Di pinggiran sebuah desa, di dalam gubuk kecil , di antara padi menguning, di bawah siraman cahaya rembulan keperakan, tiga orang sedang berbincang. Kusnara, seorang tukang pancing, perawakan tinggi kurus, rambut lurus gimbal, kulit muka kering, di mulutnya terselip rokok kretek, mengepul tak mau berhenti, sebagian badannya tersinari cahaya rembulan keperakan.
Di sampingnya duduk, Rusmana, seorang petani, tepatnya buruh tani, perawakan pendek gemuk, rambut ikal melintir, mulutnya tidak bisa diam, kadang bibir bawah digigit dengan gigi depannya. Juga tidak bisa diam, menggoyang-goyangkan badan dengan irama tiada tentu. Ia tidak merokok, baginya merokok adalah sebuah pemborosan.
Satu lagi, Nartolo, seorang penuai padi, teman dekat Rusmana, badannya hampir sama dengan Kusnara, tinggi kering, hanya…dia memiliki rambut agak panjang, hitam menantang, duduk di daun pintu gubuk itu.
” betapa…musim panen kali ini para petani akan bahagia!” Gumam Kusnara, asap rokok mengepul perlahan, disengaja mungkin. ” harga satu kuintal padi sampai 250 ribu perak!”
” Kau salah duga, padi naik, maka pupuk pun ikut naik, kawan..” Rusmana melirik, kemudian menengadahkan kepala melihat langit-langit gubuk, yang jelas langit-langit memang bukan langit. ” Si Nartolo lah yang beruntung…hanya mengandalkan tenaga menuai padi tanpa harus campur tangan menanam dan mengurus padi segala, dia bisa mengantongi uang sampai ratusan ribu…!”
” Kau pun salah sangka kawan!” Nartolo menatap rembulan, betapa indah malam ini..” Tukang pancing lah yang merdeka, semalaman mengukur kali, menghitung jejak dengan derap yang sama, tanpa harus memikul beban berat, bertarus dengan pancingnya….ya memang hidup ini merupakan sebuah pertaruhan…Pertaruhan antara hati dan rasa penasaran!”
Binatang malam menjerit gembira. Larut. Peka. Pekat. Tanpa desir angin. Lampu tempel meliuk-liuk, api dalam tungku mulai mengecil.
” Kisah tentang orang terpasung itu kini mulai ramai… kalian tahu?” Tanya Kusnara.
Tak ada jawaban.
” lelaki bodoh memang diciptakan oleh Tuhan dengan kedangkalan otaknya. ahaa..ya, lelaki terpasung itu, baru tahu aku, namanya Sudin…..Sudin..sungguh nama yang aneh. kakinya korengan, keluar benjolan-benjolan sebangsa bisul kecil, sudah menahun, kadang keluar nanah kental yang menimbulkan bau, ya..sudah pasti hidupnya terpasung dalam derita yang tiada akhir itu.” Ia menarik nafas..” Halah..hampir saja dia mendapatkan seorang gadis…ya hampir saja. Ketika gadis itu menerimanya apa adanya. Hhmmm..bisa dikatakan cinta sejati….cinta tanpa permintaan apa pun, atau sebuah alasan.
” Hanya…..jalan hidupnya, garis hidupnya memang harus seperti itu, kepedihan, gadis itu meninggal dunia sebelum cinta sejati itu menjemputnya. Kini hidupnya terpasung dalam bayangan gadis itu, setiap hari dia duduk merenung, tanpa tingkah, melamun dari pagi hingga sore, dilanjutkan sampai larut malam. Betapa..orang-orang di sekelilingnya merasa jijik ketika koreng di kakinya semakin membusuk, bau! Ya…sudah bisa kita terka, dia pun mengerti dan terusir secara sendiri. Ia selalu menyendiri di pinggir kali dekat batu besar yang konon katanya di huni oleh sejenis mahluk halus.. Aku sering menjumpainya.. dia benar-benar terpasung, tanpa gerakan berarti pada tubuhnya…hhh…!”
” Kau….menganggap hanya dialah yang terpasung?” Nartolo mengambil alih pembicaraan. ” Bukankah sejak dari tadi sore kita hanya diam di sini, selonjoran, berbaring, duduk mengisap cerutu murahan?”
” Hhhh… Lihat, sebentar lagi dinihari, pada pedagang sayur akan pergi ke pasar, dari hari ke hari..hanya itu saja pekerjaannya, apakah itu tidak terpasung?” Kini Rusmana berbicara.
” Ya..ya…ya…. Kita memang orang -orang yang terpasung!”
Sukabumi, Akhir Januari 2007
NB : Cerpen ini hanya gurauan orang yang sedang patah hati, hehehehe …..





Komentar