Temanku pernah bercerita:
Di sudut emper sebuah toko kelontong, di antara luapan sinar putih lampu neon, di bawah siraman dan guyuran kemilau kuning lampu merkuri, di sela-sela kelebat menyilaukan lampu-lampu kendaraan yang hilir-mudik menerjang gelapnya malam, seorang ibu mengiba menidurkan seorang anak kecil, anaknya. Sosok ibu itu memiliki garis kecantikan di masa lalu kendatipun tertutup oleh tebalnya debu zaman yang telah ia lalui. Angin malam adalah selimut dingin yang mampu menggeraikan rambut gimbalnya, kotor dan kumal. Tangannya telah menelusuri jeruji cobaan hidup membelai lembut kepala anak kecil itu. Sisa pakaian yang melekat di tubuhnya akan mengingatkanmu kepada perasaan sebagai manusia. Benar, perasaan antara manusia dengan bukan manusia. Sobekan pada pakaian lusuhnya menciptakan luka-luka yang ia alami selama hidupnya. Kekotorannya melukiskan gambar kering tanpa air bening kehidupan yang dinikmati oleh manusia secara wajar. Puluhan tahun ia telah melewati masa, menuruni lembah, mendaki bukit, dan hasilnya adalah sebuah harapan yang sirna. Ia duduk bersimpuh di atas lantai dekil toko kelomtong milik Engko Chen. Dingin. Ia seorang ibu muda gelandangan bersama anaknya.
Baca selebihnya »
Juni 29, 08
Ditulis oleh
warsa |
1 |
|
Tidak ada Komentar
Pukul 11.00 malam.
Dingin menggigit. Bumi Allah basah menggigil. Pepohonan meringis tertutup kabut tipis. Rumah-rumah monyong memperlihatkan kelesuannya karena telah terpukul hujan seharian. Aneka sampah : plastik, daun, ranting tua, batang pohon, lumpur, mengapung di jalanan terbawa oleh air dari selokan. Hujan lebat sejak pagi, baru reda selepas Isya. Lampu-lampu lima watt kerlap-kerlip enggan menyinari kegelapan. Tapi langit cerah bertabur gemintang. Sebuah meteor melintas melepaskan semburannya di langit kelam. Setelah hujan seharian. Memang, jika dipikirkan lebih mendalam, bagi orang yang mau berpikir jernih sebentar saja, betapa, alam selalu tampak indah dalam keadaan apa pun.
Baca selebihnya »
Juni 29, 08
Ditulis oleh
warsa |
1 |
|
Tidak ada Komentar
Kasar omongannya, orang tahu itu. Konyol ulahnya, orang pun sudah pada mafhum. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya terhadap keyakinan seseorang, dia pun jarang , bahkan belum pernah saya melihatnya, ke mesjid. Adu domba ayo, sabung ayam oke, pasang taruhan bola siapa takut?, pemilihan kepala desa di kampung tetangga diuber, hanya untuk bertaruh. Siapa tidak kenal tokoh saya ini, Mang Engkos.
Baca selebihnya »
Juni 23, 08
Ditulis oleh
warsa |
1 |
|
Tidak ada Komentar
Lumrah dan wajar rasanya, jika ada orang- biasanya sedikit- menginginkan sebuah perubahan atau bersedia mengorbankan tenaganya untuk membantu percepatan perubahan. Karena apa? Manusia, di mana pun ia berada adalah mahluk unik sekaligus penuh antusiasme dalam hal mengarahkan dirinya kepada perubahan. Karena memang watak manusia adalah selalu dan ingin berubah. Tapi… dari sekian banyak manusia yang ingin berubah hanya sedikit saja dari mereka yang berani mengorbankan dirinya untuk membantu lahirnya proses perubahan, apalagi mendorong orang lain untuk berubah, rasanya jarang .
Baca selebihnya »
Juni 9, 08
Ditulis oleh
warsa |
1 |
|
Tidak ada Komentar
Laporan Oleh : Team Telecenter 05
(BALANDONGAN 16/05) Musim kemarau sudah waktunya tiba, namun orang-orang masih belum bisa juga menyadari bahwa pergantian musim adalah merupakan kewajaran, dan memang demikianlah alam. Hujan berganti kemarau, begitu ssebaliknya. Hanya, manusia memang sering kurang menyadari pergantian musim ini, sebab pada dasarnya, manusia selalu ingin terpenuhi hawa nafsunya, asal senang sendiri, alam- bahkan - Tuhan harus mencukupi segala nafsunya.
Baca selebihnya »
Mei 18, 08
Ditulis oleh
warsa |
1 |
|
& Komentar