbuan virus=virus berbahaya. Sampar pernah menyerang Cavlier Galant lima tahun lalu. Oh, ya.. setelah Anda berjalan lurus, tepat di ujung jalan, Anda akan melihat sebuah rumah. Lebih tepatnya gubuk rongsokan, pemiliknya adalah Pierre Benoit.

Rumah Pierre Benoit bukan tidak terurus, melainkan pemiliknya sering meninggalkan rumah tersebut dalam jangka waktu lama. Tapi saat ini Dia sedang berada di rumahnya. Usia pria ini hampir empat puluh tahun. Belum memiliki istri, kulit mukanya  kasar dengan tulang pipi menonjol, brewokan, kepala pelontos, jangkung, tegap, dengan tatapan mata yang tidak menentu. Kesan pertama yang Anda tangkap tentangnya adalah seorang ksatria gagah berani. Orang-orang mengenal betul kehalusan perangainya. Ia tidak pernah membuat keonaran. Sikap penolongnya selalu ia pertaruhkan kepada siapa pun.

Sekarang ini tatapnya sedang kosong. Terlihat jiwanya yang rapuh, sekilas seakan ada batu mengganjal hatinya. Tangannya terkepal erat membentuk tinju. Hatinya sesak, gundah mengenang peristiwa-peristiwa yang telah membawanya pada siksa bathin. Musim semi di Cavlier Galant tak mampu menghalau dinginnya hati Pierre. Orang-orang keluar menyesaki jalanan, meramaikan karnaval. Pierre hanya sesekali mengintip keramaian, memorinya terperas pada darah, gelimpangan mayat, suara tangis pekikan anak-anak dan wanita. Terdengar, terlihat, dan hadir dalam dirinya. Ia rebahkan tubuhnya di dipan. Kemudian menatap langit-langit. Sejenak ada rindu menyeruak dalam dirinya. Rindu pada anak kecil bernama Zaid.

###

Lima tahun lalu, sampar hampir menggulung Cavlier Galant. Ratusan nyawa melayang. Mencekam. Perang melawan epidemik mematikan pun dikumandangkan oleh pemerintah setempat. Kematian akibat sampar telah menyulap Cavlier Galant yang bersih menjadi daerah kusam dan berbau aroma kematian.

” Hapus kesedihanmu, kawan!” Ucap Jean Papin, menepuk bahu Pierre.

” Hhh..!” Pierre hanya bisa menarik nafas panjang. Dia masih memperlihatkan rasa harunya. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan selaksa kepedihan. Burung pelatuk masih asyik mematuki dahan pohon simpres. Pierre melemparnya dengan segenggam tanah, burung itu pun terbang ke pohon simpres lain. Tiga orang yang sangat ia cintai meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan karena sampar. Ayah, ibu, dan adiknya, Dorothea. Terbetik di hatinya untuk menyalahkan takdir Tuhan , meskipun sejak kecil dia tidak diajari untuk memaki takdir oleh orangtuanya. Ia sempat memaki pendeta dan tokoh agama Cavlier Galant yang hanya bisa cas-cis-cus alam khayalan, namun jauh dengan alam nyata. Apa upaya mereka untuk melawan sampar?

” Aku harus bagaimana, Papin?” Tanya Pierre. Air mata masih membasahi pipinya.

” Simpan kesedihanmu, kita pulang dulu!”

Pierre mengangguk. Menatap teman dekatnya. Perawakan Papin sungguh di luar pengamatan dirinya. Tiba-tiba ia merasakan Papin yang berdiri di hadapannya sekarang sudah sangat jauh berbeda dengan Papin sebulan lalu. Papin terlihat semakin kurus, matanya sayu, sering batuk-batukan, dan kekonyolan yang sering dilontarkannya seakan menghilang. Pierre semakin sedih. Dia tidak ingin ditinggalkan kembali oleh orang terdekatnya. Bukankah Jean Papin kecil yang sering bermain dengannya itu dulunya anak gembur dan sehat? Namun… Pepain saat ini seperti seonggok mahkul yang mengkuatirkan. Mayat hidup!

” Kau jangan menatapku seperti itu, kawan!” Papin seakan memahami jalan pikiran Pierre.” Kau tidak memiliki firasat bahwa aku akan meninggak besok, kan?”

” Tentu..Tttentu ,sobat!” Jawab Pierre terbata. Matanya menatap wajah Papin yang cekung. Seakan tercermin gambar masa lalu, ketika musim dingin dia bersama Papin bermain lempar salju. Lelmparan Papin tepat mendarat di wajah Pierre. Tiba-tiba datang Tuan Deschamp, pensiunan militer yang galaknya bukan alang -kepalang. Mereka pun berhamburan menjauhi amarah Tuan Deschamp. memori itu pecah berkeping-keping ketika Pierre melihat kondisi temannya seperti itu.

Kurang dari seminggu , Papin , sahabat terdekat yang paling dia sayangi pun meninggal dunia. Untuk mengurangi rasa sedih yang terus larut dalam jiwanya, Pierre memutuskan pergi ke Marseille, bergabung dengan para martirdom ksatria salib suci. Tekadnya sudah bulat. Agar hidupnya tidak sia-sia ia harus menjadi ksatria salib suci. Agar hidupnya tidak hina, ia harus menjadi manusia yang akan dikenang oleh generasi mendatang.

###

Pasukan ksatria salib suci siap diberangkatkan ke Jerusalem. Untuk merebut kembali tanah kelahiran Kristus dari tangan orang-orang Arab bar-bar. Pierre bersama para ksatria lainnya telah lengkap berpakaian tempur. Sorot matanya berkobar, panas. Ia ingin sesegera mungkin tiba di Jerusalem dan melampiaskan kepedihan dirinya kepada orang-orang Arab.

” Ini adalah pertempuran pertama kita dengan orang-orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya!” Kata panglima Jacques Troamp. ” Perjuangan kita mulia, mati kita suci!!!”

Kalimat itu disambut gegap gempita oleh para ksatria salib suci sambil mengacungkan pedang tinggi-tinggi. Wajah Pierre diselimuti keringat dingin. Terbayang kembali wajah -wajah oranng yang ia cintai. Apakah dia harus menyusul mereka? Terlintas begitu saja dalam dirinya. Untuk saat ini perjuangan suci adalah merebut tanah kelahiran kristus untuk menegakkan kembali lambang suci di Jerusalem.

Hidupnya sekarang, dia rasakan begitu berarti, jika  memang perjuangan itu betul-betul terjadi. Hidupnya sekarang menjadi lebih bermakna ketika hampir seluruh penduduk Marseille keluar berkerumun melepas keberangkatan pasukan ksatria salib suci. Gadis-gadismengedipkan mata birunya kepada Pierre. Meskipun ada larangan bagiksatria salib suci untuk menikah toh tidak ada larangan bagi mereka sekedar untuk memandang para gadis Marseille itu, juga tentang kemolekannya tentu saja. Mata Pierre membentur pandangan seorang gadis. Wajah gadis itu mengingatkannya pada Dorothea, adik tercintanya. Kulit putih, matabiru, perawakannya sedang. Gerak-geriknya pun mirip dengan Dorothea.

” Atas nama Bapa, mari kita pergi. ” teriak panglima Throamp, mebuyarkan memori Pierre. Dia berusaha mencari-cari , namun gadis itu seakan menghilang. Tak terlihat.

Pasukan ksatria salib suci melangkah berderap menuju Jerusalem. Debu mewarnai jalanan, membumbung tinggi seperti asap pembakaran. Beruntung sekali angin bertiup agak kencang, sehingga debu-debu menyingkir cepat, terebawa angin. Kendatipun demikian, mata mereka tetap harus dipejamkan erat-erat untuk menahan masuknya debu ke dalam  mata.

Langkah mereka merayap lambat. Jika dilihat dari atas ibarat sekelompok semut hitam yang sedang  berjaln di dinding. Langit musim panas memang nyaris tanpa awan. Sinar matahari menyengat keras, memukul badan mereka tanpa kompromi. Wajah Pierre merah legam. Keringat menyesaki sekujur tubuhnya. Padang pasir yang luas harus  dilewatinya. Dalam suasana seperti itu kegigihan untuk mempertahankan hidup semakin menggebu.

Satu bulan lamanya mreka melintasi gurun pasir gersang. Sekarang mereka telah berada di pinggir kota Jerusalem. Keterkejutan adalah hal biasa bagi orang yang melihat sessuatu yang mencengangkan. Begitulah yang dialami oleh para ksatria salib suci. Bagaimana mereka tidak terkejut, mereka melihat penataan pemukiman yang rapi dan bersih, jauh dari kesan jorok dan kumuh. Adanya sanitasi air serta parit-parit dialiri oleh air jernih. Mereka juga menyaksikan taman-taman. Anggapan terhadap prilaku orang Arab jauh melesat. Kumuh, dekil, jorok, dan menjijikkan sering menghinggapoi batok kepala Pierre ketika ia mendengar tentang orang-orang Arab. Belum lagi ditambah ucapan beberapa orang yang menyebutkan perilaku orang Arab; barbar, haus seks, arogan. alangkah kagetnya dia melihat kenyataan yang jauh berbeda. Pierre jadi teringat pada kampung halamannya, Cavlier Galant yang kumuh, kotor, penyakitan setelah sampar menerjang.

” apa yang harus kita perangi?” Tanya Pierre agak jengkel ” Tidak ada keganjilan di tempat ini!” lanjutnya.

” Bodoh, kita akan berperang demi kehormatan dan keyakinan kita!” tukas sa;lah seorang ksatria menanggapi ucapan Pierre.

” Demi masa depan kita, kawan..” sambung yang lainnya.

Pierre mengalihkan pandangan, menatap kota Jerusalem yang dikelilingi benteng kokoh. Dia teringat pada Kristus. Kemudian perlahan ia melangkah. Nyanyian requim ksatria salib suci memekakkan telinganya. Alis matanya terangkat naik ketika melihat beberapa wanita Arab diolok-olok oleh beberapa ksatria salib suci.

” Hajar..hajar…!” bisik Pierre. Ah, sepertinya bisikan itu akurat. Seorang wanita menampar pipi salah seorang ksatria dengan sandalnya. ” Bagussss!” teriak Pierre tak terkendali.

###

” Apakah harus dengan perang kita merebut Jerusalem? dan memerangi orang yang sama dengan kita, mengajak manusia pada Tuhan!?” bisik Pierre semakin kuat.

Pasukan ksatria salib suci siap menerjang benteng Jerusalem. Gemuruh nyanyian  menggema, lebih keras daripada semangat mereka. Padahal diri mereka diliputi oleh rasa syak, untuk apa mereka berperang? untuk alasan apa mereka merebut Jerusalem?

Baru kali ini Pierre menyaksikan jalanan bergelimang darah. Sepanjang mata memandang adalah hamparan jasad tanpa nyawa. Dia merasa perih, sabetan pedang seorang tentara Arab melukai pahanya. Darahnya menetes di tanah berdebu. Udara panas memanggang. Wajahnya semakin keras dan kecut. Tatapannya semakin sayu dan mengabur, tak sanggup dia berdiri lagi. Yang dia rasakan saat itu hanyalah sikap pengecut para ksatria salib suci yang memilih kabur daripada harus menghadapi para pejuang Arab, lalu dia pun tersungkur. Jatuh.

Yang pertama dia dengar ketika siuman adalah suara merdu seorang anak kecil yang sedang melantunkan sesuatu. Seseatu yang terdengar suci. Ruangan remang-remang oleh cahaya pelita redup yang meliuk-liuk tertiup angin. Pierre menyadari dirinya terbaring di atas dpan kayu. Sekelompok orang dengan wajah dihiasi janggut mengelilinginya, melingkar. Ia berusaha bangkit, namun tak sanggup. Salah seorang dari mereka memberi isyarat kepadanya untuk tetap berbaring. Orang-orang itu berbsik-bisik. Sementara Pierre Benoit mulai menceracau.

” Di mana aku!?” teriaknya dalam racauan.

Anak kecil yang sedang melantunkan sesuatu itu menghentikan nyanyiannya. Seseorang, mungkin ketua dari mereka, memberi isyarat kepada si anak agar menuangkan segelas air rempah. Anak itu kemudian memberikan air rempah kepada Pierre yang masiuh terbaring. Ada rasa gamang dalam diri Pierre untuk meminumnya.

” Minum tuan!” kata salah seorang dari mereka.

” Ada di mana aku!?” kembali tanyanya lagi.

” Tuan ada di Jerusalem!” Kata orangtua itu sambil tetap memperlihatkan sikap sopannya.

Pierre memejamkan matanya.

###

Tiga hari Pierre berada di pembaringan, dirawat oleh orang-orang itu. Selama itu pula ia mendengar lantunan Al-Qur an yang dibacakan oleh orang-orang secara bergantian. Selama itu pula ia mengenal sopan-santun orang Arab dalam memperlakukan dirinya. Selama itu ia tidak melihat sekalipun kekasaran dari mereka. Dan dia pun telah mengenal lebih dekat anak kecil yang bernama Zaid itu.

” Besok Zaid akan mengantar tuan sampai ke perbatasan,” kata Sayyid, orangtua yang menjadu pimpinan kelompok itu, ” Tidak perlu kuatir, perbekalan akan kami sediakan secukupnya.!”

Pierre hanya diam, duduk lunglai.Dia benar-benar malu pada diri sendiri.Rasa malunya tidak bisa disembunyikan lagi. Matanya berkaca-kaca ketika melihat Zaid menatap dirinya.

” Maafkan aku!” ucap Pierre lirih.

Orang-orang itu hanya saling bertatapan, lantas tersenyum.

###

Musim Semi.

Sudah seminggu Pierre Benoit masih berbaring di tempat tidurnya. Dia hanya mendengar keriuhan musim semi di Cavlier Galant tanpa mau melihat keramain orang-orang, apalagi mengikuti karnaval. Bayangan orang-orang tercintanya datang silih berganti. Ayah, ibu, dorothea, dan Jean Papin. dan puncak kerinduannya adalah kepada anak kecil bernama Zaid. Dia sangat ingin medengar, di musim semi ini, Zaid membaca Al-Qur an di sampingnya, seakan nyanyian indah. Atau, anadai bisa, ia ingin menyanyikannya langsung.

Pierre Benoit memejamkan matanya. Matahari mulai termenang, layar malam membentang, dan keramaian Cavlier Galant mulai beringsut.Sepi pun berguguran…

Kota Pelabuhan 2007

21
Mar
07

Cerpen: Keputusanku

Aku adalah seekor kucing. Aku tinggal di salah satu
rumah seorang konglomerat kota ini. Benar, di salah
satu rumahnya, karena rumah tuanku ada beberapa buah,
kira-kira sesuai dengan obrolan yang kudengar, sekitar
sebelas rumah. Tentu saja rumah tempat aku tinggal
saat ini ukurannya sangat besar. Tiga lantai.
Halamannya mampu menampung tiga buah pesawat terbang.
Ditumbuhi oleh rerumputan hijau halus yang didatangkan
oleh tuanku dari negeri nun jauh di sana. Tentu saja
bukan sekedar didatangkan, juga dibeli dengan harga
teramat mahal, dan kau tak mungkin bisa membayangkan
betapa mahalnya harga itu. Bunga-bunga juga ada,
disempurnakan oleh rindangnya beberapa pepohonan;
jeruk Mandarin, Jambu Brazilia, dan pohon delima.
Ruangan-ruangan di rumah ini sudah aku hafal dengan
benar, ada tujuh ruangan di lantai dasar, lima ruangan
di lantai dua, dan tiga ruangan di lantai atas.
Lampu-lampu mewah tak mungkin kau bisa membelinya
menghiasi ruangan besar rumah ini, semacam aula.
Lukisan-lukisan  beberapa maestro pun berderet di
dindingnya. Tapi… aku, sebagai seekor kucing pun
mengenal betul, penghuni rumah ini kurang memiliki
selera seni. Lantas tentang lukisan-lukisan ini? Terus
terang saja, aku pernah mendengar tuanku berkata
sebelum dia membeli lukisan-lukisan ini, “ Ya,
daripada dinding ini kosong melompong, lebih baik
diisi saja dengan lukisan-lukisan!” Apa yang ada di
dalam pikiranmu ketika mendengar kata-kata seperti
itu? Bukankah kata-kata seperti itu hanya pantas
diucapkan oleh seseorang yang sama sekali tidak
memahami sebuah karya seni? Jelas sewkali, ini
merupakan penghinaan terhadap martabat seni itu
sendiri. Dan… jangan kau katakan kepada siapa saja,
lukisan-lukisan ini semuanya imitasi!
	O, ya! Tentang asal-usulku? Pentingkah bagimu? Oke ,
akan kuceritakan: aku seekor kucing yang tidak
mengenal kedua orang ruaku, sama sekali. Memoriku
tidak mampu mernverna masa-masa kecilku. Hanya, ketika
menginjak usia akil-baligh        ( He, dunia kucing
juga sama seperti duniamu!) aku sudah berada di sebuah
toko binatang, untuk diperjual belikan. Berkumpul
bersama binatng-binatang lainnya, termasuk dengan
musuh besarku: Anjing! Bukankah  semua mahluk
ditakdirkan oleh Allah untuk memiliki musish besar?
Seperti kau saja, manusia. Kau memiliki musuh besar
juga kan? Bukankah iblis, setan dan jin jahat adalah
seteru abadimu?
	Di toko binatang itu aku  tinggal selama tiga tahun.
Jenuh menyerang diriku. Dikerangkeng di dalam kandang
kawat. Dan, kejenuhan itu mencapai klimaksnya ketika
bebeapa teman-temanku laku terjual. Satu persatu
mereka meninggalkanku. Kau bayangkan, bagaimana
sulitnya dan sedihnya untuk berpisah dengan beberapa
sahabat sejati! Memang, pemilik toko itu mendatangkan
kembali beberapa kucing baru. Tapi…pola pikir
kuciong-kucing baru itu jrelas sekali sangat berbeda
dengan teman-temanku. Cara berpikir mereka kurang
pantas dan tidak mendalam. Sok modernis, angkuh dengan
kemajuan yang tidak poantas mereka gembar-gemboprkan.
Padahal aku mengenal betul seberapa besar kemampuan
rasio mereka. Nol besar! Ketika aku berbicara kepada
mereka tentang politik, apalagi tentang filsafat,
Plato, Aristoteles, Augustinus, Ibnu Sina, Al-Ghazali,
Kafka, Sartre, Camus, dan bahasan-bahasan lainnya yang
pantas kita bicarakan, apa pendapat mereka? Cih! Dasar
kucing-kucing tak berbudi, mereka lebih senang jika
aku menceritakan dongeng-dongeng sebelum tidur,
katanya! Memang sialan! Begitulan jika mengungkapkan
sesuatu yang pantas dibicarakan kepada mahluk-mahluk
yang tidak mau berpikir secara mendalam.
	Alhamdulillah. Tiga bulan setelah teman terakhirku
dijual. Aku pun ada yang membeli juga. Seorang
berpenampilan eksentrik, kepala pelontois, hidung
terlalu poanjang, kumis berewok, dan perut buncit.
Mahal sekali aku dibeli olehnya: dua setengah juta!
Aku bisa menerka, pembeliku pasti orang berada di kota
ini. Dan terkaanku memang benar. Sampai aku
ditempatkan di rumah besar ini oleh tuanku yang
konglomerat itu.
	Hmm… tentang para penghuni ru,mah ini. Ada lima orang
yang tinggal di rumah ini kecuali aku: tuanku,
istrinya, kedua anaknya, dan seroang pembantu rewel
bernama Bintiroh. Para penghuni rumah ini, kecuali si
pembantu jarang sekali berlama-lama diam di rumah.
Hanya tiga atau emat jam saja, kemudian mereka
berhamburan lagi entah ke mana. Seolah-olah mereka
menganggap, rumah besar ini sebagai tempat transit
belaka. Aku tahu, tuanku orang sibuk harus mengurus
bisnis ini itu, istrinya seorang wanita karier,
anak-anaknya pun orang kuliahan yang sibuk-sibuk atau
pura-pura sibuk. Hanya, sepanyasnya mereka
bercengkrma, mengenal satu sama lain, saling mendalami
perasaan, saling berkomunikasi, layaknya keluarga
lain.
	Ya, untung saja si pembantu itu tidak ikut-ikutan sok
sibuk juga. Meskipun cererwet, namun aku memang
menghargai kegigihannya dalam bekerja. Memang pantas:
mulut cerewet dan tangan bekerja, daripada mulut
cerewet, tangan tunjuk sana-sini apalagi sampai tonjok
sana-sisi. Si pembantu itu sendiri wajahnya manis,
hanya… ada aura jahat menghiasi dirinya. Percayalah
kepadaku, insting binatang lebih unggul daripada
nalurimu!
	Rahasia-tahasi besar, perselingkuhan, dan upaya-upaya
serong lainnya di rumah ini, terang ssaja aku
mengetahui semuanya. Penting kuceritakan kepadamu, ini
bukan sekedar gosip juga bukan aku membeberkan
kesalahan orang lain. Ah, lagi pula aku kan hanya
seekor kucing, jadi tak ada aturannya bahwa seekor
kucing dilarang menggodip dan berduuszan. Aku tidak
akan terbebani oleh dosa:” membicarakan orang lain”
yang oleh para kiai disebut Ghibah itu!
	Suatu hari. Tuanku membawa seorang wanita
berpenampilan menarik, cantik, dan anggun ke rumah
ini. Mungkin wanita simpanannya, atau teman
selingkuhnya. M,ereka bercumbu di atas kursi ini. Tak
menghiraukan kehadiranku sama sekali. Tak akan
kuceritakan bagaimana mereka bercumbu rayu. Kau lebih
tahu, sebagai seorang pembaca cerpen , apalagi usiamu
sudah dewasa sudah tentu mengenal betul apa itu cumbu
rayu. Tak… aku tidak akan terlalu vulgar di9 dalam
menceritakan adegan-adegan yang tidak pantas
dibicarakan secara blak-blakan.
	Pada hari lain. Giliran istri tuanku yang membawa
seorang lelaki macho dengan penampilan atletis. Dalam
pandangan istri tuanku mungkin lelaki itu jenis
laki-laki sejati. Tapi dalam pandanganku sebagai
seekor kucing, lelaki semacam dia tidak pantas
disejajarlkan sebagai seorang laki-laki sejati.
Bukankah di atas bumi kita berpijak saat ini sudah
kering dari laki-laki sejati? Ya menurut norma memang
demikian. Apalagi jika lelaki macho atletis itu hendak
disejajarkan dengan lalki-laki sejati. Mana bisa ?
seperti suaminya, istri tuanku itu bercumbu rayu di
atas kursi ini. Lagi-lagi aku tidak akan menjelaskan
kepadamu cara mereka bercumbu rayu.
	Kemudian, seorang anak lelakinya pernah menggelar
pesta narkoba di rumah ini. Lalu anak gadirnya p[ernah
mengadakan sex-party di rumah ini. Busyet! Ketika
acara sex-party berlangsung aku tidak bisa tidur
semalam-malam. Adegan-adegan itu mempengaruhi
perasaanku.
	Yang paling gila adalah ketika tuanku berkata kepada
teman selingkuhnya:” Jangan takut, istriku adalah
wanita tolol!” ah, apa reaksimu ,apalagi jiga seorang
wanita, dikata-katai seperti itu? Jelas, sakit!
	Ya, meskipun aku tinggal di dalam rumah
manusia-manusia yang mentalnya lebih rendah dari
binatang, tapi apa peduli! Yang penting aku bisa
mencicipi fasilitas-fasilitas mewah di rumah ini.  Aku
sudah seperti seorang maha raja di rumah ini.
Keperluan-keperluanku cukup dan lebih dari cukup.
Makan disediakan, tempat tidur mewah bagi ukuranku,
sesekali ,ketika para penghuni rumah in bermalam, aku
dipeluk-peluk, didekap, sampai tidur pun di atas
ranjang empuk. Kau akan menyebytku sebagai kucing
oportunis? Ya, kuakui, aku memang seekor kucing
oportunis. Tapi apa pedulinya, bukankah aku hanya
seekor kucing?
	Tak ada tikus di rumah ini. Jadi aku tidak usah
bersusah opayah mengejar-ngejkar tikus. Lalu apoa saja
pokerjaanku? Aku kucing senang.lho. kau perhatikan
saja, seperti apa pekerjaannya orang-orang senang
disekelilingmu? Makan, menguap, tidur! Itu saja, ya
termasuk aku pun demikian. Eh , mengenai tidur. Aku
pernah menonton televisi, ketika itu di televisi ada
acara sidang istimewa. Hi..hi..hi.. ada adegan lucu.
Beberapa anggota dewan terhormat yang kau pilih itu
dan yang katanya mewakilimu ada yang mebaca koran…
menguap … lalu tidur!. Jelasnya, tidak ada pekerjaan
berartio yang kukerjakan diruman ini.
	Menjaga rumah? Tidak mungkin. Rumah ini telah
dilengkapi dengan alat-alat keamanan yang canggih. Tak
perlu bantuan seekor kucing. Hhh… seandainya ada
seekor tikuspun, tak akan kutangkap tikus itu, aku
akan membiarkannya begitu saja. Bercuma menangkapnya
juga. Tikus zaman sekarang aromanya apek-apek. Lagi
pula, mana mungkin aku berani memakan daging tikus.
Tidak…aku tisdak tergiur oleh daging tikus ,sama
sekali. Bau-bau. Aku sudah terlalu sering mencicipi
daging-daging renyah dan lezat di rumah ini. Apalagi
jika ke dalam rumah ini ada seekor cecurut. Cih! Bau
saja sudah sangat membuatku mati. Dan, aku dibeli oleh
tuanku bukan untuk dijadikan sebagai kucing penaga,
melainkan sekedar untuk kesenangannya semata. Ada
pepatah, orang kaya memang boros, mungkin ada benarnya
juga  bagi tuanku.
	Suatu hari aku menyempatkan diri sekedar untuk
jalan-jalan di halaman rumah. Di balik pagar besi, aku
bisa melihat seekor kucing. Kudekati. Busyet,
poenampilannya kerempeng, mengkhawatirkan WHO, banyak
korengan, bulunya tidak indah.
	“ Mengapa kau tampak terengah-engah kucing jembel!?”
Tanyaku.
	“ Keparat. Kau mengataiku jembel!” Nafasnya
tersengal-sengal.” Aku baru saja dikejar oleh
anjing-anjing bego!”
	“ O!”
	“ Kau tahu tidak, borju!?”
	“ Tentang!”
	“ Dunia ini luas!”
	“ Ya, aku tahu itu!”
	“ Tapi kau akan tidak tahu lagi!”
	“ Ya. Kita memang telah didesain untuk tahu kemudian
setelah tahu tidak tahu lagi,dan kita tidak tahu apa
itu tahu sebenarnya, kita hanya sekedar mencari tahu
saja bukan?!”
	“ Hey. Dunia ini teramat luas. Sedangkan kau hanya
diam saja,. Terkurung di dalam kerangkeng kemewahan
yang justru telah menjadikan dirimu sebagai mahluk
sengsara tanpa kebebasan. Kau lihat aku! Sekujur tubuh
ini sampai dipenuhi oleh korengan. Mengapa? Untuk
mendapatkans sekerat makanan saja betapa sulitnya. Aku
harus versaing dengan si Blacky dan si Franky, dan
kucing-kucing jalanan lainnya. Jika ingin makanan
enak? Harus mencuri, resikonya tanggung sendiri,
kematian, kawan! Kau enak-enakan ketika kucing lain
berjuang untuk mempeetahankan hidupnya. Haruskan aku
mengatakan hal ini sebagai ketidak adilan tuhan? Aku
rasa ini kurang fair!”
	“ Sudah… terima saja kenyataan ini. Bukankah hidup
ini memang harus seperti ini. Ada yang bahagia dan ada
yang sengsara!”
	“ Ya, tapi sampai kapan kesengsaraan ioni akan terus
menyertaiku sedangkan kesenangan akan terus memihak
kepada kau!”
	“ Suklit bagiku untuk menerangkan masalah pelik ini!”
	“ Pelik?”
	“ Benar. Ini adalah masalah takdir, kawan! Manusia
saja yang diberi akan lebih oleh Allah masih
mencari-cari tentang masalah takdir ini. Apalagi kita
sebagai kucing. Kusarankanm kita harus rela
berfatalisme ria, kawan.!”
	“ Benar. Kikta memang binatang. Takdir kita memang
binatang, tidak lebih dari itu. Tapi sebagai binatang,
apa tidak bleh kita berubah dan mengubah pandan\ngan
hidup. Dan aku akan membicarakan seeuatu kepadamu!”
	“ Twentang?”
	“ Perjuangan!”
	“ Hmm… aku rasa tentangnyta cukup beralasan untuk kau
jelaskan kepadaku!”
	“ Hanya mahluk-mahluk yang siap berjuang yang akan
mendaptkan kemuliaan disisi Allah!”
	“ Normatif! Masalah itu hanya berlaku untuk manusia.
Tidak sadarkah, kau telah menempatkan posisimu pada
derajat klemanusiaan. Bagi kucing seperti kita, tidak
ada aturan wajib, sunnat, haram, dan lain-lainnya.
Kita hanya sebagai wayang saja. Tak lebih dari itu.
Kau buka matamu lebar-lebar, ada polarisasi di dalam
kehidupoan kita, antara yang senang dan yang sengsara.
Adapapun masalah perjuangan, kemuliaan, kejujuran
adalah masalah manusia. Tapi… aku patut memberikan
pernghargaan kepadamu, wahaiu kucing jembel pejuang!”
	Dia diam.
	“ Aku punya sekerat daging sapi , boleh kuambilkan
,kau mau!?”
	“ Kau mulai berbicara tentang perasaan. Akhirnya kau
kalah juga, borju!”
	Kutak mendengar ucapannya. Aku segera berlarim
mengambil daging sapi itu.
	“ Nih, kau makan. Lumayan , perbaikan giji.!”
	Dia langsung menyambarnya. Busyet! Dalam hitungan
detik , sekerat daging sapi itu sudah masuk ke dalam
lambungnya. Lidahnya dia julurkan untuk menjilkati
bibirnya.
	“ Enak, bukan? Lezat mana jika dibandingkan dengan
daging seekor tikus?”
	“ Tikus? Keparat! Tikus-tikus metropolitan ukurannya
besar-besar. Aku pernah dibuat takut oleh tikus-tikus
metropilitan ini. Mereka lebih galak daripada kucing!
Tolol. Eh, ada cerita bagus untukmu. Suatu hari
datanglah seekor tikus kerempeng kepadaku. Tikus
frustrasi, dia terlibas depresi, dia menyerahkan diri
sambil berkata kepadaku:” silahkan kau tangkap aku
lalu kau jadikan aku sebagai mkakan malammu!” sialan.
Mana sudi aku mengunyah tikus kerempeng penyakitan
itu. Kau tahu obsesi besarku? Aku ingin mencabik-cabik
tikus-tikus besar metropolitan!”
	“Hmm…!”
	“ Kusarankan sekali lagi. Keluar dari peenjara
kemewahan. Tatap dan jalani luasnya dunia!”
	Dia segera pergi.
	“ My friend!” Teriaknya ketika aku baru saja
melangkah. “ Dari raut wajahmu aku bisa menebak. Kau
sangat kesepian. Ha..ha..ha…adios amigos!” Ucapnya
meniru adegan seorang koboy.
	Kesepian?
	Nah, kata itulah yang sempat menggangu isi batok
kepalaku. Apa benar aku kesepian? Oh… aku baru sadar.
Aku hidup dirumah ini tanpa siapa-siapa, tanpa
keluarga, tanpa teman-teman. Bakan hingga saat ini aku
belum bisa mendapatkan: pasangan hidup! Aku ingin
menjadi kucing normal. Tapi, bukankha kenormalan itu
hanya sebagai anggapan saja? Apa benar di dunia ini
ada kenormalan yang emang normal, apalagi bagi diriku
sebagai seekor kucing? Akankah aku bisa menjadi
seperti kucing-kucing lainnya, hidup dijalanan?
Akankah aku berani menghadap[I, menerkam, dan
mencabik-cabik tikus-tikus metrolpolitan seperti kata
temanku? Tapi pertanyaan besar yang harus kujawab
adalah, beranikah aku menghambil keputusan besar dan
bijak?
	Pada satu malam aku bertemu lagi dengan kucing jembel
itu, kuanggap dia sebagai teman.
	“ eh, ada apa kamu datang ke sini lagi ,kawan?”
Tanyaku.
	“ Hi..hi..hi.. borju! Aku bukan mau daging sapi enak
itu lagi. Kehadiranku ke sini ingin memberitahukan
kepadamu tentang sebuah berita besar.”
	“ Jangan sok peduli atau merayuku untuk meninggalkan
rumah ini, jembel!”
	“ He, dunia kucing sedang ditimpa kekisruhanm! Ada
seekor kucing yang bersekongkol dengan tikus-tikus
metropolitan.”
	“  Peduli amat! Mungkin dia mau mencari sensasi.”
	“ Dia melarikan dokumen-dokumen poenting tentang
rencana besar kami!”
	“ Persetan! Untuk apa kucing pake membuat dokumen
segala rupa? Jangan sok manusiawi!”
	“ Ini tentang keberadaan spesies kita, borju!”
	“ Omong kosong! Dunia kucing belum tentu akan musnah
sampai kiamat!”
	“ Ini tentang masa depoan kita, borju!”
	“ Peduli setan! Tak ada mahluk kecuali para nabi yang
biosa meramalkan masa depan secara tepat pasti!”
	“ Dengarkan aku, borju!”
	“ Dari tadi aku medengarkan ocehan dan bualanmu,
jembel!!!”
	“ Kucing pengkhianat itu….”
	“ Sudah…jangan kau lanjutkan  bualanmu itu, jembel!”
	“ Baik…baik…baik… aku memang membual. Tak ada
dokumen, tak ada kucing poengkhianat. Borju! Kau harus
meninggalkan tempat ini. Kau harus bergabung dengan
kawan-kawanmu. Kita harus membangun dunia baru. Dunia
kucing yang merdeka. Kuajak kau untuk bergabung
bersama kami!”
	“ kupikir-pikir dulu!”
	Kami pun berpisah. Tak berjumpa lagi. Lama sekali.
***
	Hari ini. Aku harus berani mengambil kepututsan.
Apakah tetap tinggal di dalam rumah besar dan mewah
ini atau segera bergabung dengan kucing-kucing lain?
Tekadku sudah bulat kokoh, aku harus menjadi kucing
normal! Kuputuskan untuk melompati pagar besi ini!
Sementara tuanku memanggilku dari dalam rumah,”
Pussy….Pussy…Pussyy….!”
21
Mar
07

Cerpen: Jurig Cai

Ini Cerpen Bahasa Sunda, saya tulis beberapa tahun yang lalu.

            ” Mangkade, Jang !” Ceuk nini kanu jadi incuna jeung ka barudak sejenna, ” Ulah sok ulin wanci sarepna siga kieu, bisi kumaonam. Sieun , loba sandekala wayah kieu mah. Anggur geura marandi, apan sakedeng deui kudu ka masigit !”

            Incuna anggeur ulin di buruan jeung batur-baturna. Teu didenge pepeling ninina mah. Da ceunah, moal eunya make aya jurig sagala, komo sandekala mah. Na, nanahaon atuh ari sandekala teh? Geuning ari dina tivi mah apanan jurig niliwuri jeung ririwa teh mani gareulis, lamun teu geulis pika lucueun. Nya, contona mah si Jinny, si Ucil, atawa si Kentung, apan maranehna teh bangsa lelembut wungkul anu asup kana sinetron.

            ” Heueuh, hayu atuh urang mandi, kudu ngawaro ka kolot, euy. Bisi aya matakna geura ari teu ngawaro ka kolot mah !” Ceuk salah saurang baturna.

            Ah ! dasar barudak , ari geus ulin teh sok poho kana sagala rupa. Teu dipalire-palire acan tah ucapan baturna teh. Komo si Udin mah, anakna mang Karta, kalah ka ngaguguyonkeun kana ucapan baturna teh.

            ” Naha maneh siuen kitu ku sandekala? Lah, dipariteskeun ku uing mah tah sandekala teh!”

            Barudak saleuseurian. Nyeungseurikeun tingkah si Udin make pepeta sagala rupa.

            ” Tong kitu, maneh Udin! ” Si Wawan milu ngomong.

            ” Maneh sieun lain ku sandekala, Wan. Dasar meneh mah epes meer. Ceuk ki Uho oge, euweueh sandekala mah  euweuh. Eta mah ngan dongeng, ceuk beja wungkul , teu bener ta teh !” Si Udin emung eleh. ” Hayu ah, urang pasang deui !” Maneh na ngaluarkeun lima siki kaleci tina kanjut-kunangna.

            ” Heueuh, hayu ah. Sakali deui wae atuh, Wan. Da jauh keneh kana adzan Maghrib mah.” Di tempas ku Maman.

            ” Dasar barudak belegug, siah!” Ceuk si Nini bari ngorenjat, mawa sapu nyere, tuluy nyieuhkeun barudak anu keur maraen kaleci. ” Buru marandi, kudu ngawaro ka kolot deuleu, bisi jadi Malin Kundang siah. Hayang jadi batu maraneh teh ?” Si nini bati tipopolotot, anggeur nyieuhkeun barudak.

            Tung-tung na mah barudak teh riab, da sieuneun katenggeul ku sapu nyere.

            ” Ma, teu kengeng  kitu atuh !” ceuk  Ceu Mimin , indungna si Wawan.

            ” Tuda geus di bejaan geura marandi , masih keneh anggeur maraen kaleci tah si kulup teh. Teu sieunenun ku sandekala meureun barudak zaman ayeuna mah. Komo tah si  Udin  mah, kalah ka wawanianan rek mariteskeun sandekala ceunah !”

            ” Atuh da, tos benten zaman na mah. Kapungkur mah , nya… waktos abdi murangkalih keneh, di bejaan bisi aya sandekala teh apanan langsung lebet ka bumi. Ari barudak ayeuna mah teu cekap ku kitu. Puguh ari si Udin mah da budak Bangor!”

            ” Lain, ari neng Mimin geus nyaho acan ?”

            ” Perkawis naon nya, ma ?”

            ” Mani eleh ku nini kieu atuh. Moal enya can nyaho, ayeuna teh usum werit, neng Mimin.” Ceuk si Nini bari ngajak ka ceu Mimin diuk di teras imahna.

            ” Maksadna ?”

            ” Usum jurig cai ayeuna teh, neng Mimin.”

            ” Atuh kantenan bae, da ayeuna mah usum ngijih.”

            ” Ah euweuh hubunganna, usum ngijih jeung jurig cai mah, neng. Eta we geura, loba pisan kabejakeun, anu kasurupan ku jurig cai, ampir unggal peuting Ustadz Zaenal mah diteang ku patugas ronda. Da tiap jam salapan, aya we anu kasurupan ku Jurig cai.” Si Nini ngarenghap panjang, ” Nu matak nini mah bawel ka barudak teh, salempang sok sieun tah si jurig cai teh nyurup ka barudak. Masih mendingan nyurup wungkul, coba lamun nyokot barudak tuluy dijadikeun kaulinan, ih… embung nini mah. Keun bae ari budak Bangor saperti si Udin mah  di bawa ku jurig cai oge !”

            ” Atuh teu kengeng kitu ,ma. Da si Udin oge masih keneh putu ema, sanes?”

            ” Heueuh ari kitu tea mah. Ngan eta we bangorna, teuing ngalah ka saha. Apan ari si Karta jeung pamajikanna mah mani saromeahna kitu, na ari anakna, belegug teh beakeun ku sorangan. Cacakan leutik keneh eta teh, kumaha geus gedena nya tah si Udin ?”

            ” Ari tos ageng mah pasti ngemut atuh ma, pastina oge!”

            ” Atuh susuganan we kitu.” Ceuk si nini.” Mangkade nya, ulah ngantep barudak neng Mimin. Bisi kumaonam !”

            ” pangesto, ma !”

            Adzan maghrib ,sorana mani awuhan ka ditu ka dieu katebak ku angin. Layung mani hibar tara siga ti sasari. Biasana mah, tiap wanci sarepna teh hujan ngagebret, siga anu moal aya eureuna. Da usum ngijih tea. Na, ari ayeuna mah, mani caraang siga usum katiga. Barudak geus sariap rek indit ka masigit, dituntun ku bapa-bapana. Marake peci hidueng, samping di sorenkeun. Komo si Udin mah, dasar budak lenger, kawasna teh teu mandi-mandi acan. Katinggali dina sukuna, mani belewuk.

 

***

Unang, Karta, jeung Ki Asnaif  keur ngarobrol di pos ronda. Katingalina teh mani seurieus pisan. Sok sanajan dibarengan ku gogonjakan, tapi bener pisan maranehnah teh keur ngobrolkeun hal anu penting. Tapi teu penting kawas anu digunemkeun ku para wakil rakyat di puseur dayeuh , da ieu mah anu ngaroblol na oge jalma-jalma biasa, rakyat leutik. Atawa wong cilik ceunah ceuk pari basana mah.

            ” Lain… ari nyakolakeun zaman ayeuna. Asa kumaha mah !” Ceuk mang Karta bari nyereput cai kopi anu panas keneh, tuluy sereput deui… terus kitu deui, kana sabaraha kalina.

            ” Nya enya atuh. Apan ari zaman geus sagala werit kieu mah, sagalana kudu duit jeung duit bae.” Ki Asnaif mairan.

            ” bayaran kalah ka mingkin naek, make kudu meuli buku sagala rupa, buku paket, LKS, ah sagala rupa teh diulik siga na mah. Beda jeung baheula, sakola teh cukup make sabak, teu kudu make buku paket-buku paketan sagala rupa, komo bari jeung LKS mah. Tapi teu weleh we bisa ngahasilkeun manusa-manusa bener. Beda jeung sakola ayeuna, nu dihasilkeunna teh manusa-manusa pinter ngan hanjakan pinter kodek!”

            ” Sumuhun ari kitu tea mah, mang. Mung apan urang teh kudu miindung ka waktu mibapa ka jaman, sanes?”

” Heueuh akur ari kituna mah Aki oge euy, jang, ari palebah dinyana mah. Ngan , meureunan anu matak jadi pikiran si Karta teh eta tah masalah sakola jaman ayeuna. Mani asa teu kaharti ku akal. Ceunah mah lain rek bebas tah biaya sakola teh. Geuning jangji wungkul, ari buktina mah. Rakyat leutik masih loba nu cing koceak keneh.”

            ” Sumuhun..” Ceuk Unang, ” Na kunaon atuh nya ki ?”

            ” Ari ceuk beja mah, loba teuing jurig na tah di puseur dayeun teh! Wakil-wakil rakyat teh lain ngawakilan rahayat geuning, tapi ngawakilan beuteung maranehanana we lolobana mah. Akur ?”

            ” Ah si aki mah mani kawas kampanye ari nanaon teh!”

            ” Geus ah… tong ngomongkeun sakola bae. Keuheul aki mah, ari mikiran nu karitu patut teh. Komo ngomong-ngomong politik sagala rupa mah. Ih… mani siga nu heueuh teh asa pang capetangna, padahal mah teu ngarti-ngarti acan. Nu puguh mah urang nyaritakeun jurug cai angguran.”

            ” Kumaha tah, jurig cai teh mang Karta?”

            ” Puguh amang oge bingung , jang Unang. Moal enya ampir unggal peuting aya anu kasurupan tah ku si bebel jurig cai teh. Aneh pisan!” Suruput cai kopi panas teh di regot deui ku mang Karta.” Jeung mani ngadadak kitu deui. Moal kitu jurig anu ngageugeuh talaga Herang teh ambeukeun ka urang dieu?”

            ” Saumur nyunyuhun hulu,” Ceuk ki Asnaif,” asa kakara ayeuna aki mah ngalaman kawas siga ayeuna. Moal enya aya jurig cai niliwuri sagala. Padahal ti baheula oge  can pernah aya beja jalma anu ka surupan ku jurig cai. Eta ceunah talaga Herang teh aya nu ngageugeuhna, da sakanyaho aki mah, tara…tara pisan wanieun tah anu ngageugeuh di Talaga Herang mah  ngaheureuyan bangsa manusa. Ambeukeun mah komo, da urang dieu mah tara aya nu wanieun ulin-ulin acan ka eta tempat teh. Paling oge si Juho. Eta oge sakapeng mun manehna rek ngala suluh.”

            ” Lain… ari ceuk Ustadz Zaenal kuma ceunah, jang Unang?”

            ” Ari saur ustadz mah, bohong sadayana teh.”

            ” Na, kunaon atuh ari bohong mah, ustadz teh make dadaekanan nyageurkeun anu kasurupan sagala rupa, nya?”

            ” Numawi, ustadz teh nuju nalungtik kesang tukangna. Ari saurna mah aya anu nyurigakeun . saur ustadz mah, kaayaan saperti kieu teh sapertos aya anu nyiptakeun.”

            ” Direkayasa, kitu?”

            ” Sumuhun.”

            ” Saha atuh nya jalmana atu kitu patut teh?”

            ” Numawi, ayeuna teh nuju ditalungtik ku Ustadz sareng santri-santrina.”

            ” Heueuh, moal eunya atuh Ustadz jeung santri make sieuneun ku jurig cai sagala rupa. Da aki oge palias ari kudu sieun kunu kitu patut mah. Lamun papanggih oge, paling aki mah ngabingbrit lumpat.”

            ” Sieun panginteun?”

            ” Ah… lain sieun, da sakuduna kitu, ari manggihan pibahayaeun man. Kudu nyalametkeun diri lain?”

            Jang Unang jeung Mang Karta ukur mesem ngadenge ki Asnaif cacarita saperti kitu teh.

            ” ari itu saha euy?”

            ” Katingali na mah siga si Juned!”

            Bener we, geuning si Juned, amekan mani ngahegak. Kesang badak kaluar dina awakna. Mani boborot. Da eta we baju na mani baseuh.

            ” Aya naon euy, Juned. Mani kawas nu tas menang ka rewas kitu?”

            Si Juned anggeur ngahegak.

            ” Keun  sina reureuh heula . Tah bere cai kopi geura si eta mah.” Ceuk ki Asnaif.

            Anu tiluan anteng neuteup ka si Juned.

            ” Gancang caritakeun ,aya naon Juned.”

            ” Ah teu aya nanaon ki, abdi mah lulumpatan we hoyong geura teupi ka dieu ,da sieun di peugat ku jurig cai “

            Nu tiluan bati olohok ngembang kadu.

            ” Ih… dasar teu uyahan siah. Bedul teh. Dasar adat ka kurung ku iga silaing mah!”

            Juned ngan saukur seuri leutik.

            ” Geus baku ari kana eleg teh.” Ki Asnaif masih keneh nembongkeun kaambekna,” Tong sok loba heuruey teuing siah.”

            ” Aki… tos terang teu acan?”

            ” Teuing atuh. Aya naon kitu?”

            ” Eh… apan cik keneh si Sukri kasurupan ku jurig cai!”

            ” Kutan?” Ceuk mang Karta.

            ” Ah.. sabodo teuing. Da si Sukri mah jelema owah. Tara ka masigit-masigit acan. Tong solat nu lima waktu. Apanan jumaahan oge can pernah ke deuleu ku uing. Pantes jurig cai nyurup ka manehna mah.”

            ” Lain masalah eta na , ki” Ceuk Juned,” Pika lucueun oge tah jurig cai teh!”

            Aki Asnaif jeung nu lianna mimiti panasaran.

            ” palebah mana lucuna euy?” Tanya Mang Karta.

            ” Eta.. jurig cai teh ayeuna mah make ngaku ngaran sagala. Ceunah ngaranna teh Mbah Belekok Samidin…”

            ” Sok ngarang siah, ari nanaon teh !”

            ” Bener ki, Juned mah teu ngarang, da nyaksian sorangan. Puguh lulumpatan ka dieu oge hayang nyaritakeun kajadian ieu.”

            ” Tuluy?”

            ” Rupa-rupa tah pamentana si jurig teh. Make hayang bakakak hayam , udud jisamsu, cendol, jus alpuket, bubur hayam, ah rea=reana deui.”

            ” Lain… ari dedemit ayeuna geus modern kitu. Make hayang udud jisamsu sagala. Embungeun kitu dibere lisong mah?”

            ” Uh… dihina nu kitu mah. Pajar teh ceunah nu kieu mah udud jurig buhun, geus teu usum. Eta da, susuguh teh dikerid teu nyesa-nyesa acan.”

            ” Lapar meureun, atawa kalaparan kitu?”

            ” Palangsiang?”

            ” Palangsiang naon?”

            ” Heueuh… caritaan ustadz Zaenal. Bener oge, rekayasa ieu mah.” Ceuk ki Asnaif, ” Moal aya jurig anu resepeun kana udud jisamsu, komo cendol mah. Jurig naon ta teh, ari lain jurig manusa mah!”

            Teu karasa waktu geus peuting. Kira-kira jam sawelas anu ngaroblol teh bubar, baralik ka imahna sewang-sewangan.  

 

***

Juragan Asja teh katelah jalma pang beungharna di Cibodas mah. Imahna gedong sigrong kawas istana, sawah upluk -aplak, pon kitu ari kebon mah. Dombana oge aya kana ngaratusna, komo ari kandaraan saperti mobil mah. Treuk na oge aya lima, mobil mewah pang anyarna teh apanan juragan Asja wungkul anu bogaeun teh. Ari samodel jalma biasa mah eontong mobil mewah cacakan numpak kana delman oge bati ngahutang.

            Lain beunghar wungkul juragan Asja teh. Manehna oge katelah jalma someah, bageur deuih. Ampir unggal lebaran jalma-jalma miskin, budak yatim jeung jompo kabagean duit, di bere ku juragan Asja. Komo ari tiap lebaran haji mah. Tong ditanya deui, kurbanna oge paling saeutik teh sapi sapuluh. Zakat unggal bulan. Masigit oge jadi alus teh apan lantaran infak ti juragan Asja. Da ari ngandelkeun infak ti urang lembur biasa mah kacida pisan ilaharna make bisa ngabangun masigit anu alus kitu.

            Perusahaan na loba. Ngan kabeh oge aya dipuseur dayeuh. Ceuk bujangna mah, perusahaanna teh pabrik sapatu. Ari menejerna mah anak-anakna, da kabeh anakna teh lalaki wungkul.

            Teu saeutik jalma anu muji kana kasuksesan juragan Asja teh. Padahal… apan euweuh teureuh menak manehna mah. Bapana oge baheula teh tukang suluh. Keur leutikna oge kungsi tah juragan Asja teh mimilu dagang ka bapana. Na, ari ayruna. Naon atuh nu dipikahayang pasti kacumponan.

            Dasar, Alloh mah adil. Paingan ceuk paribasa, dunia mah saperti roda.

            ” Mang Kandi !” Ceuk juragan Asja gura-geuro.

            Mang Kandi teu sirikna mah ti babaranting lumpat.

            ” Abdi nun. Aya pangersa naon ,gan?”

            ” Pang mikeunkeun ieu sapatu ka si Jaja jeung ka si Memed!”

            ” Mangga, gan!”

            ” Bari bejakeun ka maranehna, duit teh gancang bawa ka dieu kitu !”

            ” Sumuhun. Mangga, gan !”

            Teu ngadagoan dititah deui, biur bae mang Kandi indit.

            Juragan Asja seuri sorangan bari ngusapan pipina.

 

***

 

Ustadz Zaenal jeung para santri geus sariap. Mang Karta jeung Ki Asnaif oge kasampak aya, komo ari si Juned mah mani nataku pisan. Teu sieun ceunah ku jurig cai mah, lamun nembongan moal asa-asa deui pasti ku manehna di keplok tah si jurig teh.

            ” Mangga atuh !” Saur Ustadz Zaenal.

            Para santri dituturkeun kunu sejen papaheula nuturkeun ustadz Zaenal. Rek muru ka Talaga Herang.

            Langit ceudeum, poek mongkleng. Matak pikasieuneun nu borangan. Si Juned mah sababaraha kali nyempod bari nyeukeulan kana pundukna ki Asnaif.

            ” Tong kieu,siah! Borangan teuing!” Ceuk ki Asnaif bari ngagebeskeun lengeunna.

            Tatangkalan mani ngentep, ngabaris di sisi talaga . Sora benceuh di tembal ku bebence ting jarerit,. Komo.. hawar-hawar kadenge anjing babaung. nambah pikakeueungeun nu ngadenge.

            ” Tah geuning kapendak!”

            ” Naon ta teh, ustadz?” ceuk Ki Asnaif,” Geuning kabel ieu mah!?”

            Nu sejen milu ngariung.

            ” Sumuhun. ” Waler Ustadz.” Jang, cobi papay tah kabel teh ka mana tungtungna!”

            Salah saurang santri nyekeul kana eta kabel.

            ” Palih dieu,Ustadz!”

            Sarerea muru, mani papaheula.

            ” Coba taekan tah tangkal teh !”

            Terekel salah saurang santri naek kana tangkal huni.

            ” aya sapeker geuning!” ceuk santri nu naek teh ngajorowok.

            ” Tah kahartos ayeuna mah!”

            ” Paingan atuh urang kampung teh sok nyaritakeun mun wanci sarepna loba sora nu aneh ceunah diieu talaga teh. Aya nu cing cikikik, sagala ceunah. Eh… sihoreng teh geuningan, sapeker.” Ceuk mang Karta.

            ” Hayu… tuturkeun deui abdi!”

            Sarerea ngabring nuturkeun ustadz Zaenal.

            ” Mana colen teh, cobi kadieukeun !” Saur Ustadz.

            Breh… sanggeus eta tempat kacaangan katinggali sabaraha tangkal.

            ” Aeh geuningan ieu mah tangkal genjer…!” ceuk Si Juned bari neges-neges.

            ” Lain genjer siah! Ganja deuleu!”

            ” Eh heueuh ketah, da uing oge resep ari kana genjer mah. Apan aya laguna, kangkung kang, genyer nyi, nangtung kang ….

            ” Menggeus gandeng, siah !” Ceuk ki Asnaif bari molotot ka si Juned.

            Anu lain ngan ukur seuri leutik ningali kalakuan ki Asnaif jeung si Juned teh, kawas ucing jeung anjing, teu akur.

            ” Dupi ieu tangkal naon, aya anu uninga teu?” Taros Ustadz Zaenal

            ” Euleuh… siah, geuning ieu mah tangkal opium euy!” ceuk mang Karta

            ” Ari maneh nyaho ti mana make bisa nyebutkeun ieu teh tangkah opium sagala rupa, Ta!?” Tanya Ki Asnaif.

            ” Puguh we atuh ki, apan abdi kantos ngiringan simulasi penanggulangan narkoba!”

            ” Saha nu melakna,nya?”

            ” Ari ieu kebon saha ?”

           

            ” Apan.. ieu mah kebon juragan Asja …!” ceuk Sarerea mani bareng.

            ” Moal kitu, juragan Asja teh….?”

            ” Heueuh nya?” Tembal nu sejen.

            ” Pantesan atuh loba nu weureu. Mabok, da geuning gudangna teh di tempat urang pisan.

 

***

Isukna, pulisi dibantu ku urang lembur ngababat tangkal ganja jeung opium.

            ” Mani kana sahektarna geuning melakna teh.”

            Sanggeus ditalungtik. Disidik-sidik geuning, pabrik sapatu juragan Asja teh ngan ukur kedok jang nutupan pagawean aslina. Nyaeta meroduksi obat-obatan terlarang. Di imahna oge aya kana sakuintalna ganja nu geus dipaket, dibungkus kana kardus sapatu.

            ” Pinter tah nya Juragan Asja teh? Pantesan atuh mani beunghar, da geuning bati tina dagang anu kitu patut!” Ceuk si Juned.[]


21
Mar
07

Cerpen: Sepasang Mata

Cerpen ini saya tulis  5 tahun  yang lalu

Pada mulanya saya sangat tertarik oleh dia. Tidak cinta, hanya tertarik. Dia memakai kacamata tebal, saya menganggap, mungkin dia seorang intelek dan jenius. Dia memakai  baju rapi, seragam putih abu-abunya terlihat tidak pernah kusut-masai berpadu dengan wajah bersihnya tanpa  setitik pun jerawat, rambutnya ikal, hitam, selalu tampak basah dengan minyak rambut ‘ Lavender’, saya menganggap, mungkin dia berasal dari keluarga terhormat. Penampilannya serapi pakaiannya,  saya menganggap, mungkin dia seorang aristocrat modern. Itulah kesan pertama saya sebagai seorang wanita ketika melihat dirinya, bahkan jika Tuhan menakdirkan saya sebagai seorang lelaki sekalipun, sepertinya saya tidak akan bisa menolak sebuah anggapan, bahwa dia juga tampan. Saya sebagai wanita normal, maka saya merasa tertarik kepadanya. Tidak cinta ,hanya tertarik!

“ Inilah salah satu teman baru kalian. Silahkan maju ke depan dan perkenalkan dirimu, Nak!” Kata pak Undang Hartono. Dia berdiri, cara berdirinya  sampai kapan pun akan selalu saya ingat. Tak satu pun terlihat tanda-tanda kusut pada pakaiannya, meski pun ia telah lama duduk di atas bangku cokelat tua itu. Dia melangkah menuju ke depan kelas. Peristiwanya terlalu singkat, tiba-tiba ia sudah ada di depan kelas. Semua mata memandang tak terkesip sedikit pun. Saya menatapnya lebih dari siswa-siswi yang lain. mungkin, tatapan saya lah yang paling sempurna. Dia tersenyum, saya semakin tertarik dengan senyumannya. Bibirnya seperti hidup, dari bibirnya seolah-olah terpancar kesejukan, bibirnya tipis,warnanya merah jambu.

“ Nama saya Gun gun Gunawan…!” Hanya itu kata-kata yang bisa saya dengar dan saya ingat.  Seketika, imaji saya terbang  karena saking tertarik. Saya akan selalu ingat, cara dia melafalkan kata-kata. Cara bertutur katanya mantap, tanpa beban sedikit pun. Belum ada satu pun di sekolah ini seseorang yang bernama seperti namanya. Namanya begitu asing bagiku ‘ Gun gun ‘. Saya semakin tertarik.

Dia juga merupakan seorang siswa yang mudah bergaul. Cara bergaulnya sungguh sopan, dan terus terang rasa tertarik ini semakin hebat. Dia selalu dikerubuti oleh beberapa siswa, bahkan siswi pun ada. Nah, ketika ada seorang siswi yang menghampirinya, entah mengapa ada rasa sesak yang secara tiba-tiba meradang dan mengganjal di dalam diri ini,mungkin karena saya semakin tertarik kepadanya. Dia memang seorang siswa yang sangat handal di dalam bergaul, saya akui. Begitu mudah baginya sekedar untuk mendapatkan teman, bahkan beberapa teman. Tidak seperti siswa  pindahan lainnya, para siswa itu biasanya hanya akan bisa beradaptasi jika sudah sebulan  ,bisa jadi sebulan lebih. Tapi dia… sungguh hebat cara beradaptasinya seperti bunglon yang pindah-pindah tempat, dengan cepat pula ia menyesuaikan diri. Dalam satu hari saja dia  sudah sangat akrab dengan teman-teman sekelas, termasuk saya. Kenyataan ini membuat semakin kuat saja alasan, mengapa saya harus tertarik  kepadanya?

Saya semakin tertarik. Rasa tertarik itu mencapai puncaknya di hari ke tiga saya mengenalnya. Dia menyapa saya ketika tanpa sengaja saya berpapasan dengannya di perpustakaan. Karena saya termasuk seorang siswi unggulan di sekolah tersebut, maka saya selalu mengunjungi perpustakaan di setiap waktu istirahat. Hanya orang-orang tertentu saja yang selalu mearamaikan perpustakaan, pikirku. Ya, karena tidak semua siswa menyukai perpustakaan. Tegur sapa yang dia ungkapkan kepada saya sungguh enak. Saya semakin tertarik. Cara bicaranya lembut, entah mengapa setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti senjata tajam yang bergerak dengan cepat namun dengan lembut menusuk sanubari.

“ Nilai tertinggi ulangan hari ini diraih oleh….” Kata Bu Agnes, salah seorang guru Fisika sekolahku. Semua mata memandang ke arah saya, karena memang demikian adanya. Setiap ulangan, bidang studi apa saja, saya lah yang akan selalu mendapatkan nilai tertinggi di antara mereka. “ Gun gun…!” Lanjut Bu Agnes. Saya menarik nafas panjang. Benar juga, bathin saya, dia seorang jenius dan intelek. Semua mata berkaca-kaca memandangnya. Saya tersenyum, namun ada suasana lain mengalir dengan deras di dalam hati ini ketika pandangan teman-teman se-kelas tidak lagi mengarah kepada saya, ada rasa hambar menyeruak! “ Nilainya sempurna!” Lanjut Bu Agnes, “ sepuluh !” Lanjutnya lagi. semakin menambah keyakinan,bahwa dia benar-benar jenius. Saya pun semakin tertarik.

Ah…,pikirku, bisa jadi, dia mendapatkan nilai sempurna itu hanya kebetulan saja, tidak mustahil hanya kebetulan, bukan berarti karena dia seorang jenius, apa pun bisa terjadi! Hanya , saya baru  yakin ,ketika mendengar penuturan dari Pak Irfan, dia memang seorang siswa paling pintar di sekolah asalnya. Dia selalu meraih rengking pertama, hmm… sama dengan saya! Saingan!

“ Nilai tertinggi ulangan Bahasa Indonesia hari ini diraih oleh Gun gun!” Kata Pak Derajat,” Nilainya sempurna…. Sepuluh!” Lanjutnya.

“ Nilai tertinggi ulangan Biologi hari ini diraih oleh Gun gun!” Kata bu Reni,” Nilainya sempurna …sepuluh!” Lanjutnya.

“ Nilai teretinggi Matematika hari ini diraih oleh Gun gun…” Kata Pak Sa’id “Nilainya sembilan koma tujuh lima…” Lanjutnya tanpa diembel-embeli kata sempurna.

Kejadian itu terus berlangsung. Semua berdecak kagum. Teman-teman semakin akrab dengannya, mereka mengekpresikan, ck ck ck nya secara berlebihan. Guru-guru mengacungkan jempol kepadanya. Saya? Saya iri kepadanya. Rasa tertarik itu mulai mengecil. Saya merasa sesak karena harus memiliki saingan di kelas ini! Mengapa Tuhan menakdirkan dia harus pindah sekolah ke sekolah ini! Bukankah masih banyak sekolah lain!? maka, rasa tertarik itu seolah-olah terus melepuh setiap hasil ulangan diumumkan. Lalu, rasa tertarik itu sirna, berubah menjadi benci, iri, dan dengki, ketika buku laporan pendidikan (rapot) semester pertama dibagikan. Dia menempatkan dirinya di rangking pertama, dan saya di rangking ke dua!

Kebencian semakin berkobar. Ketika sekolah mengirim kami ke Bandung untuk mengikuti lomba cerdas cermat Fisika. Dia menjadi juru bicara, sedangkan saya hanya sebagai pendampingnya.

“ Kamu dengan Gun gun memang pasangan serasi,Mir!” Kata salah seorang teman. Deg! Jantung saya berdebar kencang. Mulut mencibir, di dalam hati berkata, enak saja! Tapi mulut tetap tersenyum.

Ketika bertemu dengannya, hati panas terbakar. Tapi bibir tetap saja selalu saya hiasi dengan seutas senyum hambar. Saya telah menjadi seorang hipokrit. Saya merasa berdosa. Hhh… lupakan saja semua itu. Yang jelas. Saya sudah sangat benci kepadanya.

Saya harus mencari celah-celah, hmm.. sebuah siasat atau muslihat untuk menjatuhkan prestasinya. Saya telah kehilangan cara! Belajar dengan lebih rajin selalu saya lakukan, tetap saja tidak bisa mengalahkan prestasinya. Mungkin hanya dengan jalan licin lah saya akan mampu menjatuhkannya dan akan meraih kembali mahkota yang dia rebut dari tangan saya! Saya tidak akan membiarkan dia terus menerus menduduki  singgasana milik saya! Saya tidak mau, dia dipuji-puji oleh orang – orang lalu mereka melupakan saya. Saya tidak mau terus berdebar-debar dan bergolak karena harus menahan kedengkian kepadanya. Benar… hanya cara jahat yang sekarang hinggap di kepala saya, dia harus tersingkir! Hanya akal bulus, lain tidak!

Menjelang ujian, sekolah akan mengadakan widyawisata ke Bali. Biaya yang diusulkan oleh pihak sekolah cukup tinggi. Namun, tidak masalah bagi saya. Semua orang mengenal siapa saya? Anak seorang pengusaha sukses di kota ini. Hampir semua siswa menarik nafas panjang setelah mereka membaca rincian anggaran untuk widyawisata tersebut.

“ Tidak masuk akal, masa iya sich, biayanya sebesar ini!?” Kata salah seorang siswa. Ia menggeleng-gelengkan kepala.

“ Menginap di Hotel, biayanya 250 ribu rupiah. Apa benar!?”

“ Makan… satu kalinya, 35 ribu rupiah, gila benarrrrrr….!”

“ Transport lebih gila lagi, 150 ribu rupiah!”

“ Dokumentasi, karena  harus membeli kamera digital sangat fantastis, 200 ribu rupiah!”

“ Masih ada satu lagi. uang lelah untuk para pembimbing, 50 ribu!”

“ Pembayarannya bisa dicicil, kok!” Ujar salah seorang petugas tata usaha.

Tak ada yang berani membantah atas kebijakan sekolah yang terkesan dipaksakan itu. Para siswa hanya mengeluarkan nada-nada serapah saja, itu pun secara sembunyi-sembunyi.

Jantung berdebar lagi, ketika dia menghampiriku. Saya berusaha untuk menenangkan diri.

“ Mir,  bisa kita berbicara sebentar…!?”

Saya hanya mengangguk.

Dari pembicaraan itu saya bisa menyimpulkan. Dia mau meminjam uang untuk membayar biaya widyawisata itu. Bahkan dia berterus terang kepada saya, sudah dua bulan belum bisa melunasi SPP. Peluang emas! Bathin saya. Saya tidak langsung memberikan pinjaman kepadanya. Saya tahan dulu karena saya akan melancarkan serangan kepadanya.

Saya harus menulis surat! Surat dengan mengatasnama kan dirinya yang ditujukan kepada pihak sekolah. Ya, saya harus memfitnahnya,supaya para guru dan pihak sekolah membenci dirinya.

Kemudian saya membuat surat yang isinya meminta kepada pihak sekolah untuk meninjau ulang kembali anggaran biaya widyawisata yang terkesan fantastis itu. Karena jumlah nominal seperti itu rasanya mustahil terjangkau oleh para siswa menengah ke bawah. Apalagi batas waktu cicilannya pun hanya seminggu, terlalu singkat! Lalu di dalam surat tersebut saya tulis, jika sekolah tidak meninjau ulang maka para siswa akan memboikot pelaksanaan widyawisata itu. Saya masukkan surat itu ke dalam amplop putih. Tentu saja lengkap dengan nama pengirimnya,Gun gun Gunawan Kelas 3 IPA 1. kemudian saya mengeposkannya, kilat khusus!

“ Gun gun, kamu dipanggil kepala sekolah!” Kata Pak Ajum. Mendengar itu, saya langsung berteriak bahagia. Pasti, dia akan mendapat dampratan dari kepala sekolah karena surat itu. Rasain oleh Kamu! Gumam saya.

Hhh… benar juga, waktu istirahat saya bisa melihat, dia terlihat gelisah!

Setelah istirahat Kepala sekolah menyuruh semua siswa berkumpul di aula, katanya ada hal penting yang akan beliau sampaikan. Saya bisa menduga! Pasti tentang surat!

Setelah semua siswa kelas tiga berkumpul. Pak Kepala sekolah  didampingi oleh wakilnya memasuki aula.

“ Bapak atau lebih tepatnya panitia widyawisata telah menerima surat dari salah seorang teman kalian!” Pak Kepala Sekolah memperlihatkan kepada seluruh siswa surat tersebut. Ah, saya merasa bahagia. Pak Kepala sekolah yang super galak itu pasti akan memarahinya, dia akan dipermalukan di depan anak-anak, dia akan minder, terpukul, lalu akan mengalami banyak gangguan, kemudian prestasinya akan anjlok ! “ Dan, bapak telah berbicara dengan pengirim surat ini.” Lanjut beliau.” Rasanya bapak tidak perlu membeberkan apalagi mengungkit-ungkit isi surat ini kepada kalian. Hanya… kesimpulannya, kami, panitia widyawisata, merasa terhormat dan mungkin akan memberikan penghormatan kepada si pengirim surat ini karena dia telah berani mengungkapkan sesuatu yang seharusnya diungkapkan. Anak-anak, kita memang biberikan kebebasan untuk berbicara, mengemukakan pendapat, termasuk mengeritik kebijakan-kebijakan sekolah jika dinilai kurang dimengerti. Dari sekian lama bahkan dari sekian banyak siswa, baru hari ini ada siswa yang dengan jiwa besar berani melakukannya! Bapak sangat berterima kasih kepadanya. Dan sebagai wujud terima kasih itu, insya Allah, panitia widyawisata mungkin akan meninjau ulang kembali terhadap anggaran biaya widyawisata !”

semua siswa bertepuk tangan ,meriah, gegap gempita.

“ Siapa sich, si pengirim surat misterius itu?” Tanya setiap siswa.

“ Hebat…dia sangat hebat, karena jasa-jasanya, kita menjadi sedikit lega…!”

“ Sungguh berani….!”

Itu kan saya! Itu kan surat dari saya! Teriak saya dalam hati. Tidak bisa ditutup-tutupi ,akhirnya semua siswa tahu juga siapa pengirim surat misterius itu,” Gun gun Gunawan!” dia semakin dielu-elukan namanya, semakin harum saja namanya. Bodoh! Saya memang bodoh. Saya telah mengangkatnya dengan sikap pengecut yang pernah saya lakukan!

Setelah ujian nasional saya tidak bisa menghadiri acara perpisahan karena saya harus berbaring di rumah sakit. Bukan sakit-sakitan atau pura-pura sakit. Ini benar-benar sakit. Sepasang mata saya rusak total. Saya harus menjalani perawatan intensif. Saya harus kehilangan sepasang mata lengkap dengan penglihatannya. Kelak, saya akan menjadi seorang yang buta. Dan penyebab semua ini tiada lain adalah si keparat Gun gun! Mengapa Tuhan menciptakan mahluk seperti dia, bukan hanya merampas  mahkota dan singgasanaku, dia juga telah mengambil sepasang mata ini!

 Setelah ujian, tepatnya satu hari setelah ujian. Kelas kami akan mengadakan pesta cat. Kami akan mengecat rambut, dan seragam mereka. Maka disiapkanlah berbagai cat warna-warni, mulai dari cat kaleng hingga cat semprot. Semua berhura-hura, semprot sana sini, coret sana sini.sebentar saja seragam kami sudah dipenuhi oleh coretan-coretan. Ketika si keparat dikejar-kejar oleh siswa lain, tanpa sengaja dia menubruk saya, sampai saya tersungkur ke atas tanah yang tergenangi oleh cat.cat kaleng yang saya pegang tumpah membuncah menerjang ke dua mata saya. Semua menjadi gelap. Tahu-tahu saya sudah ada di atas pembaringan ini. Di sebuah rumah sakit. Dan sungguh menyakitkan. Dok ter memvonis, saya akan cacat permanen! Saya akan menjadi manusia yang tidak bisa melihat lagi indahnya warna-warni dunia!

Saya mendengar dari teman-teman yang membesuk,  nilai ujian tertinggi diraih oleh si keparat! Teman-teman menyampaikan pesan, katanya si keparat itu sekali lagi meminta maaf! Dasar pengecut!

“ Mir, papa tidak akan membiarkan kamu menderita seperti ini!” Kata papa, saya berusaha menguatkan akomodasi, ah… tetap saja gelap.” Seorang teman papa bersedia mendonorkan matanya untukmu. Kamu akan melihat lagi, Mir!” Saya terperanjat. Ternyata di dunia ini masih ada orang sebaik teman papa!

Lalu dilakukanlah pengoperasian. Hingga saya mampu melihat lagi. hanya saja, saya harus memakai kacamat tebal . Saya memakai kacamata tebal ,hhh…. Seperti si keparat Gun gun!

Enam tahun telah berlalu. Saya sekarang telah menjadi seorang dokter. Dokter Mira.

Saya bersama keluarga sejak duduk di bangku kuliah semester dua telah pindah rumah ke Bandung. Enam tahun telah berlalu, teman-yeman lama entah di mana, si keparat ,ya…benar, si keparat itu seakan tidak pernah mau lepas dari memori saya. Dia selalu hadir di dalam setiap mimpiku, mencemooh, dan merendahkan saya! Si keparat yang telah menyebabkan mata saya hampir buta jika tidak ada orang sebaik teman papa.

Sekonyong-konyong datangalah sebuah surat. Isinya undangan reuni sekolah  angkatan 1960 sampai angkatan saya. Hmm, acara seperti ini memang selalu saya nanti-nantikan. Reuni sekolah! Kelak saya akan bisa bercengkrama kembali dengan teman-teman lama, saya akan tampil di depan mereka sebagai dokter Mira! Dan, saya akan berdiri dengan gagah di depan si keparat itu, bahwa saya telah menjadi orang sukses!

Saya meluncur bersama papa dan mama menuju kota kelahiran. Meskipun sudah pindah rumah, tapi kami masih memiliki rumah di kota kelahiran saya. Waktu tempuh hanya dua jam saja.

Sampai acara yang begitu saya natikan pun tiba. Dengan langkah mantap saya memasuki gedung Anton Sudjarwo, gedung di mana acara reuni diselenggarakan. Telah ramai. Saya melirik-lirik, mencari-cari teman lama. Aha… ada Nerisa, dia sudah sangat berbeda dengan enam tahun lalu, badannya sedikit mengembang! Saya duduk di deretan bangku paling depan. Tanpa saya sadari, saya duduk di samping… uhh…. Si keparat itu! Sombong sekali manusia yang satu ini, dia seperti tidak merasakan kehadiranku. Dan memang kesombongannya di atas kesombongan, pandangannya lurus ke depan, lagi pula kenapa dengannya sampai memakai kacamata hitam segala! Mau pamer? Sok benar si keparat ini!

Puncak acara adalah pemanggilan beberapa orang yang pernah berpestasi di sekolah itu . Saya pasti akan terpanggil, juga… heh… si keparat ini!

“ Nona Mira…!” Kata pembawa acara,” Oh… mohon maaf, karena beliau sudah menjadi seorang dokter, jadi saya akan memanggilnya dokter Mira!” Tepuk tangan bergemuruh, saya merasa sangat bangga!

“ Selanjutnya.. pak Gun gun Gunawan!” Heh… akhirnya dipanggil juga si keparat itu. Lekat sekali saya memandangnya. Bukan main… saya sangat heran, mengapa dia harus dipapah oleh seseorang, cara berjalannya seperti….. dia buta??? “ Sekarang, pak Gun gun ini mengabdikan dirinya  pada sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Beliau mengajar di SLB A. Dan penting anda ketahui beliau adalah orang yang pernah sukses di sekolah tercinta kita ini. Beliau tidak melihat, harus kehilangan sepasang matanya. Tapi ,mohon maaf, beliau buta secara terhormat” Kata pembawa acara.

Saya sangat terharu.

“ Kita akan tercenung, haru, dan kagum. Mengapa pak Gun gun ini sampai harus kehilangan sepasang matanya? Matanya beliau donorkan kepada salah seorang temannya yang mengalami kecelakan enam tahun lalu…..”

“ Gun gun……” Saya berbisik lirih. Saya terkulai, saya lemas, dan saya pun terjatuh… kemudian segalanya berlalu dengan sepi dan hampa…

***

Kota Pelabuhan, 2003-2007

19
Mar
07

Cerpen: Lelaki Yang Menangis di Lantai Tiga Sebuah Gedung

Enam jam setelah keruntuhan Khalifah Turki Utsmani, di ruas-ruas jalan Istambul begitu gemebyar meriah.  Parade  orang-orang  sambil membawa poster-poster Kemal Attaturk, spanduk lebar-lebar berisi jargon kemenangan kaum Kemalis tertulis heroik hampir sepanjang jalan. Langit cerah, senjakala, hingga terlukis lempengan emas di sepanjang jalan menyisakan kerinduan masa lalu. Sepanjang pinggir jalan, bergerombol orang-orang, mungkin juga orang-orangan, raut wajah mereka tidak bisa menyembunyikan segudang pertanyaan, apa itu perubahan? Tentang tujuan Turki Baru? Tentang kemenangan Turki Baru?

Anak-anak seusia Okan, Mehmet, amir, dan Otmar yang ikut berparade di jalanan tidak mengerti apa-apa sama sekali. Sekedar ikut-ikutan saja, kecuali dari itu tidak.

” Kita songsong Turki Baru!”

” Enyahkan ideologi usang!”

” Hidup Kemal, bapak Turki Modern!”

” Jayalah Kemal Attaturk!”

” Tegakkan demokrasi!”

” Hidup nasionalisme Turki Baru!”

Begitulah teriakkan orang-orang ,meski tidak mengerti.  Gerak langkah mereka terus merangsek merayap semakin bejubel. Kopiah dan peci putih mereka campakkan di jalanan, diinjak-injaknya, mereka kumpulkan, lantas mereka bakar. Tulisan-tulisan Arab yang tertera di kertas, mereka robek habis, mereka duduki, mereka hamburkan. Beberapa onggok sisa pembakaran meramaikan jalanan, asap pekat mengepul menantang lembayung sore. Semua berjingkrak ria, bahagia yang tidak dimengerti.

Di kantornya, di lantai tiga sebuah gedung, sorang lelaki mengurut dada.

###

Dua puluh empat jam setelah keruntuhan Turki Utsmani. Pagi sekali ketika semburat kuning terlukis di ufuk Timurm di sepanjang jalan, di setiap rumah, di pusat Istambul orang-orang telah mempersiapkan telinga untuk mendengarkan pidato pertama Mustafa Kemal Pasha, sang pembaharu!

Kopi-kopi dengan kualitas rendah dapat tercium dari aromanya yang rendah pula berbaur di udara Istambul. Toko-toko tutup, pasar mati, tidak saeperti sebelumnya, tak ada aktivitas ekonomi. masih menumpuk abu hitam sisa pembakaran.

” Jayalah Turki Baru!!!” teriak Kemal terdengar di seantero Turki melalui radio-radio dan dihubungkan dengan pengeras suara. Semua wajah menengadah memperhatikan sebuah harapan baru.  “Campakkan ideologi lama , kita ambil sistem baru yang lebih maju dan akan membawa kita kepada kemajuan dan kejayaan!” Lanjutnya.

” Horeeeeee…!”

” Kumandangkan adzan dan sholat dalam bahasa Turki!”

” Yessss!!!”

” Hapus tulisan Arab!”

” Yess!!!”

” Tanggalkan jilbab, kenakan pakaian Eropa modern sebagai gantinya!”

” O…Yesss!”

” Buburakan sekolah agama rakyat ,ganti dengan sekolah Turki Modern!”

” Yeahhh!”

Ketika matahari musim panas telah merayap naik beberapa kelompok orang mengumpulkan buku-buku bertuliskan Arab, mereka mengeluarkannya dari toko, perpustakaan, rumah-rumah lalu membakarnya. Sebentar saja tumpukkan buku itu dilahap api diiringi dengan jingkrak ria dan tidak mengerti apa-apa sama sekali.

” Ada yang tertinggal!” Teriak seseorang.

” Apa!?”

” Ini…sebuah sorban putih!”

Mereka pun menggulung-gulung sorban kemudian melemparkannya ke dalam kobaran api.

Di kantornya, di lantai tiga sebuah gedung, seorang lelaki mengeluarkan air mata sudut matanya.

###

Tiga bulan setelah keruntuhan Turki Utsmani, kantor di lantai tiga sebuah gedung diobrak-abrik tentara berseragam. Laci-laci dibuka, dikeluarkan isinya tanpa sisa, dokumen diperiksa dibaca dengan teliti, berkas-berkas dikumpulkan diteliti kembali satu-persatu. Para petugas berseragam itu dipimpin oleh seseorang berperawakan tinggi tegap dengan kumis tebal, dari nada bicaranya kasar dan bengis ,ada ketegasan di binar matanya. Sang komandan meletakkan surat tugas penggeledahan di meja kerja lelaki itu.

” Apa yang hendak tuan komandan periksa di kantor ini?”

” Jangan pura-pura, Bey! Di kantor ini ,Bey menyimpan barang terlarang, kan!?”

” Tidak!”

” Terus geledah!” Teriak sang komandan kepada anak buahnya.

Kemudian para petugas itu kembali mengacak-acak isi kantor lelaki itu. Pot-pot bunga diperiksa, sampai bunga-bunga tercerabut darinya, akar bunga diperiksa, jangan-jangan di situlah terdapat barang terlarang yang mereka cari.

” Apa yang sedang anda cari Tuan Komandan?” Lelaki itu masih bingung.

” Hmm..Bey..Bey..Sudahlah Bey, jangan pura-pura tidak tahu gituu. Ayolah Bey, serahkan barang terlarang itu kepad kami!”

” Ya..apa??? Saya tidak menyembunyikan barang terlarang kok!?”

” Mengertilah sedikit Bey, orang-orang seperti kami sebenarnya tidak mau repot-repot ,juga merepotkan orang lain, hanya ini tugas dari atasan. Atasan kami selalu tidak mau tahu, segala tugas harus segera dituntaskan ..tass..tass..taaaaasssss!”

” Ya.. lantas, apa yang harus saya lakukan untuk,tuan Komandan!?”

” Lha dalah..Bey ini! Masih tetap berpura-pura, jangan begitu dong!!!” Kata sang Komandan sambil mencolek pinggang lelaki itu.

Seorang petugas menghampiri sang Komandan.

” Lapor!”

” Ya, ada apa?”

” Ada barang mencurigakan!”

” Apa itu?”

” Sebuah bungkus makanan ringan dengan label bahasa Arab bertuliskan HALAL, Pak!”

” Sikaattt!”

Petugas lain datang lagi.

” Lapor!”

” Ya ada apa?”

” Barang terlarang itu belum ditemukan!”

” Terus geledah ,goblokkk!”

” Semua ruangan, segalanya telah digeledah, Pak!”

” Geledah lagii ,goblokkk!”

” Ya.. saya goblokk ,Pak!”

” Guuoblokkkkkkkkk!!!!”

Lemari lelaki itu digulingkan, pintunya dihajar oleh benda keras, satu persatu baju lelaki itu diperiksa lalu dilemparkan sembarangan.

” Ayolah Bey, bekerja sama lebih bagus kan?”

” Apa yang mesti saya bantu, Tuan! Percayalah di kantor ini saya tidak menyembunyikan barang terlarang!”

” Terus periksa kantor ini, guoblokkk!”

Kantor telah acak sempurna.

” Periksa Bey ini!” Titah sang Komandan kepada salah seorang petugas.

Seorang pertugas menggeledah tubuh lelaki itu.

” Maaf ya..tidak sengaja!” Kata petugas itu sambil mengedipkan salah satu matanya kepada lelaki itu. ” Tolong keluarkan barang di saku celana ini dong!”

Lelaki itu mengeluarkan sebuah peci putih yang ia beli dua tahun lalu di Mekkah.  Lalu menyerahkannya kepada sang Komandan.

” Hahaha!” sang Komandan ngakak. ” Terima kasih atas kerjasamanya Bey. Inilah barang terlarang yang kami cari itu..!” Lanjut sang komandan sambil menjentikkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk hurup “V” VICTORY.

Para petugas berseragam itu bergegas keluar. lelaki itu mengurut dada.

###

Satu tahun setelah keruntuhan Turki Utsmani. parade pengangguran meramaikan sepanjang jalan Istambul. Desah harapan menipis, ada ketertindasan pada raut wajah orang-orang, mereka ibarat mayat hidup, bergerak tak tentu arah. Pabrik tutup. Gelandangan meramaikan Kota bersama ratap tangisnya. Anak kecil berlarian mencari-cari makanan di tong-tong sampah.

Ketika itu. Para pejabat elit Turki Baru sedang mengadakan pesta besar. Berbagai makanan dan minuman dengan cita rasa mewah meramaikan meja. Kemal Attaturk  tampak bahagia. Menteri-menterinya pun terlihat lebih gembur dari satu sahun sebelumnya. para wanita cantik ada pula, dimeriahkan dengan gesekkan biola, sedang memainkan Mozart.

” Jayalah Turki Modern!” Kata Attaturk sambil berdiri, mengangkat segels sampanye.

” Jayalah!” diikuti oleh para menterinya.

Sementara itu di sebuh tempat di sudut Kota Istambul, seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan topi hitam sedang membaca sebuah surat.

Salom..

Dan biarkan kami menatapMu

Dengan penuh rahmat kembali ke Zion

Seiring dengan keberhasilan gerakan kita di beberapa tempat: Turki, Italia, Sovyet, Jerman, Inggris, dan Perancis. Telah tumbuh juga di Mesir sebuah pergerakan Islam yang akan menjadi batu sandungan terhadap kesuksesan rencana besar kita. Maka dari itu, diserukan kepada orang-orang yang komit terhadap bapak kita, Theodore Herzt, untuk: 1) PUSATKAN PERHATIAN KE MESIR. 2) LOBI PARA PEJABAT TINGGI MESIR. 3) HANCURKAN SETIAP TUNAS PERGERAKAN ISLAM,KARENA MEMBIRKANNYA BERARTI KITA MEMBIARKAN BERSERAKANNYA DURI-DURI PENGHALANG KEBERHASILAN KITA.

Tatanan Dunia Baru akan segera terwujud!!!

di tepi sungai-sungai Babilon

di sanalah kita duduk sambil menangis

ketika kita teringat ZION

Orang itu segera meninggalkan kota Istambul.

Dan di kantornya, di lantai tiga sebuah gedung, seorang lelaki bersama beberapa orang lainnya dengan wajah teduh sedang merencanakan sesuatu. Menusun sebuah pergerakan besar…

Kota Pelabuhan 2007

 

 

 

10
Mar
07

Cerpen: Koran Halaman Tujuh

” Saya orang kaya….Saya orang kaya!” Kata seorang anak dalam sebuah permainan. Di belakannya, berbaris beberapa anak, masing-masing mereka memegang pundak satu sama lain.

” Saya orang miskin….Saya orang miskin…!” Kata anak lainnya, mengaku dengan jujur , tak satu pun seorang anak bersamanya.

” Saya punya anak… saya punya anak!”

” Saya minta anak….saya minta anak…!”

” Siapa namanya..siapa namanya!?”

” Rendi namanya..Rendi namanya..!”

” Rendi lekas pulang jangan kembali lagi!”

Begitu seterusnya, sampai si anak yang mengaku sebagai orang miskin dengan penuh kejujuran itu menjadi orang kaya karena diberi banyak anak oleh teman kaya tadi, sampai… anak yang mengaku dirinya kaya itu tidak memiliki anak lain dan jatuh miskin. Tapi siapa kira, nasib akan berbalik lagi. Menggelinding. Karena memang demikianlah sebuah permainan.

Pak Kosam masih memegang erat kertas koran yang mulai lusuh dan kusut masai. Di teras rumah, ia bisa melihat dengan jelas anak-anak yang sedang bermain di halaman rumahnya. Rumah Pak Kosam panggung. Anda akan mengira, pasti rumah itu sudah berusia puluhan tahun? Ya , memang demikian adanya. Bilik bambunya sudah meranggas tua. Tapi siapa tahu, rumah adalah surga bagi pemiliknya. Dan pak Kosam menganggap, rumahnya adalah surganya.

Sore musim panas, segala sesuatunya berjalan seperti biasa. Langit cerah, matahari memanggang, beringsut surut, cahaya kemilau merangkul bumi, hujan belum mau turun rupanya, debu mengepul menabrak siapa saja. Beberapa orang bersungut-sungut: Huhhh Panasss…! HHuhhh Debu…! Jalanan ramai, muda-mudi keluar rumah berjalan-jalan menimati cerah, anak-anak ramai bermain sampai menjelang Magrib- sebelum mengaji ke surau.

Segelas teh hangat menantang di hadapan Pak Kosam. Rokok daun aren terselip gagah di bibirnya. Asap putih mengpul keluar dari selanya. Ia merasakan dalam sekali kenikmatan itu. Tak mau peduli apa yang akan terjadi karena ia tidak tahu. Cara duduk orangtua itu anggun, bersila, sesekali peci hitamnya diletakkan dilututnya, kemudian ia pakai lagi, berulang-ulang.

Ada yang terlintas dalam benaknya. Ia ingin sekali membuat pesawat mainan dari kertas koran itu. Tapi ia urungkan niatnya…terlalu mahal.

###

 

Pak Kosam, orangtua berumur 75 tahun,kerempeng, hitam, pendek, keras, kepalanya sudah beruban penuh, seorang veteran perang tapi tidak mendaftarkan diri sebagai veteran yang diberi tunjangan oleh negara dengan alasan keyakinan. Banyak yang menyayangkan atas sikapnya itu. Padahal orang berebut jatah ingin mendapat tunjangan dari negara. Apalagi, ia benar-benar seorang veteran sejati, ikut revolusi fisik pada masa penjajahan, saksi-saksinya juga banyak. Bagaimana orang-orang tidak kecewa atas sikapnya ketika banyak orang yang mengaku-aku sebagai veteran perang  nyatanya dusta. Apa dikata, pak Kosam keras memang. Tak ada dalam benaknya sedikit pun keinginan untuk mengajukan diri sebagai veteran perang yang harus diberi tunjangan oleh negara atas jasanya itu.

 

Ia berlari sekuatnya, nafasnya keluar masuk beraturan. Hampir copot, sandal yang dipakainya. Sebentar-sebentar berhenti. Sebuah koran baru. Berlari lagi menembus udara kemarau yang kering. Orang-orang merasa tidak peduli dengan sikapnya karena memang demikianlah orang-orang mengenalnya. Sering melakukan tindakan-tindakan tidak terduga. Yang jelas, hari itu ada kebanggaan terpancar di wajah kerengnya.

 

Pintu rumah yang sudah rapuh itu diterjang olehnya. Hampir saja daun pintu lepas dari mulut pintu. Sumringah. Melirik-lirik. Girang? Sudah pasti! Kemarin ia telah menerima bantuan langsung tunai dana kompensasi BBM dari pemerintah. Orang mulai curiga, jangan-jangan pak Kosam telah kehilangan keyakinannya, kok mau-maunya ia menerima bantuan dari pemerintah.? Selalu ada saja alasan darinya, katanya..bantuan itu ia terima secara obyektif, ia benar-benar miskin..asli kere. Tentang veteran perang? Itu urusan Allah. Itu masalah pahala, tidak perlu diuangkan. Orang tidak perlu menggemborkan diri sebagai veteran perang, cukup sejarah yang mencatat itu! Bahwa ia telah berjuang untuk negara dan bangsa bukan untuk dipuja dan diberi tunjangan oleh negara. Tentang teman-temannya yang mendapat tunjangan dari negara ,ia berpendapat, itu urusan mereka, bukankah setiap orang memiliki keyakinan berbeda, tidak perlu disoalkan, toh di zaman ini masih banyak berkeliaran orang-orang munafik kok!

 

Bu Sumirah, istrinya, hanya melongo melihat polah suaminya. Meskipun telah biasa hidup dengan sifat-sifat suaminya. Namun..untuk saat ini mengapa ada rasa bahagia di wajah suaminya. Pak kosam merebahkan tubuhnya di atas talufuh . Memandang istrinya, sambil mengacungkan jempol. Lucu! Tersenyum memperlihatkan mulut yang telah sepi dari barisan gigi. Berulang kali ia menelan ludah.

 

Ia segera bangkit.

 

” Bu..Bu..Bu… dengar Bu!”

 

” Astaghfirullah…ada apa,pak?!”

 

” Ada berita gembira, Bu!”

 

Bu Sumirah mendekati suaminya yang mulai tidak sabar untuk mengungkapkan sesuatu. Di tangannya, sebuah gelas berisi teh hangat, minuman favorit suaminya.

 

” Minum dulu, Pak!”

 

Dengan sopan, pak Kosam menolak air teh itu, ” Tak usah Bu. Kebahagiaan telah menghilangkan rasa hausku!” Kemudian ia membuka lembar demi lembar kertas koran. Di halaman tujuh ia berhenti, menunjukkan salah satu poto kepada istrinya, halaman memuat berita-berita daerah…”Lihat bu! ” Ia menunjuk salah satu poto. ” Siapa yang bersalaman dengan pak walikota ini, Bu?!”

 

Bu Sumirah menajamkan akomodasi. Kertas koran diamati serius, meneliti, mencari-cari, tepat! Ia menatap wajah suaminya.

 

” Ini aku…ini aku, bu!” Pak Kosam bangkit dari duduknya, kemudian berjingkrak-jingkrak, memainkan beberapa jurus pencak silat. ” Kenapa hanya diam, Bu? Aku telah masuk koran…aku menjadi terkenal!” Ia duduk lagi. ” Coba dengan ini..’ WALIKOTA SUKAMAJU MEMBERIKAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI DANA KOMPENSASI BBM SECARA SIMBOLIS KEPADA PAK KOSAM , SALAH SEORANG KELUARGA MISKIN…. bagaimana, Bu?!”

 

” Hhh..pak..pak..apa yang pantas kamu banggakan, dasar aki-aki peot!”

 

” Kok begitu Bu. Aku menjadi orang terkenal ,Bu. Para pembaca koran ini akan mengenalku!”

 

Bu Sumirah tidak berkata lagi.Ia mendesis, lalu pergi ke dapur. Sedangkan Pak Kosam masih asik menatap foto dirinya yang sedang bersalaman di koran, halaman tujuh.

 

###

 

Pak Kosam seorang penjual sayur di pasar Gudang. Meskipun sudah tua, namun tenaganya masih kuat. Mungkin pengaruh makanan yang ia konsumsi ketika masih muda belia. Orang dulu gemar memakan makanan alami, tanpa pengawet, pewarna, apalagi racun! Pagi sekali ia berangkat ke pasar dan pulang ketika hari mulai sore. Jangan membicarakan keuntungan besar. Kembali modal saja sudah baik.

 

Pasar ramai, pasar sesak, pasar bau, adalah pasar Gudang. Pak Kosam membuka lapaknya di sudut sebelah Selatan.

 

” Sebelum saya melayani ibu..” Katanya kepada pelanggan tetap, seorang ibu muda hamil. ” Saya akan memperlihatkan dulu sesuatu kepada, Ibu!” Ia mengeluarkan koran dari laci meja.

 

Si pelanggan menampilkan rasa penasaran.

 

” Coba lihat! Siapa ini, ?!”

 

Si pelanggan menatap wajah Pak Kosam, diikuti dengan membandingkan poto di koran halaman tujuh. Tersenyum kecil.

 

” Berapa harga satu kilo mentimun, Pak?”

 

” BBM naik, harga-harga pun ikut naik pula!” Jawab Pak Kosam agak ketus. Ia memasukkan kembali koran ke dalam laci. ” Mentimun lima ribu satu kilo, Bu!”

 

” Lho…bukankah kemarin hanya seribu?”

 

” La dalahhh… kemarin… ibu tidak membeli mentimun khan?”

 

###

 

Sudah satu bulan koran halaman tujuh selalu dibawa-bawa pak Kosan. Lecek. Ia ingin merobek-robeknya, namun terlalu sayang.

 

Di halaman rumah, anak-anak masih asyik bermain. Pak Kosam menyeruput teh hangat. Bu Sumirah mendekat.

 

” Pak….persediaan beras hanya satu liter lagi, garam habis, ikan asin ludes…” Kata Bu Sumirah.

 

” Pasar tempat aku berjualan akan direnovasi, kita butuh biaya sekitar dua juta ,Bu. Kata Pak Walikota, ini demi kenyamanan kita semua…pembeli dan penjual!”

 

” HH..” Bu Sumirah menatap halaman rumah kosong. ” Apalagi yang harus kita jual, Pak?”

 

” Tidak perlu kita menjual segalanya, Bu!”

 

Kertas koran halaman tujuh dilipat, kemudian dimasukkan ke dalam saku celanan.

 

Kota Pelabuhan 2007

 

05
Mar
07

Cerpen: Lelaki Pincang Veteran Perang

Jam di dinding menunjukkan pukul 21.00. Saat seperti inilah yang aku khawatirkan.  Dentang jam biasanya diikuti oleh suara gemeretak dalam dinding, tepatnya suara-suara aneh dari alam entah berantah, ghaib memang. Suara senapan mesin menderu, desing peluru, ledakan bom, thank baja yang menggilas sesuatu, jerit ibu dan anak, disempurnakan oleh teriak tawa yang menggelak puas. Suara-suara ini aku dengan dengan telinga sendiri tanpa meminjam telinga siapa pun, tidak meminjam telinga Rustam, Istriku, atau siapa pun.

Istriku mengira aku telah mengalami goncangan jiwa. Mengalami halusinasi akut berlebihan. Dia menyuruh saya untuk memeriksakan diri kepada ahli telinga terkenal di Sarajevo ini, Cako Ivanovich. Sebetulnya tanpa saran darinya pun aku akan memeriksakan diri ini kepada ahli telinga termashur di Kota ini. Biar kucoba, aku tidak mau disebut senagai orang……

Kediaman Cako Ivanovich adalah rumah sederhana, dengan tata ekserior ortodokd namun interiornya modern. Beberapa pasien telah menunggu, aku duduk bersama mereka. Seorang pasien wanita berukuran badan agak besar menggeser pantatnya, dengusnya sederhana dan ramah, mempersilahkan duduk kepadaku. Sedangkan beberapa pasien seolah tidak merasakan kehadiranku.

Di ruang prakteknya. Aku diperiksa sangat intensif ketika kukabari apa yang selalu kualami ketika jam di dinding tepat menunjukkan pukul 21.00. Peristiwa itu aku alami sejak aku dan istriku pindah rumah. Setiap malam sampai pagi menjelang.

” Telinga tuan normal!” Ucap Cako Ivanovich. Tangannya membuka lebar. Pakaian putihnnya tanpa kerah. Dibarengi dengan senyum manis. Ramah dan hangat.

Kubayar Cako Ivanovich sesuai harga, tertera di dinding ruang praktek. Di Kota ini setiap dokter praktek biasa memasang harga di dinding ruang prakteknya, katanya biar orang tahu dan tidak bertanya-tanya. Adakalanya bagi orang miskin harga itu bisa dibanting sampai serendah-rendahnya. Dokter-dokter di Kota ini pada umumnya jauh lebih baik jika dibanding dengan dokter asal Kota kediamanku. Mereka telah mengerti bahasa kehidupan yang tidak berarti sama sekali jika hidup ini hanya diisi dengan tarif-tarif menyiksa. Harga semakin mahal biarlah itu terjadi pada bahan-bahan kebutuhan pokok, adapun masalah kesehatan, biar orang bisa mencicipinya dengan murah, siapa pun itu.

” Saya sarankan , kau datangi saja adikku.. Gmorovich!” Kata Cako Ivanovich. Orang-orang tahu siapa Gromovich, psikiater ternama di kota ini. Hanya orang tertentu, yang telah mengalami depresi berat yang akan ia hadapi. Namun…atas saran kakaknya biar kucoba saja.

Kudatangi Gromovich, ah…dia seramah kakaknya. memperlakukan saya dengan baik. Ada suasana manis tercipta ketika dia menatapku, namun..rasa khawatir pun terlukis. aku disuruh mengisi lembar-lembar soal. dan kuselesaikan secepat mungkin. Sambil mengamati lembar jawaban itu, Gromovich menatapku lekat sekali, mengamatiku.

” Ah…Tuan normal!!!”

Aku pulang. Hari telah senja. Biasanya di sudut jalan ini Ismailovcih telah duduk menungguku. Ismailovich teman baik yang baru kukenal beberapa minggu saja. Wajahnya tampan bukan main, telah beristri dan memiliki dua orang putri. Orang-orang lalu lalang. pertengahan April musim semi kali ini menyisakan rasa hangat berlebihan di sudut kota. Orang-orang terhibur dengan langit cerah sore yang melukiskan lempengan emas pada jalan dan gedung-gedung pencakar langit.

” Bagaimana ?”

” Aku normal!” Kataku. sambil duduk di sampingnya.

” Kau temui saja Ibrahimovich!” Gumamnya. ” kau mengenalnya?”

Aku menggeleng.

” Dia lelaki pincang veteran perang. Menurut orang-orang dia sangar dan bengis… dia..sebenarnya biasa berjalan di pagi hari di jalan itu, dekat jembatan dengan langkah tertatih-tatih. Biar kau kuantar nanti malam menemuinya. Mau?”

” Oke lah…demi kesembuhan penyakit gilaku ini!”

” Ah…orang-orang mulai pada bosan rupanya dengan pepohonan simpres itu! pada mulanya memang, orang -orang sangat antusias dengan suasana semi, sekarang..memasuki pertengahannya banyak orang mengomel..Huuhh bosan, huuhh….debu..huuuh polusi..hahahah!” Ismailovich temanku tertawa kering dan renyah.

###

Malamnya, kami melangkah menuju kediaman Ibrahimovich. Halaman rumah diterangi lampu berukuran kecil, pagar dari kayu dilabur putih, sebuah pohon besar berdiri tepat di samping sebuah ayunan kecil, rumput kecil dan halus melantai di halaman. Kami melangkah pasti, walau gamang.

” assalamualaikum!” kata Ismailovich.

Dari dalam rumah terdengar irama langkah. Tuk..tuk..tuk! Pintu terbuka setengah, dari mulut pintu keluar.. masya allah moncong senapan mesin mengancam kepala temanku. Namun, Ismailovich mengerti betul, dengan telapak tangannya dipegang moncong senapan mesin itu.

” Ahaa..kau kawanku!” Teriak Ismailovich. Dia menarik daun  pintu. Kemudian terlihatlah dengan jelas wajah berewok, sedikit menakutkan. Ismailovich seperti terbiasa dengan wajah itu, akrab betul.

” Wa alaikum salam! Masuk!” Katanya Berat. Langkahnya tertatih. Aku melihat gerak-geriknya.

” Ah,,kawan lama ini begitu ramah..semakin ramah malah!” Ismailovich tetap menyebutnya sebagai teman. ” Biar kukatakan maksud kedatangan kami, ini..temanku!”

Ibrahimovich duduk menatap kami, melempar senapan mesinnya ke kursi lain. Empat jari tangan kanannya melambai.

” kau ceritakan penyakit gilamu itu,cepat!”  Bisik Ismailovich kepadaku.

Setelah dipersilahkan oleh si empunya rumah, kami duduk dan aku mulai bercerita. Dia lelaki pincang itu mengerti jalan pikiranku.

” Sudah..sudah…!” Katanya tiba-tiba, parau dan berat..” Biar kuawali ceritamu itu….!”

Dia pun bercerita:

Langit Langit Sarajevo hitam, kelam. lampu-lampu sepanjang jalan mati, tepatnya dibiarkan mati begitu saja, ada jam malam. Sejak perang terjadi, suasana Kota di malam hari selalu terlihat lebih menakutkan. Gelap malam mengatup terpaksa, pepohonan semakin dingin dan memperlihatkan rasa gelisah. Tiba-tiba, suasana bisa pecah dengan letupan bom atau rentetan senapan mesin. Dalam suasana perang langit pun bisa pecah berantakan seketika. satu jam yang lalu anak ada dalam gendongan ibunya, lima detik kemudian, anak itu bisa terkapar di jalanan dengan batok kepala pecah berantakan. Serpihan usus bisa keluar paksa dari perutnya.

Di Utara Sarajevo, sepasukan tentara Serbia dipimpin oleh Satankovich siap memasuki Sarajevo dan mengulangi kekejian yang mereka lakukan siang tadi.

” Panggil Gurovovich, si kapten gila itu!” Teriak Satankovich.

Gurovovich, kapten gila, siang tadi telah membunuh sepuluh anak Bosnia.

” Ayo maju!!!” Teriak Satankovich.

Sepasukan tentara berbaret hijau itu memasuki Sarajevo. Sebentara lagi akan ada pesta darah muncrat membasahi dinding-dinding. Kota semakin larut dalam suasana mencekap. Dan lima belas menit kemudian terdengar rentetan senjata berulang-ulang tanpa akhir.

” Hahaha….dobrak pintu itu!”

Dua jam kemudian, para wanita dikumpulkan tua muda anak-anak diseret-seret secara paksa.

” Pisahkan mereka!” Seru Gurovovich.

Anak-anak dipisahkan, ada tiga puluh orang lebih. Gurovovich ambil bagian, dan menyikat anak-anak itu dengan berondongan senjatanya. Darah membasahi dinding.

” Berikan wanita cantik itu kepadaku…!” Teriak Gurovovich.

Seorang wanita berjilbab ditarik oleh seorang tentara. Gurov menjamak jilbabnya hingga keluar. Wanita bernama Salma Kosamovich itu berteriak histeris, sambil mengacungkan tinjunya, meronta, dia menampar pipi Gurov.

” keparatt!!!” Teriak Gurov sambil memukulkan ujung senjata tepat di kening Salma! hingga wanita mulia itu terkapar di jalanan. ” Seret ke tengah jalan perempuan-perempuan murahan ini!” para perempuan tua dan muda di seret ke tengah jalan kemudian…digilas dengan thank baja tanpa ampun. Bemeretak tulang patah terdengar! Lalu suara tawa terbahak keluar dari mulut para tentara itu diiringi genderang setan bertalu-talu.

Di sebuah sudut, tiga orang pemuda, Ibrahimovich, Azra, dan Kozaric tersedak, sambil melelehkan air mata.

” Salma….!” Bisik Ibrahimovich lelaki berwajah tampan itu, dari sudut matanya tak kuasa membendung air mata.

Kozaric ,seorang penembak jitu. Dia membidik Gurov yang masih gila dengan kemenangan sikap pengecutnya.  Satu menit kemudian, tubuh pongah itu ambruk, kepala bolong tepat di dekat telinganya! Sepasukan Serbia pun membabi buta, menembakkan senapan ke arah tembakan yang telah menghentikan kepongahan kapten gila Gurovovic.

Tiga orang pemuda itu lari sekencang mungkin.

” ah…aku kena!” Kata Ibrahimovic, cara jalannya tertatih.

” Biar kau kugendong!”

Mereka pun menyusuru lorong penguk, memasuki jembatan, dan duduk di sana hingga pagi menjelang.

Pagi hari, Sarajevo menangis. Asap mengepul meramaikan angkasa. Tiga pemuda keluar dari kolong jembatan, menatap angkasa Sarajevo. Beberapa wartawan BBC, CNN dan media massa lainnya ramai pagi itu, mencatat angkasa Sarajevo, tapi mereka lupa mencatat peristiwa tadi malam, bahwa beberapa anak dan wanita muslim Bosnia telah dibantai dengan keji oleh tentara Serbia.

Pasukan perdamaian PBB pun merangksek memasuki Sarajevo, dan mereka terlambat…memang terlambat…

Ibrahimovic dipapah oleh ke dua temannya. Ia menggigit bibirnya. sambil mengucapkan kata ..” maafkan aku Salma….!”

Mereka berjalan menjauhi kota enta ke mana. Karena dalam suasana perang. langit adalah moncong senapan yang kapan saja bisa meletus dan membobol kepala mereka.

###

Di atas sebuah gedung, aku berdiri, mengintip jalanan melalui kaca jendela. Jembatan itu terlihat kering. Seseorang berdiri sepagi itu di atas jembatan, kakinya pincang, dari sini bisa kulihat betapa gagah dan beraninya orang itu, dia…Ibrahimovic.

Dan di malam hari…suara-suara aneh itu hilang begitu saja. Kami bisa makan malam dengan tenang. Istriku tidak khawatir lagi terhadap diriku.

” Sykurlah sekarang kau telah sembuh…!” Bisiknya lirih.

Dalam tidur aku mencium aroma wangi mencekik nafas. Biadadari berbaju putih tersenyum menatap seorang lelaki gagah dan tampan yang sedang berdiri di atas jembatan sambil menggendong seorang anak, tersenyum. Dan suasana seperti ini, ingin kurasakan…

Kota Pelabuhan 2007

Untuk para pejuang Muslim Bosnia….di alam sana…!

01
Mar
07

Cerpen: Wanita Berbaju Biru Laut

Menurut penuturan Erik, adikku, konon di Kota Pelabuhan yang selalu ramai ini muncul sosok wanita berbaju biru laut. Kata orang-orang, dikuatkan oleh ucapan adikku, wanita itu cantik bukan main. Pagi sekali ketika matahari baru saja naik setombak dia telah berdiri di pinggir dermaga sambil mengisap rokok Marlboro soft. Di kepalanya mengenakan topi merah jambu. Ia bisa betah berdiri di pinggir dermaga sampai satu jam lebih, dan menghabiskan lima batang rokok tanpa henti, susul menyusul, kata orang sich, cara merokoknya seperti kereta api, tidak dihisap ke dalam paru-paru melainkan di kulum saja dalam mulutnya kemudian disemburkan ke depan.

Biar kupastikan penuturan adik dan orang-orang itu. Ini hari Sabtu. Pagi-pagi jalan sudah basah, musim hujan bukan main kerasnya di negeri ini. Tempat kami bekerja benar-benar merasakan akibat dari derasnya hujan semalam. Halaman depan perusahaan tergenangi oleh air sampai tumit. Bukan karena penataan sanitasi yang kurang baik kecuali karena hujan yang turun semalam ibarat air bah yang tumpah dari langit, lima jam non-stop!

Aku menyusuru jalanan basah di antara kerumunan orang-orang. Rata-rata wajah orang-orang memperlihatkan perasaan basah, dingin mencucuk, badan dibalut oleh mantel tebal, cara jalan cepat saling susul bisa jadi untuk mengusir rasa dingin. Di pinggir beberapa toko, orang-orang terutama para lanjut usia duduk-duduk ,mengobrol cas-cis-cus menggunakan bahasa mereka, membaca koran buku dan majalah. Pemandangan seperti ini aku lihat sejak pertama kuinjakkan kaki di Kota Pelabuhan ini. Dermaga ramai, kabut tipis memburamkan laut lepas, hampir saja kami tidak bisa melihat beberapa kapal yang berada di lautan hingga 3 km. Aku mencari-cari, di mana kira-kira wanita berbaju biru laut itu berdiri, kata adik sich, biasanya di pinggir dermaga sebelah utara dekat kursi panjang sambil menghdapa laut.

Seorang wanita, di pinggir dermaga sebelah utara sesuai dengan penuturan adik, berdiri anggun menghadap laut dengan rokok terselip di bibirnya. Tidak jelas apa dia memakai baju biru laut atau tidak karena tubuhnya dilapisi juga dengan mantel sampai lututnya, di lehernya melingkar syal, mungkin yang aku kenali adalah topi merah jambunya, menutup atas kepalanya menantangku untuk menghampirinya. Ya, ku dekati wanita itu.

Aku berdiri di sampingnya. Tangannya memegang satu bungkus rokok, dengan lirikan mataku bisa kulihat jelas, Marlboro Soft merah. Kurogoh saku celana, mengeluarkan satu bungkus rokok, Saleem berwarna hijau muda, aroma menthol, kunyalakan, kuhirup dalam-dalam ,kusemburkan lagi keluar, asap tertiup angin. Wanita itu melirik juga akhirnya.

” Suka rokok menthol, ya?” Tanyanya , menyelidikku.

” Jarang..” Gumamku ,masih menatap laut yang terbalut kebut agak tebal. ” Ini pemberian adikku.. Kebetulan aku baru seminggu di Kota Pelabuhan ini, belum punya uang untuk membeli sebungkus rokok sekalipun!”

” Hahahaha…!” Dia tertawa, kunikmati cara tawanya. Barisan giginya rapi putih, nyaris sempurna, ” mau coba ini!” Ia manawarkan rokoknya.

” Ini memang rokok kesukaanku, ” kuambil satu batang, kusambung rokok Saleem Menthol dengan Marlboro soft merah. ” Ngomong-ngomong, sudah lama tinggal di Kota Pelabuhan ini..”

” Baru dua hari saja aku sudah betah tinggal di sini.” Ia menarik nafas dalam. ” Aku mampir saja, mungkin akan seminggu tinggal di sini, ambil cuti.”

” Orang bilang di Kota Pelabuhan ini banyak tantangannya, selain cuaca yang ganas juga persaingan..”

” Yup, nikmati saja. Aku sudah empat tahun bekerja di negeri ini. Ini kali terakhir aku bekerja. Bisa jadi. Minggu depan aku pulang kampung. Ya, beginilah dunia rantau…!” Dila melirik ke arahku. ” Kau baru seminggu?”

” Ya!”

” Huhh..bukan main dinginnya pagi ini. Biar kau kutraktir minum teh hangat, mau coba teh ginseng hangat!?” Tawarnya.

Demi mendengar tawaran bijak itu aku menggoyangkan kepala sambil sedikit mencibir, tanda setuju.

Kami berjalan berdampingan menuju kedai penjual minuman hangat. Sesuai dengan kata wanita itu, pemiliknya adalah Chou Bun, lelaki gempal dengan kepribadian menarik, tidak angkuh, mudah bergaul, tak heran jika kedai minumannya selalu dikerubuti oleh para pengunjung terutama para lanjut usia.

Dua cangkir teh ginseng hangat telah hadir di hadapan kami. Tanpa rasa sungkan dia langsung menyeruputnya. Matanya terpejam. Aku mengikuti cara dia menyeruput teh ginseng hangat , lha dalah….kira saya enak dan manis, rasanya hambar ada aroma ginseng menyengat. Wajahku berubah.

” Hahaha…..baru kali ini ya?” Teriaknya, ” ini ginseng asli, diimpor dari Korea. Bisa mengembalikan stamina tubuh…percayalah, memang demikian halnya ,kok!”

Dari percakapan yang kami lakukan, bisa ditarik kesimpulan. Wanita itu bernama Alvitonasari, bekerja di sebuah bar yang letaknya tidak jauh dari Kota Pelabuhan ini. Keyakinanku semakin bertambah ketika dia membuka mantel tebalnya, baju berwarna biru laut! Hmm memang wanita berbaju biru laut. Dan kami berbincang hingga posisi matahari tepat di atas kepala, ketika kabut telah pergi.

###

 

” Ke mana saja, kau ini ah!?” Tanya adikku, Erik. Kulihat nada bicaranya tinggi. Ada rasa sedih yang berusaha dia tahan, mampu kurasakan.

 

” Aku baru saja berbincang dengan wanita berbaju biru laut itu!” Kubuka mantel, kulemparkan ke atas kursi, kubaringkan tubuhku di atas ranjang.

 

Erik menghampiriku. Duduk di sebelahku. Diam bergeming tanpa kata.

 

” Ada apa, heyy!?” Tanyaku sambil bangkit.

 

Erik menatapku tajam, aku pun balas menatapnya. wajahnya memang hampir mirip denganku, bedanya terletak pada rambut saja, aku sedikit ikal dia lurus.

 

” Nenek meninggal dunia, Bang!” Katanya.

 

Aku tertegun demi mendengar itu.

 

” Kau telfon ayah, bang!” Katanya sambil memberikan hand-phone.

 

Kuhubungi ayah. Ya…dengan nada berat ayah memberitakan, nenek yang selama ini paling kusayang meninggal dunia kemarin malam. Ayah berusaha meyakinkanku agar tetap melanjutkan kerja, jangan terganggu dengan berita ini. Ya, harus apa lagi!

 

” Aku akan pulang dulu, kebetulan kapten Hendra memberiku izin cuti, lusa aku dan Kapten akan ke Batam!” Kata Erik. ” Kau tak perlu khawatir ,Bang. Gajian memang tiga minggu lagi, tapi..teman-teman Kapten Hendra baik-baik, kok!” Katanya sambil diakhiri dengan memegang pundakku.

 

Sorenya ,kembali aku ke dermaga. Wanita berbaju biru  laut telah duduk di pinggir dermaga sambil menelan suasana. Mendung telah pekat, awan berat, bisa jadi hujan akan segera turun.

 

” Heyy..kau lagi!” Teriaknya sambil melambai.

 

Aku hanya mengangkat bahu.

 

” Lusa, adikku akan ke Batam, sekalian saja ikut dengannya!” Kata ku mengimbangi debur ombak.

 

” O ya?!” Teriaknya kembali , ombak menderu keras hampir menutup nada-nada rintihan. ” It s great! Okelah..aku akan menumpang pulang!”

 

Hujan mulai turun. Kami berlari sambil saling memegang menuju kedai minuman hangat Chou Bun. Kembali kunikmati dengan rasa sedih teh ginseng hangat Korea. meninggalnya nenek kuceritakan juga kepada wanita itu. Rupanya, dia pun ikut larut bersama kesedihanku meski ada bahagia yang tercipta di wajahnya.

 

Lusa, sesuai dengan rencana. Erik pulang bersama Kapten Hendra. Wanita berbaju biru laut pun ikut bersama mereka. Di geladak atas kapal Erik bersama wanita berbaju biru laut itu berdiri mengarah kepadaku, sambil melambaikan tangan. asap rokok tersembur dari mulut wanita itu. Ia terlihat sangat bahagia, akan kembali ke kampung halamannya yang sudah empat tahun ia tinggalkan.

 

Pinggir dermaga semakin ramai, suhu mulai naik. Aku tetap berdiri menatap laut. Malam nanti aku harus kembali bekerja , entah sampai kapan!?

 

Kota Pelabuhan, 2007

 

 




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,567 hits

 

Maret 2007
M S S R K J S
« Feb   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Klik Tertinggi

  • Tidak ada

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay