28
Okt
09

Sumpah Pemuda Dan Karakteristik Pemuda Kekinian

Delapan Puluh Satu (81) tahun lalu, para pemuda tanah air mengumandangkan sebuah sumpah, sejarah telah member nama SUMPAH PEMUDA. Bisa dikatakan sumpah ini sebanding nilai baik magis ataupun historisnya dengan Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada. Ada perbedaaan mencolok memang antara kedua sumpah tersebut. Hanya , disini penulis tidak akan menjelaskan perbedaan mencolok antara Sumpah Palapa Gajah Mada dengan Sumpah Pemuda para Pemuda Nusantara. Yang akan  dielaborasi adalah karakteristik dan sifat-sifat pemuda saat itu, di tahun 1928, kemudian kita komparasikan dengan Karakteristik dan sifat-sifat Pemuda Nusantara saat ini.

Pemuda di era awal abad ke-20 adalah mereka yang dilahirkan dari rahim masa Penjajahan. Ada tiga sifat atau mentalitas pemuda saat itu, pertama mereka para pemuda apriori, kondisinya pasrah dan mengikuti apa keinginan kaum colonial, mereka cenderung menjadi salah satu objek kolonialisme, dijadikan para pekerja kontrak, rodi, bahkan dibawa ke tempat-tempat yang jauh dari tanah kelahiran mereka. Kedua, adalah kelompok pemuda yang bersikap kompromi dengan kaum colonial dengan maksud ingin dijadikan partner akrab dalam pengelolaan sumber daya alam di Hindia Belanda waktu itu. Acap kali kelompok pemuda ini melacurkan diri demi sesuap nasi, menjadi pangreh praja, asal bapak senang, tanpa mengindahkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotism. Daripada harus mengedepankan nilai-bilai tersebut mereka lebih senang dengan kondisi terjajah karena darinya ada semacam simbiosis yang saling menguntungkan. Mentalitas menjadi hamba bagi tuannya ini telah melahirkan sikap feodalis, mereka pun ingin dihargai, dihormati oleh orang-orang sekitar seperti mereka menyembah induk semangnya- kaum colonial-.
Lanjutkan membaca ‘Sumpah Pemuda Dan Karakteristik Pemuda Kekinian’

27
Okt
09

Cerpen: Efarin

Tujuh belas tahun lalu, istriku melahirkan bayi mungil. Wajahnya manis bagai nektar mawar yang dikitari lebah-lebah. Badannya montok, putih , kenyal, seperti ibunya. Tangisnya memecah hening malam, waktu itu purnama, orang ramai di luar setelah menunaikan sholat tarawih. menjelang idul-fitri, tiga hari lagi. Anak-anak ramai pula. Dan, kumandang kebahagiaan terdengar di dalam rumahku.

Kami, orang kampung. Ketika ada bayi lahir memang ada kebiasaan turun-temurun, menunggu sampai bayi lahir. Lalu, orangtua jabang bayi mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri. Aku pun demikian. ayah ibuku mesem-mesem menerima kehadiran bayiku yang manis. Istriku bahagia, keringat yang mengguyur tubuhnya. Setelah dukun beranak memandikan bayiku, bayiku masih terisak. Namun telah diselimuti oleh kain kebat neneknya. Sesaat kemudian ia tersenyum, bayiku seorang wanita.
Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Efarin’

12
Okt
09

Cerpen: Rost, Maukah Kau Menjadi…

Setelah sehari penuh, setelah menunaikan sholat ied, saya mengunjungi beberapa sanak keluarga, akhirnya saya kembali juga ke rumah. Hari telah sore, musim kemarau menerjang kampung kami sejak satu bulan terakhir. Selama Ramadhan bisa dikatakan hujan hanya turun satu kali saja, itu juga hamper tidak bisa dikatakan sebagai hujan, karena memang hanya gerimis sesaat. Orang-orang yang saya temui  sering mengucapkan kata-kata senada, bisa dibilang kesal , karena harus berhadapan dengan panasnya udara selama sebulan ini.

Musim panen, bisa dipastikan seminggu ke depan. Seperti sore ini, para petani telah meramaikan sawah. Bukan tanpa alas an, kecuali mereka melihat-lihat dengan binary harapan, hasil panen musim ini akan melimpah. Pokok-pokok padi berbulir sangat ranum. Kunig dedauan padi akan mengingatkan kau akan cerita yang biasa dibacakan atau diceritakan oleh ibu kalian menjelang tidur di masa kecil dulu. Sepanjang parit, pohon-pohon pisang berjajar rapat, dan ini sulit dicerna oleh akal sehat sekalipun, karena tanpa ditanam oleh orang pohon-pohon ini dengan sendirinya tumbuh subur di sana. Ada angin bertiup lembur membelai daun-daun pisang, hingga seolah melambai kea rah saya. Sejalan dengan openuturan keindahan alam di sore ini, matahari telah membentuk bulatan penuh di ufuk Barat serta suasana Ramadhan yang baru saja meninggalkan kita masih begitu terasa, sampai di telinga saya, di mulut saya, dan di dalam diri saya Ramadhan tahun ini masih membekas.

Saya hanya berdecak kagum atas suasana seperti ini. Sampai segalanya membuka kembali tarian memori yang pernah saya alami beberapa bulan ke belakang. Tepatnya sebelas bulan lalu, di sebuah pantai di Daerah Kota P.

Patut saya ceritakan dengan obrolan singkat penggalan kehidupan sebelas tahun lalu itu.

Nopember Tahun 2008,

Pantai akan mengingatkan kalian pada keMaha Besaran Sang Khalik. Debur Ombak  menjilat pantai berpasir putih di Selatan Kota P. Sore hari telah melukiskan keindahan tak ternilai. Lempengan emas meramaikan laut lepas. Camar mulai menggila, menggelikan pendengaran dengan suara nyaringnya. Orang-orang masih bersikukuh pada pendiriannya, tidak akan meninggalkan pantai sebelum melihat matahari benar-benar tenggelam di ujung laut sebelah Barat.

Cerita cinta bisa menjadi wakil dalam suasana pantai yang menantang seperti ini. Tentu saja tanpa harus dibalut oleh rangkaian kemesuman, karena konon, orang-orang bisa menjadikan alas an jika di pantai orang dibolehkan bertelanjang atau minimal menggunakan bikini, padahal ada aturan dan etika manusiawi yang mengharuskan mereka menjaga martabat kemanusiaannya tanpa harus mengorbankan semua itu hanya demi alas an di pantai. Orang seperti saya bisa jadi hanya akan dikatakan manusia moralis yang sudah tidak akan dihargai di zaman ini. Nyatanya memang demikian, orang lebih cenderung beralasan demi nilai-nilai kemanusiaan untuk memuluskan keinginan mereka, padahal nilai-nilai lain yang terbilang cukup agunglah yang sebaiknya kita kedepankan. Untuk kea rah sana rasanya memang sukar.

Rost, seorang wanita telah menambatkan cintanya kepada saya. Padahal, terus terang kami belum pernah berjumpa sekalipun. Kami saling mengenal satu sama lain tidak melalui apa-apa, kecuali melalui sebuah percakapan-percakapan dan dialog singkat saja di dalam telpon atau melalui SMS. Sukar menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada diri Rost dan saya. Saya mengakui, wanita seperti Rost hanya akan tercipta satu abad sekali karena melihat sisi-sisi kesetian dan kesederhanaannya dalam berkata. Rost mewakili wanita di zaman ini, wanita yang memang harus tangguh, bukan wanita gampangan penjual cinta imitasi meneriakkan kesombongan bahwa dirinya harus dihargai dimulyakan namun dengan cara-cara kurang berwibawa. Kalian tentu tahu, pinggul wanita diobral di televise-televisi, mereka para mucikari berseragam dan berkedok hiburan tidak mau mengakui kalau itu adalah satu penurunan moral, kepentingan mereka adalah rating sebuah pertunjukan. Dan bayaran atas segala yang dilakukan oleh para pengumbar pinggul adalah ketenaran, mereka bisa mencicipi kue kehidupan sekehendak mereka. Lupakah, wanita tetaplah wanita, mereka tidak akan pernah bisa berubah menjadi lelaki, kecuali mereka kaum wanita harus dimulyakan dengan cara meningkatkan kapasitas dan kualitas ilmunya serta harus berakhlak sholehah.

Di pantai inilah kami berjumpa. Obrolan singkat, tanpa ada saling tatap, saling pegang tangan, hanya satu Tanya dan satu jawab.

Saya bertanya kepada wanita mulia ini,

“ Rost, maukan kau menjadi….?”

Sambil menatap laut yang mulai menguning dia menjawab

“ Ya..!”

Begitulah kisahnya.

Hinggal segalanya berakhir seolah kehidupan ini memang disulam dari benang-benang berwarna-warni, namun di dominasi oleh benang berlapis emas. Semua orang memang akan mengalami hal yang sama ketika hidup ini telah menemukan pasangan sejati.

Sukabumi , Oktober 2009

10
Okt
09

para penuai padi

Setelah kumandang adzan subuh
Kabut turun meskipun tiipis
Namun mendinginkan suasana
Mereka dengan memakai caping bambu
Telah turun ke sawah menuai padi

Sambil duduk menatap pekat
Aku sering berpikir
Satirkah hidup ini?
Tahukan mereka, jika di luar sana jerih payah mereka sama sekali tidak dihormati
Bahkan oleh anak-anak mereka sendiri
Hentakan tangan mengayun pokok padi
Esok harinya hanya dihargai oleh rengekan anak-anak mereka yang memohon dibelikan sepeda motor
Hp

Atau terbalikkan dunia ini?
Ketika bayaran bagi para tukang menguap di atas kursi, kita yang sering bermain lidah, membuat tarian angka dan tulisan keuangan
Lebih besar mencicipi kue kehidupan
Daripada mereka yang telah mengobarkan semangat, menguras keringat sepagi ini?

Para penuai padi tidak mau tahu rupanya
Mereka hanya pejuang yang sama sekali jerihnya terhargai satu harapan
Kelak musim panen ini akan dan harus lebih baik dari kemarin
Agar padi yang dituai melimpah ruah dan pada akhirnya memang masuk ke dalam perut kita

03
Okt
09

manusia bebal

Penting aku tuliskan tentang manusia bebal
Dan pada saat ini cukup kutunjuk saja batang hidung pesekku
Saat kulihat: tanah menggeliat, reruntuhan gedung, manusia yang tertimbun, tiang listrik patah, jerit tangis bayi
Dan saat ini aku hanya bisa meratapinya, duduk di bangku sambil menikmati segelas susu hangat, nyanyi pipit
Hamparan padi
Segala keindahan
Dan aku memang bebal
Hanya saja, di sana pun ada sekelompok orang
Mengemudikan mobil megah berbalut baju besi
Bahkan gajihpun menggunakan uang kita dan tetapi mereka lebih bebal dalam gelak tawa
Mengantuk dan menguap pun dibayar jutaan rupiah.
Maka pantaslah alam pun sudah tidak menghormati kita lagi.

29
Sep
09

menjadi hamba paling bersyukur

Berapa rupiah nikmat dari Tuhan akan kita bayar? Saya yakin uang tidak ada nilainya di hadapan Tuhan. Dan, mahluk miskin seperti kita mana bisa membayar semua rizki dariNya. Bahkan menghitungnya pun tidak akan bisa.

Namun Tuhan hanya memerintahkan kepada kita agar senantiasa bersyukur. mata digunakan untuk menatap hamparan sawah. Telinga dipasang untuk mendengarkan kicau emprit. Dan itu terlalu mewah bagi mahluk miskin seperti kita.

27
Sep
09

malam dan tak ada keadilan

Jangan salahkan Tuhan atas malam yang menenggelamkan siang
Jangan salahkan Tuhan ketika malam ini kita makan di restoran seafood sementara mereka berselimut dingin dalam balut kelaparan
Dan tak ada keadilan
Lalu?
Ketak adilan malam ini adalah karena nafsu kita tanpa empati, kita mahluk yang tidak selamanya benar dan kadang berbuat khilaf
tapi setidaknya kita masih bisa berkata, terima kasih Tuhan sebagai wujud syukur…

25
Sep
09

tanya seorang teman

Tanya seorang teman kepada saya: kapan mau nikah?
Maka kuberpikir, kenapa orang tidak bertanya: sejak kapan masa lalu memberitakan masa kini jika saya dan temanku bisa menjadi sahabat?
Sulit saya, kamu, dia memahami sebuah misteri
Tapi saya berpikir, misteri harus digauli agar menjadi sebuah teman dan kita menjadi biasa bersamanya.
Dan, pendobrak misteri adalah upaya, namun tetap saja upaya adalah masa lalu, upaya adalah cipratan untuk menghadirkan masa depan hanya sekilas… Dan selebihnya tetap misteri.

Saya bukan tidak yakin
Namun pertanyaan bisa diubah menjadi sebuah pernyataan: saya pasti menikah
Saya tidak ingin di masa tua nanti menjadi seorang yang seperti kakek-kakek, kakek tanpa cucu, tanpa ciuman hangat tangan seorang anak…
Saya tidak mau menjadi kakek imitasi, seorang kakek yang duduk termenung tanpa menanti kedatangan anak-cucu di hari lebaran, sungguh menakutkan!

Iya, Meskipun segalanya misteri
Hanya yakinku, selebihnya adalah masa depanku.. Ya, Saya yakin…

24
Sep
09

Cerpen: Baju Lebaran

Satu hari menjelang Lebaran, Nina masih termenung duduk di atas kursi di beranda rumah. Wanita kecil, berumur 10 Tahun dengan hiasan rambut hitam legam dan panjang itu menatap jalan, kedipan di matanya hanya akan mengingatkan kalian pada seekor kunang-kunang, indah dan hampir saja padam. Pipinya putih bersih, walau bibir agak pecah -belah karena puasa. Anak kecil seperti itu kelak akan mengingatkan kalian pada seorang Oliver Twist, bocah dengan raut wajah kepedihan dan kesedihan yang bisa dibagikan kepada orang lain. Bocah yang bisa membawa kalian pada alam empati, dimana rasa sakit seakan lusinan paku menusuk dada dan jantung kalian, dan itu bisa dirasakan oleh kalian hanya dengan menatap wajah Nina.

Satu Hari menjelang Lebaran, Nina masih menunggu, kapan mamanya membelikan dia baju lebaran. Padahal anak-anak lain telah membicarakan baju-baju baru di mesjid sejak seminggu terakhir ini. Di surau pun selepas tarawih, mereka mengobrolkan, lebaran tahun ini pasti lebih seru karena orangtua mereka telah membelikan untuk mereka baju-baju warna-warni. Lebaran memang akan dikunyah ibarat makanan renyah untuk anak-anak lain. Nina hanya duduk saja mengharap kepulangan mamanya.
Lanjutkan membaca ‘Cerpen: Baju Lebaran’

24
Sep
09

pelik

Kawan, empat jam lalu kawanku bertanya
” bagaimana menurut kau tentang kasus yang menghinggapi KPK?”
Kawan, aku hanya bisa menjawab: kasus ini terlalu pelik bagi orang sepertiku
Aku hanya senang jika bahasan dialihkan kepada: akankah sekilas masa depan dengan air jernih bisa dinikmati oleh mereka, aku menunjuk beberapa pengamen jalanan
Ya, aku tidak mau memikirkan hal-hal pelik ketika di sekitarku ada masalah sederhana yang bisa kita bicarakan tanpa perlu parlemen, eksekutif, atau pengadilan.
Begitulah kawan…

Comrade, four hours ago my friend asked
“How did you think about the case that the Corruption Eradication Commission descend?”
Comrade, I can only answer: this case is too complicated for people like me
I’m just glad when the discussion shifted to: would glimpse the future with clear water can be enjoyed by them, I pointed to some other street
Yes, I do not want to think about complicated things when all around there is a simple problem that we can talk without the need to parliament, executive, or the courts.
So friends …

22
Sep
09

sore dua syawal

Rupanya kumandang takbir masih mengendap di telinga aku
Ledakan petasan masih membekas di labirin penyimpanan nada
Di sore dengan angin kering musim kemarau namun dingin
Bulatan sempurna terbentuk lewat mentari senja
Dan di sore dua syawal ini aku mendapati diriku dalam kabut satu tanya
Apakah kelak anak-anak yang kutatap sore ini akan menikmati sore dua syawal dengan suasana sama?
Ketika aku dan generasiku telah mengajarkan mereka dengan kepedihan, derita, tanda-tanya seputar keadilan, dan kepalsuan bahagia
Lagi pula, aku dan generasiku asyik bergumul dan bergelut dengan pola pikir masing-masing

Maka tanyaku sekali lagi
Akankah anak-anak yang kutapa sore ini bisa menikmati sore dua syawal dengan suasana bahagia di kemudian hari?

Apparently resonance of  Takbir is still settle in my ear
Imprint firecracker explosion still ringing in the labyrinth of storage
In the afternoon the wind but the cold dry season
Perfect circle is formed through the setting sun
And at the end of this two syawal I found myself in a fog of questions

Is the future of children who looked into this evening will enjoy the afternoon two syawal with the same atmosphere?
As I and my generation has been taught them by pain, suffering, questions marks about justice, and falsehood happy

Besides, I and my generation fun wrestling and grappling with the mindset of each

So I ask once again
Will the children who looked into this afternoon to enjoy the afternoon with two syawal happy atmosphere in the future?

18
Sep
09

rindu masa lalu

Padahal aku posting tulisan ini menjelang adzan Subuh dikumandangkan di mesjid-mesjid. Ketika baru kudengar geliat para tetangga seusai melaksanakan makan sahur. Embun di dedaunan hinggap seolah tidak mau meninggalkan jejaknya. Udara dingin namun sejuk, menyejukkan pula. Satu kata pada rangkaian suasana, harmonis…

Tapi, tiba-tiba rasaku melompat pada satu masa, melewati beberapa barisan tangga waktu masa lalu. Dan menginjak menapak di alam ketika keserasian antara canda dan tawa pernah mengiringi aku dan kalian. Tapak-tapak itu adalah jejak ibaran segerombol awan menempel di langit tanpa hembusan angin dengan latar belakang bulatan mentari sore, utuh dan penuh keindahan. Ya, itulah senyum dan canda kalian.

Sahabat-sahabat sejatiku. Pemenggal tangga waktu, yang kapan saja bisa menjadi penggoda masa kini dengan untai alasan bahwa masa lalu teramat berat untuk dihapus!

And I’m writing this post before adzan Dawn echoed in mosques. When the new neighbors heard wriggling meal after conducting. Dew on the leaves settled as not to leave tracks. The cold but cool, soothing, too. One word on the set of atmosphere, harmony …

But, suddenly this feeling at one time jump past a few rows past time steps. And stepped on stepped on nature as a harmony between jokes and laughter never accompany me and you. Starfish are like a bunch of trail clinging cloud in the sky without the breeze against a background of dots afternoon sun, intact and full of beauty. Yes, that’s your smile and jokes.

My true friends. Cutter ladder of time, which could be anytime today with the teaser strand past the reason that very hard to remove!

17
Sep
09

Lebaran Dan Orang Kampung

Kehidupan di kampung telah memberikan sebuah penjelasan secara akrab. Dalam kondisi apa pun segalanya harus dilewati dengan bahagia. Dalam pengamatan Saya hampir tidak dijumpai wajah khawatir pada mimik orang-orang kampung. Guyonan menjelang lebaran ini hanya sebatas pada: bagaimana jika anakku tidak memakai baju lebaran ya? Tapi pada kenyataannya mereka telah membelikan baju lebaran untuk anak-anaknya. Kue-kue sederhana telah dibuat beberapa hari ini, aroma, wangi kue selalu tercium keluar dari dapur-dapur mereka.

Begitulah kehidupan paguyuban. Antara tetangga yang satu dengan lain saling membantu membuat kue. Pekerjaan dilakukan secara bersama-sama. Orang akan memanggap seolah kehidupan orang kampung menjelang lebaran ini telah direkayasa oleh sebuah tangan raksasa yang menjadikan mereka seperti boneka harmonis. Tidak demikian, dalam pandangan orang kampung tidak terlintas masalah-masalah pelik seperti fatalisme… Bagi mereka cukup beberapa kalimat, menjalani hidup seperti dirinya sedang melawan arus. Arus individualisme misalkan.

Menjelang lebaran ini masih sama dengan lebaran-lebaran sebelumnya…Kami masih bisa tersenyum puas sambil membuat cangkang/ bungkus ketupat di belakang rumah sambil menatap hamparan sawah…

14
Sep
09

Terbuat dari apakah hati kita?

Padahal dua menit lagi menjelang buka
Jalanan ramai
Di mall, rumah makan, dan toko-toko makanan
Di atas meja makan telah siap berbagai aneka ragam minuman dan makanan
sop buah, es kelapa, jeruk, nasi hangat, daging, opor ayam, sayur…

Dari Ujung jalan, berjalan seorang anak kecil
Menghitung waktu yang dipenuhi iba dan haru
Menyusuri jalan dengan langkai ringkih
Bibir kering
Lantas duduk di bibir trotoar menatap angkasa sesekali

Namun…
Segalanya berjalan begitu lancar
Seolah ada pemisah antara kami dengan si kecil
Sehingga dunia kami adalah milik kami
Sementara Dunia dia adalah miliknya sendiri
Sudah hampir tak ada belas kasihan lagi rupanya di Kota ini
Sudah hampir hilang rasanya kepedulian di Kota ini

Padahal dua menit lagi menjelang buka
Padahal ini adalah bulan Ramadhan
Padahal beberapa hari ke depan kita akan merayakan kemenangan
Padahal beberapa hari lagi kita akan menjadi bayi-bayi suci

10
Sep
09

Dari Jendela Rumah Nenek

Suatu Sore
Dua meter dari jendela rumah nenek
Kami hadir dalam aroma ceria
Tiga cawan sop hangat
Tiga cangkir teh hangat
Senyum merekah akrab dan hangat dari kami
Demi menyiasati alam yang akan menyambut ujung hari

Suatu Sore
Lima Meter dari jendela rumah nenek
Mereka, anak-anak itu bermain manja di halaman
Canda
Tawa
Melompat
Debu di musim kemarau, berterbangan
Tertiup kea rah Timur, mengepul, menerjang kaki-kaki mungil
Menempel di daun-daun flamboyan
Ceria di ujung hari

Suatu sore
Dua puluh meter dari jendela rumah nenek
Jalan kering
Suara motor nyaring
Lalu-lalang
Gadis-gadis
Cantik-cantik
Lelaki-lelaki
Aroma parfum
Kulit mereka kuning terlapisi kemilau emas cahaya mentari sore
Dibatasi oleh hamparan sawah, hijau permai, pematang, pohon pisang…
Menyambut kepak lelawa di ujung hari

Suatu sore
Duaratus meter dari jendela rumah nenek
Lapangan telah dilapisi tembok
Terminal
Riuh
Gemuruh
Pengemis
Mobil
Kondektur
Teriakan
Copet
Namun segalanya hamper tidak terdengar oleh kami
Ketika kami masih asyik, duduk sejauh dua meter dari jendela rumah nenek
Hingga kami bergegas menuju surau dekat rumah, mengajak anak-anak
Untuk membaca sholawat dan barzanji…

Sukabumi, Tengah Ramadhan 1430 H

From Grandma’s House Window

An Afternoon
Two meters from the window of my grandmother’s house
We present the cheerful smell
Three bowls of warm soup
Three cups of tea
A smile and a warm familiarity of our
By a trick of nature that will greet the end of the day

An Afternoon
Five Meters of my grandmother’s window
They, the children were playing in the yard spoiled
Joke
Laughter
Jump
Dust in the dry season, flying
Eastern red-blown circumstances, steaming, charging little legs
Against the flamboyant leaves
Cheerful at the end of the day

One afternoon
Two hundred feet from the window of my grandmother’s house
Dry roads
Loud motor sound
Traffic
Girls
Beautiful
Men
Perfume
Their skin coated in glistening golden yellow sun afternoon
Bordered by rice field, green scenic, trail, banana tree …
Welcoming wing bats at the end of the day

One afternoon
Two hundred meters from the window of my grandmother’s house
Field has been covered with wall
Terminal
Noise
Roar
Beggars
Car
Conductor
Shouts
Pickpocketing
However, nearly everything is not heard by our
When we were preoccupied, sitting as far as two meters from the window of my grandmother’s house
So we hurried to the mosque near the house, took the children
To read Sholawat and Barzanji …




Hubungi Saya

0853-10-116936

0266- 9-116936

Foto Kuring

Image004

Foto000

Ngalamun

More Photos

RSS LPM Sudajayahilir

  • PNPM Kok Memble
    By: Warsa Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altru […]

Komentar Singkat Kang Away

Ingin tertawa semua orang, ketika melihat beberapa orang menyalonkan diri sebagai Calon Legislatif, permasalahannya bukan dari segi kemampuan, namun ketidakmampuan mereka itulah yang menjadi bahan tertawaan. Mau dikemanakan negeri ini jiga anggota legislatifnya tidak bisa membuat barang satu bait kalimat pun!

Statistik

  • 65,923 hits

 

November 2009
M S S R K J S
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

SAVE OUR EARTH

Funny Myspace Comments
MyNiceSpace.com SELAMATKAN BUMI KITA
MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
ADA DI TANGAN KITA

PUISI

Sepertinya Baru Kemarin

Ya, sepertinya baru kemarin
Kita memanjat didinng belakang sekolah
Karena melihat jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh lebih
Sambil berkata...ayo cepat..
Kita jangan kelihatan Pak Said..

Ya..rasanya baru kemarin

Ki Sunda

" Ari ceuk bẻja mah mah SUNDA tẻh boga harti anu nyusun dina dada. Hartina meureun, urang sunda kudu ngaheulakeun ati sanubari dina mẻmẻrẻs sagala perkara, pacẻkcokan, pacẻngkadan, atawa lamun ceuk basa buda kiwari mah konflik tẻa ngaranna.

Urang Sunda mah palias lamun kudu mẻrẻskeun hiji hal kalawan ngagunakeun leungeun beusi atawa ngagunakeun otot bari hahaok tur popolotot, lain sifat urang Sunda anu kitu mah. Tah, ceuk pamunut ti baraya, masih kẻnẻh aya teu urang sunda tẻh sakumaha anu boga pasifatan disebutkeun di luhur tadi?

Berita Singkat

Pendistribusian dana BLT bagi rumahtangga sasaran dilakukan di Kelurahan Sudajayahilir pada hari Jum-at, 27 Juni 2008. Rumahtangga sasaran mencairkan dana BLT itu di kantor Kecamatan Baros. Tidak ada kerusuhan dalam acara pendistribusian BLT ini seperti halnya yang sering kita saksikan pendistribusian BLT di beberapa daerah Indonesia lainnya.

Face Book Ku.. Hahay