Arsip untuk Oktober, 2006

28
Okt
06

Cerpen: Tetangga Pengontrak Rumah

PabloNah, tepatnya tidak akan ada manusia yang mau diutak-atik sekehendak orang lain. Siapa pun orangnya. Entah itu para penganggur atau para pekerja keras. Lebih tepatnya, siapa saja tidak ada yang mau dijajah dan didikte hidupnya oleh orang lain. Ah, lagipula, siapa orangnya yang memiliki hak untuk mengutak –atik atau memperbudak , juga menyuruh-nyuruh sampai mengekang pola pikir orang lain? Ya, menurut sebagian besar orang memang tidak ada hak bagi siapa pun untuk membatasi dan mendikte orang lain. Namun, toh di luar sana, meskipun orang sudah benar-benar setuju akan kebebasan , ternyata masih ada saja sekelompok manusia yang menyenangi perang, bakar-bakaran, rebut –rebutan, dan saling menjajah. Toh di luar sana masih banyak mayat-mayat tak berdosa bergelimpangan, anak-anak tak berdosa beradu kepalanya dengan peluru tajam , juga tubuh-tubuh terbujur di atas tiang-tiang karena gantung diri, ya, jelas sekali mereka tertekan hidupnya oleh arogansi sekelompok manusia yang membenci perdamaian hidup! Atau, meskipun sebagian besar orang sangat setuju tentang telah berakhirnya kolonialisasi, toh masih banyak orang yang mau saja diperintah oleh sekelompok manusia yang masih setia melestarikan kolonialisme. Juga masih ada yang mengaku-ngaku sebagai kelompok ras manusia tertinggi, ah… mungkin mereka menganggap kelompoknya sebagai mahluk setarap dewa?

 

            Aku hanyalah seorang tukang batu. Persoalan-persoalan pelik, bisa jadi akan mendarat secara tidak tepat di dalam batok kepala ini. Ya, mungkin, bagi seorang tukang batu alangkah terlalu sombong untuk membahas persoalan-persoalan pelik. Namun, bukankah tukang batu juga seorang manusia, yang kapan saja leluasa untuk berpikir, menafakuri fenomena-fenomena sosial? Meskipun, palu, kapak, linggis, pikulan, lebih akrab dengan diriku.

***

Kemarau terus mengganas di kampung halamanku. Padi terputus akarnya. Sehingga daun-daunnya pun meranggas kuning, layu, terbakar oleh matahari yang semakin mengganas panasnya. Tanah belah mekar mengembang melahirkan gelora debu ketika serbuan angin menerjang. Sungai, aliran airnya merayap lambat di antara gemebyarnya berbagai sampah, telah kering terserap sinar matahari, mungkin menguap ke bagian bumi belahan lain. Kami, sering buang hajat ke sungai itu, hingga beberapa tai tampak mengeras kental berbaur bakteri dan lalat hijau yang berkerumun berebut jatah. Sumur-sumur yang kami gali dengan sangat dalam sampai sepuluh meter itu mengering. Tak satu pun yang tahu, kapan kemarau panjang  akan berakhir. Entahlah.

 

            Namun, kemarau panjang menyisakan batu-batu yang tersembul di permukaan sungai. Aku dan para pembelah batu lainnya beramai-ramai membelah batu, mengangkutnya ke darat kemudian menjualnya ke kota terdekat. Batu-batu yang berasal dari sungai memang terkenal kekerasannya, kualitasnya pun  terjamin. Hingga batu-batu itu tetap laku keras. Ah, kemarau panjang memang telah menguapkan air di sungai, juga batu-batu telah terbang tertiup oleh kebutuhan kami ke kota terdekat untuk pembangunan. Ya, pembangunan di kota terdekat seperti tidak mau berhenti, tak mengenal kering. Kami sadar, resiko dari perbuatan kami . Di masa depan kami akan mengahadapi sesuatu yang tidak kami ketahui, mungkin jika musim hujan tiba air sungai akan menenggelamkan kami karena air akan semakin deras. Atau pengikisan akan semakin menghabiskan bantaran sungai. Tapi… dengan apa lagi kami bisa mempertahankan hidup selain dari mengambil batu di sungai?

 

            “ Bagaimana rumah itu?” Tanyaku kepada Kirin. Hantaman keras palu godam menerjang sebuah batu hingga terpecah. Aku menyeka keringatku dengan punggung telapak tangan. Langit cerah, matahari memanggang tubuh kami, sampai tubuh kami semakin keras melegam, berkilauan dengan keringat.

 

            Kirin menatapku. Wajahnya semakin keras dari hari ke hari. Disekanya keringat di dahinya. Nafas tuanya tersenggal. Bersahutan dengan deru nafas yang keluar dari mulut dan hidungku. Hanya saja, ia tetap merokok.

 

            “ Rencananya, selasa depan mereka akan mengontrak rumah itu!” Jawab Kirin. Asap putih mengepul dari sela-sela bibirnya.

 

            “ Laku, benar, ya, rumahmu itu?” Gurauku. “ Setiap bulan ada yang ke luar lalu datang pengontrak lain?!”

 

            “ Jangan menghina, kau!”

 

            “ He he he… begitu saja tersinggung…!”

 

            “ Di musim panas seperti sekarang ini, orang mudah terbakar, tahu!”

 

            “ Jangan ikut-ikutan terbakar, dong”

 

            “ Istirahat dulu, yuk!” Kirin mengajakku menepi.

 

 

            Di bantaran sungai kami merebahkan tubuh, menahan panasnya udara. Kirin membuka bungkusan nasi, sedangkan aku membuka bungkusan lauk pauk ikan asin. Begitulah, setiap hari, kami selalu berbagi. Kami menyeruput air teh dalam botol, segar… orang bilang surga bisa diciptakan kapan dan di mana saja. Mungkin benar juga pada saat seperti  itu.

 

            “ Aku tetap heran… rumah kontrakan itu…” Nada melenguh ke luar dari mulut Kirin.

 

            “ Jangan percaya takhayul!”

 

            “ Siapa bilang aku percaya pada takhayul! Yang ingin kuketahui adalah penyebab ketidak betahan para pengontrak rumah itu.”

 

            “ Lama-lama juga kau akan memahaminya, Rin!”

 

            Kami melanjutkan pekerjaan yang tersisa, memindahkan batu ke daratan. Para pembelah batu yang lain pun demikian. Selama menangkat batu, aku masih asyik memikirkan keluhan Kirin tentang rumahnya itu. Bagaimana tidak, rumahnya itu dekat dengan rumahku. Hanya dibatasi oleh sebuah kebun tak terurus. Sudah beberapa orang mengontrak rumah itu dengan waktu teramat singkat, paling lama hanya mencapai satu bulan saja. Satu bulan sekali para pengontrak rumah itu bergantian, dan waktu memang tak pernah mau menunggu. Tak terasa, tiba-tiba tetangga baru muncul lagi, lalu berganti lagi, terus…demikian. Bermacam-macam sifat para pengontrak rumah itu. Aku selalu menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan setiap pengontrak ruamah, sehabis bekerja, atau menjelang malam. Semula ingin menjalin hubungan keakraban sampai kepada hubungan kekeluargaan, tapi baru saja hubungan itu terbina, pengontrak rumah pindah lagi, kemudian datang lagi pengontrak lain, dan aku harus merajut kembali hubungan dari awal! Setiap bulan tetanggaku bergonta-ganti nama, sikap, juga wataknya.

 

            Pernah, sebuah keluarga mengontrak rumah itu. Tetangga baru! Terlihat di kejauhan, karena kami selalu mengawasi tetangga baru itu dari balik jendela, keluarga dengan dua orang anak, keluarga bahagia! Pikirku.

 

            Aku selalu menyempatkan diri mengunjungi mereka selepas maghrib, pada mulanya. Hangat sekali mereka menyambut kedatanganku. Mereka terbuka, sangat open house. Tidak kaku, bahkan menganggapku sebagai seorang teman lama yang telah hilang lalu ditemukan lagi. Sering sekali, mungkin hampir setiap malam, istri pengontrak rumah itu menyuguhiku kopi susu lengkap dengan ketela rebusnya. Kami bermain catur sambil berbincang hingga malam larut. Ketika anak-anak mereka telah terlelap dalam tidurnya, aku pulang. Dan kepulanganku selalu mereka antarkan sampai ke teras rumah itu.

 

            Tapi, kehangatan sering berujung pada rasa hambar dan terus mendingin. Tiga minggu kemudian, tepatnya pada suatu malam. Ketika pekatnya hitam malam terus mengatup dan bintik-bintik  lamu lima watt mulai meramaikan kampung halamanku, melukiskan sketsa gemintang kemerlipan, terdengar olehku baku hantam suara mulut sedang berperang.

     

        “ Kamu selalu main catur dengan tetangga kita itu!” teriak sang istri, nada soprannya memekik memecahkan keheningan. Hal itu membuatku penasaran, sampai aku mengendap ke belakang rumah itu, menguping perdebatan mereka.

 

            “ Ya, apa salahnya!!!? “ Suaminya membalas lebih keras dari istrinya.

 

            “ Salahnya, kamu menjadi pemalas!”

 

            “ Kau memang materialis. Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang!” Rupanya percekcokan semakin seru.

 

            “ Aku realistis! Setiap malam aku harus menyeduh kopi susu di tambah dengan ketela rebus. Dengan apa aku membelinya? Apa dengan papan caturmu itu, heh? Sedangkan kau masih kalah oleh ayam, pagi masih mengulat saja di atas ranjang. Kau menjadi pemalas!”

 

            “ Diam! Zaman sekarang susah mencari pekerjaan tahu!” Sampai di sana percekcokan berakhir. Sang suami membanting pintu, bergegas keluar dengan langkah memburu, begitu cepat. Sedangkan istrinya masih asyik bersumpah serapah.

 

            Ya, masalahnya mungkin ada pada diriku. Sampai kuputuskan untuk tidak tidak mengunjungi keluarga itu lagi.

 

            Rupanya sang suami, sejak percekcokan itu, sering pulang hingga larut malam. Langkahnya sering tampak sempoyongan, kelelahan mungkin. Raut wajahnya penuh  cerita derita, membuat rajutan kepedihan, bisa kurasakan juga. Aku tidak berbincang-bincang lagi dengan mereka. Hingga mereka pindah rumah, entah ke mana.

 

            Di lain waktu. Rumah itu telah dikontrak lagi oleh  pasangan suami istri. Mereka masih muda, baru menikah, pengantin baru. Setiap pulang dari sungai aku selalu tersenyum kepada mereka, mencoba untuk menciptakan keakraban dengan mereka. Aku selalu merasa iri dengan polah mereka. Mereka terlihat begitu bahagia, pasangan yang serasi, saling bercumbu rayu, berpelukan hingga berciuman dengan mesra, sangat romantis. Ketika adegan itu berlanjut aku hanya bisa membayangkan tubuh istriku yang sudah mulai berkeriput dan sekujur badannya tidak disesaki lagi oleh aroma parfum melainkan oleh bau balsem yang menyengat.

 

            Sang suami bekerja di Jakarta. Jakarta… oh Jakarta. Entah kapan aku akan ke sana. Ia bekerja sebagai seorang desaign grafis, entah pekerjaan macam apa itu. Pulangnya seminggu sekali. Jadi ,aku tidak mungkin menciptakan keakraban dengannya, kecuali dengan istrinya. Peluang selalu tercipta, kesempatan memang selalu terbuka. Setelah kuketahui ,ternyata istrinya seorang master catur. Hmm… sekedar untuk menguji kehebatannya, sekali malam kutantang dia untuk main catur. Ia setuju, pertandingan pun dilakukan di rumah kontrakan itu, tepat pada pukul sembilan malam. Ia memang seorang pecatur tangguh bagi tukang batu sepertiku, langkah-langkahnya efektif dan akurat, aku selalu dipecundanginya. Setiap malam kami main catur dengannya. Kami semakin akrab.

 

            Sudah kukatakan, dunia adalah tempat bekubangnya ketidak abadian. Keakraban kami pun pecah juga. Suaminya mengeluh kepadaku ketika dia mengetahui apa yang selalu kami lakukan setiap malam. Ya, aku sadar. Tepatnya tidak akan ada seorang suami yang merelakan istrinya begitu terbuka kepada laki-laki lain, meskipun seorang tua sepertiku.

 

            Rupanya istrinya tidak mau menerima perlakuan suaminya yang cemburuan itu. Sampai terjadi lagi perang mulut. Percekcokan.

 

            “ Aku bekerja membanting tulang di Jakarta….!”

 

            “ Ah, itu kan kewajibanmu sebagai seorang suami, tidak penting kau ceritakan kepadaku…” istrinya memekik.

 

            “ kau enak saja main catur hingga larut malam dengan pak Kadir!”

 

            “ Apa masalahnya?”

 

            “ Tentu saja ada. Karena aku adalah suamimu. Dan masalahnya adalah kamu main catur dengan seorang lelaki pada malam hari, berduaan lagi..”

 

            “ ah… masalahnya ternyata terletak pada dirimu sendiri yang mudah cemburuan. Jadi kau menuduhku macam-macam, ya!?”

 

            “ Aku ini suamimu sedangkan dia…?”

 

            Aku mampu mendengar pertengkaran  itu dengan tepat pasti. Sampai kuputuskan untuk tidak main catur lagi dengan wanita itu. Sehabis bekerja membelah batu di sungai, setiap malam aku hanya bisa mengintip rumah itu dari balik jendela. Ketika malam menjelang, terus merayap, rumah itu lampunya telah dimatikan. Seakan mengirimkan sandi morse kepadaku untuk segera bergegas tidur. Terus berlangsung, hingga, tanpa kuketahui ,pasangan pengantin baru itu telah pindah rumah…

***

Pengontrak rumah yang baru telah tiba, ini adalah hari selasa, seperti kata Kirin. Perabotan rumah tangga: kompor, dandang, wajan, piring-gelas, meja-kursi, kasur ,ranjang, dan barang-barang lainnya sudah siap diturunkan dari bak mobil truk. Lengkap sekali pengontrak baru itu membawa perabotan rumah tangga, seperti akan lama menghuni rumah itu.  Aku membantu mereka menurunkan perabotan rumah tangga.

 

            Tetangga baruku, sebuah keluarga. Sang suami berjenggot lebat dan tebal. Betapa asyiknya jika seorang lelaki berjenggot lebat, bisa dipelintir-pelintir ketika sedang melamun. Bisa memilin-milinnya ketika sedang sendirian. Jenggot tetangga baruku seperti hendak menantang kejantananku. Sampai saat ini, tak ada keinginan dari dalam diriku untuk memanjangkan apalagi mengurus jenggot!

 

            Sampai ada keinginan untuk memanjangkan jenggot. Ah, jangan-jangan penyakit lamaku mulai kumat lagi, selalu ingin mencampuri urusan tetangga!

 

            “ Tetangga baruku berjenggot lebat, Rin!”

 

            “ Mudah-mudahan mereka akan betah mengontrak rumahku itu.” Kata Kirin. Tangan kekarnya menghentakkan palu, membelah sebuah batu besar.

 

            “ Yup. Kita tunggu saja!”

 

            Kami terus bekerja. Membelah batu, mengangkatnya, lalu menyusunya menjadi beberapa kubik.

***

Sebulan, merupakan masa penantian. Kemarau semakin mengganas , membakar tubuh kasar kami. Entah sampai kapan. Air semakin sulit di dapat. Sungai semakin kering.  Tanah-tanah belah semakin pecah karena tersengat cahaya matahari yang semakin kuat dari hari ke hari. Batu-batu mengeluh payah. Pepohonan melenguh resah. Padi-padi sudah mati sempurna kerontang kecoklatan warnanya. Rumputan menguning. Debu-debu menerjang riang ketika angin berhembus kencang.

 

            Tetangga baruku yang berjenggot lebat itu berpamitan kepadaku. Katanya ia akan pindah rumah. Terang saja, aku merasa kehilangan atas kepergiannya itu. Tapi setidaknya, kepindahan tetanggaku yang berjenggot itu bukan disebabkan oleh ulahku. Dan rumah Kirin kosong lagi….

 

Sukabumi, 4 Agustus 2005

14:36:22

 

27
Okt
06

Cerpen: Riwayat Saya

oldman

Di daerah selatan Sukabumi hidup seorang sastrawan, bernama Ki Longser. Keturunan ningrat, nama ayahnya “ … “. Terkenal dan ternama. Ia rendah hati meskipun namanya selalau dijadikan rujukan dalam hal pergaulan dan etika. Ia tidak sombong dan tidak suka memerintah orang lain meskipun orang-orang mengakuinya sebagai tokoh penting yang patut dihargai. Ia juga tidak mau dirinya disebut-sebut dan disanjung secara berlebihan walaupun orang-orang tetap melakukannya juga. Ia lebih senang dipanggil “Saya” saja.

Saya pernah berkata,” Alam selalu jujur. Banjir, longsor, kebakaran hutan adalah bukti kejujuran alam. Orang sulit untuk meniru kejujuran alam. Tetapi alam selalu memilih diam dan menjadi saksi bisu. Berita kematian misterius beberapa orang tidak bersalah belum pernah diberitakan oleh alam meskipun alam tahu. Berita tentang ditanamnya jasad-jasad hidup belum pernah diceritakan oleh alam, meskipun alam tahu persis. Atau tentang keculasan-keculasan manusia di zaman sekarang, mengeruk potensi-potensi, membabat hutan, meratakan pesawahan menjadi sirkuit belum pernah diberitakan oleh alam, padahal alam tahu…”

Orang-orang menganggap ucapan Saya itu biasa-biasa saja. Tapi, sekitar pukul 10.00, Saya dipanggil oleh aparat berwenang untuk dimintai keterangan. Saya harus melengkapi beberapa formulir dengan biodata seakurat mungkin. Menandatanganinya sebanyak sepuluh kali. Introgasi memutuskan, ucapan Saya berbahaya, nyeleneh, dan subversif. Mengganggu ketertiban dan keamanan. Instabilitas!

“ Kamu orang tua, seharusnya mendidik para pemuda dan generasi harapan bangsa dengan kebajikan. Bukan memberi mereka racun!” Kata Kepala aparat berwenang sambil melotot.

“ Terserah….!” Kilah Saya tidak mau kalah.

“ Kamu , orang tua… kiri ya?”

“ Bagi Saya kanan kiri oke, asal yang kanan jangan jadi yang kiri atau sebaliknya..”

Kepala aparat berwenang mulai melonggar. Tangannya memangku kepalanya sambil bertelekan ke atas meja kerjanya.

“ Ayolah , orang tua sebaiknya bersikap baik dan lunak agar ditiru oleh generasi muda. Ing madya mangun karsa, ing ngarso sung tulodo..oke?”

“ Mbok ya, jangan berlebih-lebihan, lha…” sambung aparat lain.

“ Ini pasti dilebih-lebihkan…” Kata Saya kereng.

“ Ya.. Sudah. Saya akan meredam masalah ini. Asal kamu… orangtua mau meredam juga pikiran-pikiran aneh itu. Jangan biarkan racun itu membunuh diri sendiri, tul!?”

Pukul 12.00, menjelang dzuhur, introgasi selesai. Saya berjabatan tangan dengan para petugas aparat berwenang. Tidak ada ketegangan antara aparat berwenang dengan Saya. Semua tertawa renyah. Beberapa kali Kepala aparat berwenang itu menepuk-nepuk punggung Saya, sambil berseloroh,” sering-seringlah datang ke mari…!. Saya foto bareng bersama para aparat berwenang sebelum betul-betul meninggalkan tempat itu. Konsekwensinya, tangan Saya terpasung. Tulisan-tulisan Saya terbatas juga dibatasi. Sensor sangat ketat. Saya diwajibkan menulis keindahan-keindahan. Dilarang menulis keruhnya air coberan yang penuh dengan kotoran mengapung. Bunga mawar memenuhi setiap karya Saya, menggantikan tai kerbau dan merah darah. Vitamin menggantikan racun.

Begitulah Saya di era orde serba sama seragam. Segalanya harus seragam, sama persis pasti. Sampai membaca buku pun harus seragam. Tetek-bengek kehidupan tidak ada. Buku-buku milik Saya yang kiri dan yang kanan disegel oleh aparat berwenang, sebagian besar dibakar. Padahal Saya bukan orang kanan apalagi kiri. Saya tidak peduli dengan segmen-segmen, hidup adalah keharusan untuk melakukan kebaikan, kejujuran,dan kebijaksanaan.

Sebetulnya Saya mau berdamai saja dengan orang-orang orde serba sama seragam. Namun, tentang kekejaman itu. Undang-undang tidak melarang menulis air comberan dan tai kerbau. Negara bukan Tuhan yang berhak merenggut kebebasan dan kreativitas warganya. Saya merasa bosan dengan keseragaman. Saya menulis lagi kotoran-kotoran itu. Akibatnya, Saya ditangkap, dijebloskan ke dalam penjara tanpa melalui proses pengadilan.

“ Orang tua sebaiknya memfokuskan diri untuk kepentingan akhirat, betul?” Kata salah seorang sipir penjara. Air mukanya santai, tidak menandakan bahwa ia kejam.

“ Kamu, orang tua, mau merokok?” Lanjutnya, sambil menawarkan sebatang rokok. “ Tidak baik bagi kesehatan, namun tak apalah, kan.. kepuasan bathin yang kita cari, betul?” Diakhiri dengan acungan jempol.

“ Jangan begitu, dong!” kata sipir lainnya. Mencolek pinggang Saya. “ Umur saya terpaut belasan tahun dengan Anda. Untuk apa kita harus macam-macam, satu macam saja cukup ,bukan?”

Saya dipenjara sampai era orde serba sama seragam tumbang. Orde beralih ke orde segalanya paling baru. Saya bebas dan bisa menyerap kembali kebebasan. Usia Saya benar-benar telah senja. Teman-teman Saya; Boding, Randuijo, dan Sukardi sudah menjadi penghuni panti jompo. Ada juga beberapa teman Saya yang menjadi penghuni tetap rumah sakit Blok D, khusus untuk merawat orang-orang hilang ingatan. Saya sering menjenguk mereka setiap akhir pekan. Rata-rata , mereka telah lupa mengenal Saya. Terang saja, Saya sangat sedih. Namun biarlah… dalam hidup harus selalu ada kehilangan.

Setelah menjenguk beberapa teman di panti jompo dan rumah sakit Blok D, Minggu sore Saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati segelas teh hangat di kafe lesehan. Di tempat seperti itu Saya sering menemukan inspirasi juga sering mendapatkan kembali sesuatu yang telah hilang. Imajinasi liar Saya selalu menangkap fakta-fakta seni yang harus Saya tuangkan ke dalam kertas dalam bentuk cerita, novel atau puisi.

Kafe lesehan, setiap Minggu sore selalu disesaki oleh para pengunjung yang haus inspirasi. Mereka bervariasi; seniman, sastrawan, kuli bangunan, sampai para pejabat pun ada. Walikota, sesekali menyempatkan diri mengunjungi tempat itu, selalu ada jarak antara Saya dengan walikota meskipun walikota mengenal Saya lebih dari segalanya. Padahal kondisi kafe lesehan masih kalah oleh beberapa kafe mewah di sekitarnya. Di kota Saya telah menjamur kafe-kafe mewah, Mc D, restoran Jepang, Rumah makan China. Kafe lesehan hanyalah sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, kursinya adalah deretan bangku memanjang terbuat dari bambu. Dudukannya ditutup dengan plastik. Sebagian besar kursi-kursi itu sudah reyot .para pengunjung harus berhati-hati ketika menempatkan bokong mereka di atasnya. Mejanya juga kasar dan dekil, penataan ruangan alakadarnya. Debu-debu rokok berserakan. Asap rokok mengepul meramaikan kafe lesehan. Sesekali terdengar gelak-tawa kering dan nyaring dari para pengunjung. Alunan musik dangdut menggelora. Inilah inspirasi…

Saya masih menunggu seorang teman. Minggu sore adalah pertemuan rutin mingguan dengannya. Pembicaraan setiap pekan sering berganti-ganti. Teman Saya memiliki kegemaran membicarakan profesi dan pekerjaan. Meskipun usia Saya terpaut lima belas tahun dengannya,namun Saya tetap memperlakukannya sebagai teman seangkatan. Agar lebih hangat. Beberapa orang Saya cermati, cara mereka mengobrol, menyantap makanan, dan mengisap rokok. Ternyata… begitu betahnya orang-orang tinggal di dunia ini. Empat orang tentara berseragam masuk, disambut oleh beberapa temannya yang telah menempati kafe lesehan lima menit yang lalu. Mereka saling rangkul.

“ Hai, orang tua!” Teman yang Saya tunggu telah datang. “ maaf, aku terlambat…” Ia duduk.

Ia menawarkan sebatang rokok kepada Saya , langsung Saya sambar. Ditilik dari roman mukanya, dunianya hanya satu… bekerja keras. Mengkhawatirkan, tidak mengenal orang-orang ternama. Pembicaran tentang politik dan ekonomi hanya menerka-nerka saja. Pernah, suatu saat ia berkata kepada Saya,” Siapa itu Gorky.. apa dia tukang sol sepatu…?” Busyet….!

“ Berapa menit kau menunggu, orang tua?”

Kebiasaan buruknya adalah menyebut Saya ,orang tua. Padahal Saya tidak mau diperlakukan sebijaksana itu. Saya mengangkat kedua alis lebat putih. Lalu mengangkat sepuluh jari.

“ Sepuluh menit?” Gumamnya kurang jelas. Dari mulutnya keluar asap rokok, diikuti oleh keluarnya asap putih dari sela-sela bibir Saya. Jadilan Saya dan teman Saya seperti dua buah lokomotif saling berhadapan. “ Sepuluh menit cukup untuk membuat sebuah puisi, bukan?”

Saya menggeleng.

Wajah teman Saya berubah, menjadi sedikit serius. Ada sesuatu dalam pikirannya. Matanya dikelilingi oleh kelopak tebal. Benar-benar melelahkan bagi orang yang menatapnya sekalipun. Katanya… ia hanya satu jam saja tidur dalam sehari.

“ Apa yang telah kau hasilkan selama ini, orang tua?” Pertanyaan itu keluar tiba-tiba. Biasanya ia memulai pembicaraan dengan tema tentang kegemaran bossnya yang galak itu. Atau membicarakan teman-teman sekerjanya yaag malas-malasan dan selalu terlihat tidak mengenal keseriusan.

“ Tentu saja beberapa karya sastra… cerpen, novel, dan puisi…” jawab Saya datar, tanpa pertimbangan.

“ Ya, aku pernah mebaca beberapa karyamu.” Ia mengisap rokok dalam-dalam. “ Tapi… semua itu hanya kebohongan, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan hasil kerjaku, karyawan dan para pekerja lainnya..” Ia menjatuhkan puntung rokok kemudian menginjak-injaknya penuh kebencian.

“ Bukan sekedar itu. Saya pernah menghasilkan masterpiece dan menerima beberapa penghargaan darinya. Uang honor, dan royalti dari beberapa penerbit..” lanjut Saya. Tetap tanpa pertimbangan.

“ Semua itu tentu saja hasil dari bualanmu. Yang telah kau hasilkan adalah kebohongan-kebohongan. Dengar… tanpa para sastrawan pun, toh, dunia ini akan tetap berjalan. Sedangkan tanpa para pekerja? Aku yakin, dunia akan berantakan. Hhh.. memang sangat aneh, kenapa pula banyak penerbit dan media cetak yang mau memuat karya para sastrawan bahkan memberi penghargaan segala. Sedangkan para karyawan dan pekerja, kalau tida mau disebut sebagaiburuh ksar, sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Buku-bukumu tentu saja telah kau nikmati royaltinya. Namun… apakah karya-karyamu itu dinikmati juga oleh para penganggur, pengemis, dan orang-orang kecil, heh?”

Saya diam. Bergeming. Memberikan kesempatan kepadanya untuk terus berkata.

“ Kau lihat gedung pencakar langit itu! Bahkan kafe lesehan ini. Semuanya adalah hasil jerih payah para pekerja. Para sastrawan hanya bisa berfantasi, mengatakan gedung pencakar langit sebagai orang angkuh, mengatakan bunga-bunga bisa bernyanyi. Dusta… semuanya dusta. Ada puisi-puisi yag tidak masuk akal,membuat pembacanya setengah gila, itu kan namanya egois!”

Saya menikmati cara ia berkata-kata. Ada sedikit perubahan minggu ini.

“ Kau lihat pengemis tua itu!” Ia menjentikkan telunjuknya ke arah seorang pengemis yang bersimpuh di atas trotoar.” Pengemis itu lebih baik daripada seorang sastrawan. Kau mungkin akan menuliskan ratapan pengemis itu di atas secarik kertas tanpa kau merasakan bagaimana perih dan getirnya menjadi seorang pengemis. Dan… tiba-tiba karyamu dimuat oleh sebuah koran, mengisahkan tentang ratapan si pengemis, apa itu namanya? Selain dari sastrawan tidak memiliki perasaan?”

Saya menarik nafas dalam. Tetap bergeming.

“ Kamu lihat juga para buruh kasar, tukang gali, dan kuli bagunan. Keringat mereka tercecer-cecer di dalam gorong-gorong, di parit-parit. Badan mereka lengket dengan kulit kelam dan hitam karena terbakar matahari. Lantas kau menuliskannya dalam sebuah novel atau roman tentang kehidupan orag-orang kecil itu tanpa kau merasakan bagaimana beratnya mereka mengangkat cangkul, mendongkelkan linggis,panasnya persaingan. Kau.. hanya malas-malasan di depan monitor komputer sambil berharap suatu hari nanti karyamu akan diterbitkan oleh sebuah penerbit. Lalu…kau nikmati royaltinya. Sedangkan orang-orang yang kau jadikan inspirasi itu masih tetap terengah-engah menahan himpitan hidup. Dengan demikian tidak layakkah orang sepertimu mendapat julukan mahluk dungu…?”

Tiga puluh menit lamanya Saya mendengarkan ia berkata tanpa komentar apalagi mau mengusiknya. Teman Saya begitu ganas, berang, dan mungkin apa adanya..

“ Aku harus ke temnpat kerja lagi, orang tua…” Ia berdiri, menawarkan sebatang rokok, langsung Saya sambar. “ Kita bicara lagi Minggu depan…”

Minggu sore selanjutnya. Setelah segala sesuatunya Saya lalui. Saya mengunjungi lagi kafe lesehan. Teman Saya telah duduk menunggu.

“ Hai orangtua! Ayo silahkan duduk…” Katanya. Hangat. Seperti biasa, ia langsug menawarkan sebatang rokok kepada Saya, tidak malu-malu langsung Saya sambar. “ Aku membaca sebuah Koran. Katanya kau baru saja medapat penghargaan dari pemerintah sebagai sastrawan senior, betul begitu?”

“ Lha… tidak perlu dipermasalahkan…”

“ O,ya… aku ucapkan selamat. Kau sangat berutung, orang tua…”

Saya menyeruput segelas teh hangat.

“ Hhh… perusahaan tempat aku bekerja gulung tikar. Aku baru saja di-PHK. Mari kita rayakan peristiwa ini bersama-sama….!” Ia mengangkat gelas.” Mari kita bersulang… tosh!”

Teman Saya bertingkah lepas sore itu. Tidak menyusahkan siapa pun. Sebelum ia pergi, ia meletakkan dulu uang sebesar dua puluh ribu rupiah di atas meja, sebagai pembayaran atas prestasi Saya. Tentu saja Saya sangat menghargainya…

Esok harinya. Penyakit ginjal Saya kumat. Saya dilarikan ke rumah sakit. Anak cucu berkumpul, tetangga dan teman dekat pun berdatangan, berkunjung silih berganti. Ia, seorang teman yang selalu Saya temui di kafe lesehan, menurut anak Saya telah pergi ke kota lain untuk mencari pekerjaan baru.

Di seberang rumah sakit, istri Saya masih tetap setia menunggu…

Sukabumi-Balandongan Nopember 2005

26
Okt
06

Cerpen: Anak Kecil Yang Menunggu di Bawah Pohon Kersen

JepangDi bawah pohon kersen, Rana masih menunggu mama, sejak pulang sekolah sampai sore. Seragam putih merah masih melekat di tubuh mungilnya. matahari menyinari pelataran Bumi Allah dengan cahaya kuning. Bayangan kelam pohon kersen meneduhkan si kecil. Lalu-lalang kendaraan yang mengepulkan asap pekat bukan persoalan bagi Rana. Debu menderu terpingkal menerjang, bukan masalah baginya untuk tetap setia menunggu. sampai mama pulang…

Hangat cuaca. Angin mendesir. Dedaunan kuning kering jatuh ibarat salju berguguran di musim dingin. Orang-orang berhamburan meramaikan pinggir jalan. Aroma parfum wangi-wangi beraneka. Ada karnaval di alun-alun kota yang terletak di seberang jalan. Sebentar lagi parade orang-orang dengan kostum warna-warni akan menyesakkan jalanan. Rana… sama sekali tidak tertarik dengan semua itu, padahal anak-anak seusianya ramai berduyun dituntun oleh orang tua mereka menyesaki alun-alun kota. Namun Rana masih setia menanti , sampai mama pulang.

Setiap hari. segala sesuatu terus berjalan sebagaimana biasanya. Rana menunggu mama, sampai jam menunjukkan pukul 16.00 atau lebih. kemudian sebuah angkutan umum berhenti di pinggir jalan di dekat pohon kersen. Disusul dengan keluarnya seorang ibu muda dari dalam angkutan umum. Mata teduh Rana menerjang lembut, ditumbuhi bulu mata lentik lebat. Sekulum senyum menyeruak dari bibir mungilnya, ketika mamanya menjulurkan tangan menantang Rana. Ia berlari tanpa pertimbangan, memburu tantangan mamanya. Wajah mamanya begitu sumringah, gurat cantik namun lelah begitu nyata terlukis kuat. Angin senja menggeraikan rambut panjangnya. stelan pakaiannya sederhana, kemeja putih lengan panjang kolaborasi dengan celana panjang hitam . Kulit wajah putih tersirami cahaya keemasan, menggurat senjakala dalam dirinya…

“Mama… datang….Mama datang….!” Teriak Rana memburu Rismala. Beberapa orang tersenyum menyaksikan adegan tersebut.

Rismala memeluk erat tubuh anaknya. rajutan kasih sayang yang begitu kokoh dari tangannya. Mengangkatnya. Menciumi pipinya.

” Mari kita pulang, sayang…”

” Rana mau menunggu papa dulu, Mama…” Ucapnya tulus dan agung.

Mata Rismala berkaca-kaca. Mungkin hatinya tersayat..

” Rana… Papa masih bekerja, sayang… Kita tunggu saja di rumah, yuk!”

Mata sayu anak kecil itu semakin teduh. Antara mengerti dan tidak…

Hingga Rismala memeluk Rana. memangkunya pergi. pulang.

###

Malam hari.

Di luar rumah, cuaca cerah. Gemintang bertaburan di langit tegas tanpa awan. Rumah-rumah berwarna keperakan, bermandikan cahaya rembulan. Purnama menerjang. angin malam musim kemarau berhembus, memeluk setiap pohonan, kering dan dingin. Pemukiman penduduk semi kumuh tergambar jelas. Rumah-rumah sederhana gemebyar dengan cahaya lampu lima watt. Irama-irama dangdut, lagu-lagu putus cinta, harapan yang kandas, patah hati, remix, pop, dan rock larut dalam aroma bising, keluar dari rumah-rumah melalui jendela setengah tertutup. Para lelaki duduk tercenung di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi pahit. mengisap rokok kretek lintingan sendiri. Aroma tembakau murahan tercium meriah, menyengat apek. sering sekali bau tidak sedap tercium, berasal dari selokan sebelah Barat. Kemarau telah menyulap selokan menjadi ular berbisa yang menyimpan segala sesuatu di luar jangkauan nilai estetis. Ah… masa bodoh dengan semua itu. Lagu dangdut, dan hisapan rokok kretek murahan adalah nilai lebih bagi mereka. Malam harus diisi dengan suka cita meskipun siang hari mereka isi dengan keluhan dan jibaku melawan ganasnya gelora zaman.

Rismala selalu merasakan semua itu. Sejak pindah rumah ke tempat itu. Awalnya gerah, namun lama-lama juga menjadi terbiasa. Dia selalu tahu, tengah malam nanti sampai menjelang subuh, suara gitar berbaur dengan nada bariton para pemuda berdendang berkumandang. Disempurnakan dengan bunyi ember yang ditalu-talu sebagai pelengkap indahnya alunan musik murahan namun meriah.

Dia menatap wajah Rana yang tergolek di atas pembaringan. Wajah polos anaknya begitu berarti di mata Rismala. Bocah polos yang selalu setia menunggu kepulangannya. Didekatinya Rana. Ditarik selimut, menutupi sekujur tubuh anaknya. Diusap rambut ikal anaknya, lalu dikecup keningnya.

“ Lihatlah Ton!” Gumam Rismala. “ Anak kita sudah sebesar ini… Kamu ke mana saja Ton ?” Ada air mata menitik. Berat.

Rismala membuka-buka buku anaknya. Dalam pikirnya, Rana sangat cerdas. Nilai-nilainya pasti akan membuat beberapa teman se kelasnya iri kepadanya. Terutama di bidang pelajaran mengarang. Anaknya selalu menulis karangan, temanya itu-itu juga, tentang Papanya.. Kartu SPP diperiksa,” Sudah tiga bulan….” Ucapnya lirih. Beberapa surat tagihan dari pihak sekolah. Ia membacanya. “ Mama pasti berjuang demi masa depanmu Rana…”

Dalam benaknya timbul pikiran. Tidak cukup hanya mengandalkan bekerja di pabrik tekstil yang penguk dan kotor untuk mencipta masa depan anaknya. Gajinya kecil hanya lima ratus ribu rupiah perbulan, habis terkuras untuk bayar sewa kontrakan dan makan sehari-hari.

“ Aku harus kerja sampingan…”

###

Pada diri Rismala tersimpan Ton. Seorang lelaki pengecut yang menjanjikan harapan namun nyatanya gombal dan getir. Segalanya kandas. Namun ia percaya, bahwa harapan masih terus bisa dicipta oleh siapa pun, kapan pun dan dimana pun. Orang akan senantiasa bisa membuat surga, kendatipun ia hanya seorang ibu muda lemah. Tidak selamanya setiap lelaki bisa menjelma menjadi manusia sejati. Justru keperkasaan yang sesungguhnya selalu tercipta dari diri seorang wanita…

“Sebaiknya dipikirkan dengan matang, Ris!” Kata ibu sambil menatap wajah Rismala ,” pernikahan beda keyakinan itu sangat riskan…” Lanjut ibu setengah bergumam. Raut wajahnya tirus dan murung jelas.

Bapak duduk melongo, menatap udara, jauh dan kosong. Baginya, keinginan anaknya teramat melampaui batas angan siapa pun..

“ Percayalah, Bu, Pak. Mas Ton itu orang baik…”

“ Kami sebagai orangtua, hanya mewanti-wanti saja, jangan sampai ada penyesalan pada akhirnya nanti, Ris.” Air mata mulai menggelayut di kelopak mata Ibu.

“ Rismala siap menanggung segala resikonya, Bu..”

Ibu memeluk erat Bapak, air matanya menguyur dada bapak, ketika bapak larut dalam dalam emosi yang hamper tak terkendali, kesal, marah, dan menyesal. Namun tidak dapat dikeluarkan.

Dan pada akhirnya, Rismala pergi bersama Ton, menikah di tempat yang jauh dari kedua orang tuannya. Rismala tahu, Ibu dan Bapak sering duduk melongoi sambil menatap jalan tak berujung setelah pernikahan dirinya dengan Ton. Air mata kerap bercucuran , keluar dari sudut mata Ibunya.

Tapi dia tidak mau menemui kedua orang tuanya. Rismala melupakan semuanya.

Sampai pada suatu ketika, satu sore di musim kemarau. Ketika debu-debu berterbangan dan dedaunan kering kerontang menggeliat di bawah terik mentari ia menjumpai sebuah surat atergeletak di atas meja. Ton, suaminya memberitakan pulang ke kampung halamannya, di daerah Timur, tanpa menceritakannya terlebih dahulu. Bagi Rismala, jelas keputusan itu adalah sebuah tikaman. Telak menusuk dadanya. Dia hanya bias mengepal kepedihan, tanpa mau bereaksi. Waktu itu usia Rana baru menginjak 4 bulan.

“ Ibu…” Bisik Rismala, “ Bapak…”

Namun dia tidak mau menemui kedua orangtuanya, mungkin malu…pada dirinya sendiri.

Rismala menyimpan satu lembar uang sepuluh ribu rupiah dan secarik kertas berisi pesan untuk Rana di atas meja. Ia bergegas meninggalkan rumah menuju tempat kerja. Wangi melati semerbak membelah udara dingin pagi di musim kemarau. Matahari juga belum menggeliat.

Sesaat setelah Rismala pergi. Anak kecil yang masih duduk di bangku SD kelas 3 keluar dari kamarnya. Menyibakkan tirai penutup pintu. Ia mencari-cari. Wajahnya lesu tapi ada binar bahagia, mungkin ia baru bermimpi bertemu dengan harapannya, dengan orang-orang yang selalu dirindukannya selama ini. Langkahnya masih menandakkan bahwa dirinya masih mengantuk, sempoyongan. “ Mama telah pergi…” Bisiknya.

Ia duduk mengambil secarik kertas di atas meja., kemudian di ejanya, satu-satu. : “ Mama tidak ingin mengecewakan masa depanmu, Rana. Mama akan kerja sampingan sampai malam. Rana tidak usah menunggu mama di bawah pohon kersen itu…”

Anak kecil itu telah menjadi orang dewasa sejati. Dalam dirinya telah tumbuh kemandirian alami. Mandi, ganti pakaian, berdandan, membeli nasi kuning di Warung Iyem untuk sarapan. Dilakukan sendiri. Orang-orang, bahkan seluruh isi dunia tahu akan hal ini..

###

Tapi sepulang sekolah sampai sore, Rana tetap melakukannya juga. Ia begitu setia dan tulus menunggu kepulangan mamanya di bawah pohon kersen. Kesabaran terlukis dalam dirinya. Matanya memancarkan kilau keyakinan yang teguh bahwa suatu saat nanti orang-orang tercinta akan datang kepadanya.

Hal ini terus berlangsung sejak Rismala mendapatkan pekerjaan tambahan. Mereka menjadi jarang bertemu. Rismala hanya bisa menatap wajah Rana ketika anaknya telah tergolek di atas pembaringan. Ia tidak ingin membangunkannya, ia tidak ingin mengganggu mimpi indah anaknya. Namun.. cita-cita masih tetap menggurat di garis asa diri Rismala,” Dengan cara apa pun aku harus menciptakan masa depan anakku!” keyakinannya begitu kuat.

###

Dioleskannya gincu di bibir tipisnya sebelum ia keluar rumah. Uang SPP, uang Buku, dan tetek-bengek keuangan lainnya diletakkan di atas meja, seperti biasanya. ia tidak bekerja di pabrik tekstil lagi. Tuan Probo telah menunggu di depan rumahnya. Mobil mercy hitam mengkilap padahal hari masih pagi dan alam masih terlelap dalam dingin. Rismala bergegas membuka pintu mobil, senyum hambar terkuak. Tuan Probo menyambut dengan seutas senyum penuh kemenangan.
###

Rana masih setia menunggu kepulangan mamanya di bawah pohon kersen. Matanya berkaca-kaca sering melelehkan air mata yang menganak sungai di pipi mulusnya. Betapa di dalam dirinya ada harapan besar yang terus tercipta.

Hari hampir maghrib. Kepak kelelawar telah menggema. Lembayung menggurat di ufuk Barat. Rana masih mematung. Air matanya bening, semakin berlinang.

Seseorang mendekati anak itu. Digendongnya, sedangkan Rana memeluk erat pundaknya seakan telah menemukan harapannya yang ia cari selama ini. Mereka bergegas menuju ke rumah orangtua Rismala, tanpa banyak bicara. Orang itu akan membawa Rana untuk menemui kedua eyangnya, kakek dan neneknya yang masih terbaring dalam kepedihan. Tapi…air mata Rana menerjang punggung orang itu. Hangat dan basah. Sampai… air mata menitik di sudut matanya….

Sukabumi-Balandongan
05 Februari 2005

25
Okt
06

Cerpen: Reuni Akbar SMA

sunsetHari masih pagi, tapi gerimis telah mengeroyok pelataran tanah. Pepohonan kuyup menggigil. Kabut tipis menyelusup ke setiap penjuru. Udara kabur, pemandangan buram. Di musim penghujan ini, pagi tidak memberikan setitik embun dan nyanyi pipit,yang terdengar adalah rintihan pilu rerumputan yang mengiba pada gemebyarnya cahaya kilat. Hujan akan reda setelah jam menunjukkan pukul 11.00 bahkan bisa lebih, atau.. hujan akan turun setahap demi setahap, reda- hujan lagi, reda hujan lagi, begitu seterusnya. Air selokan menguap, sungai Cimandiri meluap. Namun.. tidak ada banjir di sana..

Kus.. sudah termenung di teras rumah. Rona wajahnya nanar dengan kesedihan. Aroma pasrah begitu ikhlas terlukis begitu kuat. Ada kekalutan dalam dirinya, tak bisa disembunyikan. Sambil merangkum kaki, duduk memeluk lutut ia menelan suasana pagi dengan sedikit rasa, hambar dan getir. Entah kenapa, pemandangan terlihat olehnya begitu ungu dan kelabu. Tatapannya jauh menembus gerimis. Di pangkuannya, si kecil, anaknya duduk dengan agung, berumur sekitar 3 tahunan.

Semua orang tahu akan hal ini. Sejak istrinya pergi ke Abu Dhabi, Kus sering termenung. Hidupnya terlihat diselimuti kepayahan meskipun pasrah. Simpati orang-orang begitu besar kepadanya, meskipun hanya ucapan belaka. Kus menerimanya dengan telinga.
Satu sore di musin kemarau, ketika debu-debu terpingkal diterjang angin. Istrinya telah memberi keputusan yang pasti.

“ Ini jalan terbaik bagi kita. Kang!” Kata Istrinya sambil membereskan pakaian, lalu memasukkannya ke dalam koper besar. Entah mengapa, istrinya hari itu begitu cantik dan anggun, ia ingin menciumi pipinya yang tersiram cahaya kuning matahari sore.

Kus tidak berkata. Ia menyadari, sampai saat ini belum bisa memberi kebahagian kepada istrinya. Setiap manusia membutuhkan kebahagian yang besar, lahir dan bathin, dan istrinya adalah manusia.

“Jaga diri baik-baik, Kang!” Lanjut istrinya, siap berangkat. Didekati olehnya si kecil Andi kemudian dikecup keningnya sampai beberapa kali, air mata beku, menitik di sudut matanya. Kus diam, lebih tepatnya tidak merasakan apa-apa selain dari tubuhnya serasa melayang tersapu badai. “ Rawat anak kita. Ini kulakukan demi kebahagiaan kita, Kang!”
Kus mengerti ucapan tulus istrinya. Telah lama ia mengenal watak istrinya. Pendiam, penyabar, tidak meminta lebih, apalagi menumpahkan keinginan-keinginan besar seperti Istri para tetangganya. Tapi… waktu terus menggulung manusia. Dan istrinya adalah manusia biasa. Kus semakin melayang ketika derap langkah kaki istrinya menjauh ke luar dari rumah. Tanpa melirik ke belakang.

Hujan berubah dari gerimis menjadi lebat. Kus menatap surat undangan Reuni Akbar SMA, dalam benaknya memilih antara datang atau tidak. Surat dilemparkan, dan Kus telah memutuskan…

***
Gumpalan awan pekat menyingkir perlahan demi perlahan dari langit. Matahari mulai muncul memancar terik memukul kepala orang-orang di terminal bus. Meskipun becek masih tersisa namun riuh semakin ribut, deru mesin, teriakan kondektur, ratapan pengemis, bunyi gitar rombongan, dan nyanyian cempreng para pengamen jalanan. Daki dan peluh mulai tersibak. Cuaca bisa berubah seketika, dari hujan ke panas, seakan alam sudah mulai bertingkah sekehendak.

Di sudut terminal, sosok jangkung kecil duduk. Nafasnya berat dan teratur. Pakaian setelan celana jeans dan jaket levis berwarna abu tua. Muka keruh, dihiasi oleh kacamata hitam tebal. Rokok terselip angkuh di sela-sela bibir hitamnya.

Gopal, orang-orang terminal mengenal dirnya. Ditakuti karena kesangarannya. Baginya, cerulit adalah sahabat karib. Memukul orang tanpa pertimbangan dan sebab, semudah membalikkan telapak tangan.

Seseorang, berjalan tergopoh. Ukuran badannya lebih pendek dan kecil. Tapi roman mukanya sama, penuh peluh dan keruh oleh romantika hidup, menghampiri Gopal.

“ Ini, Bang!”

Uang recehan dalam kantong plastik diberikan kepada Gopal. Sekejap saja sudah masuk ke dalam saku jaketnya.

“ Si Rony bagaimana. Bah!”

“ Katanya, satu rit lagi, Bang!”

“ Kau uruslah dia, aku tidak mau tahu.”

“ Siap, Bang!”

Dia segera pergi.

Gopal menarik nafas panjang, lalu memasang sebatang rokok pada celah-celah bibirnya. Dari saku celananya ia mengeluarkan sebuah surat undangan Reuni Akbar SMA. Tanpa Komentar, ia sobek surat itu. Kemudian dilemparkan, kepingan kertas berhambur susul -menyusul menyerbu aspal becek.

***
Setelah maghrib udara mulai turun, menjadi lebih dingin. Gerimis menerjang lagi.

“ Bagaimana?”

“ Bagaimana apanya?”

“ Ya itu.. undangan Reuni Akbar SMA itu, lho yang bapak terima tadi siang?”

“ Entahlah, Bu” Kata Romli datar.

“ Ini bukan masalah saya. Tapi, saya pikir ini adalah masalah penting atau tidak penting.
Dan jika saya disuruh harus memilih, saya pikir Menghadiri Reuni Akbar itu penting lho,
Pak!”

Romli menimbang-nimbang saran dari istrinya. Memang, betapa pun juga, Reuni begitu penting baginya untuk menemukan kembali masa lalu yang telah tergusur waktu. Ia harus menghadirinya..

Malam mulai meninggi, gerimis tetap pada irama dan ritme yang sama. Surat undangan diselipkan ke dalam buku..

***
Tengah malam.

Klub semakin panas. Jiwa-jiwa menggeliat bergelora. Para pengunjung larut bersama hentakan musik remix dan disko yang diputar keras dengan suara berat. Dunia mereka gemerlap dengan lampu-lampu. Bergerombol berbaur. Orang-orang malam memiliki anggapan, menghabiskan malam dengan hiburan setelah seharian diterjang rutinitas yang penat dan sesak. Gelora rangsangan memuncak di ubun-ubun mereka setelah aroma minuman sesak di kepala.

“ Selvi, kau harus tampil all-out malam ini, Sayang!” Kata Jo sambil mengecup kening mulus Selvi. Asap rokok aroma menthol dihembuskan ke wajah Jo. Selvi mendorong Jo, kasar. Tapi Jo membalasnya dengan seutas senyum getir dan hambar.

Tanpa sungkan-sungkan, Selvi mengganti pakaian di depan lelaki itu. Seragam kebanggaan telah membalut tubuhnya. Semakin mempertajam keanggunan dirinya. Selvi seorang penari, pengunjung klub membanggakan kedudukannya. Simpel, dan senang diajak berbincang.

Setelah membaca dan melemparkan surat undangan Reuni Akbar SMA ke dalam keranjang sampah, ia bergegas melangkah untuk menunaikan tugasnya. Dalam pikirnya, keputusan untuk memilih hadir atau tidaknya di Reuni Akbar SMA akan diputuskan oleh nasib.

***
Pada hari H Reuni Akbar SMA. Tidak semua alumni datang menghadirinya. Namun.. Kus, Gopal, Romli, dan Selvi datang menghadirinya. Gedung sekolah adalah naungan ilmu masa lalu, masih sama seperti dulu. Memang ada yang hilang, pohon beringin besar di belakang sekolah, tempat para siswa menghilangkan penat dan menghabiskan waktu istirahat itu telah ditebang dan diatas tanahnya didirikan kelas baru. Atau warung nasi Ceu Emay di kantin sekolah. Menurut berita, pemilik warung itu telah pergi ke daerah Timur setahun setelah mereka lulus.

“ A-ha… kau si Kus… Kusdianto?” Terka Gopal berteriak kegirangan.

“ Dan kau….. si Gopal, khan?” Teriak Kus mengimbangi. “ Kau si Romli dan kau…. Si Selvi!!!”

Mereka tertawa renyah dan kering. Mereka duduk di belakang sekolah tampat mereka dulu menghabiskan siang sepulang sekolah. Deretan kursi memanjang dipasang alakadarnya tidak berubah, padahal sudah sebelas tahun. Mereka masih mengenal harus duduk di mana .

“ Kau si Kus yang sering menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan sambil melahap buku-buku sastra… ?”

“ Dan kau si Selvi yang sering mengobral cita-cita menjadi pramugari…”

“ Hah.. si Romli yang pernah tidur di dalam kelas. Masih ingat kah kau!?”

“ Hmm.. kau si Gopal yang senang dengan buku-buku astronomi. Hah! Kiamat sudah dekat, bintang besar akan jatuh menerjang atmosfer, bagitu khan?”

Kembali… mereka tertawa.

“ Bagaimana kalian?” Tanya Kus mendahului.

“ Hhh.. aku sudah bekerja di sebuah Hotel berbintang di Jakarta!” Ujar Selvi diimbangi dengan senyum.

“ Aku sudah menjadi kepala keamanan di Pulogadung!” Susul Gopal.

“ Aku sudah diangkat menjadi seorang PNS, aku mengajar di SMP, di Bekasi..” Kata Romli.

“ Dan Kau!!!?” Semua menatap Kus, penasaran.

Kus diam sesaat. Gamang untuk menentukan pilihan. Namun ia harus membuka mulut.
Tekadnya sudah bulat, ia harus berkata tegas meskipun…

“ Setelah lulus sekolah, aku berwirausaha, kawan-kawan!” Ia menarik nafas berat. “ Aku membuka mebeul… karyawanku sudah ada sepuluh orang.!”

Kembali… mereka tertawa lagi. Entah menertawakan apa. Tapi.. Kus hambar.

***
Hari masih pagi dan dingin. Kus berdiri mematung diatas jembatan Merah. Sungai Cimandiri meluap keruh kecoklatan. Hidupnya semu jika mengenang kesuksesan beberapa temannya. Ia telah berbohong dengan jujur kepada teman-temannya. Tanpa sepengetahuan siapa pun Kus naik ke atas Jembatan menatap ke bawah, air meluap, keruh. Istrinya melambai-lambai. Kus tidak ingin menyusahkan siapa pun, ia hanya ingin hidup bahagia. Dan hujan terus memukul tubuh kecil Kus ketika Kus memutuskan untuk…

sukabumi, 12 Maret 2006

25
Okt
06

Perjalanan Kehidupan: Mengunjungi Teman Yang Sedang Berbaring di Hari Raya Tahun Ini

kecilIedul Fitri tahun ini tidak seperti sebelumnya. Sebelum mengunjungi kaum kerabat dan ziarah ke kubur kakek,saya menymepatkan untuk menngok seorang teman yang sakit keras. Kebetulan rumahnya,tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya.

Laiknya orang yang sedang sakit, dia terbaring kaku dan lemah. Saya bisa mengira-ngira,mungkin tidak lama lagi dia akan meninggalkan dunia yang diliputi oleh berbagai masalah ini. Lantaran, ckckck… tubuhnya memang dimakan oleh penyakit, seperti orang kelaparan, kurus kering, bicara pun sudah kaku,hanya bisa melafalkan kata sepotong-sepotong.

Menurut cerita berita ,dia terserang penyakit parah,karena sikap hidupnya ketika sehat memang tidak sehat. Begadang dilakukannya hampir tiap malam,tanpa waktu terlewat. Perut kosong, dan mabuk berat, itulah awal malapetaka yang dihadapinya.

Kini… teman saya itu terbaring lemah,tinggal menunggu hitungan hari… Bukan saya saja yang bverpendapat demikian,orangtuanya pun demikian. Ternyata… betapa mahalnya kesehatan, dan… betapaseringnya kita mengabaikan hidup sehat.

22
Okt
06

Cerpen: Kehilangan

SedihKemarau masih mengigit. Panas siang, mungkin menyaingi padang gersang yang oasenya tertunda di ujung hari. Dingin malam mungkin mengimbangi pelataran tundra membiru lalu memutih salju. Kabut… yang kumaksud adalah selaksa putih memburam yang kurang jelas, meskipun hidup yang kuarungi memang seburam halimun pagi, menutup seluruh mata bathin. Asap mengepul keluar dari sela-sela akasia meranggas. Tapi.. dingin dalam jiwaku tak kuasa kubendung sebab salju putih terus menggelora dalam asaku yang terus merasa kehilangan.
Aku tidak mengerti, sama sekali. Mengapa sejauh ini orang-orang memuji diriku, menganggapku sebagai seorang pemimpin jujur, ketua RW yang baik hati. bahkan anak-anak selalu menyalami , mencium tangan, setiap berjumpa denganku. Para pemuda sebaya menyambut dan berkata : Pak RW ! di awal atau di akhir pembicaraan mereka. Para pemimpin, seperti Lurah dan Camat tidak mau berlama-lama berdiskusi denganku, mungkin, agak riskan dengan idelaisme yang ku anut, anti penipuan! Semua orang menganggap diriku orang bersahaja. Para orangtua siswa yang aku beri les privat memberi penghargaan besar kepadaku dengan menyerahkan sepenuhnya anak-anak mereka, mau diapakan saja mereka siap sedia.
Kemarin, pertandingan bola api habis digelar. Orang-orang memberi kepercayaan kepadaku untuk memimpin pertandingan. Aku ditunjuk sebagai wasit. Alasannnya sederhana sekali, memang menjadi standar penilaian mereka, katanya aku jujur… dan bisa dipercaya, keputusan orang jujur selalu dihargai. Ya.. aku setuju saja dengan penilaian itu, sampai kupimpin juga pertandingan bola api itu. Suasana menggeriap dengan alunan api, membumbung , emosi menyisit semua pemain bak riak-riak api, panas! Egoisme berkobar. Puji milik Tuhan…segala sesuatu sesuai dengan rencana, anggapan orang benar adanya, pertandingan bola api berakhir dengan penuh kemenangan. aku semakin dihargai.
Aku merasa yakin, Tuhan tidak akan salah dalam menilai manusia. Kepercayaan tentang balas budi, karma, dan takdir melekat kuat dalam kehidupan, meskipun orang berbeda-beda dalam mempersepsikannya. Kebaikan akan berbuah kebaikan, begitu juga sebaliknya. Lantas… penghargaan jiwa apa yang telah kuraih? Orang-orang tidak tahu… hari ini.. bahkan sudah lama jiwaku ringkih. jiwaku hilang, jiwaku tidak menentu. Aku kosong, bagaikan matahari melongo tanpa awan.Aku selalu menangis dalam mengais segala kebaikan. Orang tidak mungkin percaya kepada jiwaku karena sering tertutup oleh bisik fisik, namun… tolong, jika bisa.. kau sampaikan kegersangan jiwaku yang selama ini merasa terus kehilangan.
Adik, sudah lima hari pergi dari rumah dengan alasan karena merasa dikekang oleh aturan-aturan ayah. Padahal… ayah hanya seorang lelaki gagah lulusan sekolah rakyat. Muda-mudi mungkin mengira, pikiran orangtua sebagai perwujudan sikap kuno dan kolot, tidak sesuai dengan selera dan tuntutan zaman. Barangkali, pikiran orangtua, sebenarnya adalah kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anaknya. Hanya karena, ayah menanyakan; “Siapa lelaki yang telah berani memukul kepalamu!”. Adik minggat dari rumah sambil meninggalkan sepucuk surat.
Kau.. jangan bertanya tentang ibu. Sejak aku duduk di bangku kelas 5 sekolah paling dasar, ibu sudah jauh meninggalkan kami, bekerja di Saudi Arabia, mencari uang berukuran besar, pulang dua tahun sekali, komunikasi kami hanya melalui surat-surat atau e-mail. Paling lama ibu hanya mampu bertahan dua bulan di kampung halaman, lalu pergi lagi ke Saudi Arabia mencari harapannya. Aku telah sekian lama hidup bersama kepasrahan nenek. Nenek sudah keropos, sering melakukan pesta besar di atas ranjang, aku membersihkan kotoran dan membuangnya, ya.. tentu saja dengan tanganku sendiri. Kau akan sependapat dengan kebanyakan orang dan pandangan dunia, bahwa aku adalah cucu baik. Namun… penghargaan itu tidak cukup bagiku, jiwa paling penting.
Pengamatan tentang dunia yang jelas dan pasti, merupakan sumber kebahagiaan. Sebulan yang lalu, kami merayakan kemenangan besar, kemerdekaan bangsa ini. Pandangan terhadap pentingnya kemerdekaan begitu mengakar dalam jiwa kami, sekali lagi kami! Sebagai ketua RW aku ditunjuk sebagai ketua panitia hari kemerdekaan. Memasang umbul-umbul, memberekan jalan, membuat kaca-kaca, memasang bendera berujuran besar, menyusun perlombaan dan permainan. Hanya…saja, apakah dengan demikian aku merdeka? Hhh… aku seolah merasa terjajah dan terpasung justru. Jiwaku ringkih dan rapuh, tetap…
Tapi tolong… kau jangan bertindak sepertiku. Pernah terbersit dalam diriku sekedar untuk mengakhiri drama kehidupan ini. Anggapan yang hinggap dalam batok kepala tentang bodohnya kejujuran dan gersangnya keadilan sempat menghentikan akal sehatku. Aku ingin mati! Mohon… jangan memiliki pikiran seperti itu, ya! Tali tambang, obat nyamuk cair, racun tikus, silet tang diiriskan pada nadi, pernah mengelilingi pikiran. Setan alas berbisik penuh semangat dan merasa memperhatikanku.
Pikiran lain yang menyerang jiwa rapuhku adalah tentang pentingnya kejujuran begitu riskan dan memang bodoh. Kejujuran taik kucing, temanku bilang nothing! Petani memikul beban hidup dengan tetek-bengeknya hanya mencicipi kue kehidupan yang kerontang. Orang-orang bersih bagaikan jembel-jembel yang mengelilingi daging tumor ganas. Mungkin pikiranku salah… maafkan aku.

###
TIRAI malam terbuka perlahan, temanku, Gunawan datang menghampiri, mengucapkan salam dan memanggilku pak RW. Kau akan menganggap dia sebagai seorang penyakitan, bahkan menjulukinya seorang psiko. Dia lebih tua dariku, usianya terpaut 15 tahun, kurang lebih. Kurus kering penampilannya akan mengingatkan kau pada beberapa ahli pikir atau sebangsa manusia terpenjara dalam kotak besi yang tidak mengunyah barang sepiringpun nasi. Penampilan fisiknya kadang tidak sepadan dengan besarnya cita-cita yang selama ini menghantui jalan hidupnya. anehnya… dia belum menikah.
Sejauh ini aku telah memberikan pelayanan memuaskan kepadanya. Sekedar menandatangani formulir pembuatan KTP tak masalah. Penting kau ketahui aku menyukai adiknya, Nurlela.  Selain cantik, dia juga memiliki semangat hidup, kesukaannya membaca novel, bukan sekedar membaca melainkan mengunyahnya. Dia juga cerdas dalam tindakannya.
Dan.. entah apa yang akan dikatakan oleh Gun-gun kepadaku. Dari roman wajahnya memang ada keseriusan.
” A.haaa… biasanya kau datang kepadaku jika malam telah larut, Bang!”
” ah.. lupakan semua, aku bukan pahlawan, tidak ada kemestian untuk menepati waktu. Persetan dengan waktu….yang telah memenggal batang usiaku..” Dia duduk di sofa, tepatnya menjatuhkan diri, cara duduknya kurang berwibawa.” Ya, sekedar untuk mencari inspirasi, tak apa-apa khan… hhh…. tentang harapan…. aku telah memaki sang waktu… ya… kau harus sependapat dengan kebanyakan orang, bahwa aku memang seorang psiko. Kau sependapat?” Katanya melotot. ” Jangan sungkan-sungkan…., julukan berharga itu akan tetap tersematkan dalam diriku..” Ia meminta segelas air putih.
” Bagaimana…:”
” Adikku?” Dia memotong..Membenarkan cara duduknya.” Kau betul-betul mencintainya? Biar… biar orang -orang memiliki anggapan  bahwa aku adalah kakak yang kurang waras… dilangkahi menikah oleh seorang adik.. bahkan 15 tahun lebih! Tapi.. dengar… sekdar untuk membuktikan rasa cinta.. penting kau ketahui.. adikku akan dinikahkan oleh ayah dengan seseorang yang jelas.. bukan kau! Jangan terkejut… aku bukan tipe manusia pengadu, aku ke sini untuk memberi semangat kepada kau tentang pentingnya sebuah perjuangan untuk memiliki sesuatu…”
” Setahuku….”
” Ya, Nurlela adikku… sangat mencintaimu… tapi percayalah… orangtua sering menilai calon menantunya dengan harta. Standarnya jelas, masa depan kawan! Aku tercampakkan karena demikian… aku dihempaskan oleh ayah si”DIA” ketika sebuah malam dengan purnama kusampaikan permohonan, aku akan menikahinya. Apa kata ayahnya: HIDUP BERKELUARGA ITU TIDAK SEKEDAR HANYA MENGANDALKAN CINTA!!!!!

###
PAGI sekali, Pak Rohman, ayah Nurlela, sudah duduk sambil menyibak koran di depan kedainya. Kedai terbuka sebagian. Seperti akan ada acara rupanya. Biasanya kedai sepagi ini sudah buka dan terbuka lebar-lebar.
” Tidak buka, pak!”
” O..kau. RW… tidak… sebentar lagi aku akan ke pasar. Aku akan menyiapkan tetek-bengek perkawinan si Nur. Kau sudah tahu, tempo hari si Nur dilamar oleh orang berpendidikan….”
” Ya, saya tahu, pak!”
” Kau..sakit…. ckckck.. wajahmu mengapa lebam begitu, RW!” Dia memegang tanganku. memapahku masuk ke dalam kedainya.” Kau jangan banyak pikiran, RW. Kau harus santai, rileks, jangan terlalu berlebihan dalam mengurus kesejahteraan warga. Lihat..sampai-sampai kau melupakan dirimu sendiri…”
Siangnya kutemui Nurlela, betul..dia terlihat bahagia, meskipun ada air mata mengendap di sudut matanya. Kusampaikan segalanya. Dia memberiku sepucuk undangan. Ya, kuterima, aku memiliki keyakinan, boleh saja aku kehilangan adik, ibu, nurlela, tapi tidak untuk diriku sendiri…. Cinta tidak mungkin hilang dalam diriku. Aku bisa mencumbui bayang Nurlela dalam detak mimpi-mimpiku…. apa? Kau menganggap jalan hidupku aneh? Kau menganggap aku psiko? Hhh….

Sukabumi Oktober 2006, menjelang Iedul-Fitri

19
Okt
06

Cerpen: “Brrrrr….!”

Alam Pasti Jujur

” Mbok ya jika sakit jangan banyak tiduran tho, nduk..” Begitu masukan Mbah Kakung kepada cucunya, Surontoloyo”Brrrrr….!”

” Ckckckck… kamu sudah makan jamu.. atau… ya..ya..ya.. Mbah, punya obat manjur, penghilang sakit kepala, pusing dan cekot-cekot…ntar.. Mbah ambilkan dulu, ya!” Mbah kakung berdiri, mengambil kotak obat bertuliskan P3K dilengkapi dengan gambar Palang Merah Indonesia.

“Brrrrr….!”

” Ini dia, nduk! Ayo buka mulutmu.. tak apa pahit sebentar, wong.. semua macam obat itu pahit kok.. ayo.. lekas buka mulutmu.. ini demi kesembuhanmu, nduk…”

“Brrrrr….!”

” Nah… ini minumnya… ooo… kamu mau air hangat Nduk… tunggu Mbah kakung ke dapiur dulu…” Dengan kaki gemulai, orangtua itu menuju dapur.

“Brrrrr….!”

” Ini… Mbah membawanya pada gelas tempurung kelapa. Minum yang banyak ya, agar kamu lekas sembuh dan besok membantu Mbah lagi bekerja di ladang…”

“Brrrrr….!”

” Kenapa kau menggeleng.. Ndak mau ya bekerja di landang membantu Mbahmu.. ini? mau jadi apa kamu ini, Nduk. Orang-orang pada menolong mbahnya, lha kamu?… mau apa? Mau sekolah tinggi… bok ya disesuaikan toh , ndak usah sekolah tinggi-tinggi lah, membantu mbah di ladang saja kamu sama dengan sekolah, Nduk!”

“Brrrrr….!”

” Sekarang… berbaringlah… biarkan obat dan jamu itu bekerja demi kesembuhanmu.. !”

“Brrrrr….!”

” Tuh… opo, mbah kakung bilang. Cpcpcpcp… kamu keluar keringat. Nduk. Badanmu sebentar lagi sehat, panas akan hilang, kamu akan kembali bekerja di ladang,..”

“Brrrrr….!”

” Ini.. selimutmu… ndak usah bangun kamu… biar Mbah yang memasangkannya. Hussh… kamu kentut ya? Tidak sopan, Nduk kentut didepan Mbahmu ini. Hueekkk… baunya minta ampun, padahal tadi.. kamu tidak mangan ubi jalar kan?”

“Brrrrr….!”

” Ndak apa..asal kamu jangan kencing saja Nduk… “

“Brrrrr….!”

” Dari tadi kamu.. hanya Brrrrr….Brrrrr… begitu saja… kamu menghina Mbah kakung ya, Nduk?”

“Brrrrr….!”

“Brrrrr….lagi Brrrrr lagi… awas kamu Nduk! Tak Kemplang….nanti!”

“Brrrrr….!”

” Plakkk…!” Sebuah tamparan mengena di pipi Surontoloyo.

“Brrrrr….!”

“Plakkk…!”

“Brrrrr….!”

” Yo..wiss… Mbah kakung ngalah…!” Akhirnya Mbah kakung keluar, membawa cangkul menuju ladangnya. Garapan tanah menunggu seluas 2,5 are.

“Brrrrr….!”

Sukabumi Ramadhan 2006

18
Okt
06

Cerpen: Keluarga Wong

Keluarga Wong

” Jadi kamu lulusan universiti?” Tanya Wong, lengkapnya Peter Wong. Ia mencoba melotot, ah.. tetap saja sipit. Kulit wajahnya kuning bersih dan terlukis kebahagiaan.

” Ya.” Jawabku datar. Lukisan indahnya kampung halaman membayang.Hampir saja air mata menitik di sudut mataku. Dengan alasan tertentu, aku teringat pada sikap ibu . Ibu setengah memaksaku agar mengikuti adiknya bekerja di Malaysia

” Tidak mau pulang kah ke Indon?” Sudah sering dia bertanya itu. Sejak aku mengenal dirinya.
Aku menggeleng. Mungkin perlu kupastikan kepadanya, bahwa sampai saat ini uang gajihan belum keluar juga. Perusahaan menangguhkan pembayaran uang gaji selama dua bulan, bahkan sampai saat ini… kayu-kayu gelondongan belum datang juga- mungkin hampir satu minggu. Pabrik mogok. Kami, para pekerja ilegal sering digelayuti rasa was-was. Akhir-akhir ini polisi diraja Malaysia kerap melakukan razia. Untuk sesaat, sering aku bersama beberapa pekerja lainnya mengandap-endap dirapatnya pepohonan hutan bintulu. Kadang harus bersaing dengan nyamuk-nyamuk, jika malam. Hanya saja, aku memang sering disembunyikan oleh Wong. Sering sekali, jika patroli datang.
” Aku ambil dulu roti, boleh kah Wong!?”

Wong mengambil satu bungkus roti tawar. Pada rak itu berjajar berbagai macam penganan. Rata-rata, dan memang seluruhnya, barang-barang  jualan sudah dibandrol dengan harga pass.
” Ini free… Kau tak usah bayar lah..!” Katanya sambil memberikan satu tofles selai rasa nanas.

” Cuma-cuma, begitu saja?” aku agak heran, padahal pura-pura, karena sikap Wong seperti itu memang sudah biasa. Malah..sering.
” Iyaa…. lah..!”

###

” Lusi akan ke bandar, kau mau titip apa?” Tanya Wong. Lusi Wong yang dia maksud adalah anaknya sendiri. Rambut panjang dicat warna coklat. Jenjang. Memakai kaos hitam. Celana jeans agak longgar. Aku mungkin jatuh cinta kepadnya. Dalam urusan ini, aku memang mudah terpikat oleh wanita.

” Aku titip New Strait Times saja” Gumamku. ” Uangnya bulan depan. 1 Ringgit kah?”

” 1,5 lah.. mana boleh Harga New Strait Times cuman 1 Ringgit!” Lusi yang berkata.” Tak titip yang lain, kah?” Dia membereskan rambut panjangnya. Wangi parfum dari tubuhnya membuka cakrawala pagi anganku. Hampir saja aku dibuat melayang jatuh ke dalam jurang asmara. Bagiku… masa depan dengan Lusi memang merupakan kabut samar yang badai dan angin beliung sering menerpa.
Mana berani aku menititip barang lagi. Sampai saat ini utangku kepada keluarga Wong sudah hampir 1.000,- Ringgit. Celakanya, Wong masih berkenan memberikan barang-barangnya kepadaku, aku masih dibolehkan ngutang kepadanya. Memang Toko yang disebut kedai itu cukup besar, maka ada lalasan bagi Wong untuk mengutangkan barang-barangnnya kepadaku, meskipun bukan aku saja. Toko serba ada memang. Orang dan sahabat Wong sudah ramai ,duduk-duduk sambil ngobrol di depan Toko.

” Aku pergi dulu, Papa!” Lusi bergegas naik ke atas sedan putih. Sementara Wong melambaikan tangannya. Dalam pandanganku, Wong memang mengasihi Lusi, memang anak tunggal dan satu-satunya. Kiranya, apapun  keinginan Lusi akan dipenuhi oleh Wong.
” Kau… nanti malam tidur di rumahku , mau kah?” Kata Wong tiba-tiba. Sebuah tawaran, hhh.. bisa jadi.

Kau gila, Wong? Apa aku harus menikahi anakmu? Pikirku dalam hati. Masalahnya…baru pertama ini sejak aku mengenal dirinya, dia menawariku untuk tidur di rumahnya. Hmm… Ya..ya..ya.. sekdar untuk merespon dan menghiormati tawarannya kuhargai juga keinginan Wong. Sepakat, aku akan menginap di rumahnya malam ini.

” Mau!” Desak Wong.

” Wong…..”

” Oke… biar ku terka.. Kau mau , sudah pasti itu!”

Fuihhhh…

###

Ya, dengan alasan menghargai Wong dan Lusi aku menginap juga di rumah Wong. Istrinya, terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Dalam hal selera, antara Lusi dan Ibunya memang persis. Makan Roti isi kacang, Minum air Jeruk hangat. Dan membaca buku-buku tua. Berbahasa inggris.

” Kau tidur di kursi!” Bisik Wong, setelah kami makan malam. Hhh… apa boleh buat. Kami tidak banyak bicara, pukul 08.00, Wong sekeluarga sudah pada tidur, bisa jadi mereka kelelahan,karena seharian-setiap hari-dalam kehidupannya, yang kusaksikan dalam kehidupan mereka adalah kerja keras tanpa henti.
Pagi sekali, keluarga Wong sudah sibuk. Wong membuka toko, istrinya memasak, dan Lusi menyapu lantai- ssetelah mandi- dia segera berangkat ke bandar.

” Aku pulang dulu, Wong!” Mataku masih sepet, kesat.
” Ah.. kau ambil makan dulu lah.” Teriak Wong sambil menghentakkan Rolling-door. ” Mama, bikin roti isi!” Dia menarik tanganku kuat sekali. Istrinya datang sambil membawa roti isi daging di dalam plastik transparan. Wong memberikannya kepadaku. Ku terima.” Ya..ya.. sudah pasti tidak akan aku masukkan ke dalam daftar utangmu, lah!”

###

Siangnya, Wong berteriak-teriak. Jarak toko dengan tempat tinggalku memang tidak jauh. Aku mengintip, Wong berteriak-teriak memarahi istrinya, kira-kira begini: ” ada yang mengambil kalungku, pasti kau!” Bentaknya sambil menuduh istrinya.

” Kau ini!” Istrinya membela diri. Wajahnya memerah, kesal.
Perang mulut dan cekcok terjadi. Yang satu menuduh, satu lagi mengelak. Beberapa orang lewat di Jalan besar melihat adegan itu.  Ah.. hanya berlangsung kurang dari 15 menit . Mereka mendingin kembali. Wong duduk di depan toko dan istrinya masuk .

Aku menghampirinya. Duduk di sisinya sambil menopang dagu.

” Kau kehilangan kalung, Wong?” Tanyaku penuh perhatian. Tulus.

” Ya.. aku tahu… kau mengambilnya, pasti!” Dia berbisik namun jelas.
Apa??? Aku berteriak dalam hati.” Dengar Wong! ” Kutarik udara.”Semalam aku tidur di kursimu sedangkan kalungmu ada di lehermu..” Aku berdiri sambil membelakanginya.

” Tidak mau mengaku, kah?”

” Kau bodoh Wong!” Aku menunjuknya kasar.” Akan segera kubayar utang-utangku besok…” Ah, ingin sekali kutampar pipi kuningnya. sebelum aku beranjak pergi…
Wong tidak bereaksi apa-apa demi melihatku bergerak kesal.
###

Dua hari aku tidak menemui Wong dan keluarganya. Menurut beberapa teman, Wong selalu menanyakanku. Memang masih kukuh pada dugaannya. Dia pernah berkata kepada Budi, temanku, ya… semacam pesan lah, katanya:” Bilang ke temanmu, biarlah dia mengambil kalungku… lupakan saja semuanya, seolah tidak terjadi apa-apa!” Cih.. semakin segan saja aku datang lagi ke tokonya.

Dua hari kemudian, aku merasa tidak kenyang. Makan alakadarnya, menunggu sisa pemberian teman. Dan gaji masih menngambang, hingga, aku lebih banyak berbaring dan tidak mau diganggu oleh siapa pun.

Malamnya, demam menyerangku. Sekujur tubuh panas, aku gemetar dan menggigil. agus meletakkan kain basah di keningku. Teman-teman merasa khawatir.

Besoknya.. Wong sekeluarga menengok. Lusi membawa buah apel hijau segar. Istrinya membawa roti isi, dan wong sendiri membawa obat penawar demam. Dalam penglihatanku, Lusi benar-benar cantik.. Wong dan keluarga tersenyum ramah serta hangat. Mereka meneguhkanku, meyakinkan akan esembuhanku.

” Sebaiknya… kau pulang ke Indon, jika telaj sembuh!” Saran Wong.

aku melirik sepintas, kutatap langit-langit.

” Biar… segala keperluannya, aku yang urus…”

” Ww…wong!?”

” Sttt…! Kau jangan begitu, aku sungguh lah!”

###

Setelah sembuh, Wong mau mengantarku sampai ke perbatasan Malaysia-Indonesia, bahkan memberikan uang sebanyak 1000 Ringgit. Istrinya dan Lusi ikut di dalam sedan berwarna putih yang kami tumpangi.

Sampai di perbatasan, kami saling jabat tangan, erat tidak mau lepas. Seolah , kami tidak mau berpisah. Lusi mencoba tersenyum… kedua orangtuanya bisa jadi memahami jalan pikirannya.

Tak bisa menunggu, kami berpisah.

Dalam perjalanan , aku hanya menyaksikan lebatnya pepohonan hutan Kalimantan yang berlari-lari sambil menjauh, sementara Wong sekeluarga masih terus membekas dalam ingatanku. Dan dalam genggaman tanganku ku pegang erat-erat kalung seberat 15 gramm..” Wong.. maafkan aku…”

Cerita ini hanya fiksi belaka, saya memang pernah ke Malaysia, dan berkenalan dengan keluarga Wong. mereka memang baik.. bahkan mau mencarikan pekerjaan untuk saya di Malaysia….Saya yakin, Wong dan kelurganya sudah melupakan saya, tapi saya tidak mungkin melupakan mereka….

17
Okt
06

Cerpen: Wanita di Bantaran Sungai

SungaikuSeorang tukang pancing sejati, Ohil, belum berani menikahi seorang wanita pun. Hidupnya, seolah-olah hanya puas menjadi dirinya sendiri. Padahal, filsafat macam apapun akan menghendaki datangnya kebahagiaan dalam hidup. Dalam aturan yang tertanam di masyarakat, kebahagiaan hidup, salah satunya bisa dicapai dengan memulai hidup baru, berkeluarga, memiliki istri, menimang anak, dan hidup ramai dengan anak istri. Tapi, jelas sekali, sekali lagi memang jelas, bahwa filsafat hanya bisa membawa orang kepada kebahagian bathin , dan bagaimana cara manusia memandangnya, tidak semua orang memandang kebahagiaan hanya dicapai melalui hidup berkeluarga. Ohil mungkin punya pandangan seperti itu.
Terang sekali, sirkulasi dan jalan hidupnya, itu-itu lagi. Pagi sekali dengan celana pendek dan baju alakadarnya, dia sudah menggenggam pancing. Topi kebanggaannya kupluk, semua orang memang memiliki kebanggaan dalam hidupnya, selera memang seperti itu. Berjalan tanpa melirik, seolah semua orang mengacuhkannya, lurus membelah jalan. Kakinya hanya bisa mengacau debu-debu musim kemarau, tanpa alas. Air mukanya memang lelah. Pernah aku memergoki dirinya selonjor di bawah pohon kelapa, aku hampir tidak menemukan dalam dirinya secuilpun kegirangan. Dia banyak berpikir. Hanya mulutnya saja bergumam kecil, tapi tidak dalam bentuk serapah. Atau.. mungkin irama hidupnya lebih minor dari nada sebenarnya. Dia bisa duduk delapan jam tanpa bergerak di tepian sungai, sebelum cuaca berubah, menunggu kailnya disambar ikan.
Beruntung sekali, dia tidak melupakan Allah. Menjelang dzuhur, atau setelah adzan berkumandang, dia pulang. Di tangannya tidak hampa lagi, kadang menjinjing ikan mujair, lele, atau ikan mas. Kayu bakar pun bisa dia angkut dari sungai. Dia bersih-bersih di pancuran, mengambil air wudlu, lalu pergi ke mesjid menemui Allah.
Maklum orang, selalu ingin tahu macam-macam. Kalau belum tahu mencoba untuk tahu lalu menerka-nerka, bahkan sok tahu pun jadi lah. Demikian halnya, tentang Ohil. Orang mulai meraba-raba atau sekedar ingin tahu, mengapa lelaki yang umurnya sudah sepertiga abad, 33 tahun 3 bulan itu belum juga mau mengakhiri masa lajangnya. Mungkin dia kawin dengan dedemit penunggu sungai. Atau pikirannya kesabet siluman sungai. Atau, bisa jadi otaknya dikacau sebangsa jin jahat! Ada yang lebih parah, mungkin dia impoten! Masya Allah!
Nyatanya memang demikian, hidupnya bisa jadi hanya satu paket : cacing tanah, pancing, jaket kucel, topi kupluk, senter. Ya.. rata-rata seperti itulah para tukang pancing sejati. Susunan hidup tidak berarti. Sebab sebetulnya jalan dan cara hidup manusia pasti berbeda-beda. Jangan pernah mau memiliki anggapan bahwa semua orang bisa dijadikan boneka rekayasa. Nonsense semua itu! Orang harus hidup berbeda-beda, bicara harus beda, pemikiran harus beda. Mungkin itulah prinsip para tukang pancing. Di kampung saya tidak banyak orang yang suka mancing, hanya insidentil saja sifatnya. Jika bandang, sungai meluap baru orang ramai-ramai mancing. Tapi, Ohil , memang sudah menjadi profesinya mungkin mancing ini. Dan.. biarlah, itu khan jalan hidupnya.
“ Kenapa tidak berani memulai..” Kata saya pada suatu hari.
Dia hanya mendengus kecil. Mungkin merasa trerganggu langkahnya. Dia sedang menuju sungai, siap menjalankan rutinitasnya. Beberapa kali jarinya mengelus-elus pipi tirusnya. Rokok kretek lintingan sendiri mengepulkan aroma khas. Matahari baru naik satu tombak. Embun pun masih menitik di daun-daun.
“ Ya.. misal, mendekati wanita, atau… menyapa wanita lah. Seperti laiknya lelaki-lelaki lain, khan selalu begitu. Apalagi di kampung kita tidak sepi-sepi amat khan. Banyak wanitanya, si Emeh, Asih, Esih, atau kalau mau janda pun ada, mau janda…?”
“ Saya tidak mau menyusahkan siapa pun…” Katanya kecil. Kupluknya dia luruskan menutup sebagian kepalanya.
“ Memang harus begitu.” Aku menatap langit ,memang cerah.” Tapi.. orang harus berani mengambil resiko agar bisa dikatakan hidup. “
“ Jalan hidup orang tidak perlu sama…” Kalimat itulah yang selalu dia ucapkan kepada siapa pun. Padahal masih banyak kata dan perbendaharaan kata yang sepantasnya diucapkan untuk berbincang-bincang. Mau apalagi, orang-orang agkat tangan ketika dia sudah mengatakan, “ Jalan hidup orang tidak perlu sama…”.
Aku tidak peduli ,sebetulnya. Toh memang betul “ Jalan hidup orang tidak perlu sama…”. Tapi khan manusia itu selalu penasaran. Makanya Allah menjadikannya sebagai khalifah. Aku pernah memancing Ohil, kataku pada suatu hari “ seorang wanita membicarakanmu…”
“ Hhmm…” Biasanya dia seperti itu jika orang berbicara tentang wanita kepadanya.
“ Orang-orang ramai membicarakannya…”
“ asalkan aku tidak merugikan orang-orang saja…”
“ Justru sebaliknya!” Aku memastikan. Ah! Tak ada reaksi apa pun. Dia hanya menunggu. “ Karena sikapmu ini, orang menjadi lelah… memikirkanmu!”
“ Katakan maafku kepada mereka jika tindak-tandukku selama ini menyusahkan mereka….” Segera saja dia berlalu dari hadapanku. Bergegas memburu sungai.
Dan, mesin hidupnya tidak hanya berjalan di siang hari saja. Setelah isya, ketika orang ramai-ramai menjejali warung pak Mud menonton sinetron, dia sudah pergi ke sungai. Bisa bertahan sampai mejelang subuh, menunggu pancingnya dimakan ikan-ikan. Orang-orang sebenarnya merasa beruntung juga, sampah-sampah di sungai diangkutnya, dijadikan kayu bakar. Sungai Cimandiri memang tidak terlalu lebar ukurannya, sehingga sampah-sampah bisa menumpuk di pinggirnya. Sampah-sampah menumpuk inilah, diangkut ke darat oleh Ohil, lalu dibawanya ke kampung, sesekali diberikan kepada orang yang membutuhkan. Sekali lagi, diberikan!
***
Kang Marna, suami ceu Kustiyah, pada suatu hari bergerak bersama Ohil, lelaki setengah baya itu membawa pancing, mengikuti alur jalan Ohil. Ckk..ckk.ckkk. bathinku. Kontan saja orang ramai membicarakannya, Marna, ya.. maksudku Kang Marna, pasti dicekok racun oleh bujang lapuk itu. Pada akhinya, orang ramai-ramai memfitnah, maklum orang kampung selalu ingin cari tahu. Urusan orang pun jadilah!
Ceu Kustiyah, wanita pedagang nasi kuning sering menggelar omongannya kepada para pembeli tentang sikap suaminya akhir-akhir ini. Memang , banyak penggemar ucapan ceu Kustiyah di kampung ini. Pagi -pagi sekali sambil meraup kerupuk dalam kaleng dia sudah blak-balakan.
“ Sumiku, Marna… malam tadi kesabet dedemit sungai. Tidak mau memberi pelyanan yang memuaskan, padahal aku sudah menelan pil sari rapet setengah lusin!” Bisa jadi kata-kata itu untuk memancing pelanggan saja agar betah tinggal di warung nasi kuningnya. Para lelaki memang selalu berkerubut, sambil makan remah-remah, juga mendengar igauan pemiliknya. Tapi seru juga.
“ Gara-gara bujang lapok itu, kang Marna menjadi lelaki lemah di hadapapanku!” Katanya lagi.
“ Para lelaki di kampung kita mana ada yang jantan! Hampir semuanya lemah..” disahut oleh seorang ibu sambil mengedipkan matanya.
“ padahal hidup kan terus menuju kepada kebangkrutan!” lanjut Ceu Kustiyah sambil menambahkan semur tahu di tas nasi kuning.
“ Kang Marna mungkin mau mencari suasana lain, ceu?” Kata seseorang yang membebat kepalanya dengan ikat batik, seperti orang Madura.
“ Betul itu… cari suasana lain, dulu kami hidup sangat seret dan pas-pasan, awal pernikahan kang Marna bekerja sebagai penggali sumur, atau mengambil batu. Lalu kami hidup menjadi miskin, dan seterusnya, setelah kang Marna memiliki pekerjaan baru bersama bujang lapuk itu, sudah pasti kami akan berubah menjadi kere miskin, puassss?” kata ceu Kustiyah sambil melotot.
Tapi, kang Marna tetap ikut mancing bersama Ohil. Bahkan… aku ,sama sekali tidak menemukan rasa khawatir pada wajahnya.
***
Malam ini cerah. Rembulan menantang. Tubuh anak-anak yang bermain di halaman setelah mengaji di surau diselimuti oleh cahaya rembulan. Mereka asik bernyanyi, berkeliling. Orang tua masih ramai di beranda rumahnya masing-masing. Rumah-rumah memperlihatkan kespresi ceria. Kemilau perak terlukis pada atap setiap rumah.
Ohil dan kang Marna menghampiriku.
“ Kau sudah kuanggap teman sejati!” Kata Ohil. Kata-kata itu tentu saja menggelitik pikiranku.
“ Mau ikut bersama kami, mancing? “ Kang Marna melanjutkan. “ Kamu khan sering menulis cerita,siapa tahu pengalaman ini bisa kau tulis dalam bentuk cerita..”
Terang saja naluri kesastraanku bangkit. Ide! Memang akhir-akhir ini aku merasa kekeringan ide. Maka kutangkap tawaran tukang pancing itu. Jaket dan kain penutup kepala aku bawa.
Sungai memanjang. Rembulan jatuh di tengah kubangan air yang beriak menangisi kesunyian. Rerumputan terpukul cahaya. Kami duduk memanjang di bantaran sungai. Ohil dan Kang Marna sudah memasang kailnya. Nyaris tidak ada nyamuk, karena kami membakar obat anti nyamuk.
“ Bisa dapat ikan berapa banyak sampai subuh nanti?” Tanyaku ,berbisik.
“ Ini bukan laut. Ini sungai kecil, mendapat ikan gabus saja sudah lumayan. Kau lihat di hulu sana, puluhan pabrik telah gagah berdiri!”
“ Kenapa tidak mencari tempat lain saja?”
“ Itulah sebabnya,kau kami bawa ke sungai ini..” Ohil mengisap , tepatnya menelan asap rokok. “ Kami sedang menunggu..”
“ Menunggu?”
“ Ya, sebentar lagi di bantaran sungai sebelah Barat akan muncul sosok wanita. Kita tunggu saja!”
Alam semakin tidur ke kesenyapan. Binatang malam kecil bersuara. Beberapa menit kemudian, sosok wanita berkerudung putih dengan cara berdiri gemulai telah mematung di bantaran sungai..
“ apa dia siluman?”
“ Hi hi hi, mana ada siluman yang menampakkan wujudnya, dia manusia, seperti kita, Sa!”
“ Sedang apa dia?”
“ Menangis. Dia menangisi masa lalunya. Kehidupan yang kelam dan hitam. Lembah nista pernah dia datangi. Tebing curam penuh resiko pernah dia lalui. Hasilnya? Seorang bayi… anak kandungnya sendiri dia tanam ke sungai ini! Saat ini dia menyesali perbuatannya. Dia sering menangis sedu sedan….”
“ Dan dia seperti tidak percaya bahwa kesalahanya akan diampuni oleh Tuhan, makanya setiap malam bulan purnama dia selalu mengadu di sungai ini. Tidak peduli cerah atau hujan…!”
Pantas!!
Bayangkan! Hampir saja Ohil menikah! Menikah dengan wanita di bantaran sungai itu. Menurut berita, pada satu malam, tanpa sepengetahuan aku dan Kang Marna, Ohil bergegas ke sungai, kebetulan purnama bulat, dia menemui dan menyapa wanita itu. Katanya mengungka[pkan isi hatinya, dia mau mengawini wanita itu, dan… wanita itu mau. Cuman… siapa yang bisa menerka nasib.. Ohil tidak jadi menikahi wanita itu, karena si wanita tiba-tiba menghilang bagai tertelan bumi. Hilang ketika dia sudah bulat akan meminangnya.
Ya, Allah ya Tuhan kami, teguhkanlah dia. Semoga wanita di bantaran sungai itu tetap berada di genggamanMu. Amin, itulah pinta kami ketika akhir-akhir ini wanita itu seolah hilang tertelan waktu.
Orang mulai ramai membicarakan wanita di bantaran sungai karena cerita yang kutulis ini diterbitkan oleh sebuah media. Seiring berjalannya waktu, cerita tentang wanita di bantaran sungai pun mulai melompong. Hanya, ada sedikit kebohongan yang dibesar-besarkan, wanita itu kini telah menjadi peri penunggu sungai. Setiap malam purnama dia menangis di tepian sungai, sambil menyeka air mata dengan kerudung putihnya. Apa ada yang percaya?

Sukabumi- Balandongan 2006

16
Okt
06

Cerpen : Johanna Hanya Seorang Wanita

MewekPernah mendengar, wanita disiram wajahnya dengan air keras, pembantu wanita didorong oleh majikannya hingga jatuh dari lantai lima, wanita disekap di dalam kakus selama seminggu, wanita di pelorotkan martabatnya dengan cara dijualbelikan ibarat barang loakan, wanita ditindih hingga merintih oleh kebuasan binal dan amarah kekerdilan. Sebaiknya dengar cerita ini.

Padahal Johanna hanyalah seorang wanita. Sabar, tidak meminta lebih, melayani suaminya sejak pernikahannya dengan Mas Jon, hidup ramah dan ramai bersama anak-anak. Melayani keluarga sebagaimana semestinya wanita memberi kepuasaan kepada keluarga. Menanamkan aturan moral dan etika yang laik sebagaimana masyarakat menyematkan norma kepada setiap keluarga. Memberi kepastian yang tepat kepada para tetangga dengan mempertaruhkan watak penolongnya. dan tidak pernah mau campur tangan urusan para tetangga.

Ya, Johanna sadar, dirinya hanyalah seorang wanita. Yang hidup dalam zaman ketika sampai kapan pun wanita akan tetap berada di bawah bayang-bayang telapak lelaki. Yang hidup di masa sampai kapan pun wanita hanya akan di anggap hantu pencecik keuangan lelaki. Padahal Johanna tidak seperti itu, Johanna hanyalah seorang wanita yang mengalah. Baginya, mengalah adalah sifat keibuan yang harus tetap dipertahankan sampai kapan pun. Orang banyak yang memiliki pemikiran, bahwa saat ini kita sedang dininabobokan oleh kepentingan-kepentingan sekedar untuk memenuhi lelucon saja. Banyak tingkah kita yang semestinya membuat kita semakin sadar betapa pentingnya kita menghindari lelucon dan kekonyolan yang tidak berarti. Johanna contohnya, dia… meskipun hanya seorang wanita, namun tidak pernah mau menceburkan diri ke dalam dunia yang dipenuhi oleh kekonyolan tak berarti. Mencuci pakaian, bagi dirinya lebih berarti daripada sekedar jalan-jalan berbelanja, padahal dia mampu.

“ Ada surat untukmu!” Kata Mas Jon, suaminya. nada bicaranya berwibawa. Mas Jon memang seperti itu, tidak mau disebut suami lemah oleh istrinya. Tubuh Mas Jon tidak terlalu tinggi. Darinya selalu muncul atuan-aturan begitu ketat, meskipun Johanna tahu betul sifat suaminya, sabar dan jarang berbicara.

Sudah bisa dipastikan, surat itulah yang menjadi pemicu retaknya ikatan antara Mas Jon dengan dirinya. Johanna hanyalah seorang wanita, dan menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang wanita, ketika menerima surat dengan sampul betuliskan ,” Surat Seorang Lelaki Daerah Selatan Kepada Seorang Wanita Daerah Utara..” Johanna tampak berkaca-kaca, membaca sampul surat. Sampul surat sudah sobek, barangkali Mas Jon sudah tahu semuanya, tentang isi surat itu. Dan kalimat yang tertulis pada sampul surat itulah disalahtafsirkan oleh Mas Jon, sampai suaminya itu tidak memberikan pelayan dialogis kepada dirinya. Mas Jon hanya membaca koran, sambil membalik-balikkannya, duduk ongkang-ongkang, sesekali melihat ekspresi wajah istrinya. Kerling matanya tidak bisa disembunyikan, bahwa dirinya betul-betul cemburu.

Tanpa mau didahului, Johanna langsung memberikan penjelasan kepada suaminya, tentang asal-usul surat itu. Dia, kendatipun seorang istri yang jarang berdebat dengan suami, namun untuk hal ini perlu menjelaskan. Adapun usahanya berhasil atau tidak itu urusan belakangan.

“ Mas Jon, percayalah. ini surat dari teman saya!” Kata Johanna memastikan. “ Gumilar, Teman satu SMP dulu. Dia memang berasal dari daerah Selatan…” Johanna menarik nafas panjang, terlukislah gurat sesak ketika melihat suaminya masih asik membaca koran, hanya menggeserkan tubuhnya sedikit dari sofa, dan pada akhirnya dia membelakangi Johanna. Mas Jon tetap diam. Suami pencemburu yang tidak bisa melampiaskan emosinya, karena watak dan tabiat dasar dirinya yang pendiam. Namun, dirinya merasa ditikam oleh surat tersebut. Surat yang semestinya tidak datang kepada Johanna yang telah melalui bahtera pernikahan sejauh sepuluh tahun.

Johanna pun dalam hal ini menyadari. Tapi… bukankah itu hanya surat biasa, yang jika dibaca isinya, hanya pelampiasan masa lalu dari seorang lelaki daerah selatan kepada dirinya. Bukankah setiap orang memiliki masa lalu ?, bahkan bisa juga setiap wanita seperti dirinya memiliki teman lelaki, memiliki Gumilar yang lain di masa lalunya. Atau, Mas Jon pun mungkin memiliki Johanna lain di masa lalunya. Karena memang demikianlah masa lalu. Yang seharusnya dilakukan oleh suaminya adalah menjaga kepercayaan. Menyobek sampul surat tanpa permisi kepada dirinya merupakan wujud pengkhianatan, kepercayaan yang tertanam dalam ijab kabul dan akad nikah jelas telah sobek, robek. Atau apakah memang benar, seperti yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa kepercayaan saat ini sudah tercabut jauh dari akarnya, hingga orang lebih mudah kehilangan kepercayaan daripada sekedar kehilangan uang dari kantong. Dan buahnya adalah kejujuran. Kejujuran suami kepada istri, sedangkan Johanna telah berbicara dengan jujur, apa adanya tentang surat itu.

Gumilar, ketua OSIS di SMP almamaternya, dulu sempat mencurahkan isi hati kepada dirinya. Dan dalam surat itu, dia membicarakan kembali kenangan-kenangan yang pernah mereka lalui bersama. Padahal tidak ada masalah dalam isi suratnya, Gumilar hanya menceritakan. Menceritakan, bukan mengungkapkan kembali isi hatinya saat ini kepada Johanna. Mas Jon sepantasnya tahu, bahwa Gumilar pun telah berkeluarga, apa mungkin seorang lelaki yang telah berkeluarga dan berkelakuan baik seperti Gumilar itu mau bertingkah macam-macam. Itulah yang tidak disadari oleh Mas Jon.

###

Dan Johanna menceritakanya kepadaku. Pagi sekali ketika matahari baru muncul dari balik bebukitan, anak-anak masih tidur dalam balutan udara dingin. Jalanan masih basah oleh sisa-sisa air hujan. Pepohonan dibalut kabut tipis, suasana masih lengang. Sepi. Johanna sudah datang ke rumahku.

“ Bukankah, setiap suami harus memahami keadaan istrinya?” Tanya Sum, istriku kepada dirku ketika mendengar penuturan Johanna. Maklumlah mereka sama-sama wanita. Tidak heran jika istriku lebih dahulu respon kepada penuturan Johanna.

Adapun aku, tidak memiliki komentar lain, kecuali menyetujui bahwa setiap lelaki harus memahami keadaan istrinya. Setiap orang memiliki masa lalu yang kadang-kadang akan datang secara tiba-tiba tanpa disangka di masa sekarang. Kerinduan kepada masa lalu itu sudah pasti begitu menggebu dan menggejolak sehingga tidak akan mampu terbendung oleh rasa, terpendam malah semakin menggejolak. Tidak ada yang mesti disalahkan ketika orang membongkar kembali masa lalunya. Bukankah itu sah-sah saja?

“ Lalu, apakah pantas Johanna disalahkan. Seandainya, yang menerima surat itu adalah diriku, bagaimana reaksimu, Mas?” Tanya Sum.

“ Aku???”

“ Ya, kamu?”

“ Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Tapi setidaknya, posisi antara kita dengan Johanna mungkin sangat jauh berbeda. Aku tahu betul Mas Jon suamimu itu Johanna, tipe lelaki pendiam, dan ya… bisa dibilang tipe kucing lah!”

“ Dan, kau juga sama Johanna, seorang pendiam. Apa yang telah kau katakan kepada Mas Jon mu itu. Semestinya kau blak-blakan, terbuka, jangan diam saja.. wanita itu jangan selalu mengalah. Ya… sesekali bertindak, jangan mau terus-terusan diperlakukan seperti orang lemah Jo. Lihat anak-anakmu sudah besar-besar. Jangan jadikan mereka korban.”

“ Ya, sebaiknya dikonsultasikan saja dengan suamimu…”

Johanna hanya bisa diam. Dalam dirinya terpancar cahaya matahari yang sama sekali tetap tertutup oleh kebisuan dirinya. Mungkin, bagi dirinya, cukup, bahwa dirinya hanyalah seorang wanita. Diamnya memang membuat kami semakin penasaran. Sudah pasti dia lebih tahu segalanya.

“ Kalau boleh tahu…. seperti apa surat yang kau terima itu Johanna…?” Tanya istriku.

Johanna menggeleng. Tertunduk. Masih tetap tanpa kata.

“ Ya sudah, kami tidak akan memaksa…”

“ Tapi… saran kami, kau harus tetap terbuka, jangan sampai Mas Jon diam tapi menjadi kucing, sedangkan kau pun tetap tertutup dan jatuh ke dalam labirin ketertindasan. Sudah bukan zamannya lagi wanita terus-terusan berkubang dalam labirin ketertindasan…” Saranku memastikan.

###

Namun pada suatu siang. Pada jam istirahat kantor, aku melihat dari kejauhan, Jon, suami Johanna berjalan berdampingan dengan seorang wanita. Di antara rapatnya para pejalan kaki, dia menggandeng seorang wanita. Sekedar untuk memastikan aku terus mengamati ke mana mereka pergi, dan mereka menghilang, masuk ke dalam sebuah kafe. Sudah pasti, dia ingin melampiaskan kekesalan kepada istrinya dengan cara sembunyi-sembunyi. Dasar lelaki! padahal diriku pun lelaki, tetapi ketika melihat Si Jon, maksudnya Mas Jon itu berani mengambil kesimpulan yang salah, terang sekali timbul beberapa tanda tanya dalam diriku. Apakah pantas seorang lelaki melecehkan keluarganya dengan cara melakukan adegan tidak pantas, lupa kepada anak-anaknya, lupa kepada Johanna sampai lupa kepada dirinya sendiri. Lupa bahwa dirinya telah menceburkan diri ke dalam kubangan masalah yang lebih jauh.

Dan sore harinya, mungkin saja kabut kepedihan menggelayut pada air muka Johanna. Namun, dia tetap diam. Para tetangga sudah banyak berkomentar sejak mereka melihat Mas Jon jalan berdampingan dengan wanita lain. Roni, tetangga dekatku membicarkan kebejatan Mas Jon padaku. Jadi, bukan hanya aku yang melihat adegan tolol suaminya itu.

“ Si Jon membawa pacar gelapnya ke rumahnya, bermesraan tepat di depan Johanna!” Kata istriku. Kami menjadi gusar, Oh… Johanna betapa pedihnya, kehancuran jiwa dalam dirinya. Jelas sekali kami sangat kesal, namun apa yang harus kami sesalkan. Atau harus menyalahkan siapa kami. Gumilar, seorang lelaki penulis surat itu? Johanna yang hanya tetap diam membisu dan hatinya hancur (mungkin hatinya hancur) ? Atau si Jon, ya aku tidak akan menyebutnya Mas Jon lagi, seorang suami pencemburu yang tidak mau membicarakan masa lalu. Lelaki tolol yang tidak bisa menghargai istri yang telah mempertaruhkan kebaikan kepadanya? Suami tolol yang tidak mau mengerti, bahwa semua orang memiliki kenangan dan masa lalu!

Malamnya, Johanna datang ke rumah kami. Dia, ah… air mukanya tidak seperti yang kubayangkan. Wanita, macam apaan dia? Tidak tergambar sedikit pun bahwa dirinya sedang diliputi oleh kepedihan. Malah… dia tetap mempertahankan senyumnya kepada kami. O! Betapa kuatnya wanita ini. Betapa kokohnya batang kebaikan berdiri pada jiwa ranum dengan kemolekan akhlak.

“ Saya hanyalah seorang wanita!” Kata Johanna, nah… dia mulai berani berbicara. Tetap mempertahankan senyumnya.

“ Ya, dan aku pun seorang wanita….” Sergah istriku,” Wanita tidak semestinya selalu direndahkan bukan?”

“ Saya tidak bermaksud membicarakan itu. Saya tetaplah wanita. Kejadian apa pun yang menimpa saya akan saya hadapi dengan cara seorang wanita… “

“ Sampai, meskipun kamu hancur…?!” Kataku. “ Jangan begitu Jo. Jangan sampai kau menjadi korban yang ke sekian ribu kalinya …” aku hanya bergumam, sambil membayangkan beberapa kejadian ke belakang tentang istri yang disembur wajahnya dengan air keras, wajahnya menjadi berantakan seperti hantu pemakan manusia karena perlakuan suaminya itu.

Johanna tetap tersenyum, lebih merekah. Wanita seperti dia… ah? Apa gila…. atau memang berpura-pura saja menyembunyikan kekalutan hidupnya. Seolah dalam dirinya tidak tergambar sedikit pun keraguan untuk tetap menjadi seorang wanita meskipun ada dalam ketertindasan. Ya, dia seorang wanita tertindas yang tidak bisa melawan kebuasan seorang suami. Aku tidak habis pikir, kenapa si Jon yang pendiam dan jarang berbicara itu menjadi manusia liar.?

“ Aku akan menghajar suamimu itu, jika dia berani macam-macam lagi, membawa perempuan sundel itu ke rumahmu!” Naluri kejantanan dan sikap kepahlawananpun timbul dalam diriku.

“ Jangan melibatkan diri terlalu jauh, Mas!” Kata Johanna.

Tanpa ada kepastian, Johanna pun pulang. Diantar oleh istriku sampai ke teras rumah. Kami hanya bisa menarik nafas panjang, tidak berani menyimpulkan apakah Johanna sudah gila ? Yang jelas kami senantiasa memanjatkan doa kepada yang maha Kuasa agar dirinya tetap diberi kekuatan. Dan kami yakin, Johanna akan tetap kuat. Bertahanlah Jo!

Paginya ada berita, Si Jon tidak pulang semalam. Bondan, seorang tukang becak melihat Si Jon masih tetap bermain dengan perempuan simpanannya. Mereka bermesraan di bawah pohon beringin besar di pinggir pemukiman kumuh. Malah… si Jon memanggil Bondan dan menyuruhnya untuk memberi kabar kepada Johanna, “ Aku akan bermalam di rumah Lastri…” Katanya sambil menunjuk wanita di sebelahnya. Gila!!!!

Johanna tetap melakukan rutinitasnya sebagai seorang ibu. Memandikan anak-anak, mendandani mereka sebelum berangkat sekolah. menanak nasi, mencuci pakaian, menjemurnya. Dan dia tetap menyapa siapa pun yang lewat di depan rumahnya.

Hari-hari yang dilaluinya biasa-biasa saja. Tapi.. aneh, mengapa kami yang menjadi gusar atas sikap dirinya. Padahal sudah seminggu lebih Si Jon, yang dalam pandangan istriku pantas disebut sebagai lelaki keparat itu tidak pulang. Orang mulai ramai membicarakan, mungkin Johanna sudah gila, kacau pikirannya. tapi aku sangat yakin, tidak mungkin dia gila.

###

Sebulan telah berlalu sejak datangnya Surat Seorang Lelaki Daerah Selatan Kepada Seorang Wanita Daerah Utara. Si Jon semakin gila dan Johanna semakin aneh dalam pandanganku. Tidak sedikitpun ada tanda-tanda bahwa Johanna akan bertindak. Namun, yang aku saksikan justru sebaliknya, seminggu yang lalu Johanna membuka kios telepon di depan rumahnya. dan berdagang kecil-kecilan untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Sesekali anak-anaknya kami lihat menjual pisang goreng, mengantarkan pesanan, mengantarkan keripik singkong ke warung-warung. Bahkan si Minul anak paling besar yang sudah duduk di bangku SD kelas tiga itu biasa membawa barang dagangan alakadarnya ke sekolah, menjualnya kepada teman-temannya. Si Jon tidak memberikan lagi uang belanja kepada dirinya. Tapi lelaki tolol itu masih juga sering menyakiti Johanna. Orang mulai berbicara, Johanna hanyalah seorang wanita. Wanita aneh, mungkin. Sekaligus wanita hebat….yang sudah jarang ditemui.

###
Sukabumi-Balandongan April 2006, menjelang Hari Kartini


15
Okt
06

Membaca Karya Dostoevsky Yang Berjudul Maling Jujur

Apa benar ada maling jujur? Jika benar, saya pikir tidak perlu ada pengadilan di dunia ini. Nah, celakanya maling jujur itu hanya ada dalam karya Fyodor Mickaelevich Dostoevsky. Anda sudah tahu si Emilian khan? Tokoh dalam cerpen Maling Jujur yang dosmengalami nasib tragis. meninggal dengan cara mengenaskan karena seringnya dia mabuk. Peminum Vodka sejati mungkin, matahari baru muncul dia sudah memegang erat botol Vodka, siang sampai malam dia habiskan untuk mabuk. Dia tinggal di sebuah rumah tukang jahit bernama Astefii. Astefii kehilangan celana warna hijaunya, ya dia mengira pasti malingnya si Emilian. Hanya saja, Astefii tidak mau menyakiti hati Emilian, dia bertanya dengan baik-baik siapakah yang telah mengambil celana hijauku? Terang saja Emilian mencari-cari celana itu ke segala penjuru rumah sampai ke kolong ranjang pun jadi. Sudah pasti tak ketemu. Sampai pada suatu ketika, Astefii si tukang jahit itu mengunci setiap kopornya. Tentu saja Emilian merasa tersinggung. Pada akhirnya dia meningalkan rumah Astefii, pergi entah ke mana. Astefii tidak mau kehilangan satu-satunya sahabat tercinta, dia mencari Emilian, tidak ketemu. Tiga hari kemudian Emilian pulang dengan membawa kepedihan. Dia sakit keras karena tidak makan selama tiga hari. Sakitnya semakin parah, menjelang sekarat dia berkata kepada Astefii… Akulah yang telah mengambil celanamu, Astefii sayang…

Nah, sampai di sana saya mau bertanya kepada Anda… mau kah anda mengakui kesalahn-kesalahan Anda secara terbuka kepada orang yang pernah anda sakiti. Lebih jauh… maukah seorang koruptor/maling bedebah, mengakui dan memohon maaf kepada jutaan manusia tentang kesalahan-kesalahannya. Mengapa tidak, Emilian seorang pemabuk saja bisa, masa kita tidak….

15
Okt
06

Cerpen: Surat Seorang Ayah

Nak, kamu tentu saja hidup di zaman yang telah kering dan gersang. Ayah yakin, di zaman kamu hidup, rindangnya daun-daun makrifat telah terkikis habis oleh hama keculasan, penipuan, dan pemerkosaaan hak. Ayah percaya, kamu hidup di zaman ketika bunga-bunga keyakinan telah gugur karena tertuai oleh racun dosa, fahsya, dan munkar. Tapi ayah percaya, akan selalu ada para petani yang mau menyirami pribadimu dengan pupuk nilai mulia. Nak, kamu adalah bibit yang tertanam dalam tanah tandus, di antara kerikil-kerikil pelecehan moralitas, di antara semak perdu keruntuhan derajat. Belum lagi cuaca buruk menghantam tunas mungilmu. Badai dan gelombang kekerdilan jiwa. Namun… ayah percaya, akan selalu ada tukang kebun yang mau merawatmu hingga tumbuh besar.

            Nak, ayahmu yang telah banyak makan dan menikmati pahit, manis, dan asamnya kehidupan ini mengerti benar. Alam antara kehidupan ayah dengan kehidupanmu alangkah jauh berbeda. Dan percayalah, sebenarnya dari dulu hingga kiamat nanti hanya ada dua kehidupan, baik dan buruk, sholeh dan jahat, jalan Tuhan dan jalan Setan. Ayahmu telah memahami, hanya ada satu jalan yang kelak akan membawamu ke kebahagiaan hidup. Ayahmu telah memilih-milih, ayahmu pernah memilih jalan lain. Pernah ayahmu ini mengikuti jalan berbelok, panjang berkerikil. Lalu hasilnya? Kamu tahu sendiri.. ayahmu hanya menikmati getirnya hidup, malu sekali ayah pada diri sendiri. Lalu, ayah kembali lagi ke jalan lurus itu, memulainya lagi dari titik nol, menyebrang ke jalan lurus itu, jalan yang sebetulnya selalu didamba-dambakan oleh manusia-manusia normal. Kamu tahu, ayah telah menjadi manusia sebenarnya, manusia yang sesungguhnya, bukan manusia imitasi. Ketika kembali meniti jalan lurus itu.

            Nak, jangan percaya kepada mayoritas manusia. Di zaman kegersangan nilai ini, segalanya seakan sunyi. Buka mata, hati, dan telinga. Kemunafikan di setiap sudut dan relung. Jangan percaya kepada orang yang mengatakan bahwa kecabulan adalah seni. Jangan pernah mau mengikuti orang yang menganggap adegan mesum adalah keindahan. Jangan percaya kepada orang yang mengatakan bahwa geol bokong adalah kebebasan. Sebetulnya, semua itu hanyalah ekspresi penipuan. Belaka.

            Sebaliknya, yang ayah sebutkan tadi adalah bukti dari kemerosotam moral. Manusia telah jatuh dari derajat mulai ke derajat binatang. Itulah sebetulnya yang terjadi.

            Nak, zaman memang akan terus bergulir, menggulung, menggilas, bahkan melibas. Namun percayalah,  zaman bukan musuh, zaman adalah ruang yang akan diisi oleh para pekerja kebaikan untuk menanamkan nilai-nilai religi. Kamu adalah benih dan bibit yang ada di dalam ruang zaman. Jika kamu tumbuh subur, maka sejuk dan damai -lah ruang itu.

            Nak, sungai sekarang mengalir dengan darah anyir, sesak oleh bayi-bayi dalam plastik, sisa-sisa aborsi, kondom –kondom sisa melacur, dan bangkai-bangkai manusia. Mengalir di dalamnya limbah-limbah kerusakan etika. Air tidak menawarkan  jernihnya lagi, gunung tidak menawarkan sejuknya lagi, bahkan laut tidak memberikan garamnya lagi. Sebaliknya, air dengan banjirnya, gunung dengan longsornya, dan laut dengan badainya.

            Nak, hidup ini tidak panjang. Mari kita bertaruh… siapa yang benar, kita atau mereka. Siapa yang hak… para penganut kebaikan atau para pecinta kebejatan.. mari kita bertaruh… kita pertaruhkan diri kita. Untuk membuktikan kebenaran itu.

            Nak, sekali lagi. Ayah berpesan, ikutilah jalan lurus itu, meskipun berkelok, berbelok, berkerikil tajam…..

Salam.. dari ayahmu.

 

Akhirnya… kulipat surat ini kumasukkan ke dalam saku baju.

            Di atas jembatan merah ini, aku masih termangu, diam bergeming. Yang kusaksikan adalah air keruh kecoklatan, anyir dengan limbah. Lalat hijau menari-nari. Di sepanjang bantaran, tumbuh berbagai macam pabrik, lokalisasi hiasannya, pemukiman kumuh riuh dengan alunan musik, dangdut. Udara panas dengan aroma kemesuman. Koran-koran dan televisi-televisi menawarkan kecabulan. Aku memang hidup di zaman gendeng. Air mata tak Kuasa meleleh di pipiku. Sedangkan botol minuman keras masih kugenggam erat-erat.

            Ah, aku.. memang telah kalah bertaruh dengan ayah.

            Sampai saat ini… aku sudah memutuskan untuk menyebrang.

 

###

 

Sukabumi- Balandongan Awal April 2006

15
Okt
06

Perjalanan Kehidupan: Satu Sore di Singkawang

Satu sore, saya bersama beberapa kawan duduk-duduk di beranda rumah ibu Wawan, di Singkawang. Bisa jadi, mencoba untuk menghilangkan rasa jenuh, seminggu tinggal di kampung orang lain memang membosankan. Tanpa permainan, tanpa play-stasion, tanpa catur, dan tanpa nyanyian. Orang memang meramaikan rumah mereka dengan berbagai musik, cuma.. dangdut… kebetulan saya agak kurang berselera terhadap dangdut.

Matahari sore muncul , tidak seperti biasanya,karena memang waktu itu hujan hampir mengguyur setiap hari; pagi, siang, sore sampai malam pun jadi! Anak-anak bersepeda, anda tidak akan mengira, di Singkawang, ibu-ibu paruh baya dan tua pun bisa bersepeda. Hal.. yang mustahil terjadi di Sukabumi khususnya, saya memang pernah melihat ibu-ibu tua bersepeda itu di Yogyakarta, namun mustahil sekali hal itu terjadi di Sukabumi. Jalanan masih menyisakan air hujan yang turun tadi siang.

Dua orang wanita melintas, berkacamata, yang satu rambut lurus, satu lagi rambut dikepang satu. Saya benar-benar merasa tertarik oleh cara pakaian mereka, sopan, memakai celanan panjang, baju tangan panjang, apalagi kepada wanita yang dikepang. Hasrat saya sebagai lelaki memuncak lagi demi melihat kecantikan dan keelokan wanita itu.

Saya tanya si Hasan, perihal wanita berkacamata dan eambut berkepang itu. Selidik punya selidik namanya Novianti Mulyasari. Secara sosial, saya memang sering mengikat persahabatan dengan siapa saja. Saya membuat sepucuk surat, isinya-hanya iseng, sebuah soal Matematika, memang aneh. Saya suruh si Hasan memberikannya kepada Novi.

Tidak berapa lama, jawaban datang. Isinya? Kata-kata bijak mungkin bagi orang yang sedang menaruh hari kepada wanita itu seperti saya. ” Saya tidak bisa menjawabnya hari ini. Sebab saya belum mengenal bentuk kamu..” Itu katanya. Saya layangkan kembali surat, di dalamnya saya menggambar kepala manusia sambil menyeringai, saya tulis… inilah bentukku! Mungkin dia akan ngakak. Saya yakin itu. Tidak menuggu setengah jam datang lagi surat balasan, isinya? Jika berani datang saja ke rumah… Hmmm… siapa takut???

Malamnya, saya datang ke rumahnya. Dengan maksud mau mengikat tali persahabatan, terdengar idealis, namun memang begitulah seharusnya. Dia bersama adiknya, Apreil, sudah duduk menunggu, saya berbinar, dia mempersilahkan naik ke rumahnya. Mulanya memang canggung, selanjutnya? Kami ngobrol ngalor -ngidul. sampai pada puncaknya, ternyata ayahnya masih sama dengan saya, satu suku, suku Sunda, ayahnya yang bernama pak Amin itu asli orang Sumedang. Hahahaha…. saya tertawa terbahak-bahak.

Setelah peristiwa malam itu, saya sering mengunjungi rumah Novi, namun bukan mengunjungi dirinya lagi melainkan ngobrol dengan pak Amin, tentu..tentu saja kami ngobrol menggunakan bahasa kami, bahasa Sunda, karena kami bangga menjadi orang Sunda! Hmmm…

14
Okt
06

Cerpen: Wanita Yang Berdiri di Bawah Pohon Kelapa Sambil Menatap Laut

Berita-mengenai asal-usul- tentang munculnya seorang wanita yang sering berdiri di bawah pohon kelapa sambil menatap lautan itu kurang diketahui oleh banyak orang. Sudah hampir seminggu orang-orang dermaga ramai membicarakannya. Bukan sekedar obrolan mengenai keluar masuknya barang dari kontaoner-kontainer atau juga tentang lelucon seorang nelayan yang menangkap paus dengan kailnya, mereka juga membicarakan wanita itu. Ia biasa berdiri di bawah pohon kelapa, menghadap laut, mungkin sedang menunggu Hermes bukan Poseidon. Aroma garam menyibak tabil pantai. Rambut panjang dibiarkan tergerai bergelombang, seolah dia tidak menyadari bahwa rambut adalah mahkotanya. Dia juga tidak menepis cahaya matahari yang menyikat kulit mukanya.

Dermaga ramai. Nelayan-nelayan berseragam alakadarnya siap berangkat. Angin berhembus dari darat menuju lautan. Roman duduk di kedai kopi sambil mengawasi gerak-gerik wanita itu. 1,2 sampai 3 hari orang ramai berbicara wanita itu, namun… mereka kembali sibuk memikirkan urusannya masing-masing. Obrolan sekitar isi perut melulu memang.

Roman meneguk kopi. Orang mengenal dirinya sebagai manusia biasa saja, tidak ada hal istimewa muncul dari dirinya kecuali aroma hidupnya yang menalnkolis, dia cengeng. Kebiasaan yang sampai saat ini sering dibicarakan oleh orang- adalah tentang hebatnya dia dalam membaca buku, majalah bekas, dan koran usang. dia tidak senang membaca berita-berita aktual.. dia lebih senang membaca berita dulu. Koleksi poto-poto pun, seputar kota tempo dulu, ia juga sering mengoleksikan uang kertas dan logam. Dia sering mengelus-elus jenggot tebalnya, seolah jenggotnya itu merupakan harga tak ternilai, atau bisa jadi… justru kepalanya itulah yang tumbuh menempel pada jenggotnya, bukan malah sebaliknya.

” Mungkin dia sedang menunggu seseorang…” Pikir Roman. Sementara orang ramai membicarakan kelangkaan ikan-ikan di laut lepas, nelayan sering pulangdengan tangkapan hampa. Dalam diri Roman telah bulat untuk menghampiri wanita itu. Sambil melipat koran bekas dan menyimpan uang kertas di atas meja, ia berdiri, melangkah menuju wanita di bawah pohon kelapa.

” Menunggu seseorang, ya?” Sapa Roman mencoba akrab.

Wanita itu tersenyum. Lalu agak tertawa seperti orang gila. Bajunya tipis berwarna cokelat dengan terusan blazer, rup[anya dari keluarga terhormat. Kecantikannya tersibak dari mancungnya hidung, kuning langsat permukaan wajahnya, dan tipisnya bibir yang merekan merona. Dia tidak menjawab, hanya melirik sekilas saja.

Roman berdiri di sampingnya. Mengikuti apa yang diperbuat oleh wanita itu, menghadap laut dan menatapnya dalam-dalam, sampai jauh. M<atahari memerah, kapal-kapal kecil bergoyang di terjang gelombang, buih, dan riak-riak susul menyusul, putih, lalu debur ombak datang menjilat pantas pasir putih.

Di luar pengamatan Roman, selama seminggu ini. Di tangannya, wanita itu membawa sepucuk surat dengansampul telah lesu. kucel.

” Menunggu seseorang, ya..?” Roman masih kukuh. Semakin penasaran. Dia perhatikan wanita itu seolah mau memakannya.” Bagaimana jika kita bicaraskan sambil duduk di kedai kopi?” Tawaran bijaksana memang. Bukan sekedar ajakan melainkan juga pengharpan.

jelas, kamu akan mengira wanita itu menolak tawaran Roman, nyatanya tidak, dia setuju.. lalu mengikuti derap langkah Roman menuju kedai Kopi. Terang sekali orang-orang dibuat kacau, bisik-bisik melengking.

” Boleh… saya melihat surat itu?” Pinta Roman.

Diawali dengan tawa kecil. wanita itu memberikan sampul surat. Tepatnya, wanita itu senang dan merasa ceria, betapa… sering sekali dia tertawa ngekeh, sambil menyeruput kopi dan melahap gorengan seperti orang lapar.

” Sampul kosong, tanpa isi, tanpa tulisan apa pun?” Roman heran, menatap lekat wanita itu. Selanjutnya, diluar jangkauan akal sehat, Roman tertawa ngakak. Memecahkan suasana. Orang-orang ketus merasa terusik, apalagi ketika tawa Roman disempurnakan oleh ngakaknya wanita itu. Mereka-berdua- terbahak-bahak…

” Mengapa nyonya…oh…nona ada di tempat ini?” Tanya Roman..” Mau mencari suasana lain. ya?… memang nona… berada di dermaga kurang cocok bagi wanita , mungkin kurang sesuai dengan kesopanan umum . Tapi untuk wanita mulia seperti nona.. mungkin ada pengecualian..hahahahahaha” Kembali mereka terbahak…

” Aku harus pulang dulu..”

” A..haaa… ternyata nona bisa berbicara ya?” Roman menyembunyikan kepura-puraan itu.

wanita itu bergegas pergi meninggalkan kedai kopi. Dan.. orang-orang kembali menjadi penasaran.

###

” Seminggu terakhir ini, orang-orang di dermaga ramai membicarakan wanita yang sering berdiri di bawah pohon kelapa sambil menatap laut,. betul Ayah?” Tanya Emilia.

” Hhh..” Roman mendengus. Dia kurang antusias. Perhatiannya pada buku lapuk yang sedang dia baca, mungkin sejenis roman picisan. Kebiasaan jelek yang menyertai hidupnya adalah sering mendengus dengan kasar ketika ditanya oleh orang.

” Sungguh wanita malang.” Seolah ada kenangan dalam diri Emilia..” Wanita malang yang mau diajak ngobrol di kedai kopi oleh seorang duda…” Nada bicaranya mulai meniggi.

” Maaf???” Roman mulai melirik.

” Apa jadinya… apa kata orang-orang, apa kata paman Jon dan bibi Sum, jika mereka tahu ayah sering membawa wanita itu ke kedai kopi? Dengan alasan siopan-santun dan martabat kekeluargaan, sikap dan tindakan ayah itu kurang berwawasan…!”

” Emil! Maaf???”

” Ibu ayah… ibu! Apa ayah akan menyakiti ibu? Biarlah ibu bahagia di alam sana dengan menatap Emil dan ayah……”

Sampai saat itu Roman tidak mendengar lagi ucapan Emilia. Segalanya serba putih. Rohanah melintas di depannya. Kecantikan, geriap rambut, kulit halus seputih pualam, dan langkahnya yang sesuai dengan kesopanan. Tapi kecantikan itu terkikis oleh sebuah kebuasan. Kesuburan tubuh Rohanah, istrinya, direnggut oleh penyakit. Hari-hari Rohana hanya dihabiskan dengan duduk sambil menatap jalanan. Makan hanya beberapa suap saja.Rohanah tidak menyadari kehadiran orang lain, kehadiran orang-orang yang menyintai dirinya secara lebih:Roman, suaminya dan Emilia, anaknya.

Sampai Rohana sudah benar-benar asing di mata suami dan anaknya. Makanan dan minuman tidak masuk lagi ke dalam tubuhnya. Padahal di musim buah-buahan orang sakus menyantap makanan. Permbicaraan mata seolah seputar… kematian saja.

Rohanah meninggal dengan lelehan air mata. Roman hanya percaya pada satu hal: Betapa kurang adilnya ketika cinta dalam dirinya kepada Rohanah telah tumbuh menjadi kasih sayang.

” Emil… kamulah harta ayah satu-satunya…!”

” Ayah! Emil akan memastikan, apa benar ayah akan tetap menjaga kasih sayang kepada ibu, selamanya, seperti kata ayah menjelang Ibu pergi. … Ayah pernah mendengar cerita Lusi.. sudah tentu ayah tahu benar, Lusi yang bulan lalu meninggal di tiang gantungan..”

” Ya, dia bunuh diri karena dipaksa oleh si keparat Gusman, ayahnya agar berkenan menikah dengan teman bodohnya si Robet. pedagang bawang dari daerah Utara…”

” Ayah tidak mau kan, nasib Lusi menerjang Emil?”

” Emil sayang… bicara apa kamu ini…?” Dipegang dengan erat tangan Emilia oleh Roman, kuat sekali. Mata berkaca-kaca. ” Sttt…” Telunjuknya diletakkan di bibir Emilia. ” Kamulah harta ayah satu-satunya, nak!”

Dan Emil pun masuk ke dalam pelukan ayahnya.

###

Sore hangat. Orang-orang di kedai kopi ramai membicarkan berita pagi. Kelangkaan ikan-ikan dan menurunnya hasil [para nelayan. Cerita si Roski- tukang minum tuak- yang dipukuli sampai babak belur oleh para penjaga pantai karena mencoba menarik keuntungan pribadi dengan mencopet seorang ibu.

Roman menatap laut. Ombak saling susul. Wanita itu masih berdiri di bawah pohon kelapa sambil menatap lautan. Khusuk…

Roman bangkit. Dia berlari menyusul Emilia ke terminal bis. Bis malam sudah siap berangkat. Pada jendela bis terlihat, Emilia dengan wajah berat. Roman melambai-lambai sambil berbisik..” Emilia… kamulah hartaku satu-satunya, nak!”

###

Hari berikutnya, orang-orang di dermaga ramai membicarakan, wanita yang biasa berdiri di bawah pohon kelapa sambil menatap laut itu kini tiada. Menurut berita, dia pergi ke daerah lain, masih sama ke sebuah dermaga yang ramai. Para nelayan ramai siap bergerak menuju laut lepas. Roman masih duduk di kedai kopi. Dalam dirinya telah bulat, dia akan menyusul Emilia anaknya ke rumah Paman Jon dan bibi Sum. Rencananya… dia akan mengajak Emilia untuk berziarah ke makam Rohanah yang sudah tua tahun ini tidak dia lakukan….

Sukabumi, Oktober/Ramadhan 2006/1427H

13
Okt
06

Perjalanan Kehidupan: Dari Pontianak Ke Singkawang

Perjalanan dari Pontianak ke Singkawan saya lakukan bersama beberapa orang teman. Pagi sekali kami sudah mandi, meskipun air yang kami gunakan adalah air coklat keruh, dan memang.. air Pontianak, khususnya air tanahnya berwarna coklat ibarat air teh. Anak-anak berjejal, maksud saya teman-teman, memadati bis rombengan. Saya berani menyebutnya demikian karena tidak sepadan dengan bis-bis yang ada di pulau Jawa. Rokok mengepul, kata berita… perjalanan yang akan kami tempuh lebih kurang tujuh jam..huhhhh..

Kota-kota kecil kami lewati, setiap plank nama saya maca, Mempawah, Sungai Piyuh, Landak, Bengkayang, dan Singkawang, saya tidak bisa mengejanya sesuai dengan urutan nama kota, karena lupa. Di setiap kota kecil itu, saya dan teman-teman berhenti di kedai-kedai yang memang telah disediakan, jasa perjalanan pun memang mengijinkannya. Saya nikmati, segelas kopi hangat, kebetulan hujan belum mau reda, rokok  Marlboro Putih mengibaskan asap. Beberapa penumpang menggiring kaki mereka ke kedai-kedai. Ramai memang. Riuh ocehan. Kami gelak tawa, saking bahagianya… bukan karena banyak uang melainkan karena memang sangat jarang ada dalan suasana seperti itu. Saya biasanya memiliki rangkaian hidup agak monoton, mengajar bahasa Indonesia, memberi les privat, sekedar untuk memikirkan cinta saja, otak sudah mandeg. Maka tidak heran.. jika perjalanan dari Pontianak ke Singkawang itu telah membuka diri saya, betapa sangatpentingnya hidup diselingi dan dipenuhi warna.

Setelah mencicipi aneka hidangan alakadarnya di kedai. Kami naik lagi meneruskan perjalanan ke kota yang kami tuju, SINGKAWANG. Mata memang tidak bisa diajak kompromi, betapa berat , mengantuk, dan kami pun tidur…. Ada perubahan dalam hidup saya ketika berjalan dan melakukan semacam petualangan , saya seakan lepas dari dalam kotak dan jeruji besi. Seolah keluar dari labirin keterkekangan. Kebebasannya meskipuntetap terbatas, namun saya seolah telah menjadi manusia yang benar-benar merdeka, terlebih jika saya membandingkan dengan aturan-aturan dalam keluarga, bukan main ketatnnya. Sekdar untuk mencari angin malam saja, nenek bertanya seribu macam pertanyaan…

Dan.. di Singkawang kami bercermin..Saya beristirahat selama tiga minggu lebih… Di sana pula saya menemukan, betapa manusia itu sangat beragam, dan cinta yang selama ini absen dalam diri mulai bersemi kembali, Bunga Mawar itu mulai tumbuh…rupanya…




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,674 hits

 

Oktober 2006
M S S R K J S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay