Arsip untuk November, 2006

29
Nov
06

Cerpen : Efarin

Tujuh belas tahun yang lalu, istriku melahirkan bayi mungil. Wajahnya manis bagai nektar mawar yang dikitari lebah-lebah. Badannya montok, putih , kenyal, seperti ibunya. Tangisnya memecah hening malam, waktu itu purnama, orang ramai di luar setelah menunaikan sholat tarawih. menjelang idul-fitri, tiga hari lagi. Anak-anak ramai pula. Dan, kumandang kebahagiaan terdengar di dalam rumah ku.

Kami, orang kampung. Ketika ada bayi lahir memang ada kebiasaan turun-temurun, menunggu sampai bayi lahir. Lalu, orangtua jabang bayi mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri. Aku pun demikian. ayah ibuku mesem-mesem menerima kehadiran bayiku yang manis. Istriku bahagia, keringat yang mengguyur tubuhnya. Setelah dukun beranak memandikan bayiku, bayiku masih terisak. Namun telah diselimuti oleh kain kebat neneknya. Sesaat kemudian ia tersenyum, bayiku seorang wanita.

Kami , orang-orang kampung berdiskusi untuk memberi nama bayiku. Ayahku yang pertama berkomentar: ” Awalnya harus pake kata Siti… biar persis dengan para istri Rasulullah..!” Katanya sambil mengisap cerutu, sedangkan kaki ditumpang pada kaki lainnya, cara duduknya bahagia..

Kini giliran nenek bayiku yang berkata,” Namanya… harus indah, Siti Maryam, siti Maesaroh, siti, Khadijah… biar nanti menjadi orang baik-baik anakmu..”

Mungkin, aku harus mempertimbangkan pendapat mereka. Terlintas dalam benakku, untuk memberi nama anak itu sesuai dengan kondisi kelahirannya. Dengan alasan kondisi dan situasi waktu itu, orang-orang kampung bahagia karena sebentar lagi idul-fitri, apalagi diriku dan istriku, sangat bahagia, maka kusematkan pada bayiku, nama paling indah dan paling asing. Siti Efarin!

ayah dan ibu, pun para tetangga saling menatap. ” Siti Efarin!?” Teriak mereka…

Aku menjelaskan, Efarin itu punya arti penting, Orang yang akan selalu bahagia dalam kondisi apa dan bagaimana pun. mereka agak mengerti dan memahami, toh itu anak saya, mau diberi apa saja terserah orang tuanya, apalagi istriku tidak melarangku, sepertinya ia setuju-setuju saja, Siti Efarin disematkan pada anak pertama kami. Tentu, kebahagian itu bukan tanpa alasan. 30 tahun kami menjalani hidup berrumah tangga, belum dikarunia seorang pun anak. Maka, kebahagiaan istriku sangat berlebihan, EFARIN!

Pada akhirnya, orang-orang kampung tahu, anak pertamku bernama Siti Efarin. meskipun, masih ada beberapa komentar: ” Memberi nama anak kok berlebihan begitu, orang khan jadi bingung dibuatnya, apalagi di kampung ini belum ada nama seperti itu…” Toh aku dan istriku hanya mesem-mesem saja. Artinya, kebahagiaan kami tidak bisa dikalahkan oleh obrolan orang-orang yang membicarakan seputar pemberian nama itu.Kakek dan Nenek Efarin pun pada akhirnya setuju terhadap nama itu. Yang penting di depannya ada kata Siti, ungkap Nenek Efarin.

Efarin tumbuh seperti yang aku terka, menjadi anak cantik, ceria sesuai namanya, memiliki cita-cita melangit, konon ia ingin menjadi bidadari dunia,ingin menjadi guru, ingin ini-itu, kutanggapi dengan seutas senyum. hanya, ia memiliki kebiasaan, selalu bahkan harus didongengkan kepadanya sebuah cerita sebelum tidur. Banyak cerita yang mesti kuhafal, meskipun diriku hanya seorang tukang gali pasir. Ya, terpaksa saya setipa minggu menyempatkan diri membaca beberapa buku, meminjam dari tetangga atau membeli beberapa koran , beritanya kuceritakan kepada Efarin kecil, berita kuanggap cerita karena ketidaktahuanku. Toh, Efarin pun senang-senang saja ketika berita kuceritakan kepadanya.

SD, SMP, dijalani Efarin dengan mulus.

Justru, ketika jalan itu terlihat mulus dari sinilah awal bebatuan dan tikungan menerpaku. Di usianya yang ke 15, istriku meninggal dunia. Efarin mulai memperlihatkan gejala ketidakbahagiaan, tentu saja. Aku.. pun demikian, ketika istriku meninggal ku gali dalam-dalam tanah itu dengan cangkul. Aku gelap!

Hari-hari kulalui dengan kepayahan, tanpa istri, aku duda. Efarin rupanya, sudah membaik…

Aku, bisa dikatakan sebaliknya. Sejak meninggalnya istriku, aku hidup mengering, bisa jadi dikatakan payah, sangat payah. Pagi sampai menjelang dhuhur kuhabiskan hanya duduk di atas kursi goyang sambil menatap jalan, ada semacam harapan..istriku siapa bisa datang lagi, muncul di persimpangan jalan ini, seperti ketika awal pertemuan kami, dia datang membawa sekulum kebahagian yang tercermin dalam barisan gigi putihnya. Hanya… sampai dzuhur dia tidak muncul-muncul, ya aku tahu itu hanya harapan lebih dekatnya mungkin sebuah obsesi aneh.

Namun, sekali lagi, Efarin telah baikan, bahkan kembali ke alamnya, penuh keceriaan sesuai namanya. Pagi menjelang berangkat sekolah dia telah selesai beres-beres, mulai dari kasur , mencuci perabotan dapur, dan mencuci pakaian, kemudian dia menghampiriku dan bersalaman, dia merasa ada yang telah hilang dalam diriku sejak meninggal ibunya. Kebiasaan Efarin sama dengan ibunya, mungkin warisan mental, ia gigih dan menganggap bahwa hidup itu memang bisa dijalani dalam kondisi bagaimana pun, kegemarannya membaca Chekov bisa jadi warisan dariku, aku sering membaca karya-karya Penulis dunia. Tapi..sekedar membaca saja, pada praktiknya aku kalah dari Efarin.

Menjelang dzuhur, aku hanya menggeser pantat sedikit ke sebelah kanan, lalu tangan mengepal membuat sebuah tinju, alis mata mengangkat sedikit…

Pukul 14.00, Efarin pulang, anak berbakti, dia langsung mempersembahkan apa yang semestinya dilakukan oleh seorang anak kepada bapaknya. Meenyalamiku, mencium tanganku, kemudian disusul dengan sebuah pertanyaan, sambil mengelap keringat di kening putihnya,” Bapak sudah makan belum?”

Setiap siang, yang aku dengan adalah pertanyaan yang sama. Aku biasanya hanya mengerutkan kening, menggigit bibir, dan menatap dengan kosong ke tempat yang jauh, dengan demikian pun Efarin akan memahami, itu adalah sebuah permintaan. Dia langsung membuka bungkusan yang dikeluarkannya dari dalam tasnya. Roti bakar hangat. Aku malu bertanya, kok mudah sekali Efarin membeli roti bakar padahal, sama sekali aku tidak memberi uang lebih kepadanya. Uang jajan hanya mengandalkan uang dari penjualan tanah sejak satu tahun terakhir. Di luar memang banyak yang menerka-nerka, Efarin anakku memiliki wajah cantik, wajar jika teman-teman sekolahnya, khusunya teman lelakinya pada memperhatikan dirinya. Ah, aku pikir teramat sederhana jika aku menganggap ucapan orang-orang benar adanya.

Bersambung

14
Nov
06

Cerpen: Jika Aku Meninggal, Kuburkan Jasadku di Bawah Pohon Akasia Dekat Rumah sakit…

Aku masih menyusuri lorong sempit dan penguk ini, rapat sekali udara pagi dengan dingin, kabut, dan suntuknya. Padahal hari sudah naik, tapi udara tetap dingin dan kabut menutup pintu-pintu pagi di lorong penguk dan lembab ini. Orang-orang, laiknya disebut jembel-jembel mulai bangkit, keluar dari gubuk-gubuk kardus yang disusun tak karuan. wajah mereka tidak bisa menyembunyikan payah dan kepayahan. Kotor, kucel, air tak pernah menghinggapi muka apalagi wajah mereka. aku seorang, penulis yang sering menyergap kenyataan-kenyataan ini terus berjalan menyusuri lorong penguk ini sambil terus melihat-lihat. selain itu… aku memang telah sekian lama terserang penyakit aneh yang mengghinggapi saluran pernapasanku. Dokter telah memvonis, penyakit yang menyergap diriku bisa membawaku pada sebuah kematian, jika terlalu banyak beraktivitas. aku bisa jadi TBC, radang tenggorokan, atau, penyakit saluran pernapasan lainnya yang tidak aku ketahui apa itu istilahnya.

Berjalan di sepanjang lorong penguk ini terbentur mataku pada dinding-dinding berlumut, rapat bata-bata merah telah menghitam, bangunan setinggi 10 tingkat itu, di antara lorong [penguk ini dijejali oleh tali-tali , pakaian tergantung-gantung berkibar tertiup angin, Bh, kutang nenek, celana dalam bolong, berserak meramaikan udara. Sepintas saya tersenyumk menyaksikan aroma kosmopolitan ini. Tak kudengar emprit, hanya tampil bisingnya teriakkan-teriakkan, anak meminta uang jajan sekolah, raung sepeda motor butut.

Di mulut lorong inilah, seolah-olah ada dimensi lain. Dimensi cakrawala keindahan. Alam sebenarnya, meskipun jembel-jembel termasuk aku kurang memperhitungkan kenormalan hidup. Bisa jadi tak ada yang normal dalam hidup ini yang ada hanyalah hidup. Dari mulut lorong penguk ini, ada dimensi cahaya, aku melihat gedung-gedung tertata indah, mall-mall mencakar langit, jalan-jalan bagus, mobil merseliweran, lalu -lalang orang berpakaian wajar. Wangi parfum.

Seorang penulis penyakitan sepertiku , meski dilarang dokter untuk melakukan aktivitas berat, tetap harus berjalan-jalan. apa berjalan -jalan aktivitas berat, ah…aku pikir wajar dan biasa-biasa saja. Setelah menyusuri lorong lembab dan penguk, aku memasuki dimensi cahaya.

Mobil berseliweran, sepeda motor, becak sudah tidak ada, lima tahun yang lalu telah menjadi rongsokan di kotaku. Jalan beraspal licin mengkilap tertubruk cahaya matahari yang menggeliat di balik gedung-gedung pencakar langit. Aku terus berjalan di lorong dimensi cahaya ini menuju sebuh tempat. Tempat di mana orang-orang sering mengunjunginya pula. Bukan karena keteduhannya semata, kecuali karena cerita dari mulut ke mulut tempat itu begitu bersejarah, tempat para sinyo dan noni Belanda beristirahat dan menghilangkan kepenatan mereka di zaman dahulu. Juga ada cerita di tempat itu pernah dikubur beberapa jasad tak berdosa karena sebuah fitnah. Tempat di mana beberapa pohon akasia tumbuh rindang.

Ya, orang-orang telah ramai di bawah pepohonan akasia, pagi masih melukiskan embun di dedaunannya. Beribu-ribu dedaunan kering jatuh di bawah pohon akasia, tubuh kering kurusku terhujani olehnya, laksanan hujan yang mengguyur. Aku semakin lunglai, m,ungkin dalam pandangan orang-orang aku hanyalah setan atau jerangkong hidup yang sudah pasrah dengan kenyataan, ya..orang memandangku besok akan meninggalkan pepohonan akasia.

Aku pernah kandas di bawah pohon akasia ini. Hidup aku meranggas kering, ketika wanita yang kuinginkan telah kumentahkan dalam jalan hidupku. Hujan dedaunan menggerai-gerai di batas kesadaranku. Hampir aku terjatuh membentur di batang akasia…

Seorang wanita setengah baya, di tahun 65-an, terjebak arus politik. Ia dikejar beberapa lelaki, ditelanjangi kehormatannya, diserbu dengan caci-maki, batu dan barang-barang lainnya membuncah di tubuhnya. barangkali  tidak sampai cukup di sana penyiksaan orang-orang, dia digantungi semacam papan bertuliskan, antek PKI. Padahal, menurut kakek, wanita itu hanya dijadikan objek fitnah, kakek mengenal betul wanita malang itu, seorang tukang nasi wuduk yang biasa mangkal di sudut persimpangan jalan di bawah pohon akasia, yang waktu itu masih pendek, belum tinggi seperti saat ini.

Datanglah kepadanya seorang lelaki hendak melamar. Pituko namanya. Hingga ia benar-benar dijadikan istri oleh Pituko. lima tahun berlalu, Pituko mulai menghilang dalam agenda hidupnya. Ada kabar, di tahun 65 an ini, Pituko ikut terlibat dalam gerakan  PKI. Ia ditangkap dan dilenyapkan. Data-data itu masuk ke negara, hingga Laksmi, dituding telah bersekonmgkol p[ula dengan PKI.

” Bakar, gerwani ini…!” Teriak beberapa lelaki, sambil memanfaatkan situasi, menggerayangi payudara Laksmi.

Dan, di bawah pohon akasia ini, tubuh Laksmi dibiarkan melunglai, terduduk bersimpuh darah, hinggga papan bertuliskan antek PKI itu tetap menggelantung di lehernya, hingga dirinya sempurna menjadi mayat.

” Bang, saya rasa hubungan kita  bukan sekedar kepura-puraan. Kita harus mengakhiri masa remaja kita, apa kata orang tua kita, tiga tahun kita berpacaran?” Ella, menilik diriku. Tentu saja tanpa ditanya pun aku semakin kikuk, tersudutkan di rindangnya akasia.

“  Aku…..aku…”

” Kamu lelaki pengecut, bang. Ingat bukan diriku yang mencampakkanmu, melainkan dirimu telah menyia=nyiakanku… ” menangislah Ella….Ya, dia menitik. Mungkin aku lelaki pengecut seperti kata dirinya. Namun…aku terlalu ..sangat..tidak berani untuk mengekhiri masa remaja Ella, andai Ella tahu aku telah jatuh sekian lama pada seorang wanita yang kini telah menjadi ibu dari anak-anakku.

Sulit bagiku, untuk mengakui dengan jujur akan kelemahan posisiku. Ku akui dalam diri ini, aku memang lelaki keparat yang wajib dinistakan oleh semua wanita di dunia ini. Aku memang pengobral cinta yang tidak mau bertanggung jawab terhadap cinta yang kubuat sendiri.

” Ell….!”

Ella, dalam pandanganku wanita mulia, selama mengenalnya, selama tiga tahun ini tidak pernah meminta lebih kepadaku, hingga sampai saat ini ketika aku harus membuat kepastian, dia mulai memunculkan bahwa dirinya wanita berani, dan kuakui….aku kalah di hadapannya.

” Maaf, Aku telah memberi kamu kepastian yang aku sendiri masih gamang untuk meyakininya….Ell..sebetulnya aku..sudah beristri…dan memiliki dua orang anak!”

Ella…bergegas meninggalkanku, gayangannya pulang bersama kepedihan dirinya. Aku..pada saat itu telah menjadi lelaki paling bodoh di dunia, telah membohongi seorang wanita paling mulia yang pernah kukenal.

Sampai saat ini, sejak Ella tidak singgah lagi dalam jalan hidupku, katanya, dia telah menikah dengan seorang lelaki mulia, yang jelas sangat beda dengan diriku yang sangat jahat… Sementara di sini, di bawah pohon akasia itu aku terus menyesali kesalahan yang kubuat selama ini, mengobral cinta kepada beberapa wanita. Istriku..bahkan anak-anakku telah tahu, aku adalah lelaki tolol, buaya, hidung belang! Dunia pun tahu itu. Namun, jika ada yang bisa mendalami isi hatiku, sebetulnya…hanya Engkaulah., istriku yang menyesaki cinta dalam diriku ini, tidak bisa digantikan oleh yang lainnya. Istriku..maafkan diriku, mungkin… meskipun kita telah setahun berpisah, namun jika engkau menemukan jasadku terpuruk di tempat ini, jika aku meninggal ,kuburkan jasadku di bawah pohon akasia dekat rumah sakit ini….

SUKABUMI NOPEMBER 2006

06
Nov
06

Cerpen: Wanita Yang Menyulam Luka Dalam Dirinya

Lagi SedihAku tahu, dengan alasan tertentu, menganggap, hanya engkau, Hung, wanita yang tetap setia menyulam luka yang ada pada dirimu. Kau…ibarat kwan-im, terus mencari upaya untuk menemukan diri yang suci setelah tercabik peristiwa itu. Hanya engkau, wanita yang kukuh menyulam luka, meski tangis tak akan sirna dalam dirimu, air mata tak akan berhenti mengalir dari labirin kepedihanmu, hanya engkau Hung!

Seperti hari ini, engkau masih berdiri gagah di bebukitan Pai-Thin, di atas makam Lee, mendiang suamimu yang terkoyak peristiwa memedihkan itu. Kau pun demikian, dalam dirimu terus membayang serbuan anjing-anjing hutan di belantara kegersangan jiwa. Asap hio, pedupaan, mengharum, menyeruak cakrawala mengantar cinta kencana ke arwah Lee, mediang suamimu. Matahari pagi, rupanya belum terangkat naik ketika lelehan air mata masih berlinang manja di pipi kuning langsatmu. Rona merah menampar wajah ,rambut menggeriap ibarat nyiur tersapu angin.

Di bawah sini, di kaki bebukitan Pai-Thin, di atas hamparan rumputan, aku masih menatap dan menunggu engkau, Hung! Percayalah…sejak peristiwa itu aku tetap menunggu dirimu…aku tetap setia menunggu dirimu yang tetap menyulam luka dalam dirimu. 4 tahun lamanya, Hung- sejak peristiwa yang menyakitkan dirimu itu…

###

Hari ini langit Jakarta mampu memecahkan kepala manusia. Panas menggasak. Aku berlindung di bawah tutupan halte bis, memang berdesak-desakan, ada pengamen yang menjinjing gitar menyanyikan lagu sosial, nyatanya memang demikian, Jakarta sudah tiga hari ini seperti terbakar kepentingan yang sangat kurang jelas. Demonstrasi Mahasiswa dimanfaatkan oleh srigala-srigala untuk menguliti dan mnecabik-cabik daging harapan mereka/mahasiswa. Ini baru tanggal 10 Mei 1998, beberapa onggok ban bekas terbakar menghitamkan jalan, kendaraan sudah memang jarang lewat di ruas-ruas jalan utama, masalahnya…ada beberapa kendaraan yang baru saja terbakar atau lebih tepatnya dibakar.

Toko-toko tutup, aku melihat…beberapa orang warga tionghoa berlari-lari ke tengah jalan, berteriak seakan kegilaan ketika sebagian toko mereka didobrak-dobrak, nasibnya enta? Yang jelas…untuk sesaat bagi mereka matahari adalah ranjau yang telah melumat dan menggores asanya. Dua,tiga ,empat, ratusan, lima ratusan…orang-orang berkulit kuning dan bermata lentik itu berhamburan keluar dari toko-toko yang digedor dengan amukan-amukan srigala-srigala lapar,

Padahal ini baru saja 10 Mei 1998…

Aku tetap menunggumu, engkau…Hung gadis bermata sipit, berkulit kuning langsat yang baru saja dipinang oleh seorang lelaki bernama. Seperti biasanya..sejak aku mengenal dirimu di halte bis ini, aku memang seorang lelaki jalanan tak tentu arah, aku selalu menanti dan mengawasimu dari kejauhan. Engkau akan keluar dari tokomu, toko kelontong, bermerk, Toko Serba Ada, dengan kaos sederhana dan jeans biru..kau berjalan menuju halte ini, menyisir rapatnya timbal dan plumbum yang telah menghiruk-pikuki kota metropolitan ini.

Mungkin…sejak pertemuan kita, aku telah suka kepadamu, Hung. Meskipun engkau tidak mengerti siapa aku, bahkan engkau belum tahu siapa aku. Sejak aku mendengar dirimu dipinang oleh  Lee, aku tidak pernah putus asa sekedar untuk mengejar dan mencoba untuk memahami dirimu. Hung..

Rupanya ,Jakarta telah menjadi sarang-sarang predator yang kapan saja bisa lepas dari dan dilepas oleh induk semangnya untuk memangsa mahluk-mahluk lemah seperti orang-orangmu,Hung. ata..Jakarta telah menjadi penetasan telur-telur alien berkepala besar berhati busuk! Yang kapan saja akan memangsa ,serta menelanjangi orang-orang lemah, menganggap manusia dilahirkan berbeda! Itulah Hung yang mesti engkau fahami, mengapa aku benar-benar menyintai…saat ini mulai menyintaimu.

Lalu, ini adalah 11 Mei 1998 belum 14 Mei 1998…

Aku melihat dirimu menikah dengan Lee, apa aku menagis,Hung? Tidak…dalam diri saya telah muncul tekad, bahwa cinta bukan semestinya dan tidak selalu harus memilaikimu, Hung. Hanya…Jakarta telah benar-benar menjadi kandang kemerosotan moral, orang-orang bermental srigala mengejar-ngejar orang yang dalam pandangan mereka adalah mangsa yang harus dimakan! Aku selalu menunggu dirimu Hung…Ah…andai saja srigala-srigala itu mengerti hatiku, bahwa aku telan mencintai orang kulit kuning sepertimu, mereka mungkin akan menguliti diriku, Hung! Perlu engkau tahu…manusia memang selalu salah dalam menilai manusia lainnya Hung… Manusia adakalanya menjadi hakim dan polisis yang menuding kulit, keyakinan, akidah, serta penampilan luar. Engkau akan tahu…Nabiku, Muhammad saw, tidak pernah mengajarkan kepada para sahabat untuk bertindak bodoh dan degil seperti srigala-srigala buas itu.. Itu perlu kau ketahui, agar engkau tidak salah dalam memahamiku, jangan menganggap karena aku satu etnis dengan mereka lantas menyamakan diriku dengan mereka. Aku berbeda dengan mereka, Hung…aku mencoba untuk menyontoh Nabiku, Hung..

Hung, ini baru 13 Mei 1998….

Aku menyaksikan klimaks itu semakin dekat. Dengan kepala yang jarang melihat adegan kasar itu kini aku semakin yakin, bahwa Jakarta memang benar-benar telah hancur! Perempuan-perempuan tua dan muda tionghoa dipelorotkan martabatnya oleh srigala-srigala buas itu. Payudara bukan hal mahal lagi, digerayangi..bayangkan, Hung…satu payudara digerasyangi secara liar oleh lima tangan kasar secara bergantian, apa kau akan merasa enak jika diperlakukan demikian, Hung. Setalah payudara, selangkangan..wanita… mereka robek,mereka tusuk dengan birahi binatang. Aku menyaksikan…. darah itu mengalir mengental dari selangkangan seorang wanita berkulit kuning, dia meraba-raba, Hung..tanganya mencari-cari..aku tahu..engkau sedang menangius saat ini di dalam tokomu, di dalam kamarmu bersama Lee.. Wanita itu terjerembab dipukul, diinjak, dan….. matahari benar-benar telah tenggelam dalam dirinya. Hung….bukan satu atau dua, melainkan ratusan wanita.

Aku tetap berdiri di halte ini, menunggu dirimu…Hung.Kilatan api mulai merayap di tokomu, Aku khawatir Hung…jangan-jangan engkau memang benar ada di dalamnya. Api telah sempurna menelan tokomu, Hung…Tapi, aku tetap percaya bahwa dirimu masih hidup..engkau abadi,Hung…seperti Kwan -Im, yang menyulam jaring laba-laba tak pernah berhenti.

Ini tanggal, 14 Mei 1998,Hung…

Aku mulai kehilanganmu.. srigala-srigala itu benar-benar dikendalikan oleh iblis, semakin banyak saja, wanita yang dipelorotkan martabatnya, dihina dan direndahkan, digerayangi payudaru dan ditusuk selangkangannya… mereka korban,Hung…Korban..!

Oh.. aku menyaksikan pula, suamimu..Lee…”Lee!” Aku teriak dalam bathin, dipukul dan diarak, disiksa, dan…ditelanjangi hanya memakai celana dalam..itu suamimu, Hung.Aku ingin menolongnya..agaar engkau tahu bahwa aku benar-benar menyintaimu,Hung. namun..aku terlalu pengecut untuk melakukan itu…jiwaku bukan pahlawan seperti dalam film-film. Aku hanya bisa melihat bagaimana Lee, suamimu terkapar di jalanan…Maafkan aku,Hung..

Hung…lima tahun berlalu, aku sering menunggumu di halte bis ini. Aku tahu dirimu masih hidup, matahari belum terbenam dalam dirimu. Seperti pagi ini, Matahari telah amenyinari Jakarta, tidak sepanas lima tahun yang lalu.

Nah, firasatku memang benar,engkau..kini berjalan, agak gontai memburu halte ini, langkahmu menyisakan kepedihan, dan…dalam dirimu engkau masih tetap menyulam luka yang ada di dirimu. Engkau memang wanita, Hung!

Lama engkau berdiri ,aku menjauhimu, Hung..Aku merasa pengecut, tidak bisa menyelamatkan suamimu, Lee. Engkau..kemudian berjalan menyusuri trotoar, membelah pelataran emisi bahan bakar, menuhu bebukitan pai-thin…

Setiap Minggu, meskipun ini baru tengah tahun,engkau selalu berdiri lama di bebukitan Pai-Thin…di atas makam Lee, sambil menyulut hio dan pedupaan..

Di bawah ,aku hanya bisa menatap dirimu. Memang..aku masih menyintaimu, tapi…aku tidak sanggup untuk menjadi matahari yang akan menerangi gelapmu, setelah kematian Lee, kendatipun..engkau adalah wanita yang tetap menyulam luka dalam dirimu….

Hung, percayalah!

Catatan: Cerpen ini saya tulis untuk seorang wanita…..




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,674 hits

 

November 2006
M S S R K J S
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay