Tujuh belas tahun yang lalu, istriku melahirkan bayi mungil. Wajahnya manis bagai nektar mawar yang dikitari lebah-lebah. Badannya montok, putih , kenyal, seperti ibunya. Tangisnya memecah hening malam, waktu itu purnama, orang ramai di luar setelah menunaikan sholat tarawih. menjelang idul-fitri, tiga hari lagi. Anak-anak ramai pula. Dan, kumandang kebahagiaan terdengar di dalam rumah ku.
Kami, orang kampung. Ketika ada bayi lahir memang ada kebiasaan turun-temurun, menunggu sampai bayi lahir. Lalu, orangtua jabang bayi mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri. Aku pun demikian. ayah ibuku mesem-mesem menerima kehadiran bayiku yang manis. Istriku bahagia, keringat yang mengguyur tubuhnya. Setelah dukun beranak memandikan bayiku, bayiku masih terisak. Namun telah diselimuti oleh kain kebat neneknya. Sesaat kemudian ia tersenyum, bayiku seorang wanita.
Kami , orang-orang kampung berdiskusi untuk memberi nama bayiku. Ayahku yang pertama berkomentar: ” Awalnya harus pake kata Siti… biar persis dengan para istri Rasulullah..!” Katanya sambil mengisap cerutu, sedangkan kaki ditumpang pada kaki lainnya, cara duduknya bahagia..
Kini giliran nenek bayiku yang berkata,” Namanya… harus indah, Siti Maryam, siti Maesaroh, siti, Khadijah… biar nanti menjadi orang baik-baik anakmu..”
Mungkin, aku harus mempertimbangkan pendapat mereka. Terlintas dalam benakku, untuk memberi nama anak itu sesuai dengan kondisi kelahirannya. Dengan alasan kondisi dan situasi waktu itu, orang-orang kampung bahagia karena sebentar lagi idul-fitri, apalagi diriku dan istriku, sangat bahagia, maka kusematkan pada bayiku, nama paling indah dan paling asing. Siti Efarin!
ayah dan ibu, pun para tetangga saling menatap. ” Siti Efarin!?” Teriak mereka…
Aku menjelaskan, Efarin itu punya arti penting, Orang yang akan selalu bahagia dalam kondisi apa dan bagaimana pun. mereka agak mengerti dan memahami, toh itu anak saya, mau diberi apa saja terserah orang tuanya, apalagi istriku tidak melarangku, sepertinya ia setuju-setuju saja, Siti Efarin disematkan pada anak pertama kami. Tentu, kebahagian itu bukan tanpa alasan. 30 tahun kami menjalani hidup berrumah tangga, belum dikarunia seorang pun anak. Maka, kebahagiaan istriku sangat berlebihan, EFARIN!
Pada akhirnya, orang-orang kampung tahu, anak pertamku bernama Siti Efarin. meskipun, masih ada beberapa komentar: ” Memberi nama anak kok berlebihan begitu, orang khan jadi bingung dibuatnya, apalagi di kampung ini belum ada nama seperti itu…” Toh aku dan istriku hanya mesem-mesem saja. Artinya, kebahagiaan kami tidak bisa dikalahkan oleh obrolan orang-orang yang membicarakan seputar pemberian nama itu.Kakek dan Nenek Efarin pun pada akhirnya setuju terhadap nama itu. Yang penting di depannya ada kata Siti, ungkap Nenek Efarin.
Efarin tumbuh seperti yang aku terka, menjadi anak cantik, ceria sesuai namanya, memiliki cita-cita melangit, konon ia ingin menjadi bidadari dunia,ingin menjadi guru, ingin ini-itu, kutanggapi dengan seutas senyum. hanya, ia memiliki kebiasaan, selalu bahkan harus didongengkan kepadanya sebuah cerita sebelum tidur. Banyak cerita yang mesti kuhafal, meskipun diriku hanya seorang tukang gali pasir. Ya, terpaksa saya setipa minggu menyempatkan diri membaca beberapa buku, meminjam dari tetangga atau membeli beberapa koran , beritanya kuceritakan kepada Efarin kecil, berita kuanggap cerita karena ketidaktahuanku. Toh, Efarin pun senang-senang saja ketika berita kuceritakan kepadanya.
SD, SMP, dijalani Efarin dengan mulus.
Justru, ketika jalan itu terlihat mulus dari sinilah awal bebatuan dan tikungan menerpaku. Di usianya yang ke 15, istriku meninggal dunia. Efarin mulai memperlihatkan gejala ketidakbahagiaan, tentu saja. Aku.. pun demikian, ketika istriku meninggal ku gali dalam-dalam tanah itu dengan cangkul. Aku gelap!
Hari-hari kulalui dengan kepayahan, tanpa istri, aku duda. Efarin rupanya, sudah membaik…
Aku, bisa dikatakan sebaliknya. Sejak meninggalnya istriku, aku hidup mengering, bisa jadi dikatakan payah, sangat payah. Pagi sampai menjelang dhuhur kuhabiskan hanya duduk di atas kursi goyang sambil menatap jalan, ada semacam harapan..istriku siapa bisa datang lagi, muncul di persimpangan jalan ini, seperti ketika awal pertemuan kami, dia datang membawa sekulum kebahagian yang tercermin dalam barisan gigi putihnya. Hanya… sampai dzuhur dia tidak muncul-muncul, ya aku tahu itu hanya harapan lebih dekatnya mungkin sebuah obsesi aneh.
Namun, sekali lagi, Efarin telah baikan, bahkan kembali ke alamnya, penuh keceriaan sesuai namanya. Pagi menjelang berangkat sekolah dia telah selesai beres-beres, mulai dari kasur , mencuci perabotan dapur, dan mencuci pakaian, kemudian dia menghampiriku dan bersalaman, dia merasa ada yang telah hilang dalam diriku sejak meninggal ibunya. Kebiasaan Efarin sama dengan ibunya, mungkin warisan mental, ia gigih dan menganggap bahwa hidup itu memang bisa dijalani dalam kondisi bagaimana pun, kegemarannya membaca Chekov bisa jadi warisan dariku, aku sering membaca karya-karya Penulis dunia. Tapi..sekedar membaca saja, pada praktiknya aku kalah dari Efarin.
Menjelang dzuhur, aku hanya menggeser pantat sedikit ke sebelah kanan, lalu tangan mengepal membuat sebuah tinju, alis mata mengangkat sedikit…
Pukul 14.00, Efarin pulang, anak berbakti, dia langsung mempersembahkan apa yang semestinya dilakukan oleh seorang anak kepada bapaknya. Meenyalamiku, mencium tanganku, kemudian disusul dengan sebuah pertanyaan, sambil mengelap keringat di kening putihnya,” Bapak sudah makan belum?”
Setiap siang, yang aku dengan adalah pertanyaan yang sama. Aku biasanya hanya mengerutkan kening, menggigit bibir, dan menatap dengan kosong ke tempat yang jauh, dengan demikian pun Efarin akan memahami, itu adalah sebuah permintaan. Dia langsung membuka bungkusan yang dikeluarkannya dari dalam tasnya. Roti bakar hangat. Aku malu bertanya, kok mudah sekali Efarin membeli roti bakar padahal, sama sekali aku tidak memberi uang lebih kepadanya. Uang jajan hanya mengandalkan uang dari penjualan tanah sejak satu tahun terakhir. Di luar memang banyak yang menerka-nerka, Efarin anakku memiliki wajah cantik, wajar jika teman-teman sekolahnya, khusunya teman lelakinya pada memperhatikan dirinya. Ah, aku pikir teramat sederhana jika aku menganggap ucapan orang-orang benar adanya.
Bersambung
Aku tahu, dengan alasan tertentu, menganggap, hanya engkau, Hung, wanita yang tetap setia menyulam luka yang ada pada dirimu. Kau…ibarat kwan-im, terus mencari upaya untuk menemukan diri yang suci setelah tercabik peristiwa itu. Hanya engkau, wanita yang kukuh menyulam luka, meski tangis tak akan sirna dalam dirimu, air mata tak akan berhenti mengalir dari labirin kepedihanmu, hanya engkau Hung!




Komentar