Nah, tepatnya tidak akan ada manusia yang mau diutak-atik sekehendak orang lain. Siapa pun orangnya. Entah itu para penganggur atau para pekerja keras. Lebih tepatnya, siapa saja tidak ada yang mau dijajah dan didikte hidupnya oleh orang lain. Ah, lagipula, siapa orangnya yang memiliki hak untuk mengutak –atik atau memperbudak , juga menyuruh-nyuruh sampai mengekang pola pikir orang lain? Ya, menurut sebagian besar orang memang tidak ada hak bagi siapa pun untuk membatasi dan mendikte orang lain. Namun, toh di luar sana, meskipun orang sudah benar-benar setuju akan kebebasan , ternyata masih ada saja sekelompok manusia yang menyenangi perang, bakar-bakaran, rebut –rebutan, dan saling menjajah. Toh di luar sana masih banyak mayat-mayat tak berdosa bergelimpangan, anak-anak tak berdosa beradu kepalanya dengan peluru tajam , juga tubuh-tubuh terbujur di atas tiang-tiang karena gantung diri, ya, jelas sekali mereka tertekan hidupnya oleh arogansi sekelompok manusia yang membenci perdamaian hidup! Atau, meskipun sebagian besar orang sangat setuju tentang telah berakhirnya kolonialisasi, toh masih banyak orang yang mau saja diperintah oleh sekelompok manusia yang masih setia melestarikan kolonialisme. Juga masih ada yang mengaku-ngaku sebagai kelompok ras manusia tertinggi, ah… mungkin mereka menganggap kelompoknya sebagai mahluk setarap dewa?
Aku hanyalah seorang tukang batu. Persoalan-persoalan pelik, bisa jadi akan mendarat secara tidak tepat di dalam batok kepala ini. Ya, mungkin, bagi seorang tukang batu alangkah terlalu sombong untuk membahas persoalan-persoalan pelik. Namun, bukankah tukang batu juga seorang manusia, yang kapan saja leluasa untuk berpikir, menafakuri fenomena-fenomena sosial? Meskipun, palu, kapak, linggis, pikulan, lebih akrab dengan diriku.
***
Kemarau terus mengganas di kampung halamanku. Padi terputus akarnya. Sehingga daun-daunnya pun meranggas kuning, layu, terbakar oleh matahari yang semakin mengganas panasnya. Tanah belah mekar mengembang melahirkan gelora debu ketika serbuan angin menerjang. Sungai, aliran airnya merayap lambat di antara gemebyarnya berbagai sampah, telah kering terserap sinar matahari, mungkin menguap ke bagian bumi belahan lain. Kami, sering buang hajat ke sungai itu, hingga beberapa tai tampak mengeras kental berbaur bakteri dan lalat hijau yang berkerumun berebut jatah. Sumur-sumur yang kami gali dengan sangat dalam sampai sepuluh meter itu mengering. Tak satu pun yang tahu, kapan kemarau panjang akan berakhir. Entahlah.
Namun, kemarau panjang menyisakan batu-batu yang tersembul di permukaan sungai. Aku dan para pembelah batu lainnya beramai-ramai membelah batu, mengangkutnya ke darat kemudian menjualnya ke kota terdekat. Batu-batu yang berasal dari sungai memang terkenal kekerasannya, kualitasnya pun terjamin. Hingga batu-batu itu tetap laku keras. Ah, kemarau panjang memang telah menguapkan air di sungai, juga batu-batu telah terbang tertiup oleh kebutuhan kami ke kota terdekat untuk pembangunan. Ya, pembangunan di kota terdekat seperti tidak mau berhenti, tak mengenal kering. Kami sadar, resiko dari perbuatan kami . Di masa depan kami akan mengahadapi sesuatu yang tidak kami ketahui, mungkin jika musim hujan tiba air sungai akan menenggelamkan kami karena air akan semakin deras. Atau pengikisan akan semakin menghabiskan bantaran sungai. Tapi… dengan apa lagi kami bisa mempertahankan hidup selain dari mengambil batu di sungai?
“ Bagaimana rumah itu?” Tanyaku kepada Kirin. Hantaman keras palu godam menerjang sebuah batu hingga terpecah. Aku menyeka keringatku dengan punggung telapak tangan. Langit cerah, matahari memanggang tubuh kami, sampai tubuh kami semakin keras melegam, berkilauan dengan keringat.
Kirin menatapku. Wajahnya semakin keras dari hari ke hari. Disekanya keringat di dahinya. Nafas tuanya tersenggal. Bersahutan dengan deru nafas yang keluar dari mulut dan hidungku. Hanya saja, ia tetap merokok.
“ Rencananya, selasa depan mereka akan mengontrak rumah itu!” Jawab Kirin. Asap putih mengepul dari sela-sela bibirnya.
“ Laku, benar, ya, rumahmu itu?” Gurauku. “ Setiap bulan ada yang ke luar lalu datang pengontrak lain?!”
“ Jangan menghina, kau!”
“ He he he… begitu saja tersinggung…!”
“ Di musim panas seperti sekarang ini, orang mudah terbakar, tahu!”
“ Jangan ikut-ikutan terbakar, dong”
“ Istirahat dulu, yuk!” Kirin mengajakku menepi.
Di bantaran sungai kami merebahkan tubuh, menahan panasnya udara. Kirin membuka bungkusan nasi, sedangkan aku membuka bungkusan lauk pauk ikan asin. Begitulah, setiap hari, kami selalu berbagi. Kami menyeruput air teh dalam botol, segar… orang bilang surga bisa diciptakan kapan dan di mana saja. Mungkin benar juga pada saat seperti itu.
“ Aku tetap heran… rumah kontrakan itu…” Nada melenguh ke luar dari mulut Kirin.
“ Jangan percaya takhayul!”
“ Siapa bilang aku percaya pada takhayul! Yang ingin kuketahui adalah penyebab ketidak betahan para pengontrak rumah itu.”
“ Lama-lama juga kau akan memahaminya, Rin!”
Kami melanjutkan pekerjaan yang tersisa, memindahkan batu ke daratan. Para pembelah batu yang lain pun demikian. Selama menangkat batu, aku masih asyik memikirkan keluhan Kirin tentang rumahnya itu. Bagaimana tidak, rumahnya itu dekat dengan rumahku. Hanya dibatasi oleh sebuah kebun tak terurus. Sudah beberapa orang mengontrak rumah itu dengan waktu teramat singkat, paling lama hanya mencapai satu bulan saja. Satu bulan sekali para pengontrak rumah itu bergantian, dan waktu memang tak pernah mau menunggu. Tak terasa, tiba-tiba tetangga baru muncul lagi, lalu berganti lagi, terus…demikian. Bermacam-macam sifat para pengontrak rumah itu. Aku selalu menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan setiap pengontrak ruamah, sehabis bekerja, atau menjelang malam. Semula ingin menjalin hubungan keakraban sampai kepada hubungan kekeluargaan, tapi baru saja hubungan itu terbina, pengontrak rumah pindah lagi, kemudian datang lagi pengontrak lain, dan aku harus merajut kembali hubungan dari awal! Setiap bulan tetanggaku bergonta-ganti nama, sikap, juga wataknya.
Pernah, sebuah keluarga mengontrak rumah itu. Tetangga baru! Terlihat di kejauhan, karena kami selalu mengawasi tetangga baru itu dari balik jendela, keluarga dengan dua orang anak, keluarga bahagia! Pikirku.
Aku selalu menyempatkan diri mengunjungi mereka selepas maghrib, pada mulanya. Hangat sekali mereka menyambut kedatanganku. Mereka terbuka, sangat open house. Tidak kaku, bahkan menganggapku sebagai seorang teman lama yang telah hilang lalu ditemukan lagi. Sering sekali, mungkin hampir setiap malam, istri pengontrak rumah itu menyuguhiku kopi susu lengkap dengan ketela rebusnya. Kami bermain catur sambil berbincang hingga malam larut. Ketika anak-anak mereka telah terlelap dalam tidurnya, aku pulang. Dan kepulanganku selalu mereka antarkan sampai ke teras rumah itu.
Tapi, kehangatan sering berujung pada rasa hambar dan terus mendingin. Tiga minggu kemudian, tepatnya pada suatu malam. Ketika pekatnya hitam malam terus mengatup dan bintik-bintik lamu lima watt mulai meramaikan kampung halamanku, melukiskan sketsa gemintang kemerlipan, terdengar olehku baku hantam suara mulut sedang berperang.
“ Kamu selalu main catur dengan tetangga kita itu!” teriak sang istri, nada soprannya memekik memecahkan keheningan. Hal itu membuatku penasaran, sampai aku mengendap ke belakang rumah itu, menguping perdebatan mereka.
“ Ya, apa salahnya!!!? “ Suaminya membalas lebih keras dari istrinya.
“ Salahnya, kamu menjadi pemalas!”
“ Kau memang materialis. Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang!” Rupanya percekcokan semakin seru.
“ Aku realistis! Setiap malam aku harus menyeduh kopi susu di tambah dengan ketela rebus. Dengan apa aku membelinya? Apa dengan papan caturmu itu, heh? Sedangkan kau masih kalah oleh ayam, pagi masih mengulat saja di atas ranjang. Kau menjadi pemalas!”
“ Diam! Zaman sekarang susah mencari pekerjaan tahu!” Sampai di sana percekcokan berakhir. Sang suami membanting pintu, bergegas keluar dengan langkah memburu, begitu cepat. Sedangkan istrinya masih asyik bersumpah serapah.
Ya, masalahnya mungkin ada pada diriku. Sampai kuputuskan untuk tidak tidak mengunjungi keluarga itu lagi.
Rupanya sang suami, sejak percekcokan itu, sering pulang hingga larut malam. Langkahnya sering tampak sempoyongan, kelelahan mungkin. Raut wajahnya penuh cerita derita, membuat rajutan kepedihan, bisa kurasakan juga. Aku tidak berbincang-bincang lagi dengan mereka. Hingga mereka pindah rumah, entah ke mana.
Di lain waktu. Rumah itu telah dikontrak lagi oleh pasangan suami istri. Mereka masih muda, baru menikah, pengantin baru. Setiap pulang dari sungai aku selalu tersenyum kepada mereka, mencoba untuk menciptakan keakraban dengan mereka. Aku selalu merasa iri dengan polah mereka. Mereka terlihat begitu bahagia, pasangan yang serasi, saling bercumbu rayu, berpelukan hingga berciuman dengan mesra, sangat romantis. Ketika adegan itu berlanjut aku hanya bisa membayangkan tubuh istriku yang sudah mulai berkeriput dan sekujur badannya tidak disesaki lagi oleh aroma parfum melainkan oleh bau balsem yang menyengat.
Sang suami bekerja di Jakarta. Jakarta… oh Jakarta. Entah kapan aku akan ke sana. Ia bekerja sebagai seorang desaign grafis, entah pekerjaan macam apa itu. Pulangnya seminggu sekali. Jadi ,aku tidak mungkin menciptakan keakraban dengannya, kecuali dengan istrinya. Peluang selalu tercipta, kesempatan memang selalu terbuka. Setelah kuketahui ,ternyata istrinya seorang master catur. Hmm… sekedar untuk menguji kehebatannya, sekali malam kutantang dia untuk main catur. Ia setuju, pertandingan pun dilakukan di rumah kontrakan itu, tepat pada pukul sembilan malam. Ia memang seorang pecatur tangguh bagi tukang batu sepertiku, langkah-langkahnya efektif dan akurat, aku selalu dipecundanginya. Setiap malam kami main catur dengannya. Kami semakin akrab.
Sudah kukatakan, dunia adalah tempat bekubangnya ketidak abadian. Keakraban kami pun pecah juga. Suaminya mengeluh kepadaku ketika dia mengetahui apa yang selalu kami lakukan setiap malam. Ya, aku sadar. Tepatnya tidak akan ada seorang suami yang merelakan istrinya begitu terbuka kepada laki-laki lain, meskipun seorang tua sepertiku.
Rupanya istrinya tidak mau menerima perlakuan suaminya yang cemburuan itu. Sampai terjadi lagi perang mulut. Percekcokan.
“ Aku bekerja membanting tulang di Jakarta….!”
“ Ah, itu kan kewajibanmu sebagai seorang suami, tidak penting kau ceritakan kepadaku…” istrinya memekik.
“ kau enak saja main catur hingga larut malam dengan pak Kadir!”
“ Apa masalahnya?”
“ Tentu saja ada. Karena aku adalah suamimu. Dan masalahnya adalah kamu main catur dengan seorang lelaki pada malam hari, berduaan lagi..”
“ ah… masalahnya ternyata terletak pada dirimu sendiri yang mudah cemburuan. Jadi kau menuduhku macam-macam, ya!?”
“ Aku ini suamimu sedangkan dia…?”
Aku mampu mendengar pertengkaran itu dengan tepat pasti. Sampai kuputuskan untuk tidak main catur lagi dengan wanita itu. Sehabis bekerja membelah batu di sungai, setiap malam aku hanya bisa mengintip rumah itu dari balik jendela. Ketika malam menjelang, terus merayap, rumah itu lampunya telah dimatikan. Seakan mengirimkan sandi morse kepadaku untuk segera bergegas tidur. Terus berlangsung, hingga, tanpa kuketahui ,pasangan pengantin baru itu telah pindah rumah…
***
Pengontrak rumah yang baru telah tiba, ini adalah hari selasa, seperti kata Kirin. Perabotan rumah tangga: kompor, dandang, wajan, piring-gelas, meja-kursi, kasur ,ranjang, dan barang-barang lainnya sudah siap diturunkan dari bak mobil truk. Lengkap sekali pengontrak baru itu membawa perabotan rumah tangga, seperti akan lama menghuni rumah itu. Aku membantu mereka menurunkan perabotan rumah tangga.
Tetangga baruku, sebuah keluarga. Sang suami berjenggot lebat dan tebal. Betapa asyiknya jika seorang lelaki berjenggot lebat, bisa dipelintir-pelintir ketika sedang melamun. Bisa memilin-milinnya ketika sedang sendirian. Jenggot tetangga baruku seperti hendak menantang kejantananku. Sampai saat ini, tak ada keinginan dari dalam diriku untuk memanjangkan apalagi mengurus jenggot!
Sampai ada keinginan untuk memanjangkan jenggot. Ah, jangan-jangan penyakit lamaku mulai kumat lagi, selalu ingin mencampuri urusan tetangga!
“ Tetangga baruku berjenggot lebat, Rin!”
“ Mudah-mudahan mereka akan betah mengontrak rumahku itu.” Kata Kirin. Tangan kekarnya menghentakkan palu, membelah sebuah batu besar.
“ Yup. Kita tunggu saja!”
Kami terus bekerja. Membelah batu, mengangkatnya, lalu menyusunya menjadi beberapa kubik.
***
Sebulan, merupakan masa penantian. Kemarau semakin mengganas , membakar tubuh kasar kami. Entah sampai kapan. Air semakin sulit di dapat. Sungai semakin kering. Tanah-tanah belah semakin pecah karena tersengat cahaya matahari yang semakin kuat dari hari ke hari. Batu-batu mengeluh payah. Pepohonan melenguh resah. Padi-padi sudah mati sempurna kerontang kecoklatan warnanya. Rumputan menguning. Debu-debu menerjang riang ketika angin berhembus kencang.
Tetangga baruku yang berjenggot lebat itu berpamitan kepadaku. Katanya ia akan pindah rumah. Terang saja, aku merasa kehilangan atas kepergiannya itu. Tapi setidaknya, kepindahan tetanggaku yang berjenggot itu bukan disebabkan oleh ulahku. Dan rumah Kirin kosong lagi….
Sukabumi, 4 Agustus 2005
14:36:22

Di bawah pohon kersen, Rana masih menunggu mama, sejak pulang sekolah sampai sore. Seragam putih merah masih melekat di tubuh mungilnya. matahari menyinari pelataran Bumi Allah dengan cahaya kuning. Bayangan kelam pohon kersen meneduhkan si kecil. Lalu-lalang kendaraan yang mengepulkan asap pekat bukan persoalan bagi Rana. Debu menderu terpingkal menerjang, bukan masalah baginya untuk tetap setia menunggu. sampai mama pulang…
Hari masih pagi, tapi gerimis telah mengeroyok pelataran tanah. Pepohonan kuyup menggigil. Kabut tipis menyelusup ke setiap penjuru. Udara kabur, pemandangan buram. Di musim penghujan ini, pagi tidak memberikan setitik embun dan nyanyi pipit,yang terdengar adalah rintihan pilu rerumputan yang mengiba pada gemebyarnya cahaya kilat. Hujan akan reda setelah jam menunjukkan pukul 11.00 bahkan bisa lebih, atau.. hujan akan turun setahap demi setahap, reda- hujan lagi, reda hujan lagi, begitu seterusnya. Air selokan menguap, sungai Cimandiri meluap. Namun.. tidak ada banjir di sana..
Iedul Fitri tahun ini tidak seperti sebelumnya. Sebelum mengunjungi kaum kerabat dan ziarah ke kubur kakek,saya menymepatkan untuk menngok seorang teman yang sakit keras. Kebetulan rumahnya,tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya.

Seorang tukang pancing sejati, Ohil, belum berani menikahi seorang wanita pun. Hidupnya, seolah-olah hanya puas menjadi dirinya sendiri. Padahal, filsafat macam apapun akan menghendaki datangnya kebahagiaan dalam hidup. Dalam aturan yang tertanam di masyarakat, kebahagiaan hidup, salah satunya bisa dicapai dengan memulai hidup baru, berkeluarga, memiliki istri, menimang anak, dan hidup ramai dengan anak istri. Tapi, jelas sekali, sekali lagi memang jelas, bahwa filsafat hanya bisa membawa orang kepada kebahagian bathin , dan bagaimana cara manusia memandangnya, tidak semua orang memandang kebahagiaan hanya dicapai melalui hidup berkeluarga. Ohil mungkin punya pandangan seperti itu.
Pernah mendengar, wanita disiram wajahnya dengan air keras, pembantu wanita didorong oleh majikannya hingga jatuh dari lantai lima, wanita disekap di dalam kakus selama seminggu, wanita di pelorotkan martabatnya dengan cara dijualbelikan ibarat barang loakan, wanita ditindih hingga merintih oleh kebuasan binal dan amarah kekerdilan. Sebaiknya dengar cerita ini.
mengalami nasib tragis. meninggal dengan cara mengenaskan karena seringnya dia mabuk. Peminum Vodka sejati mungkin, matahari baru muncul dia sudah memegang erat botol Vodka, siang sampai malam dia habiskan untuk mabuk. Dia tinggal di sebuah rumah tukang jahit bernama Astefii. Astefii kehilangan celana warna hijaunya, ya dia mengira pasti malingnya si Emilian. Hanya saja, Astefii tidak mau menyakiti hati Emilian, dia bertanya dengan baik-baik siapakah yang telah mengambil celana hijauku? Terang saja Emilian mencari-cari celana itu ke segala penjuru rumah sampai ke kolong ranjang pun jadi. Sudah pasti tak ketemu. Sampai pada suatu ketika, Astefii si tukang jahit itu mengunci setiap kopornya. Tentu saja Emilian merasa tersinggung. Pada akhirnya dia meningalkan rumah Astefii, pergi entah ke mana. Astefii tidak mau kehilangan satu-satunya sahabat tercinta, dia mencari Emilian, tidak ketemu. Tiga hari kemudian Emilian pulang dengan membawa kepedihan. Dia sakit keras karena tidak makan selama tiga hari. Sakitnya semakin parah, menjelang sekarat dia berkata kepada Astefii… Akulah yang telah mengambil celanamu, Astefii sayang…
meramaikan rumah mereka dengan berbagai musik, cuma.. dangdut… kebetulan saya agak kurang berselera terhadap dangdut.
ng sering berdiri di bawah pohon kelapa sambil menatap lautan itu kurang diketahui oleh banyak orang. Sudah hampir seminggu orang-orang dermaga ramai membicarakannya. Bukan sekedar obrolan mengenai keluar masuknya barang dari kontaoner-kontainer atau juga tentang lelucon seorang nelayan yang menangkap paus dengan kailnya, mereka juga membicarakan wanita itu. Ia biasa berdiri di bawah pohon kelapa, menghadap laut, mungkin sedang menunggu Hermes bukan Poseidon. Aroma garam menyibak tabil pantai. Rambut panjang dibiarkan tergerai bergelombang, seolah dia tidak menyadari bahwa rambut adalah mahkotanya. Dia juga tidak menepis cahaya matahari yang menyikat kulit mukanya.




Komentar