Arsip untuk September, 2006

28
Sep
06

Perjalanan Kehidupan : Kongkouw In ceu Empat-mall

Saya bersama beberapa teman sering kongkouw sambil menikmati sebatang rokok, pisang goreng, dan makanan ringan lainnya bahkan disempurnakan oleh segelas kopi susu. Mungkin orang menyebut kami sebagai manusia paling bahagia waktu itu. Tidak ada masalah, uang jajan rasanya cukup meskipun ayah hanya memberi saya sebesar 1.200 perak. Masalahnya mungkin dollar waktu itu masih tidak seberapa besar dahsyatnya. Rupiah juga masih kuat bahkan sangat kuat..

Kongkouw di warung kopi ceu Empat selalu kami lakukan sepagi mungkin, sebelum saya masuk kelas malah. Iyong, Arif, dan beberapa cewek pun ada ikut bersama saya menikmati geriap matahari dan aroma kopi susu, weleh..weleh… dunia yang sangat luas ini terasa milik kami waktu itu. Pisang goreng yang kami makan waktu itu harganya hanya seratus perak, sebatang rokok masih seratus atau lima puluh perak. Punya uang seribu, anda bisa kenyang makan-makan sambil menikmati udara segar di pagi hari. Untuk hari ini, uang seribu anda gunakan untuk apa? Membeli mie Bakso? Mana Cukup, man… untuk bekal kongkouw? Cihh… jangan mimpi di siang bolong ya! Zaman sekarang satu gelas kopi pahit saja sudah seribu duaratus perak, bosss…

Nah. nikmatnya kongkouw di warung kopi ceu Empat adalah kita bebas memilih makanan yang kita inginkan. Bisa sharing dan tukar pengalaman juga dengan anak-anak lain, meskipun tentu saja kenakalan kami tidak mungkin menjangkau alam tukar pendapat seperti yang ada dalam pikiran saya saat ini. Tepatnya, warung kopi tempat kongkouw itu sebuah wadah ya.. bisa dibilang semacam lembaga untuk menampung aspirasi anak-anak SMA 1 lha. Toh.. hampir semua siswa pernah singgah di sana.

Konon, ceu Empat memiliki seorang gadis, mentah dan hijau memang masih duduk di kelas tiga SMP. Tapi sering kami usili dia, ah beda halnya dengan cewek sekarang jika diusilin mungkin akan meminta lebih. Pernah… beberapa wanita, khususnya yang ada di kampung halamam saya menjegal ah.. bisa jadi terlalu kasar, mungkin jelasnya mencegat beberapa lelaki yang memakai sepeda motor. Ganjil memang.

Nah… cewek seperti itu di zaman saya sekolah hanya ada satu dua tiga.. eh puluhan. Tapi tidak sebanding dengan cewek sekarang. Saya sih bukan mau menyudutkan cewek, lalu apa hubungannya antara cewek dengan warung kopi ceu Empat? Memang tidak ada hubungannya sich, hanya saja minimal ada relevansi sebab akibat.

Dengar boss… Jangan harap anda bisa membawa kongkouw cewek sekarang ke tempat semacam warung kopi ceu Empat, minimal mereka mau kongkouw di KFC, atau Mc D. Tul? Coba cari cewek seperti cewek dulu, mau diajak kongkouw meskipun di warung kopi setarap warung kopi ceu Empat.

Mungkin masalahnya, apa masih ada wanita seperti itu, mau diajak kongkouw di warung kopi ceu Empat…. siapa yang mau bertaruh dengan saya?….

28
Sep
06

Perjalanan Kehidupan : Jazzy Of Second One Class

Percaya pada kekuatan musik, tidak? Bagus… Anda sebaiknya bersikap bijak. Banyak jenis musik yang memengaruhi diri saya. Blues? Jangan ditanya, tanpa dijelaskan asal-usulnya pun akan saya lahap, lantaran melodinya itu lho, mengiris perasaan. Hmm… sampai sekarang perasaan masih mengendalikan kita, kan?

Pop? Saya malah penggemar berat si Jacko (Michael Jackson) si raja pop itu, ada koleksi cd-nya segala( maaf interpretasinya jelas, bukan celana dalam) Black Or White? Yup… perbedaan warna kulit sudah saatnya ditebas, tidak baik mengagungkanrasisme ketika kita menyebut diri sebagai mahluk Tuhan. You’re not alone? So pasti…dunia bukan milik sendiri, kita berkumpul bersama dengan yang lain, saling interdepedensi, bahassa kerennya…

Klassik? Mau bicara apa dengan saya mengenai jenis musik ini? Romantisme, Baroque, Rocco , Aufklarung? Mau mendebat kelemahan musik klassik? Undurkan saja niat baik Anda. Beethoven, Vivaldi, Mozart, Chopin, Rachmaninov, Hayden, Debussy, Pavarotti. Symphony No 9, Romance! Masa tidak ada yang anda kenal barang satu pun dari jenis-jenis benda yang saya sebut tadi? Bisa jadi Anda disebut mahluk aneh. Konon Beethoven mengalami kelainan pendengaran pada telinganya, dia tuli! dan dia bisa bermain musik tentu saja ini sebuah keajaiban. Serta teramat banyak di alam ini yang sangat ajaib. Vivaldi dengan Four Season-nya, akan membawa Anda pada pengembaraan romantisme, di loakan CD dan VCD nya laku keras, dijual bebas, hh… untuk saat ini- bagi kiya orang Indonesia- tak apalah, membeli barang bajakan dan loakan, toh CD original teramat melambung harganya, adapun saya, alhamdulillah punya Koleksi kaset dan CD nya meskipun campur aduk antara yang asli dengan bajakan, ya… normal-normal saja khan?

Alternative? ckckckck… di tahun 1996 saya menjadikannya sebagai menu harian, sebelum berangkat sekolah, sambil mengemas buku ke dalam tas saya panteng Hardrock FM. Ginblossom, BLUR, Radiohead, Wetwetwet, REM, Greenday, Soul Asylum, Saigon Kick, Duran-duran, Hootie and the Blowfish, Better than Ezra, Third Eye Blind, Vertical Horizon, dsb saya sikat semua! Di kelas, saya sering tukar pikiran dengan si Agit,ya kebetulan manusia yang satu ini memiliki selera yang sama dengan saya.

Lalu, R&B? Rasanya saya tidak terlalu sering mengunyahnya, jenis musik ini… ya sebagai selingan saja, saya biasa memutar chanel radio dari Ardan ke MGT. Mungkin Whitney Houston artis favorit saya.

Underground? weleh..weleh..weleh… saya sempat diberi pinjamman kaset underground oleh salah seorang teman, seingat saya nama kelompoknya Canibal corpse. Welegedewelbeh, bag-big-bug, tuk tak tuk tik, ngakngikngok! Telinga saya mau pecah dibuatnya. Yang harus anda waspadai adalah syairnya, semuanya agnostik! Menantang Tuhan! Bersahabat dengan kegelapan, Iblis merupakan pujaan mereka! iyyyyy…. sereemmmm…

Dangdut? hhhh…

Keroncong? Waduhhh..

Degung? Siapa takut!

Nah, bicara soal kelas 2.1 Smunsa 1996, saya sempat menyebutnya sebagai kelas musik Jazz! So pasti, hanya musik jazz yang variatif dan impovisatif, drum, kendang, simbal, kastanyet, plute, terompet, gitar, bass, melodi, ritem, dan vocal menyatu harmonis. Kelas 2.1 adalah musik jazz. Si Iyong ibarat melodi yang tidak mau berhenti menjuit-juit, si Endang ibarat bass yang belebeb-belebeb ketukan sering meloncat-loncat, si Agit… saya samakan dengan drum, hanya dia yang tahu ketukan hidup, kapan sebuah kegilaan harus diakhiri… Aman. si mulut besar itu? Mungkin terompet yang pet–pet–pet— memekakkan telinga rasanya dengan kebesaran katanya , Mira? Hmm… maybe ritme, cara bicaranya terus menusuk lirih memang, meledak, ada sedikit kebanggaan dalam dirinya dan sampai kapan pun rotem tidak mau berhenti… Mufrika? Tamborin, memang cocok untuk dia. Novi, Endah dan Veni? Hhh… ya anggap saja mereka simbal… lalu saya sendiri? Hahahahaha.. saya adalah penikmat musik, anda berani mengatakan saya licik? Tidak apalah… toh jalan hidup dan cerita ini saya yang buat kok… sah-sah saja khan? Allrigth

Last but not least, bravo Jazzy of 2,1 class…

26
Sep
06

Perjalanan Kehidupan : Kami Kabur, Pak Ajat Mundur…

Udara pagi masih menggigit sebetulnya, namun aktivitas di Smunsa baru mau dimulai, ada geriap angin menerbangkan dedaunan kering pohon pinus di belakang kelas 2.1. Semua siswa siapa-sedia akan melakukan upacara bendera-rutinitas mingguan setiap hari senin. Berduyun menuju lapang, ya… cuaca waktu itu masih dalam suasanan musim kemarau. Matahari, meskipun baru muncul dengan cahaya kurang kuat, namun menyiratkan kekuasaan sang khalik teramat agung dan sulit untuk diungguli.

Adapun saya, masih setia duduk di belakang sekolah, sudah lima kali saya tidak mengikuti upacara bendera, selain disebabkan tidak mau kecuali karena memang saya merasa bosan dengan rutinitas seninnan tersebut. Saya duduk di lembah putus cinta- di zamannya lembah ini merupakan lembah penggugah ekspresi- orang mau memutuskan cinta selalu mengambil lembah ini sebagai tempa yg tepat. Di sana bukan hanya ada saya saja, juga ditemani oleh Si Haryudi Iswanto (Hairius Landakius), sambil menyelipkan rokok di celah-celah bibir kami ngobrol ngalor ngidul, tentu saja dengan suara lirih. Lima belas menit kemudian, kami mendengar suara… krosakkkkk…. Bah, seseorang naik ke atas pagar pembatas- kami biasanya menaiki pagar pembatas jika kesiangan, karena pintu gerbang sudah dikunci-. Ya…. ampunnnn…. bukankah orang yang menaiki pagar pembatas itu Pak… Amas……….hahahahaha….Ya, tidak apa-apa sih, masalahnya rumah pak Amas, tepat berada di belakang sekolah dekat pagar pembatas, jangan-jangan bobolnya pagar pembatas tempo hari disebabkan oleh…maybe.

Kami berjumpa dengan pak Amas, biasa…. seringai senyum, terpaksa pasti…Pak Amas marah? Mana berani, bisa jadi kami mengcounter attack nya. Dia berlalu saja, tanpa banyak kata.

Upacara selesai, absen diisi, beruntung sekali kami Punya sekretaris sebaik Neng Eri- teman dekatnya Mira- jadi ketika saya tidak mengikuti upacara pun akan tetap dihadirkan. Thanks ya, Er…. pantas ada pepatah yang mengatakan Friendship Last Forever! Kegiatan sekolah berlangsung alakadarnya, jam pelajaran demi jam pelajaran kami lewati. Sampai pada pukul 12.30, tepat jam pelajaran Akuntansi. Ada kabar, sebelum istirahat siswa kelas lain memberitahukan bahwa pak Ajat, pengajar Akuntansi tidak ada, beliau meninggalkan tugas. Tentu…tentu… kami sangat bahagia, horeee….! Keliahaian yang kami miliki adalah, kami akan membawa tugas itu ke rumah dan mengerjakannya di rumah, lantas… tanpa menunggu komando dari siapapun kami cabut, go out!

Celaka, besoknya ada berita, pak Ajat ternyata masuk kelas, ah… untung saja ada beberapa siswa yang tidak turut serta pulang, seingat saya, dia adalah Evi dan Ai. Berita mengejutkan kami terima, kata mereka: Pak Ajat Mundur! Maksudnya beliau tidak akan mengajar lagi kelas kami. Hmmm… sah-sah saja sih, itukan hak beliau sebagai seorang guru. Barisan siswa tulalit bisa jadi menyambut hangat tawaran dari pak Ajat ini, namun menjadi kerugian maha besar bagi mereka yang tergolong ke dalam barisan siswa teladan, termasuk saya..hihihihihihi….

Ya, senin ke senin, selama sebulan pak Ajat benar-benar Mundur, KM Kami waktu itu si Aman Nurahman Sabri mengiba, memohon kepada Pak Ajat agar beliau berkenan kembali mengajar di kelas 2.1. Ah… mesti ada konvensasi katanya, semua siswa kelas 2.1 diharuskan menulis surat permohonan maaf dalam segel atau dalam kertas bermnaterai… oke… setuju… akurr…..

Ah… memang absurd hidup ini, setelah kami membuat pernyataan tersebut, toh pak Ajat masih saja mengungkit-ungkit kesalahan sepele yang pernah kami perbuat, bahkan…. pak Ajat tidak akan mengajar kelas 2.1 selama satu semester… nyatanya? Absurd lagi, toh Pak Ajat yang baik hati ini kembali mengajar kelas kami…ckckckckck… pak..Ajat..pak Ajat….

24
Sep
06

Perjalanan Kehidupan: Ramadhan di Kampus Smunsa ‘97

Saya mau terbahak ngakak ketika muncul kembali romansa… hmm… mungkin tepatnya nostalgila-maaf saya cetak agak progresif- “satu hari di bulan Ramadhan di Kampus Smunsa pada tahun 1997″ mungkin itulah judul yang tepat untuknya.

 Ramadhan zaman dulu ketika keceriaan remaja masih cermin yang terpantulkan melalui sudut-sudut kehidupan agaknya memang lumrah dan alakadarnya diselingi oleh letupan-letupan petasan. Jangan berbicara masalah terorisme, toh… zaman saya remaja kepala ini tidak tercekoki oleh peradaban barbar dan ungkapan-ungkapan sarkasme lainnya. Saya tidak mengenal istilah terorisme waktu itu, melainkan… hidup kami begitu damai meskipun sedikit gersang. Ramadhan tiba? Pertanda rezeki nomplok bagi tukang petasan. Bagaimana pun, mereka bisa mengais rezeki lebih dari hasil penjualan petasan tersebut.

 Beberapa siswa membawa petasan ke kampus SMUNSA, lantaran apa? Bisa jadi karena iseng dan kejahilan semata. Bukan soal, orang mau bawa petasan, mau bawa mercon, sampai pun bom molotov, permasalahannya mungkin dengan kebisingan dan keonaran si petasan itu.

Sebut saja Pak Hasan, seorang guru Kimia di Smunsa, merasa gusar akibat ulah kami. Bagaimana tidak? Petasan yang telah kami nyalakan dan dipasangi kertas papir kami simpan di dekat tilfun umum, beberapa saat kemudian, si Mr datang, lalu…. bummmmmmm! Bukan main kagetnya, beliau tercenung sesaat…. tengok kiri kanan…. busyet tatapannya tertuju ke arah kami, tanpa menunggu perintah dari siapapun kami langsung ngacirrrr…. geboyyy…

 Hikhikhik… aksi kejar-kejaran pun terjadi ilaharnya adegan seorang polisi yang sedang mengejar beberapa penjahat kelas kakap. Demi melihat kecepatan lari Si Mr, kami merasa kebat-kebit, pasalnya si Endang Anshori tidak memiliki selera dalam masalah kejar mengejar, kecepatan larinya setara dengan 60 KP( Keong Power), ngageboiiiii…. Jelas sekali ini merupakan permasalahn bagi kami, satu orang tertangkap berarti rahasia akan bocor.

Dan… akhirnya… gila… yang tertangkap malah si Yusuf Metallica, aneh memang padahal dia khan seorang atlit sepak bola amatiran. Kok bisa tertangkap oleh si Mr. Dan setelah kejadian itu , segala sesuatu berjalan sebagaimana biasanya, saya menghubungi si Ipong, ada kabar si Yusuf di introgasi oleh beberapa guru, klimaksnya memang menjengkelkan, si Yusuf membeberkan siapa-siapa yang terlibat dalam skandal petasan itu, termasuk saya.

Kontan saja, sebagai seorang maestro jail, saya langsung mencukur rambut, menggundulinya, untuk menyembunyikan identittas, meskipun sangat tidak mungkin.. toh hari senin kami akan melaksanakan ulangan umum.

Pada akhirnya, senin tidak mau menunggu, datang juga. Dan saya langsung diintrogasi, di cap sebagai seorang anti perdamaian, disetarakan dengan massiver, destroyer, dsb. Kartu ulangan umum ditahan, saya harus meminta maaf kepada si Mr. Oke… saya langsung ke rumahnya, ahh… ternyata si Mr lagi duduk bersimpuh, di atas meja berderet lima kartu ulangan, ingin sekali saya merogohnya, hanya… saya juga masih memiliki etika dan sopan santun.

Mr mendambrat kami, menasehati kami, terangnya… titik sentral permasalahan adalah suara petasan itu bukan membuat kaget pak Hasan Sendiri kecuali karena beliau sedang memiliki bayi? Masa iya toh… bukankah rumah pak Hasan dengan Sekolah teramat jauh? Lantas… jika pak Hasan tidak kaget, mengapa ekspresinya begitu merah dan ngagebeg ketika petasan meledak?

Saya -akhirnya- mendapat kartu ulangan umum. Sampai hari ini saya selalu berjanji kepada diri sendiri, tidak akan mengulangi lagi menyakiti pak Hasan… lantas, bagaimana kabar Anda wahai bapak Hasan?

22
Sep
06

Perjalanan Kehidupan:Art Fenomena in 2.1 Class

Orang-orang sukses sering menghubungkan masalalu dengan masa sekarang, bukan sekedar bualan tanpa bukti. Seorang Einstein saja pernah berujar, seandainya saya tidak membaca buku maka saya tidak akan menjadi diri saya, apa benar? Masa lalu memang sudah berlalu, bagaimana mungkin saya akan kembali ke masa lalu sedangkan saya tidak memiliki kekuatan untuk menggusur apalagi membuat Time Machine laiknya Doraemon. Akar permasalahan yang ingin saya kemukakan adalah sebuah fenomena masalalu ,toh hanya sebatas itu saja yang bisa saya lakukan.

Saya akan membongkar kelas 2.1 Smoensa, kebetulan saya terdampar di kelas tersebut. Orang-orang yang dulu p[ernah menjadi penghuni pulau ini antara lain: Agit, Mira, Aman, dll jika saya sebutkan satu persatu rasanya tidak mungkin. Kenangan yang selalu saya rekam dalam memori akal adalah adanya fenomena seni pada dinding kelas di tahun 1996, masih ingatkan kalian kawan. Dinding kelas tersebut dilukis dengan cap telapak sepatu, masing-masing siswa sampai ketua kelasnya membubuhkan telapak sepatu di dinding kelas.

Seorang guru, ibu Agnes namanya, menyebut kelas kami sebagai kelas sang maestro, hhh… mungkin satire yang teramat bijak. Saya, bisa jadi merupakan biang keladi dalam hal palampiasan ekspresi seni. Mentalitas saya, bahkan beberapa teman dekat meru[pakan cerminan davinci-mentality, apapun yang berada di hadapan saya akan saya anggap sebagai objek seni. Kesalahan fatal yang pernah saya lakukan di kelas tersebut adalah, dengan menghias wajah seorang pahlawan, Panglima Polim dengan tudung bulu ayam, persislah sang pahlawan seperti Winnetou si kepala suku Indian Apache. HHH… masa-masa suram dalam seni bagi saya, terang sekali waktu itu…

Jangan menyebut masalah kebersihan. Apa pantas kebersihan di bahas oleh seorang seniman amatiran seperti saya, waktu itu? Absurd memang, kertas-kertas berserakan di lantai, saya menuangkan ide tersebut ke dalam sebuah puisi:
kelasku di orde baru
kertas terpingkal di lantai
debu menari digeriapkan angin yang terpukul daun pintu
merangkak perlahan didebarkan renggang jendela yang dibatasi
wajah lesu penanggung beban masa depan
sedangkan…. buku-buku terlalu tua untuk dibaca

Nah, puisi tersebut di atas saya tulis demi menyimak fenomena kelas 2.1 yang sarat dengan fenomena seni.

Lalu di tahun 2005 bayangan kenangan itu muncul kembali, hingga saya menuangkannya ke dalam bentuk cerpen, saya beri judul Kuncup Mawar di Padang Gersang, alhamdulillah, cerpen tersebut dipublikasikan oleh salah satu majalah Islam,ANNIDA di edisi maret-mei 2005.

Dan saya perlu memberitahukan kepada anda, teramat banyak pengalam kita yang tersimpan rapi dalam jiwa namun teramat sedikit yang bisa kita tuangkan ke dalam tulisan. Apalagi ke dalam sebuah karya seni agung! Mau mencoba?

21
Sep
06

Perjalanan Kehidupan : Terjebak Lagu 60-an dan Alternative di Era Si Babe Berkuasa

Orang sekarang mungkin sependapat dengan saya, bahwa pada tahun 90-an, hanya ada satu stasiun radio FM di Sukabumi, yakni NBS, kalau tidak salah, waktu itu gelombangnya di 105, sekian FM sedangkan sekarang sudah di 94,sekian FM ( maaf saya tidak bisa menulis gelombangnya secara tepat pasti karena saya jarang mendengar NBS saat ini). Nah, sebagai akibatnya, banyak sekali stasiun-stasiun radio FM Bandung dan Jakarta berseliweran di radio saya. Ardan, Oz Radio, KLCBS, Mara, Sonora, RRI Pro 2, Ramako Magic Music, MS-3, Paramuda, Muara, Bens Radio, In-FM, ARH, MGT Radio, dll.

Enak sekali saya mendengar siaran-siaran radio tersebut di atas. Memang propesional orang-orangnya di dalam mengelola siaran, bahkan Ramako Magic Musik dan Mara sempat menghipnotis saya, kadang sampai larut saya mendengar radio, tidak memerdulikan teguran kakek yang merasa berisik dengan suara radio yang saya nyalakan. Acara yang paling saya tunggu dari Ramako Magic Music adalah Sunday 60’s, seharian penuh di hari Minggu stasiun itu memutar lagu-lagu tahun 60-an. Lah… saya pun terjebak dengan lagu-lagu 60-an. Orang sekarang mungkin menganggap saya sebagai manusia JADUL. Masalahnya bukan apa-apa, toh lagu-lagu tersebut enak dikonsumsi. Dari Ramako Magic Saya mulai mengenal The Beatles, Rolling Stones, The Who, The Cats, Carpenters, Queen, Beach Boy, Elvis, Dianna Rose, Nathking Cole, Sinatra, Andy Williams, Skater DAvies.

Selain di Ramako, acara-acara musik klasik dan oldies pun saya panteng di Trijaya FM Minggu malam pukul 21.00, kalau tidak salah nama acaranya sixtien rounds the clock! Juga di Mara FM setiap petang dari senin sampai sabtu.

Terang saja, saya bukan to manusia jadul, lagu-lagu yang up to date pun saya santap, dalam hal musik saya tidak pilah-pilih, semua saya makan dan saya lahap sekenyang-kenyangnya. Perkenalan saya dengan lagu-lagu alternative berawal dari pengetahuan saya tentang musik itu sendiri, si Gun gun memberitahukan saya supaya mendengarkan Ardan atau MGT Radio, dan saya pun menuruti sarannya. Ya memang betul di stasiun radio itu saya mulai akrab dengan lagu-lagu alternative, rock dan hip hop, BLUR dan Radiohead meraba alam pikiran saya dengan musik-musik anehnya.

Di Ms-3 radionya Universitas Trisakti saya bisa menyantap musik-musik alternative, dan kayaknya stasiun inilah yang sangat intens dalam menyajikan musik-musik aliran tersebut menkipun rata-rata hampir semua stasiun memutar lagu-lagu yang variatif. Di sini saya mengenal lagu “Godeamus igiturrr…!”

Selain musik, tentu saja informasi pun sangat saya dambakan. Masih ingat saya, setiap senin malam mendengar Mara, Kang Ajan pengisi acaranya, berani blak-blakan menghajar kebiasaan-kebiasaan buruk para pejabat di era Orde Baru. Jangan Lupa, waktu itu Si Babe masih bercokol di tampuk kekuasaan, berbelok haluan sedikit saja orang sudah dicap subversiv! Semua , tentu saja harus sama-rata, sama- haluan, satu komando, satu Nusa-satu bangsa, satu bahasa, tentu saja sebagai pemimpin yang anti Komunisme si Babe telah menceburkan diri ke dalam sosialisme-realistis, bukankah sama rata-sama haluan merupakan ide dan landasan dasar pemikiran komunis yang komunal?

Saya sering menuliskan pendpat orang-orang yang menelpon ke radio Mara di papan tulis, sesama teman pernah mengingatkan agar saya berhati-hati dalam menyikapi kebijakan orde baru, bah…. apa salah, toh saya waktu itu masih berumur mentah, usia SMP! Mana mungkin antek-antek si Babe berani menangkap anak usia SMP, paling saya akan dikarantina dan di P4-kan!

Sekarang si Babe sudah jatuh, radio-radio bebar berkeliaran, hanya saja saya merasa menyesal, radio saya sekarang sudah dipadati oleh stasiun-stasiun lokal, dampaknya? Hampir seluruh stasiun radio yang saya sebutkan tadi tertutup olehnya. Hanya segelintir saya yang masih jernih tertangkap oleh radio saya. Padahal kalau mau dikritik, toh stasiun-staiun radio di Sukabumi ini secara kwalitas masih tertinggal, yup… apa boleh buat inilah alam reformasi, semua bersaing secara sehat, apalagi dalam tataran bisnis, siapa yang tidak suka duit!?

19
Sep
06

Perjalanan Kehidupan

Terdampar di Pulau Smoensa

Pernah, dalam rangkaian hidup saya terbersit sebuah obsesi- ah, mungkin lebih tepat sebuah kemauan- untuk melanjutkan studi ke SMA Taruna Magelang, setamat SMP. Bukan main, persyaratan yang diberikan pun begitu menantang otak. Siapapun yang memiliki cita-cita untuk bersekolah di sana harus manusia-manusia pilihan, seorang surviver sejati, penilaian terpenting adalah melalui standarisasi akademik. Persyaratannya, salah satunya, selain fisik harus kuat, nilai- mata pelajaran IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris harus 9.0. Nah, saya memiliki kebanggaan tersendiri, masalahnya otak saya mampu menjangkau standar nilai tersebut.

Hhh… benar juga, jangan mau hidup kalau tidak berani menghadapi masalah, ternyata keinginan besar itu telah terkubur , hanya karena saya terlambat mengirimkan formulir pendaftaran beserta persyaratan itu. Padahal saya sudah mondar-mandir ke KODIM, ke kantor Polisi untuk mengurusi surat-surat penting sebagai salah satu persyaratan. Kontannya, saya dicap indisipliner oleh pihak KODIM, failure lha pokoknya mah. Barangkali, kekuatan si babe dan kacung-kacungnya memang masih kuat waktu itu, tahu si babe?, maksud saya Mbah Harto. Di era orde serba baru memang harus serba seragam, disiplin buatan, kuning semua, nah lho… memang tidak ada hubungannya dengan masalah yang saya hadapi khan?

Jangan bertanya masalah stress. Depresi berat tentu saja mencincang jiwa saya. Hampir saya lunglai dalam menghadapi kehidupan ini, saya memiliki pikiran seolah-olah dengan gagalnya dan putusnya obsesi itu telah menjadi harga mati dan tidak bisa diubah-ubah lagi. Ya, bisa jadi saya harus menemukan seorang konsultan untuk mendinginkan otak dan diri saya yang benar-benar telah jatuh tempo. Seorang guru SMP menasehati saya dngan petuah bijaknya, “ Sudah kau lanjutkan saja sekolah ke Smoensa..!” Katanya.

“Smoensa?” Tanya saya pada diri sendiri. Apa nama sebuah pulau atau sebuah penjara dan karantina bagi orang-orang yang tidak lulus dalam menghadapi persoalan kehidupan. Bisa jadi! Pikir saya. And finally, saya pun terdampar juga di Pulau Smoensa.

Orang pertama yang saya kenal di pulau itu adalah saudara Willy ( Uwi), dia merupakan mahluk yang datang dari Planet Spansa. Lalu berkumpullah saya bersama beberapa mahluk-mahluk asing lainnya di dalam sebuah ruangan beton, sebut saja, ada Iyong, mahluk asing dari Galaksi Kadhudamphit, Endang Anshori (rambuteae criboeae) spesies aneh berambut keribo dari Planet Selabintana, M Yusuf Metallica (blakius skinnius) mahluk aneh berkulit metalik, IYUSSS ( sipitius julingius) mahluk bermata sepet/ kecil, Haryudi Iswanto (landakius hairius) mahluk aneh berambut landak.

Selain berkumpul dengan ras-ras aneh, saya juga bersahabat dengan manusia-manusia alakadarnya, semisal: Agit Arifiandi, Sosetyo Budi Basuki, dan Rahadian Amin.

Di dalam ruangan tersebut manusia yang paling saya kagumi adalah mahluk super seiya bernama Miracle Mira. Lantas kenapa? Memang tidak wajar, orang ini memiliki kecerdasan woowww… mungkin pemakan batu koral, atau peminum asam aki, sebab sulit bagi saya untuk mengalahkan kepintarannya.

Nah, di pulau Smoensa inilah depresi berat yang saya alami sedikit terbersihkan. Bisa jadi saya menemukan cita kembali di Pulau ini. Sekarang, hamper delapan tahun saya tidak mengunjungi pulau itu lagi, entah dengan mereka yang telah lama tidak pernah tersentuh oleh jamahan tangan mungil ini. Sahabat… sohib… bagaiomana kabar kalian saat ini, terbersitkah dalam diri kalian untuk menyatu kembal;I dan mengunjungi Pulau Kita?

Winnetou! Winnetou! Winnetou! Apache!

Awal tahun pelajaran baru di kelas 2 SMP, saya diajak oleh seorang teman mengunjungi perpustakaan umum daerah Kota Madya Sukabumi. Sebagai pelajar yang tidak bisa dipisahkan dengan bacaan saya langsung angkat kaki tanpa basa-basi menerima ajakan itu. Jadilah kami berdua mengunjungi perpustakaan umum. Saat itu terletak di Gedung Juang 45.

Buku-buku menumpuk berderet di rak, tidak setara memang dengan buku yang menghiasi perpustakaan sekolah SMP 3. Rasa tertarik saya waktu itu terhadap semua sastra, apapun itu genrenya, puisi saya lahap, cerita pendek saya makan, bahkan novel dan roman pun saya konsumsi. Usia SMP memang belum waktunya mengurus segala tetek-bengek kehidupan, hanya saja saya sudah merambah dunia tersebut lewat berpuluh-puluh buku, saya membaca Dian Yang Tak Kunjung Padam, Salah Asuhan, Siti Nurbaya, dll. Nah, buku yang mampuy membawa saya kealam pengembaraan adalah buku Karl May, Winnetou. Rindu saya saat ini pada buku tersebut. Sudah sepuluh tahun lebih saya tidak membacanya kembali.

Anda pernah membaca Winnetou? Siippp! Kalau sudah, Oouwwww.. jika belum.

sukabumi, home sweet home 2006

16
Sep
06

PERJALANAN KEHIDUPAN 1

GADIS MATREPOLITAN

Sekitar pertengahan bulan Mei 1994, kami habis berenang di Prana. Melintasi jalan Siliwangi, kami iseng menggodai beberapa gadis (umurnya lebih tua dari kami). Teman saya si Andre memiliki tubuh paling tinggi, ya lumayan lha, mungkin dikira sudah benar-benar dewaasa matang, terlebih wajahnya memang mengkerut tua. Dia pioneer terdepan dalam masalah menggoda wanita.

” Ehem….” Awalnya demikian, beberapa gadis itu menyingkir, reaksinya dingin..” Cewekkk…suittt!” Lanjut Andre memburu cepat.Para gadis menengok sebentar saja, lalu keluarlah sungging cemooh dari bibir mereka, bisa jadi merendahkan kekanak-kanakan kami, ” Matre…!” Lha, kok si Andre tidak nisa mengerem etika.. mulutnya pake manyun segala lagi.

Ah, gadis matrepolitan… yang terbentuk dalam benak saya waktu itu tentang gadis matre adalah: make-up, farfum, mobil mewah, life-style( bahasa bule saya memang kurang bagus), dan tentu saja konsumerisme hedonistic ( Bah… bahasanya memang lucu). Namun… setealah batang usia saya mulai mendewasa saya mulai memiliki referensi tentang gadis matrepolitan ini. Dulu, pernah ada seorang teman wanita yang beranggapan bahwa hidup dan kehidupan seseorang tidak bisa terlepas dari materi. Ya.. saya juga sependapat dengan anggapan tersebut(i9ngat… anggapan lho), p[ada dasarnya kita adalah manusia matrepolitan, tapi jelas sekali bukan materi an-sich, Di atas segala materi ada kebaikan, nilai, kebijaksanaan, positivw thinking, dan moralitas.

Orang bilang tidak mungkin hidup ini hanya mengandalkan cinta. Tapi bagi saya itu mungkin saja, di dunia ini segala nya bisa mungkin terjadi,bukan kah demikian? Masalahnya… apa kita mau mencoba dan mengawalinya? Coba saja kalau berani, namun tentu saja bukan untuk gadis atau jejaka matrepolitan…hmm…

September 2006

VIDEO CASSETTE DAN BULAN RAMADHAN

Masa kecil yang akan selalu saya kenang dan selamanya akan tersimpan dalam file-brain adalah indahnya menyambut bulan suci Ram,adhan. Ayah selalu membelikan petasan sebagai penghibur bagi anak-anaknya ( saya baru memiliki 1 adik waktu itu) Anak-anak yang lain pun diperlakukan sama oleh ayah mereka, dibahagiakan dengan beruntai-untai petasan, pistol mainan, dan tentu saja baju baru.

Ada dua jenis baju yang biasa dipersiapkan dan diberikan oleh ayah waktu itu, pertama baju kaos biasanay dipersiapkan untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Yang ke-dua, tentu saja baju paling baru, orang kampung menyembutnya ‘acuk-dulagh’ yang aakan kami pakai di hari lebaran nanti.

Kaos yang dipakai oleh anak-anak waktu itu adalah kaos bergambar GOGLE V, film kesukaan anak kampung. Kami menonton film GOGLE V melalui vidoe cassette, sebagai karcis m,asuknya kami membayar RP. 25,- . Televisi, jumlahnya masih sedikit, belum ada stasiun TV swasta seperti sekarang ini, orang-orang yang memilikinya pun begitu terbatas, hanya orang kaya kadang bertitel haji, seperti: Pak Sujai, Haji Kamal,Haji Bukhori, dan pak Rosyid, di rumah pak Rosyidlah kami menonton film di bulan Ramadhan, orang bilang ngabeubeurang…

Selain film GOGLE V, kami juga menonton Zabogar, Megaloman, Lion Man, dan film yang paling saya gemari waktu itu adalah Rocky ( Sylvester stalone) meskipun kami tidak memahami jalan cerita dan plot film tersebut, yang jelas tarung itu lho …

Betapa…begitu indahnya kenangan yang tidak bisa kembali itu…

Tawaran Aneh…

” Sa, ke rumah dulu, yuk!” Kata Irma Rismawati, suaranya meskipun perlahan namun yakin pasti. Apa tidak salah atau telinga saya waktu itu sedikit terganggu syarafnya? Tentu saja jalan pikiran saya tidak terhenti sampai di sana, bukankah-selain saya- banyak teman lain yang saat itu berkumpul dekat, akrab lagi hangat. ” Memang mau apa, Ma?” Tanya saya memburu. “Mamah mau mengenalmu, katanya ia ingin mengenal orang yang namanya Warsa…!” Bah, busyet! apa tidak salah? Mamah Irma mau mengenal saya lebih dekat? Hhhhmmm… tawaran bagus, mungkin untuk mengikat kedekatan saya dengan anaknya,terlalu sopan juga sih bagi saya, toh.,.. saya waktu itu sangat menyukai Irma, mungkin bahasa ekstreem nya falling in love with her, begitu?

” Aku pertimbangkan dulu, ya… mungkin lain kali aku bisa!” Nah lho… bagaimana mungkin saya berani menghadap mamahnya Irma, sekedar untuk berbicara dengan anaknya saja saya agak gelagapan persis orang kaku, barangkali mayat hidup.

Bagaimanapun, Irma cemberut, malah dengan gencar memaksa saya untuk tetap datang, minimal bersalaman dengan mamahnya. Sedangkan saya tetap tidak mau… ya… harus apalagi, toh Irma pun mengalah juga.

Demi mendengar cerita dari saya, salah seorang teman tertawa renyah, kemudian mulai ngakak enak, “ha..ha..ha… si Irma mulai melirikmu, Sa!”

” Bagaimana mungkin kamu berani mengatakan itu, sedangkan kamu sendiri menyukai si Irma khan?” Jawab saya cepat.

Jangan menganggap cerita di atas adalah sebuah cerpen-fiksi, ini merupakan salah satu penggalan perjalanan kehidupan saya… penting atau tidak penting…tidak menjadi masalah, yang jelas demikianlah hidup… mengalir terus menerus tanpa henti, toh saat ini batang usia saya sudah melebihi apa yang diperkirakan sebelumnya…maksudnya, bahwa usia yang saya injak sekarang ini sudah memasuki masa remaja matang, dewasa tulen lha. Dan untuk menjadi manusia sukses? Bah… masih tetap meraba-raba, saya tanya pada semua mahluk di jagad raya ini, mana itu kesuksesan, katanya…. kesuksesan sedang mengalir…..apa ada yang percaya???

Antara 2 Pilihan

Jika harus memilih antara Irma Rismawati yang cantik (saat ini telah dianugrahi 1 orang anak) atau prestasi, saya akan memilih prestasi tentu saja. Memang pilihan bijak bagi anak seusia SMP waktu itu adalah opsi ke-dua. Bukan saya mau menaifkan hal kecantikan Irma Rismawati atau saya telah menceburkan diri ke dalam jurang monisme, jelas sekali, sejak kelas 1 SMP saya sudah sangat mengenal teman yang satu ini, betapa cantiknya waktu itu (menurut ukuran anak-anak SMP zaman saya), pokoknya menjadi rebutan para siswa lah! Termasuk beberapa kakak kelas pun meliriknya.

Di kelas 2, kembali saya satu kelas dengan dia. Saya semakin mengaguminya, camkan, hanya sebagas mengaguminya, lha… mungkin saya telah menjadi Irma’s secret admirer? Cihuyyyyy….! Toh zaman , waktu itu, usia kita masih mentah…tah…tah… apalagi untuk mengenal dan terjun ke dalam dunia cinta, serba pink! Sampai dewasa pun saya tetap menjadi pengagum, catat! bukan penggemar! Irma Rismawati.

Mungkin, kenyataannya akan berbeda dengan anak-anak generasi 90-an ( katanya hidup di zaman kemerdekaan, kebebasan, keterbukaan, keserbacanggihan, ke….an,ke…an. Jika diberi dua pilihan antara Irma Rismawati atau Prestasi , mayoritas akan memilih Irma Rismawati, Prestasi??? BELAKANGAN, BISA DIATUR!!!

Pun, sampai masuk kelas 3, saya masih setia pada pilihan saya, bahwa saya harus memilih trestasi, kendatipun benih-benih untuk memetik muntum bunga sudah mulai mengembang. Seorang guru bertanya kepada saya seputar PUBERTAS, aneh memang, mengapa beliau mampu mengetahui bahwa dalam jiwa saya sedang menggelora badai asmara( cihuyyyy… romance!) dampaknya terhadap pelajaran yang saya hadapi, prestasi di kelas tiga mundur satu langkah, saya mendapat rengking ke-2, berada di belakang Gun gun( polos sekali anak yang satu ini). Betapa besar pengaruhnya ASMARA, padahal waktu itu saya masih setia memilih prestasi. Dan saya pun merasa yakin, sangat yakin, tentang Gun gun, jika dia diberi dua pilihan antara Irma dan Prestasi, sudah tentu dia akan memilih Prestasi, titik. Apalagi dia memang MANUSIA POLOS, KOSONG, titik.

Balandongan, Homesweethome, 2006, september

Masuk Kelas Unggulan

Siapa yang tidak mau masuk kelas unggulan? Semua mau, tentu juga dengan saya. Memasuki tahun pelajaran dan kelas baru saya masuk kelas 2 B, konon kata orang-orang kelas ini merupakan kelas 2 unggulan di SMPN 3 Sukabumi. Tentu saja, sebagai kelas unggulan siswa-siswi yang masuk ke kelas ini merupakan orang-orang pilihan pula, waktu itu kami menyebutnya the best five( maaf kalau Inggrisnya tidak sesuai dengan gramatika)Persaingan dan kompetisi sudah melambai-lambai di depan mata, something must be done yang saya hadapi bahkan lebih berat dan hebat tantangannya.Saya masih ingat, waktu itu satu kelas dengan orang-orang terbaik yang pernah saya kenal, the best friends I ever knew-lah!Semisal : Gun-gun Gunawan, Irma Rismawati, Reni Yulianti, Riska Ristiana, Dewi Febrianti de el el yang jika saya tulis satu persatu tidak mungkin.

Beruntung sekali saya bisa masuk ke kelas unggulan ini. Puncak kebanggaan yang penting saya kemukakan adalah ketika menjadi juara 1 dan umum kelas 2. Muncul sikap sok mungkin, sayalah yang terbaik, namun… waktu itu saya juga sadar betul prestasi apapun tidak selalu bersifat final. Betapa berbinarnya mata saya diliputi asap kebahagian, meskipun … padahal saya tidak merasa lebih pintar dari teman-teman lainnya, apalagi dengan Gun gun (si anak polos) Maybe, Allah berkehendak lain, saya yakin itu.

Sementara kebahagian itu tidak surut sampai di sana, saya mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan, nilai nominalnya waktu itu bisa dikatakan sangat besar, soalnya rupiah masih kuat..wat…wat… terlebih waktu itu si babe, maksud saya Soeharto masih memimpin negeri ini. Ada rencana untuk mentraktir beberapa teman waktu itu, hhh… tertunda, dengan alasan…. jangankan untuk mentraktir teman, toh uang tersebut saya pergunakan untuk membiayai diri sendiri, khususnya keperluan sekolah.

Orang akan mengira, betapa bahagianya orang seperti saya. Di sekolah mendapatkan prestasi, beasiswa, ada mencap saya sholeh lho… ya, cukup beralasan juga bagi saya untuk menaikkan hidung.

Hanya saja. tentu saja perkiraan orang-orang terdekat waktu itu tidak sepenuhnya mengena, karena waktu itu saya pun harus menghadapi beberapa persoalan pelik, ya… bisa dikatakan masalah keluarga lah! Demi rahasia tidak akan saya ceritakan.

Namun, tentu saja kebahagian itu mampu menutupi masalah yang saya hadapi…apa yang harus saya lakukan waktu itu? Bersyukur, bersujud, atau bertafakkur?

 Tentang Pohon Mahoni Besar Yang Berjajar di Dekat Gerbang SMP Negeri 3 Sukabumi

Sekitar tahun 1992-an, di sepanjang Jalan menuju SMPN 3, tepatnya di dekat gerbang sekolah, tumbuh berjajar sekitar 5 pohon mahoni ( mahogni) besar. Waktu istirahat, saya habiskan untuk duduk-duduk sambil menikmati makanan ringan alakadarnya. Beberapa teman mengaku, betapa sejuk dan teduhnya kita duduk di bawah pepohonan ini. Apalagi setelah pelajaran pendidikan dan kesehatan jasmani, keringat kami seolah-olah dilap oleh hembusan semilir angin yang menggeriapkan rambut-rambut polos anak-anak usia SMP waktu itu.

Keindahan yang sebenarnya dari pepohonan ini adalah ketika musim panas menerjang datang. Dedaunan kuning menghujani tubuh kami, mungkin ilustrasinya hampir menyamai musim gugur ( fall) di Eropa sana. Serakan dedaunan membersihkan jalanan sekitar gerbang. Tepat, yang melintas di sana adalah dua orang wanita( bisa dikatakan teman sejati waktu itu) Irma Rismawati Nurliani bersama Dewi Febrianti yang katanya waktu itu merupakan rebutan dan idola para lelaki, bisa jadi termasuk saya. Ketulusan dan cara jalannya menggeliatkan gairah udara pagi kemarau yang masih menggigit dengan dinginnya, beberapa daun kering terapung terinjak jenjang kaki mereka, hhh… saya hanya bisa mengintip dengan lirikan mata yang kurang fokus.

Kadang, saya menatap pepohonan mahoni besar itu dari daun jendela, kebetulan kelas saua( kelas 1 A) berada di seberang jalan bermahoni besar itu.

Huuuhh…. Kalau dibuka kembali mungkin hal-hal tersebut di atas hanya merupakan penggalan-penggalan kenangan yang tersimpan begitu tulus dan rapi dalam memori ini.

Dan, bagaimana kabarmu hari ini, wahai pepohonan mahoni besar?




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 68,567 hits

 

September 2006
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Klik Tertinggi

  • Tidak ada

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay