Frankerstein Modern

Pada tahun 1990, saya bahkan kita sama sekali tidak membayangkan, dua puluh tahun kemudian akan lahir sebuah jaman ketika segala sesuatu bisa dikomunikasikan dari jarak jauh. Pada dekade 90-an, orang-orang hanya membayangkan betapa mahalnya biaya untuk memasang jaringan telepon. Penyedia jasa telekomunikasi harus memasang kabel dari gardu-gardu induk untuk mencapai rumah-rumah pelanggan. Biaya mahal sudah pasti berbanding lurus dengan betapa mahalnya juga biaya pemasangan dan penyediaan alat telekomunikasi bernama telepon. Dari 200 rumah, hanya 1-3 rumah saja yang mampu berlangganan telepon.
Baca lebih lanjut

Para Ibu Penjual Sayuran

Ada hari ibu, dirayakan setiap tanggal 22 Desember. Ini bukan tanpa alasan, dirayakan pada tanggal tersebut bukan alasan mendasar kenapa harus ada hari ibu. Alasan krusial harus adanya hari Ibu adalah karena Ibu memang pantas dimuliakan, disebut-sebut, bahkan bukan pada tanggal ini saja.
Baca lebih lanjut

Ngawawuhkeun Aksara Sunda

Henteu gampang ngatik barudak sangkan bisa nyerat hiji kalimah komo alinéa ku aksara Sunda lamun henteu dimimitian ku ngawanohkeun éta aksara ka barudak jeung pamilon atikan. Tapi henteu hésé ogé, sabab lamun ditengetan kalawan maké panalungtikan basajan, jinis jeung karakter aksara Sunda geus deukeut jeung budaya urang salaku jalma anu dumuk di tatar Sunda.
Baca lebih lanjut

Kumpulan Artikel

Suwarsa, Warsa. 3 Juli 2013, Kolom Basa Sunda: Supata Karuhun Sunda

Suwarsa, Warsa. 3 Juli 2013. Kolom Basa Sunda : Papajar Jeung Munggahan

Suwarsa, Warsa. 6 Juni 2013. Gerakan Kesederhanaan: Refleksi Terhadap Gerakan Islam di Indonesia

Suwarsa, Warsa. 6 Juni 2013:Harapan Petani: Pandangan Terhadap Kondisi dan Nasib Para Petani di Selatan Sukabumi

Suwarsa, Warsa. 2013. Dua Musuh Negara: Sebuah Refleksi Terhadap Bahaya Manifest Korupsi di Indonesia

Suwarsa, Warsa. 2013. Gerakan Kemerdekaan: Artikel Terhadap Semakin Maraknya Separatisme di Indonesia

Suwarsa, Warsa. Mei 2013. Isi Cerita

Suwarsa, Warsa. Mei 2013. Mengalih Fungsikan Jalur: Sebuah Pandangan Terhadap Beralih Fungsinya Jalan Lingkar Selatan di Kota Sukabumi

Suwarsa, Warsa. Mei 2013. Membaca sejarah

Suwarsa, Warsa. 2013. Centeng dan Buruh: Sebuah Refleksi Terhadap Maraknya Perbudakan di Indonesia

Jalan Menikung Mengawal Demokrasi di Kota Sukabumi

Refleksi Penyelenggaraan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Sukabumi Tahun 2013

Ada penuturan, di Negara yang telah mapan demokrasinya, kata ‘demokrasi’ sudah jarang diucapkan. Ini berbanding lurus dengan pekik “Merdeka atau Mati!” yang sering diteriakkan oleh para pejuang kemerdekaan saat merebut kemerdekaan dari para penjajah. Sekarang telah sangat dikobarkan jika bukan pada peringatan  besar Hari Kemerdekaan atau tercantum dengan baik pada billboard-billboard besar setiap Bulan Agustus.

Tidak terlalu penting diutarakan, apakah ketika dalam sebuah Negara kata demokrasi sering diucapkan lantas akan kita simpulkan jika demokrasi di Negara tersebut belum tertanam dengan benar? Sebab, kebenaran dalam pelaksanaan demokrasi tidak ditentukan oleh pandangan sesederhana tersebut. Bisa jadi sebaliknya, di sebuah Negara ketika kata demokrasi sudah tidak diucapkan Negara tersebut telah jatuh ke dalam sebuah tirani, fasis, atau monarki.
Baca lebih lanjut

Si Pemuda dan Tokoh Agama

Di tahun 1990-an, saat pengajian sehabis maghrib di mesjid jami, Kyai di kampungku menceritakan satu kisah. Hiduplah seorang pemuda saleh di zaman setelah eksodus Bani Israil dari Mesir ke Palestina, dia selalu mengecilkan dan berusaha menghindari perbuatan tercela. Dia dikenal oleh ke-12 suku bangsa Yahudi waktu itu. Namun, kesalehannya itu tidak serta merta dina diangkat sebagai seorang Rabbi di kalangan kaumnya.

Suatu hari, datanglah seseorang ke kampung tempat di mana Si Pemuda itu hidup. Waktu itu ada satu acara keagamaan. Orang asing itu duduk di salah satu teras rumah. Di luar synagog, telah disiapkan berbagai macam penganan, ini akan mengingatkan kita pada sebuah kenduri di kampung halaman. Tokoh-tokoh agama, para rabbi dari ke-12 suku bangsa Yahudi itu telah berkumpul, tanpa ke-cuali Si Pemuda soleh.
Baca lebih lanjut

Refleksi: Isi Cerita

Cerita dalam sebuah cerpen, drama, dongeng, fabel, dan film merupakan rangkaian kehidupan yang bisa saja terjadi, juga merupakan akumulasi dari kehidupan manusia sejak sejarah peradaban manusia di mulai hingga sekarang. Manusia-manusia purba karena keterikatan dan ketergantungannya kepada alam dalam diri mereka belum terpancar sebuah hasrat, keinginan besar untuk menunjukkan eksistensi individu melulu. Sejarah pun hampir tidak terlahir dalah kehidupan mereka, cerita pun hampir tidak memiliki isi dalam kehidupan pra-sejarah.

 

Fajar sejarah kemanusiaan terbit ketika Adam dan Hawa mengenalkan syari’at pernikahan kepada anak-anaknya. Di sana mulai muncul hasrat dari seorang Kabil untuk menguasai dan mendominasi kehidupan dengan pandangan subyektif terhadap arti sebuah kecantikan dan paras wanita. Plot cerita kehidupan manusia pun mulai memasuki arena konflik, klimaks, dan anti klimaks. Kabil menolak dinikahkan dengan Labudza, seorang anak perempuan Adam dengan kulit khas wilyah sub-sahara, Kabil memandang ada perbedaan antara dia dengan perempuan itu.

 

Para sejarahwan memiliki beberapa pandangan. Sikap subyektif yang besar dalam diri Kabil dilatar belakangi oleh kehidupan dirinya yang bergumul dengan alam. Kabil sebagai seorang pemilik lahan, dalam dirinya mengalir cikal bakal sikap feodal. Dalam lubuk hati paling dalam seorang Kabil mungkin terpancar niat untuk menjadi seorang tuan tanah, pemilik lahan perkebunan dan pertanian. Ini merupakan metafora sederhana, hasrat untuk menguasai sering menjadi pemantik pertikaian manusia dengan sesama, bahkan pergumulan dalam dirinya sendiri.

 

Klimaks cerita kehidupan seorang Kabil ketika dia membereskan satu ganjalan dalam kehidupannya, yaitu dengan melenyapkan saudaranya sendiri, Habil. Kontradiksi antara seorang pemilik lahan dengan seorang pengembala liar, metafora perselisihan antara penguasa dengan para penyeru dan penjaga kebaikan. Namun bukan berarti setiap penguasa adalah sosok jahat yang selalu memiliki niat melenyapkan para pelaku kebaikan.

 

Cerita prophetik dan israilliyat ini tidak hanya sekedar dibesar-besarkan, juga telah memenuhi setiap relung kehidupan manusia. Memengaruhi sikap dan pola pikir manusia. Manusastra Hindu memformulasikan hal ini ke dalam pembagian kasta dan kelas dalam kehidupan manusia. Kasta tertinggi dimiliki oleh Kaum Brahma, para tokoh agama pemegang tongkat kekuasaan para dewa. Kasta paling rendah dan hampir tidak bisa menyentuh jenis manusia diterima oleh Varia, kelompok sosial terendah yang tidak seharusnya memiliki akses dalam kehidupan. Marx dan Engel dalam Manifesto Komunisme menyebut, “ sejarah berbagai masyarakat dari dulu hingga sekarang ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas.”Pertentangan kelas ini semakin mengkrucut pada pertentangan antara Kaum Pemilik modal dengan kaum proletar. Yang dikesampingkan adalah hal-hal metafisika, kehidupan dipandang sebatas pada keterkaitan antara hal-hal ragawi dan fisik semata.

 

Buku dan kitab kuno pun mengalirkan alur kehidupan dalam dua polarisasi besar. Mahabharata yang ditulis oleh Vyasa menceritakan pertentangan antara dua kelompok (Pandawa dan Kurawa) meskipun berasal dari leluhur yang sama. Konflik ini disebabkan oleh dua sifat manusia; licik dan menindas dengan tenang dan mengalah. Di sana muncul hasudan-hasudan dari seorang Sengkuni, tokoh sentral di balik permusuhan anak-anak Pandu dengan Destarata. Lantas, peperangan pun terjadi di lahan yang telah dijanjikan oleh leluhur mereka sebagai tanah harapan, Tanah Perjanjian, Kurukhsetra. Darah membasahi rerumputan Kurukhsetra.

 

Transformasi sejarah seperti cerita yang akan dan bisa saja terjadi itu tidak terhenti. Sejak pendudukan wilayah Palestina oleh Israel, klaim terhadap Tanah Perjanjian itu seolah merupakan proyeksi dari rangkaian kisah Mahabharata, dua suku bangsa dari leluhur yang sama, berperang satu sama lain, menyakiti, menindas, dan menumpahkan darah di tanah harapan, tanah yang pernah didoakan oleh Ibrahim leluhur mereka sebagai tempat yang di bawahnya mengalir sungai-sungai berair jernih dan dipenuhi oleh buah-buah zaitun.

 

Dan ketengangan itu terusi ketika para penghasud berbisik, harus ada yang direbut dan diambil kembali oleh Kaum Yahudi yang telah mengalami diaspora di berbagai penjuru. Segalanya seolah harus direbut melalui perang. Pertumpahan darah di Tanah Perjanjian pun tidak kalah hebat dari pertumahan darah di Kurukhsetra. Sengkuni tersenyum meski pun dia ikut serta dalam pertempuran.

 

Cerita –cerita itu pun disarikan ke dalam pentas wayang, drama, komedi, dan film.Film-film mengambil jejak, pertentangan kehidupan dan konflik antara tokoh protagonis dengan antagonis dilatar belakangi oleh kerakusan. Seorang Kingpin, pengusaha serakah itu memiliki hasrat besar memonopoli seluruh perusahaan dunia, dia harus berhadapan dengan seorang Dare Devil, tokoh bertopeng, seorang advokat yang tersakiti karena rusaknya pengadilan di sebuah negara. “ Pengadilan itu buta, namun keadilan bisa mendengarnya!”

 

Parodi film-film Bunyamin S pun memiliki satire kuat terhadap kondisi ini, Film dengan judul Koboy Ngungsi mengisahkan betapa kerakusan pemerintah dengan kaki tangan para Sherif itu harus berani menggusur setiap lahan-lahan peternakan milik para petani, semua dilakukan atas nama pembangunan, pelebaran jalan. Pengendali utamanya adalah kerakusan penguasa terhadap lahan-lahan yang akan dijadikan tambang emas. Dan pahlawan pun lahir, seorang koboy gila. Siapa pun yang menonton film ini tidak akan menertawakan tentang Bang Bens-nya, kecuali menertawakan betapa kehidupan ini selalu disesaki oleh kekonyolan.

 

Selalu ada jeda antara klimaks dan anti klimaks sebuah cerita. Ruang kosong itu akan diisi oleh satu adegan menukik, kejanggalan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Seperti seorang Cepot/Astrajingga yang menjadi raja, atau para terorist yang tiba-tiba insyaf kemudian menjadi polisi. Seperti Kabil berlari menjauhi kehidupan, meninggalkan tanah dan ladang miliknya demi melihat kepala adiknya bocor dihantam batu besar. Ada rasa takut dan harapan di sana. [ ]

Blog Kang Warsa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.787 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: