Arsip untuk Januari, 2007

29
Jan
07

Cerpen: Orang Terpasung

Di pinggiran sebuah desa, di dalam gubuk kecil , di antara padi menguning, di bawah siraman cahaya rembulan keperakan, tiga orang sedang berbincang. Kusnara, seorang tukang pancing, perawakan tinggi kurus, rambut lurus gimbal, kulit muka kering, di mulutnya terselip rokok kretek, mengepul tak mau berhenti, sebagian badannya tersinari cahaya rembulan keperakan.

Di sampingnya duduk, Rusmana, seorang petani, tepatnya buruh tani, perawakan pendek gemuk, rambut ikal melintir, mulutnya tidak bisa diam, kadang bibir bawah digigit dengan gigi depannya. Juga tidak bisa diam, menggoyang-goyangkan badan dengan irama tiada tentu. Ia tidak merokok, baginya merokok adalah sebuah pemborosan.

Satu lagi, Nartolo, seorang penuai padi, teman dekat Rusmana, badannya hampir sama dengan Kusnara, tinggi kering, hanya…dia memiliki rambut agak panjang, hitam menantang, duduk di daun pintu gubuk itu.

” betapa…musim panen kali ini para petani akan bahagia!” Gumam Kusnara, asap rokok mengepul perlahan, disengaja mungkin. ” harga satu kuintal padi sampai 250 ribu perak!”

” Kau salah duga, padi naik, maka pupuk pun ikut naik, kawan..” Rusmana melirik, kemudian menengadahkan kepala melihat langit-langit gubuk, yang jelas langit-langit memang bukan langit. ” Si Nartolo lah yang beruntung…hanya mengandalkan tenaga menuai padi tanpa harus campur tangan menanam dan mengurus padi segala, dia bisa mengantongi uang sampai ratusan ribu…!”

” Kau pun salah sangka kawan!” Nartolo menatap rembulan, betapa indah malam ini..” Tukang pancing lah yang merdeka, semalaman mengukur kali, menghitung jejak dengan derap yang sama, tanpa harus memikul beban berat, bertarus dengan pancingnya….ya memang hidup ini merupakan sebuah pertaruhan…Pertaruhan antara hati dan rasa penasaran!”

Binatang malam menjerit gembira. Larut. Peka. Pekat. Tanpa desir angin. Lampu tempel meliuk-liuk, api dalam tungku mulai mengecil.

” Kisah tentang orang terpasung itu kini mulai ramai… kalian tahu?” Tanya Kusnara.

Tak ada jawaban.

” lelaki bodoh memang diciptakan oleh Tuhan dengan kedangkalan otaknya. ahaa..ya, lelaki terpasung itu, baru tahu aku, namanya Sudin…..Sudin..sungguh nama yang aneh. kakinya korengan, keluar benjolan-benjolan sebangsa bisul kecil, sudah menahun, kadang keluar nanah kental yang menimbulkan bau, ya..sudah pasti hidupnya terpasung dalam derita yang tiada akhir itu.” Ia menarik nafas..” Halah..hampir saja dia mendapatkan seorang gadis…ya hampir saja. Ketika gadis itu menerimanya apa adanya. Hhmmm..bisa dikatakan cinta sejati….cinta tanpa permintaan apa pun, atau sebuah alasan.

” Hanya…..jalan hidupnya, garis hidupnya memang harus seperti itu, kepedihan, gadis itu meninggal dunia sebelum cinta sejati itu menjemputnya. Kini hidupnya terpasung dalam bayangan gadis itu, setiap hari dia duduk merenung, tanpa tingkah, melamun dari pagi hingga sore, dilanjutkan sampai larut malam. Betapa..orang-orang di sekelilingnya merasa jijik ketika koreng di kakinya semakin membusuk, bau! Ya…sudah bisa kita terka, dia pun mengerti dan terusir secara sendiri. Ia selalu menyendiri di pinggir kali dekat batu besar yang konon katanya di huni oleh sejenis mahluk halus.. Aku sering menjumpainya.. dia benar-benar terpasung, tanpa gerakan berarti  pada tubuhnya…hhh…!”

” Kau….menganggap hanya dialah yang terpasung?” Nartolo mengambil alih pembicaraan. ” Bukankah sejak dari tadi sore kita hanya diam di sini, selonjoran, berbaring, duduk mengisap cerutu murahan?”

” Hhhh… Lihat, sebentar lagi dinihari, pada pedagang sayur akan pergi ke pasar, dari hari ke hari..hanya itu saja pekerjaannya, apakah itu tidak terpasung?” Kini Rusmana berbicara.

” Ya..ya…ya…. Kita memang orang -orang yang terpasung!”

Sukabumi, Akhir Januari 2007 

NB : Cerpen ini hanya gurauan orang yang sedang patah hati, hehehehe …..

 

28
Jan
07

Cerpen : Lelaki Sebongkah Tanah Kering

Wanita, aku hanyalah sebongkah tanah kering kerontang, tanpa air kehidupan. Waktuku bergulir dalam kilatan-kilatan kepedihan, harapan memang selalu ada muncul, datang dan pergi, namun…..tetap saja kekeringan dalam diriku telah menyatu ibarat tanah merah kering yang menggergaji relung-relung zaman tiada ampun. Kering hidupku bukan karena engkau, Wanita. Melainkan karena diriku telah salah dalam memilah jalan. Jalan yang kubelah adalah kesalahan berarti dalam diriku. Aku tidak bisa membedakan mana seharusnya, dan mana yang semestinya. Kuraba-raba alur hidup ini….dan memang kering.

Wanita, aku terlalu letih dengan derita ini. Engkau…sementara engkau adalah tokoh agung yang selalu mengiang di telinga laparku. kau yakin, aku memang haus..haus akan kepedihan. Haus akan kehampaan. Aku terkapar lusuh bersama guguran dedaunan akasia yang selama ini menyertai hidupku.

Wanita, aku hanya bongkahan tanah kering, tidak berarti lagi untuk membicarakan cinta, apalagi cinta sejati. Aku telah tertikam sekian puluh centi dalam diriku dengan kepedihan cinta sejati. Aku faham, derita ini memang kubuat sendiri, derita ini memang keciptakan dengan bayang-bayang diriku yang lemah. Aku …memang  lelaki lemah, selalu terkapar pasrah di hadapanmu.

Wanita, pernah aku ingin menjadi kupu-kupu, terbang mengitari taman-taman firdaus, bernyanyi rindu syahdu bersama para bidadari. Tapi… itu terjadi hanya sekilas saja, dalam mimpi-mimpi pendek malamku. Dalam buaian waktu yang teramat singkat.

Wanita, aku telah berdiri di bawah nadir sekalipun. Berusaha bangkit, berusaha berdiri justru telah membunuh syaraf-syaraf hidupku.

Wanita, angig lah yang menyampaikan kebagahagiaan kepadaku. Anginlah yang memberi petua bijak kepadaku. Hingga ..aku kembali tersirami dengan kebeningan diri.

Wanita, aku berusaha bangkit, namun tetap saja…aku hanyalah lelaki sebongkah tanah kering yang mencoba berdiri di hadapan mahluk agung sepertimu.

——————————

” Aku sayang kamu!” Kataku pasti.

Angin menggeriapkan rambut panjangnya. Udara turun beberapa derajat celcius, orang-orang tidak peduli. bahwa batang akasia mulai meranggas tua. Sesekali hanya terdengar kata: ai-em-sori…. disahut dengan : neper-main! Ketika mereka saling bertubrukan satu sama lain, tentu tanpa sengaja, karena tak ada kesengajaan di kota ini. Di kota ini segala sesuatu mengalir seperti biasa.

” Yakin dengan ucapanmu itu!” Dia memilin-milin ujung kemejanya. kembali geriap rambutnya menantangku untuk kubelai. Ingin sekali kubelai saat itu. Dan dedaunan pun gugur perlahan menghujani kami, kami yang sedang dibalut asmara.

” Rasanya terlalu berlebihan jika aku berdusta kepada wanita semulia kamu!” angin berderit-derit ,irama ranting patah. Teriakan orang-orang alakadarnya hanya pemanis suasana. Hujan mulai turun. Perlahan. melukiskan nuansa cerah pada wajah wanitaku.

kami…bergulat dalam sampan asmara. Di bawah pohon Akasia tua itu.

” Aku…bukan wanita yang akan menjadi milikmu!”

” Kuakui…namun, bagiku cinta tidak semestinya harus selalu memiliki. Cukup…bagiku mencintai dirimu apa adanya…!”

” Syukurlah….kau telah memahami..arti cinta!”

Dan.kami berpisah ketika cinta itu semakin melukai diriku.

Wanita telah kukabarkan kepadamu, aku hanyalah lelaki sebongkah tanah kering.

 

Sukabumi Januari 2007

27
Jan
07

Cerpen : Jerawat Hidung Pak Presiden

” Entahlah. Yang jelas jerawat di hidung Pak Presiden itu sekarang membengkak, mengakar!” Keluh Dr Sing, Dokter kepresidenan Republik Meneketehe. Dokter lulusan Beukimolor University ini dari ke hari hanya bisa melenguh tepatnya angkat tangan dengan jerawat di hidung Pak Presiden.

” Wah! Semakin mancung dong!” Ujar Menteri Kesehatan Republik Meneketehe.

” Bukan mancung, tapi bundar gituu….!” lanjut Dr Sing. ” Seperti Gareng dalam cerita pewayangan itu lho!”

” Pengobatan macam apa yang bisa menyembuhkan jerawat Pak Presiden, Dok!”

” Ya..harus dioperasi, harus dibuang akar jerawatnya. Ya..resikonya Pak presiden harus kehilangan hidungnya..!”

” weleh…weleh….harus?”

” Ya iya lahhhhh…..!”

” Ada cara lain?”

” Belum ditemukan, pak!”

” Ya sudah!” menteri Kesehatan mengibaskan tangannya, menepis angin. ” Tapi..ini rahasia kita berdua lho, jangan sampai orang lain tahu menahu masalah ini, apalagi para wartawan….kacau kita-kita, mau di bawa ke mana Republik ini jika presidennya tanpa hidung!”

Maka, amputasi pun dilakukan, hanya mereka berdua yang tahu. Satu sampai dua bulan Pak presiden telah sembuh, tapi ia menangis tersedak-sedak, harus kehilangan hidungnya. Sebetulnya, Rakyat Republik meneketehe jenuh dengan ketidakhadiran presiden idola mereka. Tiga bulan mereka tidak mendengar pidato dari Pak Presiden, mungkin semacam rindu berat!

Diumumkanlah, bahwa presiden telah sembuh dari sakitnya. Siang ini beliau akan memberikan pidato di salah satu stasiun televisi milik negara. Live report! wartawan diundang, semua petinggi negara harus hadir. Rakyat harus menyimak!

Pak Presiden naik podium! Orang-orang degdegplas! Apatah lagi Dokter Sing dan Menteri Kesehatan.  Orang bertanya-tanya mungkin, kok kepala pak presiden ditutup dengan kain hitam, diberi bolong di matanya, seperti Ninja.

” Ehmm….!” Semua membisu, bahkan dingin, keringat menitik di kening Dokter Sing!” ‘a yatku….’ang ‘a ya intai…..” Tak terdengar jelas apa yang diucapkan oleh Pak Presiden. Riuhlah gemuruh gerakan orang-orang, para wartawan menjentik-jentikkan, bahkan memasang telinga mereka sejelas-jelasnya, alat rekaman sudah diabaikan. Hingga angin yang bertiup kencang itu menyibak kain penutup kepala pak Presiden.

” Waaaaaaaaa…!”  orang-orang menutup mata.

” Lha dalah!” Semua Menteri Kabinet Republik Meneketehe membungkam mulut mereka. ada juga yang tertawa, terisak…lucu mungkin.

Nasi sudah menjadi bubur. Maka pak Presiden menulis pesan singkat kepada Menteri Pertahanan dan Keamanan. Aturan ya semacam INPRES pun diberlakukan.

1. Semua petinggi Republik Meneketehe harus diamputasi hidungnya.

2. Semua warga negara yang mencintai tanah airnya wajib menyerahkan / mempersembahkan hidung mereka demi kestabilan Negara.

3. Setiap bayi yang baru lahir wajib disunat hidugnnya.

Hari ke hari, semakin banyaklah orang yang tidak memiliki hidung di Republik Meneketehe ini. Ramai dan riuh orang berbicaram telinga harus benar-benar dipasang secara tepat.

” ‘ita…’iak ‘o leh ‘embu’a ‘iri….’epublik ‘ini…’a us te’ioai…!” Teriak pak Presiden berapi-api. Maka..negara ini pun mengisolasikan diri, tidak ada lagi hubungan bilateral, multilateral, dan keluar dari badan dunia,PBB.

Satu dekade, dua dekade, sampai pada masa yang tidak tentu, semua warga Republik Meneketehe telah tidak memiliki hidung.

Ada kabar badan dunia khususnya badan kesehatan dunia akan melakukan penelitian di negara ini. Pak Presiden baru pun menerima dengan lapang dada, dada lapang. Instruksi Pak Presiden adalah ..seluruh warga harus menyambut tamu istimewa itu dengan meriah. Karpet merah digelar sepanjang jalan yang akan dilalui oleh tamu istimewa. Bandara ramai sesak, orang-orang ingin melihat tamu istimewa dari dekat.

Dan…dari dalam kapal keluarlah tamu istimewa itu, tampannya bukan main. Namun..tiba-tiba orang-orang di bandara terkekeh-kekeh menahan tawa, semua warga negara yang menonton televisi pun terbahak memegang perut mereka sambil jumpalitan.

berkerut bukan main kening tamu istimewa itu.

” Ada apa?” Bisiknya pada menteri Luar Negeri Republik Meneketehe. ” Kok menertawai kita!?”

” ‘e ‘e ka e’a’sa ‘u cu’e ‘an iung ,uan!” Katanya sambil menunjuk hidung tamu istimewa itu.

Bibir tamu istimewa membuat lengkungan heran. Kemudian memegang hidungnya yang mancung itu. Memang…orang-orang di bandara merasa lucu melihat tamu istimewa itu memiliki hidung sepanjang itu…

Sukabumi Januari 2007

NB: Cerpen ini merupakan kisah yang sering kita dengar dari mulut ke mulut… 

20
Jan
07

Cerpen: Sahabat Lama

Cuaca panas diledakkan oleh teriakan seorang ibu dari sebuah halte bis.

“  Jambret!” Teriaknya. Ibu itu setengah gila, meronta-ronta, melompat-lompat.

Orang-orang terperangah, lirik kiri- kanan, mencari-cari. Ya, pak Polisi gagah datang, pistol mendongak.

” Jambret….!” Ibu itu menunjuk-nunjuk, seseorang berlari kencang membawa sebuah tas kulit. Pak Polisi gagah itu pun mengejarnya. Pistol mulai keluar, diacungkan.

” Berhenti….!” Duarrrr….suara pistol meledak. Udara belah.

Jambret  sial sialan itu berhenti. Pasti. Takut.

” Angkat tangan…! Buka topengmu goblok!”

Penjambret sial sialan itu mengangkat tangan, membuka topeng.

” Kkkkkkkkau!” Tunjuk pak Polisi gagah..” Ahaa….kau si Juned! Sahabat lamaku!?”

” Halah…Kkkkkau si Safri…sahabat  lamaku!”

” Sini biar kuambil tas kulit itu!”

Kemudian mereka berpelukkan, sahabat lama yang sudah puluhan tahun tidak jumpa. Tas kulit diberikan kepada si ibu. Si ibu bukan main memberi hormat dan salam secara berlebihan kepada pak Polisi gagah.

” kau..ikut aku ke kantor Polisi…Juned!”

” Oke….!”

Di kantor polisi JUned mendapat perlakuan istimewa. Ia dikurung dalam kerangkeng khusus, diberi fasilitas istimewa, ada kamar mandinya, ada kasur empuknya, membuat tahanan lain iri kepadanya.

” Sahabat…besok pengadilanmu akan dilaksanakan…!”

” Oke, sahabat lamaku!” Bukan main bahagianya Juned.

Ruang pengadilan biasa-biasa saja, karena kasus nya bukan kasus selebritis. Pengacara Juned namanya si Paruntungan Hasibuan , masih sama, sahabat lama si Juned..

Pak Hakim masuk.

” Oalaaaaa……!” Mata Pak Hakim yang sifit itu terbelalak tajam ketika melihat terdakwa. ” Kkkkkau…si Juned…Sahabat Lamaku…!”

” Halahhh….kau…si Norman, sahabat Lamaku…!”

” Lama kita tak bersua ya?”

” Ya, memang cukup lama, Kau si Paruntungan Hasibuan!” Pak Hakim menunjuk pengacara si Juned. Pak polisi gagah pun masuk, datang agak telat memang,ingin menyaksikan jalannya pengadilan.

” Haaa? Kkkkkau….si Jefrii…!?” Teriak Pak Hakim kegirangan.

Pada akhirnya ruang sidang itu dipenuhi oleh gelak tawa dan pembicaraan masa lalu. Kenangan. Masa-masa SMA.

” Nostalgia…SMA kitaaaaaa…..!” Teriak mereka, sambil memukul-mukulkan palu pada meja.

Sukabumi, Januari 2007

Maaf agak konyol ceritanya. Seperti bukan sastra…!

20
Jan
07

Cerpen: LELAKI ITU…

Lelaki itu kembali berjalan setelah lama duduk di bawah pohon beringin besar. Cahaya matahari , kemilau kuning emas, tamparan angin menggerai tubuhnya. Bidadari membisikkan irama dalam kepalanya : lelaki itu telah terjatuh, hanya kebohongan cinta dalam dirinya kini.

Pada mulanya lelaki percaya, ada cinta sejati. Pertemuan dirinya dengan seorang gadis. Cantik. Mungkin putri atau semacam bidadari yang mendendangkan syair cinta di tengah hamparan kebun teh, di antara para pemetik teh. Tentu …tentu… lelaki itu percaya pada si gadis yang membawa cinta sejati, seperti yang sering dikatakan gadis itu…cinta sejati adalah cinta tanpa alasan…

Lelaki itu berjalan sempoyongan, antara harapan dan kekandasaannya. Gadis itu…jauh-jauh menemuinya benar membawa cinta sejati, sementara lelaki itu pun benar-benar telah mengentalkan cinta sejatinya untuk diberikan kepadanya..kepada seorang wanita saja…

Lelaki itu dibisiki bidadari… Bahwa dirinya memang telah jatuh. adakah yang mau menangkapnya? Ketika di depan matanya gadis itu berpelukan, berciuman mesra dengan lelaki lain, meskipun masa lalunya.  Masa lalu yang tidak bisa pupus dalam diri si gadis.

Lelaki itu kini hanya bisa berjalan dan terus berjalan mengikuti ujung jemari kakinya ke mana melangkah. Tak ada….sudah tidak ada uang dituju lagi oleh dirinya. Hingga.. duduklah lelaki itu di beranda mesjid. Udara sejuk, udara kampung, meski sore..

” Nak..!” Seseorang berbisik sambil menepuk bahunya. Lelaki itu melirik, seorang tua telah duduk di sampingnya. ” Itu…di sudut matamu!” Bisik orang tua..

” Ini air mataku..” Bisik lelaki itu ” Air mata yang telah lama mengendap..”

” Hapus air matamu dengan wudhu…. ini rahasia Tuhan!”

“  air mataku bisa saja pupus..tapi hangatnya bibir gadis itu masih menempel di bibirku..!”

” kau menciumnya…hanya untuk menghapus ciuman lelaki lain dengan bibirmu…”

” Dia yang meminta!”

” Basuhlah..semuanya akan sirna…debu akan tersapu angin meski sepoi!”

Pada akhirnya…lelaki itu memutuskan untuk tinggal bersama orang tua itu. Entah sampao kapan.

” Ini cucu kakek!” Kata orang tua itu, suatu hari. Menunjuk seorang gadis.

Lelaki itu tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya. Beridiri  mematung. Gerakan tangannya kaku ketika bersalaman berat. Gadis itu bukan gadis baru baginya, karena lelaki itu telah lama mengenalnya..entah di mana..

” Saya Ela…!” Rintih gadis itu.

Maka lelaki itu pun jatuh terduduk, terhempas, terpaku, karena sebuah nama. Nama yang selama ini menghiasi alam khayalnya.

” Saya..” Lelaki Itu” ..” Katanya..

Kini si wanita terbelalak.

Namun… lelaki itu tidak percaya. Bidadari telah berbisik pada dirinya; kau jatuh… dan ia yakin sudah tidak ada cinta sejati lagi dalam dirinya. Hanya kepalsuan cinta saja yang ada kini. Ia memutuskan untuk pergi, melangkah kaku, tertunduk kalah, air mata kembali terlukis di sudut matanya.

Sedangkan wanita dan  orang tua itu menatap Lelaki itu. Pada sudut mata wanita itu ada tanda menitik bening…

17
Jan
07

Cerpen: ” Kau Menolakku?!”

” Indah betul ya?”

Tetra menggolekkan /menyandarkan kepalanga ke dadaku. Hangat. Tulus. Air mata menggaris di pipi merah jambunya. Pemandangan Perbawati pagi itu bukan alang kepalang indah, hijau, padahal langit nyaris seluruhnya tertutup awan kelabu.

” Indah…ya?”

Dia mengangkat kepalanya, menatap mataku. Tajam. Menusuk. Mungkin para bidadari merasa cemburu kepadaku ketika tangan mungilnya mengepal erat pergelangan tanganku tiada ampun.

” Katakan sesuatu padaku?” Pintanya tulus sambil mencoba menyeka air mata di pipinya.

” Apa yang mesti kuucapkan?”

” Aku cinta kamu!!”

” Cinta tidak perlu diucapkan, kan?”

” Kau menolakku?”

Aku berdiri melangkah satu titik. Awan semakin menggelayut dengan warna kelabunya merangkak perlahan di atas hamparan kebuh teh.

” Tapi aku mencintaimu, Tetra!”

” Kau menolakku!!!?”

” Bagaimana dengan seorang Ryan?!”

” Maaf!!!?”

” Ryan!!”

” Ryan??” Tatapannya menerawang ketidak mengertian..” Dia …masa laluku!”

” Bukan…dia adalah milikmu, kamu adalah milik Ryan. Aku sangat mencintaimu, tapi bukan berarti kau harus menghapus Ryan dari hidupmu..Tetra!”

” Kau menolakku!!!!”

” Ya!” Jawabku meski berat.” Tapi..cinta mampu mengubah jalan berbatu menjadi hamparan rumputan hijau berembun bening. Ia mampu mengubah gelap menjadi kemilau cahaya…!”

” hh…Kau tetap menolakku!”

Hujan mulai turun, mengguyur tubuh kami meski kami berlindung di bawah pohon beringin. Dia tidak berkata-kata lagi, pun aku, kami hanya diam, duduk hingga tubuh kuyup!

Sesaat kemudian, dia berdiri melangkah pergi. Meninggalkanku, mengahalau guyuran hujan. Tarian hujan memang indah…

Kulihat dia, betapa ringkih dan rapuhnya dia, hingga kuputuskan untuk mengejarnya….

Perbawati Tahun 4500 Sebelum Armageddon

07
Jan
07

Cerpen: Pengadilan RT

” Hajarrrr!”

” Sikattttt !”

” Bakarrrr!”

“Dasar maling guoblok!”

Tubuh  Bobon yang kerempeng itu dihajar habis-habisan. Tak kenal ampun. Orang-orang merasa dirinya paling hebat. Bobon dituduh mencuri seekor kerbau, sedangkan kerbau itu sendiri telah pergi, kabur jauh entah ke mana. Orang-orang lebih senang memukul tubuhBobon daripada sekedar memikirkan seekor kerbau, seekor binatang.

Darah membahasi wajah Bobon yang tirus dan lancip. Dia duduk, tepatnya dipaksa duduk di bawah pohon pisang sambil membengkokkan tubuhnya, menyerupai busur panah. Celana dalam menghiasi tubuhnya, baju dan celana telah dipaksa lepas oleh mereka.

” Hay.. kalian jangan main hakim sendiri! Tidak boleh itu menurut undang-undang!!!” Kata seseorang yang memiliki perawakan besar. Tangannya menjamak rambut Bobon kuat sekali, hampir saja rambut Bobon lepas dari kepalanya.” Berdiri guoblokkk…” Lanjutnya sambil menendang pantat Bobon tiada ampun..” Ayo..kita bawa maling keparat ini ke Pengadilan RT!” Kembali kaki kekarnya menendang pantat Bobon.

Orang-orang ramai mengarak Bobon menuju pengadilan RT.

Pengadilan RT adalah sebuah paviliun sederhana milik RT Rohim. Ukurannya sedang, di sekitarnya tumbuh semak perdu, di malam hari melukiskan pemadangan kelam, hampir …pengadilan RT itu tidak menyerupai bangunan karena saking kurang terawatnya.

” Panggil RT Rohim!” Teriak si tubuh kekar.

Lima menit kemudian, RT Rohim datang. Jelas saja, anda tidak mengenal dirinya. RT Rohim memiliki wajah sederhana, kumis tipis, badan gempal dan pendek, rambut pun sederhana tipis kelimis dan hampir habis. Hanya saja, penampilan fisiknya tertutupi oleh besarnya cita-cita, ia bersemangat sekali untuk mensejahterakan warganya. Apa pun akan dilakukannya, asal menyangkut kepentingan umum. RT Rohim pasti ikut campur jika anda punya masalah, ia sering mencoba untuk menyelesaikan masalah yang Anda miliki.

” Ada apa ini..Huaaaahhh?” Katanya sambil menguap.

” Ini ada maling keparat Pak !”

” Huahhhh….!” RT Rohim menggeliat..” Ayoo..bawa masuk ke dalam ruangan…!”

RT Rohim melangkah diikuti oleh orang-orang masuk ke dalam ruang pengadilan RT. Ruangan berdebu, kursi-kursi ditata sembarangan.

RT Rohim menyulut rokok, setelah duduk agak santai.

” Jelaskan!” Katanya sambil menyemburkan asap rokok ke atas.

” Dia..si Bobon…ketahuan mencuri kerbau Pak!” Kata si tubuh besar maju ke depan satu langkah.

” Alaaa..duduk saja kau!” Kata RT Rohim sambil mengibaskan telapak tangannya. “Haiii..orang-orang berisik ini masalah serius tahu!!!”  Wajah RT Rohim yang sudah kuyu itu mendelik, ” ayo teruskan!”

” Dia tertangkap basah ketika membawa kerbau ,Pak!”

” Hmm… eh..mana buktinya!?” Kata RT Rohim terus-terusan menyemburkan asap rokok, ” Maksud saya mana kerbaunya..?”

” Kerbau itu sendiri pergi kabur ,pak!”

” Tapi jelas dia ini memang maling guoblokkk, pak!”

” alahhhh…aku butuh bukti bukan sekedar dakwaan dari kalian!” Lanjut RT Rohim,kukuh.

” Dia…minggu lalu dihajar orang-orang di pasar karena tertangkap mencuri sandal di musholla pasar pak!”

” Aku butuh bukti…bukan basa-basi!”

RT Rohim berdiri, menghampiri Bobon yang masih duduk lunglai.

” Hey…kamu si Bobon itu khan?” RT Rohim menegakkan wajah Bobon. ” Ceritakan kejadiannya, atau ku sulut wajahmu dengan rokok ini,haaah!”

” Pak…. saya disuruh oleh Haji Dulatif untuk mengantarkan kerbaunya ke Haji Duloh…kemudian di tengah jalan saya di cegat oleh orang-orang kampung, saya diperiksa KTP. Jelaslah…orang kecil seperti saya tidak punya KTP, ongkos pembuatan KTP Mahalnya bukan main, pak!” Bobon berhenti sejenak.” Kemudian salah seorang dari orang-orang kampung meneriaki saya seorang pencuri….hingga saya dihajar habis-habisan….!”

” Oallaaaa..mana ada maling jujur begitu,Pak!”

” Diammmmm!” RT Rohim kembali menuju tempat duduknya. Ia memiji-mijit kepalanya.

Suasana hening.

” Lalu..kelanjutannya, bagaimana ,Pak?” Tanya si tubuh besar mememcahkan hening.

” Maksudmu…?”

” Ya masalah ini… harus kita apakan si keparat ini, Pak!”

” Kasus ditutup.karena tidak ada bukti!” Kata RT Rohim sambil memukulkan kepalan tangannya ke atas meja tiga kali..” Ayo bubarr..bubarr.. ini sudah malam, tidur lah kalian….besok matahari masih terbit , dan kau Tubuh Besar..ingat istrimu mau melahirkan…urus istrimu…dan rawat dia dengan baik!”

Orang-orang keluar satu persatu. Bobon memeluk erat tubuh RT Rohim ketika ruangan telah kosong.

” Kau…sembunyikan di mana kerbau itu?” Tanya RT Rohim sambil mengacung-acungkan rokoknya siap mendarat di wajah Bobon..

” ?” Bobon mengerutkan keningnya. Sementara suara jengkrik dan binatang malam menjerit-jerit.

 

Sukabumi Tahun 2007




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,567 hits

 

Januari 2007
M S S R K J S
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Klik Tertinggi

  • Tidak ada

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay