Arsip untuk Februari, 2007

18
Feb
07

Cerpen: Terbenam Matahari di Tanah Merah

Tanah Merah tahun 1889….

Berita tentang tertangkapnya seorang buronan bernama Mustafa oleh para serdadu pemerintah kolonial Belanda telah terdengar ke mana-mana, ke pelosok-pelososk. Maka, berduyun-duyunlah orang0orang, tua-muda-kecil, laki-perempuan, untuk melihat  dan menyaksikan secara langsung wajah dan pelaksanaan eksekusi hukuman mati atas dirinya. Karena sudah sepuluh tahun lamanya mereka mendengar tentang seorang bernama Mustafa tanpa sedikitpun tahu wajah dan sosoknya.

Orang-orang sudah berjajar sepanjang jalan Tanah Merah. Ramai antara kelas 1, 2. dan 3. Para sinyo dan noni serta meneer  mengenakan pakaian rapi-rapi, juga bagus-bagus semakin menambah paras kebangsawanan mereka, wajah mereka tampak puas. Babah dan encik pun ada, seringai bahagia tersembul dari bibir mereka. Pucat pasi, kusam, dekil, dan gurat ketertindasan ditampilkan oleh wajah para pribumi, anak kecil mereka bertelanjang dada memperlihatkan dada yang bergelombang dengan tulang iga, perut buncit. Ibu-ibu dari mereka mengenakan kain penutup kepala lepek, butut, juga bau apek. Potret bumi putera terlihat buram.

Kemudian, mereka, orang-orang itu tertunduk, apalagi para pribumi kelas 3 berlutut dengan rendah  ketika sepasukan serdadu kolonial lewat di hadapan mereka. Sepasukan serdadu itu dipimpin oleh Jendral Van Hansen. Siapa yang tak kenal sang Jendral, seorang panglima perang bengis, sok, angkuh, dan sifat-sifat itu menjadi padu dalam tingkahnya.

Di belakang sepasukan serdadu itu terlihat sosok manusia diseret secara paksa untuk berjalan menuju panggung eksekusi. Sosok itu adalah Mustafa. Kaki dan tangannya diikat dengan rantai besar. Ketika itu mendung baru saja menggelayut di atas sana. Hari menjadi teduh, semakin kurang jelaslah wajah Mustafa, wajahnya terhalangi oleh rambut panjang mengeerai. Tak terdengar erang  kesakitan keluar dari mulutnya meskipun deraan cambuk susul menyusul bergantian. Ada percikan darah keluar dari hidung dan sudut bibirnya, jatuh di atas hamparan Tanah Merah.

Tatkala tubuh Mustafa lewat di hadapan mereka, mendung semakin menggelayut membentuk payung hitam. Lalu ada angin bertiup agak kencang membuyarkan gerai rambut panjang Mustafa sampai wajahnya tersingkap agak jelas. Sekilas saja, mereka bisa melihat wajah itu, meski agak samar. ada kehalusan terpancar darinya, wajah itu tampan dan tampak sejuk, berkelebatan dengan sinar cerlang, hingga orang-orang tidak terkesip menatapnya. Bahkan beberapa dari mereka ingin melihat lebih jelas wajah  yang telah berlumur dengan darah yang mulai mengering itu. Tatkala Musatafa lewat di hadapan mereka.

Mustafa sudah berada di atas panggung eksekusi. Sebentara lagi orang-orang akan melihat kembali pementasan drama kematian yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, jika tidak ditembak, pasti digantung, dipancung, atau diseret tubuhnya dengan kuda memutari panggung eksekusi hingga ajal menjemput. Entah sudah berapa ratus kali pementasan drama kematian itu dilakukan di sana, yang jelas dua kali dalam seminggu bisa terjadi. Hanya saja, pementasan drama kematian kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Ada banjir manusia yang tumpah-ruah di atas hamparan Tanah Merah.

Seorang opsir meniiup terompet, tanda pelaksanaan eksekusi akan segera dimulai. Kemudian Jendral Van Hansen maju ke depan. angkuh!

” Perhatian!!! Eksekusi terhadap buronan Mustafa akan segera dimulai. Perhatian!!! Siapa saja yang berani menentang apalagi menantang pemerintah kompeni akan dihukum di atas panggung ini! ” Ia mendengus kasar. ” Well…Mustafa, apa ada pesan terakhir yang akan ye katakan batraff!”

Kumpulan orang-orang terlihat tegang ketika Mustafa menengadahkan wajahnya, menatap mereka satu persatu. Kesunyian menyeruak.

” Kompeni perampok kekayaan tanah air kita, kawan-kawan!!!” Katanya singkat.

” Oooooo….!” Disusul oleh suara riuh i orang-orang atas perkataan itu.

” Sungguh berani…..”

” Ya, sangat berani….!”

” Tak ada rasa takut dan gentar sedikit pun!”

” Ya, tak ada rasa takut terpancar dalam dirinya…!”

” Pantas saja ditakuti oleh kompeni!”

” Ya…dia memang seorang pemberani!”

Kemudian, Mustafa digantung, disaksikan oleh orang-orang.

Tubuh Mustafa terkulai, wajahnya tertunduk terbalut pakaian lusuh dengan tetesan darah yang mulai mengering. Tangannya mengepal kuat, menandakan ekspresi kemerdekaan. Dan..dia telah merdeka.

Sejauh ini, pemerintah kolonial begitu dibuat kalang-kabut oleh Mustafa. Beribu-ribu Gulden mereka keluarkan untuk mendanai penangkapan atas dirinya. Sudah lima kali panglima perang diganti karena ketidak becusan mereka dalam menangkap buronan licin itu.

Suhu, secara perlahan turun sore itu. Angin masih berhembus kencang. Sedikit mencekam. Kemudian tidak  berapa lama, hujan turun perlahan, mula-mula rintik kemudian semakin menderas ibarat peluru yang dimuntahakan  oleh moncong senapan. Seketika saja air mampu menggenangi pelataran Tanah Merah. Air keruh kecoklatan mengelilingi panggung eksekusi, tubuh kaku Mustafa tergelantung, bergerak perlahan-lahan tertiup angin dan tertubruk rentetan hujan. Hari pun semakin gelap. ledakan halilintar menggema, ketika tubuh kaku Mustafa masih tergantung di tiang gantungan.

###

 

Berita tentang kematian Mustafa di tiang gantungan ramai dibicarakan oleh orang-orang. Di kedai, di pasar, dan di jalanan, bahkan di gedung-gedung pemerintah. Berbagai nada terdengar, ada rasa puas, bangga, sedih, sesal, dan sayang.

 

” Biar dibikin mampus buronan itu!” Kata salah seorang di antara teman-temannya, para saudagar itu.

 

” Ya…kita sudah merasa bosan main petak umpet dengan si buronan itu. Syukurlah sekarang dia sudah mampus!”

 

” Aku masih ingat ketika dihampiri olehnya. Dengan keberaniannya, dia menghajar centeng andalanku satu persatu. Mat Doper saja di buatnya lumpuh layu. Tiba-tiba tangan kekar itu menjamak leherku, peristiwanya begitu cepat….dia berkata ya..ya..lebih tepatnya berbisik..’ serahkan uang hasil penjualan kopi, tuan!’….yang jelas ketika ditatap olehnya..tubuhku menjadi kaku layu seperti kapas disiram air!” Lanjut yang lainnya…

 

” Mari kita rayakan kemenangan ini!”

 

Gelagak tawa pun membuyar di kedai tuak itu.

 

Di pasar, orang-orang membicarakan Mustafa juga.

 

” Dia memang seorang pemberani…” Bisik salah seorang, di antara para penjual sayuran itu.

 

” Sttt…hati-hati kalau berbicara jangan sampai ucapanmu sampai di telinga para serdadu kolonial. Mau cari mampus kamu!?”

 

” Ah..dia memang seorang pemberani, kan?”

 

” Benar aku juga setuju, hanya dia yang berani!” Sambung teman di sampingnya.

 

” Sayang sekali, si pemberani itu kini telah meninggalkan kita.”

 

” Sttt…ada sepasukan serdadu kolonial lewat!”

 

Lalu bisik-bisik pun terhenti.

 

Tiba-tiba di atas jalan Tanah Merah itu seseorang berlari kencang sambil berteriak.

 

” Mustafa seorang pemberani!”

 

Dan , tanpa menunggu perintah dari siapa pun, beberapa serdadu kolonial menarik pelatuk senapan. Suara letusan menggelegar berbarengan dengan bocornya tubuh lelaki jembel itu. dia jatuh tertelungkup, darah segar menggenangi tanah, semakin merah! Mayatnya dibiarkan tergeletak begitu saja. Tak ada yang berani menyentuhnya.

 

” Lihat! Jangan ngomong seenaknya jika tidak mau mampus!”

 

###

 

Sudah dua hari tubuh Mustafa menggantung di tiang gantungan.

 

Malam merayap begitu cepat. Langit kelam seperti kubah raksasa yang memayungi pelataran bumi Tuhan. Angin bertiup kencang sekali, tarian pohon meliuk-liuk.

 

Seorang pengembara bercaping berjalan dengan tegap menghampiri tubuh Mustafa. Gelapnya malam tidak mengurungkan niatnya, si pengembara itu menurunkan tubuh kaku Mustafa, kemudian memanggulnya, membawanya ke satu tempat.

 

Di tempat yang ditumbuhi ilalang panjang, si pengembara bercaping itu menyolatkan Mustafa, lalu menguburnya, dan berbisik rintih.

 

” Selamat jalan Pahlawan, entah kapan akan muncul kembali seorang pemberani seperti dirimu di Tanah Merah ini!?”

 

Lalu, pengembara bercaping pun meninggalkan tempat itu. Pergi entah ke mana.

 

###

 

Berita tentang hilangnya mayat Mustafa di tiang gantungan ramai dibicarakan orang. Semua hanya menerka-nerka saja, ke mana mayat itu? Tak ada yang tahu pasti. Meskipun tidak ada yang penting dari hilangnya mayat itu, namun pemerintah kolonial kembali memasang dan menyebar selebaran  yang isinya:

 

DICARI
PENCURI  MAYAT BURONAN MUSTAFA

HIDUP ATAU MATI

20,000 GULDEN

 

Tulisan itu menutupi tulisan:

 

DICARI

BURONAN MUSTAFA

HIDUP ATAU MATI

100,000 GULDEN

 

Ketika mayat Mustafa hilang awan kelam semakin menggelayut tebah hitam, seperti payung dukacita meramaikan angkasa. Angin berhenbus semakin kencang.

 

Seorang pengembara bercaping meninggalkan Tanah Merah, Pergi entah ke mana.

 

Di kamarnya, Wihelmina Rijkard tersedu, menangis teriris.

 

” Maafkan eik Mustafa!” Air mata keluar saling susul meramaikan pipi putih mulusnya. Besok adalah perbikahan dirnya dengan Jendral Van Hansen, gebitulah janji Van Rijkard, siapa yang mampu menangkap Mustafa akan dinikahkan dengan putrinya, Wihelmina!

 

Sementara, di luar jendela, matahari mulai tenggelam. Tanah Merah beringsrut sepi…..

 

Sukabumi, Februari 2007

Untuk para pahlawan!

 

11
Feb
07

Cerpen: Mamek Prihatini

Mamek Prihatini, orang-orang mengenalnya. Wanita  sedih. Ia biasa termenung di depan rumah sedari pagi hingga matahari naik satu penggal. Orang akan melihatnya ketika mereka jalan di depan rumahnya. Kesedihannya terlihat jelas ketika ia telah merobek suasana dengan senyum gilanya.

Mamek Prihatini, wanita cantik. Baru satu tahun pindah ke kampung ini. Suaminya orang berada. mertuanyalah yang tidak setuju anak kandungnya menikahi wanita seperti Mamek Prihatini, dengan alasan darah biru. Karena, Mamek Prihatini hanyalah wanita yang dilahirkan oleh zaman, ditemukan di kolong jembatan. Hidupnya mengelana dari stasiun ke stasiun.

Awal pernikahan dirinya dengan suaminya memang bahagia. Belum apa-apa ia sudah dihadiahi sebuah rumah. perabotan rumah tangga tidak usah dibicarakan. Tampak bahagia memang. Mertua wanitanya semakin kalut dengan sikap belas kasih anaknya itu. Maka dengan alasan tertentu, dia sering mengobral masa lalu Menantunya kepada para tetangga, sudah barang tentu dilebih-lebihkan.

Demi melihat itu. Suaminya mengajak Mamek Prihatini pindah rumah. Dan berlabuhlah mereka di kampung kami, di kaki gunung.

Suaminya kerja di Kota. Pulang seminggu sekali. Kadang tidak pulang hingg satu bulan. Inilah mungkin awal retaknya ikatan lahir bathin Mamek Prihatini dengan suaminya itu. Atau..bisa jadi suaminya telah termakan hasudan orang-orang. Padahal, masa lalu memang renyah untuk dibicarakan, meskipun harus menyakiti seseorang.

Pada satu malam. Suaminya pulang kerja. Mamek Prihatini tidak melayani kebutuhan suaminya, hasrat yang terpendam selama satu minggu lebih. Alasannya, Mamek terlalu letih setelah seharian membelah kayu bakar untuk menanak nasi. Dengan alasan penolakan yang disalah artikan oleh suaminya, semakin lengkaplah ketidak percayaan suaminya kepada dirinya. Suaminya, malam itu juga bergegas keluar, entah ke mana.

Ada kabar, suaminya semalam  menginap di rumah Naek Sumirah, janda pemilik kedai kopi dekat kuburan. Orang-orang sibuk membicarakannya. Hingga sampai ke telinga Mamek Prihatini.

Lama-lama, Mamek Prihatini pun sedih juga. Hanya karena kayu bakar ia harus menelan pil pahit kehidupan. Jika di rumah, suaminya tidak menegur sapa sebagaimana biasanya. Meskipun kebutuhan hidupnya masih dipenuhi. Sampai pada akhirnya, suaminya tidak pulang-pulang.

orang sering melihat, Mamek Prihatini tersenyum sendiri di depan rumah. Sesaat kemudian menangislah tersedak.

Hari ini, kabar angin meneguhkan, Mamek Prihatini, malam tadi terlihat duduk termenung di stasiun samping rel kereta api. Sekedar untuk memastikan, sengaja aku lewat di depan rumahnya.

Kokok ayam betina ramai sekali. Mamek Prihatini duduk menunduk di depan rumahnya. Melihat aku lewat, ia menengadah, melihatku ,dalam sekali.

” Kang Ruslan…..!” Katanya sambil berdiri, membuka ke dua tangannya lebar-lebar. Ia menghampiriku, terus terang aku dibuatnya pusing.  Terus terang, namaku bukan Ruslan!!!
Namun, Mamek Prihatini mengejarku ketika  aku berusaha menghindar. Semua orang tahu….Mamek Prihatini memang wanita sedih.

Sukabumi, 2007

11
Feb
07

Cerpen : Orang Yang Digantung

Semua mata tertuju ke arah Marabahaya, seorang pencuri kelas kakap yang ditangkap karena dituduh telah menculik seorang wanita bernama Yosinurahaya. Orang pun tahu siapa Marabahaya dan siapa Yosinurahaya. Dua sosok yang berjauhan, orang dekil dengan orang bercahaya.

Dua hari , Yosinurahaya hilang. Maklum anak seorang pejabat tinggi, beritanya menjadi sarapan empuk hampir seluruh penduduk setempat, lagi pula media massa tidak mau mengenal kompromi, apapun berita mengenainya ditulis besar-besar.

Dan dua hari yang lalu, rumah Rendirohaya, ayah Yosinurahaya dibobol maling. Polisi yakin, ini sudah barang tentu dilakukan oleh maling berpengalaman, siapa lagi kalau bukan si Marabahaya itu. Ini pun dikaitkanlah dengan hilangnya Yosinurahaya. Si Maling selain membobol rumah sekaligus menggondol anak pemilik rumah, kira-kira begitu.

Tubuh Marabahaya bukan main lebam, habis dipukuli, bisa jadi. Sebetulnya, dia orang baik, semua orang tahu itu. Bisa dikatakan , dia adalah pahlawan orang-orang kecil. Mencuri, dan hasil curiannya dibagikan kepada rakyat jelata. Tapi, orang terlalu takut dengan kekuasaan, apalagi tangan besi akhir-akhir ini sedang menjadi trend penguasa. Apa-apa selalu dihubungkan dengan kestabilan nasional, hingga membuat sebuah wc umum saja orang harus lapor kepada aparat yang berwajib.

Darah menetes keluar dari hidung Marabahaya.

Pengadilan umum segera digelar. Dan bagaimana pun, tidak akan ada yang bisa mengalahkan pengadilan umum. Ujungnya, siapa pun orangnya, akan berakhir pada hukum pancung. Inilah yang membuat orang takut untuk berbuat ini-itu, sekedar berteriak di depan polisi saja orang takut. Orang-orang di sana hidup seperti orang-orangan. Boneka.

Maka, majulah sang pengadil!

” Kamu akan dipancung dengan tuduhan…telah membobol rumah Tuan Rendirohaya. Apa kau mengakui perbuatanmu ini!?” Teriak sang Pengadil.

” Tanya saja kepada orang-orang!?”

Semua menunduk, tidak berani menatap sang Pengadil.

” Okelah, aku percaya kepadamu, bahwa kamu tidak mencuri, tapi ada kasus kedua.. kau telah menculik Yosinurahaya, anak Tuan Rendirohaya. Akui itu, jujurlah! Emang sih, wanita yang kau culik itu bukan main cantiknya. Selama kau sekap, apa yang kau lakukan kepada wanita secantik dia?”

” Aku tidak menculik siapa pun, Tuan!”

Dan dari kerumunan itu muncullah seseorang. Tentu saja semua mata terbelalak. Karena dia Yosinurahaya. Cantik semampai, memakai stelan sederhana. Orang menyebutnya, baju kampung!

” Aku Yosinurahaya! Dia tidak menculik siapa pun!”

” Tuh khan betul khan tuan….saya tidak sekeji yang tuan sangkakan..” kemudian Marabahaya mengacungkan jempolnya. Sementara Yosinurahaya hanya menggigil. Orang pun tahu, Marabahaya Tampan, hanya tidak diakui saja karena takut oleh cambuk.

” Tapi karena kau sombong, maka hukum pancung akan tetap diberlakukan!”

” Sombong?”

” Ya, mengacungkan jempol adalah merupakan perbuatan sombong, dan tidak bisa diterima oleh akal sehat sekalipun. Untuk apa kau mengacungkan jempol, bangga karena kau tidak melakukan pencurian dan penculikan. Bangga karena kau ditolong oleh kehadiran Yosinurahaya? Jelas sekali ini merupakan perbuatan sombong. Kau orang tersombong yang pernah kutemui.. Hanya saja, semua…sekarang ini tergantung kepada Yosinurahaya.!” Sang Pengadil menatap Yosinurahaya, kemudian melanjutkan. ” Bagaimana , Non. Apa orang sombong ini harus dipancung, atau dilepas begitu saja!?”

” Lanjutkan pemancungan!” Kata Yosinurahaya, dia menatap Marabahaya. Kemudian berbegas meninggalkan tempat itu.

” Yos…..!” Bisik Marabahaya.

Dua jam yang lalu, Yosinurahaya menemui Marabahaya di tepi kali, seperti biasa.

” Aku harus hidup denganmu!” Ucap Yosinurahaya.

” Tapi aku tak bisa, Yos! Aku bukan menolak cintamu. Mengertilah Yos…”

Air kali beriak menyanyikan lagu air. Dua manusia itu larut dalam nada -nada yang kurang dimengerti. Alam memang sering menampilkan ketakjuban!

Jasad Marabahaya tergantung kaku di tiang gantungan. Sudah lima jam. Kadang bergerak karena tertiup angin yang berhembus kencang sekali.

Pekat malam dan dingin. Seorang ,sosok berjubah mendekati mayat Marabahaya yang masih menggantung. Di bukanya tali gantungan yang menjerat leher Marabahaya. Kemudian dengan ringkih orang itu membopong mayat Marabahaya, membawanya ke pinggir kali. Setelah segala sesuatunya dirasa aman, dia menceburkan mayat itu ke dalam kali.

” Aku tidak bisa hidup tanpamu….Selamat tinggal Cintaku…” Bisiknya.

Binatang malam mengantarkan suasana ke keheningan, meskipun mereka berteriak-teriak sesuka diri. Tapi malam ini begitu hening. Besok…mungkin….di tanah ini akan ada lagi orang yang digantung…

Sukabumi 2007

10
Feb
07

Cerpen : Tikamura

- untuk seorang teman yang kutemui di depan Salemba-

” Temui aku di depan Salemba…” Bisiknya lirih, tiga tahun lalu. Kalimay yang menjadi penutup pertemuan kami sekaligus sebagai pembuka, bahwa aku akan bertemu kembali dengannya.

” Gila!!!” Kata Fritz berteriak. ” Ya.ya…ya..atau kau memang benar-benar telah gila..atau semacam bego lah…Kau lihat langit sana, masih sama khan…warnanya tetap biru!!”

Aku menatapnya tajam, demi melihat dia seperti kesetanan. Langit..ah…apa dia yang tolol, mana bisa aku bahkan di Fritz itu bisa melihat langit, bukankah kami sedang ada di dalam gedung tertutup.

” Aku yakin…kau pasti mau mengantarkanku ke Jakarta…” Entah kepada siapa sebetulnya aku berkata, meskipun kepada Fritz namun kurang yakin.

” Apa kau buta, tuan?” Dia mengibaskan tangannya. ” Mau cari mampus, atau…..kkkkau…ah…pusing aku melihat sikapmu selama ini!” Kembali dia mengibaskan tangannya.” Mau…menjadi sukarelawan banjr?!”

” Alaahhh….antar saja Aku ke jakarta, Oke?”

Kami pun melaju ke Jakarta. Fritz mengemudikan motor, bukan alang -kepalang cepatnya. Jiusssss! Angin menubruk tubuh kami. Pepohonan berlari menjauhi, langit mulai tidak ramah, awan mendung berarak merangkak perlahan, mengumpul. Rupanya hujan sebentar lagi turun.

Kota Bogor kami lewati dengan cucuran air hujan. Untung Fritz membawa jas hujan. Wajah kami tertembaki peluru-peluru air hujan. Fritz semakin cepat melajukan sepeda motornya. Setengah gila.

Yang kusaksikan. Jakarta memang telah menjadi lautan air. Orang-orang duduk di atap rumah, entah menatap siapa. Air keruh. Badan beberapa orang larut di dalamnya. Sementara hujan terus mengguyur entah sampai kapan. Plastik terapung. Anak kecil berenang, kok gembira?

” Ayo berenang sana!” Kata Fritz, ” Salemba terkepung air, ayo berenang, jadilah kamu pahlawan untuk gadismu itu!” Fritz mematikan mesin. ” ayo turun…..berenang sana!”

Bukan main, ingin kurobek mulut cerewet si Fritz itu. Apa benar aku harus berenang untuk sampai ke Salemba, sementara Jatinegara telah tertelan air.

” Antar aku sampai Salemba, fren!” Pintaku, memang tidak masuk akal.

” Bicara sama kambing sana!” Mulutnya moyong. ” Sekalian saja minta kepadaku agar sepeda motor ini bisa terbang!”

” Ya..ya..ya.. aku akan berenang!!”

” Harusssss!”

” Tunggu aku…. dua jam lah!”

Dia malah menyulut rokok, padahal hujan masih mengguyur. Dasar!

Perlahan ku masukkan kaki ke dalam kubangan banjir. ah…telah terbiasa ini. Setiap hari juga aku selalu turun ke sawah, mengairi sawah, turun ke selokan, bukan hal aneh. Berjalan ke depan, melintasi Jatinegara, air sampai dada….dagu….aku pun berenang….

Untung lah..di depan Salemba air mulai surut, hanya sebatas betis saja. Kupercepat langkah, menuju depan Salemba..di bawah Pohon albasia tua itu kelak aku akan menemuinya. Aku yakin…..dia pun sudah menungguku.

Gadis manis berjilbab ungu menyihir penglihatanku, berdiri di bawah pohon Albasia tua, depan Salemba….Dia…Tikamura……

” Akhirnya…kau menemuiku juga….!” Ujarnya ketika aku telah ada di hadapannya, dengan badan kuyup. Menggigil.

” Ya…!” Bukan main… dingin sekali siang ini, ah..bisa jadi perasaanku saja. Dia berlindung di bawah payung hitam. Perlahan kuperhatikan gadis berjilbab ungu ini dengan kerlingan sudut mataku. Tak ada perobahan, malah semakin ayu.

” Kang….!”

” Ya…!”

” Minggu depan aku akan ke Jepang….”

” Ke Jepang?”

Dia mengangguk.

” Temui aku…..dua tahun lagi di tempat ini!” Katanya. ” Maaf..aku harus segera pulang. Papa dan Mama menunggu…!”

Bukan main, aku seperti kerbau bego, berdiri melongo memandangnya. Ingin kuberlari merampas tangan mungilnya sambil kuucapakan….aku sayang kamu. Namun, aku hanya bisa memejamkan mata, kerap sekali….Orang-orang sibuk dengan satu urusan menghindari banjir dan amukan air.

Beberapa rumah dilahap air, hanya menyisakan bagian atapnya saja.

Jakarta, Februari 2007

Senin ini masih ada banjir!

04
Feb
07

Cerpen : Orang-Orang Pohon

Rumah Pak Walikota sepi, tengah malam, embun basah, kabut tebal menutupinya. Satpam penjaga terkantuk-kantuk menahan dingin dan ngantuk. Terdengar, perlahan dari radio kecil butut yang diletakkan di pos penjagaan pagelaran wayang golek semalam suntuk.

Seseorang dengan motor sederhana masuk. Minta izin kepada satpam penjaga. Dari roman wajahnya memang agak serius meski malam telah larut, kira-kira pukul 11.30.

” Maaf, pak..ini malam, Pak Walikota bisa memarahi saya!”

” Tapi ini urusan penting ,bung!” Orang itu meyakinkan,” Ini masalah hidup dan mati Pak Walikota juga!”

” Tapi……!”

” Alahhhh…aku ini bukan siapa-siapa. Teman Pak Wali ,kok!”

Dan satpam penjaga pun hanya bisa diam membeku. Walau hatinya diliputi rasa takut.

” Huahhh…..!” Pak Walikota menggeliat, masih ngantuk berat rupanya. ” Ada apa malam-malam kau ke sini, ganggu orang saja. Tidak tahu walikotamu ini perlu istirahat, hah?”

” Justru itu pak! Anda akan lebih tenang istirahat jika mendengar cerita dari saya ini…”

” Huahhhhhh!” Kembali Pak Walikota menguap.” Ayo cerita…!”

Orang itu menggeser posisi duduknya. Sedangkan pak Walikota tampak terkantuk-kantuk.

” Ini tentang orang-orang pohon, Pak!” Orang itu mulai bercerita. ” Siang tadi…beberapa pohon di alun-alun itu ditebang tanpa ampun. Dengan alasan akan dijadikan lapangan terbuka…”

” Kenapa kau tidak datang ke dinas Pertamanan! saja, ehh..malah menemuiku, jika hanya protes soal itu….!”

” Tapi ini masalah hidup dan mati Pak Walikota kok!”

“  Terus!”

” Ini tentang mereka yang tergusur. Orang-orang kecil sebangsa jembel dan gelandangan. Di depan alun-alun adalah sebuah jalan protokol. Pagar tembok bercat putih berdiri angkuh, duduk di atasnya orang-orang hampa. Itu terjadi setiap malam di kota tercinta ini pak..

” Di bawah pagar, bergerombol pengemis-pengemis renta membawa anak/ bisa jadi bukan anak mereka sebenarnya, menengadah harapan. Paling banter…mereka hanya mendapat perhatian saja, cukup dilihat. Bahkan dicacimaki pun jadilah. Di depan mesjid Agung kebanggaan kita itu.. yang selalu kita bangga-banggakan sebagai tameng spiritual kita taman-taman indah bukan main, lampu pijar menerangi pelatarannya. Malam minggu biasanya para lelaki hidung belang menghabiskan malam panjangnya bersama beberapa PSK duduk-duduk sambil bercumbu di sana.

” Pohon-pohon besar. Tetaptnya pada jam-jam seperti ini, para gelandangan itu membuat tempat gratis alakadarnya, hanya alas dari kertas koran, tempat mereka menyambut mimpi surgawinya. Bintang tidak menaburi tubuh mereka karena terhalangi oleh pekatnya dedaunan rindang. Tubuh mereka sudah barang tentu terguyuri oleh embun dari pepohonan, mereka harus berjibaku melawan kabut tebal. Dingin mencucuk..

” Siang tadi…..siang tadi pepohonan itu tempat menaungi mereka dari taburan bintang kini telah tiada. Pak Wali tengok saja sendiri, mereka, orang-orang pohon itu menggelar tikar butut dan kertas koran di lapangan terbuka….

” Itu yang ingin saya sampaikan ,Pak!” Orang itu segera pergi, tanpa menunggu disuruh oleh Pak Walikota.

Pak walikota masuk ke dalam kamarnya. Istrinya cantik bukan kepalang. Kasur tebal, selimut hangat, bantal guling mahal. Dia membuka jendela, di tatapnya langit, nyaris tanpa awan. Gemintang bertabur, rembulan menggelantung. Sepi.

Dia ingat, masa kecilnya dihabiskan di ladang dan sawah. Masih terngiang di telinga: Nak….jika engkau menjadi orang terkenal…orang hebat….jangan lupakan ini..! Tunjuk bapaknya pada sebatang pohon randu. sunyi . Termenung. Air mata kerinduan pun keluar dari sudut mata Pak Walikota.

” Ada apa pak, pagi ini begitu lesu?” Tanya Istrinya. ” O iya pak…tadi ketika bapak masih ada di kamar mandi, pak Nista Rastamasta ,Kepala Dinas Tata Ruang Lingkungan dan Pertamanan Kota datang ke sini, memberikan ini!” Ia menyodorkan sepucuk surat.

Pak Walikota membukanya. Terbelalak matanya. Amplop berisi chek senilai 2,5 Milyar Rupiah, dari sebuah perusahaan raksasa global, untuk dirinya. Tentu saja, hari ini ia harus memutuskan, di alun-alun itu akan didirikan pusat perbelanjaan terbesar di kota nya.

” Ini urus oleh ibu..!” Ia menyerahkan cek itu kepada istrinya. Demi melihat itu, bukan main istrinya girang gembira.  Dalam benaknya, dia akan membeli apa yang ia mau.

Sementara, sore harinya. Surat kabar setempat memberitakan, Walikota meninggal dunia. Di kepalanya ada bekas peluru. Bocor. Semua berduka atas kematian yang tragis itu. termasuk orang-orang pohon pun ikut serta larut dalam kepedihan. Walikota tercinta yang mereka bangga-banggakan telah meninggal.

03
Feb
07

Cerpen : Puisi Biru

Aku tahu dan memahami, mengejarmu adalah sama dengan mengejar bayang

Aku tahu dan memahami, bahwa mengejarmu adalah sama dengan mengejar diriku sendiri..

Aku adalah sebatang lelaki letih yang terbaring lesu di bawah tumpukan dedaunan akasia, lembab, basah,

Haruskah kujadikan monolog ini sebagai bukti bahwa cinta sejati memang ada, atau hanyalah…sebatas ada dalam sebuah dongeng, tanpa ujung.

 

Terus saja puisi ini mengiang dalam bayang diriku. Gundah. Pecah. Karena kekerdilan diriku, merasa sok percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa diselesaikan dengan segala idealisme yang kuanut selama ini. Orang bilang, sok suci! Mentari kuanggap hanya mampu sebagai penghangat sementara saja, tidak memiliki sebuah arti, lebih berarti dari hati dan isi batok kepala ini. EGOIS!

 

“ Kau memang lelaki keparat!” Gumam Andri memojokkan diriku. “ Dia datang jauh-jauh dari Malang untuk menemuimu. Dia hanya sekedar meminta ciuman cintamu, tidak lebih dari itu. Makan tuh idealisme keparatmu!”

 

“ Rupanya kau lah yang perlu kukasih sebuah alasan sederhana. Cinta sejati, Dri!” Aku memang selalu membela diri meski dalam kegamangan sekali pun.

 

“ Alahhh…. Cinta sejati keparat!” Dia membanting buku AKU-nya Chairil Anwar, “ Habiskan harimu dengan bayangan cinta sejatimu sampai tua nanti, jika memang cinta sejati itu memang ada!”

 

Hingga kutinggalkan dia sendiri. Dan rupanya dia pun sudah mulai jenuh dengan keberadaan diriku. Aku duduk di kamar menatap dinding basah. Cat memburam menampilkan senyum sinis wajahnya. Dia…Putri dari Malang itu memang cantik. Dinding kamar melukis sekilas wajah silih berganti, Dia, Ibuku, Adikku, semua bayangan yang selama ini aku pertahankan. Duhh…Quasimodo pun muncul, lelaki jelek dan bongkok yang berhasil memikat seorang putri cantik dengan persembahan cinta sejatinya.

 

Di depan rumah ,sebuah mobil Jazz berhenti, dari dalamnya keluar sosok wanita, Putri, wanita yang selama ini hanya muncul dari dalam dunia mayaku, kecantikan yang hanya bias kuperhatikan dari poto-potonya yang selalu dia kirim melalui imel saja. Kini berdiri, menghiburku dengan selambai senyum, jangkung tinggi perawakannya tertutup oleh rambut panjang hingga punggung, lurus.

 

“ Kang ….!” Teriaknya girang. Karena memang sejauh ini, dia begitu menginginkan pertemuan denganku. Dia sudah hapal betul wajahku, hampir setiap hari kami bertemu dalam dunia bayang, mungkin dalam mimpi pun pernah.

 

“ Putri…..!” Sambutku. “ Mari masuk…..” ramah tamah memang selalu berjalan alakadarnya, keluar dari orang  sepertiku sekalipun agak egois.

 

“ Put….!” Bisikku, “ terima kasih kau telah jauh-jauh datang dari Malang untuk menemuiku..”

 

Dia mengiringi langkahku. Masuk ke dalam rumah. Andri duduk terpojok di kursi panjang. Menatap orang baru, terpesona dengan kecantikannya mungkin.

 

Sejauh ini, Putri hanya diam, tidak seperti ketika dalam telpon, ramah, tidak mengumbar birahi, memang..mungkin demikianlah dia apa adanya seperti saat ini ketika ada di hadapanku. Tapi..aku memang lelaki keparat, sok suci!

 

” Put…ingin sekali aku berlama-lama menatap dirimu, namun…aku ada acara mendadak, mohon izinkan aku pergi sebentar dan tunggulah aku!”

 

Ah, rupanya dia setuju. Begitu mulia bagiku wanita seperti dia, namun….sikap egois ini telah menutup mata bathinku, aku harus pergi dan meninggalkan dirinya dengan alasan yang kureka-reka, tanpa alasan.

 

Pulang dari acara yang kureka-reka dan padahal tidak perlu kulakukan semua itu, Putri..telah pulang. Tinggal Andri sendiri membaca buku tebal, khusuk. Tak menghiraukan kehadiranku.

 

” Putri mana?”

 

Andri melirik sebentar kemudian meninggalkanku tanpa kata, wajahnya mencerminkan tanda-tanya besar dan kekecewaan kepadaku. Dengusannya amarah, semerah pipinya.

 

Ketika dia telah pergi, maka rasa sayang, tepatnya cinta semakin menyeruak dalam diriku. Langit-langit tengah rumah kubayangkan adalah batas dunia yang penuh dengan aroma cinta, namun..aku memang lelaki keparat sok suci, sok jual mahal, pura-pura tidak mengharapkan kehadiranya, padahal…kuakui aku memang telah jatuh cinta kepadanya sejak aku mengenal dirinya kendati hanya dalam batas obrolan seputar guyon kelakar.

 

Kini..kurasakan hampa memang hidup ini ketika sifat sok idealis ,sok suci ,merasa diri benar telah mengerangkeng diriku. Pantas Andri menyebutku lelaki keparat. Dan yang terbayang adalah ucapan ayahku: Jangan sekali-kali kau menyakiti wanita jika engkau tidak ingin disakiti,perlakukan wanita sebagai dirimu sendiri…

 

Aku menjadi kebo bingung…duduk termenung di hadapan komputer sambil menanti kedatangannya. Sudah tiga minggu dia tidak muncul-mucul. Aku biasa membuka-buka situs beberapa koran, ingin melihat puisi-puisi siapa saja yang diterbitkan oleh koran ternama negeri ini.

 

Tanganku bergetar hebat, ketika kubaca…puisi dengan judul: Puisi Biru di tulis oleh PUTRI, Malang, 2007…. Yang kubaca hanyalah bayang-bayang dirinya. Kelebat wajah sekilas dengan senyum sinis menampar diriku. Aku semakin jauh terperosok ke dalam kubangan rindu… Dia…wanita itu telah berhasil menorehkan seuntai bait puisi dan terpampang di sebuah koran ternama negeri ini. Sementara aku hanya mampu menorehkan puisi-puisi tak bermakna, rendah, dangkal dengan arti.

 

Pada kali yang lain, sebuah surat datang menusuk pandanganku.

Kang…maaf, akhir-akhir ini Putri sering tidak online karena sedang mengadakan persiapan acara pernikahan Putri dengan seorang lelaki yang selama ini telah merajut kasih dengan saya. Kang…maaf, jika sebelumnya Putri tidak menceritakan semua ini kepada akang… terima kasih telah menerima saya dengan baik…ketika saya ke Sukabumi….Terima kasih atas cinta akang yang tulus kepada Putri…Kang, semoga akang menerima semua ini… Dan….Putri doakan mudah-mudahan akang segera mendapatkan cinta sejati yang selama ini akang cari….

 

Hhh…kubantingkan wajah ini. Monolog dalam diriku kini telah menjadi dialog antara aku dengan kekerdilan sikapku, aku dicacimaki oleh bathinku sendiri, dikatai sebagai orang angkuh….rasakan…! Makanya jadi orang itu harus tahu adat, etika, sopan santun.!

 

Kubuka….blognya, kubaca berulang-ulang tulisan-tulisannya yang penuh luka. Kutatap potonya, kuusap lembut, aku gila! Hingga kucium layar monitor kucium potonya…berdosakah aku melakukan semua ini? Ya…tak mudah bagiku untuk melupakan semua ini…drama ini terlalu sulit untuk kuakhiri..sampai di manakah ujungnya.. entah…

  Sukabumi Januari 2007

Untuk seseorang, siapa pun engkau…AKU AKAN TETAP MENCINTAIMU….! 

 




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,674 hits

 

Februari 2007
M S S R K J S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay