Tanah Merah tahun 1889….
Berita tentang tertangkapnya seorang buronan bernama Mustafa oleh para serdadu pemerintah kolonial Belanda telah terdengar ke mana-mana, ke pelosok-pelososk. Maka, berduyun-duyunlah orang0orang, tua-muda-kecil, laki-perempuan, untuk melihat dan menyaksikan secara langsung wajah dan pelaksanaan eksekusi hukuman mati atas dirinya. Karena sudah sepuluh tahun lamanya mereka mendengar tentang seorang bernama Mustafa tanpa sedikitpun tahu wajah dan sosoknya.
Orang-orang sudah berjajar sepanjang jalan Tanah Merah. Ramai antara kelas 1, 2. dan 3. Para sinyo dan noni serta meneer mengenakan pakaian rapi-rapi, juga bagus-bagus semakin menambah paras kebangsawanan mereka, wajah mereka tampak puas. Babah dan encik pun ada, seringai bahagia tersembul dari bibir mereka. Pucat pasi, kusam, dekil, dan gurat ketertindasan ditampilkan oleh wajah para pribumi, anak kecil mereka bertelanjang dada memperlihatkan dada yang bergelombang dengan tulang iga, perut buncit. Ibu-ibu dari mereka mengenakan kain penutup kepala lepek, butut, juga bau apek. Potret bumi putera terlihat buram.
Kemudian, mereka, orang-orang itu tertunduk, apalagi para pribumi kelas 3 berlutut dengan rendah ketika sepasukan serdadu kolonial lewat di hadapan mereka. Sepasukan serdadu itu dipimpin oleh Jendral Van Hansen. Siapa yang tak kenal sang Jendral, seorang panglima perang bengis, sok, angkuh, dan sifat-sifat itu menjadi padu dalam tingkahnya.
Di belakang sepasukan serdadu itu terlihat sosok manusia diseret secara paksa untuk berjalan menuju panggung eksekusi. Sosok itu adalah Mustafa. Kaki dan tangannya diikat dengan rantai besar. Ketika itu mendung baru saja menggelayut di atas sana. Hari menjadi teduh, semakin kurang jelaslah wajah Mustafa, wajahnya terhalangi oleh rambut panjang mengeerai. Tak terdengar erang kesakitan keluar dari mulutnya meskipun deraan cambuk susul menyusul bergantian. Ada percikan darah keluar dari hidung dan sudut bibirnya, jatuh di atas hamparan Tanah Merah.
Tatkala tubuh Mustafa lewat di hadapan mereka, mendung semakin menggelayut membentuk payung hitam. Lalu ada angin bertiup agak kencang membuyarkan gerai rambut panjang Mustafa sampai wajahnya tersingkap agak jelas. Sekilas saja, mereka bisa melihat wajah itu, meski agak samar. ada kehalusan terpancar darinya, wajah itu tampan dan tampak sejuk, berkelebatan dengan sinar cerlang, hingga orang-orang tidak terkesip menatapnya. Bahkan beberapa dari mereka ingin melihat lebih jelas wajah yang telah berlumur dengan darah yang mulai mengering itu. Tatkala Musatafa lewat di hadapan mereka.
Mustafa sudah berada di atas panggung eksekusi. Sebentara lagi orang-orang akan melihat kembali pementasan drama kematian yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, jika tidak ditembak, pasti digantung, dipancung, atau diseret tubuhnya dengan kuda memutari panggung eksekusi hingga ajal menjemput. Entah sudah berapa ratus kali pementasan drama kematian itu dilakukan di sana, yang jelas dua kali dalam seminggu bisa terjadi. Hanya saja, pementasan drama kematian kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Ada banjir manusia yang tumpah-ruah di atas hamparan Tanah Merah.
Seorang opsir meniiup terompet, tanda pelaksanaan eksekusi akan segera dimulai. Kemudian Jendral Van Hansen maju ke depan. angkuh!
” Perhatian!!! Eksekusi terhadap buronan Mustafa akan segera dimulai. Perhatian!!! Siapa saja yang berani menentang apalagi menantang pemerintah kompeni akan dihukum di atas panggung ini! ” Ia mendengus kasar. ” Well…Mustafa, apa ada pesan terakhir yang akan ye katakan batraff!”
Kumpulan orang-orang terlihat tegang ketika Mustafa menengadahkan wajahnya, menatap mereka satu persatu. Kesunyian menyeruak.
” Kompeni perampok kekayaan tanah air kita, kawan-kawan!!!” Katanya singkat.
” Oooooo….!” Disusul oleh suara riuh i orang-orang atas perkataan itu.
” Sungguh berani…..”
” Ya, sangat berani….!”
” Tak ada rasa takut dan gentar sedikit pun!”
” Ya, tak ada rasa takut terpancar dalam dirinya…!”
” Pantas saja ditakuti oleh kompeni!”
” Ya…dia memang seorang pemberani!”
Kemudian, Mustafa digantung, disaksikan oleh orang-orang.
Tubuh Mustafa terkulai, wajahnya tertunduk terbalut pakaian lusuh dengan tetesan darah yang mulai mengering. Tangannya mengepal kuat, menandakan ekspresi kemerdekaan. Dan..dia telah merdeka.
Sejauh ini, pemerintah kolonial begitu dibuat kalang-kabut oleh Mustafa. Beribu-ribu Gulden mereka keluarkan untuk mendanai penangkapan atas dirinya. Sudah lima kali panglima perang diganti karena ketidak becusan mereka dalam menangkap buronan licin itu.
Suhu, secara perlahan turun sore itu. Angin masih berhembus kencang. Sedikit mencekam. Kemudian tidak berapa lama, hujan turun perlahan, mula-mula rintik kemudian semakin menderas ibarat peluru yang dimuntahakan oleh moncong senapan. Seketika saja air mampu menggenangi pelataran Tanah Merah. Air keruh kecoklatan mengelilingi panggung eksekusi, tubuh kaku Mustafa tergelantung, bergerak perlahan-lahan tertiup angin dan tertubruk rentetan hujan. Hari pun semakin gelap. ledakan halilintar menggema, ketika tubuh kaku Mustafa masih tergantung di tiang gantungan.
###
Berita tentang kematian Mustafa di tiang gantungan ramai dibicarakan oleh orang-orang. Di kedai, di pasar, dan di jalanan, bahkan di gedung-gedung pemerintah. Berbagai nada terdengar, ada rasa puas, bangga, sedih, sesal, dan sayang.
” Biar dibikin mampus buronan itu!” Kata salah seorang di antara teman-temannya, para saudagar itu.
” Ya…kita sudah merasa bosan main petak umpet dengan si buronan itu. Syukurlah sekarang dia sudah mampus!”
” Aku masih ingat ketika dihampiri olehnya. Dengan keberaniannya, dia menghajar centeng andalanku satu persatu. Mat Doper saja di buatnya lumpuh layu. Tiba-tiba tangan kekar itu menjamak leherku, peristiwanya begitu cepat….dia berkata ya..ya..lebih tepatnya berbisik..’ serahkan uang hasil penjualan kopi, tuan!’….yang jelas ketika ditatap olehnya..tubuhku menjadi kaku layu seperti kapas disiram air!” Lanjut yang lainnya…
” Mari kita rayakan kemenangan ini!”
Gelagak tawa pun membuyar di kedai tuak itu.
Di pasar, orang-orang membicarakan Mustafa juga.
” Dia memang seorang pemberani…” Bisik salah seorang, di antara para penjual sayuran itu.
” Sttt…hati-hati kalau berbicara jangan sampai ucapanmu sampai di telinga para serdadu kolonial. Mau cari mampus kamu!?”
” Ah..dia memang seorang pemberani, kan?”
” Benar aku juga setuju, hanya dia yang berani!” Sambung teman di sampingnya.
” Sayang sekali, si pemberani itu kini telah meninggalkan kita.”
” Sttt…ada sepasukan serdadu kolonial lewat!”
Lalu bisik-bisik pun terhenti.
Tiba-tiba di atas jalan Tanah Merah itu seseorang berlari kencang sambil berteriak.
” Mustafa seorang pemberani!”
Dan , tanpa menunggu perintah dari siapa pun, beberapa serdadu kolonial menarik pelatuk senapan. Suara letusan menggelegar berbarengan dengan bocornya tubuh lelaki jembel itu. dia jatuh tertelungkup, darah segar menggenangi tanah, semakin merah! Mayatnya dibiarkan tergeletak begitu saja. Tak ada yang berani menyentuhnya.
” Lihat! Jangan ngomong seenaknya jika tidak mau mampus!”
###
Sudah dua hari tubuh Mustafa menggantung di tiang gantungan.
Malam merayap begitu cepat. Langit kelam seperti kubah raksasa yang memayungi pelataran bumi Tuhan. Angin bertiup kencang sekali, tarian pohon meliuk-liuk.
Seorang pengembara bercaping berjalan dengan tegap menghampiri tubuh Mustafa. Gelapnya malam tidak mengurungkan niatnya, si pengembara itu menurunkan tubuh kaku Mustafa, kemudian memanggulnya, membawanya ke satu tempat.
Di tempat yang ditumbuhi ilalang panjang, si pengembara bercaping itu menyolatkan Mustafa, lalu menguburnya, dan berbisik rintih.
” Selamat jalan Pahlawan, entah kapan akan muncul kembali seorang pemberani seperti dirimu di Tanah Merah ini!?”
Lalu, pengembara bercaping pun meninggalkan tempat itu. Pergi entah ke mana.
###
Berita tentang hilangnya mayat Mustafa di tiang gantungan ramai dibicarakan orang. Semua hanya menerka-nerka saja, ke mana mayat itu? Tak ada yang tahu pasti. Meskipun tidak ada yang penting dari hilangnya mayat itu, namun pemerintah kolonial kembali memasang dan menyebar selebaran yang isinya:
DICARI
PENCURI MAYAT BURONAN MUSTAFA
HIDUP ATAU MATI
20,000 GULDEN
Tulisan itu menutupi tulisan:
DICARI
BURONAN MUSTAFA
HIDUP ATAU MATI
100,000 GULDEN
Ketika mayat Mustafa hilang awan kelam semakin menggelayut tebah hitam, seperti payung dukacita meramaikan angkasa. Angin berhenbus semakin kencang.
Seorang pengembara bercaping meninggalkan Tanah Merah, Pergi entah ke mana.
Di kamarnya, Wihelmina Rijkard tersedu, menangis teriris.
” Maafkan eik Mustafa!” Air mata keluar saling susul meramaikan pipi putih mulusnya. Besok adalah perbikahan dirnya dengan Jendral Van Hansen, gebitulah janji Van Rijkard, siapa yang mampu menangkap Mustafa akan dinikahkan dengan putrinya, Wihelmina!
Sementara, di luar jendela, matahari mulai tenggelam. Tanah Merah beringsrut sepi…..
Sukabumi, Februari 2007
Untuk para pahlawan!





Komentar