Pada liburan sekolah tahun ini, anakku, Nabila mengajak tamasya ke sebuah tasik yang berada di selatan Kota ‘S’. Tentu, merupakan permintaan yang jarang. Tahun-tahun sebelumnya ,Nabila meminta tamasya ke Pangandaran, Pelabuhan Ratu, dan Jatiluhur. Dengan satu alas an, anakku menyukai air. Persis, aku juga menyukai ikan-ikan kecil, terang saja ada hubungannya dengan air.
Ini hari Minggu, aku, Asti ,dan Nabila sudah meluncur ke selatan. Pepohonan masih membeku, udara daerah Selatan memang teramat sejuk lantaran rindangnya pepohonan masih lebat, sepagi ini kabut masih menyelimuti alam, kami larut dalam nuansa takjub. Perlahan sekali aku mengemudikan mobil. Memasuki sebuah perkampungan, keadaannya menyulap kesadaran kami, terutama Nabila, anakku tunjuk sana-tunjuk sini. Areal pesawahan menghampar ranau, baru musim cocok –tanam, jelas sekali mata kami tersihir oleh keadaan, setelah satu tahun penuh hanya mnenyaksikan lalu-lalang kendaraan dengan emisi pekar, kemacetan lalu-lintas, rel kereta api, gedung-gedung pencakar langit, lampu neon, monitor computer, orang-orang dengan wajah membatu dan bergerak sama menyusuri lorong kehidupan persinggungan. Kini kami menyaksikan, air bening mengalir di selokan dan parit-parit kecil, bebukitan biru tua tersembul di antara kabut, penampilan orang-orang kampong alakadarnya, dan emprit-emprit di dahan.
Setelah melewati sebuah tanjakan terjal, tasik dan aroma airnya telah tercium. Tasik itu sendiri memang terletak di atas sebuah bukit. Nabila menunjuk semangat, biru air terlihat meskipun kabut masih buram. Nabila bertepuk tangan girang, aku dan Asti saling menatap, betapa cantik wajah Asti hari ni, sekilas-sekilas sinar matahari menampar pipi putihnya, melukiskan kemilau dan rona estetika agung.
Rupanya, padat sekali orang-orang di sekitar tasik. Memang seperti itu, setiap musim libur, tasik akan dijejali oleh para pengunjung. Ya, nectar alam memang tercium begitu kuat di daerah selatan.
Tanpa disuruh pun,Nabila berbegas keluar dari mobil, berlari menuju tepian tasik. Asti memburu cepat anakku. Aku tertegun sebentar, seutas senyum secara spontan menyeruak keluar dari mulutku, membekas di wajahku, aku terus menatap lekat tepian tasik.
Begitulah, dengan alas an tertentu aku terjebak pada kenangan sepuluh tahun ke belakang. Yang kusaksikan di tepia tasik ini adalah sekumtum bunga tumbuh, kelopaknya indah, mahkotanya pualam. Benar, sepuluh tahun yang lalu…
Kami berlima, mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian, Aku, Yono, Indra , Herni, dan Rahma tersihir oleh indahnya aroma sekitar tasik. Pandanganku membentur seorang gadis, tinggi semampai, memakai stelan kebaya dan sarung batik. Dia berdiri menghadap tasik. Kecantikan wajahnya- jelas- tak tersembunyikan.
“ Dari mana dulu kita mulai penelitian ini..?” Tanya Rahma kurang berselera.
“ Ah…bosan…baru juga sampai..” Dengus Indra.” Kita bunuh dulu kepenatan ini. Eksperimen, anatomi tubuh katak, pipet, mikroskop, tabel , data, kita simpan dulu, oke!” lanjutnya, hmmm… pada dasarnya kami memang sependapat dengan Indra.
“ Hushhh…mata kamu itu !” Sergah Herni, mengipaskan telapak tangannya tepat di depan wajahku.” Ingat si Asti , Boss!” Hhh….Asti, mahasiswi FISIP semester empat itu, anak pendiam, tukang baca buku filsafat seharian. Sejauh ini, aku memang menaruh hati padanya.
Dan, tak bias kutahan lagi. Ingin sekali kupetik kuntum bunga desa di tepi tasik itu. Bunga desa? Ya…jawab pikirku. Ah.. dia jongkok memasukkan tangannya ke dalam air, kemudian tercipratlah kemilau air ke angkasa, manis sekali ketika tertubruk mentari pagi. Hanya saja…mengapa ada berkas cahaya mengalir di pipi putihnya, air mata..?
“ Sebentar…” Kataku kepada teman-teman, aku berbegas menuju tepi tasik, mendekati bunga desa yang masih ayik memainkan air.
“ Indah benar, ya?” kataku di pinggirnya. Tatapanku menembus tengah tasik, aku baru menyadari betapa luasnya tasik ini.
Bunga desa menghentikan permainan airnya, sekilat menoleh ke arahku. Lalu kembali memainkan air perlahan. Aku jongkok, kemudian mengikutinya mepermainkan air dengan jemari.. ah…dia tersenyum.
“ Sering ke sini, ya?” Aku semakin berusaha.
Lha… dia terbahak kecil, kontan..aku pun tersenyum mengiringi seringai senyumnya. Irama tawa kecil keluar.
Perlahan, dia menyeka air mata yang masih meleleh di pipinya.
“ Atau..rumahmu di sekitar sini?” Aku terus bertanya, semakin berani,ah tepatnya penasaran .
Dia mengangguk, sambil menunjuk sebuah rumah dengan atap rumbia, berukuran sedang, dan sederhana. Hh..tepat di samping sebuah bungalow di mana aku dan teman-teman menginap.
“ Nah, aku dan teman-teman menginap di bungalow di samping rumahmu!” Aku menjentikkan telunjuk, memastikan.
“ Hihihi…” Dia tertawa lirih,” Itu bungalow ayahku!”
Kami tersenyum serempak.
Seminggu lamanya aku dan teman-teman mengadakan penelitian di sekitar tasik. Bunga desa semakin mengharum dalam diriku. Setelah isya, kami sering mengobrol di beranda rumahnya, namanya Ela, namun tetap saja menjadi misteri, belum sepenuhnya aku mengetahui secara deatail, apalagi tentang air mata yang mengalir di pipinya.
Kami kembali ke kampus.
Di kampus ada rumor hebat. Aku digosipkan telah jadian dengan Asti sikutu buku. Ah..aku pikir, andai benarpun, aku selalu berdiri pada tepian lain sedang Asti berdiri di sisi lain. Artinya…semerbak bunga desa itu belum hilang dalam otakku! Hanya..aku pun menyukai Asti.
Sebulan kemudian, aku memberanikan diri menghampiri Asti, tentu di perpustakaan. Aku duduk di hadapannya. Beberapa buku tebal menumpuk di samping buku yang sedang dibacanya.
“ Besok aku akan ke tasik sebelah selatan Kota “ S “ …. aku..mau mengajakmu, jika tidak keberatan…”
Asti menatapku lekat, menembus detak jantung dengan kacamata tebalnya. Ia menutup buku, sekilas kulihat , dia sedang membaca Albert Camus. Menatap lama diriku. Kemudian membuka buku lagi, membaca lagi, tanpa kata keluar dari mulutnya. Aku kikuk… setengah jam aku duduk dan dia asyik dengan dunianya di dalam perpustakaan.
“ Aku akan menunggumu besok pagi, di depan rumah sakit!” kataku sebelum keluar dari perpustakaan.
Esoknya, aku meluncur dengan sepeda motor memotong dan mengupas rapatnya dingin udara pagi. Menuju rumah sakit. Hmm… di bawah pohon akasia depan rumah sakit, Asti?? Asti berdiri.
“K.kkau??”
Asti tersenyum, pagi ini dia begitu berbeda dengan kemarin, pakaiannya sopan sederhana. Kami pun bergerak menuju daerah selatan Kota “S”.
Yang pertama kulakukan ketika sampai di sekitar tasik adalah mengunjungi bungalow, tempat di mana kami menginap selama mengadakan penelitian sebulan yang lalu. Ah..penjaga bungalow yang ku kenal, Ahmadi namanya, sedang bersih-bersih.
“ Aku tidak melihat bunga desa itu di tepi tasik, Mang!” Aku memang tidak sabaran.
“ Bunga desa?” Ahmadi menoleh,” Ooo..maksudnya neng Ela, den?”
Aku mengangguk, paras Asti berubah, bisa kulihat.
“ Bungalow ini telah dibeli oleh orang lain, den. Neng Ela bersama keluarganya telah pindah,katanya sih ke daerah Tasikmalaya…”
Jelas..aku tersenyum hambar.
Kuajak Asti ke tepi tasik di mana, sebulan yang lalu aku menemukan bunga desa itu berdiri anggun. Asti berdiri menatap tengah tasik. Lalu jongkok memainkan air. Kuikuti tingkahnya. Sambil kuceritakan perjumpaan kami dengan bunga desa itu sebulan lalu.
“ Indah benar, ya, As?”
Asti tersenyum, masih asyik dengan air.
“ As…aku akan meminangmu setelah wisuda nanti!” Kataku meskipun sedikit kelu, setangah berbisik, lalu kupasangkan di telinga Asti kepastian yang benar-benar pasti!
###
“ Papa, Mama, indah betul ya, danau ini?” Kata Nabila, tangannya memainkan air. Kutatap Asti, begitupun sebaliknya, ku dekap erat dia, kami jongkok perlahan lalu memasukkan tangan ke dalam air, seperti sepuluh tahun ke belakang, aku dan Asti memainkan air. Aku mencium keningnya sangat mesra.
O, tanpa sengaja, aku melihat, di tengah tasik, bunga desa bersama orangtuanya di atas sampan. Ela melambaikan tangan ke arahku, cantiknya bukan main… Ku gesek mata dengan punggung telapak tangan, ah…rupanya halusinasi saja, aku mimpi rupanya, toh di tengah tasik tidak ada apa-apa, kecuali beberapa burung yang terbang merendah saja. Semakin kupeluk dengan erat saja tubuh Asti, tak ingin aku melepaskannya.
Di perjalanan pulang, Nabila tidur nyenyak di jok belakang. Kami kelelahan setelah sehari penuh mengelilingi tepian tasik.
“ Siapa gadis cantik yang melambaikan tangannya ke arahmu di tengah tasik,siang tadi?” Kata Asti tiba-tiba… tentu aku sangat kaget dan takjub.
“ Jadi..kk..kk..kau melihatnya, juga, Bu?”
“ Kemudikan mobil ini dengan benar, biar kita selamat sampai di rumah!”
Sukabumi Desember 2006
Komentar