Arsip untuk Desember, 2006

25
Des
06

Cerpen: Malam Natal, Seorang Wanita, Seorang Anak Kecil, Dan Empat Anjing

Keloneng lonceng Natal malam ini disambut requim nyanyian dalam gereja. Aku melewatinya. Hujan tetap tidak mau berhenti. Lorong yang kulalui padahal jalan besar yang sisi-sisinya di jejali pepohonan kecil. Dingin dan basah memang. Gelap, yang semacam remang-remang. Hampit tidak ada seorang pun lewat di sana, karena mungkin hujan. Entah lah orang-orang toh takut pada hujan…

Di sudut swalayan, seorang ibu sedang menidurkan anaknya. lantai bersih, jam menunjukkan pukul 09.00. Aku, pada mulanya hanya melihat sepintas saja, ibu dengan anaknya itu. Kecuali karena lelah ,setelah seharian bekerja disambung bincang-bincang di sebuah kafe dengan seorang teman, juga..cape memikirkan rencana seminar tentang kenakalan remaja. Hhh…kenapa yang dibahas toh kenakalan remaja, toh anak-anak yang sudah berumur 40 tahun pun masih banyak yang nakal.

Namun, ibu dan anak itu mengundang nyaliku. bayangkan… dia menidurkan anaknya di atas lantai swalayan, sedangkan…sehelai benangpun tidak melengkapi anak itu, tanpa busana. Kulitnya memang sedang, putih tidak hitam pun tidak, hanya…. badannya kurus minta ampun. Ibu itu sendiri raut wajahnya menyisakan gurat kecantikan, di masa mudanya bisa jadi ibu itu…seorang bunga desa. Kuyakinkan pada diri ini untuk tetap diam di tempat atau..ya kebetulan ada sebuah pohon besar. Di bawah pohon inilah aku berlindung sambil mengawasi mereka.

Aroma makanan bukan kepalang bermacam-macam merongrong dan mempecundangi rongga hidung. Dari kejauhan…entah dari mana datangnya, empat ekor anjing berwarna gelap berlari bergerombol, matanya merah-merah, lidah menjulur dengan air liur jijik, bulu-bulunya kuyup. Empat ekor anjing itu, mengawasi ibu dan anaknya.

Seekor anjing memberi isyarat kepada teman-temannya dengan kepala, ya…mereka mendekat…mendekati ibu dan anaknya. Tatapan mereka tertuju pada ibu itu.

Dari bawah pohon ini aku melihat dengan jelas, si ibu berdiri, sambil mengibas-ngibaskan kain lepek butut, mungkin berusaha mengusir empat anjing gelap itu. Tapi…apakah memang mataku  salah, empat anjing gelap itu menerjang si ibu.  Kaki si ibu digigit tiada ampun… Tangan, tubuh, dan kepalanya juga. Hingga dia jatuh terpuruk di samping anaknya yang masih tertidur pulas. Empat anjing gelap itu menggusur tubuh si ibu. Aku terpukau, tepatnya merasa tolol…sambil terus menggisik mata…

hampir tidak ada orang malam ini. nah…si anak itu tiba-tiba terbangun. Aha…dia berdiri..mencari-cari… memegang perut, aku bisa menerka..pasti dia lapar. Nah…dia berjalan menyusuri jalanan becek. Ah…gila…dia menaiki sebuah billboard reklame iklan makanan! Gilaaaaaa….,dia mengerati papan billboard itu, dihabiskannya gambar makanan itu!

Hhh….mungkin aku perlu istirahat banyak. Karena terlalu lelah.

Malam ini sepi, dari kejauhan masih terdengar keloneng lonceng gereja. Disusul nyanyian requim yang tidak bisa kuterjemahkan maknanya…

Sukabumi Desember 2006

22
Des
06

Cerpen: Hujan di bawah Pohon Akasia

Ini musim hujan. Semua tampak hebat. Lebih jauh, aku tidak bisa menelan kota Tasik apalagi menerjemahkannya dengan baik. Yang kumaksud adalah sebuah pertanda. Apa dengan musim hujan ini, kedatanganku ke kota ini betul telah tepat? Atau malah sebaliknya.

Tiba-tiba seekor kucing meloncat begitu saja dari kursi panjang di sampingku. Ah..rupanya terusir oleh atau diusik  oleh sekelompok anak kecil yang sedang asyik main bola sepak. Hujan bukan halangan bagi mereka untuk memainkan permainan mendunia itu. Sepak Bola! Kadang bola yang ditendang oleh salah satu pemain bukan hanya mengusik binatang seperti kucing saja, juga bisa membuat kumis seseorang bisa terangkat naik, saking terlalu asyiknya anak-anak itu menendang-nendang bola, sampai tidak bisa membedakan mana tiang gawang mana tubuh orang-orang.

Ini hujan gerimis. Tak perlu aku menghindar dari gerimis. Titik hujan susul menyusul menerjang tubuh kecilku. Sepanjang jalan yang kusaksikan adalah kabut tipis putih. Pepohonan , apalagi akasia di seberang jalan buramnya bukan main. Dalam pandanganku tampak kelabu.  aku duduk, setia menanti dirinya, di atas bangku panjang ini. Setia, mau dia datang atau tidak terserah. Aku yakin …inilah yang harus kulakukan, menanti dengan setia…Setelah janji yang kami sepakati kulanggar habis-habisan, Dia meminta kepadaku agar menemuinya dua tahun ke depan, namun Aku nekad, kutemui dirinya saat ini juga. Setengah tahun setelah mengenalnya.

Sebelumnya ,memang telah kukabari, Aku akan datang ke kotanya hari ini.

Menjelang malam, dia tidak datang juga. Ya..dia memang tidak akan datang. Sedangkan hujan minta ampun derasnya menembaki tubuhku. Aneh memang…rumah-rumah di kota ini tidak memiliki teras, tidak ada tempat di depan rumah bagiku untuk berteduh dan melindungi diri dari gempuran air hujan. Masuk kedai..mahalnya bukan main, harus ada tiket dengan harga 60.000,00.

Kuputuskan untuk berteduh di bawah pohon akasia saja. Sambil tetap menanti dirinya. Dia memang tidak akan datang menemuiku. Aku yakin itu, tapi aku memiliki tekad kuat, aku harus tetap menanti. Kusandarkan tubuh ini ke batang pohon akasia, lelah, gingin, menggigil, sampai akhrnya aku terlelap dalam impian murahan, mimpi bertemu dengan dirinya.

Cericit emprit menghajar mimpiku. Aku bangun, tubuh tersandar di batang akasia, baju kuyup basah, rambut penuh kotoran. Orang-orang memperhatikanku, melirik dan mengandung tanda tanya di wajahnya. Dari roman muka mereka aku bisa menerka, mereka mengatakan aku orang sinting, gembel, dungu, padahal aku hanyalah  tukang dongeng yang tetap setia menanti dirinya.

Mungkin perlu kudatangi juga rumahnya. Sepertinya tidak perlu! Tidak perlu! Dia mengancamku, jangan datang ke rumahnya sebelum batas waktu perjanjian jatuh tempo, dua tahun!!!

Ya…aku setuju… dalam hal ini mungkin aku perlu bersabar….terus menunggu dirinya di bawah pohon akasia meskipun hari demi hari hujan menerjang dan menembaki tubuhku…

Sejenak mataku yang telah kuyu dan sayu melihat, seorang wanita anggun bersahaja berkerudung merah jambu menuntun anak kecil. Di tangannya membawa boneka…ya ampunnn indah betul! Mereka melintas di hadapanku.

” Teh Ela…teh Ela…duduk dulu yuu, di kusri panjang ini!” Ointa si anak kecil.

Ah…seraut wajah itu tidak mungkin kulupakan. Ela! Dia? Namun aku telah lunglai, terlalu lama berbaring di bawah pohon akasia ini. Tidak sanggup diriku melangkah untuk menghampirinya. Aku berbaring dan melirik dirinya sepintas-sepintas.

1,2,3,5…sampai dua tahun yang dijanjikan. Aku menyaksikan dari bawah pohon akasia ini sambil berbaring. Dia, Ela, pujaanku, setiap sore duduk di atas bangku panjang itu ,bisa jadi menunggu diriku, di tangannya selalu setia memegang boneka.

Esoknya, esoknya, esoknya lagi, esok esok esoknya lagi, dia masih tetap setia menanti diriku. Hanya saja…air mata meleleh di pipinya. Ingin aku berteriak, namun…parau sekali suaraku…aku semakin parah di bawah pohon akasia ini.padahal begitu..sealu dekarnya aku dengan dirinya.

Sampai pada akhirnya, satu sore, dia membantingkan boneka ke atas tanah. menangis, tersedak, kemudian lekas pergi..sampai dia tidak pernah muncul-muncul lagi, duduk di atas kursi memanjang itu…

Sukabumi, 22 Desember 2006

Kupersembahkan untuk ibuku di hari ibu ini sebuah cerpen …bu maafkan aku!

Kupersembahkan juga untuk seorang Ela sebuah cerpen di hari ibu ini, La…jadilah ibu yang baik..suatu saat nanti!

20
Des
06

Cerpen: Guru dan Murid

Murid : Apakah rasa gula, pak Guru?”

Guru : Manis, nak!

Murid : Kenapa, Gula itu rasanya manis,
pak guru?”

Guru : Karena mengandung zat gula /
glukosa, nak!”

Murid : Kenapa zat gula itu manis, pak
guru?”
Guru : Karena mengandung glukogen, nak!”

Murid : Kenapa glukogen manis, Pak?”

Guru itu diam, kemudian mengambil
pentungan… namun tak berani dia
membunuh rasa ingin tahu anak didiknya.
dia mulai bijaksana dan mengalihkan
pokok bahasan pada pelajaran dongeng.
Maka berteriaklah anak-anak , bahagia,
ketika pak guru bercerita tentang kancil
dan buaya…

19
Des
06

Cerpen : Lelaki yang Melukis Cinta

Jika ada seorang lelaki yang meninggal karena putus atau kandas dalam cinta itu lumrah. Tidak menantang selera untuk dibahas apalagi dijadikan obyek berita. Tapi, jika ada lelaki yang melukis cinta dengan jemarinya sambil memeluk kerudung warna merah jambu di dadanya, mungkin itu bisa dijadikan dongeng sebelum tidur.

 

Begitulah, lelaki itu masih asyik menggerak-gerakan jemarinya di udara, seperti orang sedang menggambar sesuatu. Sedangkan tangan kirinya disilangkan di dadanya sambil merangkul kerudung berwarna merah jambu. Jika ditanya, “ Sedang apa, kau?” Dia hanya akan melirik sepintas lantas bergumam,” Aku sedang melukis cinta…”

 

Gila!? Ya, bagi orang yang hanya mau menggunakan kuantitas akliahnya memang demikian. Namun cobalah alihkan pandangan Anda! Segala sesuatu harus dilihat dari arah berbeda. Andai Anda bisa melihat lelaki itu dengan kacamata estetis atau seni, Anda akan terhenyak, betap goyangan jemarinya sedang melukikskan jajan cinta dirinya dengan seorang wanita.

 

Seorang wanita kini hadir daalam lukisannya. Cantik bukan kepalang. Wajahnya bersahaja. Khusuk sekali lelaki itu memainkan jemarinya di udara. Awalnya memang wajar. Percakapan, obrolan, basa-basi sekitar isi perut. Hingga dia mampu melukis bahwa dirinya sudah teramat jauh dan larut dalam kubangan cinta.

 

Ah, tiba-tiba dia menghentikan gerakan tangannya, ada rasa takut untuk menggores udara dengan  lentik jemarinya. Nah! Rupanya dia menulis beberapa untai kalimat, semacam percakapan. Biar saya terjemahkan , agar lebih jelas.

 

“ Seorang lelaki menghendaki bertemu denganku…” Ucap wanita itu.” Apa pendapatmu?”

 

dia menarik nafas ,dalam sekali.

 

“ Terserah kamu..” Ucapnya hampir setengah berbisik.” Namun aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu…Beri kesempatan kepadaku untuk mengakhiri cintaku kepadamu dengan sebuah kepastian, aku sungguh….!”

 

Namun… pada akhirnya, lelaki itu berani melukiskan kepastian yang jelas belum pasti. Akhirnya, pada akhir sebuah lukisan…wanita itu menemui lelaki yang menginginkan pertemuan dengannya. Sementara lelaki  itu hanya bisa menatap hasil lukisannya,  seorang wanita sedang berhadapan dengan lelaki lain….melakukan percakapan. Tidak ingin saya menerjemahkan apa yang mereka ucapkan karena air mata terlampau telah berkerubut saling susul di pelupuk mataku…….

 

Sukabumi, Desember 2006

Note: Ela…. Jangan biarkan hatiku hancur, jangan biarkan jiwaku remuk, aku percaya kepadamu…..Aku sungguh..tidak ingin kehilangan cinta…..tidak ingin kehilangan dirimu…

18
Des
06

Cerpen: Surat Untuk Ela Dari Seorang Lelaki yang Biasa Bercerita

La, dengan apa dan bagaimana aku bisa mengubah warna langit menjadi untaian kemilau merah jambu. Dengan apa dan bagaimana aku bisa mengubah samudera menjadi air kebahagiaan yang akan menghapus dahaga panasmu. Dengan apa aku bisa meyakinkanmu bahwa sampan asmara kini sedang berlabuh di dalam bisik-bisik kecil jiwaku.

Apakah aku mesti membawa sebatang pohon akasia lalu menjemputmu yang sedang mendendangkan lagu-lagu angin. Atau haruskah aku menyelami malam-malam gelapku sambil mencarimu yang masih tersulami rajutan entah. Mestikah kusingkapkan awan-awan yang megawang dengan lemahnya dayaku.

Aku tidak bisa memberikan untaian berlian yang akan menghiasi mahkota cintamu. Aku tidak bisa menghembuskan nafas emas yang akan mengindahkan tubuh muliamu. Mungkin aku hanya bisa memastikan, bahwa cinta itu ada dalam diriku. Walau gulungan cerita hanya sebatas pada alam imajinatif. Dan aku … hanya bisa memberi seuntai keinginan untuk menjadi purnama di malam gelapmu.

La, aku sungguh….

###

Lalu wanita itu melipat kertas, sedangkan pandangannya menatap ke sebelah Barat, di mana seorang lelaki sedang mengayuh sampannya memburu cepat. Matahari telah menitik di kaki langit , wanita itu terlalu lama menanti dan sudah saatnya untuk pulang…

Sukabumi, Desember 2006 Pukul 04.45 Senjakala

15
Des
06

Cerpen: Ela Hanya Ingin Tidur

” Bangun!” Teriak boss. ” Bekerja kok sambil tidur, mau saya potong gaji kamu, hahhh!?” Kumis boss bukan main merongosnya, tebal seperti ijuk terjemur matahari.

“Hhh…..” Ela menarik nafas. Malas membuka tumpukan kertas kerja. Seratus macam pekerjaan di depan matanya. Bahwa dirinya disibukkan oleh pekerjaan adalah masalah lain. Terpenting, dia begitu ingin tetap tidur. Membuka mata sama artinya dengan perbudakan, pengekangan, dan perampasan. Sebetulnya matanya ingin kembali terpejam, namun….ia takut boss menggebrak lagi.

Ya, baginya…tidur adalah sebuah kemerdekaan..

###

” Orang-orang itu!” Bisik Lastri , temannya. ” Coba Kau lihat, La!”

Ia melayangkan pandangan, ditatapnya wajah orang-orang. Memang hampir sama, semua larut dalam dunia pengekangan. Berjalan cepat. saling memburu dan mendahului. Ketika angin berhembus agak kencang, segera mereka mengerutkan jaketnya, atau mengangkat  krah mantel melebihi lehernya.

” Pantas Kau punya cita-cita ingin menjadi tukang tidur, La!” Lanjut Lastri, baso berukuran sebesar bola pingpong itu digigitnya mantap.

Ela hanya melirik, kemudian menatap kembali jalanan.

” Maaf!” Kata seseorang ketika tanpa sengaja menyenggol tubuh Ela. Sementara Ela tidak bergerak sedikit pun, segalanya ia biarkan berlalu, begitu saja.

” Hhhh… kemerdekaan sebenarnya,  memang hanya ada ketika kita tidur. Seperti katamua, La!” Lastri terus nyerocos, padahal dimulutnya masih padat baso.

###

” Ke mana Ela?!” Ucap boss, sambil memelintirkan kumis tebalnya.

” Dia tidak masuk kerja ,Pak!” Jawab Lastri. Hanya…dia titip pesan, Pak!”

” Apa katanya?”

” Ela hanya ingin tidur, itu katanya Pak!”

Boss mengernyitkan kening. Lelah memikirkan pesan dari Ela.

” Gendeng!!!” Ucap boss sambil berlalu…

……………………………………………………………………………….

Namun esoknya,

Semua pegawai terlelap tidur. Termasuk boss, bahkan ngorok bukan main ramainya. Kaki ke atas meja, badan nyender ke kursi, mereka seolah bisa menikmati kemerdekaan sebenarnya.

Jalan-jalan pun lengang. Tak ada deru mesin kemdaraan, tak ada raungan knalpot, tak ada teriakkan kernet bis, tak ada caci maki dan hujatan serta persinggungan lainnya. Hanya ada cericir pipit dan gereja di dahan-dahan mahoni, atau siul angin sepoi menyentuh dedaunan.

Di ujung jalan sebelah Selatan. Seorang wanita berdiri bersahaja. Di matanya menggelayut air mata bahagia. Betapa…..suasana seperti inilah yang ia inginkan. Damai ia berjalan menuju arah matahari ketika jilbab merah jambunya tergerai ditampai sepoi angin. Ela kini merasa bahagia, dan memang sudah saatnya…..

Sukabumi, Desember 2006

Untuk: Ela Nurlela……..Hmmmm

14
Des
06

Cerpen: Lima Dua Delapan Delapan

Sore ini cerah, awan hanya sekilas mampir di langit. Matahari kuning, menebar cahaya, menampar gedung-gedung pinggir jalan. Jalanan ramai, orang-orang berdesak-desakan. Aku ada di antara mereka. Tentu..tentu sangat bingung, setelah seharian mengelilingi Tasikmalaya, mencari seorang teman yang mengundangku datang ke sini. Dia Yaksa, tepatnya Yaksa Farid Maulana, memang tak ada hubungannya dengan Soni Farid Maulana, penyair asal kota ini…

Tasikmalaya. Langkah saya pada mulanya tertatih-tatih menyaksikan pemandangan kota ini. Kecil memang. Namun ada sebuah keunikan, bisa jadi keganjilan. Sepanjang jalan yang kulihat adalah tulisan-tulisan angka 5288. Di billboard, reklame, plank-plank lalu lintas, semua tertulis angka 5288. Apakah saking keramatnya, angka tersebut di kota Tasikmalaya?

Sebetulnya aku kurang percaya pada hal-hal magis, keramat. Hanya ingin tahu saja mungkin.

Aha… pada akhirnya kutemukan juga tempat tinggal temanku. Yaksa…teman lamaku. Penampilannya, menurut orang kota; elegan, kelimis, masih seperti dulu, enam tahun ke belakang, ketika kami masih kuliah dan saling debat masalah-masalah idealisme!

” Ah..kau rupanya, Tukang Dongeng!” Sambutnya, hangat bersahabat.

” Jangan sebut aku begitu…” Gumamku.” Bagaimana , hidupmu masih terpenjara dalam bola jatuh?”

” Itu masa lalu kawan. Jangan kau ungkit-ungkit lagi…”

Ya, bola jatuh. Ia tidak bisa menangkap bola ketika bola itu dilempar oleh Nirina, wanita idamannya. Hingga Nirina mencapnya sebagai pecundang. Tentu..Yaksa si penyendiri dan terkenal sebagai orang minder itu jatuh… enam tahun lalu.

Pemandangan di rumahnya, sama seperti di luar. Angka 5288, memadati dinding. Aneh?

” Ayo silahkan dimakan?” Pintanya, sambil memberikan sepiring makanan.

” Gilaaaa!!!!” Saya berteriak. Tanpa sadar, tentu saja. Makanan yang ada dalam piring itu adalah kue-kue dengan bentuk angka 5,2,8,8!

” Tak suka?” Ia menatap tajam.

” ….?”

” Lupakan semua itu! Kau pasti sedang bermimpi! Gigit jarimu!”

Aneh memang, aku…mengikuti kemaunaannya. Menggigit jari! Gilaaa! Sakit betul.. Dan..ya aku memang bangun. Aku memang sedang bermimpi. Namun..aku masih sedang ada di rumah Yaksa. Dan kembali ku lihat dinding-dindingnya, masih dipadati angka,5288…

“Aku pusing sekali hari ini…” Bisikku pada Yaksa.

” Wajarlah..baru kali ini kau ke Kota kami!” Ia berdiri.” Aku akan mengajakmu jalan-jalan..mau ikut?”

###

Kusisir alun-alun. Tanpa sepengetahuan Yaksa. Di bawah pohon mahoni besar, duduk seorang wanita berjilbab merah-muda, parasnya cantik bukan main meskipun sekilas saja kulihat.Dia duduk di atas kursi panjang. Lama aku berdiri di dekatnya.

Aku memberanikan diri duduk di sampingnya, memang agak berjauhan. Larut sekali dia dalam bacaannya. Sebuah buku dengan sampul, yaa ampunnnnnn! Berderet angka 5288.

Yang kuperhatikan bukan angkanya saat ini, melainkan kemuliaan gadis itu. Berjilbab indah, cantik, sederhana, parasnya tidak berlebihan.

” Teh..Ela…!” Seorang anak kecil berlari, menuju dirinya. Teh Ela??? O..si kecil rupanya adik gadis itu. ” Pulang Yuk! Papah dan Mamah menunggu…!”

Mereka berdua berlalu, sekilat sekali gadis itu melihat ke arahku. Kutatap punggungnya, ya ampuuunnnn… masih tertulis angka 5288 juga pada bajunya.

Hmm..Ela…Ela nama yang baguss..Gumamku! aku membaringkan tubuh di atas kursi…langit mulai tertutup awan sebagian. Dedaunan gugur mengguyur pelataran alun-alun. Ketika mata kupejamkan, terdengar langkah kecil trak…trak…trak…menghampiri kursi panjang. Ela??? Dia kembali…kontan saja aku segera membenarkan posisi, pura-pura..

” Maaf….apa Aa melihat angka 5288  yang saya simpan di atas kursi ini?”

Tentu aku heran. Namun…aku jelas, tidak bisa berbohong. Ingin kusematkan angka itu di belakang bajuku. Agar aku memiliki alasan, angka itu tertulis di bajuku! Gombal memang aku ini!
” Ehhh..ttttidak..saya tidak tahu, neng!”

” Hmmm… tidak apa-apa, terimakasih, Aa!”

Dia bergegas pergi. Allah….. Kembali kubaringkan tubuh ini, kini..dalam diriku dipadati oleh deretan angka 5288 lalu diganti oleh sebuah Ela, kemudian ke 5288 lagi terus sebaliknya. Sampai menjelang maghrib ketika kelelawar berpesta di angkasa, aku masih berbaring…..

Sukabumi,Desember 2006

Untuk seseorang, yang telah memadati jiwaku dengan kemuliannya. Dia…seorang wanita…..

13
Des
06

Cerpen: Menunggu

” Sedang apa, Kau?”

” Aku sedang menunggu…”

” Menunggu?”

” Ya, aku sedang menunggu waktu…”

” Aneh…!” Bisik nya,  Pemuda itu bergerak perlahan meninggalkan orang yang masih asyik duduk di kursi dermaga sambil menatap laut lepas.

Orang itu tetap diam menunggu. Padahal dermaga amat ramai dan berisik. Debur ombak terdengar mengalun tinggi,sirine kapal melengking memecah telinga. Orang-orang dermaga berebut tempat menyingkap angin darat menuju laut. Awan merangkak perlahan , camar berlari saling susul memburu matahari yang mulai tenggelamke dalam samudera.

Ia, orang itu, sering lama duduk memandang lautan, menunggu waktu. Pagi sekali telah duduk, menjelang siang sekedar menghilangkan penat, ia ikut makan siang di kedai Kustiman. Ke kursi dermaga kembali, duduk melongo menapa laut sampai malam menjelang, ketika dermaga telah sepi dan alam lelap di kekelaman. Ia merangkak menuju rumahnya. Ibu bapaknya hanya diam membisu, ketika membuka pintu.

Hari demi hari, sampai sepuluh tahun, orang itu masih tetap menunggu.Ya perubahan terjadi pada paras wajahnya, agak gimbal, rambut panjang, kumis merongos, jenggot lebat sebanding dengan perbahan dermaga. Dermaga semakin ramai, malam-malam sampai menjelang pagi tidak sepi lagi, para wanita penghibur ayik berebut jatah ketika nelayan mendarat. Namun ia tak peduli, hanya tetap menanti.

Seseorang melangkah panjang tergesa menuju kursi dermaga, lantas berdiri di sampingnya.

” betapa, sepuluh tahun aku meninggalkanmu. Ku tatap dunia ketika kau asyik menatap lautan. Pada dasarnya kita sama, aku menggali dunia, engkau pun demikian, aku menatap komputer, kertas-kertas kerja, televisi, dan engkau pun larut dalam harapan-harapan. ” Katanya sambil duduk di sebelah orang itu.  ” Toh..pada akhirnya sama, aku engkau siapa pun akan kembali. Dan kita hanya bisa menunggu saja….”

” Ya..kita hanya menunggu waktu!”

Mereka asyik menatap laut. Sore memang cerah. Teriakkan orang-orang dermaga tak mampir di telinga mereka. sampai…mereka mendengar suara langkah seseorang menuju ke arah mereka dengan bunyi..tuk…tuk..tuk…

Sukabumi Desember 2006

12
Des
06

Cerpen: Koruptor

Malam ini cerah bukan main, langit nyaris tanpa awan, sesekali meteor terlihat melintas. Di paviliun yang tergolong mewah, Tuan Borocorah, seorang pejabat Teras Kota Z bersama istri tercintanya, orang memanggilnya Nyonya Boro. Tuan pemilik paviliun asyik bersandar pada kursi goyang sambil membuka-buka surat kabar, perawakannya gemuk minta ampun. Sepadan dengan istrinya, bisa dikatakan gembrot.

” Ada berita hangat apalagi di koran-koran ,Pap?” Tanya sang Nyonya, masih asyik membersihkan kuku-kukunya, pada dasarnya kuku-kukunya memang sudah bersih, hanya terjebak dengan kebiasaan saja dia melakukannya.

” Akhir-akhir ini aku lebih fokus pada obituari daripada sekedar membaca berita-berita murahan, Mam!” kata sang Tuan tenang. Kembali membaca, lebih tepatnya melahap obituari.

” Bukankah kasus Tuan Zobaru juga masih hangat untuk kita bicarakan, Pap!?”

” Ah… ini Republik Inihdia, Mam!” Menoleh sesaat.” Cerita sama dengan berita, berita bisa jadi cerita….”

” Katanya, Tuan Zobaru akan digantung, memang pantas bagi koruptor seperti beliau itu digantung!” Ungkap sang Nyonya memperlihatkan ekspresi kesal berlebihan. ” Papa, setuju jika setiap koruptor harus dihukum gantung…?”

” Mana yang lebih baik, digantung atau dipenjara seumur hidup?” Sang Tuan membenarkan cara duduknya, meraih secangkir kopi panas.

” Entah!”

” Dua-duanya tidak perlu dilakukan. menggantung para koruptor sama dengan mengambil hak Tuhan. Memenjarakan seumur hidup pun sama dengan membunuh secara perlahan, kembali mengambil hak Tuhan…!”

Nyonya gembrot yang biasa ke salon itu kurang berselera nampaknya.  Tuan Borocorah, bangkit. Menatap istrinya. Dari saku baju kimononya dia mengeluarkan kotak kecil.

” Ini ambil!” Katanya kepada istrinya.

Nyonya Boro menyambarnya, kemudian tanpa menunggu disuruh, membuka kotak kecil itu. Matanya bukan kepalang setengah melotot melihat isi kotak, kalung dan gelang, masing-masing beratnya sepuluh gram.

” Bagaimana Papih bisa melakukan semua ini, bukankah tanggal gajihan masih harus menunggu dua minggu lagi!?” Katanya, ia mencoba-coba sambil tersenyum-senyum.

” Ya harus  bagaimana lagi toh kamu terus-terusan merengek meminta dibelikan semua ini. Bagaimana mungkin  aku bisa membeli rongsokan ini  kalau aku tidak mencontoh perbuatan Tuan Zobaru! Mam!” Kemudian ia melengos menuju rumah, meninggalkan istrinya.

Nyonya Boro tidak mendengar suaminya, ia lebih asyik dengan kalung dan gelangnya. Setelah selesai memakai dan bergaya, ia mengikuti suaminya ke dalam rumah. Di kamar, suaminya telah nyenyak tidur, kemudian dia pun tidur disebelah suaminya sambil memakai kalung dan gelang itu. Suasana pun menjadi hening, padahal malam itu beberapa gelandangan sedang diobrak-abrik oleh para petugas keamanan Negara Republik Inihdia, nun jauh di sana…

Sukabumi, Desember 2006

11
Des
06

Cerpen: Anak Jujur

Sore hari, rumah Tuan Baidowi, kepala Negara Malahsial telah dipenuhi oleh para tetamu undangan. Para menteri berjajar rapi. Menteri pertahanan dan Keamanan lingkungan, menerti Perumahan Rakyat dan Perumahan Murah, Menteri Dalam Negara, dan sejumlah orang-orang dekat Tuan Baidowi. Memang tidak seperti biasa, ada perayaan Ulang tahun anak Tuan Baidowi yang ke 5, ada acara syukuran.

Orang ramai berbicara, sambil melihat-lihat isi  rumah itu. Semua mungkin berdecak kagum.

Selang beberapa menit, terciumlah aroma merekah berasal dari dapur umum. Aroma ayam panggang. Semua serempak menghirup nafas dalam-dalam, kecuali mungkin Tuan Baidowi sendiri hanya sibuk dengan cerutunya.

” Sungguh aroma makanan yang sedap dan tidak terkira..!” Ucap Menteri Perumahan Rakyat dan Perumahan Murah Negara Malahsial, Tuan Anwar Harim. Tentu .sambil melirik Tuan Baidowi.

” Ya..istri seorang Kepala Negara memang selalu hebat dalam segala hal. Bukan demikian, Tuan?” Sambung Menteri Pendidikan Gratis, kepada Tuan Baidowi.

” Hmm…” Dengus Tuan Baidowi..” Yang memasak bukan istriku, melainkan..pembantuku!” Lanjutnya, tenang mengisap ceurut.

” O, pantas… para pembantu kepala negara memang serba unggul. Begini Tuan, seorang pembantu saja bisa tuan sulap menjadi juru masak tulen, Mungkin istri tuan dan tuan yang mengajarkannya, saya yakin itu..!” Giliran Menteri Pemberdayaan Orang-Orang Miskin yang bicara.

” Yaa… Tapi aku tidak mengajari pembantuku apa-apa, apalagi masak-memasak, istriku juga tidak!” Kata Tuan Baidowi..

” Oo..it’s great!” Semangat sekali Tuan Ong Eng Huek, Menteri Pemuda dan Remaja, ” Seorang Pembantu kepala negara memang sering kreativ, belajar sendiri, tak salah jika Tuan menjadikannya sebagai pembantu tuan..sungguh cocok, kepala negara memiliki pembantu seperti dia!” Lanjutnya.

Sementara, hidangan mulai datang. Ayam panggang, agak menghitam gosong, dilumuri bumbu kacang, tentu menciptakan pemandangan yang sangat menakutkan. Orang-orang mulai menggeser pantatnya.

” Ayo..silahkan dicicipi…!” Kata Tuan Baidowi mwmpwesilahkan.

Mereka serempak mencicipi hidangan itu.

” Wooowww… fantastis, nikmatnya ruarrrrrr biasa..!” Kata Menteri Perumahan Rakyat dan Perumahan Murah, sambil mengacungkan jempol tinggi-tinggi.

” Seperti hidangan di restoran elite… nikmatnya!”

” Hussh…tidak akan kita menjumpai hidangan hebat di restoran mana pun, begitu khan Tuan?” Kini giliran Menteri Perundang-undangan yang angkat bicara padahal pendiamnya bukan main!

Sesaat kemudian, Baidowi, Jr, anak Tuan Baidowi melepaskan sendok dan garpunya di atas piring.

” Ada apa nak?” Tanya Tuan Baidowi, semua mata memandangnya.

” Ayam panggang ini pahit dan… bumbunya terlalu asin, papi!” Ucapnya jujur.

Orang-orang memerah wajahnya, sedangkan Tuan Baidowi langsung menggolekkan tubuhnya sambil mengisap cerutu, tampak tenang. Sementara, juru kamera sebuah televisi swasta,RCTM, menyorot wajah
Nona Aryanti, Menteri Muda Urusan Peranan Kaum Hawa yang tampak tersenyum, apalagi cantiknya bukan main!

Sukabumi, 11 Desember 2006.

09
Des
06

Cerpen: TORNERO

-untuk Almarhumah Tetra Yusticia-

 

Orang akan menangis sejadi-jadinya ketika kehilangan orang-orang yang paling dicintai. Begitulah, Rasulullah meneteskan air mata ketika istri tercintanya, Siti Khodijah, dan Paman tercinta, Abu Thalib meninggal dunia.

 

Pun saya, seorang tukang dongeng yang sering menengadahkan harapan pada sebuah cita-cita merasa lunglai, terpukul berat, ketika seseorang yang sangat saya kagumi, teman yang selalu saya nantikan kehadirannya meninggal dunia. Dia….Tetra Yusticia.

 

Tak akan ada lagi orang yang menggantikan posisi Tetra Yusticia. Dia yang saya kenal satu tahun silam. Yang pernah berbagi. Yang pernah memberikan dukungan. Yang pernah melontarkan senyum sapa. Yang pernah melukiskan drama kehidupan. Yang selalu mencaci absurdnya jalan hidup. Yang berjanji akan menemani hari-hariku di bawah pohon akasia sambil mengumpulkan dan menghitung daun-daun kering, menunggu harapan. Tetra Yusticia yang berjanji akan menjadi matahari di gelap malamku…

 

Saya dan Tetra Yusticia sering berbagi, kalimat-kalimat yang tersusun begitu rapi, mungkin menghipnotis realita. Dan…saya masih ingat, di tengah perjalanan mengenalnya, saya sering mengirimi untuknya, bahkan menulis cerpen dengan judul: Selimut Buat Tetra.

 

Kini, 07 Desember 2006. setahun lebih dua bulan setelah saya mengenalnya. Setelah keakraban itu mulai ranum dan akan berbuah harapan. Setelah dalam diri saya muncul keinginan besar. Tetra Yusticia meninggal dunia. Saya menangis sejadi-jadinya. Bathin teriris, perih..pedih….menyakitkan.

 

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Tanggal 07 Desember 2006, saya pulang kerja hingga pukul 09.30 malam. Hujan sehari penuh mengguyur pelataran tanah Tuhan. Jalanan becek. Aroma dan aneka sampah terkapar sembarangan secara acak. Letih menerjang diri saya. Melewati rumah-rumah yang membeku terasa risih dan ringkih. Hhh..di depan rumah Tetra Yusticia kerumunan orang sesak. Tidak seperti biasa. Saya tergesa melangkah. Hingga……seseorang mengabarkan : Tetra Yusticia meninggal dunia..

 

Saya menggigil hebat, menggigit bibir, dada sesak, saya sandarkan tubuh ini pada pagar rumah dengan tatap kosong melongo seperti orang bego. Hampir saja kepala saya membentur tembok, jika tidak ditahan oleh seorang teman.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Tubuh kaku, membatu, membeku, putih pasi, membujur di hadapanku. Tubuh mulia Tetra Yusticia tertutup kain batik cokelat. Untuk terakhir kalinya saya melihat wajahnya. Mengapa wajahnya begitu cantik malam ini. Secantik poto-potonya yang saya simpan rapi dalam memori kehidupan ini. Air mata menetes deras …

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Esoknya, pusara baru tanah merah tersembul di antara kubur-kubur tua. Para pengantar dan pengusung jenazah telah pulang. Sementara saya masih membatu mendekap, tepatnya mencumbui kuburan Tetra Yusticia.

 

Hujan mulai turun, saya tetap bercumbu dengan kuburnya. Mencakar tanah merah, hingga baju kotor. Sambil saya menatap nisan bertuliskan: Tetra Yusticia Wafat 07 Desember 2006 Pukul 20.35…

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Sore hari, untuk membunuh penat dan resah saya menyempatkan diri ikut jalan-jalan bersama beberapa teman. Ramai dan riuh alun-alun. Saya duduk di bawah pohon mahoni besar, seorang wanita dengan penampilan menarik, memakai stelan kaos ketat dan celana jeans biru langit tanpa sungkan duduk di sampingku. Pada bibirnya terselip Marlboro Menthol, aroma segar tercium meriah.

 

“ Perkenalkan…nama saya Tetra Putri S*******G….” Katanya tiba-tiba.

 

Saya kurang merespon, masih trauma dengan kematian orang yang sangat saya kagumi. Meskipun saya mendengat, nama depannya persis. Tapi jelas sekali dia bukan Tetra Yusticia.

 

Hingga, aku hengkang begitu saja, sementara saya bisa menangkap dengan jelas dari mulut wanita itu keluar cacian, serapah : “ SHIIIIIITTTT/ Sialan..” Ucapan yang belum saya terima dari wanita manapun, apalagi dari Tetra Yusticia. Tak pernah dari mulut Tetra Yusticia keluar ucapan sarkasme liar dan mesum seperti itu….ya…memang..dia bukan Tetra Yusticia..dia hanyalah Tetra lain yang kebetulan namanya persis sama….dan tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Tetra Yusticia..

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Malamnya… saya bermimpi bertemu Tetra Yusticia. Tetra Yusticia sedang duduk di atas batu di tepi telaga sambil memasukkan kakinya ke dalam air. Kugapaikan tangan ini untuk menyentuhnya, tak sampai… malam ini Tetra Yusticia sangat bahagia di surga. Bercanda bersama kupu-kupu warna-warni yang mengitarinya. Dan bidadari-bidadari  kecil membawa rebana mendendangkan syair-syair:

Hold the lights, about sailing into the sunset

With you

Our love

And my heart

You spoke to me with your eyes

I understood with my heart

When you said : should-end

It is not goodbye

Just

Overmacht

Because I know…

Some day

Someway

We’ll meet again.

 

Ya, tidak ingin saya bangun dari mimpi ini. Saya masih ingin melihat Tetra Yusticia bahagia….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Notes:

Tetra Yusticia engkau benar, tidak ada keadilan di dunia ini, yang berserakan hanyalah kemunafikan, pengkhianatan, kejujuran yang dibuat-buat, persinggungan, kesia-siaan, konspirasi, keabsurd-an, potensi-potensi jahat lainnya, dan..sayalah sebagai korbannya….

07
Des
06

Cerpen: Bunga Desa di Tepi Tasik

Pada liburan sekolah tahun ini, anakku, Nabila mengajak tamasya ke sebuah tasik yang berada di selatan Kota ‘S’. Tentu, merupakan permintaan yang jarang. Tahun-tahun sebelumnya ,Nabila meminta tamasya ke Pangandaran, Pelabuhan Ratu, dan Jatiluhur. Dengan satu alas an, anakku menyukai air. Persis, aku juga menyukai ikan-ikan kecil, terang saja ada hubungannya dengan air.

Ini hari Minggu, aku, Asti ,dan Nabila sudah meluncur ke selatan. Pepohonan masih membeku, udara daerah Selatan memang teramat sejuk lantaran rindangnya pepohonan masih lebat, sepagi ini kabut masih menyelimuti alam, kami larut dalam nuansa takjub. Perlahan sekali aku mengemudikan mobil. Memasuki sebuah perkampungan, keadaannya menyulap kesadaran kami, terutama Nabila, anakku tunjuk sana-tunjuk sini. Areal pesawahan menghampar ranau, baru musim cocok –tanam, jelas sekali mata kami tersihir oleh keadaan, setelah satu tahun penuh hanya mnenyaksikan lalu-lalang kendaraan dengan emisi pekar, kemacetan lalu-lintas, rel kereta api, gedung-gedung pencakar langit, lampu neon, monitor computer, orang-orang dengan wajah membatu dan bergerak sama menyusuri lorong kehidupan persinggungan. Kini kami menyaksikan, air bening mengalir di selokan dan parit-parit kecil, bebukitan biru tua tersembul di antara kabut, penampilan orang-orang kampong alakadarnya, dan emprit-emprit di dahan.

Setelah melewati sebuah tanjakan terjal, tasik dan aroma airnya telah tercium. Tasik itu sendiri memang terletak di atas sebuah bukit. Nabila menunjuk semangat, biru air terlihat meskipun kabut masih buram. Nabila bertepuk tangan girang, aku dan Asti saling menatap, betapa cantik wajah Asti hari ni, sekilas-sekilas sinar matahari menampar pipi putihnya, melukiskan kemilau dan rona estetika agung.

Rupanya, padat sekali orang-orang di sekitar tasik. Memang seperti itu, setiap musim libur, tasik akan dijejali oleh para pengunjung. Ya, nectar alam memang tercium begitu kuat di daerah selatan.

Tanpa disuruh pun,Nabila berbegas keluar dari mobil, berlari menuju tepian tasik. Asti memburu cepat anakku. Aku tertegun sebentar, seutas senyum secara spontan menyeruak keluar dari mulutku, membekas di wajahku, aku terus menatap lekat tepian tasik.

Begitulah, dengan alas an tertentu aku terjebak pada kenangan sepuluh tahun ke belakang. Yang kusaksikan di tepia tasik ini adalah sekumtum bunga tumbuh, kelopaknya indah, mahkotanya pualam. Benar, sepuluh tahun yang lalu…

Kami berlima, mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian, Aku, Yono, Indra , Herni, dan Rahma tersihir oleh indahnya aroma sekitar tasik. Pandanganku membentur seorang gadis, tinggi semampai, memakai stelan kebaya dan sarung batik. Dia berdiri menghadap tasik. Kecantikan wajahnya- jelas- tak tersembunyikan.

“ Dari mana dulu kita mulai penelitian ini..?” Tanya Rahma kurang berselera.

“ Ah…bosan…baru juga sampai..” Dengus Indra.” Kita bunuh dulu kepenatan ini. Eksperimen, anatomi tubuh katak, pipet, mikroskop, tabel , data, kita simpan dulu, oke!” lanjutnya, hmmm… pada dasarnya kami memang sependapat dengan Indra.

“ Hushhh…mata kamu itu !” Sergah Herni, mengipaskan telapak tangannya tepat di depan wajahku.” Ingat si Asti , Boss!” Hhh….Asti, mahasiswi FISIP semester empat itu, anak pendiam, tukang baca buku filsafat seharian. Sejauh ini, aku memang menaruh hati padanya.

Dan, tak bias kutahan lagi. Ingin sekali kupetik kuntum bunga desa di tepi tasik itu. Bunga desa? Ya…jawab pikirku. Ah.. dia jongkok memasukkan tangannya ke dalam air, kemudian tercipratlah kemilau air ke angkasa, manis sekali ketika tertubruk mentari pagi. Hanya saja…mengapa ada berkas cahaya mengalir di pipi putihnya, air mata..?

“ Sebentar…” Kataku kepada teman-teman, aku berbegas menuju tepi tasik, mendekati bunga desa yang masih ayik memainkan air.

“ Indah benar, ya?” kataku di pinggirnya. Tatapanku menembus tengah tasik, aku baru menyadari betapa luasnya tasik ini.

Bunga desa menghentikan permainan airnya, sekilat menoleh ke arahku. Lalu kembali memainkan air perlahan. Aku jongkok, kemudian mengikutinya mepermainkan air dengan jemari.. ah…dia tersenyum.

“ Sering ke sini, ya?” Aku semakin berusaha.

Lha… dia terbahak kecil, kontan..aku pun tersenyum mengiringi seringai senyumnya. Irama tawa kecil keluar.

Perlahan, dia menyeka air mata yang masih meleleh di pipinya.

“ Atau..rumahmu di sekitar sini?” Aku terus bertanya, semakin berani,ah tepatnya penasaran .

Dia mengangguk, sambil menunjuk sebuah rumah dengan atap rumbia, berukuran sedang, dan sederhana. Hh..tepat di samping sebuah bungalow di mana aku dan teman-teman menginap.

“ Nah, aku dan teman-teman menginap di bungalow di samping rumahmu!” Aku menjentikkan telunjuk, memastikan.

“ Hihihi…” Dia tertawa lirih,” Itu bungalow ayahku!”

Kami tersenyum serempak.

Seminggu lamanya aku dan teman-teman mengadakan penelitian di sekitar tasik. Bunga desa semakin mengharum dalam diriku. Setelah isya, kami sering mengobrol di beranda rumahnya, namanya Ela, namun tetap saja menjadi misteri, belum sepenuhnya aku mengetahui secara deatail, apalagi tentang air mata yang mengalir di pipinya.

Kami kembali ke kampus.

Di kampus ada rumor hebat. Aku digosipkan telah jadian dengan Asti sikutu buku. Ah..aku pikir, andai benarpun, aku selalu berdiri pada tepian lain sedang Asti berdiri di sisi lain. Artinya…semerbak bunga desa itu belum hilang dalam otakku! Hanya..aku pun menyukai Asti.

Sebulan kemudian, aku memberanikan diri menghampiri Asti, tentu di perpustakaan. Aku duduk di hadapannya. Beberapa buku tebal menumpuk di samping buku yang sedang dibacanya.

“ Besok aku akan ke tasik sebelah selatan Kota “ S “ …. aku..mau mengajakmu, jika tidak keberatan…”

Asti menatapku lekat, menembus detak jantung dengan kacamata tebalnya. Ia menutup buku, sekilas kulihat , dia sedang membaca Albert Camus. Menatap lama diriku. Kemudian membuka buku lagi, membaca lagi, tanpa kata keluar dari mulutnya. Aku kikuk… setengah jam aku duduk dan dia asyik dengan dunianya di dalam perpustakaan.

“ Aku akan menunggumu besok pagi, di depan rumah sakit!” kataku sebelum keluar dari perpustakaan.

Esoknya, aku meluncur dengan sepeda motor memotong dan mengupas rapatnya dingin udara pagi. Menuju rumah sakit. Hmm… di bawah pohon akasia depan rumah sakit, Asti?? Asti berdiri.

“K.kkau??”

Asti tersenyum, pagi ini dia begitu berbeda dengan kemarin, pakaiannya sopan sederhana. Kami pun bergerak menuju daerah selatan Kota “S”.

Yang pertama kulakukan ketika sampai di sekitar tasik adalah mengunjungi bungalow, tempat di mana kami menginap selama mengadakan penelitian sebulan yang lalu. Ah..penjaga bungalow yang ku kenal, Ahmadi namanya, sedang bersih-bersih.

“ Aku tidak melihat bunga desa itu di tepi tasik, Mang!” Aku memang tidak sabaran.

“ Bunga desa?” Ahmadi menoleh,” Ooo..maksudnya neng Ela, den?”

Aku mengangguk, paras Asti berubah, bisa kulihat.

“ Bungalow ini telah dibeli oleh orang lain, den. Neng Ela bersama keluarganya telah pindah,katanya sih ke daerah Tasikmalaya…”

Jelas..aku tersenyum hambar.

Kuajak Asti ke tepi tasik di mana, sebulan yang lalu aku menemukan bunga desa itu berdiri anggun. Asti berdiri menatap tengah tasik. Lalu jongkok memainkan air. Kuikuti tingkahnya. Sambil kuceritakan perjumpaan kami dengan bunga desa itu sebulan lalu.

“ Indah benar, ya, As?”

Asti tersenyum, masih asyik dengan air.

“ As…aku akan meminangmu setelah wisuda nanti!” Kataku meskipun sedikit kelu, setangah berbisik, lalu kupasangkan di telinga Asti kepastian yang benar-benar pasti!

###
“ Papa, Mama, indah betul ya, danau ini?” Kata Nabila, tangannya memainkan air. Kutatap Asti, begitupun sebaliknya, ku dekap erat dia, kami jongkok perlahan lalu memasukkan tangan ke dalam air, seperti sepuluh tahun ke belakang, aku dan Asti memainkan air. Aku mencium keningnya sangat mesra.

O, tanpa sengaja, aku melihat, di tengah tasik, bunga desa bersama orangtuanya di atas sampan. Ela melambaikan tangan ke arahku, cantiknya bukan main… Ku gesek mata dengan punggung telapak tangan, ah…rupanya halusinasi saja, aku mimpi rupanya, toh di tengah tasik tidak ada apa-apa, kecuali beberapa burung yang terbang merendah saja. Semakin kupeluk dengan erat saja tubuh Asti, tak ingin aku melepaskannya.

Di perjalanan pulang, Nabila tidur nyenyak di jok belakang. Kami kelelahan setelah sehari penuh mengelilingi tepian tasik.

“ Siapa gadis cantik yang melambaikan tangannya ke arahmu di tengah tasik,siang tadi?” Kata Asti tiba-tiba… tentu aku sangat kaget dan takjub.

“ Jadi..kk..kk..kau melihatnya, juga, Bu?”

“ Kemudikan mobil ini dengan benar, biar kita selamat sampai di rumah!”

Sukabumi Desember 2006




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,674 hits

 

Desember 2006
M S S R K J S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay