GADIS MATREPOLITAN
Sekitar pertengahan bulan Mei 1994, kami habis berenang di Prana. Melintasi jalan Siliwangi, kami iseng menggodai beberapa gadis (umurnya lebih tua dari kami). Teman saya si Andre memiliki tubuh paling tinggi, ya lumayan lha, mungkin dikira sudah benar-benar dewaasa matang, terlebih wajahnya memang mengkerut tua. Dia pioneer terdepan dalam masalah menggoda wanita.
” Ehem….” Awalnya demikian, beberapa gadis itu menyingkir, reaksinya dingin..” Cewekkk…suittt!” Lanjut Andre memburu cepat.Para gadis menengok sebentar saja, lalu keluarlah sungging cemooh dari bibir mereka, bisa jadi merendahkan kekanak-kanakan kami, ” Matre…!” Lha, kok si Andre tidak nisa mengerem etika.. mulutnya pake manyun segala lagi.
Ah, gadis matrepolitan… yang terbentuk dalam benak saya waktu itu tentang gadis matre adalah: make-up, farfum, mobil mewah, life-style( bahasa bule saya memang kurang bagus), dan tentu saja konsumerisme hedonistic ( Bah… bahasanya memang lucu). Namun… setealah batang usia saya mulai mendewasa saya mulai memiliki referensi tentang gadis matrepolitan ini. Dulu, pernah ada seorang teman wanita yang beranggapan bahwa hidup dan kehidupan seseorang tidak bisa terlepas dari materi. Ya.. saya juga sependapat dengan anggapan tersebut(i9ngat… anggapan lho), p[ada dasarnya kita adalah manusia matrepolitan, tapi jelas sekali bukan materi an-sich, Di atas segala materi ada kebaikan, nilai, kebijaksanaan, positivw thinking, dan moralitas.
Orang bilang tidak mungkin hidup ini hanya mengandalkan cinta. Tapi bagi saya itu mungkin saja, di dunia ini segala nya bisa mungkin terjadi,bukan kah demikian? Masalahnya… apa kita mau mencoba dan mengawalinya? Coba saja kalau berani, namun tentu saja bukan untuk gadis atau jejaka matrepolitan…hmm…
September 2006
VIDEO CASSETTE DAN BULAN RAMADHAN
Masa kecil yang akan selalu saya kenang dan selamanya akan tersimpan dalam file-brain adalah indahnya menyambut bulan suci Ram,adhan. Ayah selalu membelikan petasan sebagai penghibur bagi anak-anaknya ( saya baru memiliki 1 adik waktu itu) Anak-anak yang lain pun diperlakukan sama oleh ayah mereka, dibahagiakan dengan beruntai-untai petasan, pistol mainan, dan tentu saja baju baru.
Ada dua jenis baju yang biasa dipersiapkan dan diberikan oleh ayah waktu itu, pertama baju kaos biasanay dipersiapkan untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Yang ke-dua, tentu saja baju paling baru, orang kampung menyembutnya ‘acuk-dulagh’ yang aakan kami pakai di hari lebaran nanti.
Kaos yang dipakai oleh anak-anak waktu itu adalah kaos bergambar GOGLE V, film kesukaan anak kampung. Kami menonton film GOGLE V melalui vidoe cassette, sebagai karcis m,asuknya kami membayar RP. 25,- . Televisi, jumlahnya masih sedikit, belum ada stasiun TV swasta seperti sekarang ini, orang-orang yang memilikinya pun begitu terbatas, hanya orang kaya kadang bertitel haji, seperti: Pak Sujai, Haji Kamal,Haji Bukhori, dan pak Rosyid, di rumah pak Rosyidlah kami menonton film di bulan Ramadhan, orang bilang ngabeubeurang…
Selain film GOGLE V, kami juga menonton Zabogar, Megaloman, Lion Man, dan film yang paling saya gemari waktu itu adalah Rocky ( Sylvester stalone) meskipun kami tidak memahami jalan cerita dan plot film tersebut, yang jelas tarung itu lho …
Betapa…begitu indahnya kenangan yang tidak bisa kembali itu…
Tawaran Aneh…
” Sa, ke rumah dulu, yuk!” Kata Irma Rismawati, suaranya meskipun perlahan namun yakin pasti. Apa tidak salah atau telinga saya waktu itu sedikit terganggu syarafnya? Tentu saja jalan pikiran saya tidak terhenti sampai di sana, bukankah-selain saya- banyak teman lain yang saat itu berkumpul dekat, akrab lagi hangat. ” Memang mau apa, Ma?” Tanya saya memburu. “Mamah mau mengenalmu, katanya ia ingin mengenal orang yang namanya Warsa…!” Bah, busyet! apa tidak salah? Mamah Irma mau mengenal saya lebih dekat? Hhhhmmm… tawaran bagus, mungkin untuk mengikat kedekatan saya dengan anaknya,terlalu sopan juga sih bagi saya, toh.,.. saya waktu itu sangat menyukai Irma, mungkin bahasa ekstreem nya falling in love with her, begitu?
” Aku pertimbangkan dulu, ya… mungkin lain kali aku bisa!” Nah lho… bagaimana mungkin saya berani menghadap mamahnya Irma, sekedar untuk berbicara dengan anaknya saja saya agak gelagapan persis orang kaku, barangkali mayat hidup.
Bagaimanapun, Irma cemberut, malah dengan gencar memaksa saya untuk tetap datang, minimal bersalaman dengan mamahnya. Sedangkan saya tetap tidak mau… ya… harus apalagi, toh Irma pun mengalah juga.
Demi mendengar cerita dari saya, salah seorang teman tertawa renyah, kemudian mulai ngakak enak, “ha..ha..ha… si Irma mulai melirikmu, Sa!”
” Bagaimana mungkin kamu berani mengatakan itu, sedangkan kamu sendiri menyukai si Irma khan?” Jawab saya cepat.
Jangan menganggap cerita di atas adalah sebuah cerpen-fiksi, ini merupakan salah satu penggalan perjalanan kehidupan saya… penting atau tidak penting…tidak menjadi masalah, yang jelas demikianlah hidup… mengalir terus menerus tanpa henti, toh saat ini batang usia saya sudah melebihi apa yang diperkirakan sebelumnya…maksudnya, bahwa usia yang saya injak sekarang ini sudah memasuki masa remaja matang, dewasa tulen lha. Dan untuk menjadi manusia sukses? Bah… masih tetap meraba-raba, saya tanya pada semua mahluk di jagad raya ini, mana itu kesuksesan, katanya…. kesuksesan sedang mengalir…..apa ada yang percaya???
Antara 2 Pilihan
Jika harus memilih antara Irma Rismawati yang cantik (saat ini telah dianugrahi 1 orang anak) atau prestasi, saya akan memilih prestasi tentu saja. Memang pilihan bijak bagi anak seusia SMP waktu itu adalah opsi ke-dua. Bukan saya mau menaifkan hal kecantikan Irma Rismawati atau saya telah menceburkan diri ke dalam jurang monisme, jelas sekali, sejak kelas 1 SMP saya sudah sangat mengenal teman yang satu ini, betapa cantiknya waktu itu (menurut ukuran anak-anak SMP zaman saya), pokoknya menjadi rebutan para siswa lah! Termasuk beberapa kakak kelas pun meliriknya.
Di kelas 2, kembali saya satu kelas dengan dia. Saya semakin mengaguminya, camkan, hanya sebagas mengaguminya, lha… mungkin saya telah menjadi Irma’s secret admirer? Cihuyyyyy….! Toh zaman , waktu itu, usia kita masih mentah…tah…tah… apalagi untuk mengenal dan terjun ke dalam dunia cinta, serba pink! Sampai dewasa pun saya tetap menjadi pengagum, catat! bukan penggemar! Irma Rismawati.
Mungkin, kenyataannya akan berbeda dengan anak-anak generasi 90-an ( katanya hidup di zaman kemerdekaan, kebebasan, keterbukaan, keserbacanggihan, ke….an,ke…an. Jika diberi dua pilihan antara Irma Rismawati atau Prestasi , mayoritas akan memilih Irma Rismawati, Prestasi??? BELAKANGAN, BISA DIATUR!!!
Pun, sampai masuk kelas 3, saya masih setia pada pilihan saya, bahwa saya harus memilih trestasi, kendatipun benih-benih untuk memetik muntum bunga sudah mulai mengembang. Seorang guru bertanya kepada saya seputar PUBERTAS, aneh memang, mengapa beliau mampu mengetahui bahwa dalam jiwa saya sedang menggelora badai asmara( cihuyyyy… romance!) dampaknya terhadap pelajaran yang saya hadapi, prestasi di kelas tiga mundur satu langkah, saya mendapat rengking ke-2, berada di belakang Gun gun( polos sekali anak yang satu ini). Betapa besar pengaruhnya ASMARA, padahal waktu itu saya masih setia memilih prestasi. Dan saya pun merasa yakin, sangat yakin, tentang Gun gun, jika dia diberi dua pilihan antara Irma dan Prestasi, sudah tentu dia akan memilih Prestasi, titik. Apalagi dia memang MANUSIA POLOS, KOSONG, titik.
Balandongan, Homesweethome, 2006, september
Masuk Kelas Unggulan
Siapa yang tidak mau masuk kelas unggulan? Semua mau, tentu juga dengan saya. Memasuki tahun pelajaran dan kelas baru saya masuk kelas 2 B, konon kata orang-orang kelas ini merupakan kelas 2 unggulan di SMPN 3 Sukabumi. Tentu saja, sebagai kelas unggulan siswa-siswi yang masuk ke kelas ini merupakan orang-orang pilihan pula, waktu itu kami menyebutnya the best five( maaf kalau Inggrisnya tidak sesuai dengan gramatika)Persaingan dan kompetisi sudah melambai-lambai di depan mata, something must be done yang saya hadapi bahkan lebih berat dan hebat tantangannya.Saya masih ingat, waktu itu satu kelas dengan orang-orang terbaik yang pernah saya kenal, the best friends I ever knew-lah!Semisal : Gun-gun Gunawan, Irma Rismawati, Reni Yulianti, Riska Ristiana, Dewi Febrianti de el el yang jika saya tulis satu persatu tidak mungkin.
Beruntung sekali saya bisa masuk ke kelas unggulan ini. Puncak kebanggaan yang penting saya kemukakan adalah ketika menjadi juara 1 dan umum kelas 2. Muncul sikap sok mungkin, sayalah yang terbaik, namun… waktu itu saya juga sadar betul prestasi apapun tidak selalu bersifat final. Betapa berbinarnya mata saya diliputi asap kebahagian, meskipun … padahal saya tidak merasa lebih pintar dari teman-teman lainnya, apalagi dengan Gun gun (si anak polos) Maybe, Allah berkehendak lain, saya yakin itu.
Sementara kebahagian itu tidak surut sampai di sana, saya mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan, nilai nominalnya waktu itu bisa dikatakan sangat besar, soalnya rupiah masih kuat..wat…wat… terlebih waktu itu si babe, maksud saya Soeharto masih memimpin negeri ini. Ada rencana untuk mentraktir beberapa teman waktu itu, hhh… tertunda, dengan alasan…. jangankan untuk mentraktir teman, toh uang tersebut saya pergunakan untuk membiayai diri sendiri, khususnya keperluan sekolah.
Orang akan mengira, betapa bahagianya orang seperti saya. Di sekolah mendapatkan prestasi, beasiswa, ada mencap saya sholeh lho… ya, cukup beralasan juga bagi saya untuk menaikkan hidung.
Hanya saja. tentu saja perkiraan orang-orang terdekat waktu itu tidak sepenuhnya mengena, karena waktu itu saya pun harus menghadapi beberapa persoalan pelik, ya… bisa dikatakan masalah keluarga lah! Demi rahasia tidak akan saya ceritakan.
Namun, tentu saja kebahagian itu mampu menutupi masalah yang saya hadapi…apa yang harus saya lakukan waktu itu? Bersyukur, bersujud, atau bertafakkur?
Tentang Pohon Mahoni Besar Yang Berjajar di Dekat Gerbang SMP Negeri 3 Sukabumi
Sekitar tahun 1992-an, di sepanjang Jalan menuju SMPN 3, tepatnya di dekat gerbang sekolah, tumbuh berjajar sekitar 5 pohon mahoni ( mahogni) besar. Waktu istirahat, saya habiskan untuk duduk-duduk sambil menikmati makanan ringan alakadarnya. Beberapa teman mengaku, betapa sejuk dan teduhnya kita duduk di bawah pepohonan ini. Apalagi setelah pelajaran pendidikan dan kesehatan jasmani, keringat kami seolah-olah dilap oleh hembusan semilir angin yang menggeriapkan rambut-rambut polos anak-anak usia SMP waktu itu.
Keindahan yang sebenarnya dari pepohonan ini adalah ketika musim panas menerjang datang. Dedaunan kuning menghujani tubuh kami, mungkin ilustrasinya hampir menyamai musim gugur ( fall) di Eropa sana. Serakan dedaunan membersihkan jalanan sekitar gerbang. Tepat, yang melintas di sana adalah dua orang wanita( bisa dikatakan teman sejati waktu itu) Irma Rismawati Nurliani bersama Dewi Febrianti yang katanya waktu itu merupakan rebutan dan idola para lelaki, bisa jadi termasuk saya. Ketulusan dan cara jalannya menggeliatkan gairah udara pagi kemarau yang masih menggigit dengan dinginnya, beberapa daun kering terapung terinjak jenjang kaki mereka, hhh… saya hanya bisa mengintip dengan lirikan mata yang kurang fokus.
Kadang, saya menatap pepohonan mahoni besar itu dari daun jendela, kebetulan kelas saua( kelas 1 A) berada di seberang jalan bermahoni besar itu.
Huuuhh…. Kalau dibuka kembali mungkin hal-hal tersebut di atas hanya merupakan penggalan-penggalan kenangan yang tersimpan begitu tulus dan rapi dalam memori ini.
Dan, bagaimana kabarmu hari ini, wahai pepohonan mahoni besar?
Komentar